
Oh, Tidak....
Di ambang pintu itu Oppa terbelalak kaget melihatku jatuh tersungkur. Ia berjalan tergesa padaku dan membantuku bangun.
“Yebin-a, kau tidak apa apa? Kau tidak terluka kan sayang?” Sembari membantuku berdiri, Oppa yang terlihat sangat cemas menanyakan keadaanku. Itu membuatku lega karena yang oppa pikirkan hanyalah keselamatanku. Ia sama sekali tidak memperhatikan hal lain selain keselamatan istrinya tercinta ini.
“aku tidak apa apa. Hanya sedikit terkejut,” jawabku pelan sambil menebah nebah pakaianku yang dikotori tanah. Oppa yang melihat kakiku kotor karena percikan tanah dari pot itu juga membantuku membersihkannya. Ia menyeka kakiku dengan kedua tangannya yang berih. Kemudian memutar mutar bahuku, memastikan bahwa aku baik baik saja.
“Ahh... syukurlah kau tidak apa-apa. Harusnya aku menyuruhmu menunggu di dalam, tidak di sini,” desus Oppa penuh sesal melihatku hampir saja celaka gara gara pot bunga. “Kau sungguh tidak apa apa kan? Tidak ada satu pun yang terluka?” lanjutnya bertanya.
“Aku tidak apa apa, Sayang. Berehntilah mengkhawatirkanku,” jawabku meyakinkan.
Setelah memastikan bahwa aku memang baik baik saja, Oppa langsung merangkul pundakku. Merapatkan tubuhku padanya. Kemudian ia berhadapan dengan lelaki berambut pirang yang menyelamatkanku dari pot bunga.
Ada perasaan was was saat aku melihat Yul Oppa bertatapn dengan lelaki itu. Pasalnya aku tadi tanpa sengaja memeluknya untuk berlindung. Dan itu sunguh aku tidak merencanakannya. Semua terjadi dalam sekejap saja dan aku tidak bisa mengendalikan tubuhku yang dikuasai naluri untuk bertahan hidup.
Tetapi aku dibuat terkejut saat Oppa mengangguk pelan pada lelaki itu untuk mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih sudah menyelamatkan istriku. Anda baik baik saja kan?” tanya Yul Oppa. Dalam hati aku hanya bisa mendesah. Aduh, kenapa Oppa bersikap sangat sopan dengan laki laki yang minimal sopan santun itu? Tetapi aku segera mengakhiri lamunanku karena teringat bahwa bagaimana pun juga lelaki itu sudah menyelamatku. Tanpa inisiatifnya melindungiku, mungkin aku sudah terbaring tidak sadarkan diri di dalam ambulan menuju rumah sakit dengan tulang tengkorakku yang mungkin sudah terbelah menjadi dua.
Rasa takut akan ketidakselamatan itu kembali menghampiriku. Sial. Sejak kejadian di mana aku kehilangan bayiku, aku mudah sekali merasa takut. Aku sering takut pada hal hal kecil yang seharusnya tidak aku takutkan. Karena tiba tiba aku membayangkan bagaimana kondisi kepalaku yagn pecah menjadi dua gara gara pot berat berisi bunga dan tanah itu, aku mempererat pelukanku pada pinggang suamiku. Lalu aku berbisik di dekat telinganya sambil berjinjit.
“Sebaiknya kita segera kembali ke penginapan. Aku tidak ingin sarapan di tempat ini. Ayo kita pergi saja, Sayang.” Aku berusaha membujuk Oppa dan akhirnya ia mengiyakan permintaanku tanpa berpikir pajang. Seperti yang kukatakan sebelumnya, suamiku adalah orang yang paling mengerti bagaimana perasaanku dan apa yang sedang kupikirkan. Kadang suamiku seperti seorang dukun yang bisa menerawang apa di balik sikap dan perilaku yang kutunjukkan. Aku tidak yakin apa itu yang dinamakan telepati. Tetapi aku merasakan ikatan yang begitu dalam saat bersama suamiku.
“baiklah. Ayo kita kembali saja.”
Tanpa menunggu lama lagi oppa membawaku pergi dari tempa yang nyaris mencelakakan nyawaku itu. Meninggalkan segerombolan orang lokal yang sedang membersihkan jalanan dari pecahan pot. Juga meninggalkan lelaki muda yang mengorbankan pakaian bersihnya untuk tersungkur ke atas tanah bersamaku.
Sekilas aku menoleh kembali ke belakang. Mendapati lelaki bernama Leo Park itu yang menatapku dengan raut wajah dan juga tatapan yang tak dapat kumengerti. Ahh, sudahlah. Lupakan apa yagn baru saja terjadi. Lagi pula tidak ada yagn harus kupedulikan karena kami hanyalah orang asing yang berpapasan sesaat dan terlibat dalam tragedi yang tidak diinginkan. Aku mengembalikan pandanganku ke depan. Merangkul pinggang suamiku erat sambil berjalan menjauh dari restoran.
Dalam hati aku mulai membayangkan. Jangan jangan, peristiwa yang nyaris mencelakakanku tadi adalah azab seorang istri terhadap suaminya. Tapi, aku tidak melakukan apa apa dengan lelaki berambut pirang yang tiba tiba menghampiriku dengan percaya diri itu. Aku tidak melakukan apa apa dengannya. Juga tidak berpikir hal hal aneh saat bersama lelaki itu. Justru sebaliknya, yang aku pikiran hanya suamiku. Ahh... kepalaku ini tiba tiba menjadi sangat pusing. Apa aku saja yang terlau sensitif akhir akhir ini? Aku sering memikirkan hal aneh dan sering mencemaskan hal hal kecil yang tidak berarti sama sekali. Sepertinya benar kata suamiku, bahwa aku masih berada dalam masa depresi sejak kehilangan bayi yang kukandung. Sehingga aku sering memikirkan hal hal aneh dan pemikiranku justru tidak terarah. Aku membutuhkan lebih banyak istirahat. Juga membutuhkan lebih banyak dorongan dari dalam diri maupun luar diri untuk benar benar bisa keluar dari lembah yang terasa sangat gelap ini. Aku membutuhkan suamiku. Ia berperan sangat penting dalam kehhidupanku saat ini.
Hari ini sekaligus sebagai hari penutup bulan madu kami di Kuba. Malam harinya, aku dan suamiku bersiap menuju bandara. Membutuhkan waktu yang teraamat panjang untuk perjalaanan ini. Dikarenakan tidak ada pesawat dari Kuba yang bisa langsung terbang ke Korea, aku dan suamiku transit di negara lain di eropa selama berapa Jam. Lalu melanjutkan penerbangan kami menuju Korea.
Rasanya aku sudah sangat merindukan rumah. Aku memang bukan tipikal orang yang menyukai traveling. Juga merasa lebih nyaman berada di rumah dengan orang orang di sekelilingku. Aku sudah merindukan ibuku. Padahal aku ini sudah menikah dan hidup bersama suamiku, tetapi aku masih belum bisa terpisah dari ibuku. Meski kini aku sudah menikah dan tinggal bersama suamiku di seberang rumah, aku masih sering pulang ke rumah ibu. Bahkan setiap waktu makan aku dan suamiku datang ke rumah ibu untuk makan bersama. Kami sarapan bersama sama seperti saat saat sebelum aku menikah. Juga beberapa kali makan malam bersama. Intinya, pernikahanku dengan Oppa tidak membuatku benar benar berpisah dengan ibu. Aku dan ibuku hanya pindah tempat tidur saja. Selebihnya, aku selalu pulang di pagi hari untuk membantunya menyiapkan sarapan. Di waktu aku tidak bekerja, aku juga selalu menemani ibu di rumah.
Satu minggu meninggalkan rumah, aku sudah sangat merindukan ibu. Masalahnya adalah, di Kuba mencari wifi sangat sulit dan aku harus sampai mengantre berjam jam untuk mendapatkan akses wifi. Saat sudah mendapatkan akses pun tidak semudah yang dibayangkan. Koneksi internetnya tak begitu bagus karena aku berebut dengan banyak orang. Akibatnya, aku tak bisa menelepon ibu maupun melakukan panggilan video dengannya. Membuatku benar benar merindukannya. Satu hal lagi yang membuatku penasaran adalah, bagaimana keadaan Biniemoon karena kutinggal pergi seperti ini. Aku penasaran apakah keempat pegawaiku bisa mengurus semuanya dengan baik.
Saat ini aku masih berada di dalam pesawat menuju Korea. Aku duduk di samping jendela, dan di sampingku Oppa sedang tidur lelap dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya. Pasti Oppa sedang kelelahan. Ia langsung tertidur begitu pesawat yang kami tumpangi ini terbang.
Menatap suamiku yang tertidur dengan sangat lelap itu membawa perasaan tenang untukku. Aku yang akhir akhir ini sering merasa kosong dan hampa tanpa bayiku, menjadi lebih tenang dan terisi hanya dengan menatap suamiku. Yul Oppa, ia seperti baterai berdaya besar yang selalu memberiku tenaga baru baik secara fisik maupun mental untuk bisa bertahan dan bertahan lagi. Tanpa dayanya, aku mungkin sudah tumbang seperti orang yang sangat menyedihkan. Tetapi aku menemukan arti baru dari kehidupanku saat bersam suamiku.
“Kau tidak tidur, Sayang?” desus lirih Oppa dengan suaranya yang menyerak. Ia sedang meregangkan otot tubuh selama beberapa detik lalu terlihat segar kembali, tak tampak kelelahan.
“Aku bangun lebih dulu,” jawabku sambil menyandarkan punggungku kembali ke sandaran kursi.
Sesaat suasana menjadi hening. Sebelum akhirnya aku memulai pembicaraan dengan suamiku.
"Oppa, ada yang ingin aku katakan,” ucapku yang seketika membuat Oppa memberikan perhatian penuh padaku.
“Apa?”
“Aku ingin bertemu psikiater.”
Oppa terlihat terkejut mendengar aku berkata demikian. Dulu Oppa pernah menyarankanku untuk bertemu psikiater dan aku langsung menolaknya mentah mentah. Aku berkata padanya bahwa aku baik baik saja sehingga tidak perlu bertemu psikiater. Lagi pula kesedihanku itu tidak akan berlarut lama lama. Aku merasa yakin bahwa setelah beberapa saat berlalu aku akan bisa melupakan rasa bersalahku pada bayiku. Tapi, aku menyadari bahwa rasa bersalah ini tak kunjung hilang. Justru semakin besar. Aku sering merasa kosong. Saat sendirian aku sering melamun hingga membayangkan hal hal yang sungguh tidak masuk akal.
Dalam keheningan yang berlangsung, aku merasakan genggaman hangat sumiku. Ia menggeggam tanganku hangat dan memberikan tatapan keyakinan.
“Kalau kau ingin melakukannya, aku akan carikan dokter yang cocok untukmu sekembalinya ke Korea.”
Aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Lalu dengan bercanda aku bertanya, “Kalau aku bertemu pikiater, orang orang tidak akan mengaggapku gila kan?”
“heiihh... kau tidak perlu mencemaskan hal itu. Sekarang bertemu psikiater itu sudah menjadi tren. Banyak orang melakukannya. Aku juga pernah, Hun juga pernah.”
“Sungguh? Oppa pernah bertemu psikiater? Kapan? Kenapa aku tidak tahu?”
“Dulu sekali. Saat orang tuaku baru meninggal dan aku harus bertahan sendirian tanpa Hun yang harus menyelesaikan pendidikannya di Amerika. Saat itu aku merasa sungguh berat. Sendrian, kesepian, belum lagi aku harus menyerah atas mimpiku karena harus mengelola kafe yang ditinggalkan ibuku. Aku merasa sangat kesulitan saat itu. Setiap bangun pagi aku merasa tidak memiliki kekuatan. Tapi mau tidak mau aku harus berdiri dan pergi ke kafe. Saat itu, aku merasa duniaku benar benar gelap. Tidak ada seorang pun yang bisa kujadikan sandaran karena semua orang hanya bersandar padaku. Aku merasa sangat kesulitan, gelap, dan putus asa. Tapi aku tidak bisa menyerah karena tanggung jawabku. Di saat saat seperti itu, Haeri mengajakku bertemu psikiater. Dan anehnya, setiap kali bertemu psikiater dan berbicara dengannya, bebanku terasa semakin ringan. Itulah bagaimana aku bisa bertahan sampai saat ini.”
Ini adalah pertama kalinya aku mendengar tentang Yul Oppa dan psikiater. Cukup mengejutkan. Juga cukup memilukan. Hanya dengan mendengar ceritanya, aku merasa seakan akan ikut merasakan betapa beratnya waktu yang dilalui suamiku saat itu. Dan ia bertahan sampai detik ini. Menjadi manusia yang ramah dan menyenangkan untuk semua orang. Menjadi kakak yang baik dan penyayang untuk adiknya. Menjadi menantu yang menawan dan perhatian untuk ibuku. Bahkan menjadi suami yang pekerja keras dan sangat menyayangiku apa adanya. Semua hal tentang Oppa membuatku semakin hari semakin menyayanginya. Seakan akan aku selalu jatuh cinta padanya di setiap waktu.
Mengerti apa yang sedang aku rasakan Oppa yang memasang wajah cerita itu seketika menceletuk.
“Oho! Kelihatannya istriku ini jatuh cinta lagi padaku? Ya kan? Ya kan? Aduh... aku yang tidak tahan jika setiap hari istriku jatuh cinta padaku. Ini adalah risikoku menjadi suami yang terlalu tampan dan menawan.”
Oppa malah mengeluh ngeluh dengan nada bicaranya yang manja, seperti anak kecil yang sedang merengek. Membuatku terkekeh kekeh melihat sikapnya yang menjadi kekanakan seperti ini. Aku pun berhasil tertawa karena Oppa. Rasanya sudah lama sekali aku tidak tertawa. Rasanya menyenangkan. Oppa yang melihatku tertawa kecil seperti ini, menyimpulkan senyum hangat. Ia mengelus kepalaku sambil menggumam, “Kau terlihat semakin cantik saat tertawa. Aku akan menunggu dengan sabar sampai kau bisa tertawa seperti dulu lagi.”
Setelah mengucapkan hal itu, Oppa mengecup keningku. Lantas ia beranjak dari duduk, “Sebentar, aku mau ke kamar mandi dulu.”
Ia beranjak pergi setelah itu. Menuju kamar mandi dalam pesawat kelas bisnis yang kami tempati. Tepat ketika Oppa beranjak pergi, seorang pria yang duduk di seberang tempat duduk suamiku, melambaikn tangannya dengan ceria. Lelaki itu....
Bola mataku langsung terbelalak. Laki laki yang sedang melambai lambaikan tangan itu kan... Dia kan yang tersungkur bersamaku ke atas tanah gara gara pot bunga! Lelaki bernama Leo Park itu berada di satu pesawat denganku menuju Korea! Oh, tidak. Kebetulan macam apa ini...