Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Momen Pernikahan yang Semu



Momen Pernikahan yang Semu


Yul masih teringat dengan baik sebuah


kejadian yang terjadi pagi hari sebelum pesta pernikahan Hun di laksanakan. Di


mana putra kecilnya, Hanyul menangis tersedu sedu sampai tidak mau makan dan


minum karena kelincinya ditemukan mati di belakang vila. Waktu pagi itu Hanyul


ingin bermain main dengan kelincinya sementara semua orang sedang sibuk


mempersiapkan diri untuk menghadiri resepsi pernikahan Hun dan juga sibuk


melakukan beberapa pekerjaan di vila. Hanyul yang biasanya bermain kelinci


dengan Hun, pagi itu harus bermain seorang diri karena Hun sedang sibuk


mempersiapkan pernikahannya. Hanyul pun pergi ke belakang vila, namun


kelincinya tidak ada. Di dalam rumah kelinci, kelinci tersebut hilang. Ia


mencari cari kemana perginya kelinci kecilnya lalu menemukan kelinci tersebut


sudah mati dengan darah yang melumuri bulu bulu halusnya.


Seketika itu Hanyul pun menjerit dan


menangis tersedu sedu. Jeritannya itu membuat semua orang yang tinggal di vila


kaget dan tergopoh gopoh pergi keluar. Mencari keberadaan Hanyul di belakang


vila yang menangis dengan begitu tragisnya. Ternyata Hanyul menangis karena


kelinci kesayangannya sudah mati dengan berlumuran darah yang membiru.


Waktu itu juga Yebin langsung menggendong


Hanyul dan menenangkannya. Namun Hanyul tetap menangis hingga membuat Yebin


kebingungan. Ibu Miyoon, Hun, Jina, bahkan Yul sendiri ikut mencoba menenangkan


Hanyul dengan berbagai cara. Namun Hanyul tetap menangis di pelukan Yebin dan


ayahnya. Hingga kemudian tangisan Hanyul mereda saat ia melihat Yul menguburkan


kelinci tersebut di belakang rumah. Barulah setelah mayat kelinci itu terkubur


dengan baik, Hanyul sedikit tenang. Terakhir ia menangis dengan begitu


memilukan adalah ketika ia menaburkan beberapa kelopak bunga di atas gundukan


kuburan kelinci kecilnya yang sudah mati.


Kematian kelinci tersebut sudah sangat


mencurigakan. Bagaimana bisa, di tengah pulau yang aman dan tidka terdapat satu


pun binatang buas dari hutan, kelinci itu bisa mati dengan sendirinya? Apalagi


darah yang membalut tubuh kelinci itu juga menunjukkan bahwa kelinci tersebut


tidak mati karena keracunan makanan atau hal lainnya yang berhubunangan dengan


makanan. Tapi, adanya darah di tubuh kelinci tersebut menjadi bukti adanya


kekerasan. Artinya, kelinci itu sengaja dibunuh oleh seseorang.


Mungkin sangat membingungkan karena pada


saat itu yang ada di pulau tersebut tidak hanya Yul dan keluarga besarnya.


Tetapi juga ada sekitar seratus lima puluh orang yang ada di pulau tersebut,


yang merupakan tamu undangan pernikahan Hun. Selain mereka, juga ada beberapa


petugas pernikahan yang membantu menyiapkan berjalannya pernikahan Hun pada


sore nantinya. Jadi, cukup membingungkan untuk menebak siapa yang membunuh


kelinci tersebut di belakang vila sampai membuat Hanyul menangis tersedu sedu.


Awalnya Yul hanya menganggap itu kejadian


yang biasa. Mungkin semalam ada petugas dari resort yang menyiapkan beberapa


properti untuk pernikahan Hun dan tanpa sengaja membunuh kelinci yang mereka


lewati. Atau, ada salah satu dari sekian banyak tamu undangan yang masih mabuk


laut sehingga tidak sepenuhnya sadar saat membunuh kelinci di belakang rumah.


Pemikiran pemikiran itu membuat kecurigaan Yul terhadap matinya kelinci Hanyul,


pergi begitu saja. Namun, mendengar Haeri berkata tentang niat Leo park


mencelakainya malam itu membuat Yul kini mencurigai seseorang yang diduga


melakukan pembunuhan pada kelinci kesayangan Hanyul.


“Karena itu aku memintamu untuk berhati hati.


Kau tidak tidak tahu kapan Leo Park akan menyakitimu.” Haeri berucap. Ia


mengkhawatirkan Yul yang semalam nyaris celaka di tangan Leo Park.


Yul menganggukkan kepala. “Baiklah. Terima


kasih.”


“Hati hati juga untuk Yebin dan Hanyul.


Mereka sama sama terancam karena kau juga terancam. Sekarang Leo Park tidak


hanya menargetkan orang orang disekitarmu, tetapi langsung menargetkanmu,


Yul-a. Berhati hatilah.” Haeri kembali berpesan kepada Yul.


“Baiklah. Akan kuingat nasihatmu.”


Setelah itu Yul hendak pergi meninggalkan


Haeri di depan pintu ruang tunggu. Resepsi sebentar lagi dimulai, Yul harus


segera datang ke aula untuk menghadiri pernikahan adiknya secara ituh.


Namun baru selangkah Yul menjauh, Haeri


mencengkeram tangannya dan itu sontak membuat Yul kembali menolehkan tubuh ke


belakang. Bertatapan dengan Haeri yang kelihatannya ingin mengatakan sesuatu


lagi padanya.


“Ada apa?” tanya Yul bingung.


“Ada yang ingin kukatakan lagi padamu,


tentang Cho Jina,” ucap Haeri.


“Jina? Ada apa dengannya?”


**


 Yul


masuk ke dalam ruangan resepsi tepat ketika pembawa acara pernikahan tersebut


membuka upacara pernikahan dengan beberapa kalimat. Yul beranjak duduk di


sebelah Yebin yang sedang memangku putra kecilnya dengan tenang.


“Apa yang terjadi, Sayang? Apa ada


masalah?”


Begitu Yul beranjak duduk di sebelahnya,


Yebin segera bertanya. Sejujurnya ia cukup khawatir karena kelihatannya Haeri


cukup serius ingin membicarakan suatu hal dengan Yul di waktu yang sangat


berdekatan dengan acara pernikahan Hun.


“Tidak apa apa. Haeri hanya mengingatkanku


supaya lebih berhati hati pada Leo park. Dia juga meminta supaya kau dan Hanyul


juga berhati hati,” jawab Yul. Apa yang diucapkannya itu memang tidak salah.


Haeri memang berkata demikian supaya Hun berhati hati. Namun, Yul tidak ingin membuat


Yebin lebih khawatir lagi jika mengatakan bahwa semalam ia nyaris saja celaka


karena niat buruk Leo Park untuk mencelakainya.


Mengerti, Yebin pun menganggukkan kepala.


Lalu pandangannya kembali fokus menatap ke depan. Mednengarkan membawa acara


tersebut membawakan upacara pernikahan Hun dengan khidmad dan penuh dengan


kebahagiaan.


Ini adalah saat saat yang sangat


mendebarkan untuk kedua mempelai sepanjang perjalanan hidupnya kelak. Sama


seperti yang dirasakan Yebin ketika berjalan di atas altar untuk menerima


sambutan tangan dari Yul sebagai mempelai prianya. Apalagi ketika janji setia


sehidup semati itu diucapkan. Seluruh tubuh dan jiwa Yebin seolah melebur


bersama gelora kasih yang menghidupkan kembali jiwanya yang semula padam.


Kembali hidup bersama genggaman seorang laki laki yang pada waktu itu juga


menjadi bagian dalam kehidupannya, mengisi sebagian besar jiwa Yebin dan akan


terus seperti itu sampai akhir hayatnya nanti.


Di kursi tamu yang disediakan khusus untuk


keluarga besar kedua mempelai itu, ibu Miyoon yang duduk di sebelah Yebin,


meneteskan air mata. Seolah olah ia sednag menyaksikan putra kesayangan yang ia


besarkan, menikah. Baginya, Hun itu adalah putranya. Yul menantunya, maupun


Hun, kedua duanya sudah dianggap anak oleh Miyoon. Setiap hari ia memasakkan


makanan untuk dimakan kedua putranya. Ketika sakit, kedua putranya itu yang


bergantian mengantarnya ke rumah sakit. Juga menemani belanja, dan menjadi laki


laki yang bisa diandalkan oleh seorang ibu yang hanya memiliki satu anak perempuan


yang sudah menikah.


Tangis harus juga terlihat dari Yebin.


Karena begitu tertaru, wanita itu meneteskan air mata melihat Hun begitu


bahagia di hari pernikahannya. Bagi Yebin, Hun adalah penyelamatnya. Hun adalah


teman, kakak, dan ornag yang sungguh berarti untuknya. Hun telah membantu Yebin


melewati masa masa sulit akibat cintanya pada Yul yang awalnya sangat


memedihkan dan tidak berbalas. Hun menjadi penguat untuk Yebin. Menjadi


pelipurnya di segala situasi. Hun juga telah menjaganya selama beberapa saat


Yul berada di pulau Jeju untuk mengurus bisnis.


Di sebelah Yebin, Yul juga tampak begitu


terharu. Bola matanya berkaca kaca namun ia tak dapat meneteskan air mata di


hadapan Yebin sekarang juga. Ia hanya merasa teramat haru, namun tak dapat


menangis dengan disaksikan putranya yang ada di pangkuan Yebin.


Tidak perlu dipertanyakan lagi seberapa


besar Yul menyayangi adiknya. Juga tak perlu dipertanyakan lagi seberapa


penting posisi Hun dalam kehidupan Yul selama ini. Entah ketika ia masih kecil,


ketika ia remaja, ketika ia tumbuh semakin dewasa, ketika mereka kehilangan


kedua orang tua sekaligus, bahkan ketika Yul menikah... Hun selali menjadi


orang yang berada di dekat Yul. Menjadi orang yang selalu siap dan bersedia


untuk menampung semua keluh kesahnya dan semua kegundahan yang dirasakan.


Begitu pentingnya posisi Hun dalam hidup Yul, sampai Yul lupa bahwa Hun sudah


dewas dan tiba saatnya untuk adiknya itu menikah.


Kini Hun telah menikah. Ia membentuk


keluarga kecil seperti yang Yul lakukan bersama Yebin. Persaucaraan Yul dengan


Hun, persahabtaan mereka, dan kelekatan hubungan mereka mungkin akan berbeda


dari sebelumnya. Namun, mereka tetap sama. Hubungan mereka sebagai kakak adik


yang saling mendukung satu sama lain dan saling berbagi cerita akan tetap sama sampai


mereka menjadi kakek nenek dan tinggal bersama di pulau yang asri nan indah


ini.


Resepsi pernikahan Hun telah sampai pada


puncaknya. Tanpa dirasa, semua sesi acara telah berlalu dengan khidmat dan


lancar. Sekarang adalah waktunya bersenang senang. Di mana seornag penyanyi


datang untuk menghibur semua tamu undangan dan juga kedua mempelai yang telah


menautkan cincin indah di jari masing masing. Penyanyi itu melantunkan sebuah


lagu cinta yang asik untuk didengar oleh semua orang. Semua orang kini bersenang


senang. Para kaum muda yang masih energik, ikut menari dan menyanyi nyanyi


bersama. Dan para orang tua, termasuk Yul dan Yebin, hanya menyaksikan anak


anak muda itu menari di depan bersama penyanyi wanita yang cantik dan menawan.


“Bagaimana perasaanmu, Sayang?” tanya Yebin


di sela suara nyaring penyanyi yang menggelegar di seluruh ruangan. Ia menoleh


pada Yul yang perasaannya sedang bercampur aduk melihat pernikahan adiknya


berlangsung lancar.


Yul menolehkan kepala. Lantas tersenyum


hangat. Ia meraih tangan Yebin dan menggenggamnya.


“Aku tidak tahu harus berkomentar apa.


Semuanya seperti bercampur menjadi satu dan sangat sulit untuk dikatakan. Aku


merasa bahagia melihat adik kecilku yang ternyata sudah tumbuh dewasa dan


sekarang menikah. Tapi ada satu sisi di dalam hatiku yang merasa kosong karena


artinya sekarang aku tak memiliki lagi adik yang kuanggap kecil dan selalu


kucandai dengan lelucon lelucon konyol. Aku merasa kehilangan. Tapi aku merasa


menjelaskan dengan gamblang apa yang sedang ia rasakan saat ini. Tentu saja,


Yebin mengerti dengan baik apa yang sedang suaminya itu rasakan.


“Hun Oppa sekarang sudah bersama istrinya.


Sayang, kau memiliki Hanyul yang bisa mendengarkan lelucon lelucon konyolmu.


Waktunya juga masih sangat panjang untuk kau bisa mencandai Hanyul sebagai


putra kecilmu.” Sembari membalas genggaman hangat suaminya, Yebin bertutur


pelan untuk memberikan hiburan. Itu cukup membuat Yul untuk memperlihatkan senyuman


yang terasa lebih tulus.


“Benarkan, Hanyul Sayang? Kau akan tetap


menjadi anak kecil untuk ibu dan ayah.” Yebin berganti mengajak bicara Hanyul


yang ada di pangkuannya. Lalu mengecup pipi putra kecilnya yang menggemaskan.


“Ne!” seru bocah kecil itu menjawab


perkataan ibunya. Sambil tersenyum semringah. Itu adalah senyuman paling indah


di muka bumi ini, senyum tanpa beban dan sangat tulus.


“Anak pintar,” desus Yul sambil mengelus


ngelus kepala Hanyul dan membalas senyuman sang putra. Kemudian Yul menurunkan


wajahnya untuk mengecup pipi lembut Hanyul.


Begitu mendapat kecupan ringan dari sang


ayah, Hanyul langsung mengulurkan tangannya. Ingin pindah di pangkuan Yul. Yul


pun bergantian memangku Hanyul, sampai resepsi pernikahan pun berakhir. Semua


tamu undangan pergi satu per satu meninggalkan aula setelah bersalaman dengan


kedua mempelai dan keluarganya. Mereka semua naik menuju kamar masing masing di


dalam gedung resort ini. Bersiap siap untuk langsung pulang setelah ini dengan


kendaraan yang telah dipersiapkan oleh keluarga pengantin.


Yul dan Yebin juga akan pergi meninggalkan


pulau ini. Tetapi berbeda dari para tamu undangan yang akan pergi meninggalkan


pulau begitu matahari tenggelam, Yul dan keluarga kecilnya akan berangkat


meninggalkan pulai di pagi pagi buta. Ia akan menginap satu malam lagi di pulau


ini, bersama Hanyul, Yebin, dan ibu Miyoon. Sedangkan tamu undangan lainnya


berangkat pada pukul enam menggunakan kapal yang telah Yul sediakan. Dan untuk


kedua mempelai pengantin yang telah resmi menjadi suami dan istri, akan menetap


di pulau ini selama beberapa hari ke depan. Mereka berdua memutuskan untuk


menjadikan pulau kecil yang indah ini sebagai tempat berbulan madu. Mereka akan


tinggal di pulau ini selama tiga hari lamanya. Lalu kembali pulang ke Seoul dan


menempati rumah baru mereka yang dihadiahkan sang kakak.


Untungnya, Leo Park memutuskan untuk


kembali ke Seoul bersama para tamu undangan yang beberapa orangnya ia kenal. Ia


berkata tak ingin berada di pulau itu lebih lama lagi dan memutuskan untuk


kembali bersama rombongan tamu undangan. Itu cukup melegakan untuk Yul. Karena


artinya, ia tidak perlu terlalu waspada lagi. Ancaman terbesarnya tidak ada


bersamanya. Berarti tidak ada yang perlu Yul khawatirkan lagi tentang Leo Park.


Aula resort telah sepi setelah beberapa


waktu tamu undangan pergi meninggalkan tempat masing masing untuk bersiap


pulang ke Seoul. Di dalam aula itu, hanya tersisa beberapa petugas yang


membereskan semua sisa sisa upacara pernikahan dan ada beberapa petugas lain


yang teridur dengan pulasnya karena kecapaian.


“Di mana Hun Oppa?” tanya Yebin yang tak


melihat keberadaan Hun sejak beberapa waktu lalu.


Begitu acara selesai, yang lebih dahulu


naik adalah Jina. Kelihatannya ia begitu kecapekan mengikuti serangkaian


upacara tersebut, sehingga begitu semua tamu pergi, ia bergegas menuju kamar


untuk beristirahat. Jina sedang hamil muda. Usia kehamilannya itu adalah usia


paling berat untuk dilalui seorang ibu yang baru mengandung untuk pertama


kalinya. Jika diingat ingat, dulu Yebin merasa sangat kesulitan ketika usia


kandungannya masih muda. Ia sering merasa mual dan pusing. Mudah ngantuk dan


capek. Serta tidak begitu berselera makan.


Namun jika dilihat, kelihatannya kandungan


Jina tidak begitu rewel seperti yang Yebin dulu pernah alami. Ia tidak pernah


mengeluh mual atau pusing. Selera makannya justru naik dan ia senang sekali


dengan makanan makanan organik dan daging sapi. Hanya saja gampang kelelahan


dan gampang ngantuk. Sehingga begitu resepsi selesai, Hun mengantarnya ke kamar


untuk beristirahat. Sementara Hun sendiri kembali turun ke aula untuk mengurusi


beberapa urusan mendadak seperti memberikan upah untuk semua orang yang bekerja


untuk mempersiapkan pesta pernikahannya di resort. Juga menyiapkan akomodasi


pulang untuk mereka semua. Orang orang yang bekerja untuk mengurusi pernikahan


Hun mulai dekorasi, makanan prasmanan, dan lain sebagainya adalah orang dari


Busan. Hun sendiri yang mencari mereka dan yang berganggung jawab memberikan


upah pada semua orang yang telah bekerja untuknya dengan begitu baik.


“Dia sedang keluar untuk menerima telepon


tadi,” jawab Yul. Ia sedang berdiri sambil menggendong tubuh Hanyul dalam


dekapannya.


Hanyul tertidur sejak beberapa menit yang


lalu. Sepertinya ia kekenyangan karena telah mencicipi semua makanan yang


disajikan untuk prasmanan. Ia juga kecapekan. Hanyul tertidur dalam pelukan


sang ayah, sedangkan Yul sendiri belum memiliki niat untuk menurunkan Hanyul


dan memindahnya ke kamar. Untuk beberapa saat, ia masih ingin menggendong tubuh


mungil putra kecilnya yang sangat menggemaskan itu.


“Hyung, sepertinya ada masalah.”


Begitu menyelesiakan panggilan teleponnya


dengan seseorang, Hun yang masih mengenakan setelan jas itu berjalan cepat


menghampiri Yul yang berdiri di sisi depan aula. Di sebelahnya ada Yebin yang


sedang membantu mengkoordinis setiap kapal very yang sebentar lagi akan


berlayar meninggalkan pulau.


“Kenapa? Ada apa?” tanya Yul lirih. Ia


menepuk nepuk punggung Hanyul yang ada dalam pelukannya.


Meski sedang panik, Hun menurunkan nada suaranya


karena tak ingin membangunkan Hanyul dari tidur nyenyaknya.


“Staf dekorasi ada yang sakit. Kondisinya


cukup parah sehingga dia harus dilarikan ke rumah sakit. Tapi kapal yang


digunakan untuk semua staf dekorasi dan pekerja baru akan tiba nanti malam.”


Hun bercerita singkat tentang situasi yang sedang terjadi ini.


Yul menghela napas panjang. Ketika itu juga


Yebin selesai melakukan panggilan telepon dengan seseorang dan masuk ke dalam


pembicaraan.


“Untuk itu, tidak perlu dikhawatirkan,


Oppa. Aku sudah berkata pada beberapa kapten kapal untuk menawarkan siapa yang


suka rela turun dari kapal untuk rombongan tamu. Siapa tahu di antara banyak


tamu kita ada yang sukarela mengundurkan diri dari kapal very yang akan


berlayar sekarang untuk staf dekorasi yang sedang sakit itu. Nanti tamu


undangan yang menjaukan diri itu bisa berlayar bersama kapal yang kita


tumpangi. Bisa kan Sayang?” Yebin langsung menoleh kepada Yul untuk meminta


pendapatnya.


Tanpa ragu Yul menganggukkan kepala. “Tentu


saja tidak apa apa. Lagian, Hun dan Jina kan akan tinggal di sini. Jadi ada


ruang tersisa untuk tamu itu ikut naik di kapal kita,” jawab Yul yakin.


Tepat setelah itu, Yebin mendapat satu


panggilan masuk dari salah satu kapten kapal yang baru saja ia hubungi.


“Halo, ya, bagaimana Pak?” sahut Yebin.


Kepalanya mengangguk angguk mendengarkan kapten kapal itu berbijcara di


seberang telepon. Sementara dua lelaki yang sedang berdiri di hadapannya hanya


dapat memandang Yebin penuh harapan. Berharap kabar yang didengar Yebin itu


adalah kabar baik dari kapten kapal. “Baiklah. Saya akan beri tahukan pada


mempelai prianya.”


Begitu panggilan itu tertutup, Hun langsung


menyahut, “Bagaimana Yebin-a? Ada yang mengajukan diri untuk memberikan


kursinya pada staf yang sakit itu?” bertanya kepada Yebin dengan penuh harapan.


Yebin menghela napas panjang karena lega.


“Syukurlah. Ada dua orang yang mengajukan diri. Jadi staf yang sakit itu bisa


ikut di kapal nomor 6,” jawab Yebin/


“Baiklah.”


Begitu medengar jawaban dari Yebin, Hun


langsung berlalu pergi untuk menelepon salah satu stafnya yang menjadi


penanggung jawab. Berkata pada staf tersebut untuk membawa staf yang sakit dan


satu orang lagi yang menemani menuju kapal nomor 6 untuk segera melaju.


Kebetulan juga, di kapal nomor enam itu ada seseorang yang berprofesi sebagai


dokter. Ia adalah teman dekat Hun ketika belajar di Amerika, yang datang


menghadiri pernikahan sahabat terbaiknya.


“Syukurlah ada yang mau mengalah. Jika


tidak, terpaksa satu kapal harus dihentikan jadwal berlayarnya untuk memberi


keleluasaan pada staf yang sakit itu.” Yul menggumam pelan merenungi hal yang


baru terjadi ini.


“Benar sekali. Kita patut berterima kasih.”


“Kalau begitu, ayo kita kembali ke vila.


Hanyul butuh istirahat dengan baik, kau juga, Sayang.” Yul kembali berucap.


Sekarang masalah sudah terselesaikan. Waktunya mereka kembali ke vila. Untuk


mengistirahatkan Hanyul dengan baik. Dan untuk memberikan ruang kepada Yebin


untuk beristirahat dengan baik setelah mengurus semuanya.


“Ayo.”


Sepasang suami istri itu pun berjalan keluar


dari resort. Berjalan kaki selama kurang lebih lima menit menuju vila tempatnya


tinggal. Di dalam vila itu, Miyoon sedang beristirahat. Ia juga kecapaian


setelah mengikuti seluruh sesi acara pernikahan Hun.


Di pertengahan jalan menuju vila, Yul dan Yebin


dikejutkan dengan keberadaan Haeri dan satu orang lagi yang tidak lain adalah


Leo Park. Yul tersentak, dan langsung menyeru begitu melihat Haeri datang.


“Haeri-ya, jadi kau yang mengundurkan diri


dari kapal itu?” tanya Yul.


Haeri menganggukkan kepala. “Ya, aku yang


mengundurkan diri. Dan juga, Leo Park,” jawab Haeri pasrah sambil melirik ke


sampingnya, ke arah Leo Park.


“Tidak masalah aku mengikuti kapal yang


berlajar selanjutnya. Aku juga cukup senang berada di pulau ini, bersama


kalian.” Leo berucap dengan sangat natural seolah olah sedang mengucapkan


kalimat dalam dialog drama.


Mendengar itu, Yul hanya bisa membatin.


Jangan jangan... ini juga bagian dari rencana licik Leo Park untuk melakukan


sesuatu yang tidak terduga.


**