
Momen Pernikahan yang Semu
Yul masih teringat dengan baik sebuah
kejadian yang terjadi pagi hari sebelum pesta pernikahan Hun di laksanakan. Di
mana putra kecilnya, Hanyul menangis tersedu sedu sampai tidak mau makan dan
minum karena kelincinya ditemukan mati di belakang vila. Waktu pagi itu Hanyul
ingin bermain main dengan kelincinya sementara semua orang sedang sibuk
mempersiapkan diri untuk menghadiri resepsi pernikahan Hun dan juga sibuk
melakukan beberapa pekerjaan di vila. Hanyul yang biasanya bermain kelinci
dengan Hun, pagi itu harus bermain seorang diri karena Hun sedang sibuk
mempersiapkan pernikahannya. Hanyul pun pergi ke belakang vila, namun
kelincinya tidak ada. Di dalam rumah kelinci, kelinci tersebut hilang. Ia
mencari cari kemana perginya kelinci kecilnya lalu menemukan kelinci tersebut
sudah mati dengan darah yang melumuri bulu bulu halusnya.
Seketika itu Hanyul pun menjerit dan
menangis tersedu sedu. Jeritannya itu membuat semua orang yang tinggal di vila
kaget dan tergopoh gopoh pergi keluar. Mencari keberadaan Hanyul di belakang
vila yang menangis dengan begitu tragisnya. Ternyata Hanyul menangis karena
kelinci kesayangannya sudah mati dengan berlumuran darah yang membiru.
Waktu itu juga Yebin langsung menggendong
Hanyul dan menenangkannya. Namun Hanyul tetap menangis hingga membuat Yebin
kebingungan. Ibu Miyoon, Hun, Jina, bahkan Yul sendiri ikut mencoba menenangkan
Hanyul dengan berbagai cara. Namun Hanyul tetap menangis di pelukan Yebin dan
ayahnya. Hingga kemudian tangisan Hanyul mereda saat ia melihat Yul menguburkan
kelinci tersebut di belakang rumah. Barulah setelah mayat kelinci itu terkubur
dengan baik, Hanyul sedikit tenang. Terakhir ia menangis dengan begitu
memilukan adalah ketika ia menaburkan beberapa kelopak bunga di atas gundukan
kuburan kelinci kecilnya yang sudah mati.
Kematian kelinci tersebut sudah sangat
mencurigakan. Bagaimana bisa, di tengah pulau yang aman dan tidka terdapat satu
pun binatang buas dari hutan, kelinci itu bisa mati dengan sendirinya? Apalagi
darah yang membalut tubuh kelinci itu juga menunjukkan bahwa kelinci tersebut
tidak mati karena keracunan makanan atau hal lainnya yang berhubunangan dengan
makanan. Tapi, adanya darah di tubuh kelinci tersebut menjadi bukti adanya
kekerasan. Artinya, kelinci itu sengaja dibunuh oleh seseorang.
Mungkin sangat membingungkan karena pada
saat itu yang ada di pulau tersebut tidak hanya Yul dan keluarga besarnya.
Tetapi juga ada sekitar seratus lima puluh orang yang ada di pulau tersebut,
yang merupakan tamu undangan pernikahan Hun. Selain mereka, juga ada beberapa
petugas pernikahan yang membantu menyiapkan berjalannya pernikahan Hun pada
sore nantinya. Jadi, cukup membingungkan untuk menebak siapa yang membunuh
kelinci tersebut di belakang vila sampai membuat Hanyul menangis tersedu sedu.
Awalnya Yul hanya menganggap itu kejadian
yang biasa. Mungkin semalam ada petugas dari resort yang menyiapkan beberapa
properti untuk pernikahan Hun dan tanpa sengaja membunuh kelinci yang mereka
lewati. Atau, ada salah satu dari sekian banyak tamu undangan yang masih mabuk
laut sehingga tidak sepenuhnya sadar saat membunuh kelinci di belakang rumah.
Pemikiran pemikiran itu membuat kecurigaan Yul terhadap matinya kelinci Hanyul,
pergi begitu saja. Namun, mendengar Haeri berkata tentang niat Leo park
mencelakainya malam itu membuat Yul kini mencurigai seseorang yang diduga
melakukan pembunuhan pada kelinci kesayangan Hanyul.
“Karena itu aku memintamu untuk berhati hati.
Kau tidak tidak tahu kapan Leo Park akan menyakitimu.” Haeri berucap. Ia
mengkhawatirkan Yul yang semalam nyaris celaka di tangan Leo Park.
Yul menganggukkan kepala. “Baiklah. Terima
kasih.”
“Hati hati juga untuk Yebin dan Hanyul.
Mereka sama sama terancam karena kau juga terancam. Sekarang Leo Park tidak
hanya menargetkan orang orang disekitarmu, tetapi langsung menargetkanmu,
Yul-a. Berhati hatilah.” Haeri kembali berpesan kepada Yul.
“Baiklah. Akan kuingat nasihatmu.”
Setelah itu Yul hendak pergi meninggalkan
Haeri di depan pintu ruang tunggu. Resepsi sebentar lagi dimulai, Yul harus
segera datang ke aula untuk menghadiri pernikahan adiknya secara ituh.
Namun baru selangkah Yul menjauh, Haeri
mencengkeram tangannya dan itu sontak membuat Yul kembali menolehkan tubuh ke
belakang. Bertatapan dengan Haeri yang kelihatannya ingin mengatakan sesuatu
lagi padanya.
“Ada apa?” tanya Yul bingung.
“Ada yang ingin kukatakan lagi padamu,
tentang Cho Jina,” ucap Haeri.
“Jina? Ada apa dengannya?”
**
Yul
masuk ke dalam ruangan resepsi tepat ketika pembawa acara pernikahan tersebut
membuka upacara pernikahan dengan beberapa kalimat. Yul beranjak duduk di
sebelah Yebin yang sedang memangku putra kecilnya dengan tenang.
“Apa yang terjadi, Sayang? Apa ada
masalah?”
Begitu Yul beranjak duduk di sebelahnya,
Yebin segera bertanya. Sejujurnya ia cukup khawatir karena kelihatannya Haeri
cukup serius ingin membicarakan suatu hal dengan Yul di waktu yang sangat
berdekatan dengan acara pernikahan Hun.
“Tidak apa apa. Haeri hanya mengingatkanku
supaya lebih berhati hati pada Leo park. Dia juga meminta supaya kau dan Hanyul
juga berhati hati,” jawab Yul. Apa yang diucapkannya itu memang tidak salah.
Haeri memang berkata demikian supaya Hun berhati hati. Namun, Yul tidak ingin membuat
Yebin lebih khawatir lagi jika mengatakan bahwa semalam ia nyaris saja celaka
karena niat buruk Leo Park untuk mencelakainya.
Mengerti, Yebin pun menganggukkan kepala.
Lalu pandangannya kembali fokus menatap ke depan. Mednengarkan membawa acara
tersebut membawakan upacara pernikahan Hun dengan khidmad dan penuh dengan
kebahagiaan.
Ini adalah saat saat yang sangat
mendebarkan untuk kedua mempelai sepanjang perjalanan hidupnya kelak. Sama
seperti yang dirasakan Yebin ketika berjalan di atas altar untuk menerima
sambutan tangan dari Yul sebagai mempelai prianya. Apalagi ketika janji setia
sehidup semati itu diucapkan. Seluruh tubuh dan jiwa Yebin seolah melebur
bersama gelora kasih yang menghidupkan kembali jiwanya yang semula padam.
Kembali hidup bersama genggaman seorang laki laki yang pada waktu itu juga
menjadi bagian dalam kehidupannya, mengisi sebagian besar jiwa Yebin dan akan
terus seperti itu sampai akhir hayatnya nanti.
Di kursi tamu yang disediakan khusus untuk
keluarga besar kedua mempelai itu, ibu Miyoon yang duduk di sebelah Yebin,
meneteskan air mata. Seolah olah ia sednag menyaksikan putra kesayangan yang ia
besarkan, menikah. Baginya, Hun itu adalah putranya. Yul menantunya, maupun
Hun, kedua duanya sudah dianggap anak oleh Miyoon. Setiap hari ia memasakkan
makanan untuk dimakan kedua putranya. Ketika sakit, kedua putranya itu yang
bergantian mengantarnya ke rumah sakit. Juga menemani belanja, dan menjadi laki
laki yang bisa diandalkan oleh seorang ibu yang hanya memiliki satu anak perempuan
yang sudah menikah.
Tangis harus juga terlihat dari Yebin.
Karena begitu tertaru, wanita itu meneteskan air mata melihat Hun begitu
bahagia di hari pernikahannya. Bagi Yebin, Hun adalah penyelamatnya. Hun adalah
teman, kakak, dan ornag yang sungguh berarti untuknya. Hun telah membantu Yebin
melewati masa masa sulit akibat cintanya pada Yul yang awalnya sangat
memedihkan dan tidak berbalas. Hun menjadi penguat untuk Yebin. Menjadi
pelipurnya di segala situasi. Hun juga telah menjaganya selama beberapa saat
Yul berada di pulau Jeju untuk mengurus bisnis.
Di sebelah Yebin, Yul juga tampak begitu
terharu. Bola matanya berkaca kaca namun ia tak dapat meneteskan air mata di
hadapan Yebin sekarang juga. Ia hanya merasa teramat haru, namun tak dapat
menangis dengan disaksikan putranya yang ada di pangkuan Yebin.
Tidak perlu dipertanyakan lagi seberapa
besar Yul menyayangi adiknya. Juga tak perlu dipertanyakan lagi seberapa
penting posisi Hun dalam kehidupan Yul selama ini. Entah ketika ia masih kecil,
ketika ia remaja, ketika ia tumbuh semakin dewasa, ketika mereka kehilangan
kedua orang tua sekaligus, bahkan ketika Yul menikah... Hun selali menjadi
orang yang berada di dekat Yul. Menjadi orang yang selalu siap dan bersedia
untuk menampung semua keluh kesahnya dan semua kegundahan yang dirasakan.
Begitu pentingnya posisi Hun dalam hidup Yul, sampai Yul lupa bahwa Hun sudah
dewas dan tiba saatnya untuk adiknya itu menikah.
Kini Hun telah menikah. Ia membentuk
keluarga kecil seperti yang Yul lakukan bersama Yebin. Persaucaraan Yul dengan
Hun, persahabtaan mereka, dan kelekatan hubungan mereka mungkin akan berbeda
dari sebelumnya. Namun, mereka tetap sama. Hubungan mereka sebagai kakak adik
yang saling mendukung satu sama lain dan saling berbagi cerita akan tetap sama sampai
mereka menjadi kakek nenek dan tinggal bersama di pulau yang asri nan indah
ini.
Resepsi pernikahan Hun telah sampai pada
puncaknya. Tanpa dirasa, semua sesi acara telah berlalu dengan khidmat dan
lancar. Sekarang adalah waktunya bersenang senang. Di mana seornag penyanyi
datang untuk menghibur semua tamu undangan dan juga kedua mempelai yang telah
menautkan cincin indah di jari masing masing. Penyanyi itu melantunkan sebuah
lagu cinta yang asik untuk didengar oleh semua orang. Semua orang kini bersenang
senang. Para kaum muda yang masih energik, ikut menari dan menyanyi nyanyi
bersama. Dan para orang tua, termasuk Yul dan Yebin, hanya menyaksikan anak
anak muda itu menari di depan bersama penyanyi wanita yang cantik dan menawan.
“Bagaimana perasaanmu, Sayang?” tanya Yebin
di sela suara nyaring penyanyi yang menggelegar di seluruh ruangan. Ia menoleh
pada Yul yang perasaannya sedang bercampur aduk melihat pernikahan adiknya
berlangsung lancar.
Yul menolehkan kepala. Lantas tersenyum
hangat. Ia meraih tangan Yebin dan menggenggamnya.
“Aku tidak tahu harus berkomentar apa.
Semuanya seperti bercampur menjadi satu dan sangat sulit untuk dikatakan. Aku
merasa bahagia melihat adik kecilku yang ternyata sudah tumbuh dewasa dan
sekarang menikah. Tapi ada satu sisi di dalam hatiku yang merasa kosong karena
artinya sekarang aku tak memiliki lagi adik yang kuanggap kecil dan selalu
kucandai dengan lelucon lelucon konyol. Aku merasa kehilangan. Tapi aku merasa
menjelaskan dengan gamblang apa yang sedang ia rasakan saat ini. Tentu saja,
Yebin mengerti dengan baik apa yang sedang suaminya itu rasakan.
“Hun Oppa sekarang sudah bersama istrinya.
Sayang, kau memiliki Hanyul yang bisa mendengarkan lelucon lelucon konyolmu.
Waktunya juga masih sangat panjang untuk kau bisa mencandai Hanyul sebagai
putra kecilmu.” Sembari membalas genggaman hangat suaminya, Yebin bertutur
pelan untuk memberikan hiburan. Itu cukup membuat Yul untuk memperlihatkan senyuman
yang terasa lebih tulus.
“Benarkan, Hanyul Sayang? Kau akan tetap
menjadi anak kecil untuk ibu dan ayah.” Yebin berganti mengajak bicara Hanyul
yang ada di pangkuannya. Lalu mengecup pipi putra kecilnya yang menggemaskan.
“Ne!” seru bocah kecil itu menjawab
perkataan ibunya. Sambil tersenyum semringah. Itu adalah senyuman paling indah
di muka bumi ini, senyum tanpa beban dan sangat tulus.
“Anak pintar,” desus Yul sambil mengelus
ngelus kepala Hanyul dan membalas senyuman sang putra. Kemudian Yul menurunkan
wajahnya untuk mengecup pipi lembut Hanyul.
Begitu mendapat kecupan ringan dari sang
ayah, Hanyul langsung mengulurkan tangannya. Ingin pindah di pangkuan Yul. Yul
pun bergantian memangku Hanyul, sampai resepsi pernikahan pun berakhir. Semua
tamu undangan pergi satu per satu meninggalkan aula setelah bersalaman dengan
kedua mempelai dan keluarganya. Mereka semua naik menuju kamar masing masing di
dalam gedung resort ini. Bersiap siap untuk langsung pulang setelah ini dengan
kendaraan yang telah dipersiapkan oleh keluarga pengantin.
Yul dan Yebin juga akan pergi meninggalkan
pulau ini. Tetapi berbeda dari para tamu undangan yang akan pergi meninggalkan
pulau begitu matahari tenggelam, Yul dan keluarga kecilnya akan berangkat
meninggalkan pulai di pagi pagi buta. Ia akan menginap satu malam lagi di pulau
ini, bersama Hanyul, Yebin, dan ibu Miyoon. Sedangkan tamu undangan lainnya
berangkat pada pukul enam menggunakan kapal yang telah Yul sediakan. Dan untuk
kedua mempelai pengantin yang telah resmi menjadi suami dan istri, akan menetap
di pulau ini selama beberapa hari ke depan. Mereka berdua memutuskan untuk
menjadikan pulau kecil yang indah ini sebagai tempat berbulan madu. Mereka akan
tinggal di pulau ini selama tiga hari lamanya. Lalu kembali pulang ke Seoul dan
menempati rumah baru mereka yang dihadiahkan sang kakak.
Untungnya, Leo Park memutuskan untuk
kembali ke Seoul bersama para tamu undangan yang beberapa orangnya ia kenal. Ia
berkata tak ingin berada di pulau itu lebih lama lagi dan memutuskan untuk
kembali bersama rombongan tamu undangan. Itu cukup melegakan untuk Yul. Karena
artinya, ia tidak perlu terlalu waspada lagi. Ancaman terbesarnya tidak ada
bersamanya. Berarti tidak ada yang perlu Yul khawatirkan lagi tentang Leo Park.
Aula resort telah sepi setelah beberapa
waktu tamu undangan pergi meninggalkan tempat masing masing untuk bersiap
pulang ke Seoul. Di dalam aula itu, hanya tersisa beberapa petugas yang
membereskan semua sisa sisa upacara pernikahan dan ada beberapa petugas lain
yang teridur dengan pulasnya karena kecapaian.
“Di mana Hun Oppa?” tanya Yebin yang tak
melihat keberadaan Hun sejak beberapa waktu lalu.
Begitu acara selesai, yang lebih dahulu
naik adalah Jina. Kelihatannya ia begitu kecapekan mengikuti serangkaian
upacara tersebut, sehingga begitu semua tamu pergi, ia bergegas menuju kamar
untuk beristirahat. Jina sedang hamil muda. Usia kehamilannya itu adalah usia
paling berat untuk dilalui seorang ibu yang baru mengandung untuk pertama
kalinya. Jika diingat ingat, dulu Yebin merasa sangat kesulitan ketika usia
kandungannya masih muda. Ia sering merasa mual dan pusing. Mudah ngantuk dan
capek. Serta tidak begitu berselera makan.
Namun jika dilihat, kelihatannya kandungan
Jina tidak begitu rewel seperti yang Yebin dulu pernah alami. Ia tidak pernah
mengeluh mual atau pusing. Selera makannya justru naik dan ia senang sekali
dengan makanan makanan organik dan daging sapi. Hanya saja gampang kelelahan
dan gampang ngantuk. Sehingga begitu resepsi selesai, Hun mengantarnya ke kamar
untuk beristirahat. Sementara Hun sendiri kembali turun ke aula untuk mengurusi
beberapa urusan mendadak seperti memberikan upah untuk semua orang yang bekerja
untuk mempersiapkan pesta pernikahannya di resort. Juga menyiapkan akomodasi
pulang untuk mereka semua. Orang orang yang bekerja untuk mengurusi pernikahan
Hun mulai dekorasi, makanan prasmanan, dan lain sebagainya adalah orang dari
Busan. Hun sendiri yang mencari mereka dan yang berganggung jawab memberikan
upah pada semua orang yang telah bekerja untuknya dengan begitu baik.
“Dia sedang keluar untuk menerima telepon
tadi,” jawab Yul. Ia sedang berdiri sambil menggendong tubuh Hanyul dalam
dekapannya.
Hanyul tertidur sejak beberapa menit yang
lalu. Sepertinya ia kekenyangan karena telah mencicipi semua makanan yang
disajikan untuk prasmanan. Ia juga kecapekan. Hanyul tertidur dalam pelukan
sang ayah, sedangkan Yul sendiri belum memiliki niat untuk menurunkan Hanyul
dan memindahnya ke kamar. Untuk beberapa saat, ia masih ingin menggendong tubuh
mungil putra kecilnya yang sangat menggemaskan itu.
“Hyung, sepertinya ada masalah.”
Begitu menyelesiakan panggilan teleponnya
dengan seseorang, Hun yang masih mengenakan setelan jas itu berjalan cepat
menghampiri Yul yang berdiri di sisi depan aula. Di sebelahnya ada Yebin yang
sedang membantu mengkoordinis setiap kapal very yang sebentar lagi akan
berlayar meninggalkan pulau.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Yul lirih. Ia
menepuk nepuk punggung Hanyul yang ada dalam pelukannya.
Meski sedang panik, Hun menurunkan nada suaranya
karena tak ingin membangunkan Hanyul dari tidur nyenyaknya.
“Staf dekorasi ada yang sakit. Kondisinya
cukup parah sehingga dia harus dilarikan ke rumah sakit. Tapi kapal yang
digunakan untuk semua staf dekorasi dan pekerja baru akan tiba nanti malam.”
Hun bercerita singkat tentang situasi yang sedang terjadi ini.
Yul menghela napas panjang. Ketika itu juga
Yebin selesai melakukan panggilan telepon dengan seseorang dan masuk ke dalam
pembicaraan.
“Untuk itu, tidak perlu dikhawatirkan,
Oppa. Aku sudah berkata pada beberapa kapten kapal untuk menawarkan siapa yang
suka rela turun dari kapal untuk rombongan tamu. Siapa tahu di antara banyak
tamu kita ada yang sukarela mengundurkan diri dari kapal very yang akan
berlayar sekarang untuk staf dekorasi yang sedang sakit itu. Nanti tamu
undangan yang menjaukan diri itu bisa berlayar bersama kapal yang kita
tumpangi. Bisa kan Sayang?” Yebin langsung menoleh kepada Yul untuk meminta
pendapatnya.
Tanpa ragu Yul menganggukkan kepala. “Tentu
saja tidak apa apa. Lagian, Hun dan Jina kan akan tinggal di sini. Jadi ada
ruang tersisa untuk tamu itu ikut naik di kapal kita,” jawab Yul yakin.
Tepat setelah itu, Yebin mendapat satu
panggilan masuk dari salah satu kapten kapal yang baru saja ia hubungi.
“Halo, ya, bagaimana Pak?” sahut Yebin.
Kepalanya mengangguk angguk mendengarkan kapten kapal itu berbijcara di
seberang telepon. Sementara dua lelaki yang sedang berdiri di hadapannya hanya
dapat memandang Yebin penuh harapan. Berharap kabar yang didengar Yebin itu
adalah kabar baik dari kapten kapal. “Baiklah. Saya akan beri tahukan pada
mempelai prianya.”
Begitu panggilan itu tertutup, Hun langsung
menyahut, “Bagaimana Yebin-a? Ada yang mengajukan diri untuk memberikan
kursinya pada staf yang sakit itu?” bertanya kepada Yebin dengan penuh harapan.
Yebin menghela napas panjang karena lega.
“Syukurlah. Ada dua orang yang mengajukan diri. Jadi staf yang sakit itu bisa
ikut di kapal nomor 6,” jawab Yebin/
“Baiklah.”
Begitu medengar jawaban dari Yebin, Hun
langsung berlalu pergi untuk menelepon salah satu stafnya yang menjadi
penanggung jawab. Berkata pada staf tersebut untuk membawa staf yang sakit dan
satu orang lagi yang menemani menuju kapal nomor 6 untuk segera melaju.
Kebetulan juga, di kapal nomor enam itu ada seseorang yang berprofesi sebagai
dokter. Ia adalah teman dekat Hun ketika belajar di Amerika, yang datang
menghadiri pernikahan sahabat terbaiknya.
“Syukurlah ada yang mau mengalah. Jika
tidak, terpaksa satu kapal harus dihentikan jadwal berlayarnya untuk memberi
keleluasaan pada staf yang sakit itu.” Yul menggumam pelan merenungi hal yang
baru terjadi ini.
“Benar sekali. Kita patut berterima kasih.”
“Kalau begitu, ayo kita kembali ke vila.
Hanyul butuh istirahat dengan baik, kau juga, Sayang.” Yul kembali berucap.
Sekarang masalah sudah terselesaikan. Waktunya mereka kembali ke vila. Untuk
mengistirahatkan Hanyul dengan baik. Dan untuk memberikan ruang kepada Yebin
untuk beristirahat dengan baik setelah mengurus semuanya.
“Ayo.”
Sepasang suami istri itu pun berjalan keluar
dari resort. Berjalan kaki selama kurang lebih lima menit menuju vila tempatnya
tinggal. Di dalam vila itu, Miyoon sedang beristirahat. Ia juga kecapaian
setelah mengikuti seluruh sesi acara pernikahan Hun.
Di pertengahan jalan menuju vila, Yul dan Yebin
dikejutkan dengan keberadaan Haeri dan satu orang lagi yang tidak lain adalah
Leo Park. Yul tersentak, dan langsung menyeru begitu melihat Haeri datang.
“Haeri-ya, jadi kau yang mengundurkan diri
dari kapal itu?” tanya Yul.
Haeri menganggukkan kepala. “Ya, aku yang
mengundurkan diri. Dan juga, Leo Park,” jawab Haeri pasrah sambil melirik ke
sampingnya, ke arah Leo Park.
“Tidak masalah aku mengikuti kapal yang
berlajar selanjutnya. Aku juga cukup senang berada di pulau ini, bersama
kalian.” Leo berucap dengan sangat natural seolah olah sedang mengucapkan
kalimat dalam dialog drama.
Mendengar itu, Yul hanya bisa membatin.
Jangan jangan... ini juga bagian dari rencana licik Leo Park untuk melakukan
sesuatu yang tidak terduga.
**