Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Han Mino si laki laki Bucin (budak cinta)!



Bab 38


Han Mino si laki laki Bucin (budak cinta)!


Sejak kedatangan Mino di Indonesia, Lysa belum melihat Brian sama sekali. Sepertinya laki laki itu juga tidak menginap di hotel ini lagi. Entah ke mana Brian pergi, Lysa sama sekali belum pernah melihatnya sejak kemarin sore ketika Mino datang. Terakhir Lysa melihat Brian adalah ketika di lobi hotel lantai satu. Saat Lysa mencoba menghubunginya untuk menanyakan dia ada di mana, Brian juga tidak menjawab pesan teks Lysa dan hanya membacanya saja.


Tau ah, Lysa sudah menyerah untuk mengetahu apa yang sedang Brian lakukan. Lagi pula Brian bukanlah anak kecil. Laki laki itu pastinya bisa mengurusi hidupnya sendiri tanpa harus Lysa ketahui setiap gerak geriknya. Hanya saja, Lysa merasa tidak nyaman karena merasa sedikit sungkan dengan Brian. Masalahnya adalah, Lysa belum sempat memberi tahu brian soal Mino yang akan datang ke Yogyakarta. Jadi Lysa merasa was was saja, jangan jangan Brian sedang marah padanya karena hal itu.


Entah apa pun yang terjadi pada Brian, sepertinya laki laki itu sedang bersenang senang dengan temannya di Jogja. Mengingat Brian yang hidup di Indonesia sejak kecil sampai kuliah S1, laki laki itu memiliki banyak sekali teman di sini. Pasti sekarang ia sedang sibuk bermain dengan teman temannya entah ke mana.


Sejak pagi tadi Lysa keluar untuk berjalan jalan bersama Mino. Ia mengelelilingi kota Yogyakarta bersama sambil menaiki sebuah kereta yang dikendarai oleh kura besar berwarna coklat. Menggunakan kendaraan seperti kereta kencana itu Lysa dan Mino menghabiskan waktu dari jam sembilan sampai siang.


Sekarang waktu menunjukkan pukul satu siang. Brian dan Lysa sednag beristrahat di sebuah kafe yang ada di tengah kota Jogja. Menikmati segelas es kapuccino dingin sambil merasakan semilir angin dari kipas angin besar yang ada di kafe itu. Saat siang, kota itu menjadi sangat panas. Namun cuaca tetap tidak menentu dan kadang kadang turun hujan seperti semalam.


“Jadi nanti sore Chagi akan berangkat kembali ke Filipina?” Lysa menanggapi cerita Mino. Kedatangan Mino ke tempat ini memang sangat mendadak dan sangat singkat menginat lelaki itu yang datang di tengah keisbukannya membuka akfe bari di Filipina. Karena kepadatan jadwal kerjanya, Mino hanya bisa singgah di Indonesia selama satu hari satu malam saja. Kemarin sore Mino tiba di Indonesia, dan nanti sore pukul enam laki laki itu harus kembali ke Filipina untuk besok bekerja mempersiapkan pembukaan kafe baru di sana.


Sangat disayangkan memang. Mengingat betapa besar rasa rindu keduanya, satu hari satu malam rasanya tidak cukup untuk menghabiskan waktu bersama. Namun Mino tidak bisa berbuat hal lain. Ia harus bekerja dan tidak boleh menunda nundah pekerjaannya di Filipina karena itu akan menunda proses pembangunan Moonlight Coffe Korea di sana. Dan ketika pembangunan tertunda, maka kepulangan Mino ke Korea Selatan pun akan ikut terunda. Karena laki laki itu tidak bisa kembali ke Korea sebelum proyek kafe benar benar clear dan bisa ia tinggal kembali ke negeri asalnya.


Jika dituruti keinginannya, Mino ingin berada di sini sampai Lysa akan kembali ke Korea selatan. Namun, ia tahu ia tidak bisa melakukan hal itu.


“Iya, aku harus kembali nanti sore.” Mino yang juga merasa sedih karena harus secepat itu berpisah dengan Lysa, menanggapi dengan raut wajah yang terlihat sendu meski masih menampilkan sedikit senyuman.


“Jam berapa?”


“Jam enam sore.”


“Nanti aku akan mengantarmu ke Bandara,” ucap Lysa.


“Bisakah begitu? Rasanya akan sangat kesepian jika aku pergi ke Bandara sendirian,” tanggap Mino sambil tersenyum kikuk.


Satu hal lagi yang Lysa sukai dari Mino. Yaitu, Mino yang selalu jujur terhadap perasaannya. Mino tidak banyak menyembunyikan sesuatu termasuk menyembunyikan keinginan dan perasaannya. Ketika ia menginginkan sesuatu, ia akan mengatakannya dengan terus terang. Dan ketika ia tidak menyukai sesuatu, ia juga akan mengatakannya dengan terang terangan. Mino bukan tipikal laki laki yang terlalu banyak melemparkan kode pada perempuan. Begitu pun Lysa, ia bukan tipikal perempyan yang suka melemparkan kode kode abstrak atau bahkan sandi seperti sandi morse atau pun sandi rumput kepada laki laki yang disukainya. Menggunakan bahasa kode untuk berpacaran rasanya sangat rumit sekali. Lysa yang sejak dulu tidak menyukai pramuka itu tidak begitu suka menggunakan kode dan lebih memilih untuk mengatakannya secara terus terang. Dan juju saja, ia juga tidak suka mendapat kode dari laki laki. Lebih baik adalah terang terangan seperti Mino. Sama sama jujur dengan perasaan masing masing. Sama sama jujur dalam mengungkapkan apa yang ada di dalam pikiran dan juga hati. Lysa merasa itu lebih baik dari pada saling melempar kode yang ujung ujungnya membuat banyak pasangan pacaran bertengkar karena tidak bisa mendeteksi apa arti kode yang dilemparkan.


“Tentu saja. Aku juga ingin mengantar Chagi ke bandara.” Lysa menanggapi dengan yakin.


Seketika itu juga Mino tersenyum simpul. “Terima kasih,” ucapnya.


Mengingat ingat tentang pacaran, Lysa baru menyadari bahwa dirinya dan juga Mino saat ini belum benar benar resmi pacaran. Mereka hanya sama sama suka, sama sama mengungkapkan rasa cinta dengan banyak cara, dan bahkan sudah bercinta kemarin malam. Namun keduanya belum terikat secara resmi melalui hubungan pacaran. Mino hanya mengungkapkan kalau ia menyayangi Lysa dan mencintainya, namun Mino belum mengajak Lysa pacaran. Tidak ada kata kata ‘maukah kau menjadi kekasihku?’ yang pernah diutarakan untuk Lysa.


“Tunggu tunggu.” Lysa yang menyadari semua itu akhirnya angkat bicara. Desusan pelannya itu membuat kepala Mino tertoleh. Mino yang sedang duduk di sebelahnya itu seketika menolehkan pandangan pada Lysa yang tampak sedang memikirkan sesuatu dengan serius.


“Ada apa?” tanya Mino sambil mengernyitkan kening.


“Kalau dipikir pikir, kita ini belum jadian secara resmi. Chagi hanya mengatakan kalau kau mencintaiku, tapi aku tidak pernah mendengarmu mengajakku berkancan. Jadi, bagaimana itu?” kata Lysa ragu.


Apa yang dikatakan Lysa memang benar. Selama ini Mino hanya mengungkapkan rasa cintanya melalui tingkah laku dan kata kata. Namun, ia belum pernah mengajak Lysa berkencan secara resmi. Tapi, mau dipikirkan berapa kali pun, apa pentingnya hal itu? Toh kedua duanya sudah saling mencintai dan berjanji untuk saling bersama. Apa itu namanya bukan pacaran?


“Memang apa pentingnya pacaran, Chagi? Bukannya yang terpenting itu adalah kita saling mencintai dan saling berjanji untuk tetap bersama satu sama lain? Bukankan itu bagian terpenting dari hubungan antara laki laki dan perempuan?” Mino menanggapi dengan binung. Bagaimana pun, ia tidak mengerti apakah peresmian pacaran itu benar benar di butuhkan di saat dirinya dengan Lysa telah sama sama berbagi hati, jiwa, raga, dan bahkan berbagi mimpi bersama.


“Hehei, tentu saja itu semua sangat penting. Wanita itu butuh kepastian, Chagi. Aku belum pernah mendengar kau mengajakku berkencan. Semuanya hanay terjadi dengan begitu alami dan natural.” Lysa berucap.


“Bukannya itu lebih bagus lagi?” sahut Mino. “Suatu hal yang terjadi secara alami dan natural itu kan lebih indah. Untuk apa diresmikan jika kita sudah bahagia satu sama lain? Peresmian pacaran itu hanya gaya jadul. Orang orang sekarang tidak pacaran dengan cara seperti itu, Kim Lysa. Mereka hanya bertemu satu sama lain, saling suka, saling menyayangi, saling mencintai, saling berbagi cerita, lalu menjalani hubungan dengan natural dan alami sampai akhirnya menikah. Bukannya itu akan lebih menyenangkan?” lanjut Mino berargumen.


Sejenak Lysa terdiam. Ia hampir tersenyum karena Mino menyebutkan suatu hal yang tidak terduga. Yaitu, Mino menyebutkan kata ‘menikah’. Lysa yang baru kali ini mendengar Mino menyebutkan kata menikah, tiba tiba tersipu dan berusaha untuk tidak tersenyum di tengah perbedaan argumen mereka yang belum berakhir.


“Tadi ... Chagi menyebutkan ‘menikah’?” tanya Lysa pelan dengan senyum sipu di wajah yang tak dapat gadis itu sembunyikan.


“Benar, menikah.”


Mino yang melihat Lysa tersipu itu segera mengiyakan. Memang benar jika tadi ia menyebutkan kata menikah, tanpa keraguan.


“Berkencan dan menikah. Keduanya kan hal yang tidak terpisahkan.” Mino berkata dengan tegas.


“Lalu ... berarti, Chagi sudah ada rencana untuk menikahiku?” tanya Lysa.


Mino terdiam. Di usianya yang memasuki tiga puluh itu memang waktu yang tepat untuk Mino memikirkan tentang pernikahan. Sehingga Mino telah merencanakan sbeuah pernikahan dengan wanita yang begitu ia cintai. Dan jujur saja, laki laki itu tidak ingin menunda nunda waktunya lagi. Ia tidak ingin menunda untuk menikah karena itu lebih beresiko untuk ia kehilangan wanita yang amat ia cintai.


Membicarakan pernikahan adalah waktu yang tepat untuk Mino. Umur laki laki itu sudah berkepala tiga. Ia telah memiliki apartemen, telah mapan secara karir dan kehidupan. Kalau pun nanti setelah menikah ia ingin tinggal di sebuah rumah besar, ia memiliki cukup uang untuk membeli rumah utnuk ia tinggali bersama sang istri. Namun, di sini permasalahannya adalah ... sepertinya membicarakan pernikahan maish terlalu dini untuk Lysa. Dari segi usia atau pun lainnya, Lysa masih cukup jauh dari kata pernikahan. Usia biologis Lysa baru dua puluh dua tahun, dan usia Koreanya baru dua pulih tiga tahun. Dan kuliah nya pun belum tuntas karena ia merupakan mahasiswa transfer semester dari universitas yang sebelumnya sehingga ia harus mengulang satu tahun lagi untuk mengejar ketertinggalan. Menikah ... sepertinya bukan waktu yang tepat untuk Lysa. Terlebih lagi, Lysa juga memiliki mimpi yang belum sempat ia gapai bersama sang ayah.


Memikirkan hal itu membuat Mino tiba tiba merasa bersalah. Ia seharusnya tidak menyinggung tentang pernikahan secepat ini. meski pun dari segala sisi ia sudah siap menikah dan sudah ingin menikah, tapi itu tetap bukan hal yang tepat untuk Lysa di waktu dekat.


“Apa terlalu cepat?” Karena memikirkan semua itu, Mino pun merasa ragu. Dan suaranya yang terdengar sangat ragu itu membuat Lysa mengerutkan kening karena sedikit merasa kecewa. “Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sudah memiliki pikiran untuk menikah. Aku sempat berpikir, ketika aku nanti menemukan seorang wanita yang pas untuk kunikahi, yang mencintai apa adanya diriku dan menerima semua kekurangan termasuk masa laluku yang tidak begitu baik, aku ingin segera menikahinya. Aku tidak ingin mebuang buang waktu dan ingin segera melangsungkan pernikahan dengannya. Namun, jika itu terlalu cepat untukmu ... ya tidak apa apa. Aku bisa menunggu sedikit lebih lama lagi.”


Kening Lysa mengerut semakin dalam. Merasa tidak setuju dengan yang Mino ucapkan, Lysa segera menyanggah.


“Memangnya kenapa? Aku tidak apa apa. Aku tidak masalah menikah muda sekali pun. Kurasa menikah bukan ide yang buruk untuk pasangan yang sudah sama sama yakin dan saling mencintai seperti yang tadi Chagi katakan.” Lysa berucap.


“Tapi tetap saja, itu terlalu cepat utukmu.”


“Aku? tidak juga. Apa masalahnya itu adalah usiaku? Bukannya Bos Moon dan Nyonya Moon itu menikah ketika usia Nyonya Moon baru dua puluh tiga tahun? Artinya usia bukan menjadi alasan seseorang untuk tidak segera menikah, Chagiya.” Lysa berargumen. Ia sudah pernah melihat langsung Nyonya Moon alias Moon Yebin, istri dari pemilik Moonlight Grup yang usianya masih sangat muda.


“Nyonya Moon menikah di usia dua puluh tiga tahun dan waktu itu dia sudah lulus kuliah.” Mino menambahkan.


“Usiaku juga dua puluh tiga, Chagiya. Usiaku di Korea sudah dua puluh tiga. Dan aku bisa mengambil jalur lulus lebih cepat jika ingin.” Lysa mengimbuhkan dengan yakin.


Mino terdiam. Menatap Lysa yang terlihat begitu bersemangat untuk segera menikah dengannya. Dari semua kalimat yang dilontarkan oleh Lysa, Mino dapat menangkap bahwa sebenarnya Lysa juga ingin segera menikah dengannya.


Menyadari hal itu, Mino lantas tersenyum simpul saking senangnya. Dan senyumannya yang tiba tiba itu membuat Lysa mendadak bingung.


“Hah.... Chagi duluan kan yang membahas tentang pernikahan. Jadinya aku terbawa suasana dan menjadi begitu serius memikirkannya.” Sambil merutuk rutuk Lysa menurunkan pandangannya dari Mino karena merasa sangat malu. Wajahnya yang memerah itu sudah mebuatnya merasa sangat malu di hadapan Mino. Apalagi senyum jahil Mino yang kelihatan seperti sedang menggodanya, membuat Lysa benar benar merasa malu.


Melihat Lysa yang menundukkan pandnagan karena malu dan tersipu sipu itu membuat Mino merasa sangat gemas. Mino pun merangkul bahu Lysa dan menenangkannya.


“Baiklah. Pertama, kau harus lulus dulu. Nanti kita pikirkan pernikahan matang matang setelah itu.” Mino menenangkan Lysa dengan berkata demikian sambil merangkul kedua bahu sang gadis dengan erat.


Mendengar kata kata itu dari Mino, perlahan lahan Lysa mengangkat kepalanya. Menatap Mino dengan lembut.


“Kalau aku mengajukan persyaratan untuk mengikuti program lulus lebih cepat, Ajeossi akan membantuku bukan?” ucap Lysa.


Dengan yakin Mino menganggukkan kepala. “Tentu saja. Apa yang tidak untukmu, Sayang?” Mino menjawab dan kembali menggoda Lysa. Membuat Lysa tersenyum sipu dan langsung memberinya kecupan ringan di pipi. Kecupan mendadak itu membuat Mino terkejut dan tidak bisa menahan senyumnya yang sangat lebar.


“Katamu di tempat umum tidak boleh berciuman. Kenapa kau tiba tiba menciumku?” tanya Mino setengah menggoda.


“Tidka apa apa. Kan itu hanya kecupan, bukan ciuman yang benar benar.” Lysa menanggapi.


“Memang bagaimana ciuman yang benar benar itu?”


“Itu.... Nanti saja kalau kita sudah tiba di hotel.”


Mendengar jawaban tidak terduga dari Lysa, jantung Mino terasa semakin berdebar debar. Laki laki itu sontak melepaskan pelukannya pada bahu Lysa untuk memegangi jantungnya supaya tidak melompat keluar karena detakannya yang sangat kencang. Sungguh, itu adalah bagaimana seorang bisa jantungan. Kata kata yang Lysa ucapkan dan juga tingkah lakunya selalu membuat jantung Mino berdegup kencang dan menjadikan jantung Mino semakin sehat.


“Sepertinya aku bisa sakit bukan karena mabuk darat atau pun mabuk laut, melainkan karena mabuk cinta.”


Mendengar Mino yang berkomentar dengan tidak masuk akal itu Lysa pun terkekeh kekeh. Dua hari yang lalu ia reuni dengan teman temannya di Jogja, dan ia mendengar istilah baru yang lagi Boomong di Indonesia, yang sepertinya sangat sesuai dengan kondisi Mino saat ini.


“Chagi, kau itu sangat bucin!” ungkap Lysa.


Bucin? Mendengar kata yang sangat asing dan tidak pernah didengarnya di mana pun itu, Mino langsung mengakhiri aktingnya memegangi jantung. Laki laki itu sontak menoleh pada Lysa dan menatapnya bingung.


“Apa kau bilang? Bu ... buci apa?” tanya Mino.


“Bucin.”


Itu adalah kosa kata baru yang Mino dengar. Sepertinya itu adalah bahasa Indonesia.


“Bucin? Apa itu? Apa itu bahasa Indonesia?”  sahut Mino sambil memikirkan satu kata yang terus berputar putar di otaknya.


Sambil terkekeh kekeh Lysa menjelaskan singkat. “Itu semacam idiom bahasa indonesia. Singkatan  dari ‘budak cinta’.”


“’Budak cinta?’ Apa itu?” Mino mencoba melafalkan kata ‘budak cinta’ itu dengan pelafalannya yang masih terdengar kaku dan canggung. Maklum saja, ini adalah pertama kalinya Mino menggunakan bahasa Indonesia.


“Bucin itu adalah budak cinta, atau pembantu cinta.” Lysa pun sekarang menjelaskan dengan bahasa Korea yang baik dan benar. Membuat Mino mengerutkan kening dalam dalam.


“Pembantu cinta? Apa maksudnya?”


“Ungkapan itu untuk menyebut orang yang sering diperbudak oleh cinta. Hm... mungkin orang Korea lebih familiar dengan virus cinta, untuk menggambarkan orang orang pacaran yang suka berkelakuan denagn tidak wajar.”


“Hahahaha!”


Tawa Mino seketika itu tergelak ketika mendengar penjelasan Lysa tentang arti kata Bucin. Kosa kata baru bahasa Indonesia yang pertama kali Mino dengar ternyata adalah bucin alias ‘budah cinta’ yang entah mengapa ia rasa sangat gamblang untuk medeskripsikan dirinya. Dasar budak cinta! Laki laki itu bahkan rela menjadwal ulang pekerjaannya di Filipina, dan rela relain datang di Indonesia yang masih sangat asing untuk Mino, demi bertemu dengan gadis yang dicintainya dan hanya untuk bersamanya satu hari satu malam saja. Kalau bukan budak cinta, seseorang tidak ada yang melakukan hal seperti yang Mino lakukan. Tapi setidaknya berkat ke – bucinan – nya itu, mereka bisa bertemu bukan? Dan Mino memiliki pengalaman mengunjungi Yogyakarta, Indonesia, meski hanya untuk satu hari satu malam saja. Yah, setidaknya ke – bucin –an Mino itu masih membawa dampak yang positif untuknya dan juga Lysa, karena dua duanya merasa bahagia dan lebih tenang setelah dapat bertatap muka satu sama lain.


“Benar sekali. Itu sangat tepat. Hahaha!” Mino masih tertawa terbahak bahak. Sampai akhirnya tawanya itu selesai. Dan karena haus, ia meminum minuman dinginnya di hadapan sampai habis.


Keheningan berlangsung setelah tawa itu usai. Dan Mino teringat suatu hal.


“Ah, benar, setelah ini kita akan ke mana?” tanya Mino.


Lysa terdiam untuk berpikir. Dan tiba tiba ia teringat satu tempat lagi yang sangat sangat ingin ia kunjungi. Dan yang mungkin ia hanya bisa datang ke tempat itu bersama Mino.


“Sebenarnya, aku ingin sekali bertemu dengan ibuku di rumah sakit.” Lysa angkat bicara sambil menundukkan kepala dengan raut sedih yang terukir di wajahnya. “Aku mendengar kalau ibuku belum bisa keluar dari dumah sakit karena sakit demam sehari setelah melahirkan. Aku ingin sekali mengunjunginya. Tapi aku tidak sanggup jika sendirian. Seperti yang kuceritakan malam itu, aku tidak sanggup untuk bertemu ibu sendirian. Karena ingatan buruk yang terus terlintas di otakku.”


Suasana mendadak berubah menjaid sedih dan pilu. Mino yang melihat raut sedih di wajah Lysa itu segera memeluknya untuk membuat sang gadis merasa jauh lebih tenang.


“... Aku pernah menyaksikan perselingkuhan ibuku dengan seorang laki laki yang usianya sedikit di atasmu, Chagi. Ingatan itu sangat menyakitkan. Sejak kejadian itu, keluargaku hancur dan ibu perpisah dengan ayah. sampai akhirnya aku harus ikut bersama ayah ke Korea untuk memulai kehidupan yang baru. Ingatan itu kadang terus terlintas dan membuat hatiku tersayat sayat. Saat medengar kata ‘ibu’ yang terlintas dalam otakku adalah ingatan tentang perselingkungan yang dilakukan ibuku. Dan itu membuatku merasa sangat tersiksa. Aku sampai detik ini masih selalu teringat dan membuatku tidak dapat bertatap muka dengan ibuku.” Lysa lanjut bercerita.


Kedua bola mata Lysa berkaca kaca. Dan lysa mencoba menahan tangisnya, sama seperti yang selama ini ia lakukan.


Mino yang sedang memeluknya itu mengelus elus pundak Lysa. Mencoba menenangkannya dengan memberikan sebuah pelukan hangat dan juga belaian.


“Kau ingin bertemu dengan ibumu?” tanya Mino.


Kepala Lysa teranggut anggut. “Aku ingin bertemu dengannya. Dan ayahku juga ingin aku bertemu dengannya.”


“Kalau begitu ayo kita temui ibumu.” Mino pun berkata dengan yakin sambil menggenggam tangan Lysa dengan hangat dan lembut.


Perlahan Lysa menaikkan pandangannya. Bertatap tatapan dengan Mino.


“Bagaimana jika nanti aku terbawa emosi dan tiba tiba menangis?” tanya Lysa penuh kekhawatiran sambil menatap Mino degan segenap harapan.


Mino mencoba meyakinkan Lysa. Sembari menatapnya hangat, Mino membelai wajah Lysa dan berkata, “Tidak apa apa. Ada aku di sampingmu. Aku bisa menutupi tangismu jika nanti kau menangis.”


**