Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Perpisahan Sejenak



Perpisahan sejenak


Tidak dapat dimungkiri jika setiap perempuan pasti suka dipuji penampilannya. Tidak terkecuali wanita yang sudah bersuami seperti Kang Yebin. Tentu, ia senang dipuji cantik apalagi disamakan dengan bunga sakura yang sangat indah.


Pujian Leo Park tadi berhasil membuat Yebin setengah tersipu. Namun ia hanya berdeham ringan untuk mencegah wajahnya jadi semerah tomat. Untung saja, tak lama kemudian Yul telah menyelesaikan kegiatan berteleponnya. Ia berjalan mendekat pada Yebin.


“Sayang,” seru Yebin. Yebin langsung menggandeng lengan Yul seketika lelaki itu mendekat.


“Ayo. Di seberang hotel ini sepertinya ada kedai teh. Kita bisa ke sana saja untuk menghemat waktu,” kata Yul.


“Baik.”


**


“Jadi, kapan kau akan berangkat ke Pulau Jeju untuk perjalanan bisnis itu?”


Sembari menjemur pakaian di balkon lantai dua, Yebin melontarkan pertanyaan pada Yul yang sedang membantunya menjemur. padahal pakaian yang baru keluar dari pengering mesin cuci itu tidaklah banyak. Meski Yebin sendiri yang menjemurnya, tidak akan membutuhkan waktu lama. Mungkin hanya lima belas menit. Tapi Yul yang sedang tidak ada kerjaan itu bersikeras ingin membantu istrinya menjemur pakaian.


“Besok aku berangkat.”


“Besok? Kenapa mendadak sekali?” pekik Yebin.


Jadi hari itu Yul mendapatkan telepon dari manajer Moonlight Coffe yang dibangun di pulau Jeju. Yul mendapat laporan bahwa dua cabang kafe yang dibangun di pulau Jeju itu sedang berseteru karena suatu hal. Kedua cabang kafe itu memang dibangun di dua kota besar yang berbeda. Tapi mereka berseteru karena salah satu kafe mengalami penurunan penjualan sedangkan kafe satunya lagi mengalami peningkatan. Kedua manajer dari Moonlight Coffe Jeju itu saling berselisih karena menganggap diri mereka sebagai saingan. Padahal, bukan seperti itu cara kerja Moonlight Coffe.


Memiliki banyak cabang dengan jumlah kafe yang beroperasi sampai dua ratus lima puluh itu memang patut dibanggakan. Tapi, permasalahan internalnya sendiri sangat banyak dan rata rata tidak jauh berbeda. Perseteruan manajer yang menganggap satu sama lain sebagai saingan. Sampai tuduhan tuduhan tak berdasar dengan niat menjatuhkan satu sama lain sebagai rekan.


Mau tidak mau Yul harus berangkat ke Pulau Jeju untuk menyelesaikan permasalahan itu. Jika ada permasalahan seperti ini, yang dilakukan Yul pertama kali adalah memberi teguran keras dan menjelaskan kembali bagaimana cara kerja Moonlight Coffe yang memiliki dua ratus lima puluh cabang, yang semuanya adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisah. Jika diberi teguran itu tetap tidak mempan, langkah Yul berikutnya adalah melakukan pertukaran manajer atau memindah manajer pembuat onar ke cabang lain. Jika seperti itu pun tetap berbuat masalah, mau tidak mau Yul harus memecat manajer si pembuat onar.


“Aku tidak bisa membiarkan mereka berseteru lebih lama. Bisa berdampak buruk untuk citra kafe. Jadi aku harus cepat cepat ke sana,” jelas singkat Yul.


“Dengan siapa kau berangka, Sayang?”


“Dengan Pak Kim.”


Yebin menganggukkan kepala. Pak Kim yang barusan disinggung Yul itu adalah seseorang yang bekerja sebagai tangan kanan Yul, atau bisa dikatakan sekretaris pribadinya. Tak banyak yang tahu tentang Pak Kim itu. Karena ia jarang terlihat di kafe dan hanya ada di saat saat yang penting saja untuk mendampingi Yul.


“Nanti sore aku akan mengepak barang yang akan kau bawa ke Jeju. Kira kira kapan kau pulang, Sayang?” tanya Yebin sambil menjemur pakaian terakhir yang ada di dalam ranjang pakaian.


“Kapan ya? Aku tidak bisa memperkirakan. Yang pasti, aku akan langsung pulang setelah urusan di sana selesai.”


Seselesainya menjemur pakaian, Yul berjalan di belakang Yebin. Lantas memeluknya dari belakang.


“Hhhh.”


Satu embusan napas panjang keluar dari rongga hidung Yul. Ia merasa begitu sedih karena besok harus pergi meninggalkan istrinya untuk urusan pekerjaan.


“Hari ini aku tidak akan ke mana mana. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu, Sayang. Aku sangat sedih karena besok harus pergi.”


Dari suara Yul yang terdengar begitu lirih, Yebin bisa merasakan apa yang sedang suaminya itu rasakan. Sejak pernikahan mereka, ini adalah pertama kalinya Yul pergi meninggalkan Yebin untuk urusan pekerjaan. Apalagi dengan waktu yang tidak menentu, yang Yul pun tidak tahu kapan ia bisa kembali ke Seoul dan bertemu lagi dengan istrinya.


Yebin mengelus lengan Yul yang merangkul bahunya.


“Oppa kan hanya pergi sebentar. Apa perlu aku ikut bersamamu?” ucap Yebin.


“Tidak. Tidak perlu. Biar aku saja yang pergi ke sana dan mengurus semuanya. Kau di sini saja untuk mengurus kafe sementara kutinggal pergi,” kata Yul.


Yebin pun mengangguk setuju.


“Ngomong ngomong, bagaimana kabar Biniemoon? Apa semua karyawanmu sudah tahu?” tanya Yul.


“Biniemoon semakin membaik setelah kau membeli setengah saham untuk modal. Untuk Biniemoon tidak perlu dikhawatirkan. Somin yang aan menggantikan pekerjaanku di sana. Aku hanya memantau dari jauh dan menarik laporan setiap minggu. Kalau nanti bisnis dengan Moonlight Retail itu berjalan baik, mungkin aku juga akan mempekerjakan karyawan baru untuk membantu tugas karyawan yang sudah ada.”


Keduanya memandangi suasana luar melalui balkon lantai dua. Di saat yang bersamaan, sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu gerbang rumah Yul.


**


Malam harinya, saat Yul sudah tertidur lelap, Yebin bangun untuk mengepak semua pakaian yang akan Yul bawa ke Jeju. Malam ini Yul tidur lebih awal dari biasanya karena besok harus berangkat pagi pagi sekali. Sehingga ia tidur lebih awal di pelukan Yebin.


Di dalam kamar yang pencahayaannya remang remang itu, Yebin mengeluarkan beberapa pakaian Yul dari lemari. Melipatnya masuk ke dalam koper yang akan Yul bawa pergi. Setelah semua pakaian itu masuk, Yebin merenung. Pagi tadi rumah mereka didatangi seorang tamu kehormatan. Tamu yang datang bersama mobil mewahnya itu merupakan orang yang selama ini mencari cari keberadaan Yul. Tidak salah lagi, orang itu adalah pelukis Jae Min Chul. Ia datang lagi kemari untuk bertemu dengan Yul.


Jelas sekali bahwa pelukis itu mencari Yul dengan alasan penting. Yebin tak tahu pasti karena Yul menyuruhnya naik dan tidak ikut menjamu tamu penting yang datang itu. Tapi, mungkin saja pelukis itu datang untuk menawarkan pekerjaan kepada Yul yang telah lama berhenti melukis.


Yul sendiri bahkan tak bercerita untuk apa pelukis itu datang menemuinya. Ia hanya berkata, bahwa pelukis itu datang hanya untuk bersilaturahmi karena sudah lama tidak bertemu. Hanya itu alasannya, kata Yul ketika ditanyai oleh Yebin.


Namun Yebin merasa yakin bahwa kedatangan pelukis Jae Min Chul itu tidak untuk sekadar bersilaturahmi.


Sambil memandangai koper berisi pakaian Yul, Yebin terdiam cukup lama. Yang Yebin inginkan saat ini hanya satu, kebahagiaan Yul dengan kehidupannya yang sebenarnya.


Setelah merenung cukup lama sambil memikirkan semua itu, Yebin berjalan keluar meninggalkan kamar tidur. Menuju ruang lukis. Mengambil satu buah buku gambar, peralatan menggambar, cat air, juga palet. Ia keluar dari ruang lukis sambil membawa beberapa peralatan itu. Lalu menyelipkan peralatan melukis itu ke dalam koper yang besok akan Yul bawa ke pulau Jeju.


Keesokan harinya, Yebin bangun pagi pagi buta untuk menyiapkan segala kebutuhan Yul. Jadwal keberangkatan Yul tidak kurang dari setengah jam dari sekarang. Yul bergegas masuk ke dalam mobil. Ia mengendarakan mobil itu menuju Bandara Gimpo.


“Tidak ada yang ketinggalan kan?” Yebin yang duduk di kursi sebelah sopir itu mengingatkan kembali.


“Tidak ada. Kan semuanya sudah kamu siapkan, Sayang.”


“Bagaimana dengan Pak Kim?” tanya Yebin.


“Pak Kim sudah berangkat kemarin. Dia berangkat dulu untuk bertemu dengan anak istrinya yang sedang berlibur ke Jeju..”


“Jadi kau berangkat sendirian ke Jeju?”


“Iya. Tapi begitu tiba di bandara Pak Kim akan menjemputku.”


“Terima kasih,” kata Yul setelah menerima semua dokumen itu lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu, pandangan Yul tertuju pada Leo Park. “Leo ssi, aku titipkan Moonlight Retail padamu untuk sementara waktu. Tolong urus semuanya dengan baik. Dan bantu istriku untuk mengurus kafe selama aku pergi. Aku akan memberimu gaji tambahan untuk pekerjaan ini.”


Saat ini sebenarnya saat yang genting untuk Yul meninggalkan Moonlight Retail yang bahkan belum diresmikan olehnya. Setelah kontrak ditandangani beberapa hari lalu, memang ada banyak sekali hal yang perlu dipersiapkan sebelum Moonlight Retail benar benar siap meluncur. Namun karena urusan mendesak ini, mau tidak mau Yul harus pergi. Ia hanya bisa memercayakan Moonlight Retail pada Leo Park untuk mempersiapkan segala hal sendirian sebelum peluncuran produk.


“Jangan khawatir. Saya akan mengurus semua persiapannya dengan baik. Juga akan membantu istri Anda menghendel pekerjaan kafe.”


Yul tersenyum hangat mendengar itu. Lalu ia bersalaman dengan Leo Park.


“Baiklah. Aku harap kau bisa dipercaya.”


Terakhir, sebelum keberangkatannya, Yul menoleh pada Yebin yang menunjukkan raut wajah sedih. Yebin memang tersenyum. Namun matanya yang sendu itu tidak bisa berbohong bahwasannya ia merasa sedih melihat Yul harus pergi meski untuk sementara waktu saja.


Melihat itu, Yul segera memeluk tubuh Yebin dan mengecup keningnya. Pelukan itu pun langsung dibalas oleh Yebin yang seolah tak merelakan Yul pergi meninggalkannya.


“Hati hati di jalan, Sayang. Jangan khawatirkan apa pun, aku akan baik baik saja di sini dan mengurus semua pakerjaanmu. Kembalilah dengan selamat, aku akan menunggumu datang,” gumam Yebin lirih di pelukan Yul.


Setelah itu Yul melepaskan pelukannya. Lalu tersenyum pilu pada Yebin.


“Jangan buat masalah. Dan jangan nakal. Aku akan kembali secepat mungkin.”


Sambil terkekeh, Yebih menganggukkan kepala. Baru setelah itu Yul berjalan dengan langkah berat. Menjauh dari Yebin yang melambai lambaikan tangan sambil tersenyum pilu melihat kepergiannya.


Sejenak kemudian, Yul benar benar telah hilang dari pandangan Yebin. Pada saat itu juga, Yebin merasakan sebuah kekosongan dalam benaknya. Waktu yang biasanya ia lalui dengan Yul, terasa begitu hampa bahkan ketika lelaki itu pergi belum ada lima menit dari Yebin.


Napas Yebin berembus panjang. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mendoakan keselamatan Yul, dan menunggu lelaki itu kembali dari Jeju.


Setelah berbalik, pandangan Yebin tetuju pada manajer perempuan yang berdiri di sebelah Leo Park.


“Terima kasih. Kalian bisa kembali bekerja.”


Manajer perempuan itu membungkukkan tubuhnya lalu berlalu pergi meninggalkan Yebin. Sementara Yebin sendiri berjalan keluar dari bandara Gimpo.


“Jangan lupa, setelah ini kau harus pergi ke kafe untuk menggantikan pekerjaan suamimu. Jadi jangan ke mana mana.”


Leo Park yang berjalan di sebelah Yebin itu menceletuk. Membuat Yebin sedikit menoleh.


“Aku tahu,” cetus Yebin.


Yebin mengeluarkan kunci mobil dari dalam tas bahunya. Hendak membuka kunci mobil yang akan ia kendarakan menuju kafe di Gangnam.


“Sini, biar aku saja yang menyetir,” serobot Leo.


“Tidak perlu.”


Tetapi Leo Park tak menggubris bantahan Yebin dan langsung merebut kunci mobil dari tangannya. Lalu membuka mobil dan masuk ke kursi pengemudi. Yebin yang melihat hal itu, hanya mengembuskan napas heran. Baru kali ini ia menemui laki laki yang seenaknya sendiri dan bersikap tak sopan di hadapan Yebin—yang notabenenya Yebin adalah atasan Leo, istri dari laki laki yang mempekerjakannya.


Mau tidak mau Yebin masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi penumpang dengan Leo Park yang mengendarkaan mobilnya.


“Kau tampak murung. Sesedih itukah kau ditinggal suamimu?” ucap Leo Park. Diingatkan berkali kali pun, ia tetap tidak mau menggunakan bahasa formal yang lebih sopan pada Yebin yang beberapa tahun lebih muda darinya.


“Laki laki yang belum menikah mana tahu perasaan istri yang ditinggal pergi suaminya untuk perjalanan bisnis?” Yebin menimpali.


“Tentu aku tidak tahu. Aku ini kan pria muda yang sangat bebas dan tidak terikat dengan siapa pun,” balas Leo.


“Ya, ya. Nikmatkan saja kebebasanmu. Tapi, sebenarnya kau itu juga tidak muda sekali. Usiamu pasti sudah berkepala tiga kan menurut perhitungan usia di Korea? Itu berarti kau sudah tidak muda lagi.”


“Hehei... sejak kapan usia tiga puluh dikatakan tua untuk pria Korea? Kalau usiaku kau bandingkan denganmu, ya jelas kau jauh lebih muda dariku. Tapi, berapa pun usiaku, aku tetap berjiwa muda,” cetus Leo.


Yebin hanya mengangguk anggukkan kepalanya. “Terserah kau saja lah.” Ia tak mau habis pikir dengan Leo Park yang berlaku seenaknya sendiri, bahkan berbicara semaunya. Lalu ia bertanya, “Apa kau juga bersikap seperti ini pada suamiku?”


“Hahaha! Kau itu lucu sekali. Aku masih punya loyalitas. Aku bisa membedakan sikap ketika berurusan dengan bisnis dan pekerjaan, dengan urusan pribadi,” jelasnya sambil tertawa.


Kening Yebin mengerut. “Maksudmu, berurusan denganku itu adalah urusan pribadi?”


“Kurang lebih seperti itu.”


Napas Yebin berembus panjang. Oke. Karena ia di sini hanya untuk menggantikan tugas Yul, Yebin akan menerima sikap Leo Park yang memperlakukannya seperti teman itu. Setidaknya, hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menjaga citra suaminya dan juga Moonlight Grup. Yul sudah berpesan agar ia tak menimbulkan masalah saat Yul pergi. Artinya, Yebin harus menahan diri untuk tidak menimbulkan kekacauan karena rasa kesalnya pada Leo Park yang bersikap seenaknya sendiri seperti itu.


“Karena aku mematuhi suamiku, aku akan membiarkanmu bersikap seperti ini. Tapi jangan sampai kau bermacam macam hingga membuat bisnis suamiku gagal. Aku membiarkanmu karena suamiku membutuhkanmu untuk kelanjutan Moonlighr Retail.” Yebin berkata dengan tegas.


“Apa ini ancaman?”


“Tidak. Ini peringatan.”


“Oke. Aku akan melakukan pekerjaanku dengan baik untuk bisnis suamimu. Bagaimanapun, aku dibayar untuk pekerjaan itu.”


“Kau masih menyadari itu rupanya. Meski padaku sikapmu sangat tidak sopan,” timpal Yebin.


“Aku dibayar untuk pekerjaan di Moonlight Retail. Bukan untuk bersikap sopan padamu,” balas Leo Park menimpali. “Atau, aku akan bersikap lebih sopan padamu jika kau mau mempekerjakanku sebagai sekretaris sementara waktu.”


Alis Yebin menaik. “Sekretaris?”


“Kau tidak ingat? Tadi kan suamimu berpesan padaku, untuk membantumu menghendel pekerjaannya di kafe. Sekalian saja kau jadikan aku sekretarismu. Aku tidak akan minta bayaran mahal pada wanita cantik.”


“Sudahlah. Aku butuh sekretaris.”


Leo mengerucutkan bibirnya. “Ohh, sepertinya kau akan membutuhkannya.”


**