Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Pengakuan cinta terlarang



Udara pagi Pulau Jeju terasa sangat sejuk. Sinar matahari menyorot hangat dari luar. Merembet masuk ke dalam kamar hotel Yul melalui sela sela tirai putih yang menutupi jendela kamar. Yul sedang membonkar koper. Mencari pakaian mana yang akan ia gunakan untuk rapat di Moonlight Coffe Jeju. Saat ia sedang sibuk memilih baju, terlihat satu buku gambar berukuran besar dengan beberapa alat alat melukis yang terselip di antara barang barang di dalam koper.


Melihat itu, Yul tersenyum tipis. Ia tidak tahu kapan Yebin memasukkan buku gambar dan alat melukis itu ke dalam kopernya.


Setelah mengeluarkan buku gambar dan alat melukis itu, Yul memilih pakaiannya. Menata pakaiannya ke atas kasur. Sedangkan ia yang masih memakai towel dress seselesainya mandi pagi itu, kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Mengambil ponsel untuk bertelepon dengan Yebin di Seoul.


Beberapa kali terdengar dering dari ponsel Yul yang sedang mencoba menelepon Yebin. Sesaat kemudian, Yebin di seberang telepon mengangkat panggilannya.


Seketika itu juga senyum Yul tersimpul. Baru kemarin ia pergi meninggalkan istrinya di Seoul. Sekarang rasa rindu itu sudah sangat menumpuk. Seolah olah mereka telah berpisah satu tahun.


“Sayang, bagaimana kabarmu?” ucap Yul begitu telepon mereka tersambung.


[Tentu aku baik baik saja. Kenapa menanyakan kabar? Seperti orang yang satu tahun tidak bertemu saja] celetuk Yebin di seberang telepon.


Yul terkekeh kekeh mendengar suara Yebin. “Di sini satu hari rasanya sudah seperti satu tahun. Aku sangat merindukanmu. Begitu bangun tadi pagi, aku langsung mencarimu ke mana mana. Lalu aku sadar kalau aku sedang ada di Jeju.”


Dari seberang telepon terdengar Yebin yang tertawa terbahak bahak.


[Kamu itu ada ada saja sih, Sayang? Apa kamu sudah makan?]


“Belum. Setelah ini aku baru mau cari makan.”


[Baik baiklah di sana. Saat ada waktu istirahat, pergilah ke tempat yang bagus dan melukislah. Aku membawakanmu alat alat menggambar. Sayang sudah lihat?]


Senyum Yul kembali terukir. “Aku barusan lihat. Tapi, kenapa kau membawakan itu?”


[Di Jeju kan ada banyak sekali pemandangan bagus. Jadi aku membawakan alat alat melukis. Barang kali saja tiba tiba Sayang ingin melukis saat melihat pemandangan bagus. Apa aku salah?]


Otomatis Yul menggelengkan kepala. Meski ia tahu di seberang telepon Yebin tak melihatnya.


“Tidak. Justru aku yang berterima kasih. Terima kasih.”


Sementara Yul masih malas malasan di atas kasur sambil betelepon dengan sang istri yang ia rindukan, di Seoul, Yebin tengah berjalan bersama beberapa pejalan kaki. Melintasi trotoar jalan menuju kedai roti untuk membeli sarapan pagi. Yebin tidak sempat sarapan di rumah karena harus bergegas menuju kantor Biniemoon. Kemarin malam ia mendapat laporan dari Somin tentang beberapa kendala yang sedang terjadi pada sistem Biniemoon dan sekarang akan memeriksanya. Karena nanti siang ia ada pertemuan dengan beberapa orang dari mitra Moonlight Retail untuk membahas bisnis.


Di sela berjalannya, Yebin bercakap cakap dengan suaminya di seberang telepon. Sama seperti Yul yang sangat merindukan Yebin, Yebin juga merasakan hal yang sama. Setiap detik yang ia lalui tanpa keberadaan Yul terasa hampa. Waktu menjadi sangat lambat dan malam menjadi sangat lama.


“Sayang, kau tidak usah khawatirkan yang di sini. Aku baik baik saja. Hun Oppa menjagaku. Cafe juga baik baik saja. Untuk Moonlight Retail, Leo ssi pasti akan melakukan yang terbaik supaya begitu kau kembali ke Seoul, Moonlight Retail bisa diresmikan,” kata Yebin pada Yul di seberang telepon.


[Kau jangan capek capek, Sayang. Urusan Moonlight Retail biar diurus sama Leo Park, kau tidak perlu bekerja begitu keras untuk itu. Dan untuk Moonlight Coffe, kau tidak perlu mengawasinya setiap saat. Aku mendapat laporan dari manajer, katanya semua pegawai jadi lebih disiplin sejak kau menggantikan tugasku. Jadi kau tidak perlu pergi ke kafe kalau tidak perlu. Aku yakin manajer yang mengelola pasti bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.]


Saat mendengarkan ucapan panjang Yul itu, Yebin berhenti di pinggir jalan. Bersama pejalan kaki lainnya, ia hendak menyeberang jalan di zebracross.


“Baiklah. Aku tidak akan capek capek. Lagi pula, menurutku menyenangkan bisa lebih sering keluar dan bertemu banyak orang. Biasanya aku hanya bekerja di kantor Biniemoon kalau tidak begitu di rumah. Sekarang aku berjalan jalan, mengunjungi banyak tempat, membangun relasi dengan orang lain dan bertemu banyak orang. Ini sangat menyenangkan.”


Selagi mengatakannya, lampu penyeberangan memberikan isyarat untuk para pejalan kaki menyeberang jalan. Yebin pun menyeberang jalan brsama beberapa pejalan kaki lain. Hendak menuju kantor Biniemoon yang berdiri beberapa puluh kilometer dari penyeberangan jalan.


[Begitukah? Semenyenangkan itukah bekerja di luar?] sahut Yul di seberang telepon.


“Ya, tentu saja.”


Saat Yebin masih sibuk bertelepon ria dengan Yul yang ia rindukan, seorang remaja laki laki mengendarakan sepedanya dengan kencang di trotoar jalan. Laki laki muda itu membunyikan bel beberapa kali. Namun, tidak didengar oleh Yebin yang sedang sibuk bertelepon.


Kring kring!


Posisi Yebin sedang berjalan di tengah trotoar, membelakangi anak muda bersepeda. Sedangkan pengguna trotoar lain, perlahan menepi ketika mendengar bel sepeda itu.


Kring kring!


Sekali lagi bel itu dibunyikan. Dan pengguna sepeda itu semakin mendekat. Namun Yebin tetap tak mendengar bunyi bel itu. Ia sibuk mendengarkan suara Yul yang terasa bergema di telinganya. Sampai kemudian, bunyi ‘kring!’ itu terdengar tepat di belakang punggung Yebin. Tubuh Yebin tersentak mendengarnya dan ia reflek berbalik saat sepeda itu nyaris menabraknya.


“Agh!”


Yebin nyaris saja tertabrak sepeda itu jika saja seseorang tak menarik tangannya. Leo, yang entah sejak kapan berjalan di belakang Yebin, menarik tangannya supaya tak ditabrak oleh pengguna sepeda itu. Seketika Yebin berbalik, ia terkejut melihat Leo Park ada di belakangnya dan menarik tangannya.


“Ash, bocah itu tidak tau diri sekali,” kecam Leo pada bocah remaja yang nyaris tidak terlihat. Lalu pandangannya tertuju pada Yebin yang masih memegang telepon di salah satu sisi dengan wajah terkejut. “Kau tidak apa apa?” tanyanya.


Sesegera mungkin Yebin mengendalikan rasa terkejutnya karena bocah itu. Ia menarik napas panjang. Lalu teringat jika teleponnya itu masih tersambung dengan Yul.


“Halo.”


[Yebin-a, apa yang terjadi? Kau baik baik saja? Aku mendengar ada suara bel sepeda. Kau sedang ada di mana?]


Untungnya Yebin telah bisa mengendalikan keterkejutan itu. Sehingga ia bisa tenang ketika menjawab pertanyaan Yul.


“Tidak apa apa, Sayang. Aku tutup dulu ya. Nanti siang kutelepon lagi.”


Itu sekaligus menjadi akhir dari percakapan mereka. Yebin sekali lagi menarik napas panjang sambil memasukkan ponsel ke dalam tas bahu. Lalu berhadapan dengan Leo Park yang secara mengejutkan muncul dan menarik tangannya.


“Leo ssi, sejak kapan kau ada di sini? Dan kenapa kau ada di sini?” tanya Yebin spontan.


Kening Yul mengerut. Ia melanjutkan jalan sambil memberikan tanggapan.


“Itu bukan hal yang seharusnya kau tanyakan pada orang yang sudah menyelamatkanmu sebanyak dua kali,” cetusnya.


“Ehmn.”


Yebin hanya berdeham pelan. Baiklah. Ia mengakui perlakuannya itu memang sedikit kasar.


“Maksudku, tiba tiba sekali kau muncul di saat aku hampir diserempet,” imbuh Yebin dengan suaranya yang melirih.


Sambil menunjuk ke arah bangunan besar di ujung jalan, Leo menjawab, “Itu kantorku. Dan aku sedang berangkat ke kantor untuk mengambil dokumen dokumen project Moonlight Retail. Apa salah kalau aku lewat trotoar ini dan secara kebetulan melihatmu hampir ditabrak orang bersepeda?”


Ah, benar sekali. Yebin hampir lupa jika letak kantor baru Biniemoon itu memang cukup berdekatan dengan kantor tempat Leo bekerja. Bukan hal yang aneh mereka bertemu secara kebetulan di tempat ini.


“Hm... bukan itu maksudku. Bukan hal yang salah....” Gumam pelan Yebin yang melanjutkan jalannya menuju kantor Biniemoon. Ia berjalan di sebelah Leo Park.


“Apa kau berangkat bekerja sepagi ini juga diantar oleh Hakim Hun?” tanya singkat Leo di sela kegiatan berjalannya.


“Tidak. Khusus hari ini aku naik kendaraan umum.”


“Sudah kubilang, pekerjakan saja aku sebagai sekretarismu. Akan lebih mudah menyuruhku datang pagi pagi daripada menyuruh orang penting seperti Hakim Hun. Kau pasti tidak enak kan padanya? Apalagi jika kalian pernah punya kisah masa lalu.”


“Apa pun alasannya, kau merasa tidak nyaman kan? Kau pasti akan lebih nyaman jika bersama orang kelas rendahan sepertiku. Jadi pekerjakan saja aku.”


Ucapan Leo yang teramat blak blakan itu membuat Yebin tersentak. Sebagai manusia, Yebin merasa telah keterlaluan. Ia tak bermaksud membuat Leo berkata ‘kelas rendahan’ tentang dirinya.


Yebin yang merasa tidak enak itu hanya diam. Sesekali melirik ke arah Leo Park yang mengatakan dirinya sebagai kelas rendahan itu bukan apa apa.


“Bagaimana? Kau mau memperkerjakanku?” lanjut Leo yang membuat Yebin penasaran akan satu hal.


“Aku sangat penasaran, kenapa kau sangat ingin menjadi sekretarisku? Gaji sekretaris tidak banyak. Berlipat lipat lebih banyak gajimu sebagai konsultan. Kenapa kau sangat ingin menjadi sekretaris?” ucap Yebin.


Kening Leo mengerut. Ia terlihat kecewa dengan pertanyaan Yebin.


“Aku sakit hati sekali. Kau pikir aku itu benar benar manusia rendahan yang peduli tentang uang? Tidak munafik, uang memang yang utama. Tapi tidak semua hal bisa diuangkan.”


Yebin kembali dibuat tak berkutik oleh Leo Park yang memberikan pernyataan menusuk.


“Bukan itu... maksudku,” desus lirih Yebin yang merasa tak enak hati.


Leo Park menarik napas panjang. Lantas berhenti tepat beberapa meter di depan kantor Biniemoon. Membuat Yebin ikut menghentikan langkah.


“Alasanku ingin menjadi sekretarismu adalah,” Lalu Leo menyerongkan tubuh. Berhadapan dengan Yebin.


Tatapan Leo berubah sendu. Ia menatap Yebin seolah olah boneka barbie terindah yang tak pernah bisa ia sentuh dan ia miliki. Seraya memberikan tatapan sendu itu, Leo menaikkan tangannya untuk menyentuh rambut Yebin yang terurai. Lalu menyelipkan beberapa helai rambut Yebin ke atas telinganya.


“Karena aku tidak bisa menjadikanmu sebagai wanitaku. Maka aku akan menjadikanmu sebagai majikan.”


Kepala Yebin terasa ditusuk tusuk mendengar pengakuan itu. Keningnya mengerut. Itu tadi... bukan hal yang menyenangkan untuk Yebin dengar.


Segera Yebin menepis tangan Leo yang meraba rambutnya. Satu langkah ia memundur dari Leo.


“Berhentilah. Aku akan pura pura tidak mendengar apa yang tadi kau ucapkan. Jadi berhentilah memintaku untuk memepekerjakanmu sebagai sekretaris. Bahkan jika aku harus merangkak pergi ke kantor, aku memilih untuk tidak menjadikanmu sekretaris. Dengan alasan apa pun.”


Setelah mengucapkan smeua itu dengan tegas sebgaai peringatan untuk Leo Park, Yebin berlalu pergi meninggalkannya. Berjalan cepat masuk ke dalam kantor Biniemoon.


Keadaan kantor masih sangat sepi. Somin dan para karyawan lain belum datang dikarenakan waktu yang belum memasuki jam bekerja. Di kantor yang sunyi dan sepi itu Yebin berada seorang diri. Duduk di kursi kerjanya dan menghadap komputer system.


Tubuh Yebin gemetar. Bukan karena perasaan bahagia mendengar pengakuan Leo Park. Tapi karena takut.


Ini pertama kali Yebin berhadapan dengan laki laki yang secara terus terang mengatakan tertarik padanya dan ingin memilikinya. Ya. Ini adalah pertama kali. Membuat Yebin sungguh syok dan gemetar ketakutan. Berbeda dengan Yul yang mungkin sudah terbiasa dengan situasi semacam ini dan bisa menyingkirkan wanita wanita pengganggu itu dengan mudah.


Namun yebin masih belum terbiasa. Ini adalah pertama kalinya ia berhadapan dengan orang seperti Leo, yang terus terang mengatakan ketertarikannya padanya. Dan itu membuat Yebin merasa sangat bersalah pada Yul. Padahal ia tak berbuat apa apa. Tapi perasaan bersalah mulai menghantui Yebin.


Akhirnya Yebin meraih ponsel. Hendak menghubungi Yul yang ada di pulau Jeju. Ia memanggil nomor Yul, tapi tak dijawab. Ah, sepertinya Yul sudah memulai kesibukan. Yebin yang tak bisa menghubungi Yul pun memilih untuk memfokuskan seisi kepalanya untuk memeriksa kendala kendala Biniemoon.


Sementara di dalam kantor Yebin mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai pemilik Biniemoon. Di luar, di depan bangunan Binemoon, Leo merasa sakit hati atas kata kata menohok Yebin. Ia marah, sekaligus terluka. Sejak awal ia tahu bahwa rasa cintanya terhadap Yebin itu tidak akan mudah. Pasti akan banyak lika likunya.


Sambil berjalan menuju kantornya, Leo melakukan panggilan dengan seseorang. Begitu panggilan itu diangkat oleh si pemilik nomor telepon, Leo berbicara, “Tidak ada jalan lain. Lakukan seperti yang kita rencanakan. Aku akan mengirimu waktu dan lokasinya,”


**


Siang ini Yebin menghadiri rapat untuk membahas kelanjutan dari Moonlight Retail. Rapat dengan para perwakilan brand untuk membahas marketing dan rencana pemasaran. Juga membahas tentang kontrak kerja sama yang hanya bisa dilakukan nanti ketika Yul telah tiba.


Rapat itu berjalan cukup lama. Dari dimulai setelah jam makan siang sekitar pukul dua, sampai sekarang waktu menunjukkan pukul empat sore. Rapat ini telah berakhir dan beberapa orang keluar dari tempat di selenggarakannya rapat.


Ketika semua orang telah keluar, hanya tersisa Leo yang sedang duduk manis dan Yebin yang sedang merapikan semua dokumen yang selesai dirapatkan.


“Kau aka terus menghindariku?” celetuk Leo sambil berjalan mendekat pada Yebin. Ia menduudkkan tubuhnya di meja hadapan Yebin.


“Tidak. Buat apa aku menghindarimu? Bagiku kau tidak berbeda dari orang orang yang tadi menghadiri rapat di tempat ini. Jadi kenapa aku harus menghindarimu?” cetus Yebin yang masih sibuk merapikan dokumen.


“Jadi selama ini kau memang tidak tahu?” tanya Leo.


“Apa?”


“Kalau sejak awal aku memang menyukaimu. Kau tidak tahu itu dan baru tahu saat aku memberitahumu tadi?”


Yebin menarik napas. Kepalanya mendongak menatap Leo tajam.


“Sebenarnya maumu apa?” tegas Yebin.


Leo menaikkan kedua alisnya dan bergumam pelan. “Aku tidak menginginkan apa apa. Melihat angka perselingkuhan di Korea, bukan hal aneh aku menyukai seorang wanita bersuami.”


“Menyukai wanita bersuami itu sangat tidak masuk akal. Belum tentu wanita yang bersuami itu senang disukai laki laki lain. Harusnya kau juga memikirkan hal itu.” Yebin menimpali.


“Kau tidak suka aku menyukaimu?”


Setelah itu Yebin berdiri dari duduk. Tinggi tubuhnya kini sejajar dengan Leo yang sedang duduk di meja rapat. Ia menatap lelaki itu tajam dan penuh peringatan.


“Ya. Aku tidak suka! Karena itu berhentilah menyukaiku mulai dari sekarang. Aku tidak mau keluargaku hancur gara gara kemunculan laki laki lain yang mengaku mencintaiku. Berhentilah menyukaiku sekarang juga! Atau kau akan berakhir menyedihkan.”


Yebin hendak berlalu pergi setelah memberikan peringatan itu pada Leo. Namun belum sempat Yebin melangkah lebih jauh, Leo turun dari meja rapat tempatnya duduk. Menarik pergelangan tangan Yebin dan membawa wanita itu dalam pelukannya. Leo memeluk tubuh Yebin erat. Dalam sekejap, Yebin terpegun dan tak bisa berbuat apa apa. Namun sesaat kemudian ia mulai memberontak dengan mendorong tubuh Leo menjauh dengan sekuat tenaganya.


“Lepaskan!”


Saat Yebin memberontak, pelukan Leo justru semakin kencang. Ia memeluk yebin dengan begitu erat sampai sampai Yebin merasa kesulitan bernapas.


“Aku menyukaimu. Apa menurutmu menghapus rasa sukaku ini semudah itu? Kenapa kau kejam sekali, Kang Yebin? Setidaknya perlakukan aku dengan baik. Dengan begitu aku bisa perlahan lahan melupakanmu yang telah menjadi milik lelaki itu. Jika kau memaksakan diriku untuk melupakanmu secepat itu, aku akan menjadi gila. Tidak, aku sudah menjadi gila karena mencintaimu. Sejak pertama bertemu denganmu di Kuba, aku sudah jatuh cinta padamu. Dan aku menganggap pertemuan kita di kemudian hari sampai detik ini adalah takdir. Jadi mohon, perlakukan aku sebagaimana mestinya. Jika kau tidak bisa menerimaku sebagai laki laki, terimalah aku sebagai manusia. Dengan begitu aku bisa perlahan lahan melupakan perasaan yang tidak semestinya kumiliki ini."


Leo membisik panjang lebar di dekat telinga Yebin selagi memeluknya erat. Yebin yang semula memberontak pun kini terdiam. Mencerna dengan baik kata kata Leo itu. Yebin pun tersadar, sikapnya memang keterlaluan. Setidaknya jika ingin menolak, seharusnya ia menolak dengan cara yang manusiawi, tidak seperti tadi.


Saat Yebin telah berhasil ia luluhkan, Leo melepaskan pelukannya. Ia bertatapan dengan Yebin yang wajahnya memucat.


“Aku tahu hatimu itu hanya untuk suamimu. Tapi aku juga manusia yang berhak mencintai seseorang meski aku tahu rasa cintaku itu akan berakhir mengenaskan.”


Setelah mengucapkan itu, Leo Park berlalu pergi. Keluar dari ruangan tempat dilaksanakannya rapat. Berjalan menyusuri lorong dengan seutas senyum seringaian yang ia perlihatkan. Ia tersenyum menyeringai meninggalkan Yebin di dalam ruangan yang benar benar pucat.


Di dalam ruangan itu tubuh Yebin terasa lemas. Kakinya tak berenergi. Ia terdududuk kembali ke atas kursi karena merasakan seluruh tubuhnya yang melepas. Wajahnya pucat pasi seperti baru berendam ke dalam air es. Lalu ia mengamati sekeliling. Memperhatikan setiap pokok atas ruangan dan mendapati kamera CCTV yang pastinya merekam adegan berpelukannya dengan Leo Park.


**