Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Pertemuan yang dramastis



Bab 35


Pertemuan yang dramastis


Han Mino berjalan ringan bersama tas kulitnya yang tampak elegan untuk dijinjing. Ia berjalan di antara kerumunan orang di Bandara Adirutjipto Yogyakarta setelah penerbangan singkatnya dari Jakarta.


Kaca mata luar ruangan berwarna coklat pekat menjadi kesan tersendiri untuk seorang Han Mino yang baru pertama kali ini melangkahkan kakinya di Indonesia, tepatnya di kota Yogyakarta. Kemeja abu abu tipis yang terbuat dari  bahan satin dan terada dingin di kulit yang dikenakan oleh Mino itu terlihat sangat cocok dengan udara panas di Indonesia. Laki laki itu berjalan pelan keluar dari bandara di waktu yang menunjukkan pukul empat sore ini.


“Wahh, akhirnya aku tiba di Indonesia.”


Gumaman yang disertai dengan helaan napas panjang karena lega itu dilakukan oleh Mino yang merasa cukup lega setelah tiba di Yogyakarta. Selama ini Mino jarang mengunjungi negara negara asing kecuali urusan bisnis. Dan ia cukup sulit untuk menyesuaikan diri dengan negeri asing seperti halnya Filipina dan Indonesia. Juga, untuk Mino yang tidak memiliki minar besar di dunia traveling atau pun berlibur ke luar negeri, kunjungan pertamanya di Indonesia ini terbulang sangat langka dan di luar dugaan. Karena Mino datang ke negeri yang sangat panas itu hanya untuk menemui seorang wanita yang begitu ia rindukan. Tanpa Lysa, kota Yogyakarta mau pun negara Indonesia tidak memiliki arti apa apa. Namun karena Lysa ada di Indonesia dan sedang tinggal sementara waktu di kota Yogyakarta yang kaya akan nilai budaya ini, Mino pun merasa bahwa kedatangannya ini sangat berarti. Jika di negeri ini tidak ada Lysa, mungkin seumur hidupnya Mino tidak aakan pernah menginjakkan kakinya di negeri ini. Yah, kecuali kalau laki laki itu sedang memiliki urusan bisnis di negeri ini.


“Udara Indonesia sangat segar. Pantas saja Bos Moon rela menunda pameran seninya demi memperpanjang liburannya di Indonesia beberapa bulan lalu.” Mino lanjut menggumam gumam pelan, Mino berjalan ke arah jalan. Mencari taksi untuk mengantarkannya ke hotel tempat Lysa menginap selama berada di Indonesia.


Sambil berjalan menuju tepian jalan raya untuk menghentikan taksi, pandangan Brian menyebar ke sekeliling. Pohon pohon yang tampak begitu hijau. Bangunan bangunan klasik yang terbuat dari kayu yang penuh dengan ukiran eksentrik. Beberapa patung budaya yang diletakkan di halaman tempat tempat umum seperti kafe dan minimarket. Serta, satu hal lagi yang menarik perhatian Mino dan membuat keningnya mengerut dalam dalam. Itu adalah sebuah tulisan yang tidak pernah Mino lihat sebelumnya, yang bukan merupakan huruf alfabet dan juga bukan abjad dari negeri mana pun. Tulisan yang tampak menggantung gantung, yang tertera di halaman sebuah rumah makan besar itu, adalah tulisan yang pertama kali Mino temui di dunia ini. dan ia belum pernah tahu tulisan jenis apa itu dan bagaimana tulisan itu ada di saat tidak ada negara satu pun yang memiliki tulisan sperti itu.


Setelah sejenak perhatian Mino tertuju pada tulisan ‘ha – na – ca – ra - ka’ itu, ia pun dapat menghentikan sebuah mobil taksi berwarna hitam. Begitu ia masuk ke dalamnya, Mino pun mengatakan kepada pak sopir ke mana tujuannya.


“Can you bring me to this address?” ucap Mino sambil menunjukkan alamat yang tertera pada ponselnya kepada pak sopir. Pak sopir yang terlihat mengerti apa maksud ucapan Mino dan mengerti pula alamat mana yang dituju oleh penumpangnya itu pun menganggukkan kepala.


“Yes.”


Setelah mendapat isyarat dari pak sopir, Mino pun tersenyum simpul sembari menarik kembali ponselnya yang tadi ia ulurkan pada sang sopir. Kemudian Mino kembali membuka ponselnya dan menyadari bahwa kuota internet yang ia gunakan saat di Filipina tidak berfungsi di tempat ini. Sehingga Mino tidak dapat memberi tahu Lysa bahwa ia sudah tiba di Indonesia.


Baiklah. Itu bukan masalah besar. Lagi pula Mino sudah berada di dalam taksi. Artinya, sebentar lagi ia akan tiba di hotel Lysa dan bertemu dengannya.


Namun begitu tiba di hotel itu, Mino kebingungan lantaran ia tidak dapat memastikan apakah Lysa sedang ada di hotel atau sedang keluar ke sebuah tempat. Mino sempat bertanya pada petugas resepsionis, bertanya di mana letak kamar hotel yang ditempati atas nama Lysa. Namun resepsionis itu berkata bahwa ia tidak bisa membocorkan informasi apa pun tentang pelanggan yang menginap di hotel tersebut. dan, sebenarnya itu pun percuma. Karena Lysa menginap di hotel itu atas nama Brian, bukan atas namanya sendiri.


Karena tidak menemukan cara lain untuk menemukan keberadaan Lysa, Mino hanya minta tolong pada petugas hotel itu untuk menyambungkan ponselnya pada wifi hotel. Dan begitu ponsel Mino telah bersambung dengan internet, laki laki itu langsung menelepon Lysa. Tapi ponsel Lysa sedang tidak aktif.


‘Nomor yang anda tujur sedang tidak aktif. Cobalah hubungi beberapa saat lagi ...’


Hanya suara seorang wanita di operator jaringan yang mengatakan kalimat itu di telinga Mino ketika mencoba menghubungi Lysa. Keberadaan Lysa sedang tidak terdeteksi. Dan ponsel gadis itu juga tidak dapat dihubungi. Jangan jangan ....


Kepala Mino segera menggeleng geleng untuk mengusir kekhawatiran dan juga pikiran negatifnya tentang Lysa. Karena tak ingin berpikir terlalu jauh yang ujung ujungnya membuatnya semakin panik, Mino pin memutuskan untuk mencari tempat duduk di lobi hotel dan menunggu sampai Lysa muncul. Ia tidak tahu kapan Lysa akan muncul, tetapi Mino hanya mengikuti naluri dan kata hatinya saja.


Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Mino yang duduk dengan sabar di atas kursi tunggu lobi itu melihat keberadaan Lysa. Gadis itu sedang berjalan masuk menuju lobi, dengan Brian yang berjalan di sebelahnya.


Seketika melihat keberadaan Lysa, Mino langsung berdiri dari duduk dan melepas kaca mata hitamnya. Namun ia berdiri memaku saat menyadari bahwa Lysa sedang masuk ke dalam hotel sambil bergandengan tangan dengan Brian. Itu terlihat ....


“Oh, Ajeossi!”


Sedetik kemudian Lysa menyadari keberadaan Mino, sementara Mino sedang berdiri memaku melihat wanita yang begitu ia sayangi dan rindukan tampak bergandengan tangan dengan laki laki lain.


Begitu melihat keberadaan Mino, raut wajah Lysa tampak berubah. Senyuman lebar dan indah seketika itu terbentuk di wajah Lysa. Lysa terlihat begitu gembira ketika menyadari keberadaan laki laki yang amat ia rindukan selama ini.


Tepat setelah itu Lysa melepaskan cengkeraman tangan Brian padanya. Lantas berlari penuh keceriaan ke arah Mino dan langsung memeluknya dengan erat. Saking besarnya guncangan pelukan Lysa, Mino sampai terhuyung ke belakang dan langkahnya ikut memundur sekangkah.


Lysa yang sedang terbawa emosi senang setelah melihat keberadaan Mino yang begitu ia rindukan ini memeluknya dengan begitu erat. Menempelkan rapat rapat tubuhnya dengan tubuh Mino. Menyandarkan kepalanya tepat di depan dada Mino dan merasakan kehagatan seperti yang dulu pernah ia rasakan saat Mino memeluknya dengan pelukan yang hangat. Selama beberapa saat Lysa memeluknya dengan emosional, tubuh Mino masih terbeku dan ia belum mengeluarkan respon apa apa karena rasa terkejut dan perasaan aneh yang muncul dalam benaknya gara gara melihat Lysa bergandengan tangan dengan brian.


“Ajeossi, kapan kau datang? Aku tidak menyangka kau akan datang lebih cepat dari yang kubayangkan.”


Dalam pelukan Mino, Lysa menggumam gumam sendirian. Nada suaranya yang tampak riang itu menunjukkan bahwa ia benar benar senang melihat kedatangan Mino. Mino yang menyadari itu segera mengakhiri segenap pemikiran anehnya. Lalu membalas pelukan Lysa dengan hangat dan berkata, “Aku tadi meneleponmu. Apa kau tidak tahu?”


Mendengar itu, Lysa seketika meregangkan pelukannya pada tubuh Mino. Menatap Mino bingung dan bertanya tanya.


“Benarkah?” kata Lysa tidak yakin. Ia pun memastikan dengan mengeluarkan ponsel yang ada di dalam tas bahu yang ia cangklong. Dan memeriksa apakah ada panggilan yang terlewat. Sepanjang yang ia tahu, ponselnya tadi tidak mengeluarkan bunyi apa pun. Dan begitu memastikan hal itu melalui ponselnya, Lysa menghela napas panjang panjang. “Ahh, rupanya ponselku mati. Aku lupa mencharger nya sebelum tadi keluar bersama Brian.”


Setelah itu Lysa memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Dan ia lanjut menatap Mino lalu langsung tersenyum.


“Ah, sudahlah. Yang penting aku sudah bertemu dengan Ajeossi kan?” lanjut Lusa berkata. Lagian, ponselnya itu memang tidak penting, karena yang terpenting saat ini adalah Mino yang telah berdiri di hadapannya. Setelah teringat suatu hal, Lysa kembali menceletuk, “Ah! Ajeossi pasti capek ya setelah penerbangan dari Filipina. Ajeossi istirahat dulu ya, aku akan meminjamkan kamarku untuk Ajeossi.”


Kening Mino mengernyit. “Apa aku akan menginap di kamarmu?” tanya Mino bingung. Sebenarnya ia berpikir untuk menyewa satu kamar di hotel ini. tapi karena Lysa menawari itu ... sepertinya Mino berubah pikiran.


“Hotel ini sudah penuh. Ajeossi tidak akan mendapat tempat lain di hotel ini jika tidak berbagi ruangan denganku. Atau Ajeossi ingin ingin berbagi kamar dengan Brian?” ucap Lysa dengan lugunya. Raut wajahnya yang tampak polos itu membuat kata katanya tak terdengar vulgar.


Lagi pula, sangat konyol jika Mino nanti berbagi kamar dengan Brian. Huh! Membayangkannya saja Mino tidak pernah. Itu adalah hal yang paling konyol bahkan untuk sekadar ia bayangkan.


“Kalau begitu ayo!”


Lysa pun menarik tangan Mino sebelah kiri sedangkan tangan kanan laki laki itu menenteng tas kulit berwarna gelap yang berisi pakaian dan perlengkapan lainnya.


Saat Lysa mengajak Mino untuk menaiki lift, Brian telah menghilang dari lobi. Sepertinya laki laki itu langsung naik ke lantai enam begitu melihat Lysa berpelukan dengan Mino. Di dalam lift itu hanya ada Lysa dan Mino, berdua.


“Kau menginap di lantai berapa?” tanya Mino di tengah keheningan.


“Lantai tiga.”


“Bagaimana dengan laki laki itu?” lanjutnya bertanya.


“Siapa?” tanya spontan Lysa. Lalu ia menyadari siapa yang Mino maksud. “Ah, Brian? Dia menginap di lantai enam. Itu satu satunya kamar kosong waktu kami datang. Jadi mau tidak mau Brian mengambilnya karena tidak ingin repot jika harus berpindah hotel.”


Syukurlah. Dalam hati Mino mendesahkan satu kata itu. Mendengar Brian dan Lysa yang menginap di lantai yang berbeda membuatnya merada sedikit lebih tenang. Artinya kesempatan mereka untuk dapat bersama di malam hari sangat kecil.


“Brian tidak pernah mendatangi kamarmu di malam hari kan? Tidak tidak ... maksudku, dia tidak pernah mengganggumu kan?” tanya Mino dengan sedikit rasa cemas serta keragu raguan.


Mendengar pertanyaan tidak masuk akal itu, Lysa terkekeh kekeh. Ketika itu juga lift telah berhenti di lantai tiga dan otomatis pintunya terbuka.


Sambil berjalan keluar dengan menggandeng tangan Brian, Lysa menggumam cukup keras untuk menjawab pertanyaan Mino.


“Brian tidak suka diganggu dan tidak mau mengganggu orang lain. Kami cukup menjaga privasi masing masing. Jadi kau tidak usah khawatir, Ajeossi. Aku tidak akan membiarkan laki laki lain masuk ke dalam kamarku kecuali Ajeossi,” kata Lysa yang seketika membuat Mino tersenyum sipu.


“Baguslah. Gadis pintar,” gumam Mino sambil melirik ke arah Lysa yang tersenyum.


Tepat di depan pintu kamar Lysa, ketika gadis itu masih sibuk membuka kunci kamarnya, Mino kembali melontarkan kata kata.


“Tadi, saat di lobi, kulihat kalian bergandengan tangan.”


“Oh ya?” sahut Lysa dengan ringannya.


Cklek!


Pintu kamar pun terbuka dan Lysa menarik Mino masuk ke dalam kamarnya. Begitu laki laki itu masuk ke dalam kamar, Lysa melepaskan genggaman tangannya pada tangan Mino. Langsung terduduk di atas ranjang tidur sementara Mino meletakkan barang bawaannya ke atas kasur pula.


“Aku biasa bergandengan tangan dengan Brian. Dulu atau pun sekarang, aku sering bergandengan tangan dengannya. Alasannya hanya satu, supaya aku tidak diganggu oleh laki laki nakal di luar sana yang suka menggoda wanita tanpa pasangan. Di kota ini ada banyak sekali geng dan anak anak muda yang kadang menyerang wanita tanpa pasangan. Jadi Brian selalu menggandeng tanganku saat di keramaian mau pun di tempat sepi, untuk melindungiku.” Lysa menjelaskan panjang lebar kepada Mino. “Kenapa? Ajeossi tidak suka melihatku bergandengan tangan dengan laki laki lain?”


Sambil mengeluarkan baju ganti dan beralatan mandinya dari dalam tas, Mino menanggapi ucapan Lysa.


“Kalau memang itu alasannya, apa boleh buat? Laki laki itu lebih mengenalmu dan lebih mengenal tempat ini dari pada aku. sehingga aku pun tidak berhak marah atau pun tidak suka bukan?” kata Mino dengan nada suara yang sedikit sinis. Sebenarnya ia memang tidak suka melihat Lysa bergadengan tangan dengan laki laki yang berpotensi besar merebut Lysa dari Mino. Namun untuk merasa tidak suka saja Mino tidak berhak. Karena Mino tidak tahu apa apa tentang Lysa dan tidak tahu bagaimana melindunginya di tempat yang terasa sangat asing ini untuk Mino.


Meski kata katanya seperti itu, rasa tidak suka Mino terlihat jelas sekali melalui raut wajahnya. Tak sama seperti Brian yang begitu pandai memanipulasi mimik wajah dan mengelabuhi orang lain dengan raut wajah dinginnya, Mino sangat tidak bisa menutupi emosinya di hadapan wanita yang telah meluluhkan hatinya dan membawa langkahnya sampai di negara yang asing ini. Mino dengan Brian sangat bertolak belakang dalam hal mengekspresikan emosi. Jika Brian penuh dengan manipulasi dan hal yang mencoba di tutup tutupi, Mino lebih jujur terhadap perasaannya. Laki laki itu tidak bisa memanipulasi mimik wajah dan menutupi emosi yang ia rasakan. Mino hanya bersikap apa adanya dan mengekspresikan diri serta emosinya sebebas mungkin tanpa beban apa pun. Dan itu yang membuat Lysa semakin menyukainya. Karena Lysa tidak perlu menebak benak suasana hati mino dikarenakan Mino yang selalu menunjukkan semuanya kepada Lysa tanpa terkecuali. Termasuk rasa kesal dan tidak suka yang sedang laki laki itu perlihatkan saat ini.


Namun, jujur saja. Ekspresi wajah Mino yang sedang kesal itu sangat menggemaskan untuk Lysa pandang. Lysa tidak menyangka saja kenapa laki laki bisa se menggemaskan itu ketika sedang kesal. Padahal selama Lysa hidupnya di kelilingi oleh dua laki laki, ayahnya dan juga Brian, momen yang paling tidak enak adalah ketika mereka dihadapkand engan rasa kesal. Saat ayah Lysa terlihat kesal atau pun saat Brian merasa kesal, itu adalah neraka bagi Lysa. Karena dua duanya sangat menyebalkan saat merasa kesal apalagi marah. Namun, yang terjadi pada Mino itu membuat Lysa memutar otak dan berpikir kembali. Karena kesal Mino hanya ditunjukkan melalui raut wajahnya sedangkan kata kata yang keluar dari mulutnya tetaplah kata kata manis yang seolah olah terpaksa.


Setelah berkecimpuh dengan rasa kesalnya, Mino yang selesai mengambil peralatan mandi dan juga baju ganti itu melangkah pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Pada saat Mino beranjak pergi, Lysa yang yang sedari tadi menahan rasa gemas terhadap Mino itu seketika tersenyum sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan.


“Ougghhh .... Gemas sekali. Aku ingin mencium dan menggigitnya!”


Lysa mendesuskan kalimat itu semetara mulutnya masih terbekap oleh kedua tangan. Kemudian ia segera menggeleng gelengkan kepala untuk membangunkan otaknya dari raut wajah Mino yang masih terus berputar putar di kepalanya. Lysa pun berdiri dari duduk. Memindahkan tas kulit Mino ke atas meja bipet. Lalu menunggu Mino keluar dari kamar mandi untuk ... untuk ....


Tiba tiba saja kepala Lysa terbesit hal hal aneh. Ia membayangkan apa yang akan terjadi jika laki laki dan perempuan berbaring di atas ranjang yang sama. Sudah pasti akan terjadi sesuatu yang tidak terduga.


Bodoh! Lysa merasa dirinya sangat bodoh karena tidak memikirkan hal jauh jauh. Yang Lysa pikirkan saat mengajak Mino untuk menginap bersamanya di hotel ini, tidak sampai ke arah ‘itu’. Ia pikir ya semuanya akan berjalan dengan normal, sama seperti ketika ia berbagi kamar dengan teman perempuannya di asrama. Duh, bodohnya Lysa. Lysa yang baru terpikirkan hal itu pun mendadak menjadi panik. Selama itu ia tidak sadar bahwa laki laki dan perempuan, apalagi yang saling mencintai dan saling merindukan sejak lama seperti Mino dan Lysa itu, tidak akan diam saja dan ketika berada di atas ranjang yang sama. Itu artinya ...


Tepat ketik wajah Lysa memerah panik memikirkan hal itu, terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Lysa yang terkejut seketika itu menolehkan kepala pada Mino yang baru saja keluar dari kamar mandi. Di depan pintu kamar mandi itu, terlihat sosok Han Mino yang terlihat begitu segar dengan rambut yang masih basah. Lysa yang melihat laki laki itu berdiri di depan pintu kamar mandi sambil menggosok gosok rambut yang basa menggunakan handuk, diam membengong dengan bola mata yang tak fokus. Lysa memandangi Mino dalam waktu lama, seperti melihat buah segar yang membuat Lysa ingin segera melahapnya. Ada dorongan dari alam bawah sadar Lysa untuk segera berlari ke arah Mino dan menyerangnya dengan serangan maut hingga laki laki itu tidak dapat menolak.


Dan satu... dua... tiga....


**