
Bab 47
Gadis di ambang kehancuran
“Jaga bicara Anda. Anda tidak tahu dengan siapa Anda berhadapan. Dan jika setelah ini Anda betemu dengan Brian, tolong sampaikan pada Brian supaya berhenti mengejar saya karena saya telah memiliki laki laki lain yang lebih darinya.”
Lysa sudah tidak tahan lagi pada bapak tua yang sedari tadi menindasnya itu. Dada dan kepala Lysa terasa sangat panas karena semua hujatannya yang merendahkan, yang menyebut Lysa sebauah orang yang menggoda Brian. Padahal, jelas jelas pria itu yang mengejar ngejar Lysa.
Lysa hanya merasa heran saja. Bukankah dalam video yang menjadi viral di Indonesia itu terlihat dengan jelas siapa yang lebih dahulu berdiri untuk mencium Lysa? Kalau ayah Brian itu memperhatikan baik baik dan lebih jeli, pastinya ia akan tahu kalau anaknya itu yang mencium Lysa tanpa izin dan yang telah membuat suasana menjadi gaduh. Di sini Lysa hanya menjadi korban. Ia adalah wanita yang menjadi korban. Gara gara semua berita yang beredar di Indonesia dan menjadi viral itu, ayah Lysa menjadi tahu bahwa hubungan Lysa dengan Brian itu sedang dalam kecanggungan. Ayah Lysa yang juga telah mendnegar berita itu dari seorang temannya yang ada di Indonesia, langsung menanyai Lysa tentang apa hubungan yang sebenarnya dengan Brian. Dan mau tidak mau Lysa menjelaskan kalau hubungan keduanya hanya sebatas kakak dan adik, tapi Brian menyukai Lysa sednagkan Lysa telah memiliki laki laki lain. Juga tengang hubungan Lya dengan Brian yang saat ini sedang tidak baik berkat peristiwa yang terjadi di kafe Indonesia itu.
Satu hal yang sangat Lysa syukuri, yaitu, keberadaan Mino di Filipina. Karena dengan Mino berada di Filipina saat ini, Lysa tidak perlu mengkhawatirkannya. Di Filipina, kemungkinan Mino tahu tentang berita yang menjadi topik hangat di Indonesia itu tidak akan ia dengar. Selain letak Indonesia dan Filipina yang cukup jauh, perusahaan yang dimiliki oleh ayah Brian juga tidak beroperasi di Filipina. Sehingga tidak ada yang mengenal apa itu perusahaan Hangin Grup dan siapa itu Tuan Alvendo yang merupakan konglomerat dan memilki bisnis real estate besar di Indonesia. Namun, jika Mino di Filipina benar mendengar tentang berita itu, sampai detik ini Lysa tidak tahu bagaimana akan menjelaskan hal itu pada Mino... karena ia merasa begitu bersalah padanya.
“Maksudmu, putraku yang mengejarmu?” Paman Alvend mengernyitkan keningnya sambil menatal Lysa sinis. Ia tidak ingin memercayai hal itu dan malah mencurigai Lysa.
Sungguh. Lysa sudah sangat lelah untuk menanggapi paman yang satu ini. ia yang sudah merasa sanagt lelah itu pun hanya menjawab dengan tenang, “Silakan Anda tonton video itu sekali lagi, dan melihat siapa yang menjadi korban dan siapa yang membuat kegaduhan itu terjadi.”
Tidak mau menunggu lama lagi. Lysa langsung berdiri dari duduk sambil menyangklong tas bahu yang ia bawa beberapa waktu lalu. Harusnya sekarnag Lysa masih bekerja di kafe. Sial! Gara gara paman ini jam kerja Lysa di kafe jadi berkurang dan ia harus siap siap dimarahi oleh asisten manajer yang mengawasinya. Beberapa ribu Won yang bisa Lysa hasilkan dengan bekerja di kafe melayang sia sia gara gara Paman Alvend.
“Kalau begitu katakan saja Brian yang menyebabkan semua kekacauan ini dan dia benar benar mengejarmu, apa kau pikir bisa lolos dari masalah ini? Aku sudah membiarkan ayahmu lolos ketika bisnis yang dibangunnya dengan Hangin Grup bangkrut gara gara urusan rumah tangganya yang tidak penting itu. Tapi sekarang aku tidak akan tinggal diam jika nanti ada suatu masalah yang besar akibat skandal antara kau dengan Brian. Kalau masalah itu nanti semakin besar, bisa jadi aku mengasingkanmu dan menekanmu untuk hidup dalam persembunyian, atau mau tidak mau kau harus benar benar menikah dengan Brian. Karena semua berita yang mengatakan bahwa kau adalah calon istri Brian sudah menyebar luas, jadi tidak ada cara lain untuk meredam itu semua selain menikahkanmu dengan anakku.”
Lysa yang masih berdiri itu langsung membeku mendengar ungkapan ayah Brian. Ia tidak hanya merasa sakit hati karena kata kata ‘urusan rumah tangga ayah Lysa yang tidak penting’ tetapi juga tentang pernikahan itu. Lysa yang selama ini merasakan kehancuran akibat perceraian kedua orang tuanya, dan merasa sangat hancur karena kehidupan ayahnya sekarnag yang tidak baik baik aja, merasa sangat sakit hati mendengar hal itu. Lysa tahu dengan baik seberapa keras ayah Lysa berjuang untuk kehidupan sekarang. Lysa tahu dengan baik bahwa ayahnya sekarang juga sangat lelah terhadap segala hal di dunianya yang tidak baik baik saja. Dan Lysa mencoba tegar menghadapi semua itu. Ia memutuskan untuk tidka menangis karena permasalahan ia dan ayahnya dalam hidup. Namun dengan menyebut bahwa kehancuran keluarga orang lain adalah ‘urusan tidak penting’ membuat Lysa benar benar marah dan tidak terima.
Selain itu, Lysa bersumpah dalam dirinya untuk tidak akan termakan oleh ancaaman ayah Brian. Ia tidak akan tenggelam dan tidak akan diam saja mendengar semua itu. Bagaimana pun caranya, Lysa akan bertahan dan memberontak dengan caranya. Meski ia tahu sebesar apa kekuasaan yang dimiliki ayah Brian, seornag kongloemerat yang memiliki bisnis besar di Indonesia dan Amerika, Lysa tidak takut.
Tubuh Lysa masih sangat lemas mendnegar semua itu. Tangannya yang mengepal di samping paha itu bergetar karena hatinya yang sangat sakit dan terpukul. Namun ia tidak ingin terlihat kalah di depan ayah Brian.
“Lakukan saja apa yang ingin Anda lakukan, saya juga akan melakukan apa yang ingin saya lakukan.”
Itu adalah kalimat terakhir Lysa sebelum meninggalkan ruangan restroan yang terdapat ayah Brian dan dua penjaganya. Lysa keluar dari restoran itu. Dan tiba di halte bus dengan sangat lemas. Begitu duduk di kursi halte bus untuk menunggu bus itu, Lysa langsung merasa sesak pada dadanya. Dan ia merasa seperti tidak bisa bernapas dengan begitu lega.
Lysa merasakan sangat sesak pada dadanya. Dan kedua bola matanya sudah terasa sangat panas, ingin meneteskan air mata saat ini juga. Berpisah dari Mino di saat saat seperti ini sudah cukup berat untuk Lysa. Perlakuan Brian hari itu dan kekecewaan besar yang Lysa rasakan karena Mino juga membuat hidup Lysa yang mulai baik baik saja, kembali terasa mencekik dan ini sangat berat untuknya. Ditambah lagi ancaman dari ayah Brian yang benar benar membuatnya marah dan frustasi. Di saat semua ini terjadi, jika saja Lysa tidak memiliki cinta pada seseorang, ia tidak akan mudah bertahan dan tidak akan kuat menghadapinya. Namun karena Lysa memiliki Mino, Lysa merasa tangguh dan kuat karena laki laki itu selalu menyalurkan sejuta energi untuk Lysa dan membuat Lysa tumbuh semakin kuat lagi.
Di saat Lysa sedang merasa tercekik dan memikirkan Mino, ponsel di dalam tasnya berdering. Lysa yang tidak tahu siapa yang meneleponnya di saat sore ini, langsung saja membuka tas dan mengambil ponsel. Begitu Lysa membaca siapa nama yang menyembul di layar ponselnya, seketika itu juga Lysa merasakan kelegaan. Ia segera mengangkat telepon itu dan menyahut.
“Terima kasih, aku sedang benar benar ingin mendengar suaramu, Chagiya.”
Satu kalimat itu yang langsung Lysa lontarkan begitu panggilannya dengan Mino tersambung. Ia tidak menapa halo atau apa pun terlebih dahulu, melainkan berterima kasih. Karena Lysa benar benar berterima kasih karena Mino yang telah meneleponnya di saat yang sangat sangat Lysa butuhkan.
**
Waktu masih menunjukkan pukul tiga sore di Manila, Filipina. Namun Mino telah tiba di hotel tempatnya menginap karena ia telah menyelesaikan pekerjaannya lebih awal pada hari ini. dan ia cukup terkejut saat mendapatkan sebuah Fax dari seseorang. Pesan faksimile yang beradal dari Jiwon itu secara otomatis tercetak di mesin faksimile hotel dan segera Mino ambil karena Jiwon berkata bahwa itu hal penting.
Ternyata itu adalah beberapa artikel berita Indonesia yang mengulas siapa sosok di balik video yang menjadi viral di media sosial Indonesia. Entah apa tujuan Jiwon mengirimkan pesan fax kepada Mino tentang hal itu, Mino yang baru pertama kali ini melihatnya, merasa terkejut. Ia segera membaca satu per satu artikel dalam bahasa Indonesia itu dan menerjemahkannya satu per satu menggunakan mesin penerjemah. Dan kemudian ia tahu, bahwa Lysa terlibat masalah dengan Mino saat di Indonesia. Dan itu yang membuat lysa memutuskan untuk kembali ke Indonesia secepatnya, karena gadis itu tidak ingin berada lebih lama lagi di Indonesia bersama Brian.
Selain artikel itu, Jiwon juga mengirimkan sebuah link URL yang berisi video saat saat Brian mencium Lysa di kafe. Dan di bawah pesan URL yang dikirimkan Jiwon itu, Jiwon menuliskan sesuatu untuk Mino.
Namun Mino tidak membalas pesan teks dari Jiwon itu dan hanya membacanya. Kemudian ia langsung mengeklik alamat URL. Dan seketika itu video itu disajikan, saat saat Brian tiba tiba berdiri dari duduk dan mencium Lysa beberapa saat.
Dengan perasaat berat dan sesak Mino melihat video itu dengan seksama sampai habis. Ia mengamati dengan jeli setiap detik yang ada dalam video itu. Kemudian menyimpulkan.
“Jelas sekali, lelaki itu yang mencium Lysa secara paksa. Dan Lysa adalah korban. Semua artikel ini tidak benar.”
Mino telah memastikan hal itu dari ekspresi wajah Lysa di dalam video itu, yang menunjukkan rasa tidak terima dan juga kesedihan. Jadi, inilah alasan selama beberapa hari setelah Lysa berkata akan kembali lebih awal ke Korea itu, sikapnya sedikit berubah terhadap Mino. Seolah olah gadis itu sedang mencoba menghindar dari Mino karena suatu alasan yang tidak dapat Mino pahami menggunakan logika.
Perasaan Mino sangat terpukul ketika mengetahui semua itu. Ia tidak tahu bagaimana mengatakannya, tetpai jika bisa saat ini juga ia ingin mendatangi Brian dan memberinya satu pukulan keras pada wajahnya. Selain itu, memang tidak dapat dimungkiri bahwa Mino merasakan sedikit kekecewaan terhadap Lysa. Kenapa Lysa tidak mengatakan hal itu padanya? Kenapa Lysa justru bersembunyi dan menjauh dari Mino di saat ada masalah sebesar itu menimpanya? Apa Lys atidak cukup percaya pada Mino sampai sampai gadis itu menyembunyikan yang sebenanrya? Dan kenapa Lysa memutuskan untuk tidak melibatkan Mino terhadap urusannya terhadap Brian? Atau jangan jangan, berita yang mengatakan bahwa Lysa adalah tunangan Brian dan akan menjadi menantu seorang konglomerat itu benar?
Ada banyak sekali yang menyemebul di kepala Mino. Ada banyak sekali pertanyaan yang Mino pikirkan di kepalanya tenang Lysa. Rasa kecewa yang hadir bersama pertanyaan pertanyaan itu yang membuat Mino tidak dapat berpikir apa apa kecuali Lysa. Sampai akhirnya Mino menyadari, bahwa semua pertanyaan itu tidak akan terjawab hanya dengan ia terus memikirkannya. Maka mino harus menanyakannya secaa terus terang kepada Lysa dan memastikan bahwa semua keraguannya itu tidak benar.
Akhirnya Mino pun meraih ponselnya di atas nakas. Mencoba menelepon Lysa. Sebenarnya Mino merasa ragu lantaran di Korea saat ini pasti baru menunjukkan pukul empat sore, dan Lysa sepertinya masih bekerja di kafe.
Namun panggilan Mino langsung terjawab begitu terdengar bunyi dering sekali di seberang telepon. Mino merasa cukup terkejut karena Lysa yang langsung menjawab teleponnya, seolah telah menunggu nungu. Dan Mino merasa lebih terkejut lagi dengan kalimat yang langsung Lysa ucapkan di seberang telepon begitu telepon mereka tersambung.
[Terima kasih, aku sedang benar benar ingin mendengar suaramu, Chagiya.]
Kalimat itu yang seketika Mino dengar dari Lysa. Mino terdiam membeku mendengarnya. Suara Lysa lirih bergetar, seperti memperlihatkan kehancuran hati yang Lysa rasakan. Suara deru napas Lysa di seberang telepon juga terdengar keras, pertanda bahwa Lysa sedang tidak baik baik saja di sana. Mino yang menyadari bahwa di sebernag sana Lysa sedang tidak baik baik saja atau bahkan sednag hancur, langsung tersentak dari tidurnya. Laki laki itu terbangun dari tidur untuk bercakap cakap dengan Lysa secara lebih lugas.
“Lysa, kau baik baik saja?” tanya Mino menanggapi kalimat Lysa beberapa detik lali.
Satu hal yang Mino sadari setelah mendengar suara Lysa di seberang telepon. Bahwa Lysa sangat terluka karena kekacauan yang terjadi di Indonesia. Lysa adalah korban, dan Lysa adalah yang paling hancur sebab itu semua. Mino kini menyadari bahwa Lysa tidak menghubunginya selama beberapa waktu itu karena Lysa terlalu hancur untuk mengatakannya, juga terlalu merasa bersalah terhadapnya. Dan, tentu saja Lysa tidak mau menceritakan permasalahan ini kepada Mino, karena Lysa tidak ingin masalah ini juga menghancurkan hubungannya dengan Mino. Sehingga Lysa lebih baik diam, dan hancur seorang diri tanpa satu orang pun di sisinya. Dasar gadis bodoh, batin Mino. Padahal ia memiliki Mino yang bisa menjadi sandaran untuk tubuhnya ketika sedang hancur, tapi gadis bodoh itu memilih untuk diam dan menanggung semuanya seorang diri.
[Aku baik baik saja.]
“Bohong. Kau tidak baik baik saja.” Mino yang mendnegar jawaban tidak terduga dari Lysa itu langsung menyela. Dari suaranya terdengar jelas sekali kalau Lysa sedang tidak baik baik saja dan menahan tangisan yang ingin meledak. Namun Lysa masih saja mengatakan bahwa dirinya baik baik saja kepada Mino. Berbohong kepada Mino. “Aku tahu kau tidak baik saja, kenapa kau mencoba berbohong?” lanjut Mino menegaskan.
[....]
Tidak terdengar jawaban dari seberang telepon. Mino menarik napas panjang panjang dan mengembuskannya dengan sangat pelan supaya tak terdengar oleh Lysa di seberang telepon. Kemudian laki laki itu dengan sedihnya berkata, “Maafkan aku. harusnya aku ada di sampingmu saat ini, Lysa. Aku benar benar menyesal.”
**