
Berusaha Bangkit
Yul Pov
Kesedihan Yebin masih berlanjut selama satu minggu lamanya.
Yebin beraktivitas seperti biasa sejak kepulangannya dari rumah sakit. Dari bangun tidur ia terlihat cerita seperti biasa. Lalu berangkat bekerja ke kantor Biniemoon dengan naik mobil bersamaku. Pada pukul tiga ia pulang, membantu ibunya memasak untuk makan malam lalu setelahnya beres beres rumah.
Secara sekilas, aktivitas yang Yebin lakukan tidak menunjukkan kesedihannya. Ia selalu tampak ceria dan tersenyum seperti biasa. Juga bercanda denganku seperti tidak pernah terjadi apa apa. Menyibukkan diri dengan bekerja dan sebagai istri. Yebin tidak menunjukkan kesedihannya sama sekali sampai maam pun tiba.
Antara pukul sebelas sampai pukul satu malam, Yebin selalu terbangun. Lalu ia pergi ke dapur untuk menangis. Karena sejujurnya aku masih mencemaskan Yebin (mengabaikan keceriaannya sepanjang hari), hampir setiap jam aku terbangun dari tidur. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena mencemaskan Yebin. Karena khawatir ia tiba tiba terbangun dari tidur dan menangis sendirian di dapur seperti malam sebelumnya. Sehingga setiap jam aku terbangun. Ketika aku terbangun dan melihat Yebin tidak ada di sampingku, kupastikan ia berada di dapur untuk menangisi bayinya yang telah tiada.
Tepatnya selama satu minggu Yebin berada dalam fase di mana ia belum merelakan kepergian bayinya. Fase di mana ia merasa sangat menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri atas bayinya yang telah tiada. Dan meski pun malam harinya Yebin menangis seperti itu, ketika bangun di pagi hari ia bersikap seperti biasa seolah semalamnya tidak terjadi apa apa.
Aku hanya terdiam dan tak memberikan komentar apa pun ketika Yebin bersikap demikian. Aku anggap itu adalah cara Yebin untuk bertahan dari segala keterpurukannya akibat kehilangan bayi yang begitu ia sayangi. Aku, sebagai seorang suami yang ingin melakukan yang terbaik untuk Yebin, hanya diam dan mengikuti arusnya kang Yebin. Ketika ia ingin bersikap biasa dan menunjukkan keceriaan, aku pun akan memperlakukannya seperti biasa. Memberinya senyuman, melemparkan candaan, dan bersikap seolah tidak terjadi apa apa. Namun ketika Yebin menangis tersedu sedu, aku akan menjadi sandaran yang paling nyaman untuknya. Aku akan memberinya kehangatan dan ketenteraman untuk Yebin ketika ia membutuhkan aku untuk meluapkan emosi yang berkecamuk. Dan ketika ia membutuhkan dorongan, aku akan memberinya kekuatan untuk terus meneruskan perjalanan kami.
Tepat setelah satu minggu itu Yebin telah kembali seperti biasa. Ia tak lagi terbangun di malam hari untuk menangis. Ia mulai bisa mengatasi rasa bersalah dan juga penyesalannya atas kehilangan bayinya yang masih berusia lima minggu. Ia juga menunjukkan keoptimisan dalam menjalani kehidupannya kembali sebagai Kang Yebin, istri dari Moon Yul.
Aku sedang menyibukkan diri dengan komputer di ruang kerjaku, ketika Yebin tiba tiba mengetuk pintu dan masuk ke ruang kerja tempatku berada saat ini.
“Oppa, kau sibuk?” tanyanya pelan.
Spontan aku menaikkan pandangan. Menatap Yebin yang menghampiriku di kursi kerja.
“Tidak. Kenapa?”
Aku menjawab tidak sibuk meski sebenarnya cukup sibuk. Sepertinya Yebin ingin mengatakan sesuatu padaku. Jadi aku berkata tidak sibuk untuk memberinya peluang mengatakan apa yang ingin ia katakan.
“Aku sedang mencoba resep Brownies dari Somin. Oppa mau mencicipi?” kata Yebin.
“Kau membuat Brownies?”
Selagi menanggapi ucapan yebin, aku berdiri dari duduk setelah mematikan komputer di meja kerjaku.
“Tadi pas kerja Somin membawa Brownies buatannya sendiri. Rasanya sangat lezat. Aku menanyakan resepnya lalu mencoba membuatnya. Tapi aku tidak yakin apa rasanya seenak buatan Somin, dia memang terlatih membuat kue.”
Yebin bercerita sambil mengajakku berjalan menuju ruang televisi. Di atas meja ruang televisi itu, sudah terdapat kue Brownies berbentuk bundar yang di atasnya terdapat hiasan buah buahan segar.
“Ooh, kelihatannya enak,” celetukku sambil terduduk di atas sofa ruang televisi.
Aku mulai memotong kue Brownies buatan Yebin, ketika Yebin menyalakan televisi untuk kami tonton bersama. Kemudian kulahap satu potong kue Brownies buatan Yebin.
Kepalaku mengangguk angguk begitu cita rasa dari Brownies buatan yebin itu menyerap di lidahku. Rasanya lembut, meleleh di mulut. Perpaduan coklat dan vanila, serta aroma buat buahan menyatu dengan baik. Menciptakan rasa yang lezat.
“Sangat lezat,” ucapku dengan bola mata berbinar binar. Aku mengambil lagi satu potong Brownies dan menyuapkannya pada Yebin. “Coba kau rasakan. Rasanya lezat kok.”
Yebin menerima suapan Brownies dariku. Merasa setuju, kepalanya ikut terangguk angguk.
“Wah, kalau begitu percobaan pertamaku berhasil dong,” seru Yebin merasa senang.
Aku menanggapi itu dengan seutas senyuman di bibir. Kemudian kami menikmati Brownies itu bersama sama sambil menyaksikan sebuah acara ragam di stasiun televisi kabel yang menyiarkan dua orang aktor Korea sedang melakukan pelancongan di negeri Kuba.
Di tengah kegiatan kami, tiba tiba Yebin membuka pembicaraan.
“Oppa,” panggilnya.
“Hm,” sahutku setelah melahap satu potong Brownies selagi menyaksikan acara ragam yang dibintangi oleh Lee Jae Hoon dan Ryu Jun Yeol.
“Kalau diingat ingat, kita belum sempat berbulan madu,” kata Yebin tiba tiba.
Benar sekali. karena suatu permasalahan yang belum terselesaikan, kami tidak bisa berangkat bulan madu selepas pernikahan. Dan aku sempat menjanjikannya pada Yebin. Bahwa ketika semua permasalahan sudah selesai kita akan berangkat bulan madu ke tempat yang ia inginkan.
Ini adalah saat yang tepat untuk berbulan madu. Keadaan kafe sudah stabil sekarang. Dan Yebin juga sudah mulai bangkit dari guncangan yang ia dapat setelah kehilangan bayi dalam kandungannya. Pun waktu strategis untuk berbulan madu; akhir tahun.
“Kau ingin bulan madu ke mana? Osaka? Atau ... Paris?” tawarku pada Yebin.
Bola mata Yebin tampak berbinar binar mendengarkan tawaranku. Lalu ia segera menunjuk televisi yang memperlihatkan kedua aktor pelancong sedang berada di kota Havana.
“Ke sana. Aku ingin pergi bulan madu ke sana.”
Kepalaku otomatis menoleh ke arah yang ditunjuk Yebin.
“Kuba? Kau yakin? Kudengar perjalanannya sangat panjang untuk ke Kuba karena pesawar dari Korea tidak bisa langsung mendarat ke Kuba. Jadi kita terbang dari Incheon ke Mexico City selama tiga belas jam. Di Mexico kita akan menunggu sampai delapan jam untuk penerbangan selanjutnya ke kota Havana. Penerbangan kedua memakan waktu kurang lebih tiga jam. Totalnya perjalanan kita dari Korea menuju Kuba nanti kurang lebih tiga puluh jam. Kau yakin mau pergi ke Kuba? Aku hanya tidak ingin kau merasa kecewa di perjalanan karena mukin tidak semudah yang kau bayangkan,” jelasku panjang lebar.
“Tidak ada yang salah dengan perjalanannya. Toh, aku kan tidak sendirian. Kita berangkat bersama sama dan pulang bersama sama,” sahut Yebin dengan tatapannya yang masih berbinar.
Mendengar Yebin yang sepertinya sangat yakin dengan keputusannya, aku pun menganggukkan kepala. Sepertinya Yebin sungguh ingin pergi ke Kuba untuk bulan madu. Belakangan ingin, negara Kuba memang menjadi tren di Korea setelah disiarkan beberapa drama yang mengambil latar di Kuba.
“Baiklah. kita akan pergi ke Kuba untuk bulan madu. Besok aku akan meminta temanku yang bekerja di perusahaan travel untuk mengurus segala halnya. Mulai dari tiket pesawat sampai penginapan,” ucapku. Seketika itu Yebin tersenyum lebar menanggapi pernyataanku barusan.
“Lalu kapan kita akan berangkat?” Yebin lanjut bertanya antusias.
Aku terkekeh kekeh melihat Yebin yang tampak bersemangat seperti itu.
“Sesenang itukah kau karena kita mau bulan madu ke Kuba?” tanyaku sambil terkekeh. Yebin menganggukkan kepala sebagai jawaban bahwa ia memang senang. “Minggu ini aku akan mengurus semua pekerjaan kafe sebelum kutinggal. Jadi, kita berangkat minggu depan.”
Setelah membuat perencanaan untuk bulan madu kami minggu depan, aku dan Yebin lanjut menonton acara ragam yang syutingnya di negeri Kuba.
Aku memeluk bahu Yebin selagi menyandarkan tubuh ke sandaran belakang sofa. Menonton acara ragam itu sambil menikmati Brownies manis buatan Yebin.
“Oppa,” panggil Yebin sekali lagi.
“Hm?”
“Aku ... sepertinya aku belum siap untuk memiliki anak,” ungkap Yebin yang seketika membuat kepalaku tertoleh.
Kutatap wajah Yebin yang kembali terlihat sendu. Sementara itu, Yebin melanjutkan perkataannya.
“Aku merasa belum bisa menjadi ibu yang baik untuk bayiku nanti, Oppa. Aku masih perlu banyak belajar sebelum benar benar menjadi seorang ibu. Maka dari itu, Oppa, mari kita sama sama berhati hati ketika melakukan hubungan intim. Aku ingin memiliki bayi ketika benar benar sudah siap, dan waktunya bukan sekarang,” ucap pelan Yebin dengan sangat hati hati.
Aku mengenggam tangan Yebin. mengelus punggung tangannya.
“Baiklah. Mati kita lebih hati hati,” kataku menyetujui perkataan Yebin. “Dan untuk memiliki bayi, aku tidak ingin tergesa gesa. Yang terpenting sekarang ada kamu, Yebin~a. Kita jalani dulu pernikahan ini. Aku tidak akan menunggumu untuk siap memiliki anak karena bisa membuatmu terbebani. Jadi ya, kita melangkah saja pelan pelan. biarkan semua berjalan sesuai arusnya, tidak perlu tergesa gesa,” tuturku.
Yebin mengangguk setuju. Ia kemudian tersenyum hangat padaku.
Kupeluk kembali bahu Yebin. mendekatkan tubuhnya padaku.
“Ah kita sudah menghabiskan kue Brownies. Apa sekarang waktunya berolah raga?” kataku dengan nada sedikit menggoda. Kutatap wajah Yebin dengan mengisyaratkan suatu maksud tersebunyi.
“Olah raga di atas kasur?” tanggap Yebin, membalas senyum menggodaku.
Aku terkekeh. “Benar. Olag raga kasur sepanjang malam.”
Yebin ikut terkekeh.
“Ah, rasanya sudah lama sekali kita tidak melakukannya. Apa sudah ada dua bulan?” lanjutku menggumam.
“Tepatnya satu setengah bulan,” sahut spontan Yebin.
“Sungguhkah? Kalau begitu, sekarang saatnya,” ucapku sambil mulai mengecup bibir Yebin. “Sepertinya satu atau dua kali tidak akan cukup untuk menggantikan satu setengah bulan yang kulalui dengan tenang. Kau siap untuk malam yang panas kali ini Nyonya Moon?” imbuhku dengan setengah menggoda.
Yebin menangapi hal itu dengan senyuman menawan yang seolah memberi isyarat bahwa ia siap menghabiskan malam yang penuh gairah bersamaku.
***