Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Puncak kerinduan



Dari dalam mobil, Hun melambai lambaikan tangannya pada Yebin yang sedang berjalan keluar dari gedung hotel. Melihat lambaian tangannya, otomatis Yebin membalas dengan raut wajahnya yang terlihat sendu. Lalu ia masuk ke dalam mobil yang dikendarakan Hun. Seperti hari hari sebelumnya, Yebin selalu dijemput oleh Hun setiap pulang bekerja.


“Ada apa dengan raut wajahmu? Kau terlihat pucat.”


Begitu masuk ke dalam mobil, yang Hun dapati adalah rona wajah Yebin yang terlihat kurang sehat. Wajah Yebin seperti orang yang kesakitan atau seperti orang baru saja selamat dari situasi berbahaya.


“Tidak apa apa, Oppa. Aku hanya sedikit ... kecapekan.” Yebin mendesus pelan untuk mengurangi rasa khawatir Hun.


“Begitukah? Lebih baik aku segera mengantarmu pulang saja. Tapi apa kau sudah makan?” Selagi menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya ke jalan raya, Hun bertanya. Dilihat dari tubuh Yebin yang terlihat lemas, sepertinya wanita itu belum sempat makan apa apa, pikir Yebin dalam hati.


“Ah, benar, aku belum makan. Pagi tadi aku hanya sarapan roti dan siangnya hanya minum susu pembelian Leo Park. Pasti karena itu aku merasa tubuh dan jiwaku ini sangat lemah.”


Yebin menggumam gumam pelan. Membuat Hun tidak habis pikir.


“Memang apa saja yang kau pikirkan, Kang Yebin? Sepertinya kau benar benar lagi banyak pikiran. Apa karena pekerjaanmu di Moonlight Grup?” tanya Hun keheranan.


“Tidak, Oppa. Bukan karena Moonlight Grup. Aku saja yang terlalu meremehkan kesehatanku. Dan aku tahu aku tidak boleh seperti ini lagi.”


Hun yang lagi berkendara itu menoleh sekilas ke arah Yebin. Lalu menggumam, “Baiklah, kita makan dulu.”


Akhirnya mereka pun berhenti di sebuah restoran china untuk makan. Ini adalah pertama kali Hun melihat Yebin yang kelihatan sangat tidak sehat. Biasanya wanita itu selalu memiliki energi yang besar dalam melakukan banyak hal. Dan tak pernah terlihat lemah meskipun keadaan batinnya terkoyak koyak.


Keadaan Yebin yang seperti itu membuat Hun benar benar khawatir. Ia khawatir apakah Yebin yang melemah itu disebabkan karena Yul tidak menemaninya.


“Apa kakakku selama ini menjadi suami yang baik untukmu?” Di sela kegiatan makannya, Hun bertanya. Ia menatap Yebin di seberang meja yang sedang mengunyah ngunyah makanan.


“Dia menjadi suami yang sangat baik. Membuatku kadang merasa tidak pantas untuk menjadi pendamping hidupnya. Dia menjadi suami yang sangat baik sampai sampai menularkan kebaikannya itu padaku.” Yebin menjawab dengan yakin. Benar sekali. Yul adalah suami yang sangat baik untuknya. Tapi Yebin merasa takut jika sewaktu waktu ia mengecewakan Yul yang telah menjadi suami yang baik untuknya.


“Hei, itu dari sudut pandangmu. Apa kau tahu apa yang sering kudengar dari kakakku setiap kali kami bertemu?” sahut Hun.


Yebin menghentikan makannya sejenak. Lantas bertanya, “Apa yang dia katakan?”


“Dia sangat bersyukur, karena memiliki istri sepertimu. Kakakku itu memang bukan pemeluk agama yang taat, tapi akhir akhir ini dia sering berterima kasih pada Tuhan yang telah menjadikanmu istrinya.”


Ahh, mendengar itu, kerinduan Yebin pada suaminya semakin menumpuk. Ia tak tahu lagi harus seperti apa untuk mengobati rasa rindunya itu. Pertama gara gara Leo Park, Yebin jadi semakin merindukan Yul dan memeluknya dengan erat. Kedua, karena kata kata Hun yang mengingatkan kembali Yebin pada rasa rindunya terhadap Yul yang sedang ada di tempat yang jauh.


Kegiatan makan mereka itu terus berlanjut. Sampai kemudian selesai. Yebin dan Hun keluar dari bangunan restoran klasik china untuk melanjutkan perjalanan pulang mereka. Namun, di teras restoran itu, Hun bertemu dengan Jina.


Hun tersentak ketika tiba tiba Jina datang ke restoran bersama seorang lelaki. Pun pertemuan mereka membawa suasana canggung untuk Yebin yang merasakan getaran getaran dingin dari pasangan yang sepertinya sedang terjadi masalah ini.


“Jina-ya, bukannya tadi kau bilang akan lembur di kantor?” tanya Hun. Perubahan pada raut wajahnya teramat kentara saat melihat Jina.


“Ya. Aku mau melembur di kantor, dan itu bukan berarti aku tidak butuh makan.”


“Siapa dia?” lelaki yang datang bersama Jina itu bertanya melihat raut wajah Hun yang tidak senang.


“Hun-ssi, perkenalkan. Dia adalah Hakim Lee, yang menjadi hakim tunggal di peradilan perdata.”


Kedua lelaki itu bersalaman untuk saling memperkenalkan diri sebagai hakim. Setelah beberapa saat, Yebin memilih untuk menunggu Hun di dalam mobil. Sedangkan Hun tampak sedang berbicara berdua dengan Jina di teras restoran tanpa Hakim Lee yang masuk duluan ke dalam restoran.


Dari jarak kejauhan Yebin mengamati pasangan yang sepertinya sedang bertengkar itu. Sial. Yebin kembali dihantui rasa bersalah. Entah mengapa ia merasa pertengkaran sepasang kekaish itu terjadi karenanya. Karena akhir akhir ini Hun harus menjaga Yebin, bahkan menjadi sopirnya ke mana mana.


Kedua manusia itu membutuhkan waktu lama untuk bericara empat mata di teras restoran. Hingga beberapa menit kemudian Hun berjalan menuju mobil. Masuk ke dalam mobil dengan raut wajah yang masih memperlihatkan ketidak senangan.


Awalnya Yebin hanya diam tak berkomentar melihat raut wajah Hun yang tampak tak senang itu. Tapi lama kelamaan ia merasa harus membuka pembicaraan untuk sedikit meredakan emosi Hun yang sepertinya masih meletup letup.


“Oppa, kau baik baik saja?” ucap Yebin. Meski sebenarnya ia tahu bahwa Hun tidaklah baik baik saja.


Sekilas menoleh, Hun tersenyum getir. “Tidak apa apa. Tidak usah kau khawatirkan.”


Yebin membalas Hun dengan seutas senyum di bibir. Namun dalam hatinya masih ada keraguan.


“Seperti inilah hubunganku dengan Jina sekarang. Kami sering bertengkar. Dan beradu pendapat. Padahal sebelumnya kukira Jina itu adalah orang yang suka damai. Tapi dia sama sekali tidak mau berdamai denganku.”


Sesaat kemudian Hun lanjut bercerita.


“Apa ... karenaku?” desus Yebin lirih.


“Tidak. Bukan karenamu, sungguh. Sudah lama hubunganku dengan Jina seperti ini. Tidak ada keterlibatannya sama sekali denganmu. Mungkin karena kepribadian kami memang tidak cocok.”


Dalam hati Yebin merasa lega jika permasalahan Hun dengan kekasihnya itu bukan karenanya. Namun ia tahu di situasi seperti ini ia tidak bisa mensyukuri apa pun yang terjadi.


Laju kecepatan mobil Hun mencepat ketika memasuki jembatan besar penghubung distrik Gangnam dengan distrik Gwangjin—tempat tinggal Yebin. Jalan besar yang dibangun melintang dan menjadi penghubung antara dua distrik besar di kota Seoul itu tampak renggang. Hanya ada beberapa mobil dan beberapa kendaraan umum bus melintas satu arah dengan Hun, menuju distrik Gwangjin.


Saat Hun masih mengendarakan mobilnya dengan kecepatan tinggi di jembatan besar itu, tiba tiba ada satu mobil van hitam melaju melesat mendahului Hun. Mobil van hitam itu berpindah haluan dengan tiba tiba. Membuat Hun mengerem mendadak dikarenakan van hitam itu yang langsung berhenti di hadapannya.


‘Cyyiiittttt!’


Bunyi itu terdengar ketika Hun menginjak pedal rel kuat kuat untuk berhenti. Guncangan yang cukup kuat pun membuat dua manusia di dalamnya terhentak. Untung Yebin dan juga Hun telah memakai sabuk pengaman sehingga tidak terjadi cidera di antara mereka berdua. Jika tidak, mungkin kepala Yebin telah membentur dasbor dan berdarah darah.


“Shit! Apa apaan mereka.”


Melihat kejadian ini, Hun langsung mengumpat pelan. Ia sungguh tidak habis pikir dengan mobil van hitam yang masih berhenti menghadangnya itu.


“Yebin-a, kau baik baik saja?” Seketika Hun menoleh pada Yebin dan bertanya demikian.


Yebin menganggukkan kepala. “Aku baik baik saja. Tapi siapa mereka?”


“Aku juga tidak tahu siapa mereka tiba tiba menghentikanku seperti ini—”


‘BRUAAKKKK!’


“Akghh!”


Saat Hun sibuk berbicara dengan Yebin, tiba tiba ada mobil dari belakang yang menghentam mereka. Akibatnya, kecelakaan pun di luar kendali. Mobil Hun terpental ke depan dan menumbruk mobil van hitam yang tadi berhenti di hadapannya. Sementara kedua manusia yang ada di mobil itu, telah tak sadarkan diri akibat hantaman yang begitu keras dari belakang.


Di dalam mobil itu, Hun hilang kesadaran dengan kepala yang mencucurkan darah. Sedangkan Kang Yebin tak sadarkan diri karena benturan di kepala dan juga luka luka akibat pecahan kaca mobil yang mengenai beberapa bagian tubuhnya.


Kecelakaan itu menimbulkan kekacauan di jalan jembatan penghubung distrik Gangnam dan distrik Gwangjin. Beberapa pengguna jalan rela menghentikan mobilnya untuk melihat kondisi orang yang mengalami kecelakaan itu. Mereka juga segera memanggil bantuan polisi dan juga Ambulan untuk segera memberikan pertolongan pada dua orang yang terjebak di dalam mobil yang bagian depan dan bagian belakangnya telang ringsek karena tubrukan.


Sedangkan mobil van hitam yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi, telah menghilang begitu kecelakaan itu terjadi. Begitu pun mobil dari belakang yang tadi menubruk mobil Hun dan menyebabkannya terpental pental. Kedua mobil itu menghilang seketika kecelakaan telah terjadi. Meninggalkan mobil Hun yang ringsek. Membuat seolah olah kecelakaan yang terjadi itu adalah kecelakaan tunggal yang disebabkan oleh kelalaian pengemudi mobil.


**