Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
The Last Story



The Last Story


“Sayang!”


Melihat situasi yang terjadi ini, Yebin sontak berteriak. Ia kaget bukan kepayang melihat Yul tersungkut di atas lantai dek dengan wajah yang memerah menahan rasa sakit. Yebin pun langsung berlari menghampiri Yul. Melihat perutnya yang mengeluarkan darah.


“Astaga... Sayang, apa yang terjadi.” Yebin merintih pilu melihat keadaan Yul yang seperti itu. Ia nyaris menangis meraung raung melihat suaminya terluka. Tetapi Yul hanya menggelengkan kepala.


“Jangan, Sayang. Jangan ikut campur.” Hanya itu yang dikatakan Yul kepada Yebin.


Tetapi Yebin sudah terlanjut geram. Di sela rasa hancur dalam hati melihat apa yang terjadi pada Yul, Yebin berbalik. Ia berdiri menatap Leo dengan kasar.


“Hentikan. Kubilang hentikan! Jangan sakiti orang orangku.” Yebin memeperingatkan. Suaranya meninggi. Ia teramat gusar pada Leo yang sudah menyakiti suaminya dengan sebuah benda dari besi yang tergeletak di samping kakinya, yang meneskan darah dari perut Yul.


“Kenapa? Kenapa aku harus berhenti? Kenapa aku harus berhenti untuk memperjuangkan keadilan?” kata Leo Park dengan kedua matanya yang berapi api. Ia langsung mencengkeram kedua bahu Yebin. Menahannya supaya tidak bermacam macam.


“Ugh! Lepaskan!” Yebin mencoba memberontak. Namun Leo Park justru mendorong Yebin ke belakang.


“Harusnya kau diam saja, Tuan Putri. Tidak usah ikut campur urusan kami dan diam saja seperti tidak tau apa apa. Aku sudah bilang padamu, untuk menungguku sebentar lagi....”


PLAKKK!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Leo. Yebin menamparnya dengan keras karena racauannya yang tidak masuk akal. Sontak tamparan itu membuat Leo tersadar dan melepaskan cengkeramannya dari tubuh Yebin.


“Kau sudah tidak waras ya? Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, sangat menjijikkan untuk aku dengar!” cetus Yebin dengan kedua matanya yang membulat karena amarah. Ia sungguh geram pada Leo park yang selalu berkata seenaknya.


Setelah mengatakan itu, Yebin langsung berbalik meninggalkan Leo. Ia hendak berjalan menuju Yul yang sedang tidak berdaya itu, sebelum Leo menarik tangannya dan melemparnya menjauh. Tanaga Yebin tentunya tidak bisa mengalahkan kekuatan seorang pria seperti Leo Park. Yebin pun terlempar ke sebelah Haeri dan langsung tersungkur.


“Agghh!”


Kemarahan Leo sepertinya akan meledak setelah itu. Ia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku pakaiannya. Mengarahkan pisau itu kepada Yul, sambil mengajak Yebin berbicara.


“Lihatlah. Akan kutunjukkan padamu akhir dari laki laki ini. Akan kuperlihatkan padamu bahwa tidak seharusnya kau melawanku dan menyakiti perasaanku berulang kali. Lihatlah, kehancuran suamimu.” Leo berkata penuh ancaman sambil terus berjalan mendekat pada Yul yang keadaannya sudah memprihatinkan.


Tak dapat membendung tangisan, kepala Yebin hanya menggeleng geleng. Air matanya bercucuran sambil bergumam gumam, “Jangan.... jangan.... jangan lakukan.”


Saat Leo hedak mengayunkan tangannya untuk menusukkan pisau itu pada tubuh Yul, Jin Haeri beranjak berdiri dan langsung menahan tangan Leo. Ia menggantungi tangan Leo supaya tak bisa melakukan apa apa pada Yul.


“Lepakan!”


“Agh!”


Karena geram, Leo kembali menarik rambut Haeri dan menendangnya menjauh. Ia yang sudah tidak sabar itu pun kembali marah melihat seseorang yang kembali menghalanginya.


“Matilah kau, Moon Yul! Kyaaa!”


Untuk terakhir kalinya, Leo mengayunkan tangan kanannya yang mencengkeram pisau. Ia hendak menusukkan pisaunya pada jantung yul sebelum akhirnya Yebin bangkir dari duduk dan berlari ke arah lelaki itu. Secepat kilat Yebin berlari. Menghadang Leo supaya tak menyakiti Yul. Dan dalam sekejab....


“Aagggghhh!”


“Kang Yebin!”


Pisau yang diayunkan oleh Leo Park tidak mengenai jantung Yul. Tidak. Bahkan pisau itu tidak menyentuh tubuh Yul sama sekali. Melainkan, pisau itu tertancap di perut Yebin yang mencoba menghadang tindakan Leo Park.


Tangan Leo Park yang memegang pisau itu seketika gemetar. Ia terlihat amat terpukul pada tindakannya sendiri yng telah mencelakai seorang wanita yang sangat ia idam idamkan.


Leo melepaskan tangannya setelah itu. Pisau yang dipegangnya pun terjatuh begitu saja. Langkahnya perlahan lahan memundur dan terjatuh begitu saja karena sangat terpukul. Sementara Yebin, yang perutnya mencucurkan darah akibat tusukan pisau yang tajam dan dalam itu, seketika tubuhnya melemas. Kakinya tak dapat menopang beban tubuh sehingga langsung jatuh ke belakang, tepat di pelukan Yul.


“Sayang... Yebin-a. Kang Yebin!”


Yul berteriak memanggil manggil Kang Yebin yang jatuh di pelukannya dengan tidak berdaya. Wajah Yebin sudah memucat. Darah yang keluar dari perutnya semakin deras. Dalam pelukan Yul, Yebin yang tengah berada di batas sadar dan tidak sadar itu, menggumam gumam dengan sangat pelan.


“Sa... sayang.... Jaga Hanyul baik baik. Maafkan aku....”


“Tidak! Kang Yebin, tidak.... Kang Yebin, bangunlah. Bangunlah Kang Yebin. Sayang, bangunlah. Sayang!”


Namun mata Yebin telah terpejam. Telinganya sama sekali tak medengar teriakan Yul memanggil manggil namanya. Ia telah terlelap dalam alam yang memisahkannya dari dunia.


Saat ini pagi telah menyambut bumi. Terpaan sinar matahari dari ujung timur membuat mata Yul tersiaukan dengan cahayanya. Ia menyadari. Hari sudah pagi rupanya. Namun air mata Yul tidak dapat dihentikan. Ia menangis tersedu sedu sambil memeluk wajah dan tubuh Yebin yang memucat tak berdaya. Sungguh. Yul sama sekali tidak memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya karena hanya terfokus pada Yebin. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Leo Park di ujung sana, yang bergelimang rasa bersalah karena merasa merenggut nyawa orang yang tidak bersalah. Leo Park yang sedang tidak waras itu pun terus berjalan mundur, sampai akhirnya tubuhnya terhempas ke lautan bersama terpaan sinar matahari pagi yang terasa membakar seluruh jiwanya.


Dalam sekejap, lelaki yang telah membuat kericuhan itu menghilang dari dunia. Inilah akhir darinya. Akhir dari semua kejatahatan yang dia lakukan. Kepada orang orang tidak bersalah. Kepada Hun, kepada Yul, dan kepada... Kang Yebin.


**


Pagi itu adalah akhir dari seorang Leo Park yang hampir merenggut nyawa Kang Yebin menggunakan pisau yang ia gunakan untuk membunuh kelinci kesayangan Hanyul di pulau. Dan semua orang yang berada di kapal itu, nyaris saja kehilangan Yebin jika kapten terlambat satu menit saja mengendarakan kapalnya menuju daratan.


Hari itu untungnya sudah pagi. Matahari sudah merubah langit malam dan lautan yang kelam menjadi bercahaya dan penuh energi. Jin Haeri, saksi mata yang menyaksikan berjalannya tragedi tersebut segera menelepon rumah sakit terdekat di pesisir patai Busan. Dan memanggil semua koneksi yang dimilikinya untuk menolong Kang Yebin yang kondisinya sangat kronis. Tidak hanya Yabin sebenarnya, tetapi Yul pun tidak kalah mengenaskan dari Yebin. Perutnya yang dipukul menggunakan besi penusuk itu mengeluarkan banyak sekali darah meski luka yang ia dapatkan tak sedalam tusukan pisau Kang Yebin.


Karena semua bantuan rumah sakit dan kepolisian setempat, Kang Yebin dan juga Yul segera dilarikan ke rumah sakit. Begitu tiba di rumah sakit, darah yang keduanya keluarkan dari perut sama sama telah menguras tubuh. Mereka tiba di rumah sakit dalam keadaan yang sangat mengenaskan dan hampir saja tidak tertolong. Yebin segera masuk ruang operasi untuk mendapatkan operasi pada perut yang tertusuk pisau. Sedangkan Yul yang juga kehilangan banyak darah, mendapatkan tranfusi darah dan perawatan pada perutnya. Ia mendapatkan beberapa jahitan pada perut dan langsung menjalani perawatan CT Scan untuk melihat apakah ada kerusakan organ pada tubuh bagian perut atau tang lainnya.


Sementara Yebin menjalani operasi, Hanyul yang tak henti hentinya menangis hanya berada di pelukan Miyoon. Bocah kecil yang tidak tahu apa apa itu menangis dengan begitu memilukan melihat ibu dan ayahnya terluka di kapal dan mengeluarkan banyak darah. Untungnya Hanyul tak turut menjadi saksi kejadian penusukan yang terjadi pada Yebin. Jika melihat, mungkin itu akan menjadi trauma seumur hidup pada Hanyul. Waktu itu Hanyul sednag tidur pulas bersama neneknya. Ia tidak tahu apa apa sampai akhirnya terdengar keramaian di luar ketika kapal yang membawanya mau berlabuh di pelabuhan.


Kareja kejadian itu, Hun yang harusnya masih melakukan bulan madu di pulau, membatalkan bulan madunya dan segera datang ke daratan untuk melihat apa yang terjadi. Ia juga membantu Haeri untuk berkomunikasi dengan para polisi dalam penyelidikan dan untuk menemukan jasad Leo Park di dalam laut.


Bulan madunya gagal total. Hun dihadapakan dengan dua kenyataan pahit. Pertama terlukanya Yebin dengan Yul. Dan yang kedua adalah Jina yang syok mendengar apa yang kakaknya lakukan di kapal sampai membuat sepasang suami istri itu terluka dengan begitu parahnya.


Keadaannya sangat runyam saat itu. Polisi baru menemukan jasad Leo park pada hari menjelang sore. Jasad lelaki itu sudah benar benar pucat. Mereka langsung membawa jasad Leo Park ke forensik untuk diselidiki lebih lanjut mengenai semua kejahtaan yang dilakukannya.


Karena luka pada tubuh Yul tak separah Yebin, Yul pun dinyatakan sembuh lebih awal. Sedangkan Yebin masih kritis dan belum bisa bangun dari keadaan komanya meski operasi yang dilakukan tim dokter terhadapnya dinyatakan sudah berhasil.


Malam harinya, semua anggota keluarga itu kembali ke Seoul. Yebin dibawa pulang ke Seoul dengan keadaan yang masih koma. Alasannya untuk mendapatkan perawatan lebih baik di rumah sakit yang lebih terkenal di Seoul, di rumah sakit yang dulu pernah ditempati Hun. Satu keluarga itu kembali ke Seoul. Penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengungkap semua kejahatan yang dilakukan Leo Park.


Sekarang sudah satu minggu sejak kejadian itu terjadi. Dan Yebin masih belum menunjukkan tanda tanda bangun dari koma. Luka di perut Yul sudah sembuh. Memar dan luka jahitan pada perutnya sudah sembuh dan tak menunjukkan kelihan lagi.


Kang Yebin yang berada dalam keadaan kritis itu adalah cobaan untuk semua anggota keluarga. Dari Yul sendiri, Miyoon, Hun, Jina (yang memiliki rasa bersalah besar terhadap Yebin), juga Hanyul yang setiap hari menangis menanyakan kapan ibunya itu akan bangun. Hanyul berkata kalau dia sangat merindukan ibunya. Dan itu membuat hati Yul seperti dicabik cabik setiap kali mendengarnya.


Di hari ketujuh ini, semua penyelidikan tentang Leo Park resmi berakhir. Polisi telah menemukan semua bukti kejahatan Leo Park di ruangan pribadinya di Everyday Night Club. Mulai dari kejahatan yang dia lakukan terhadap Hun (tentang kecelakaan yang disengaja), juga tentang pembunuhan dua orang sopir van hitam yang ia perintahkan untuk menabrak mobil Hun, dan bukti kejahatan terhadap Yebin dan Yul. Tak hanya itu, Leo Park juga memiliki riwayat pernah mendapatkan perawatan psikologis karena diduga memiliki pikiran selayaknya psikopat. Ia pernah melakukan beberapa kejahatan lainnya terhadap karyawan wanita di klub malamnya. Juga pernah mencuci uang dalam jumlah besar yang disamarkannya dalam bentuk aset.


Ada banyak seklai kejahatan yang dilakukan Leo park. Namun tidak ada gunanya mengetahui semua itu karena predator yang melakukan banyak kejahtaan manusia itu telah tenggelam bersama rasa bersalahnya setelah menusuk Yebin. Ia tewas dengan rasa bersalah setelah mencelakai wanita yang amat membuatnya tergila gila. Dan melebur bersama deburan ombak lautan yang menghantarkannya menuju siksaan abadi.


Setelah penyelidikan semua itu berakhir, tidak ada yang berubah sama sekali. Yebin masih tetap terlelap dalam ketidak sadaran. Hanyul masih tetap menangis karena merindukan Yebin. Yul masih berada dalam keadaan hancur yang sehancur hancurnya.


Sampai beberapa menit lalu Hanyul yang baru pulang dari taman kanak kanak masih menangis dalam pelukan Yul karena merasa merindukan Yebin. Yul menenangkan Hanyul dengan menggendongnya selama beberapa saat dan mengajaknya pergi makan siang sampai akhirnya Hanyul tertidur dalam pelukannya. Sekarang Hanyul dibaringkan di ranjang tidur yang letaknya di sebelah ranjang pasien tempat Yebin beristirahat.


“Tidurlah yang baik, Nak.”


Yul mengelus ngelus kepala Hanyul yang telah ditumbuhi rambut itu. Lalu mengecup keningnya hangat sebelum meninggalkan Hanyul tidur seorang diri di atas ranjang itu. Selanjutnya, Yul berjalan menuju kasur tempat Yebin tertidur.


Wanitu itu Yebin memang dilarikan ke rumah sakit sedikit terlambat. Sedikit terlambat namun masih belum begitu terlambat sehingga ia masih bisa diselamatkan. Bagaimana tidak? Kejadian itu terjadi di tengah lautan di mana tidak ada pertolongan dalam bentuk apa pun. Haeri hanya bisa berkompromi dengan kapten kapal untuk melajukan kapal secepat mungkin sehingga tiba di daratan lebih cepat dan menelepon rumah sakit juga polisi untuk situasi yang sangat darurat tersebut.


Akibatnya, karena keterlambatan mendapat penanganan itu, sampai detik ini Yebin belum bangun juga. Meski operasinya berjalan dengan baik, Yebin belum sadarkan diri. Darah dalam tubuhnya nyaris habis dan organ organ dalam perutnya terkoyak kotak karna tusukan pisau yang sangat dalam.


Melihat orang tersayangnya terbaring tak berdaya seperti itu, untuk yang ke sekian kalinya, Yul merasakan kehancuran. Ketakutan terbesarnya adalah Yebin tidak bisa bangaun kembali dan ia harus sendirian menjalani sisa kehidupannya di dunia ini. Itu adalah hal yang paling Yul takutkan.


Yul menggenggam tangan Yebin yang terasa dingin itu dengan hangat. Menempelkan tangan yang lembut itu pada pipinya. Merasakan sentuhan lembut Yebin yang sangat ia rindukan.


Yul memejamkan matanya meresapi perasaan itu. Dan tiba tiba saja air matanya menetes. Ia tak kuasa menahan kehancuran hatinya melihat Yebin seperti ini. Yul menangis dan terisak isak. Dalam pikirannya hanya ada Yebin dan masa depan putranya, Hanyul. Ia tak memikirkan dirinya sendiri. Tetapi ia memikirkan bagaimana jika Hanyul tumbuh dewasa tanpa asuhan dari seorang ibu.


Ketika yang terbaring adalah Hun, Yul masih bisa tegar dan merasa tetap optimis bahwa Hun akan bangun. Namun ketika yang terbaring seperti ini adalah yebin, ia sama sekali tak dapat berpikir apa apa. Dunianya seolah sudah hancur dan ia berada dalam terowongan gelap yang tidak ia tahu mana jalan keluarnya. Hanya Yebin yang bisa menyelamatkannya. Tepat. Hanya Kang Yebin yang bisa membawanya keluar dari terowongan itu.


Saat Yul masih terisak isah dengn tangisnya yang memedihka, tiba tiba ia rasakan jari tangan Yebin bergerak gerak pelan di atas pipinya. Pergerakan tangan Yebin yang sangat lembut itu hampir tidak dirasakan oleh Yul yang masih larut dalam tangisnya. Hingga Yebin perlahan lahan membuka matanya. Ia melihat Yul yang sedang menangis terisak sambil memegang tangannya dengan hangat. Suara tangisan Yul bahkan terasa sangat menyakitkan untuk Yebin dengarkan di waktu pertama kali ia membuka mata.


Tangan Yebin yang mendekap pipi Yul itu pun bergerak dengan lembut. Membelai pipi Yul dengan gerakan yang masih lembut namun dapat Yul rasakan. Membuat Yul tersentak. Ia segera menaikkan pandangannya. Melihat Yebin yang telah membuka mata.


Seketika itu juga Yul terperanjat dari duduk. Ia beradu pandang dengan Yebin yang meneteskan air mata dari sudut matanya yang sendu. Yul pun langsung memeluk tubuh Yebin. Memeluk dengan erat Yebin yang akhirnya kembali. Kemudian Yul kembali menangis dengan sangat kencang di antara ceruk leher Yebin. Merasa berterima kasih dan bahagia lebih dari apa pun. Ia menangis dengan sangat pilu hingga membangunkan Hanyul di ranjang sebelah. Hanyul yang melihat ibunya telah membuka itu pun segera turun dari ranjang. Berlari menuju ranjang sang ibu. Yul menaikkan tubuh Hanyul ke atas ranjang bersama Yebin untuk dipeluknya bersamaan. Tangis haru Yul dan Hanyul pun terdengar sampai ke luar. Miyoon dan Hun yang baru tiba, segera masuk ke dalam ruangan dan ikut menangis haru memeluk Yebin.


Yebin telah kembali. Ia kembali berada dalam pelukan orang orang terdekatnya, yang menyayanginya lebih dari apa pun.


**