
Hun membalik tumpukan kertas tuntutan dari kejaksaan dan membacanya dengan teliti di atas meja kerja. Suara rintikan hujan yang menetes sampai larut malam ini menemani kesendiriannya. Ia sengaja datang ke kantor untuk bekerja lembur setelah sore lalu ia menyaksikan wanita yang dicintainya dilamar oleh kakaknya sendiri.
Semua hal itu bukan hal yang menyenangkan untuk dilihatnya. Melihat kakaknya berlutut di halaman rumah seseorang sampai kehujanan dan menggigil, bukan hal menyenangkan untuk dilihat Hun yang hidup hanya dengan kakaknya. Bagaimanapun, ia menyayangi Yul yang telah memberikan segalanya untuknya. Juga, bukan hal menyenangkan melihat wanita yang dicintainya dengan tulus itu ‘dimenangkan’ oleh kakaknya.
Perasaan Hun sangat pedih dan tentunya aneh. Ia merasa bahagia karena akhirnya Yul—kakaknya—yang telah berkorban banyak untuknya itu bahagia bersama wanita terkasihnya. Namun di saat bersamaan hati Hun juga sakit melihat kakaknya itu yang memenangkan persaingan ini dan mengambil seluruh hati Yebin. Hun tidak mengerti bagaimana perasaannya saat ini, entah ia benar-benar sedih atau benar-benar bahagia.
Hun memutuskan kembali ke kantor setelah melihat Miyoon dan Jangmi yang masuk ke mobil jemputan ke Incheon. Ketika ibu dan kakak sepupu itu telah pergi, Hun mengerti apa yang selanjutnya terjadi di rumah itu. Hun yang tidak mau lagi memikirkannya, memutuskan berangkat ke kantor untuk bekerja lembur.
Di dalam ruangan yang gelap ini Hun duduk sendirian. Ia membolak-balik berkas yang hari ini diterimanya dari kejaksaan. Membaca berkas tersebut dan menkaji ulang putusannya.
Suara pintu ruang yang terbuka diiringi secercik cahaya yang masuk melalui celah pintu membuat pandangan Hun menaik. Ia membenarkan posisi kacamatanya melihat Jina masuk ke dalam ruangan.
“Oh, Hakim Hun! Anda juga di sini?” celetuk wanita yang tidak lain merupakan rekan kerja Hun, Hakim Cho itu. Wanita berambut hitam lurus dengan bentuk matanya yang seperti rembulan itu menyalakan lampu ruang dan melihat Hun yang sedang bekerja melembur.
“Hakim Cho juga mau melembur?” tanya balik Hun.
Sembari mengangguk pelan wanita itu menyunggingkan senyum manis di bibir.
“Ya. Kebetulan tempat tinggal saya di dekat sini. Jadi saya sering kemari malam-malam untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai.”
Jina berjalan menuju meja Hun yang letaknya bersebelahan dengan meja kerjanya. Mengulurkan gelas minuman latte hangat kepada pria yang sedang menyibukkan diri itu.
“Hakim Hun mau kopi? Saya belum meminumnya, lho.”
Hun mengernyitkan keningnya mendapat minuman hangat itu. “Bukannya ini punyamu? Aku tidak apa-apa. Kau bisa meminumnya.”
“Tidak. Sebenarnya saya tadi sudah minum. Saya membeli satu lagi untuk berjaga-jaga. Hakim Hun bisa meminumnya,” kata Jina. Ia kemudian beranjak duduk ke kursi kerjanya untuk mulai bekerja lembur.
Ragu-ragu Hun menerima minuman hangat yang wanita itu berikan. Ia menyesapnya perlahan dan menoleh pada Jina yang terlihat mulai membaca berkas-berkas. Wanita yang berasal dari desa dan memiliki sikap ramah itu adalah wanita yang pekerja keras.
Ceritanya ia adalah putri pertama dari tujuh bersaudara. Ia memiliki enam adik yang semuanya masih bersekolah. Di keluarganya, bahkan di desa asalnya, Jina menjadi sosok yang diagung-agungkan lantaran dirinya yang berhasil menjadi hakim di Seoul tidak peduli bagaimana latar belakangnya yang dari desa. Wanita itu mendapatkan beasiswa besekolah hukum di universitas besar Seoul dan lulus dengan hasil yang cemerlang hingga akhirnya bekerja di pengasilan pusat. Beberapa hari sekali ada orang dari desa—entah orang tua atau tetangganya—menemui Jina di pengadilan untuk mengantarnya makanan dan obat-obatan herbal dari desa. Hun, salah satu rekan kerja Jina di kantor, sering mendapat obat-obatan heral itu dari Jina.
“Hari ini aku tidak melihat ada yang mencarimu,” kata Hun memecahkan keheningan ruangan.
Kepala Jina sontak menaik. Ia langsung mengerti apa yang Hun maksudkan.
“Ah, di desa sedang ada ritual tahunan. Jadi semuanya sibuk mempersiapkan ritual itu,” jawan Jina. Ia merasa ragu sebelum kembali bertanya, “Kenapa? Apa Hakim Hun merasa tidak nyaman kalau orang-orang dari desa datang ke pengadilan?”
“Tidak-tidak, bukan itu maksudku. Aku sama sekali tidak keberatan. Justru aku merasa iri pada Hakim Cho,” ungkap Hun.
“Iri? Hakim Hun iri pada saya?” tanya Jina bingung.
Hun seketika itu menguntai senyum. “Aku iri karena ada banyak orang yang menyayangi Hakim Cho dan menjagamu dengan baik. Mereka bahkan rela datang jauh-jauh dari desa untuk membawakanmu makanan dan obat-obatan herbal. Untuk anak yatim-piatu yang hanya tinggal berdua dengan kakak sepertiku, perhatian semacam itu hanya seperti mimpi. Jadi aku merasa iri pada Hakim Cho.”
Kepala Jina mengangguk-angguk. Baru pertama kali ini ia mendengar Hun bercerita tentang dirinya. Ia kira Hun memiliki kehidupan yang hebat seperti tokoh utama dalam film. Tetapi ternyata ia adalah seorang anak yatim-piatu yang hanya tinggal bersama kakak laki-lakinya.
“Juga, aku menyukai minuman yang saat itu kau berikan,” lanjut Hun berucap.
“Minuman? Ah, suplemen ginseng. Di desa saya ada banyak sekali minuman seperti itu yang diolah oleh masyarakat desa. Hakim Hun mau saya bawakan minuman itu lagi?” Jina menceletuk memperlihatkan lekuk matanya yang seperti bulan sabit.
Hun mengangguk sungkan. “Bolehkah?”
“Tentu. Saya akan membawakan minuman itu untuk Hakim Hun saat pulang ke desa besok Sabtu.”
“Hakim Cho mau pulang besok?”
“Ya. Ibu saya menyuruh saya pulang untuk menyaksikan ritual tahunan desa. Ritual penyambutan berkah itu selalu dilakukan besar-besaran di pertengahan musim semi. Rasaya sayang kalau tidak melihatnya.”
Hun menganggukkan kepala mencerna cerita Jina tentang ritual yang tedengar seru itu.
“Sepertinya menyenangkan. Seumur hidupku aku belum pernah melihat ritual semacam itu,” desus Hun sambil mengembalikan pandangan ke atas tumpukan berkas perkara.
“Hakim Hun mau melihatnya?” tawar Jina yang seketika membuat kepala Hun kembali menaik. “Ritualnya diadakan hari Minggu. Tapi saya pulang hari Sabtu siang. Kalau mau, Hakim Hun bisa melihat ritual itu di desa saya. Saya akan tawarkan penginapan dan makan gratis sepuasnya.”
Senyuman Hun merekah. Ia terkekeh-kekeh mendengar tawaran yang menurutnya cukup menggiurkan.
“Kalau aku tidak merepotkan, aku ingin melihat ritual itu,” ucap Hun.
“Tentu tidak merepotkan. Para sesepuh dan warga desa pasti akan menyambut Hakim Hun dengan meriah,” celetuk Jina yang tanpa sadar membuat senyum Hun makin melebar. “Saya akan menelepon Hakim Hun besok.”
Kedua manusia yang ada di kantor itu pun melanjutkan pekerjaannya. Mereka berdiskusi bersama di atas sofa yang tertata di tengah-tengah ruang. Mendiskusikan perkara dan menyusun putusan awal sebelum didiskusikan lebih lanjut dengan hakim senior. Hingga tanpa disadari waktu beranjak semakin malam. Jina tertidur dengan menyandarkan kepalanya di bahu Hun. Hun merebahkan tubuh Jina ke belakang, menyandarkannya di badan sofa. Lalu menyelimuti tubuh wanita itu menggunakan coat panjangnya. Hun melanjutkan pekerjaannya sendirian sampai akhirnya ketiduran dengan menyandarkan tubuh ke sandaran belakang sofa.