
Bab 32
Jarak dan keadaan yang tidak dapat berkompromi
Napas Mino tersenggal senggal karena ia berlari di tengah kerumunan bandara untuk mencari keberadaan seorang gadis. Dari informasi yang ia dengar, penerbangan Lysa tepat pada pukul tiga sore. Sehingga Mino dengan cepat menyusul gadis itu ke Bandara Internasional Incheon untuk dapat bertemu dengannya. Namun, sepertinya Mino terlambat satu langkah. Saat tiba di bandara, Mini telah kehilangan Lysa. Terakhir, laki laki itu melihat Lysa menaiki eskalator bersama laki laki yang tidak lain adalah Brian. Dan waktu Mino menyusul keduanya, Lysa telah menghilang dari pandangan dan tak dapat Mino temukan setelahnya. Meski pun ia memanggil manggil nama Lysa, tidak ada satu orang pun yang merespon panggilan itu.
Sampai akhirnya Mino menyerah ....
Karena terlambat satu langkah, Mino pun menyerah untuk mencari Lysa yang kemungkinan besar telah masuk ke pesawat. Laki laki itu pun keluar dari bandara dan kembali masuk ke dalam mobilnya untuk kembali ke Gangnam. Dan dalam perjalanan pulangnya, ia melihat sebuah pesawat dari Bandara Incheon terbang melintas jauh di mobil yang Mino kendarakan. Dan kemungkinan besar, pesawat yang terbang jauh nun tinggi di angkasa itu adalah pesawat yang tengah membawa Lysa menuju Indonesia.
Karena kebodohannya, karena lambatnya ia menyadari, dan karena ia kurang cepat, Mino yang sangat mengingikan Lysa lebih dari apa pun kehilangan kesempatan yang sangat baik untuk mendapatkan Lysa kembali. Karena setelah kesempatan itu terlewati, Mino tidak yakin apakah Lysa masih sabar menunggunya, ataukah hati Lysa telah berpindah pada laki laki yang terbang bersamanya menuju Indonesia, laki laki yang menemani Lysa ketika Mino sendiri sibuk bergulat dengan perasaan dan juga otaknya yang terlalu rasional.
Sekembalinya dari Incheon setelah kehilangan Lysa di bandara, Mino beranjak pulang menuju apartemennya. Dan begitu sampai di apartemen, laki laki itu mendapat telepon dari Moon Yul berisi pemberi tahuan kapan keberangkatannya menuju Filipina. Benar. Ia tidak memiliki waktu lagi untuk dapat bertemu Lysa. Gadis itu sementara waktu, selama kurang lebih satu minggu akan berada di Indonesia bersama Brian. Sedangkan besok Mino akan berangkat menuju Filipina untuk proyek pembangunan cabang Moonlight Coffe Korea di luar negeri yang akan di bangun di Filipina. Dan tidak bisa dipastikan kapan proyek itu akan selesai. Pailng cepat mungkin satu bulan. Ya, itu paling cepat. Namun bisa lebih. Seperti proyek Moonlight Coffe Korea di Vietnam kemarin membutuhkan waktu kurang lebih dua bulan untuk perancangan dan semua administrasinya sebelum bisa Mino tinggal kembali ke Korea untuk mulai pembangunannya.
Saat itulah Mino merasa paling menyesal dalam hidupnya. Andai saja ia tak terlambat satu langkah. Andai saja ia cepat menyadari bahwa Lysa lah satu satunya wanita yang ia inginkan. Dan, andai saja Mino tidak membuang buang waktunya untuk memikirkan suatu hal yang ia cemaskan dengan berlebihan. Jika saja semua itu tidak terjadi, mungkin Mino tidak akan merasa semenyesal ini. mungkin Mino merasa bisa memaafkan dirinya sediri karena telah menyia nyiakan Lysa yang saat itu masih menantinya dengan sabar. Ya, untuk saat itu. Kalau sekarang, Mino tidak yakin apakah Lysa masih menunggunya dengan sabar, atau hatinya telah pindah pada laki laki lain yang menemaninya di saat Mino tidak ada. Yang bisa Mino lakukan saat ini adalah ... tidak ada yang bisa laki laki itu lakukan selain mengandalkan keberuntungannya semata. Dan sayangnya, dalam urusan percintaan Mino tidak begitu beruntung.
**
Setelah melakukan penerbangan selama kurang lebih sepuluh jam lamanya dan melalui transit di bandara Seokarho Hatta Jakarta, akhirnya Lysa dan Brian pun tiba di Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta. Ketika turun dari pesawat Lysa terlihat benar benar lelah meski pun selama perjalanan sepuluh jam itu ia terus tidur.
“Hfuhh, aku lega sekali. Tapi aku sangat capek,” keluh Lysa yang baru saja keluar dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta.
“Memang kamu ngapain saja? Bukannya yang kamu lakukan cuman tidur di pesawat?” sahut Brian dengan menggunakan bahasa Indonesia. Bari pertama kali ini laki laki mengajak Lysa berbicara dengan bahasa Indonesia sejak kepindahan Lysa ke Korea. Dan pelafalannya terbilang cukup fasih meski Brian lama hidup di Amerika.
Mendengar Brian menggunakan bahasa Indonesia untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Lysa meliriknya dengan rasa bangga.
“Ooo, Brian, bahasa Indonesiamu masih bagus rupanya.” Lysa menceletuk. Seketika itu membuat Brian tersenyum sipu mendengar gadis itu memujinya. “Ngomong ngomong, dengan kita pakai bahasa Indonesia, aku benar benar merasa sudah berada di Indonesia. Tubuh dan jiwaku sudah menyatu dengan Indonesia. Benar kan?” lanjut Lysa menceletuk.
“Hmm. Kau benar sekali,” tanggap Brian sambil tersenyum manis. Akhir akhir ini, Brian yang dingin dan cuek itu jadi sering tersenyum setiap kali bersama Lysa. Laki laki itu menjadi sedikit berbeda dari biasanya. Karena sebelumnya ia tidak pernah tersenyum sesering ketika ia bersama dengan Lysa akhir akhir ini. mungkinkah itu maksud dari ungkapan pepatan ‘cinta bisa mengubah segalanya’.
Tepat setelah itu sebuah taksi berhenti tepat di depan Brian dan Lysa berdiri. Itu adalah taksi yang Brian pesan beberapa lalu dari salah satu aplikasi transportasi online yang ada beroperasi di Yogyakarta.
Keduanya berjalan ke arah bagasi mobil. Memasukkan masing masing koper mereka ke dalam bagasi mobil dan kemudian beranjak masuk ke dalam mobil. Duduk bersebelahan di belakang kursi kemudi.
“Wah, seneng banget akhirnya aku bisa pulang ke Indonesia. Sungguh. Aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau aku secepat ini meninggalkan Indonesia untuk hidup bersama ayah di Korea. Aku kira seumur hidupku aku akan menghabiskan waktu di kota ini, ternyata aku pergi secepat yang tidak pernah aku bayangkan.” Lysa mulai bercerita ketika mobil yang membawa mereka berdua melaju meninggalkan Bandara. Pandangan gadis itu menengok nengok sekeliling. Memandangi suasana malam di Yogyakarta yang amat ia rindukan. Seperti biasanya, meski pun waktu telah menunjukkan pukul satu malam, keadaan kota itu tidak pernah sepi. Masih ada banyak anak anak muda nongkrong di kafe dan beberapa tempat yang ada di sepanjang jalan menuju hotel.
“Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup.” Brian menanggapi cerita Lysa dengan pandangan yang ikut menyebar sekeliling, sebelum akhirnya pandangannya berhenti pada Lysa. Laki laki itu menatap Lysa dengan serius sementara sang gadis sedang mengamati keadaan luar melalui jendela kaca.
“Padahal aku pernah bermimpi ingin menikah di dekat Pantai Jogan dan melakukan foto pre wedding di sana. Aku juga pernah memiliki keinginan untuk tinggal di daerah pesisir Yogyakarta dengan suamiku kelak dan sering menikmati pantai di sana.” Lysa lanjut becerita.
“Dengan siapa?” sahut Brian bertanya.
Pertanyaan tak terduga itu sontak membuat kepala Lysa menoleh. Gadis itu pun bertatapan dengan Brian yang mengernyitkan kedua alisnya saat menatap Lysa lekat lekat.
“Apanya yang dengan siapa?” tanya Lysa tak yakin.
“Dengan siapa kau ingin menikah dan dengan siapa kau ingin tinggal di pesisir Yogyakarta?” Brian pun memberikan penjelasan atas pertanyaannya.
Lysa terdiam. Diam dan menatap Brian dalam keheningan yang berlangsung lama. Gadis itu teringat, bahwa ia merangkai mimpi mimpi itu bersama Brian yang ada di hati dan pikirannya. Saat itu Brian masih menyukai Brian dan berharap banyak tentang laki laki itu. Ia membayangkan suatu saat akan menikah dengan Brian di pesisir Pantai Jogan dan melakukan foro prewedding bersama pemandangan nan begitu indah di sana. Ia juga pernah membayangkan memiliki sebuah rumah mewah di dekat pesisir pantai di mana setiap saat ia bisa memandang lautan yang bebas. Itu semua adalah keinginan yang pernah terbesit di benak Lysa ketika ia masih menyukai Brian dan berharap laki laki itu yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Namun, keadaan sudah berubah drastis saat ini. kehidupan Lysa dan keluarganya telah berubah. Lysa harus pindah bersama ayahnya ke Korea Selatan, yang itu membuat semua keinginan dan angan angan Lysa tentang itu semua sirna dalam sekejap. Kehidupan Lysa berubah sejak saat itu. Bahkan hatinya pun berubah, benar benar berubah.
Untuk sejenak Lysa terdiam. Ia berpikir untuk mencari cari alasan.
“Karena saat itu aku remaja, aku hanya membayangkannya dengan seorang artis Indonesia yang aku kagumi pada saat itu. Brian, kau tau Morgan kan? Morgan Oey, SMASH ... tidak mungkin kau tidak tahu, karena hampir setiap hari aku menyanyikan lagu lagu SMASH.” Lysa menjawab demikian untuk tidak membuat hubungannya dengan Brian semakin canggung. Untungnya, Lysa masih mengingat dengan baik apa yang ia idolakan pada saat itu.
“Ah, ya ya, aku tahu.”
“Ya, itu.”
Setelah itu suasana di dalam mobil menghening. Lysa kehabisan kata kata dan memilih untuk diam. Dan Brian, yang memang orangnya pendiam, tidak mengeluarkan suara sedikit pun sampai akhirnya mereka tiba di hotel.
Begitu turun dari mobil, keduanya berjalan menuju resepsionis. Lysa menyeret kopernya berjalan di belakang Brian.
“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” tanya ramah seorang resepsionis perempuan yang berjaga di balik meja resepsionis.
“Saya tadi sudah memesan kamar di hotel ini atas nama Brian Alvendo.” Brian berkata.
“Baiklah. Tolong tunggu sebentar, saya akan periksa,” kata nona resepsionis yang ramah tamah itu. Sejenak, ia memeriksa pesanan kamar atas nama Brian Alvendo. Dan wanita yang berpakaian rapi itu tampak terkejut melihat apa yang terlihat di layar komputer di hadapannya. “Tuan ... mungkinkah ... Anda memesan dua kamar atas nama Brian Alvendo?” tanya resepsionis itu dengan sopan namun raut wajahnya terlihat bingung.
“Ya.” Brian menjawab dengan yakin.
Seketika itu juga pandangan resepsionis itu menolehkan matanya pada Lysa yang berdiri di sebelah Brian. Merasa aneh dengan sepasang manusia yang ia kira adalah sepasang suami istri yang tampak sedang berbulan madu itu.
Sekali lagi resepsionis itu melihat ke arah layar komputer.
“Mohon maaf sebelumnya, salah satu kamar yang dipesan oleh Tuan Brian mengalami sedikit masalah dengan keran air dan lampu, dan sekarang masih dalam perbaikan. Jadi Tuan hanya bisa menggunakan salah satu kamar saja. Bagaimana? Apakah tidak apa apa? Mohon maaf yang sebesar besarnya. Jika tidak keberatan, hotel kami memiliki penawaran khusus untuk pasangan yang sedang berbulan madu. Anda tinggal mengisi formulirnya dan sebagian uang Anda akan kami kembalikan.” Resepsionis itu menjelaskan dengan raut wajah yang menunjukkan rasa tidak enak. Namun maish terlihat ramah dan lembut.
“Kami bukan pasangan menikah, dan tidak sedang berbulan madu.” Lysa menjelaskan dengan pelan.
Resepsionis itu tampak terkejut mendengarnya. Dan ia langsung mengangguk anggukkan kepala lalu menunggi sepasang manusia itu memutuskan.
“Brian, haruskah kita pergi ke hotel lain?” usul Lysa. Meski ia merasa bahwa usulanya itu sangat tidak pas. Mengingat waktu yang telah menunjukkan pukul setengah dua. sangat sulit mencari kendaraan dan tentunya sulit mencari hotel di dekat sini. Selain itu, tubuhnya sudah sangat lelah setelah penerbangannya dari Korea Selatan selama sepuluh jam.
“Sepertinya itu ide yang buruk,” sahut Brian.
“Benar kan?”
Sejenak berpikir, Brian menyadari suatu hal.
“Ah! Bagaimana dengan kamar lain? Apa masih ada kamar kosong lainnya?” tanya Brian pada resepsionis.
“Tunggu sebentar, saya periksakan.”
Tidak lebih dari lima detik resepsionis itu mencarikan kamar yang kosong untuk pelanggannya. Dan ia segera memberikan jawaban, “Ada tepat satu kamar yang kosong. Tapi terletak di lantai paling atas. Apa Anda tidak keberatan?”
Dengan segera Brian mengangguk angguk. “Ya, tidak masalah. Berikan saja saya kamar itu.”
Setelah melewati waktu yang sedikit canggung, akhirnya keduanya pun mendapatkan kamar untuk masing masing. Mereka menaiki lift yang sama. Lysa hendak naik menuju lantai tiga sedangkan Brian hendak naik menuju lantai enam.
Entah bagaimana, gara gara resepsionis yang mengira Brian dan Lysa sebagai pasangan suami istri yang hendak bulan madu itu, terjadi kecanggungan di antara mereka berdua. Di dalam lift itu Lysa hanya bisa diam dan menunggu lift yang ditumpanginya tiba di lantai tiga. Sedangkan Brian juga terdiam dan bahkan suara nafasnya sama sekali tidak terdengar.
“Ehmn,” deham pelan Lysa. Yang diikuti suara ‘ting ting’ dari lft yang telah berhenti di lantai tiga dan pintu lift otomatis terbuka.
Sebelum keluar dari lift, Lysa membalik badannya. Berhadap hadapan dengan Brian, lalu tersenyum tipis.
“Besok Brian akan menemaniku bertemu dengan ibu kan?” tanya Lysa.
Tanpa ragu kepala Brian mengangguk angguk. “Tentu saja. Itu yang diperntahkan ayahmu bukan?”
Lysa membalas jawaban Brian itu dengan tersenyum. “Kalau begitu, selamat malam. Beristirahatlah dengan baik, Brian. Dan juga ....” Lysa sedikit menurunkan pandangannya untuk memikirkan suatu hal. Dan kembali menatap Brian sambil lanjut berkata, “Terima kasih karena sudah membawaku berkunjung ke Indoneisa.”
Setelah mengatakan itu Lysa melangkah keluar. Di dalam lift itu, Brian terlihat tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya pintu lift tertutup dan pria itu dibawa menuju lantai enam.
Begitu pintu lift tertutup, Lysa berjalan menuju kamarnya. Ia pun masuk. Meletakkan kopernya ke atas kasur. Dan menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk itu sambil menatap langit langit kamar hotel yang gelap dengan pencahayaan remang remang berwarna kuning keemasan.
“Hhh.”
Suara desah napas Lysa memenuhi seiri kamar. Tubuhnya terasa sangat capek dan lelah karena penerbangan dari Korea selatan. Dan rasanya rileks sekali menempelkan punggungnya pada kasur yang sangat nyaman dan empuk ini.
Ada lebih dari sepuluh menit Lysa terdiam dengan posisi kakinya yang masih menggantung di bawah. Ia masih melamun beberapa hal di kamar hotel yang luas namun terasa sangat sunyi ini.
Lysa teringat, jika ia mematikan ponselnya sejak sebelum melakukan penerbangan. Ia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dengan posisi tubuh yang masih terbaring di atas kasur hotel. Menyalakan ponselnya yang sejak kemarin sore ia matikan. Dan menunggu beberapa saat untuk melihat semua notifikasi pesan chat yang masuk.
Ketika membuka aplikasi Kakao Talk, Lysa dikejutkan dengan satu pesan yang masuk dari Mino. Melihat laki laki yang untuk pertama kalinya mengiriminya pesan teks setelah sore yang menyedihkan itu, Lysa langsung bangkit dan terduduk di atas kasur. Ia mulai membuka satu pesan singkat yang dikirimkan oleh Mino kemarin, tepatnya pada pukul tujuh lebih lima belas menit di malam hari waktu KST (Korea Standart Time); penentuan waktu nasional di Korea Selatan, semacam WIB (Waktu Indonesia Barat) yang ada di Indonesia.
Pesan yang dikirimkan Mino itu sangat singkat. Namun, Lysa yang membacanya terpegun selama beberapa saat dengan tatapan mata yang kosong menatap layar ponsel. Pesan singkat Mino itu adalah ...
‘Tunggulah aku, sebentar lagi aku akan datang.’
Seketika itu juga Lysa tersenyum manis. Membaca pesan teks yang Mino kirimkan membuat Lysa benar benar bahagia. Pesan singkat yang memiliki makna sangat dalam dan berarti itu mampu menghapuskan semua lelah Lysa dan membuatnya dapat tersenyum tanpa beban setelah sekian waktu terlewati.
Kata ‘tunggulan aku’ menandakan bahwa Mino akan kembali pada Lysa dan meminta Lysa untuk sedikit bersabar lagi, sedikit menunggu untuk kabar gembira. Itu berarti Lysa masih memiliki harapan. Artinya penantian Lysa tidak akan sia sia karena Mino dengan jelas meminta Lysa untuk menunggunya yang akan datang lagi tanpa keraguan. Artinya Mino telah mengambil keputusan untuk bersama Lysa, bukan kembali pada mantan kekasihnya yang datang lagi setelah menyakitinya begitu dalam.
Tak menunggu lama, Lysa segera membalas pesan teks Mino itu.
‘Aku masih menunggumu, Ajeossi. Dan akan terus menunggu dengan sabar.’
Setelah mengirimkan pesan teks itu, Lysa lantas tersenyum gembira sambil kembali membaringkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk. Ia meletakkan ponselnya ke atas dada dan menunggu balasan dari Mino. Dan, seperti yang Lysa duga, tidak lama kemudian ponselnya berdenting ‘tuk’. Terdapat satu notifikasi pesan teks dari Mino melalui aplikasi Kakao Talk.
Dengan semangat Lysa membuka pesan teks yang masuk itu. Membaca pesan dari Mino.
‘Aku sedang dalam perjalanan Bisnis di Filipina. Tidak tahu apa aku bisa datang ke Indonesia di sela sela pekerjaanku di sini.’
Akhirnya sepasang manusia yang menanti satu sama lain di tempat yang berbeda dan berjauhan itu meneruskan kegiatan mengisim pesan selama beberapa saat. Sampai akhirnya Mino meminta Lysa untuk segera beristrahat karena pastinya tubuh Lysa sangat lelah dan butuh untuk segera beristirahat. Dan setelah mereka selesia berkirim pesan, barulan Lysa pergi untuk membersihkan tubuhnya. Lalu bergegas tidur dengan sangat nyenyak. Ia rasa, tidurnya malam ini adalah tidur yang paling nyenyak di antara banyak malam sebelumnya yang Lysa lalui tanpa keharian Mino di hati dan pikirannya. Dan kini, keadaan mulai kembali. Hanya saja waktu dan keadaan kurang bersahabat. Jarak di antara mereka berdua juga tidak bisa diajak berkomprpomi sehingga baik Mino mau pun Lysa harus sama sama bersabar dan menunggu keduanya bisa dipertemukan dalam keadaan yang lebih baik.
**