
Bab 1
“Bagaimana bisa mobilmu sampai diderek?”
Di dalam mobil yang sedang melaju itu,
seorang pria melontarkan pertanyaan pada pria lainnya yang duduk di kursi
penumpang bagian depan. Lelaki itu adalah Mino, Han Mino. Ia sedang menumpang di
mobil temannya untuk mengantarnya menuju kafe tempatnya bekerja sebagai
manajer.
“Aku juga tidak menyangka. Padahal aku
hanya meninggalkan mobilku sebentar untuk mengambil mantelku dari tempat
Loundry. Dan begitu aku kembali, mobilku sudah tidak ada dan hanya surat
pemebritahuan penilangan. Sial. Aku harus membayar denda lagi karena masalah
yang sama,” gumam Mino bercerita.
“Maka dari itu, kenapa kau parkir mobil
sembarangan? Untung saja tadi aku sedang lewat. Jadi aku bisa memberimu
tumpangan. Tapi ngomong ngomong, bukannya kau sedang mengambil cuti untuk
pemeriksaan kesehatan?” tanya seorang teman yang tidak lain adalah Songjae.
“Aku cuman mau mampir sebentar ke kafe.
Bosku sedang datang ke kafe dan aku ada sesuatu yang ingin kusampaikan
padanya,” jawab Mino.
“Ah, jadi kau hanya ingin bertemu Tuan
Moon.”
Kepala Mino mengangguk angguk.
“Moonlight Grup jadi makin sukses setelah
kasus yang menggemparkan seluruh negeri itu. Wahh, aku sendiri melihat
beritanya di televisi merasa sangat gila. Tuan Moon Yul dan keluarganya sungguh
sungguh keluarga yang unik. Bagaimana dia sampai tidak tau kalau menikahkan
adiknya dengan adik dari pembunuh? Dan tragisnya lagi, adik dan adik ipar dari
pembunuh yang juga mafia itu adalah hakim. Apa ini tidak gila? Mendengar ceritanya
aku benar benar merinding.” Songjae lanjut menggumam gumam.
Ia teringat berita kasus yang menggemparkan
seluruh negeri beberapa musim yang lalu. Tentang tenggelamnya seorang pembunuh
sekaligus mafia yang melakukan perdagangan gelap, yang berhubungan dengan
keluarga pemilik Moonlight Grup. Cerita itu telah didengar oleh semua orang di
penjuru negeri. Tidak ada yang tidak mengenal Tuan Moon Yul pemilik Moonlight
Grup, juga tentang keluarga besarnya sekaligus adiknya yang bekerja sebagai
hakim di Mahkamah Agung. Dan berkat itu, semua orang makin mengenal Moonlight
Coffe dan Moonlight Retail, juga Biniemoon. Bisnis mereka terlihat sangat
sukses di mata semua orang. Bahkan orang orang yang terlibat dengan bisnis
tersebut, seperti Han Mino yang bekerja sebagai Manajer Umum Moonlight Coffe,
juga dipandang ‘waw’ di mata masyarakat Seoul dan teman temannya.
“Sebenarnya aku merasa ada yang aneh ketika
mengikuti pesta pernikahan Hakim Hun di pulau. Dan kurasa Tuan Moon sudah tau
itu sejak awal, kalau adiknya akan menikahi adik dari pembunuh. Kelihatannya
Tuan Moon dan Nyonya Moon sudah tau,” kata Mino.
“Benarkah? Wahh... mereka benar benar
hebat. Ah, tau ah! Yang jelas aku tidak mau berada di posisi mereka. Lebih baik
aku menjadi orang biasa saja, yang hidupnya tenang dan damai.” Songjae berkata
sambil menggeleng gelengkan kepala.
“Benar. Lebih baik jadi orang biasa saja
sepertiku. Tidak punya banyak aset tidak masalah, yang penting aku hidup
berkecukupan dan tidak memiliki banyak musuh,” imbuh Mino yang satu pendapat
dengan Songjae.
“Heii, tetap saja, kau kan manajer
Moonlight Coffe. Aku bisa membayangkan berapa besar gaji yang kau dapat dengan
menjadi manajer bisnis kafe paling besar di negeri ini,” kata Songjae.
“Aku hanya bawahan. Aku tidak memiliki
kekuasaan apa apa, hanya mengerjakan beberapa pekerjaan kafe dan mendapat gaji
bersadarkan pekerjaan yang kulakukan.” Mino berkata dengan rendah hati.
“Semua teman alumni iri padamu. Kudengar
kau juga baru membeli beberapa saham di Moonlight Coffe. Apa itu benar?” tanya Songjae.
“Ahh, itu... aku cuman membeli sedikit
saham yang dipersiapkan Tuan Moon untukku. Dan itu tidak sebesar yang kalian
bayangkan. Kenapa teman teman berlebihan sekali?” Mino berucap sambil mendesah
panjang panjang.
Ketika itu mobil yang dikendarakan Songjae
telah tiba di halaman Moonlight Coffe. Mino melepaskan sabuk pengaman yang
melingkari pinggangnya sambil berkata, “Terima kasih tumpangannya. Lain kali
aku akan mentraktirmu minum.”
Setelah itu Mino keluar dari mobil. Ia
berjalan mundur sambil melambai lambaikan tangan pada Songjae yang ada di dalam
mobil.
“Kalau ada waktu luang aku akan
meneleponmu!” celetuk Songjae dari dalam mobilnya.
Dari kejauhan, Mino menganggukkan kepala
sambil berjalan mundur mendekati pintu masuk Moonlight Coffe. Dan tiba tiba
terdengar suara ‘bugg!’ ketika punggungnya menabrak seorang wanita.
“Agh!”
Pekikan kecil itu membuat Mino seketika
berbalik tubuh. Ia tersentak mengetahui dirinya menabrak seorang gadis yang
membawa segelas minuman dingin dari kafe.
Terdengar desahan putus asa dari gadis yang
menatap kosong sebuah burger yang terinjak oleh kaki Mino. Pandangan Mino pun
ikut menurun. Ia terkejut melihat sebuah burger terinjak di kakinya. Seketika itu
juga, ia merasa sangat bersalah.
“Ohh.. maafkan—”
“Burgerku.... Haaa!”
Mino tersentak ketika tiba tiba gadis itu
menangis. Gadis tak dikenal yang tak sengaja ditabraknya itu tiba tiba
berjongkok dan menangisi burger yang terinjak oleh Mino itu. Mino yang melihat
itu seketika kelabakan. Ia tak tau harus bagaimana menanggapi situasi tidak
terduga ini.
“Hai.. permisi.... Maafkan aku, aku tidak
sengaja. Haii.”
Tangisan gadis itu semakin kencang dan
membuat Mino semakin kebingungan. Perhatian orang orang di dalam kafe itu pun
sontak tertuju pada Mino dan gadis yang menangis itu di depan pintu masuk kafe.
“Tunggu, hai... Kenapa kamu menangis? Aku akan
mengganti burgermu. Haii.” Mino berusaha menenangkan tangisan gadis itu. Ia
menepuk nepuk pundak gadis itu untuk membuatnya tidak menangis lagi. Namun yang
terjadi adalah, gadis itu tetap menangis dan tangisannya terdengar semakin
sesegukan.
Pada waktu itu juga, seseorang melangkah
keluar dari kafe. Orang itu tidak lain adalah Moon Yul, yang baru selesai
mengurusi sedikit hal di kantornya.
“Oh, Bos Moon,” sapa Mino ketika melihat
Yul keluar dari kafe.
Yul tampak terkejut melihat Mino ada di
kafe. Pasalnya, beberapa hari lalu Mino meminta curi selama tiga hari untuk
pemeriksaan medis.
“Mino-ya, bukannya kau sedang cuti? Untuk
apa kau datang kemari? Dan...” Pandangan Yul menurun pada seorang gadis yang
sedang menangis sambil berjongkok tepat di hadapan Mino. “Apa yang kau lakukan
pada gadis itu, Mino-ya?” lanjut Yul bertanya.
“Tidak, tidak! Aku tidak mengenalnya.
Kebetulan saja....”
Yul melangkah mendekat pada Mino lalu
menepuk pundaknya. “Kau tidak boleh membuat seorang gadis menangis,” kata Yul
pada Mino. “Kau tidak perlu bekerja dulu. Selesaikan masalahmu dengan gadis
ini. Bekerja saja mulai besok. Okey?”
“Tidak... Bu—bukan begitu, Bos Moon.” Mino
yang merasa Yul sudah salah paham, segera menyela dengan terbata bata.
Tetapi Yul hanya tersenyum dan menepuk
kembali pundak Mino sambil berkata, “Tidak apa apa. Semua laki laki melakukan
kesalahan. Semangat!” Kemudian ia segera berlalu pergi meninggalkan Mino
bersama gadis itu. Masuk ke dalam mobil dan bergegas pergi meninggalkan kafe.
Sementara itu, Mino yang datang ke kafe
untuk membicarakan suatu hal penting dengan sang bos, hanya menghela napas
panjang melihatnya pergi. Kemudian pandanannya menurun. Melihat gadis berambut kucir
kuda itu menangis sambil berjongkok di hadapannya, Mino menatapnya prihatin. Entah
kenapa gadis itu tiba tiba menangis. Mino tidak mengerti, tapi hatinya tergerak
untuk menolongnya.
Mino pun berjongkok di hadapan gadis
tersebut. berhadap hadapan dengan Lysa yang masih menenggelamkan wajahnya di
antara kedua lututnya untuk terisak isak.
Tangan Mino terulur, menyentuh pundak Lysa
dengan lembut. Itu seketika membuat Lysa mengangkat wajahnya. Bertatapan dengan
Mino yang berjongkok tepat di hadapannya. Keduanya terlibat tatap mata selama
beberapa saat. Sementara Lysa masih berusaha mengendalikan tangisnya yang
sedikti tersisa.
“Apa kau baik baik saja?” tanya pelan Mino
pada gadis di hadapannya. Ia melepaskan tangannya dari bahu sang gadis. Lalu lanjut
berkata, “Aku minta maaf soal tadi. Sebagai
gantinya, aku akan membelikanmu burger. Mari, ikut denganku. Aku akan mengganti
burgermu.”
Sambil beranjak berdiri, Mino mengulurkan
tangannya pada Lysa. Tetapi Lysa masih membengong menatap Mino yang berdiri
sembari menunggu sambutan tangan darinya.
“Ajeossi (sebutan untuk memanggil lelaki
yang jauh lebih tua dari si pemanggil; paman) serius?” Lysa meyakinkan
pendengarannya.
“Tentu. Aku akan mengganti makananmu yang
sudah kuinjak.” Mino berucap yakin.
“Kalau begitu, belikan aku daging, Ajeossi.
Ini adalah hari ulang tahunku. Dan burger ini adalah satu satunya hadiah ulang
tahun yang kudapat.” Lysa berkata dengan putus ada.
Mino sejenak terdiam. Menatap wajah gadis
itu yang sembab. Menimbang selama beberapa saat sebelum memberinya respon.
**