
Bab 60
Rencana serangan hukum
“Baiklah. Katakan padanya kalau hari ini aku akan bertemu dengannya. Setelah pekerjaanku di kafe selesai, tentunya.”
Mino melakukan panggilan dengan seseorang sementara mengendarakan mobil dari rumah kediaman orang tuanya menuju kafe.
Ceritanya, Mino merasa sangat khawatir jika saja Brian atau seseorang dari Hangin Grub kembali mendatangi apartemennya untuk mencari Lysa. Jika Mino sedang berada di apartemen, mungkin tidak akan jadi masalah karena ia merasa bisa melindungi Lysa. Namun masalahnya Mino harus bekerja. Ia harus bekerja di kafe dan otomatis akan membiarkan Lysa berada seorang diri di dalam apartemen. Dan itu yang membuat Mino merasa cemas.
Memang betul bahwa Lysa bukan lagi anak kecil yang perlu diawasi selama dua puluh empat jam dalam sehari. Gadis itu bisa melindungi dirinya sendiri dan pastinya tau apa yang harus dia lakukan jika dihadapkan dalam situasi situasi darurat. Tapi tetap saja, Mino merasa khawtir. Ia merasa tidak akan dapat bekerja dengan jika terus memikirkan Lysa yang ada di apartemenya seorang diri. Ia khawatir jika Brian datang lagi seperti saat itu sambil membawa bodyguard nya yang berbadan kekar itu untuk menculik Lysa darinya. Sehingga, keputusan yang dibuat Mino adalah, ia membawa Lysa ke rumah orang tuanya untuk berada di sana sementara waktu. Jadi Lysa akan tinggal sementara waktu di rumah orang tua Mino sampai perkuliahan mulai masuk begitu musim panas berakhir.
Pagi tadi Lysa diantarkan Mino menuju rumah orang tuanya yang juga masih berada di distrik yang ada di kota Seoul. Ia mengantarkan Lysa untuk bertemu orang tuanya. Dan begitu sampai di rumah orang tua nya Mino, Lysa disambut dengan meriah oleh Mina dan juga Minjae yang memang sedang menghabiskan liburan musim panas di rumah. Mereka berdua menyambut kedatangan Lysa dengan sangat meriah dan antusias. Begitu pun ibu dan ayah Mino yang dapat menerima keberadaan Lysa dengan mudah.
Di rumah orang tua Mino, Lysa terlihat sangat gembira karena di sana ada kedua adik Mino yang sangat ramai dan lucu. Terlebih dari itu, di sana juga ada ibu Mino yang perhatian dan ayahnya yang juga sangat konyol seperti kedua adiknya. Pantas saja di keluarga itu Mino menjadi ‘tuan besar’, karena di antara karakter ayah dan kedua adiknya, Mino lah yang memiliki karakter paling disiplin dan terbilang keras. Sangat bertolak belakang dengan ayah dan kedua adiknya yang semuanya suka bersikap konyol dan menganggap enteng segala sesuatu. Di rumah orang tua Mino, Lysa dijamin aman bersama kedua adik dan juga orang tuanya. Lysa juga tidak lagi merasa kesepian seperti ketika ia berada seorang diri di apartemen Mino ketika Mino harus pergi untuk bekerja.
Sementara mengendarakan mobil menuju kafe itu, Mino masih bercakap cakap melalui telepon bersama Asisten Min.
“Oh ya, untuk masalah yang kemarin kita bicarakan bersama Bos Moon, biar aku saja yang mengatakan kepadanya. Aku akan memberi tahu Lysa pelan pelan. Jadi kau tidak perlu memberi tahu Lysa lebih awal bahwa dia sudah tidak bisa bekerja lagi di kafe. Biar aku yang katakan padanya.” Mino berkata. Setelah terdengar jawaban iya dari Asisten Min, Mino pun mengakhiri panggilan telepon. Ia menutup telepon Asisten Min dan kembali berkendara dengan aman.
Napas Mino berembus panjang panjang. Ia tidak tahu bagaimana harus memberi tahu Lysa bahwa ia sudah tidak boleh lagi bekerja di kafe. Gadis itu tidak diperbolehkan bekerja kembali oleh Bos Moon dengan berbagai alasan yang dilontarkan.
Alasan yang utama yaitu karena Lysa adalah calon istri Mino dan Mino sendiri telah mengkonfirmasi benar terhadap hal itu. Ada banyak rumor di antara para karyawan kafe yang membuat gaduh suasana di kafe. Karena adanya banyak rumor tentang Lysa yang menjadi calon istri Mino, suasana di kafe menjadi tidak kondusif dan kepercayaan karyawan terhadap kafe menurun. Mereka banyak yang menganggap bahwa Lysa dipekerjakan di kafe itu karena memiliku hubungan spesial dengan Manajer Han, sehingga rekrutmen karyawan kafe juga terasa tidak transparan karena ada permainan di belakang panggung. Tidak hanya itu, banyak yan merasa terganggu jika Mino terlalu sering memanggil Lysa menuju ruangannya di saat jam kerja. Seperti seolah olah Mino memberikan waktu istirahat sebentar kepada Lysa sedangkan para karyawan yang lainnya yang bekerja dua kali lipat untuk menggantikan pekerjaan Lysa. Dan selain itu, masih ada banyak lagi kegaduhan di anatra para karyawan Moonlight Coffe. Lalu, alasan yang kedua adalah karena Lysa sempat menimbulkan kekacauan gara gara kedatangan beberapa pengawal yang membawanya pergi secara paksa di saat ia seharusnya masih bekerja. Di mana peristiwa itu membuat pelanggan merasa takut dan mengeluhkannya. Juga, beberapa hari sebelum Lysa mengambil cuti sakit untuk istirahat, gadis itu tidak fokus bekerja dan sering berbuat kesalahan kepada pelanggan yang itu membawa kerugian untuk karyawan lainnya.
Dengan semua alasan yang disebutkan di atas, Moon Yul merasa tidak memiliki alasan lagi untuk mempertahankan Lysa bekerja di kafenya. Tidak peduli Lysa calon istri Mino atau bukan, kalau ia menimbulkan kekacauan di kafe dan keluhan dari karyawan hingga pelanggan, Moon Yul terpaksa harus memecatnya. Benar benar dengan terpaksa Moon Yul memutuskan untuk memberhentikan Lysa sebagai karyawan kafenya. Dan Mino juga mengakui semua itu. Dari sudut pandang sebagai pemilik kafe, Mino merasa keputusan Moon Yul itu dinilai bijaksana dan adil. Karena bukan Lysa pun, kalau ada karyawan yang menimbulkan kekacauan di internal kafe dan menimbulkan banyak keluhan dari pelanggan, Mino sebagai manajer juga harus memecatnya mau tidak mau.
Namun untuk saat ini Mino masih belum tega memberi tahu Lysa. Sehingga ia masih berdiam diam saja menunggu wkatu yang tepat untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Lysa.
Tidak lama kemudian Mino pun sampai di kafe. Seperti biasanya, ia masuk ke kafe dan menerima sambutan dari para karyawannya. Sepuluh menit lagi waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, itu adalah jam di mana kafe mulai beroperasi. Mino datang sedikit lebih awal karena di kafe ada yang sedang menunggunya.
Begitu masuk ke dalam ruang kerjanya, Mino disambut oleh seorang wanita yang sedang menunggunya di sifa. Wanita dengan tatapan tajam itu mengernyitkan salah satu alis sambil menyambut kedatangan Mino dengan cara menyindirnya.
“Sungguh lucu sekali aku menunggu sepagi ini untuk seorang klien yang memberiku upah beberapa persen saham di Moonlight Retail untuk sebuah masalah besar yang melibatkan hubungan diplomatik tiga negara.”
Seperti yang diduga, wanita itu adalah Pengacara Bae. Dia sedang menunggu Mino di dalam ruang kerjanya.
“Aku tidak menyuruhmu untuk datang sepagi ini. kubilang, kalau aku akan menemuimu nanti setelah pekerjaanku di kafe selesai. Dan kau sendiri kan yang memilih untuk datang ke mari?” Mino membalas dengan tegas. Ia berjalan menuju meja kerjanya. Meletakkan tas kerja ke atas meja, lalu berjalan menuju sofa tempat Pengacara Bae duduk manis sambil menikmati Americano dingin.
“Baiklah, Tuan Han Mino, aku datang ke mari seperti anjing pesuruh yang akan melaporkan suatu hal penting pada majikannya. Puas?” cetus Pengacara Bae dengan raut wajah kesal yang ditunjukkan terang terangan pada Mino di hadapanannya.
“Setidaknya bukan aku yang menyebutmu anjing,” Mino menimpali.
“Untung kau adalah temanku, dan untung kau membayarku banyak untuk masalah ini, jika tidak begitu... mungkin aku sudah memasukkan hak sepatuku ke dalam mulutmu.” Pengacara Bae yang merasa sangat kesal pada Mino itu hanya dapat merutuk pelan semabri melayangkan tatapan tajam yang seolah olah bisa menusuk nusuk kedua mata Mino. Namun Mino hanya terdiam sambil memasang wajah tidak berdosanya kepada Pengacara Bae.
“Jadi apa yang ingin kau laporkan padaku?” tanya Mino.
“Aku sudah memeriksa profil tentang laki laki bernama Brian Alvendo dan juga profil ayahnya si pemilik Hangin Grub itu. Dan aku mendapati sesuatu yang sangat spektakuler,” kata Pengacara Bae penuh hasut.
Namun Mino hanya mengernyitkan kening. Jika bukan karena sesuatu yang spektakuler itu, Pengacara Bae pasti tidak akan datang ke kantor Mino, menunggunya sebelum kafe buka. Mino sudah menebak kalau Pengacara Bae datang ke mari membawa sesuatu yang disebutnya spektakuler itu. Entah apa hal yang dimaksudnya.
“Apa itu?” tanya Mino penasaran.
Kemudian Pengacara Bae mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang ia bawa. Mengambil sebuah tablet dan memperlihatkan sebuah rekaman CCTV.
“Kau ingat kasus Leo Park dan juga Night Club miliknya yang sekarang sudah tutup karena kasus prostitusi, perdagangan manusia, dan juga narkoba itu?” tanya Pengacara Bae dengan hati hati dan juga dengan tatapan tajam yang tertuju pada Mino.
Tentu saja Mimo ingat. Itu adalah kasus terbesar yang menimpa Moon Yul dan istrinya, Kang Yebin beberapa tahun yang lalu. Mino tidak mungkin lupa di saat dirinya lah yang berperan cukup banyak menyelesaikan konflik internal di Moonlight Coffe karena kasus yang menimpa bosnya. Mino juga yang berperan banyak dalam mengembalikan kondisi kafe yang ikut terkena dampak dari kasus Leo Park itu.
“Ingat. Memangnya kenapa dengan Klub Malam itu?” tanya Mino.
Pengacara Bae kembali menjulurkan tablet itu kepada Mino. Memperlihatkan sesosok laki laki yang sedang berada di sebuah ruangan VIP dengan ditemani dua orang perempuan seksi. Di mana sosok lelaki itu sedang menyuntikkan sebuah obat ke dalam tubuh yang kemungkinan besar adalah obat obatan terlarang.
“Tepatnya tiga tahun yang lalu Brian Alvendo pernah datang ke Korea Selatan. Musim dingin tiga tahun lalu. Dia datang dari Amerika bersama ayahnya untuk perjalanan liburan bersama. Dan ini adalah rekaman CCTV yang memperlihatkan bahwa Brian pernah memakai narkoba di Everyday Night Club,” jelas Pengacara Bae.
Kening Mino mengertu dalam. Ia merasa sangat terkejut mendengar Pengacara Bae berbicara sampai sampai selama beberapa saat Mino kehilangan kata kata.
“Tu... tunggu... maksudmu, Brian memakai narkoba?” tanya Mino.ia sungguh tidak percaya pada apa yang dengarnya dari Pengacara Bae. Dan jujur saja, ia tidak yakin jika laki laki dalam rekaman CCTV itu adalah Brian.
“Aku tidak bisa memastikan tentunya. Maka dari itu kita bisa ajukan ke jaksa untuk melakukan tes urine pada Brian.”
“Apa itu memungkinkan? Status Brian bukan berkebangsaan Korea. Aku sangat yakin kalau dia pasti akan meminta pembelaan dari negaranya untuk melindungi hak asasinya di sini,” kata Mino.
“Untuk itu kita perlu bukti yang kuat dan juga saksi kalau Brian memang pernah memakai obat obatan terlarang itu selama berkunjung ke Korea sebagai turis. Dan sepertinya, kekasihmu bisa menjadi saksi yang tepat.” Pengacara Bae mengusulkan.
Kepala Mino memiring. “Aku tidak yakin kalau Lysa tahu sesuatu tentang itu. Dari yang kulihat, Lysa selama ini menganggap Brian sangat baik. Jadi aku tidak yakin kalau Lysa tahu sesuatu tentang penyalahgunaan obat itu.”
“Bagaimana kau bisa begitu yakin? Kau tidak akan pernah tau apa yang sebenarnya Lysa ketahui tentang Brian. Mereka sudha mengenal sangat lama bukan? Dan sepertinya kekasihmu itu tahu sesuatu tapi memendamnya sebagai kerahasiaan,” ujar Pengacara Bae.
“Tetau saja, aku merasa tidak yakin.”
“Baiklah. Kalau begitu kita cari cara lain. Brian Alvendo... dia kan seorang profesor Biologi. Pasti sangat mudah untuk dia mendapatkan obat obatan terlarang itu atas dasar penelitian. Aku hanya perlu mencari tahu saja dari mana laki laki itu mendapatkan sema obatnya.” Pengacara Bae kembali berkata.
Mino menghening selama beberapa saat. Ia diam sejenak untuk memikirkan apa yang Pengacara Bae bicarakan. Bagaimana pun, Mino teringat kembali akan tangisan sedih Lysa kemarin lusa tentang Brian. Mino tahu betul, kalau Lysa sebenarnya masih berharap bahwa Brian bisa berhenti dan Lysa akan memaafkannya. Karena dalam hati Lysa, Lysa tidak ingin hubungan nya dengan Brian rusak begitu saja.
“Ngomong ngomong, apa kita perlu bertindak sejauh ini? kalau pun Brian memang pernah memakai, belum tentu sampai sekarang dia memakai bukan. Dan kita juga tidak tahu apakah di negaranya Brian pernah diadili masalah penyalah gunaan obat terlarang. Yang perlu kita serang adalah Hangin Grub.” Mino mengusulkan.
Pengacara Bae mengembuskan napas panjang panjang mendengar Mino berkata demikian.
“Astaga, kau masih belum mengerti juga rupanya. Untuk menangkap harimau besar, kita perlu goyahkan dulu habitatnya dengan cara menangkap anak harimau itu. Kita perlu menankap Brian terlebih dahulu untuk membuat Hangin Grub menjadi goyah dan tidak stabil. Setelah itu, barulah kita luncurkan serangan pada Hangin Grub. Dari yang kudengar, Hangin Grub bukan perusahaan yang bersih. Mereka beberapa kali terlibat isu suap pada para parlemen dan dan anggota dewan di Indonesia. Akan mudah sekali menjerat mereka semua dari hal hal kecil yang kelihatannya sepele. Dan untuk kasus terhadap kekasihmu, itu termasuk masalah kecil yang melibatkan Hangin Grub.” Pengacara Bae menjelaskan panjang lebar sekaligus mencoba untuk meyakinkan Mino yang sepertinya terlihat sangat ragu sekali. Entah apa yang laki laki itu pikirkan, dia terlihat sangat ragu untuk meluncurkan serangan yang dapat menghancurkan Hangin Grub.
“Kau yakin bisa melakukannya? Sendiri?” Mino bertanya ragu.
“Sendiri? Hahaha!”
“Heii, aku tidak akan menyelesaikan semanya sendirian, tentunya. Perjanjianku denganmu kan hanya untuk kasus kekasihmu dengan Hangin Grub. Aku akan mendapatkan semua bukti buktinya, lalu menyerahkannya ke kejaksaan supaya mereka yang mengurus sisanya. Dan selebihnya itu, untuk masalah ‘kehancuran’ Hangin grub, aku akan gunakan untuk keuntunganku yang lain, tidak untukmu.”
Rupanya, ambisi Pengacara Bae untuk menjadi pengacara terbaik di seluruh negeri itu masih belum padam. Mino sudah mengira, kalau Pengacara Bae akan menggunakan kasus Hangin Grub sebagai sarana untuk menlejitkan karirnya sebagai pengacara terbaik negeri. Dan apa pun itu, Mino tidak mau tau. Yang penting kasus Hangin Grub terhadap Lysa itu bisa dituntaskan oleh Pengacara Bae. Masalah yang lain lainnya tentang Hangin Grub dan juga Brian, termasuk ‘kehancuran’ Hangin Grub itu bukan menjadi masalah Mino. Yang Mino inginkan adalah memberikan kehidupan yang aman dan nyaman untuk ia dan Lysa di masa depan, tanpa terhalang oleh keserakahan Hangin Grub yang ingin menjadikan Lysa sebagai tumbalnya.
Mino menghela napas panjang panjang. Jujur, ia tidak tau apa maksud kedatagan Pengacara Bae ke mari. Ia pikir, semua yang dibicarakan Pengacara Bae tadi tidak ada hubungannya sama sekali dengan Mino.
“jadi, sebenarnya kau itu datang ke mari untuk apa?” desus Mino tidak mengerti.
Tatapan mata Pengacara Bae seketika itu juga memalas. Ia menatap Mino dengan sangat heran.
“Aku meminta kekasihmu itu untuk memberi kesaksian tentang Brian. Tentang apa saja yang dia tahu tentang Brian,” jawab Pengacara Bae sambil menceletuk kesal pada Mino.
Sambil mengembuskan napas panjang panjang, Mino beranjak bangkit dari duduk. Ia mendesus untuk memberikan jawaban selagi berjalan menuju depan meja kerjanya.
“Yah... aku akan berusaha membujuknya. Tapi jangan berharap banyak karena mungkin Lysa memang tidak tau banyak tentang laki laki itu.”
Pengacara Bae yang mulai merasa kesal itu juga beranjak berdiri dari duduk. Ia mengambil tasnya, hendak berlalu pergi meninggalkan klien sekaligus temannya yang menyebalkan itu. Namun sebelum ia pergi, wnita itu menceletuk.
“Ah, aku juga ke sini untuk memamerkan mobil baruku di depan kafe. Tadi kau lihat kan? Mobilku yang paling bagus di antara mobil mobil sampah yang terparkir di depan kafe.” Wanita itu berucap dengan sangat arogan.
Mino mengingat ingat mobil berwarna ungu yang ada di depan kafe. Rupanya, itu adalah mobil Pengacara Bae. Pantas saja, Mino tadi hanya membatin ketika melihat mobil senilai 6 miliar itu terparkir miring di tempat parkir dan memakan tempat paling banyak di parkiran depan kafe. Dan, tunggu... tadi Pengacara Bae juga menyebut mobil lainnya sebagai mobil sampah, termasuk mobil Mino yang disebut sebagai mobil sampah oleh wanita sombong itu.
Tetapi Mino yang sebenarnya merasa kesal itu mencoba untuk tetap terlihat tenang dan santai. Ia hanya memiringkan kepala untuk menanggapi teman pengacara nya yang sedang pamer mobil sport.
“Ah, mobil yang warnanya seperti celana dalam kucing peliharaanku itu mobil barumu? Pantas saja, begitu melihat, aku tadi langsung teringat Mocky di rumah yang memakai celana dalam warna ungu.” Mino menanggapi dengan kalimat ejekan.
“Ce... celana dalam?”
Merasa sangat tercengang, Pengacara Bae sampai tidak bisa berkata apa apa lagi untuk menanggapi celaan sial teman nya yang sungguh menyebalkan itu. Ia merasa sangat marah mendengar Mino menyamakan warna mobil barunya seperti celana dalam kucing.
“YAAA!!”
Pengacara Bae yang sedang emosi itu berteriak sambil melepaskan sebuah jepit rambut yang ia pakai lalu langsung melemparnya ke arah Mino seperti melempar panah. Dan untungnya, Mino berhasil menangkap jepit rambut yang nyaris saja melubangi wajahnya.
“Astaga.. Nona Bae yang terhormat. Kalau kau melukai klienmu, siapa yang nanti akan membayarmu?” desus Mino.
Karena terlalu emosi menangapi teman nya yang sangat menyebalkan itu, Pengacara Bae langsung keluar dari ruangan Mino sambil membanting pintu. Wanita itu keluar dengan gusar. Sementara Mino di dalam ruangan itu terkekeh kekeh menertawakan tingkah lucu temannya. Tidak ada yang lebih lucu dari pada menggoda Pengacara Bae yang merupakan teman SMA Mino yang dulu sering menyumpahinya dengan kata kata kasar.
“Tcihh.. dia tidak berubah sama sekali.”
Setelah kepergian Pengacara Bae, Mino pun mendudukkan tubuhnya ke atas kursi kernjanya. Bersiap untuk melakukan pekerjaannya hari ini. Namun baru beberapa menit Mino duduk, terdengar suara ketukan pintu ruangannya.
Tok tok tok.
“Masuk saja. Tidak aku kunci.”
Akhirnya orang yang mengetuk pintu ruangan Mino itu masuk ke dalam. Ternyata dia adalah manajer Moonlight Retail, bernama Won Sik, yang usianya beberapa tahun di bawah Mino. Dia adalah junior Mino di kampus yang mengikuti pelatihan kepemimpinan di Busan bersama Mino waktu itu.
“Oh, Won Sik a, ada apa kau datang ke mari?” tanya Mino yang terkejut melihat kedatangan Won Sik.
“Seonbae (panggilan untuk memanggil senior), ada yang ingin aku bahas denganmu.” Won Sik mengucapkan kailmat itu selagi berjalan mendekat ke meja Mino.
“Tentang?”
“Tentang pengajuan kerja sama dengan Pak Kim dari Alvist Company. Sebenarnya Pak Kim sudah pernah mengajukan kerja sama dengan Moonligh Retail sebelumnya, tapi aku tolak karena profilnya tidak sesuai.” Won Sik berkata.
“Profil apa yang mau maksud?” tanya Mino.
“Riwayat bisnis yang Pak Kim geluti sebelumnya sangat berbeda dengan bidang di Moonlight Retail. Pak Kim sebelumnya berbisnis properti dan tempat wisata keluarga, itu kan sangat berbeda dari bisnis retail.” Won Sik menjelaskan sambil membuka kembali proposal yang ia bawa.
Kepala Mino mengangguk angguk. Kedua tangannya menyilang di depan dada karena merasa ada sesuatu yang perlu ia luruskan pada Won Sik.
“Won Sik a,” panggil Mino.
“Ya, Seonbae.”
“Apa sebelumnya kau pernah jadi manajer?” tanya Mino.
“Tidak. Begitu lulus aku bekerja sebagai pegawai biasa di perusahaan jasa. Lalu aku keluar karena mendapat tawaran bekerja di Moonlight Retail sebagai manajer.”
“Menurutmu, apa alasan Bos Moon mempekerjakanmu sebagai manajer di Moonlight Retail? Padahal kamu sama sekali tidak memiliki pengalaman menjadi manajer. Dan pengalaman kerja di perusahaan jasa pun maish sangat sedikit. Menurutmu apa alasan Bos Moon memilihmu?” Mino kembali bertanya.
Won Sik tampak berpikir sejenak. “Aku tidak yakin. Tapi aku cukup percaya diri dengan spesifikasiku. Aku memiliki banyak pengalaman mengikuti pelatihan leadership. Nilaiku di kampus bagus dan aku memenangkan beberapa penghargaan tentang ide bisnis. Mungkin itu yang membuat Bos Moon memilihku, karena aku memiliki spesifikasi yang bagus.”
“Tepat sekali. Itu maksudku. Pengalaman tidak begitu penting kalau seseorang memiliki spesifikasi yang sangat bagus dan mumpuni. Tekad, kerja keras, kesungguhan, dan rencana bisnis, semua bisa kau lihat dari proposal yang kau pegang itu. Jadi pertimbangkan lagi, dan jangan lupa diskusikan dengan Bos Moon apakah lebih baik menerima pengajuan kerja sama dengan Alvist Company atau tidak.”
“Ya, baiklah. Terima kasih, Seonbae.”
Setelah itu Won Sik pun pergi meninggalkan ruangan Mino. Dan seketika, Mino teringat kembali pada Pak Kim, ayah Lysa, yang kemarin lusa memberikan tonjokan keras pada pipi kirinya sampai bibir Mino berdarah.
Dan mengingat itu kembali, Mino mengembuskan napas panjang panjang.
“Hahh... aku harus segera menemui Pak Kim untuk mengajaknya bicara baik baik. Tapi kenapa tulang rahangku masih sakit karena pukulan itu?”
**