Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Awam Baru Menjadi Istri yang Baik



**Awal Baru Menjadi Istri yang Baik


Yebin Pov**


Aku banyak menerungkan apa yang terjadi pada hari itu. Tentang bagaimana aku memulai untuk menjadi istri yang baik bagi Yul Oppa. Juga tentang bagaimana aku merubah sedikit demi sedikit sikapku yang semula sebagai Kang Yebin si gadis muda yang berjiwa bebas dan tidak bisa diatur, menjadi Kang Yebin istri dari pemilik Moonlight Coffe yang selalu membawa nama baik sebagai Nyonya Moon.


Dari Oppa aku belajar banyak hal sekali mengenai pernikahan. Aku yang semula merasa bahwa menikah tidak menikah tidak ada bedanya, memiliki pemikiran yang berbeda. Benar bahwa setelah menikah seseorang akan menempuh hidup baru. Karena orang yang sudah menikah bukan lagi sigle. Melainkan orang yang akan selalu menyertakan pasangannya dalam setiap tindakan dan pengambilan keputusan. Di sinilah tata kramaku sebagai wanita diagungkan. Di mana aku diberukan tugas berat untuk membawa nama baik suami dan tidak boleh mempermalukan suamiku apalagi membuatnya terlihat lebih rendah di mana orang lain. Karena tugasku adalah menjaga nama baik Oppa. Membuat Oppa selalu dan akan terus menjadi Moon Yul yang dihormati banyak orang.


Ini merupakan sebuah tantangan baru. Sama seperti Oppa yang membawa tanggung jawab besar sebagai suamiku dan memperjuangkan masa depan keluarga kami kelak, tugasku adalah meringankan beban itu sehingga tidak begitu membebani. Tugasku adalah memberikan dorongan pada setiap usaha yang Oppa lakukan baik untuk pekerjaannya maupun untuk dirinya sendiri dan keluarga. Entah itu dorongan secara langsung dan terang terangan, atau dorongan dari belakang yang tidak terlihat.


Ada satu hal lagi yang sampai beberapa hari lalu terasa janggal dalam benak. Yaitu keberadaan Han Lia yang selalu saja menganggu perasaanku.


Han Lia memang telah menandatangani kontrak secara resmi dengan Moonlight Coffe. Sehingga aku sering melihatnya pergi bersama Yul Oppa dan juga orang orang dari Moonlight Coffe untuk mempersiapkan segala jenis promosi yang hendak dilakukan. Mulai dari pemotretan. Syuting video dan iklan. Sampai persiapan festival yang sebagai strategi untuk menaikkan kembali popularitas Moonlight Coffe yang mulai padam gara gara kasus manajer Kwon Suk.


Karena semua persiapan promosi itu mau tidak mau aku harus sering melihat Yul Oppa bersama Han Lia. Yah, meski mereka tidak pernah pergi berdua saja dan selalu didampingi manajer atau stylish nya. Tetap saja, benakku terasa tidak enak saat itu. Namun Oppa tidak pernah lagi memberikan tumpangan pada Han Lia sekalipun gadis itu merengek. Aku mendengar cerita ini dari Jisoo~ssi yang merupakan orang terpercaya Yul Oppa yang banyak membantunya mempersiapkan segala hal. Dan, aku senang bukan kepayang mendengar cerita Jisoo~ssi bahwa Oppa bersikap sangat tegas kepada Han Lia yang sering menggodanya. Dasar wanita jalang. Sudah tau kalau Yul Oppa itu telah memiliki istri, masih saja digoda. Sekali saja ... jika sekali saja aku diberi kesempatan bertemu secara langsung dengan Han Lia, ingin kutusuk matanya dengan kecaman pedasku.


Sejak hari itu, kepercayaahku pada Yul Oppa tumbuh semakin pesat. Aku percaya, bahwa Oppa tidak pernah berbohong padaku. Aku percaya, bahwa Yul Oppa selalu memegang teguh ucapannya bahwa akulah satu satunya wanita untuknya di dunia ini dan tak ada yang bisa menggantikan keberadaanku. Aku memegang kata kata Yul Oppa dan memutuskan untuk memercayainya. Sehingga tidak ada lagi yang perlu kukhawatirkan. Bahkan ketika Han Lia mengirimi pesan beruntun pada Yul Oppa, aku membiarkannya. Karena aku tahu, pesan pesan itu tidak pernah dibalas oleh Yul Oppa. Jangankan dibalas, dibuka saja tidak. Yul Oppa lebih memilih menghubungi langsung manajer Han Lia ketika ingin mengatakan hal yang penting kepada penyanyi centil tersebut.


Dua minggu berlalu sejak promosi Moonlight Coffe gencar dilakukan. Dalam dua minggu ini memang belum ada perubahan yang signifikan karena festival resmi belum dibuka. Namun, aku mengamati setiap harinya satu per satu pelanggan Moonlight Coffe mulai bertambah. Meski bertambahnya tidka sebanyak itu, aku berhawap ini adalah permulaan yang baik atas semua kerja keras yang Oppa lakukan untuk menyelamatkan Moonlight Coffe.


Ini adalah makan malam pertama aku dengan Yul Oppa setelah satu minggu lebih berlalu. Selama lebih dari satu minggu ini, Oppa selalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga pulang larut malam dan tak sempat makan malam denganku. Kadang aku bahkan ketiduran saat menunggunya. Aku ketiduran di sofa ruang tamu dan bangun bangun, aku sudah berada di atas kasur keesokan paginya. Tidak jarang pula Oppa berangkat pagi pagi ka kafe ketika aku belum bangun. Aku yang tak bisa membiarkan Oppa bekerja tanpa sarapan terlebih dahulu, sering membawakan sarapan pagi ke kafe untuk kuberikan pada Oppa.


Kurang lebih dua mingguan terakhir ini Oppa menjadi sangat sibuk mengurusi kafenya. Tubuhnya semakin kurus dan wajahnya menjadi sedikit kusam tak terawat. Karena tak memiliki waktu untuk merawat kulitnya.


Dari luar Oppa selalu tersenyum dan mencoba terlihat ceria seperti biasa. Mencandaiku, menggodaku, dan melontarkan hal hal konyol yang seolah olah menjadi bukti bahwa ia baik baik saja dengan semua kesibukan itu. Namun, aku bukan lagi kang Yebin yang bodoh. Aku tahu, bahwa di balik semua keceriaan dan juga senyuman yang Oppa berikan, ada beban yang sangat besar dan membuatnya kadang merasa tertekan. Sudah pasti aku tahu hal itu. Karena hampir setiap malam aku terbangun, dan melihat Oppa berdiri seorang diri di depan lukisan yang disimpannya di gudang.


Oppa ingin melukis. Oppa ingin melampiaskan semua tekanannya dalam lukisan. Namun, melukis adalah candu. Ketika Oppa mulai melukis, ia akan memiliki ambisi untuk terus melukis dan terus melakukannya. Dan ketika itu terjadi, tugasnya sebagai pemilik kafe akan terbengkalai. Ia tidak bisa melepas tanggung jawabnya sebagai pemilik kafe dan akhirnya menyimpan semua tekanan itu di balik senyum yang selalu ia paparkan.


Makan malam pertama kami ini sangatlah sederhana. Hanya ada kurang lebih tiga menu makanan yang ada di atas meja makan. Tiga menu itu pun aku tidak memasaknya. Aku memesannya melalui pesanan cepat antar karena tak sempat memasakkan untuk Oppa. Kukira, malam ini ia akan makan malam di luar seperti malam malam sebelumnya. Tetapi Oppa pulang lebih cepat dan mengajakku untuk makan malam sederhana.


Begitu aku membuka pembicaraan setelah menyiapkan semua menu makan malam yang baru diantar oleh jasa kurir restoran. Di hadapan kami ada tiga jenis makanan, yaitu daging asam manis, ayam goreng, dan tumis sayuran.


“Tidak apa apa. Toh yang aku inginkan adalah makan malam bersama istri manisku. Jadi apa pun menu makanannya tidak masalah,” jawab Oppa setengah menggoda.


Aku memicingkan kedua mata menatap Oppa yang semakin hari semakin pintar menggoda. Melihatnya terkekeh kekeh seperti itu, aku pun ikut tertawa. Lalu menyuapkan irisan daging asam manis pada Oppa yang otomatis membuka mulutnya untuk menerima suapan dariku.


Kami memulai makan malam sederhana kami malam ini. Setelah beberapa malam aku merasa kesepian karena Oppa yang pulang terlalu larut sampai aku tak sempat melihatnya pulang karena ketiduran, akhirnya malam ini kami bisa makan malam bersama lagi. aku sungguh berharap Oppa bisa sedikit beristirahat dari semua pekerjaannya yang melelahkan. Aku juga sungguh berharap Oppa bisa mengatakan padaku keinginannya yang sesungguhnya.


“Oppa, aku sudah lama memikirkan ini, tapi belum sempat mengatakannya padamu,” ucapku di sela sela kegiatan makan kami.


“Mengatakan apa?”


“Oppa tau kan kalau aku mempekerjakan Somin untuk membantuku mengurusi Biniemoon?”


“Ya, aku tahu. Kau meminta persetujuanku kan untuk melakukannya saat itu?” sahut Yul Oppa yang terlihat lahal memakan tiga jenis makanan yang ada di hadapan kami.


“Pengguna Biniemoon meningkat 0,02 persen setiap harinya. Menurutku itu jumlah yang sangat besar jika diakumulasikan dalam satu bulan terakhir.” Aku bercerita. Oppa mendengarkan ceritaku sambil menganggukkan kepala.


“Lalu?”


“Aku dan Somin sedang mengadakan even di Biniemoon. Ya ... semacam even berhadiah. Aku sedang mendiskusikan tentang hadiah apa saja yang akan kiberikan untuk pelanggan Biniemoon. Dan aku terpikirkan satu hal,” ungkapku.


“Apa itu?”


***