Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Menangis dalam hati



Menangis dalam hati


Pulau yang sangat asri dan indah. Setelah perjalanan selama kurang lebih


empat jam di atas lautan, mereka pun akhirnya tiba di sebuah pulau kecil yang


masih sangat asri dan penuh dengan suasana dingin pepohonan. Pulau yang tidka


begitu luas namun memiliki daya tarik tinggi itu memiliki beberapa bangunan


resort yang tengah dibangun dan dua fila besar yang akan menjadi rumah untuk


penghuninya.


Awalnya Yebin tidak yakin apa gunanya Yul membeli pulau itu dengan harga


yang sangat mahal. Tidak. Justru Yebin sebenarnya tidak pernah mendukung


keputusan Yul itu. Sampai akhirnya Yebin tahu alasan yang sebenarnya Yul


membeli pulau tersebut dan mulai membangun beberapa properti di sana.


Yul memang pernah berkata bahwa saat tua nanti ia ingin tinggal di pulau


kecil dengan keluarganya. Namun, itu hanya menjadi salah satu alasan saja.


Sedangkan alasan lainnya yang mendominasi yaitu, Yul ingin memanfaatkan


kekayaan alam dan keunikan tempatnya untuk mendirikan sebuah galeri seni


miliknya. Benar. Yul ingin menaruh semua karya lukisnya di galeri seni


tersebut. Setelah ia memiliki Hanyul yang juga memiliki bakat besar menjadi


pelukis, Yul memikirkan hal tersebut. Ia ingin mendirikan galeri seni yang


berisi lukisan lukisannya dan juga lukisan anak anaknya kelak. Dan Yul akan


mendukung sepenuh hati anaknya yang bercita cita menjadi pelukis sepeti sang


kakek. Sehingga ia memiliki keinginan mendirikan galeri seni di sebuah pulau


dan membat pulau kecil tempatnya tinggal nanti menjadi ramai oleh orang orang


pencinta seni yang ingin melihat karya seni keluarganya sekaligus berlibur di


sebuah pulau yang masih asri dan natural.


Tidak heran. Pulau itu memang sangat indah. Dari bentuk pulau nya


sendiri. Juga bentuk garis pantai yang melengkung seperti lekukan bulan. Pulau


ini memiliki daya pikat yang tinggi yang bisa menarik perhatian banyak orang.


Tidak heran, seperti yang dikatakan Leo Park saat di kapal, bahwa banyak


pengusaha negeri lainnya yang merasa iri pada Yul yang berhasil memenangkan


lelang untuk membeli pulau ini.


“Cantik sekali. Kenapa kau tidak pernah mengajak aku ke sini sebelumnya,


Sayang?” Begitu turun dari kapal, satu kalimat itu yang Yebin lontarkan. Ia


begitu terkesima dengan keindahan pulau tempatnya berada sekarang.


“Bagaimana aku bisa mengajakmu kemari? Setiap kali aku membahas pulau,


kau pasti marah dan terlihat kesal.” Yul menceletuk sambil merangkul bahu


Yebin. Wajah lelaki itu terlihat sembab karena baru terbangun dari tidur. Sepanjang


perjalanan di atas lautan, Yul tertidur dengan begitu pulasnya. Ia baru bangun


ketika Yebin membangunkannya saat kapal sudah berlabuh.


“Maka dari itu, kenapa Oppa membeli pulau tanpa sepengetahuanku dan


mengatakannya kemudian? Jika mau membujukku, bujuklah dengan cara yang benar. Bukan


dengan diam diam melakukannya lalu membicarakan kalau semua sudah selesia kau


lakukan,” celetuk Yebin kesal.


“Bagaimana caranya membujukmu dengan benar? Setiap hari aku membujukmu


dengan segala cara dan kau selalu marah saat aku membahasnya. Coba kau


bayangkan, jika berada di posisiku, apa yang harus kulakukan?” Yul menyerobot. Ia


sering kali berada dalam posisi serba salah di hadapan istrinya yang cukup


bawel, cerewet, dan banyak maunya.


“Ah, tau ah! Aku tidak mau membahasnya lagi.”


Merasa kesal, Yebin langsung mencerocos demikian dan berlalu meninggalkan


Yul. Ia berjalan dahulu menuju fila yang berdiri beberapa ratus meter dari


pesisir pantai. Meninggalkan Yul yang hanya bisa menghela napas panjang panjang


mendapati kekesalan istrinya.


“Hh. Temperamen orang memang tidak bisa berubah. Anehnya aku tetap


mencintainya saja. Meski apa yang kulakukan sering kali menjadi serba salah di


hadapannya.” Yul menggumam tidak jelas sambil melihat Kang Yebin yang berlalu


pergi, berjalan dahulu sambil menyeret koper berukuran besar.


Melihat kepergian sang istri, Yul langsung menoleh ke belakang. Melihat


anggota keluarga lain dan juga Leo Park yang turun dari kapal satu per satu


dengan barang bawaan mereka.


“Ayah!”


Begitu turun dari kapal, Hanyul menceletuk memanggil sang ayah. Anak kecil


yang memakai topi pantai itu berlari kecil ke arah sang ayah dan langsung


melompat begitu tiba di hadapan sang ayah. Yul pun dengan sergap menerima tubuh


Hanyul ketika melompat dan langsung menggendong putra kecilnya yang menggemaskan


itu.


“Aigoo, Hanyul tidak mabuk laut? Perutnya tidak sakit? Kepalanya juga


tidak sakit?” tanya Yul begitu sang putra berada dalam pelukannya.


Kepala Hanyul menggeleng geleng. Kedua matanya yang bulat itu tampak


berinar binar.


“Tidak mabuk? Wah, anak pintar...” Yul berucap melihat putranya itu


tampak ceria dan tidak terlihat pucat atau pun sakit.


Setelah itu, Yul pun mulai berjalan menuju fila. Sambil menggending tubuh


sang putra, ia menyeret satu koper yang berisi pakaiannya dan pakaian Hanyul.


“Ayah, kenapa Ayah tidur terus? Tadi Hanyul melihat teman lumba lumba


yang melompat seperti kelinci. Hanyul tadi juga melihat burung burung terbang


di atas kapal.” Anak kecil itu berujar. Sepertinya ia merasa sangat sayang


karena ayahnya tadi tidak ikut melihat geromboan lumba lumba di tengah lautan


dan burung burung camar yang terbang mengelilingi kapal yang ia tumpangi.


Yul menanggapi celetukan anak kecilnya dengan terkekeh. Mendengar cerita


anaknya, ia sedikit merasa menyesal karena telah tertidur pulas selama di kapal


tadi.


“Benarkah? Hanyul melihat lumba lumba tadi? Ahh, pasti bagus sekali. Ayah


tidak bisa menemani Hanyul melihat lumba lumba karena tidur ya. Semalam Ayah


tidak tidur sama sekali untuk menjaga Hanyul, ibu, dan nenek. Jadinya ayah


sangat mengantuk saat di kapal dan tertidur bersama Paman Hun.” Yul menjelaskan


dengan bahasa seringan mungkin supaya dapat dipahami dengan mudah oleh putra


kecilnya.


“Kenapa ayah menjaga Hanyul, ibu, dan nenek, dan tidak tidur malam malam?”


lanjut Hanyul bertanya dengan begitu polosnya. Anak kecil itu memiliki rasa


ingin tahu yang tinggi dan keinginan untuk belajar banyak tentang dunia.


“Tentu saja ayah harus menjaga kalian. Saat nanti sudah besar, Hanyul


harus menjadi laki laki yang tangguh dan bisa melindungi orang orang tersayang,


seperti yang ayah lakukan. Hanyul harus menjadi laki laku yang bisa diandalkan


nantinya dan bisa melindungi, ya?” tutur Yul lembut pada putranya.


Anak kecil yang ada di pelukan Yul itu terdiam, merenung. Lalu mengangguk


anggukkan kepala.


“Saat sudah besar nanti... Hanyul ingin menjadi Superman. Seperti ayah,


Hanyul akan melindungi ibu dan nenek!” seru Hanyul sambil mengacungkan tangannya


ke depan seperti yang dilakukan tokoh Marvel, Superman, ketika sedang terbang.


Seruan penuh tekad putra kecilnya itu membuat Yul terkekeh kekeh. “Bagus.


Anak ayah pintar sekali,” desus Yul kemudian mengecup pipi putra kecilnya yang


sangat menggemaskan itu.


“Hyung, biar aku saja yang bawakan.”


Hun yang berjalan dari belakang itu merebut koper yang Yul seret. Hun


melihat kakaknya itu kesulitan menyeret koper sambil menggendong tubuh putra


kecilnya.


“Oh, terima kasih.”


Setelah itu Hun berjalan mendahului Yul. Sementara Yul yang menggendong


Hanyul, membenarkan gendongannya dan lanjut berjalan menuju fila bersama sang


“Ayah,” panggil Hanyul setelah suasana terasa hening selama beberapa


saat.


“Hm? Apa apa, Hanyul-a?”


“Ayah, kenapa ada orang jahat di dunia ini?” tanya Hanyul lugu dengan


raut wajahnya yang menyendu. Ia menatap sang ayah dengan wajah yang penuh rasa


bingung, juga sendu.


Yul terdiam sejenak mencerna pertanyaan Hanyul. Ia tidak mengerti kenapa


tiba tiba putranya itu bertanya demikian. Yang bisa Yul lakukan sekarang adalah


memberinya jawaban yang sangat simpel dan mudah dicerna oleh anak kecil.


“Hmm, kenapa ya? Apa mungkin mereka kurang melakukan hal hal baik? Atau,


apa karena orang jahat itu tidak pernah mendapat kebaikan?” ucap Yul.


Kedua bola mata Hanyul berkedip kedip mencerna jawaban yang dilontarkan


ayahnya. Entah ia mengerti atau tidak, Yul pun tidak tahu. Tetapi kelihatannya


Hanyul sedang mencerna jawaban sang ayah dan memikirkan sesuatu tentang hal


itu.


“Lalu... lalu, apa Paman Leo tidak pernah mendapat kebaikan?”


Mendengar nama Leo Park tiba tiba dibahas oleh Hanyul, yul tergemab. Ia cukup


terkejut sehingga langkahnya berhenti sejenak. Namun ia berusaha untuk tetap


terlihat tenang di hadapan sang putra. Setelah berhasil mengendalikan dirinya,


Yul pun menguntai senyum kepada sang putra. Dalam hati ia menebak nebak,


sepertinya terjadi sesuatu ketika ia tadi tidur di kapal, yang disaksikan oleh


putra kecilnya.


“Kenapa? Apa Hanyul berpikir kalau Paman Leo adalah orang yang jahat?”


tanya Yul lembut.


Wajah Hanyul seketika itu memberengut. Ia menenggelamkan wajahnya di


antara ceruk leher sang ayah. Tidak berani menjawab apa apa. Dan bersembunyi


seoah olah dirinya sedang berlindung kepada sang ayah.


“Tidak apa apa, Hanyul-a. Ayah akan merahasikannya. Katakan saja kepada


ayah, ya? Ada apa? Apa Hanyul melihat atau mendengar sesuatu yang ingin kau


ceritakan pada ayah?”


Dengan susah payah Yul berusaha membujuk putra kecilnya yang tampak


ketakutan itu. Namun Hanyul tetap tenggelam di dalam lehernya dan tak mau


mengatakan apa apa. Membuat Yul merasa berat hati dan akhirnya berkata, “Baiklah.


Tidak apa apa jika Hanyul tidak mau mengatakan pada ayah. Ayah tidak akan


bertanya lagi.”


Yul berusaha menenangkan putranya yang tampak ketakutan itu. Ia dengan


bersusah payah menenangkan Hanyul. Menepuk nepuk punggung Hanyul dan


mengajaknya untuk tetap berbicara dengan mengalihkan pembicaraan pada hal hal


lain. Sehingga akhirnya Hanyul mengatakan sesuatu tentang Leo Park yang membuatnya


berpikir bahwa Leo Park adalah orang jahat.


“Ibu seperti mau menangis, ketika Paman Leo mengatakan hal hal tidak baik


tentang ayah. Ibu menangis di dalam hatinya saat bericara dengan Paman Leo. Ibu


sangat sedih di dalam hatinya. Orang yang membuat orang lain menangis dan


bersedih adalah orang jahat kan Ayah? Paman Leo adalah orang jahat karena


membuat ibu menangis di dalam hatinya.” Hanyul bercerita lirih dengan nada


suara yang mengungkapkan rasa takut dan sedih. Pun ia memeluk tubuh Yul dengan


lebih erat daripada sebelumnya.


Rupanya, itu yang membuat anak sekecil dan selugu Hanyul bertanya tentang


orang jahat kepada ayahnya. Karena ia melihat ibunya dibuat sedih dan menangis


di dalam hati oleh Leo Park.


Hanyul memang seorang anak kecil yang belum banyak mengerti tentang dunai


ini. Namun ia adalah anak pintar yang bisa merasakan emosi dan mengetahui


perasaan orang lain. Saat Yebin memeluknya tadi, Hanyul merasakan kesedihan


yang mendalam pada ibunya. Ia mendengar pernapasan Yebin yang memberat karena


rasa sedih akibat semua yang diucapkan Leo Park. Hanyul juga mendengar ibunya


menangis di dalam hati meski Yebin sama sekali tak meneteskan air mata ketika


berhadapan dengan Leo Park. Namun Yebin sedih. Yebin marah. Yebin takut. Juga tidak


terima terhadap semua ucapan Leo Park yang seenaknya sendiri tentang suaminya.


Yul langsung terdiam mendengar penjelasan panjang putra kecilnya. Sebisa mungkin


ia mencoba untuk terlihat tenang di hadapan sang putra. Yul mencoba menenangkan


Hanyul dengan cara mengelus elus punggungnya dan menuturinya dengan beberapa


kata.


“Begitu rupanya. Hanyul sedih melihat ibu sedih dan menangis di dalam


hati?” tanya Yul yang segera mendapat anggukan kepala dari sang putra. Ia melihat


betapa sedihnya tatapan Hanyul saat ini. Bocah kecil itu kembali murung dan


menenggelamkan wajahnya di leher sang ayah.


“Ayah, jaga ibu dari Paman Leo. Ibu sangat sedih,” gumam lirih anak kecil


itu dalam dekapan sang ayah.


Yul tersenyum hangat. Lalu mengusap lembut kepala Hanyul di atas bahunya.


“Baiklah. Ayah akan menjaga ibu degan baik. Hanyul tidak usah sedih lagi


ya?” kata Yul meyakinkan. Ia merasakan anggukan ringan dari kepala Hanyul yang


mengandar di atara bahu dan lehernya.


Beberapa langkah setelah itu Yul tiba di fila besar yang akan dihuninya


untuk persiapan pernikahan Hun. Tempat dilaksanakannya resepsi adalah di dalam


aula resort yang dibangun beberapa ratus meter dari fila. Namun untuk persiapan


resepsinya sudah ada yang mengatur sehingga Yul dan keluarga tinggal


mempersiapkan diri saja.


“Hanyul-a! Lihatlah, ada kelinci hutan!”


Begitu tiba di teras vila, terdengar suara Hun yang menceletuk. Itu membuat


Hanyul, si penyuka kelinci, langsung membangunkan kepalanya dari leher sang


ayah. Ia menengok ke arah pamannya yang menunjuk sebuah kelinci hutan berwarna


coklat.


Melihat itu, Hanyul langsung meminta diturunkan oleh sang ayah. Ia langsung


berlari ke arah Hun untuk menghampiri kelinci itu. Melihat putra kecilnya yang


langsung ceria kembali karena melihat kelinci hutan, Yul mendesah lega. Ia merasa


jauh lebih baik setelah Hanyul tak murung lagi karena hal hal yang


diceritakannya tadi.


“Bukankah bahaya jika Hanyul bermain dengan kelinci hutan? Kelinci hutan


kan tidak jinak dan liar, nanti Hanyul bisa terluka.”


Mendengar suara Hanyul yang sedang bermain dengan kelinci hutan itu,


Yebin keluar dari vila. Ia merasa khawatir pada Hanyul.


“Itu bukan kelinci hutan, itu adalah kelinci yang sudah jinak dengan


manusia. Aku membawanya kemari waktu melihat pembangunan resort baru.” Yul


menyahut.


“Ah, sungguhkah? Syukurlah kalau begitu,” gumam pelan Yebin sambil


memandangi putranya yang sedang bermain main dengan kelinci bersama Hun.


Yul tiba tiba terdiam memandangi Yebin. Ia memikirkan kembali apa yang


baru saja didengarnya dari Hanyul. Tentang ucapan ucapan tidak baik tentangnya


dari Leo Park yang membuat Yebin menangis di dalam hati.


Saat Yul masih sibuk memikirkannya, tiba tiba Yebin menoleh. Ia mendapati


suaminya yang menatapnya anah dengan wajah yang tidak dapat ia tebak.


“Ada apa Sayang? Kenapa kau menatapku seperti itu?” celetuk Yebin.


Tetapi Yul sudah berjanji kepada Hanyul untuk menjaga rahasia itu. Tentu


ia tidak bisa mengatakan kepada Yebin bahwa Hanyul tahu apa terjadi padanya.


Kemudian Yul pun menggelengkan kepala. Lantas tersenyum tipis.


“Tidak apa apa. Aku hanya merasa kalau semakin hari kau semakin cantik.”


**