
Menangis dalam hati
Pulau yang sangat asri dan indah. Setelah perjalanan selama kurang lebih
empat jam di atas lautan, mereka pun akhirnya tiba di sebuah pulau kecil yang
masih sangat asri dan penuh dengan suasana dingin pepohonan. Pulau yang tidka
begitu luas namun memiliki daya tarik tinggi itu memiliki beberapa bangunan
resort yang tengah dibangun dan dua fila besar yang akan menjadi rumah untuk
penghuninya.
Awalnya Yebin tidak yakin apa gunanya Yul membeli pulau itu dengan harga
yang sangat mahal. Tidak. Justru Yebin sebenarnya tidak pernah mendukung
keputusan Yul itu. Sampai akhirnya Yebin tahu alasan yang sebenarnya Yul
membeli pulau tersebut dan mulai membangun beberapa properti di sana.
Yul memang pernah berkata bahwa saat tua nanti ia ingin tinggal di pulau
kecil dengan keluarganya. Namun, itu hanya menjadi salah satu alasan saja.
Sedangkan alasan lainnya yang mendominasi yaitu, Yul ingin memanfaatkan
kekayaan alam dan keunikan tempatnya untuk mendirikan sebuah galeri seni
miliknya. Benar. Yul ingin menaruh semua karya lukisnya di galeri seni
tersebut. Setelah ia memiliki Hanyul yang juga memiliki bakat besar menjadi
pelukis, Yul memikirkan hal tersebut. Ia ingin mendirikan galeri seni yang
berisi lukisan lukisannya dan juga lukisan anak anaknya kelak. Dan Yul akan
mendukung sepenuh hati anaknya yang bercita cita menjadi pelukis sepeti sang
kakek. Sehingga ia memiliki keinginan mendirikan galeri seni di sebuah pulau
dan membat pulau kecil tempatnya tinggal nanti menjadi ramai oleh orang orang
pencinta seni yang ingin melihat karya seni keluarganya sekaligus berlibur di
sebuah pulau yang masih asri dan natural.
Tidak heran. Pulau itu memang sangat indah. Dari bentuk pulau nya
sendiri. Juga bentuk garis pantai yang melengkung seperti lekukan bulan. Pulau
ini memiliki daya pikat yang tinggi yang bisa menarik perhatian banyak orang.
Tidak heran, seperti yang dikatakan Leo Park saat di kapal, bahwa banyak
pengusaha negeri lainnya yang merasa iri pada Yul yang berhasil memenangkan
lelang untuk membeli pulau ini.
“Cantik sekali. Kenapa kau tidak pernah mengajak aku ke sini sebelumnya,
Sayang?” Begitu turun dari kapal, satu kalimat itu yang Yebin lontarkan. Ia
begitu terkesima dengan keindahan pulau tempatnya berada sekarang.
“Bagaimana aku bisa mengajakmu kemari? Setiap kali aku membahas pulau,
kau pasti marah dan terlihat kesal.” Yul menceletuk sambil merangkul bahu
Yebin. Wajah lelaki itu terlihat sembab karena baru terbangun dari tidur. Sepanjang
perjalanan di atas lautan, Yul tertidur dengan begitu pulasnya. Ia baru bangun
ketika Yebin membangunkannya saat kapal sudah berlabuh.
“Maka dari itu, kenapa Oppa membeli pulau tanpa sepengetahuanku dan
mengatakannya kemudian? Jika mau membujukku, bujuklah dengan cara yang benar. Bukan
dengan diam diam melakukannya lalu membicarakan kalau semua sudah selesia kau
lakukan,” celetuk Yebin kesal.
“Bagaimana caranya membujukmu dengan benar? Setiap hari aku membujukmu
dengan segala cara dan kau selalu marah saat aku membahasnya. Coba kau
bayangkan, jika berada di posisiku, apa yang harus kulakukan?” Yul menyerobot. Ia
sering kali berada dalam posisi serba salah di hadapan istrinya yang cukup
bawel, cerewet, dan banyak maunya.
“Ah, tau ah! Aku tidak mau membahasnya lagi.”
Merasa kesal, Yebin langsung mencerocos demikian dan berlalu meninggalkan
Yul. Ia berjalan dahulu menuju fila yang berdiri beberapa ratus meter dari
pesisir pantai. Meninggalkan Yul yang hanya bisa menghela napas panjang panjang
mendapati kekesalan istrinya.
“Hh. Temperamen orang memang tidak bisa berubah. Anehnya aku tetap
mencintainya saja. Meski apa yang kulakukan sering kali menjadi serba salah di
hadapannya.” Yul menggumam tidak jelas sambil melihat Kang Yebin yang berlalu
pergi, berjalan dahulu sambil menyeret koper berukuran besar.
Melihat kepergian sang istri, Yul langsung menoleh ke belakang. Melihat
anggota keluarga lain dan juga Leo Park yang turun dari kapal satu per satu
dengan barang bawaan mereka.
“Ayah!”
Begitu turun dari kapal, Hanyul menceletuk memanggil sang ayah. Anak kecil
yang memakai topi pantai itu berlari kecil ke arah sang ayah dan langsung
melompat begitu tiba di hadapan sang ayah. Yul pun dengan sergap menerima tubuh
Hanyul ketika melompat dan langsung menggendong putra kecilnya yang menggemaskan
itu.
“Aigoo, Hanyul tidak mabuk laut? Perutnya tidak sakit? Kepalanya juga
tidak sakit?” tanya Yul begitu sang putra berada dalam pelukannya.
Kepala Hanyul menggeleng geleng. Kedua matanya yang bulat itu tampak
berinar binar.
“Tidak mabuk? Wah, anak pintar...” Yul berucap melihat putranya itu
tampak ceria dan tidak terlihat pucat atau pun sakit.
Setelah itu, Yul pun mulai berjalan menuju fila. Sambil menggending tubuh
sang putra, ia menyeret satu koper yang berisi pakaiannya dan pakaian Hanyul.
“Ayah, kenapa Ayah tidur terus? Tadi Hanyul melihat teman lumba lumba
yang melompat seperti kelinci. Hanyul tadi juga melihat burung burung terbang
di atas kapal.” Anak kecil itu berujar. Sepertinya ia merasa sangat sayang
karena ayahnya tadi tidak ikut melihat geromboan lumba lumba di tengah lautan
dan burung burung camar yang terbang mengelilingi kapal yang ia tumpangi.
Yul menanggapi celetukan anak kecilnya dengan terkekeh. Mendengar cerita
anaknya, ia sedikit merasa menyesal karena telah tertidur pulas selama di kapal
tadi.
“Benarkah? Hanyul melihat lumba lumba tadi? Ahh, pasti bagus sekali. Ayah
tidak bisa menemani Hanyul melihat lumba lumba karena tidur ya. Semalam Ayah
tidak tidur sama sekali untuk menjaga Hanyul, ibu, dan nenek. Jadinya ayah
sangat mengantuk saat di kapal dan tertidur bersama Paman Hun.” Yul menjelaskan
dengan bahasa seringan mungkin supaya dapat dipahami dengan mudah oleh putra
kecilnya.
“Kenapa ayah menjaga Hanyul, ibu, dan nenek, dan tidak tidur malam malam?”
lanjut Hanyul bertanya dengan begitu polosnya. Anak kecil itu memiliki rasa
ingin tahu yang tinggi dan keinginan untuk belajar banyak tentang dunia.
“Tentu saja ayah harus menjaga kalian. Saat nanti sudah besar, Hanyul
harus menjadi laki laki yang tangguh dan bisa melindungi orang orang tersayang,
seperti yang ayah lakukan. Hanyul harus menjadi laki laku yang bisa diandalkan
nantinya dan bisa melindungi, ya?” tutur Yul lembut pada putranya.
Anak kecil yang ada di pelukan Yul itu terdiam, merenung. Lalu mengangguk
anggukkan kepala.
“Saat sudah besar nanti... Hanyul ingin menjadi Superman. Seperti ayah,
Hanyul akan melindungi ibu dan nenek!” seru Hanyul sambil mengacungkan tangannya
ke depan seperti yang dilakukan tokoh Marvel, Superman, ketika sedang terbang.
Seruan penuh tekad putra kecilnya itu membuat Yul terkekeh kekeh. “Bagus.
Anak ayah pintar sekali,” desus Yul kemudian mengecup pipi putra kecilnya yang
sangat menggemaskan itu.
“Hyung, biar aku saja yang bawakan.”
Hun yang berjalan dari belakang itu merebut koper yang Yul seret. Hun
melihat kakaknya itu kesulitan menyeret koper sambil menggendong tubuh putra
kecilnya.
“Oh, terima kasih.”
Setelah itu Hun berjalan mendahului Yul. Sementara Yul yang menggendong
Hanyul, membenarkan gendongannya dan lanjut berjalan menuju fila bersama sang
“Ayah,” panggil Hanyul setelah suasana terasa hening selama beberapa
saat.
“Hm? Apa apa, Hanyul-a?”
“Ayah, kenapa ada orang jahat di dunia ini?” tanya Hanyul lugu dengan
raut wajahnya yang menyendu. Ia menatap sang ayah dengan wajah yang penuh rasa
bingung, juga sendu.
Yul terdiam sejenak mencerna pertanyaan Hanyul. Ia tidak mengerti kenapa
tiba tiba putranya itu bertanya demikian. Yang bisa Yul lakukan sekarang adalah
memberinya jawaban yang sangat simpel dan mudah dicerna oleh anak kecil.
“Hmm, kenapa ya? Apa mungkin mereka kurang melakukan hal hal baik? Atau,
apa karena orang jahat itu tidak pernah mendapat kebaikan?” ucap Yul.
Kedua bola mata Hanyul berkedip kedip mencerna jawaban yang dilontarkan
ayahnya. Entah ia mengerti atau tidak, Yul pun tidak tahu. Tetapi kelihatannya
Hanyul sedang mencerna jawaban sang ayah dan memikirkan sesuatu tentang hal
itu.
“Lalu... lalu, apa Paman Leo tidak pernah mendapat kebaikan?”
Mendengar nama Leo Park tiba tiba dibahas oleh Hanyul, yul tergemab. Ia cukup
terkejut sehingga langkahnya berhenti sejenak. Namun ia berusaha untuk tetap
terlihat tenang di hadapan sang putra. Setelah berhasil mengendalikan dirinya,
Yul pun menguntai senyum kepada sang putra. Dalam hati ia menebak nebak,
sepertinya terjadi sesuatu ketika ia tadi tidur di kapal, yang disaksikan oleh
putra kecilnya.
“Kenapa? Apa Hanyul berpikir kalau Paman Leo adalah orang yang jahat?”
tanya Yul lembut.
Wajah Hanyul seketika itu memberengut. Ia menenggelamkan wajahnya di
antara ceruk leher sang ayah. Tidak berani menjawab apa apa. Dan bersembunyi
seoah olah dirinya sedang berlindung kepada sang ayah.
“Tidak apa apa, Hanyul-a. Ayah akan merahasikannya. Katakan saja kepada
ayah, ya? Ada apa? Apa Hanyul melihat atau mendengar sesuatu yang ingin kau
ceritakan pada ayah?”
Dengan susah payah Yul berusaha membujuk putra kecilnya yang tampak
ketakutan itu. Namun Hanyul tetap tenggelam di dalam lehernya dan tak mau
mengatakan apa apa. Membuat Yul merasa berat hati dan akhirnya berkata, “Baiklah.
Tidak apa apa jika Hanyul tidak mau mengatakan pada ayah. Ayah tidak akan
bertanya lagi.”
Yul berusaha menenangkan putranya yang tampak ketakutan itu. Ia dengan
bersusah payah menenangkan Hanyul. Menepuk nepuk punggung Hanyul dan
mengajaknya untuk tetap berbicara dengan mengalihkan pembicaraan pada hal hal
lain. Sehingga akhirnya Hanyul mengatakan sesuatu tentang Leo Park yang membuatnya
berpikir bahwa Leo Park adalah orang jahat.
“Ibu seperti mau menangis, ketika Paman Leo mengatakan hal hal tidak baik
tentang ayah. Ibu menangis di dalam hatinya saat bericara dengan Paman Leo. Ibu
sangat sedih di dalam hatinya. Orang yang membuat orang lain menangis dan
bersedih adalah orang jahat kan Ayah? Paman Leo adalah orang jahat karena
membuat ibu menangis di dalam hatinya.” Hanyul bercerita lirih dengan nada
suara yang mengungkapkan rasa takut dan sedih. Pun ia memeluk tubuh Yul dengan
lebih erat daripada sebelumnya.
Rupanya, itu yang membuat anak sekecil dan selugu Hanyul bertanya tentang
orang jahat kepada ayahnya. Karena ia melihat ibunya dibuat sedih dan menangis
di dalam hati oleh Leo Park.
Hanyul memang seorang anak kecil yang belum banyak mengerti tentang dunai
ini. Namun ia adalah anak pintar yang bisa merasakan emosi dan mengetahui
perasaan orang lain. Saat Yebin memeluknya tadi, Hanyul merasakan kesedihan
yang mendalam pada ibunya. Ia mendengar pernapasan Yebin yang memberat karena
rasa sedih akibat semua yang diucapkan Leo Park. Hanyul juga mendengar ibunya
menangis di dalam hati meski Yebin sama sekali tak meneteskan air mata ketika
berhadapan dengan Leo Park. Namun Yebin sedih. Yebin marah. Yebin takut. Juga tidak
terima terhadap semua ucapan Leo Park yang seenaknya sendiri tentang suaminya.
Yul langsung terdiam mendengar penjelasan panjang putra kecilnya. Sebisa mungkin
ia mencoba untuk terlihat tenang di hadapan sang putra. Yul mencoba menenangkan
Hanyul dengan cara mengelus elus punggungnya dan menuturinya dengan beberapa
kata.
“Begitu rupanya. Hanyul sedih melihat ibu sedih dan menangis di dalam
hati?” tanya Yul yang segera mendapat anggukan kepala dari sang putra. Ia melihat
betapa sedihnya tatapan Hanyul saat ini. Bocah kecil itu kembali murung dan
menenggelamkan wajahnya di leher sang ayah.
“Ayah, jaga ibu dari Paman Leo. Ibu sangat sedih,” gumam lirih anak kecil
itu dalam dekapan sang ayah.
Yul tersenyum hangat. Lalu mengusap lembut kepala Hanyul di atas bahunya.
“Baiklah. Ayah akan menjaga ibu degan baik. Hanyul tidak usah sedih lagi
ya?” kata Yul meyakinkan. Ia merasakan anggukan ringan dari kepala Hanyul yang
mengandar di atara bahu dan lehernya.
Beberapa langkah setelah itu Yul tiba di fila besar yang akan dihuninya
untuk persiapan pernikahan Hun. Tempat dilaksanakannya resepsi adalah di dalam
aula resort yang dibangun beberapa ratus meter dari fila. Namun untuk persiapan
resepsinya sudah ada yang mengatur sehingga Yul dan keluarga tinggal
mempersiapkan diri saja.
“Hanyul-a! Lihatlah, ada kelinci hutan!”
Begitu tiba di teras vila, terdengar suara Hun yang menceletuk. Itu membuat
Hanyul, si penyuka kelinci, langsung membangunkan kepalanya dari leher sang
ayah. Ia menengok ke arah pamannya yang menunjuk sebuah kelinci hutan berwarna
coklat.
Melihat itu, Hanyul langsung meminta diturunkan oleh sang ayah. Ia langsung
berlari ke arah Hun untuk menghampiri kelinci itu. Melihat putra kecilnya yang
langsung ceria kembali karena melihat kelinci hutan, Yul mendesah lega. Ia merasa
jauh lebih baik setelah Hanyul tak murung lagi karena hal hal yang
diceritakannya tadi.
“Bukankah bahaya jika Hanyul bermain dengan kelinci hutan? Kelinci hutan
kan tidak jinak dan liar, nanti Hanyul bisa terluka.”
Mendengar suara Hanyul yang sedang bermain dengan kelinci hutan itu,
Yebin keluar dari vila. Ia merasa khawatir pada Hanyul.
“Itu bukan kelinci hutan, itu adalah kelinci yang sudah jinak dengan
manusia. Aku membawanya kemari waktu melihat pembangunan resort baru.” Yul
menyahut.
“Ah, sungguhkah? Syukurlah kalau begitu,” gumam pelan Yebin sambil
memandangi putranya yang sedang bermain main dengan kelinci bersama Hun.
Yul tiba tiba terdiam memandangi Yebin. Ia memikirkan kembali apa yang
baru saja didengarnya dari Hanyul. Tentang ucapan ucapan tidak baik tentangnya
dari Leo Park yang membuat Yebin menangis di dalam hati.
Saat Yul masih sibuk memikirkannya, tiba tiba Yebin menoleh. Ia mendapati
suaminya yang menatapnya anah dengan wajah yang tidak dapat ia tebak.
“Ada apa Sayang? Kenapa kau menatapku seperti itu?” celetuk Yebin.
Tetapi Yul sudah berjanji kepada Hanyul untuk menjaga rahasia itu. Tentu
ia tidak bisa mengatakan kepada Yebin bahwa Hanyul tahu apa terjadi padanya.
Kemudian Yul pun menggelengkan kepala. Lantas tersenyum tipis.
“Tidak apa apa. Aku hanya merasa kalau semakin hari kau semakin cantik.”
**