
Setelah menyelesaikan kegiatan berteleponnya dengan Sangsik, Yul beranjak masuk ke dalam ruangan. Wajahnya terlihat loyo dan tidak berdaya. Kata kata Yebin tadi masih membekas di hati Yul. Terus berdengung dengung di telinganya. Kata kata semacam ‘... Oppa, kadang kau lebih kejam dari lelaki mana pun, bahkan Leo Park’ mampu menyayat hati Yul. Merobek robek perasaannya seperti tisu. Membuatnya tak berdaya dan tak dapat berbuat apa apa.
Yul sempat bertemu pandang dengan ibu yang sedang mengupas apel sambil menonton siaran drama di televisi. Kemudian ia berjalan menghampiri sang ibu dan duduk di sebelahnya. Membantunya mengupas buah buahan lain seperti buah jeruk.
“Aku tidak bermaksud mendengarnya, tapi apa kalian bertengkar?” tanya Ibu dengan pandangan yang belum teralih pada apel yang ia kupas.
“Sedikit,” jawab Yul ragu.
“Dilihat dari raut wajahmu, sepertinya ini cukup serius,” sahut ibu. Lalu pandangannya menaik, menatap Yul yang benar benar tak berdaya.
Secara otomatis Yul menurunkan pandangannya. Hendak menyembunyikan raut wajahnya tersebut dari sang ibu. Meski pada akhirnya, ibu tahu semuanya tentang mereka.
“Saya hanya sedikit berharap, supaya Yebin bisa mengerti setidaknya sedikit maksud hati saya. Bagaimana pun saya ini seorang suami yang melindunginya. Dengan cara apa pun saya ingin melindungi Yebin supaya tak terlibat dengan urusan yang membahayakan. Tapi dia tidak mengerti maksud saya dan menganggap saya sudah membodohinya, menganggap saya lebih buruk dari orang yang sudah membahayakan nyawanya,” cerita Yul panjang. Napasnya terhela ringan. Ia merasakan hati yang tersayat sayat akibat perlakuan Yebin itu.
“Yebin selalu seperti itu sejak kecil. Saat aku melarangnya melompat dia malah melompat. Saat aku melarangnya menaiki pagar dia malah menaiki pagar. Bahkan saat ayahnya melarangnya bersepeda di jalan raya, dia tetap bersepeda di jalan raya dan akhirnya terluka. Lalu setelah dia terluka dia tidak melakukannya lagi. Awalnya aku sangat geram dan sakit hati kenapa satu satunya putriku itu tidak paham dengan kata kata dan bandel, sangat berbeda dengan anak perempuan pada umumnya. Tetapi aku sadar, rasa geram dan sakit hatiku itu hanya akan menyulitkanku. Jadi aku biarkan saja Yebin bebas. Biar dia melakukan apa pun yang dia inginkan. Dan ketika dia terluka, biar dia tahu itu adalah resikonya. Saat dia terluka karena apa yang dia lakukan, itu saatnya aku memakai peranku sebagai ibu untuk menasihati dan menurutinya.” Ibu menceritakan ulang tentang masa kecil Kang Yebin yang kepalanya sekeras batu itu. Dan sejak dulu Yebin seperti itu. Daripada memahami kata kata, Yebin lebih memahami pengalaman dan luka luka yang ia peroleh dari pengalaman.
Yul mendengarkan smeua cerita itu dalam keheningan. Kemudian memberi tanggapan.
“Tapi saya tidak bisa membiarkannya terluka lagi,” desus pelan Yul. Menghadapi sikap keras kepala Yebin adalah rintangan terbesar Yul sebagai suaminya.
“Luka akan mengajarinya untuk bertahan. Luka akan membuat dia tahu bahwa kau adalah satu satunya orang yang akan menggenggamnya ketika dia terluka. Cukup biarkan Yebin melakukan apa yang dia mau. Dan jangan melepaskannya apalagi meninggalkannya. Kau satu satunya orang yang bisa kupercaya, Menantu Moon. Tidak ada laki laki sepenyabar dirimu untuk menghadapi sikap keras kepala putriku. Yebin nanti akan mengerti ketika memiliki anak yang memiliki sikap keras kepala sepertinya. Saat itu dia akan menyadari betapa pentingnya peranmu selama ini. Dia akan tahu semua itu nanti.” Ibu bertutur panjang lebar kepada Yul. Ia menghening cukup lama sebelum akhirnya kembali menatap Yul lekat dan berucap, “Apa pun yang terjadi jangan lepaskan putriku. Ini adalah permintaanku padamu sebagai ibu.”
Yul merenung selama beberapa saat. Lalu ia tersenyum hangat.
“Saya tidak akan melepaskannya, Ibu. Dia sudah membawa separuh dari jiwa dan kehidupan saya. Tidak mungkin saya sanggup melepaskannya.”
**
Di salah satu sudut kota Seoul, Yebin sedang menepikan mobilnya di bahu jalan. Jalan Seoul tak begitu ramai pada waktu ini. Di dalam mobil itu Yebin masih mencoba mengendalikan emosinya yang meluap luap.
Ia menyungkurkan kepalanya ke depan setir mobil. Mengatur pernapasan dan mengendalikan detak jantungnya yang tidak terkendali. Mengendarakan mobil setelah tak melakukannya cukup lama sedikit membuatnya merasa gugup. Tetapi Yebin memberanikan diri untuk mengendarai mobil sendirian menuju sebuah tempat.
Sebenarnya Yebin bisa saja menggunakan taksi untuk pergi ke tempat itu. Namun karena tahu bahwa itu adalah tempat yang berbahaya, akan lebih baik jika ia mengendarakan mobil sendiri. Selain mudah untuk dia ‘kabur’ ketika terjadi sesuatu, juga untuk menantang lelaki itu bahwa Yebin tak takut berhadapan dengannya.
Satu panggilan masuk membuat Yebin tersadar dari lamunan. Ia segera mengambil ponsel di dalam tas dan menjawab panggilan itu.
“Halo, Somin-a,” sahut Yebin pada orang yang tidak lain adalah Somin. Yang melakukan panggilan telepon dengannya cukup lama tadi itu adalah Somin.
[Bagaimana? Mau kutemani? Telepon kantor sejak tadi berbunyi. Tidak ada karyawan yang berani mengangkat telepon itu] kata Somin di seberang telepon.
“Jangan angkat. Aku akan segera menyelesaikannya. Tunggulah sebentar,” kata Yebin.
Segera setelah itu Yebin menutup telepon. Lantas kembali menyetater mobil dan melesatkannya menuju sebuah tempat yang tidak lain adalah klub malam.
Gara gara masuknya proposal pengajuan kerja sama dari Korean Grand Express, Yebin jadi banyak tahu tentang Leo Park. Diam diam ia menyelidiki lelaki itu. Ia bertanya pada setiap pebisnis yang pernah menyewa jasa Leo Park sebagai konsultan bisnis. Juga bertanya pada beberapa kenalan Yul tentang Leo Park dan segala keanehan yang lelaki itu miliki. Bahkan bertanya pada dua bodyguard yang Yul sewa untuk menjaga ruang perawatan Hun. Dan ternyata kedua penjaga itu tahu siapa Leo Park karena dulu pernah bekerja sebagai pegawai keamanan di klub malamnya sebelum akhirnya mereka dipecat dan dipekerjakan kembali oleh perusahaan keamanan.
Ternyata lelaki itu adalah pemilik dari salah satu klub malam terkenal di negeri ini. Tidak heran jika lelaki itu tampak seperti orang yang memiliki banyak kekuasaan dan koneksi.
Yebin tiba di depan bangunan klub malam yang megah dan tinggi. Di waktu yang masih sore ini, tentu saja klub malam itu masih tutup. Tetapi ada satu pintu dari samping yang memiliki dua orang penjaga.
Yebin turun dari mobil. Berjalan penuh tekad, walau jantungnya kini berdegup kencang, menuju pintu dengan dua orang penjaga itu. Dua penjaga itu bertato, tepat seperti tato dua orang laki laku yang dulu pernah mau menculik Yebin.
“Stop, kau tidak boleh masuk. Siapa kau?”
Dua penjaga bertubuh kekas dan bertato itu seketika menyetop Yebin. Tanpa menjawab apa apa, Yebin hanya menolehkan pandangannya ke arah kamera pengawas CCTV. Dan sedetik kemudian kedua penjaga bertubuh kekar itu mendapat suatu perintah dari earphone yang menyumbat telinganya.
“Oh, silakan masuk. Bos sudah menunggumu.”
Tiba tiba sikap kedua lelaki penjaga itu menjadi begitu lunak kepada Yebin. Dengan sopan mereka mengarahkan Yebin masuk ke dalam bangunan klub malam.
Tempat yang sangat fantastis. Sisi kiri dan sisi kanan Yebin diapit oleh tembok seperti kaca yang bersinar ungu. Tempat penuh gemerlap ini hanya memilik satu lorong panjang menuju sebuah ruangan di ujung.
Yebin tiba di ruangan itu. Tanpa mengetuk, seseorang dari dalam telah membukakan pintu itu untuk Yebin.
Terlihat Leo Park, dengan belagaknya menyambut kedatangan Yebin dengan membungkukkan badan. Senyumnya terbuai lebar sebagai pertanda rasa senang menyambut kedatangan Yebin.
“Selamat datang di kastilku, Tuan Putri.”
Seruan itu menyambut kedatangan Yebin. Di dalam ruangan itu, selain ada Leo Park, ada satu orang lainnya yang berpakaian rapi dan terlihat lebih muda. Juga tiga orang penjaga bertubuh kekar sedang berdiri di belakang meja besar milik Leo Park.
“Aku akan menyiapkan tempat duduk yang paling bagus untuk Tuan Putriku,” kata Leo Park sambil mengarahkan Yebin untuk duduk di kursi sofa paling besar yang kelihatannya itu hanya bisa diduduki oleh Leo Park. Tetapi Yebin tak lantas duduk.
“Aku tidak akan berlama lama di sini. Aku hanya mau berbicara denganmu,” tegas Yebin sambil melirik ke arah empat orang lainnya di dalam ruangan ini.
Leo segera melirik anak buahnya yang lebih muda itu. Memberinya perintah melalui tatapan. Kemudian keempat orang itu pun beranjak keluar dari ruangan Leo Park.
“Sekarang tinggal kita berdua, apa yang mau kau lakukan?” kata Leo Park. Ia berjalan menjauh dari Yebin. Menuju mejanya yang besar. Lalu duduk di bangku kehormatannya sambil menatap Yebin yang masih berdiri di kejauhan. “Aku hampir saja menyuruh anak buahku untuk menculikmu dari rumah sakit. Tetapi kau datang sendiri dengan kedua kakimu. Ini membuatku merasa sangat terhormat.”
“Untuk apa kau menculikku? Bukannya kau sudah tidak suka lagi padaku? Kau berkata bahwa kita hanya teman,” tegas Yebin sambil berjalan mendekat menuju meja besar Leo Park. Melihatnya tersenyum menyeringai.
“Tentu saja karena aku merindukan Tuan Putriku. Dan tidak ada rasa yang bisa hilang semudah itu. Kau sudah membuatku jatuh cinta dan kau harus bertanggung jawab atas itu,” ucap leo Park seenaknya.
Yebin tertawa konyol. “Konyol sekali. Aku tidak melakukan apa apa tapi kau jatuh cinta padaku. Salahkan dirimu sendiri yang sudah jatuh cinta pada orang yang salah.”
“Perlu kau tahu, aku tidak pernah berbuat salah seumur hidupku.”
“Berarti kau bukan manusia,” timpal Yebin. “Tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah. Kau hanya enggan menyalahkan dirimu sendiri atas perbuatan yang kau lakukan.”
Leo Park mencibirkan bibir. Antara percaya dan meremehkan ucapan Yebin.
“Baiklah. Anggap saja aku begitu. Tapi, apa yang membuatmu datang kemari? Tidak mungkin kau kalau kau juga merindukanku?” sahut Leo sambil terkekeh. Itu membuat Yebin perlahan naik darah.
“Aku masih memiliki akal sehat, tak sepertimu,” cetus Yebin sambil mengeluarkan satu benda kotak di dalam tasnya. Mengulurkan barang itu pada Leo.
Sambil mengernyitkan kening, Leo mengambil kotak hitam yang diulurkan Yebin. Membukanya perlahan lahan. Dan seketiaka itu raut wajahnya berubah.
“Untuk sekarang hanya jumlah itu yang aku temukan. Dan entah mengapa aku merada ada lebih banyak dari itu,” kata Yebin. Lalu napasnya terhela panjang. “Aku akan lebih senang jika kau tak melakukan hal semacam ini lagi. Jangan mematai aku dan keluargaku, bahkan bisnisku. Aku tidak mau terlibat lebih jauh lagi denganmu termasuk dalam hal bisnis. Tak akan ada kerja sama antara Biniemoon dengan Korea Grand Express di masa depan. Aku tidak mau berurusan denganmu yang telah memata matai keluargaku dan bahkan mau membunuhku lewat kecelakaan.”
“Itu kesalahan!” sentak Leo Park. Wajanya berubah panik ketika Yebin menyinggung kembali kecelakaan yang pernah ia alami dan nyaris merenggut nyawanya.
Yebin mengamati dengan baik setiap perubahan pada raut wajah Leo Park. Melihat lelaki itu panik dan gugup. Bibirnya mulai mengering. Dan matanya sedikit bergetar saat menatap Yebin.
“Kukira kau menyukaiku. Kukira kau benar benar menganggapku seperti Tuan Putri. Tetapi kau hampir saja membunuhku. Kau membuatku menangis dengan tubuh gemetar ketakutan menghadapi sebuah kematian. Kau laki laki yang hampir merenggut nyawaku, kau tidak pantas untuk sekedar menyukaiku. Laki laki yang benar benar menyukai wanita tidak akan pernah menyakiti wanitanya. Tapi kau nyaris membunuhku, artinya tidak benar benar menyukaiku dan hanya beromong kosong untuk mengelabuhi suamiku!” Yebin berucap dengan segenap emosi yang ia limpahkan.
“Kubilang itu kesalahan!” Leo Park berteriak dan spontan berdiri dari duduk. “Aku tidak pernah berniat untuk melukaimu barang setitik. Aku laki laki sejati yang benar benar mencintai seorang wanita dan itu adalah kau!”
“Kau melukaiku! Kau sudah membuat tubuhku dibelah menjadi dua dengan rusuk yang tercabik cabik. Kau sudah membuatku merasakan sakit yang tidak tertahankan sampai aku merasa mau mati,” cetus Yebin. Serangannya yang bertubi itu membuat tubuh Leo Park melemas. Ia seketika berlutut di atas lantai dengan pandangan kosong yang menatap lurus ke depan. Lalu Yebin melanjutkan dengan bola mata yang berkaca kaca seperti ingin menangis. “Kau tidak tau betapa takutnya aku menghadapi kematian karena kecelakaan yang kau buat. Aku berteriak sekencang kencangnya tapi tidak ada yang mendengarkan. Aku menangis sekencang yang aku bisa tapi rasa sakit itu semakin mencekam.”
Leo seperti hampir terperangkap dalam rencana Yebin. Yang Yebin rencanakan adalah membuat Leo Park mengakui semua kejatahannya tentang kecelakaan itu. Yebin ingin membuat Leo mengaku dengan jebakan yang ia persiapkan.
Pandangan Leo semakin nanar ketika semua perkataan Yebin menyerap dengan baik di telinganya. Tubuhnya yang terasa lemas hanya bertumpuan lutut. Yebin mengamati dengan baik semua yang terjadi pada Leo yang kelihatannya benar benar terpukul atas semua serangan yang ia luncurkan itu.
Yebin melihat Leo yang mulai meneteskan air mata. Pandangannya masih nanar dan penuh penyesalan.
“Aku ... aku tidak bermaksud melukaimu. Aku tidak pernah berniat melukaimu dengan cara apa pun. Kecelakaan itu terjadi di luar kendaliku. Aku... aku tidak pernah berniat melukaimu. Aku hanya laki laki yang memiliki perasaan terlarang pada seorang wanita yang sangat dikaguminya. Aku tidak berniat melukaimu lewat kecelakaan atau apa pun. Aku tidak berniat melukai siapa pun. Kecelakaan yang menimpamu dan Hakim Hun... aku terlibat apa pun.”
Leo menaikkan pandangannya pada Yebin dan tersenyum licik.
Sial! Yebin gagal membuat lelaki itu mengaku.
Perlahan, Leo bangkit dari tumpuan lututnya. Mendekat pada Yebin dengan sisa air mata yang belum kering dari wajahnya. Di sisi lain, Yebin terkejut bukan kepayang dan perlahan dirayapi rasa takut.
Leo berdiri tepat di hadapan Yebin yang memasang raut wajah tegang. Lelaki itu tersenyum licik dan meraih salah satu tangan Yebin. Mengusapkan tangan Yebin pada wajahnya untuk menghapus sisa sisa air mata yang membasahi pipi.
“Bagaimana ya? Aku tidak tahu apa pun tentang kecelakaan itu.”
Setelah itu Leo menarik tangan Yebin dan membuat tubuh Yebin tertarik secara spontan kepadanya.
“Agh!” pekik Yebin ketika tiba tiba Leo menarik tubuhnya dan menjepit leher Yebin menggunakan lengan kirinya yang kekar.
Jantung Yebin berdetak dengan amat kencang ketika punggungnya bertempelan dengan tubuh Leo bagian depan. Lengan Leo mengapit leher Yebin seolah olah ingin mencekik Yebin jika ia memberikan perlawanan.
Tangan Leo merogoh tas bahu yang menggantung di pundak Yebin. Mengambil ponsel di dalamnya. Lalu mematikan alat perekam yang sejak tadi merekam semua percakapan mereka di dalam sini. Begitu alat perekam itu mati, Leo berbisik dengan lirih di telinga Yebin.
“Aduh, rencanamu gagal. Apa yang akan kau lakukan?” ucap Leo lirih di dekat telinga Yebin. Suara rendahnya yang terdengar seperti ancaman itu membuat tubuh Yebin bergidik ketakutan. Namun Yebin berusaha sebisa mungkin untuk berani.
Yebin tak dapat berkutik sedikit pun. Jika ia melawan, lengan Leo Park yang kekar itu akan benar benar mencekiknya.
Leo merasakan tubuh Yebin yang bergetar ketakutan. Sebagai seorang laki laki sejati, tentu ia tidak akan membiarkan wanita yang dicintainya bergidik ketakutan. Leo menarik tubuh Yebin semakin dekat dan memeluknya dari belakang. Merasakan tubuh dingin dari wanita yang amat dikaguminya itu.
“Jika pada akhirnya kau ketakutan seperti ini, seharusnya kau tidak berniat datang, Sayangku. Seharusnya kau tidak perlu repot repot menyusun rencana murahan yang pada akhirnya gagal dan sia sia. Kau pikir aku ini lelaki bodoh? Aku pikir aku akan jatuh pada tipu muslihat yang kau buat buat itu? Jika kau pikir aku akan semudah itu jatuh pada perangkapmu, kau salah salah kaprah. Aku bukan lelaki seperti yang kau bayangkan. Aku ... adalah orang yang licik tapi pintar. Aku bertahan hidup dengan kelicikan dan juga otak pintarku. Aku memiliki cukup kekuatan untuk membinasakan suami yang sangat kau cintai itu. Lebih berhati hatilah, Sayangku. Aku akan menemputmu setelah tiba waktunya.” Leo mengatakan semua itu dengan lirih di dekat telinga Yebin. Aroma harum tubuh Yebin menguar dan membelai penciuman lelaki itu. Ia makin terlena dan kemudian mengecup pelan leher sang wanita.
Cuuppppp.
“Sekarang kau kembalilah, aku akan membiarkanmu pergi hari ini. Pulanglah dan habiskan banyak waktu bersama suamimu selagi kau masih bersamanya. Aku sedang merencanakan sesuatu agar kau bisa menjadi milikku seutuhnya, dengan melenyapkan suamimu dari dunia ini. Bersabarlah sampai aku bisa memilikimu, dan jangan datang lagi kemari. Wanita yang datang kemari tanpa kuminta adalah wanita yang secara sadar menyerahkan tubuhnya padaku dan tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini. Tapi aku akan membiarkanmu pergi, karena kau adalah cintaku. Sekarang pergilah. Semoga kau beruntung. Dan jangan sia siakan sedikit waktu yang tersisa dengan suami tercintamu. Karena setelah itu aku yang akan menggantikan kedudukannya di hatimu.”
Sekali lagi, Leo mengecup leher Yebin lalu melepaskan cengkeramannya. Yebin, yang seketika tubuhnya terasa lemas hanya melangkah maju perlahan lahan dengan bola mata yang bergetar, hati yang tercabik cabik, harga diri yang terluka, dan menggigir bibirnya untuk menahan tangisan.
**