
Perasaan Tak Terdeskripsikan
Berkat bantuan Leo Park, satu keluarga yang terlantar di pelabuhan karena
penundaan keberangkatan itu pun berhasil mendapatkan tempat tidur yang baik di
sebuah penginapan dekat area pelabuhan. Leo Park memiliki sebuah resort kecil
yang dibangun di daerah pelabuhan dan diperuntukkan untuk orang orang yang
berada di posisi seperti Yul dan keluarganya. Begitu mendapatkan telepon dari
adiknya, Jina, Leo Park yang pada waktu itu masih berada di Seoul, langsung
menelepon manajer hotel untuk mengosongkan dua kamar di hotel miliknya dengan
cara apa pun. Ya, benar sekali. Dengan cara apa pun!
Namun karena hal itu, akhirnya
Hanyul mendapatkan tempat yang baik untuk beristirahat. Begitu Leo Park
bertindak, manajer hotalnya mengosongkan dua unit kamar premium dan segera
menelepon Jina. Pada waktu itu juga keluarga besar itu berangkat menuju hotel
untuk memberikan tempat tidur yang baik untuk Hanyul yang sebelumnya terlelap
di area peristirahatan dengan lantai yang dingin.
Sore harinya, Leo Park melakukan penerbangan dari Seoul dan akhirnya tiba
di pelabuhan Busan. Mendengar keluarga besar itu yang malam nanti akan
berangkat menuju pulau pribadi Yul, Leo Park merasa tertarik dan berencana ikut
pergi bersama mereka. Lagi pula, sebetulna Leo Park berhak berhak saja ikut
dengan mareka. Karena ia adalah keluarga Jina. Dengan alasan ingin memastikan
adiknya baik baik saja dan tentunya ingin membantu menyiapkan pernikahan di
pulau, Leo Park pun datang ke Busan. Bersama keluarga besar Yul untuk menunggu
keberangkatan menuju pulau.
Alasan pernikahan tersebut di laksanakan di pulau adalah untuk mencegah
kericuhan. Apabila diingat seberapa populernya Moonlight Coffe dan Moonlight
Retail saat ini, juga seberapa banyak orang mengenal Yul melalui wawancara
majalah atau pun wawancara di televisi, pasti kabar mengenai adiknnya, yang menjadi
hakim di Mahkamah Agung yang akan melangsungkan pernikahan karena menghamili
rekan kerjanya sendiri, akan tersebar dengan sangat luas dan menghebohkan. Karena
itulah Yul merencanakan pernikahan Hun tersebut diselenggarakan di pulau
pribadi yang beberapa bulan lalu ia beli.
Pesta itu akan dilaksanakan kecil kecilan. Dengan hanya mengundang orang
orang terdekat seperti teman, kerabat, dan garis keluarga dari kedua belah
pihak pengantin. Hun tidak ingin pernikahannya dihadiri banyak orang. Ia menginginkan
pernikahan yang sederhana namun sangat bermakna karena dilaksanakan di tempat
yang berbeda dari kebanyakan pengantin melangsungkan pernikahan.
Hari sudah menggelap seiring dengan matahari yang menenggelamkan dirinya
di ujung barat. Waktu sudah memasuki pukul tujuh malam. Setelah kelelahan
bermain main dengan burung camar yang ada di tepi pantai, Hanyul telah beranjak
tidur kembali. Ia sedang terlelap di kamar hotel bersama Yebin yang menemani
tidurnya.
Sementara bocah kecil itu telah bersemanyam dengan nyaman di alam mimpi
bersama sang ibu, keempat anggota keluarga lainnya tengah mengadakan pesta
samgyeopsal di samping penginapan. Keempat orang dewasa yang bersama duduk
mengelilingi meja bundar itu, tengah memanggang samgyeopsal dengan beberapa
ikan laut segar dan juga sayuran pedesaan. Dengan ditemani beberapa botol soju
yang tidak pernah dilupakan setiap kali menyantap samgyeopsal.
“Nanyi Yebin akan bergabung kan?” Di sela kegiatan makannya, Hun
bertanya. Sungguh sayang jika Yebin tak mengikuti makan malam kali ini.
“Dia berkata akan bergabung setelah memastikan kalau Hanyul benar benar
terlelap,” jawab Yul selagi memasukkan satu potong samgyeopsal yang telah
dipanggang ke dalam mulut.
“Nanti biar aku saja yang gantian menemani Hanyul tidur di kamar. Biar Yebin
bergabung makan malam bersama kita. Kasihan sekali dia sejak tadi belum sempat
makan karena menemani Hanyul bermain di tepi lantai lalu menidurkannya. Lagi pula,
tubuhku yang sudah renta ini tidak sanggup terkena udara malam yang sangat
dingin.” Ibu Miyoon, yang sedang memanggang daging samgyeopsal di atas
penggorengan dan memotong motongnya menggunakan gunting, menyahut.
Sebagai wanita yang telah berpengalaman menjadi ibu, pasti ia juga
merasakan apa yang dirasakan Yebin. Lupa makan karena menemani anak bermain. Tidak
sempat pergi ke mana mana karena harus mengawasi sang anak yang masih dalam
tahap pemulihan. Pasti Yebin mengalami banyak kesulitan.
“Biar saya saja yang memotongnya, Ibu.”
Di sebelah Miyoon duduk, Jina menawarkan bantuan. Ia merebut dengan
perlahan gunting yang dipegang Miyoon. Lantas melanjutkan apa yang Miyoon
lakukan; memotong motong daging samgyeopsal dan membolak baliknya sampai
matang. Kemudian irisan samgyeopsal yang sudah matang itu dilahap oleh kedua
lelaki yang duduk di seberang meja bundar sambil meneguk satu seloki soju.
“Ibu, makan juga samgyeopsalnya.”
Yul mengambil dua potong samgyeopsal yang sudah matang sempurnya di atas
penggorengan. Lantas meletakkan dua potong daging tersebut ke atas piring kecil
di hadapan ibu. Bermaksud supaya ibunya itu juga memakan makanan yang
dipanggangnya.
“Aku tidak usah. Badanku sakit semua karena makanan ini banyak
kolesterol. Menantu Moon, saat kau nanti bertambah tua, badanku akan lebih
sensitif menerima makanan makanan yang kau konsumsi. Jadi kalian bertiga, san
tentu saja Yebin, harus menjaga pola hidup dan pola makan supaya lebih sehat. Supaya
saat seusiaku nanti bisa tetap bugar.” Miyoon berucap panjang lebar sambil
melanjutkan kegiatan memanggang.
Miyoon memang cukup sering mengeluhkan badan sakit semua. Karena itu ia
rutin pergi ke dokter dengan ditemani Yul atau Yebin, dan terkadang juga Hun,
untuk memeriksa tubuhnya yang semakin renta karena sudah tua.
“Ibu, apa setelah diperiksakan kemarin Ibu masih gampang lelah? Apa perlu
saya periksakan ke dokter lain saja? Atau ke rumah sakit tradisional?” tanya
Yul. Terakhir kali ia menemani ibu berobat ke rumah sakit adalah satu minggu
yang lalu.
“Tidak usah. Seusiaku ini memang gampang lelah. Aku cukup lebih banyak
beristirahat saja.” Miyoon mengimbuhkan.
“Kalau begitu, ibu masuk saja. Biar ini saya yang lanjutkan.” Jina
mengimbuhkan. Ia mengambil sumpit lain dan juga gunting untuk melanjutkan
pekerjaan ibu memanggangkan daging untuk kedua laki laki yang terlihat
kelaparan ini.
“Bolehkan begitu?” Miyoon meyakinkan.
“Tentu saja, Ibu. Biar saya saja yang lanjutkan. Ibu bisa istirahat di
dalam.”
“Baiklah. Tolong urus kedua anak lelakiku yang suka makan ini ya.” Miyoon
beranjak dari duduk sambil menepuk pelan bahu Jina yang melanjutkan
pekerjaannya memberi makan kedua lelaki bermarga Moon ini.
“Istirahatlah dengan baik, Ibu.”
Yul menceletuk seiring berlalunya Miyoon meninggalkan mega mereka yang
dipenuhi oleh kepulan asap dari Samgyeopsal dan juga aroma gurih dari daging
yang dipanggang oleh Jina.
“Apa kakakmu jadi datang kemari?” Di sela kegiatan makannya, Hun bertanya
kepada sang kekasih yang sedang memotongi daging samgyeopsal di atas
pemanggang.
“Dia akan datang kemari. Sebentar lagi dia mungkin akan datang,” jawah
Jina yang sedang berkonsentrasi memanggang daging samgyeopsal.
“Syukurlah. Aku merasa sangat beterima kasih pada kakakmu. Jika bukan
karenanya, mungkin kita semua tidak akan bisa setenang ini menikmati makan
malam sambil mendengar suara deburan ombak.” Hun lanjut berkata.
Tidak lama setelah mereka membicarakan Leo Park, lelaki yang dibicarakan
itu pun muncul kemudian. Sebuah mobil datang perlahan bersama alunan suara
ombak yang mengiringi. Malam makin mensunyi. Deru mobil yang dikendarakan Leo
Park itu terdengar begitu jelas dan khas sehingga membuat ketiga orang yang
duduk mengelilingi meja bundar ini menolehkan kepala.
Perlahan lahan Leo Park turun dari mobilnya. Ia memperlihatkan senyum
menawan, yang entah bagaimana caranya terasa sangat ambigu untuk Moon Yul yang
melihatnya. Seolah olah senyum itu adalah perisai untuk menyembunyikan sejuta
keburukan dan kejahatan tersembunyi yang ia perbuat.
Leo Park berjalan menghampiri meja bundar yang dikelilingi oleh dua laki
laki dan satu perempuan yang tidak lain adalah adiknya, Jina. Kemudian ia
meletakkan satu toples minuman herbal yang baru dibelinya di sebuah toko
tradisional dalam perjalannya dari kota Busan menuju kemari.
“Apa manajer hotel sudah memberikan kualitas kamar yang bagus untuk
kalian semua? Dia tidak memberikan kamar yang biasa ke kalian kan?” celetuk Leo
Park begitu tiba di meja bundar. Ia duduk di atas kursi yang tadi ditempati
Miyoon, tepat di sebelah Jina.
“Kami sangat berterima kasih padamu. Paling tidak yang kami butuhkan itu
adalah tempat yang baik dan hangat untuk tempat tidur Hanyul,” jawab Hun. Raut wajahnya
menujukkan rasa terima kasih yang besar kepada Leo Park yang sudah repot repot
menyiapkan penginapan untuk mereka malam ini.
“Tidak masalah. Sudah seharusnya aku berbuat sesuatu kepada kalian, sebagai
kakak yang baik untuk Jina,” ungkap Leo Park. “Oh iya, ini aku membeli minuman
herbal untuk kalian. Nanti malam kan kalian mau melakukan perjalanan di atas
laut. Minuman tradisional ini bagus untuk menangkal mabuk. Hanyul juga bisa
mengonsumsinya karena ini murni dari tanaman herbal dan sudah pasti
menyehatkan.”
“Begitukah? Syukurlah. Terima kasih, Oppa. Sebenarnya kau sudah
menyiapkan untuk kami menginap saja, kami sudah sangat berterima kasih.” Jina
menceletuk senang mendengar kakaknya yang sangat perhatian itu.
Begitulah Jina memandang Leo Park selama ini sebagai kakak yang baik hati
dan sangvat perhatian. Leo park selalu memperlakukan Jina sebagai adik yang
benar benar ia jaga. Dan juga selalu memperhatikannya di segala hal. Awalnya
telah terhapus setelah Jina mendengar pengakuan pengejutkan dari Leo Park.
Sebelumnya Leo Park pernah mengaku menyukai Kang Yebin di hadapan Jina. Ini
yang membuat Jina merasa tidak nyaman dan selalu menjaga jarak dengan Hun maupun
dengan Yebin. Tetapi, seiring berjalannya waktu, entah bagaimana ceritanya,
lelaki itu tiba tiba berkata kepada Jina bahwa ia tak menginginkan hal lain
lagi. Ia memutuskan untuk menghapus perasaannya yang tidka mungkin itu kepada
Kang Yebin. Ia juga berkata kepada sang adik, bahwa melihat Yebin bahagia
bersama suaminya itu sudah membuatnya merasa lega.
Dari pengakuan itu, Jina telah menghapuskan semua kecurigaanya kapada
sang kakak. Dan memercayakan sepenuhnya pada sang kakak. Sehingga Jina menjadi
sangat terbuka kepada Leo Park. Berkeluh kesah kepada sang kakak. Menceritakan semua
kegundahan dan kegelisahannya pada sang kakak yang benar benar bisa ia percayai
sejak saat itu. Apalagi Leo Park juga mendukung hubungan Jina dengan Hun. Hal ini
yang membuat Jina merasa benar benar percaya dan bisa mengandalkan kakaknya,
Leo Park, dalam urusan apa pun. Termasuk dalam pekerjaannya. Apalagi Leo park
adalah seseorang yang memiliki banyak sekal koneksi, sehingga ia sering
membantu Jina dalam menyelesaikan suatu sengketa di pengadilan.
Setelah bercakap cakap dengan Jina, Leo Pak mengalihkan pandangannya pada
Yul yang duduk di berhadap hadapannya dengannya, berseberangan meja. Leo Park
bertatapan dengan Yul. Lantas memperlihatkan senyuman canggung.
“Tuan Moon... oh, tidak... mulai sekarang harusnya aku memanggilmu
Hyungnim. Sebentar lagi kita kan menjadi besan. Ya kan?” celetuk Leo Park
meramahkan diri dengan Yul.
Menanggapi celetukan itu, Yul hanya tersenyum tipis. Senyuman yang ia
lekukkan dengan hati hati itu membuat kedua lesung pipinya tampak begitu manis
menghiasi wajahnya.
“Aku tidak pernah mempermasalahkan panggilan. Jadi panggil saja sesuamu,
aku tidak keberatan,” jawab Yul.
“Ngomong ngomong, kapan kalian nanti akan berangkat pukul berapa?” lanjut
Leo bertanya, mencairkan suasana.
“Paling cepat nanti pukul dua belas. Tapi kemungkinan akan molor.” Hun
menjawab lalu memauskkan satu irisan daging samgyeopsal ke dalam mulutnya.
“Lama juga.”
Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah meja
bundar. Itu adalah Yebin, yang baru bangun karena perutnya terasa sangat lapar.
“Sayang, kau sudah bangun?” Yul memanggil melihat istrinya berjalan
mendekat. Dengan inisiatif lelaki itu menasik satu kursi lipat ke sebelahnya
untuk diduduki sang istri yang terlihat sangat lemas dan mengantuk. “Duduklah
sini. Kau pasti lapar kan?”
“Terima kasih, Sayang.”
Yebin langsung duduk di atas kursi yang Yul persiapkan. Kemudian ia
mengambil peralatan makan sedangkan Yul mengambilkan beberapa irisan daging
samgyeopsal untuk disantap istrinya yang terlihat begitu lemas.
“Huh, aku lapar sekali. Apa di sini semuanya sudah makan?” tanya Yebin. “Oh,
terima kasih, Sayang.” Yebin lanjut berucap ketika Yul meletakkan dua irisan
daging samgyeopsal di atas seendok nasi yang akan ia lahap.
“Kita semua sudah makan, Eonni. Jadi Eonni bisa habiskan semuanya.” Jina
berucap sambil memanggangkan daging samgyeopsal untuk Yebin yang terlihat
begitu kepalaran. Ia cukup prihatin melihat kakak iparnya yang kelaparan itu.
“Terima kasih.”
“Ini, makan sekalian. Kelihatannya kau lapar sekali,” sahut Hun sambil
mengulurkan cumi cumi mentah yang diirisi dan dicelupkan ke dalam saus
gochujang (pasta cabai fermentasi) kepada Yebin.
“Terima kasih banyak, Hun Oppa. Aku memang lapar sekali.” Yebin menggumam
gumam dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
“Oleh karena itu, kenapa kau tidak memakan shandwich yang tadi aku
belikan? Setidaknya kau bisa memakan shanwich itu sambil bermain dengan Hanyul,”
sahut Yul. Ia juga merasa bersalah pada istrinya. Pasalnya, siang tadi ia sibuk
mengursi barang barang bawaan bersama Hun dan sibuk berdiskusi dengan petugas
di pelabuhan terkait kendala kapal yang mereka sewa. Sehingg siang sampai sore
tadi ia tak bisa membantu Yebin mengurus Hanyul sementara ibu dan Jina juga
sibuk mengurusi hal lain.
“Bagaimana aku bisa memakan shanwich di saat Hanyul tidak boleh
memakannya? Makanan cepat saji itu kan yang paling harus dihindari Hanyul. Jadi
mana bisa aku memakan makanan cepat saji secara terang terangan di hadapan
Hanyul? Menelannya saja aku tidak sanggup, Oppa. Jadi aku hanya memakan sisa
sisa roti dan susu milik Hanyul tadi sore.” Yebin menjelaskan panjang lebar
kepasa sang suami. Mulutnya masih penuh dengan makanan. Ia makan dengan cepat
sekali sampai membuat Yul benar benar merasa prihatin.
“Waktu kita masih banyak. Makanlah pelan pelan. Kau bisa sakit
pencernaan.” Yul berucap pelan sambil mengelus ngelus punggung Yebin yang
hampir saja tersedak karena makan terlalu cepat. “Ini, minum,” imbuh Yul sambil
mengulurkan segelas air putih yang segera diteguk oleh Yebin. Ia lanjut
mengelus ngelus punggung Yebin supaya membuatnya sedikit lebih tenang dan
santai menyantap makan malamnya, tidak seperti dikejar deadline.
“Baiklah, Sayang.”
Sementara Yebin melanjutkan kegiatan makan malam, Yul beranjak dari
duduk.
“Mau pergi ke mana Sayang?” sahut Yebin sambil mengernyit bingung.
“Ke pinggir pantai, merokok sebentar.” Yul menjawab tak acuh.
“Habiskan satu batang saja, ya! Jangan banyak banyak.” Yebin menceletuk. Celetukannya
itu segera dibalas dengan anggukan kepala oleh Yul yang berjalan menjauh. Menuju
pantai.
“Apa Hyung merokok lagi? Bukannya dia sudah berhenti sejak lama?” tanya
Hun yang juga melihat kepergian kakaknya.
Yebin menghela napas. “Dia sudah berhenti. Tetapi kalau sedang banyak
pikiran dan juga stres, dia akan menenangkan diri dengan menghabiskan satu atau
dua batang rokok.”
“Ahh, begitu rupanya.” Hun menyahut.
“Sepertinya suamiku sedang banyak pikiran karena pernikahanmu, Hun Oppa. Yah,
seperti hati seorang ayah yang sebentar lagi akan menikahkan salah satu
putranya. Pasti perasaannya bercampur aduk, antara senang, bangga, sedih,
terharu, dan semuanya.” Yebin lanjut menjelaskan.
Kepala Hun mengangguk angguk pelan. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan
kakaknya itu.
Bagi Hun, Yul adalah kakak sekaligus orang tuanya. Hun dapat membayangkan
apa saja yang sedang Yul rasakan ini.
**
Malam semakin hening dan larut. Suara deburan ombak terdengar semakin
nyaring seperti gemuruh hujan yang dengan anehnya membuat perasaan menjadi
tentera. Di sudut pinggir pantai, Yul berdiri seorang diri memandangi
pemandangan hitam di hadapannya. Hitam. Benar benar hitam. Air laut menjadi hitam,
begitu pun langit. Pasir pantai yang terasa lembut di alas sepatu juga terlihat
hitam. Kecuali satu cahaya bulan yang memantul di atas air laut dan bergoyang
goyang terkena gelombang, tidak ada yang menerangi langit yang begitu luas itu.
Dengan tenang dan perlahan Yul
menghisap rokok yang mengapit di antara jari tangannya. Kemudian mengepulkan
asap putih rokonya bersama semilir angin lautan yang dingin begitu mencekat.
Dalam sekejap, asap putih rokok yang mengepuk dari mulut Yul itu hilang
dan membaur bersama angin malam yang dingin. Lelak itu terus melanjutkan
kegiatan merokoknya di tepi pantai. Menikmati kesendirian bersama deru lembut
ombak ombak lautan. Satu batang rokok. Dua batang rokok. Saat hendak menyalakan
batang rokok yang ketika, tiba tiba saja seseotang muncul dari belakang dan
merebut batang rokok yang baru akan dinyalakan oleh Yul.
“Aku tadi sudah peringatkan kan, satu batang saja cukup.”
Yebin yang muncul dari belakang Yul itu langsung menceletuk setelah
merebut batang rokok yang diapit dengan kedua jari Yul. Ia lanjut merebut satu
bungkus rokok yang ada di genggaman tangan Yul. Memasukkan satu batang rokok ke
dalam bungkusnya. Lalu memasukkan bungkus rokok itu ke dalam saku pakaiannya.
“Tidak bagus untuk kesehatanmu, Oppa. Bagaimana jika tidak sengaja Hanyul
melihatmu merokok dan menirukanmu saat dewasa nanti? Rokok dan asap rokok
adalah pantangan terbesar Hanyul.” Yebin lanjut mengomel.
Mendengar itu, Yul hanya tersenyum getir. Kali ini lesung pipinya tak
terlihat karena senyum tipisnya yang nyaris tidak terlihat.
“Maaf. Aku hanya sedang sangat....” Yul berucap. Namun ia sendiri tak dapat
meneruskan ucapan itu karena perasaannya yang sedang bercampur aduk.
Yebin pun mendekat pada sang suami. Lalu memeluknya dari samping.
“Kenapa? Apa karena pernikahan Hun Oppa?” tanya Yebin meyakinkan.
Terdengar napas panjang Yul yang terembus keluar. Ia membalas pelukan
Yebin dengan tatapan yang lurus mengatap hitamnya langit dan lautan malam ini.
“Salah satunya. Rasanya seolah olah aku harus rela melepaskan salah satu
orang yang kusayangi di dunia ini. Seolah olah....” Yul bercerita singkat. Selama
ini ia menganggap Hun adalah satu satunya keluarga yang ia miliki. Satu satunya
adik yang kadang masih ia perlakukan seperti anak anak, seperti saat kedua
duanya masih kecil sampai remaja.
“Itu wajar. Karena selama ini Sayang sudah hidup bersama adikmu dan
memperlakukannya sebagaimana seorang kakak. Aku merasa bisa memahaminya.” Yebin
bertutur dengan lembut.
Yul tersenyum lembut. Ia mengeratkan pelukannya pada Yebin. Kemudian mengecup
keningnya dengan hangat.
“Terima kasih, sudah mengerti.”
**