Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
My First Kiss



Bab 6


My First Kiss


“Oh, itu pasti wanita itu. Saat tadi


menelepon, dia berkata akan segera datang.”


Di tempat duduknya, Lysa menceletuk ketika


mendengar langkah kaki elegan dari seorang wanita. Ia yakin sekali. Wanita yang


sedang berjalan mendekat itu pasti wanita bernama Jiwon yang tadi meneleponnya,


yang mengaku sebagai teman dekat dari Ajeossi yang sekarang sedang dirawat di


atas ranjang IGD rumah sakit itu.


Namun raut wajah Mino tak terlihat senang


sama sekali. Ia menunjukkan tatapan misterius kepada Lysa. Raut wajahnya


terlihat serius, seperti sedang memikirkan sesuatu secara mendalam.


“Ajeossi, ada apa?” tanya Lysa lirih ketika


melihat raut wajah Mino yang tak seperti biasanya.


Tuk tuk tuk. Langkah kaki itu semakin


mendekat.


Mino yang duduk di atas ranjang tidur itu


langsung meraih tangan Lysa menggunakan tangan kirinya. Membuat Lysa seketika


beranjak dari tempat duduk dan duduk di atas ranjang tempat Mino dirawat. Saat


ini Mino sudah kehabisan akal. Begitu Lysa duduk di hadapannya, ia langsung


mencium bibir gadis itu dan membuat tubuh Lysa seketika memaku.


“Mino ya, kudengar kau mengalami kecela...”


Saat wanita brenama Jiwon itu menyibak


tirai bilik tempat Mino berada, yang tersaji di depan matanya adalah sepasang


manusia yang sedang berciuman. Mino... dengan gadis muda itu... berciuman.


Gendang telinga Mino menangkap dengan jelas


suara yang keluar dari mulut Jiwon. Namun ia pura pura tak mendengar. Kedua


matanya terpejam sementara bibirnya bermain main dengan bibir Lysa yang lembab.


Tanpa memedulikan kedatangan wanita itu, Mino meneruskan kegiatan berciumannya


dengan Lysa selama beberapa saat. Ia terlanjur larut dalam ciuman itu. Begitu


pun Lysa yang mengikuti setiap lumatan bibir Mino yang lembut terhadapnya.


Sementara kedua manusia itu larut dalam dunia


masing masing bersama ciuman yang dalam itu, Jiwon yang menyangsikannya berdiri


memaku. Wanita bertubuh tinggi langsing dengan high heel setinggi delapan senti


itu tertegun selama beberapa saat dengan kedua bola mata yang bergetar. Lalu


sesaat kemudian, ia menyadari apa yang harus ia lakukan.


“Ba... baiklah. Aku akan menunggumu di


luar.”


Setelah itu terdengar suara langkah kaki


Jiwon yang berjalan menjauh. Begitu tak terdengar lagi suara langkah kaki itu,


Mino melepaskan ciumannya. Perlahan lahan ia menjauhkan bibirnya dari Lysa.


Lelaki itu menatap wajah Lysa yang memerah.


Terdengar deru napas gadis itu yang


terengah engah. Begitu pun napas Mino yang masih mendesus cepat karena begitu


larut dalam ciuman yang dibuatnya.


Sementara Lysa masih mengumpulkan kesadaran


dalam otak karena ciuman pertamanya yang memabukkan itu, Mino yang terlebih


dahulu sadar dari situasi ini berdeham deham pelan.


“Ehmn... ehm..”


“Ajeossi, apa yang kau lakukan?” Lysa yang


akhirnya sepenuhnya sadar dari mabuknya itu, langsung melontarkan pertanyaan


pada laki laki yang baru saja berdeham deham. Ia menatap Mino dengan pandangan


yang dipenuhi rasa bingung. “Kenapa tiba tiba Ajeossi... menci ... menciumku?”


lanjut Lysa bertanya.


Sejenak Mino terdiam. Memikirkan jawaban.


Sejujurnya, tindakannya tadi hanya spontanitas saja. Lelaki itu hanya ingin


melakukan sesuatu di hadapan mantan kekasihnya. Semacam... ingin meluncurkan


seragan balas dendam. Karena sudah cukup ia terlihat sangat menderita dan


menyedihkan di hadapan Jiwon yang telah meninggalkannya demi bersama laki laki


lain. Sekarang saatnya untuk Mino memperlihatkan bahwa ia baik baik saja dengan


Jiwon, dan tetap bisa menjalani kehidupan yang normal sebagai laki laki. Mino


yang tengah berada di situasi terdesak karena hal itu. Dan hanya ada Kim Lysa


di hadapannya. Tidak ada pilihan lain. Mino hanya memanfaatkan keberadaan Lysa.


Itu saja.


Saat Mino masih kebingungan mencari cari


jawaban atas pertanyaan Lysa, seorang perawat datang menghampiri mereka.


“Pasien Han Mino. Anda sudah diperbolekan


pulang.” Perawat itu berkata sambil melepaskan peralatan infus yang terpasnag


di tangan kiri Mino.


“Oh, iya. Terima kasih.” Mino spontan


menjawab ucapan perawat itu sambil menekan bekas jarum infus di lengan kirinya


untuk menghentikan perdarahan.


Sementara itu Lysa masih menatap Mino penuh


tanda tanya. Ciuman pertamanya... ciuman yang ia nanti nantikan sepanjang


hidupnya, dirampas oleh seorang Ajeossi yang baru saja Lysa kenal.


“Ajeossi, kenapa kau tidak menjawab


pertanyaanku?” protes Lysa yang membuat Mino mengembalikan pandangan kepada


Lysa. Menatap wajah Lysa yang penuh protes dan tanda tanya.


Mino menghela napas panjang. Ia tak tahu


apa yang harus ia katakan kepada gadis ini.


“Maafkan aku. Aku akan menjelaskannya lain


kali.”


**


“Hh! Tcih. Aku benar benar tak bisa berkata


kata!”


Dengan penuh rasa kesal Lysa pergi


meninggalkan rumah sakit. Ia sungguh dibuat kesal olah Ajeossi bernama Ham Mino


yang tiba tiba menciumnya lalu berkata maaf karena sudah menciumnya! Apa


pikirannya sedangkal itu? Kalau ujung ujungnya minta maaf, harusnya kan tidak


usah mencium Lysa dan mencuri ciuman pertama gadis itu? Sungguh keterlaluan!


Dalam hati Lysa mengumpat ngumpat. Bukan


hanya kehilangan ciuman pertama yang sudah ia jaga selama lebih daru dua puluh


tahun. Tetapi ia juga kehilangan harga diri di hadapan laki laki yang sudah


membuatnya membolos kelas bahasa Indonesia di universitas.


Lysa sungguh tidak habis pikir. Sebenarnya


apa yang lelaki itu inginkan dengan menciumnya seperti tadi? Apa lelak itu


orang mesum yang haus merasakan gairah kepada gadis muda seperti Lysa? Atau


jangan jangan ... Lysa hanya dimanfaatkan di hadapan wanita bersepatu kaca yang


bernama Jiwon atau siapa lah itu? Jika Lysa memang hanya dimanfaatkan untuk


keuntungan pribadi Mino, Lysa bersumpah tidak akan memaafkannya! Ia terlanjur


marah karena peristiwa mencengangkan yang terjadi beberapa waktu lalu.


Saat ini hari sudah sore. Kelas bahasa


Indonesia yang harusnya ia ikuti bersama mahasiswa lain yang berasal dari


Indonesia untuk pendalaman bahasa Korea itu pastinya sudah berakhir. Percuma


saja Lysa kembali ke kampus sekarang. Tempat yang bisa ia tuju hanya ada dua.


satu asrama, dua perpustakaan. Namun ini masih terlalu sore  untuk kembali ke asrama. Sehingga Lysa memutuskan


untuk menuju perpustakaan begitu tiba di kampus dengan menaiki transportasi


umum bus.


Perpustakaan kampus cukup sepi di waktu


yang sudah petang seperti ini. Hanya telihat beberapa mahasiswa tampak sedang


konsentrasi belajar di meja perpustakaan dengan buku buku yang bertumpuk di


atas meja. Ada juga seorang bibi penjaga perpustakaan yang sedang menyusun buku


ke dalam rak.


“Sudahlah. Lupakan saja. Aku harus


mengerjakan esaiku untuk besok.”


Sembari menggumamkan itu, Lysa


menggelengkan kepala. Berusaha mengusir kejadian yang terus terngiang ngiang di


kepalanya. Tentang  ciuman itu. Ciuman


pertamanya. Itu yang sejak tadi mengisi kepala Lysa dari perjalanannya dari


rumah sakit menuju ke kampus.


Lysa berjalan menjelajahi perpustakaan.


Mencari buku buku di rak untuk ia jadikan referensi menulis artikel esay untuk


salah satu tugas mata kuliah.


Ketika Lysa masih sibuk mencari buku


referensi, tiba tiba ada seseorang berdiri di sebelah kirinya dan menyahut,


“Kemana saja kau sampai bolos dari kelas yang kuajar?”


Lelaki itu adalah Brian. Ia sedang mencari


beberapa buku bacaan seselesainya mengajar sebuah kelas. Dan uniknya, ia


bertemu dengan salah satu mahasiswa di kelas yang ia ajar, yang hari ini bolos


tak mengikuti pelajaran.


“Oh, Sam!” pekik Lysa lirih ketika terkejut


melihat Brian berdiri di sebelahnya.


Brian menolehkan kepala. “Aku tidak segan


memberimu nilai D jika sekali lagi kau bolos,” ucap lelaki itu tegas.


“Ahh, Sam... Ada urusan mendesak yang tidak


bisa aku tinggalkan. Jadi, ampuni aku kali ini saja. Hm? Aku harus lulus kelas


tambahasanmu dalam satu tahun dan tidak mau mengulang tahun depan.” Lysa


merengek sambil memegangi lengan Brian.


“Maka dari itu, kalau kau ingin cepat lulus


dari kelas bahasa itu, kenapa kau bolos? Meski pun aku mengenalmu dengan baik,


aku juga tidak bisa meluluskan mahasiswa yang tidak disiplin dan suka


membolos.” Brian kembali menegaskan.


Lysa tahu, bahwa Brian adalah sosok dosen


yang sangat tegas terhadap mahasiswanya. Ia tidak bisa mengelak apa pun karena


hari ini ia memang membolos kuliah gara gara seorang Ajeossi sakit yang tidak


mau ditinggalkan sendirian di rumah sakit.


“Baiklah. Aku tidak akan bolos lagi. Tapi


jangan berikan aku nilai D ya? Aku ingin mengajukan beasiswa untuk tahun


depan,” kata Lisa sambil berbisik di telinga Brian.


“Tergantung seberapa baik kau mengerjakan


tugas kuliahmu. Semua mahasiswa di sini tahu, kalau aku sangat pelit dalam


memberikan nilai. Jadi bekerja keraslah. Merengek padaku seperti ini tidak akan


mengubah nilai akhirmu.”


Begitu selesai melontarkan semua kalimat


itu, Brian berjalan pergi meninggalkan Lysa di rak buku sebelah sana. Lelaki


itu beranjak pergi meninggalkan perpustakaan begitu mendapatkan buku yang ia


cari untuk bacaan. Meninggalkan Lysa di perpustakaan yang masih ingin


“Sudah kuduga, dia memang Sam yang kukenal.


Keras kepala dan tidak toleran.” Lysa mengambil beberapa buku dari rak dengan


gusar sambil menggumam gumam kesal kepada Brian yang sudah menghilang dari


pandangannya. Sungguh. Kenapa dia dikelilingi dengan laki laki yang sangat bisa


membuatnya merasa kesal? Lysa merasa hidupnya ini tidak cukup beruntung tentang


laki laki.


Lysa duduk di salah satu bangku


perpustakaan untuk mengerjakan esai. Mulai membuka buku buku yang ia ambil dari


perpustakaan.


Tepat sepuluh menit. Sepuluh menit Lysa duduk


manis di bangku perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Dan ada satu panggilan


masuk yang mengganggi kegiatannya. Panggilan itu berasal dari Brian.


Panggilan itu hanya masuk dalam waktu


singkat. Belum sempat Lysa menjawabnya, Brian lebih dahulu memutuskan


panggilan. Lalu setelah itu ada satu pesan masuk dari Brian. Lelaki itu


mengirimkan pesan kepada Lysa. Isi pesan teksnya adalah ‘Kau belum makan malam


kan? Aku tunggu di depan labolatorium. Ayo kita makan keluar.’


Lysa hanya menghela napas panjang membaca


pesan teks dari Brian. Perutnya memang lapar. Sangat lapar. Sungguh lapar.


Tapi, ia baru saja duduk manis di tempat ini untuk mengerjakan tugas. Kalau


memang ingin mengajak Lysa makan, kenapa Brian tidak mengatakannya sejak tadi


ketika Lysa masih belum memulai mengerjakan tugas? Jika sudah seperti ini, Lysa


merasa sangat sayang untuk meninggalkan tugasnya, apalagi suasana hatinya benar


benar sedang sempurna untuk mengerjakan esai.


Tetapi kebutuhan perut Lysa lebih penting


dari apa pun saat ini. Tidak ada pilihan lain. Mau tidak mau gadis itu harus mengkhiri


kegiatannya dan menemui Brian untuk makan malam bersama.


“Kenapa tidak katakan saat kau masih ada di


hadapanku tasi saja, Sam? Aku sudah memutuskan untuk menahan laparku malam ini.


Tapi, karena diajak, aku tidak punya pilihan lain selain mengiyakan.”


Begitu bertemu dengan Brian di depan


labolatorium biologi, Lysa menceletuk. Sejujurnya ia sama sekali tidak berniat


menahan rasa laparnya malam ini. Ia hanya sedikit menunda makan sampai ia


menyelesaikan tugas esainya di perpustakaan. Tapi karena Brian tiba tiba mengajaknya


keluar untuk makan, Lysa pun tak memiliki pilihan selain mengiyakan ajakan


lelaki itu.


“Buat apa kau menahan lapar? Apa sedang


diet?” tukas Brian.


“Diet? Aku sama sekali tidak berpikir untuk


diet. Justru aku ingin memakan apa pun yang aku inginkan tanpa mempertimbangkan


berat badan.”


“Baguslah. Lagian, makan sebanyak apa pun,


kau akan tetap segitu. Tinggimu tidak akan bertambah lagi dan badanmu juga tidak


akan segemuk sapi.” Lelaki itu kembali menukasi.


Lysa menghela napas panjang panjang. “Sial...


Aku bahkan tidak bisa menyangkal apa pun.”


Lysa yang tidak bisa membalas ejekan Brian


itu pun hanya berjalan di belakang lelaki itu. Mengikutinya menuju sebuah


tempat. Tibalah mereka di toserba yang berdiri tidak jauh dari gedung


labolatorium.


“Hah, jadi Sam ingin mengajakku keluar


makan malam di toserba? Benar benar... keterlaluan. Hampir setiap hari aku


makan malam ditoserba. Dan sekarang kau pun mengajakku makan malam di toserba


setelah apa yang terjadi hari ini.” Selagi mengikuti langkah Brian masuk ke


dalam toserba, Lysa mengomel ngomel.


Ia mengambil satu cup ramyeon, dua batang


sosis sapi, kimchi instan, keju mozarella, dan susu pisang. Meletakkan barang


barang itu ke atas meja dalam toserba sambil menunggu cup ramyeon yang baru


disiramnya dengan air panas itu matang.


“Memang apa yang terjadi padamu hari ini? Bukannya


kau tadi siang makan bersamaku di restoran?” tanya Brian tak mengerti.


Lysa menghela napas panjang panjang. Membuka


bungkus beberapa makanan yang ada di hadapannya.


“Hari ini... sepertinya aku benar benar


sial. Kecuali makan malam bersama orang tuamu di restoran dan bisa bertemu


dengan mereka, aku benar benar siap hari ini.” Lysa bercerita.


“Ada apa? Apa kau bertemu pria mesum?”


tanya Brian yang seketika membuat Lysa membelalakkan mata.


“Pria mesum? Ah.. aku tidak tahu. Tidak


tahu. Tidak ingin kupikirkan!” Lysa yang menggeleng gelengkan kepala sambil


mengaduk mie kuah di dalam cup itu menandakan bahwa ia benar benar tak ingin


mengingat ingat kejadian yang ia alami.


Melihat Lysa yang tak ingin menceritakan


lebih lanjut, Brian pun mengangguk angguk. Ia memulai kegiatan makan malamnya


bersama Lysa di toserba yang akan buka sampai pukul sepuluh ini.


“Sam,” panggil Lysa.


“Hm?”


“Apa artinya ketika seorang laki laki


mencium seorang perempuan secara tiba tiba tapi kemudian si laki laki itu


mengucapkan maaf?” tanya Lysa.


Kepala Brian sedikit memiring untuk


memikirkan jawaban Lysa. “Hm... apa laki laki dan perempuan itu berpacaran?”


“Tidak. Mereka bahkan baru saja kenal.”


Brian mengangguk anggukkan kepala. Sembari lelaki


itu berpikir panjang, Lysa menatapnya dengan serius, menanti nanti jawaban apa


yang akan terlontar dari Brian.


“Kalau begitu, yang pasti ciuman tidak


tulus. Apa laki laki itu mengatakan hal selain kata maaf?” lanjut Brian


bertanya.


“Tidak.” Lysa menjawab dengan spontan. Lalu


ia teringat suatu hal. “Ah, benar! Selain mengatakan maaf, laki laki itu juga


berkata kalau dia akan menjelaskannya nanti.”


Napas panjang Brian terhela. “Seratus


persen aku yakin. Kalau laki laki itu hanya memanfaatkan si gadis untuk suatu


hal tertentu. Makanya dia meminta maaf dan akan menjelaskannya nanti.”


Raut wajah Lysa tampak kecewa ketika


mendengar kata itu dari Brian. Entah apa yang sebenarnya gadis itu harapkan. Namun


sepertinya ia mengharapkan suatu makna yang lebih dari ciuman yang tadi


diberikan oleh laki laki bernama Han Mino.


“Begitu rupanya,” desus pelan Lysa bersama


rawa kecewa yang tidak bisa ia sembunyikan dari wajah.


“Siapa?” tanya Brian sesaat kemudian.


“Eh? Siapa apanya?”


“Siapa laki laki yang menciummu untuk


memanfaatkanmu itu?”


“Uhuk uhuuk!”


Mendengar pertanyaan tidak terduga Brian,


Lysa seketika tersedak. Ia nyaris saja menyemburkan semua makanan yang ada di


mulutnya. Namun Lysa berhasil menahan diri dan hanya terbatuk batuk karena


tersedak. Tergesa ia pun meminum susu pisang yang ada di kanannya karena rasa sedakan


yang menyakitkan di tenggorokan.


“Katakan, siapa laki laki brengsek yang


menciummu itu?” lanjut Brian ketika melihat Lysa sedang menelan susu pisang


dengan bersusah payah.


Huhh.


Lysa yang berhasil mengendalikan batuk itu


pun menaikkan pandangan. Menatap Brian yang terlihat sangat penasaran. Bagaimana


Brian tau kalau yang ditanyakan Lysa tadi adalah pengalaman pribadi Lysa


sendiri?


“Ti—tidak. Aku tidak sednag membicarakan


diriku. Aku hanya... aku hanya bertanya. Te.. temanku yang mengalaminya. Bukan aku,


sungguh. Temanku. Temanku yang bertemu dengan laki laki brengsek itu.” Lysa


berusaha menjelaskan situasi tersebut dengan penuh kebohongan. Meski sejujurnya


ia tak yakin apa Brian akan memercayai kebohongan yang sangat kentara ini.


“Hei, Kim Lysa. Jangan coba coba berbohong


padaku. Apa kau tahu kalau caramu berbohong itu sangat payah?” celetuk Brian


yang seketika mematahkan rasa percaya diri Lysa.


Baiklah. Percuma saja ia berbicara dengan


laki laki yang memiliki sedikit empati seperti Brian. Lelaki itu tidak akan


pernah mau bersikap bodo amat terhadapnya atau bahkan berpura pura saja untuk


tidak mengetahui kebohonga yang Lysa lontarkan. Brian bukanlah laki laki


yang  bisa Lysa harapkan. Bahkan meski sekarang


Lysa masih menaruh perasaan yang cukup dalam terhadap Brian, Brian yang sangat


tidak peka itu tidak akan tahu dan tidak mau tahu. Karena Brian telah menolak


Lysa di masa lalu. Lelaki itu memilih untuk tetap menjadi sosok kakak laki laki


untuk Lysa alih alih menjadi kekasih hati Lysa. Tidak peduli betapa besar Lysa


menginginkannya, Brian tidak akan memandang Lysa sebagai perempuan. Maka lebih


baik Lysa menjalani hubungan yang seperti ini saja dengan Brian. Dengan cara


ini, perlahan lahan ia pasti busa meleburkan perasaannya terhadap laki laki tak


berempati itu.


Bersama dengan helaan napas yang panjang,


Lysa menggumam pelan, “Lupakan saja, Sam. Aku tidak mood untuk membicarakan hal


itu. Aku hanya memiliki sesuatu untuk kukatakan padamu.”


Brian mengerutkan kening. “Apa?”


“Suatu saat, jika kau memiliki kekasih, aku


harus jadi orang pertama yang kau beri tahu. Okey? Maka dari itu, kalau suatu


saat aku jatuh cinta pada laki laki, Sam akan menajdi orang pertama yang kuberi


tahu. Bagaimana?” Lysa berucap. Ia membuat kesepakatan dengan Brian. Sudah cukup


cinta tak terbalasnya terhadap laki laki itu. Sekarang... Lysa menginginkan


yang rasanya jatuh cinta.


Lysa ingin jatuh cinta. Ia ingin dicintai. Ia


ingin mencintai seseorang tanpa merasa terbebani dengan apa pun.


Sejenak Brian menimbang nimbang perkataan


Lysa. Setelah memikirkannya, ia menjawab.


“Okey. Sepakat.”


**