Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Perasaan dibutuhkan itu sangat indah



Bab 15


Perasaan dibutuhkan itu sangat indah


“Aigoo, terima kasih sudah mau datang. Maaf. Tiba tiba saja si bungsu sakit. Aku tidak bisa pergi ke mana mana karena harus membantu istriku mengurus bungsu.”


Mino yang berdiri di depan pintu itu disambut oleh Moon Yul yang sedang membukakan pintu untuknya. Seharusnya keduanya sekarang bertemu di kafe untuk membicarakan suatu permasalahan di Moonlight Coffe. Namun Yul tiba tiba menelepon Mino bahwa dirinya tidak bisa datang ke kafe karena putra bungsunya yang beru berumur  lima bulan itu sakit demam. Dan karena permasalahan kafe itu sangat mendesak, akhirnya Mino memutuskan untuk datang ke rumah Yul dan bertemu di sini.


“Tidak apa apa, Bos.” Mino membalas ucapan Moon Yul sambil tersenyum ramah. Ia melihat ke arah bayi lima bulan yang ada dalam pelukan Yul yang sedang menangis.


“Masuklah.”


Setelah itu Moon Yul mengajak Mino masuk ke dalam rumahnya yang besar. Mengarahkannya untuk duduk di atas sofa.


“Duduklah, Mino ya.”


“Ngomong ngomong, Han Bin sedang sakit apa Bos?” tanya Mino selagi menatap bayi kecil menggemaskan yang sedang menangis di pelukan Moon Yul.


“Ah, si bungsu demam. Semalam aku lupa manurunkan suhu pendingin ruangan sehingga si bungsu tidur dalam keadaan AC yang menyala. Aaahh, ini salahku. Maafkan ayah ya Sayang. Muahh.” Moon Yul mencium kepala bayi kecilnya karena merasa begitu bersalah.


“Sebentar ya. Kau tunggu sebentar di sini.” Yul lanjut berkata sambil menoleh ke arah Mino. Mino pun menganggukkan kepala dan setelah itu Moon Yul langsung berjalan menuju lantai dua bersama putra bungsunya yang sedang menangis.


Sementara sang bos naik menuju lantai dua, Mino menebarkan pandangan ke sekeliling. Mengamati bagian dalam rumah Moon Yul yang tatanannya sedikit berbeda dari ketika Mino datang terakhir kalinya, sekitar enam bulan lalu untuk membicarakan masalah kafe.


Rumah ini memang cukup besar. Namun pas untuk dihuni sepasang suami istri bersama ketiga anaknya. Interior bagian dalam rumahnya juga unik dan berkelas. Ada beberapa lukisan yang bertandan tangankan Moon Yu. Serta ada lukisan lain yang bertanda tangankan pelukis kecil yang tidak lain adalah Moon Hanyul, alias putra sulung Moon Yul. Serta, di tengah tengah ruangan juga terdapat foro pernikahan Moon Yul dan Nyonya Moon, juga foto keluarga yang kelihatannya baru diambil. Karena dalam foto keluarga tersebut, Han Bin yang merupakan putra bungsu Moon Yul sudah lahir dan sedang berada di pangkuan Nyonya Moon.


“Ayah! Gendong aku. Gendong aku, Ayah!”


Dari arah tangga terdengar suara nyaring seorang anak perempuan kecil yang sedang melompat lompat di samping Moon Yul. Gadis kecil itu adalah Yenni, putri kedua di keluarga ini. Tampaknya ia sedang mengejar ayahnya yang berjalan menuruni tangga menuju lantai satu.


“Ayah akan bekerja dulu, Sayang. Bermainlah bersama Oppa ya?” jawab Yul sambil mengangkat tubuh si putri kecilnya.


“Tidak mau! Oppa sedang mengerjakan PR. Aku akan dimarahi ibu kalau mengganggu Oppa yang sedang mengerjakan PR. Aku mau bersama ayah saja,” celetuk gadis kecil itu dengan ceria.


Tidak ada pilihan lain. Yul pun membawa putri kecilnya turun bersamanya. Menghampiri Mino yang sudah menunggunya di sofa.


“Maafkan aku. Beginilah keadaan rumahku, penuh dengan suara nyaring Yenni dan tangisan si bungsu. Hanya putra pertamaku yang sudah besar dan mengerti ketika dinasihati. Kalau Yenni ini, dia sangat keras kepala seperti ibunya.” Begitu duduk di atas sofa dan berhadap hadapan dengan Mino, Moon Yul menceletuk. Ia terkekeh kekeh sambil memangku Yenni yang sedang menenggelamkan wajah di dalam dadanya karena malu berhadapan dengan Mino.


Mino ikut tersenyum mendengar cerita Moon Yul tentang keluarga yang sangat meriah ini.


“Pasti menyenangkan sekali. Anda pasti tidak pernah merasa kesepian.” Mino menanggapi cerita Yul dengan tersenyum lebar. Dalam hati, Mino sudah mendambakan sebuah keluarga kecil yang bahagia.


“Tentu menyenangkan. Tapi juga membuat kepalaku terasa pusing. Yenni yang keras kepala sering membuat kakaknya kesal dan marah marah. Kalau tidak begitu, dia mengganggu ibunya yang sedang menyusui si bungsu. Aku tidak bisa membayangkan dua tahun lagi akan seprerti apa.” Yul lanjut bercerita. Lalu ia menoleh pada gadis kecilnya dan berkata, “Yenni ya, sapalah paman. Dia Paman Mino, coba sapalah.”


“Halo, Yenni. Kau tumbuh semakin cantik saja.” Mino menyapa anak kecil itu dengan senyum ramah dan raut wajah yang menyenangkan.


Tetapi Yenni yang kelihatannya malu malu itu langsung menyembunyikan wajahnya di depan dada Yul. Ia tampak malu mentap Mino dan malu untuk membalas sapaannya.


“Ada apa? Bukannya Yenni selalu berkata kalau Yenni menyukai laki laki tampan seperti di televisi? Paman Mino ini tidak kalah tampan kan?” Yul yang melihat putri kecilnya itu terlihat malu malu kucing, tambah menggodanya. Dan itu membuat Yenni semakin malu. Gadis itu memukul mukul lengan ayahnya dan semakin menempel padanya.


“Hahaha.” Mino yang mendapati sikap mengenaskan gadis itu, hanya tertawa renyah.


“Jadi, kapan kau akan berangkat ke Pulau Jeju?” Lanjut Yul bertanya. Ia mulai membuka pembicaraan dengan pembahasan kafe.


“Nanti sore saya akan berangkat. Karena itu saya memerlukan persetujuan Bos Moon untuk beberapa dokumen. Sekaligus ada yang harus saya katakan tentang manajer Moonlight Coffe cabang Jeju.” Mino berucap.


“Ah, nanti sore kau sudah mau berangkat rupanya. Dokumen apa yang kau butuhkan untuk kutanda tangani?” tanya Yul.


Mino pun mengeluarkan sesuatu dari tas kerja yang dibawanya. Menarik dua lambar dokumen kafe yang terjepit di dalam sebuah map. Kemudian mengulurkannya pada Moon Yul.


“Ini laporan keseluruhan pendapatan dan pengeluaran kafe satu bulan terakhir. Dan yang satu ini adalah data dari suplier yang ingin mengurangi pasokan kopi ke Moonlight Coffe cabang Jeju.” Mino berucap sambil mengulurkan lagi satu dokumen yang baru ditariknya dari dalam tas kerja.


Moon Yul mulai membaca dokumen pertama yang diberikan Mino. Mencermati laporan tersebut dengan teliti.


“Penjualan kita menurun, khususnya di beberapa cabang,” kata Yul berkomentar setelah melihat laporan tersebut.


“Ya. Cabang kafe yang mengalami penurunan penjualan itu adalah kafe yang memasok kopi dari suplier di pulau Jeju. Saya rasa, permasalahan dengan suplier ini harus diselesaikan supaya panjualan kafe kembali membaik,” ucap Mino.


Moon Yul menurunkan dokumen yang selesai dibacanya. Lantas meletakkan ke atas meja.


“Oh ya, bagaimana detailnya masalah dengan suplier itu? Aku sempat mendengarnya tapi belum mendengarnya secara mendetail.”


“Begini, Bos. Suplier kopi di Jeju mengurangi jumlah pasokannya untuk Moonlight Coffe sampai empat puluh persen. Ini berdampak sangat besar bagi cabang cabang kafe yang mendapat pemasokan kopi dari pulau Jeju. Kemarin saya mendapatkan laporan dari manajer di Jeju. Ada satu hal yang membuat saya merasa janggal.” Mino menjelaskan, sementara Moon Yul mendengarkannya dengan seksama.


Setelah itu Mino mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas yang dibawanya. Itu adalah laporan dari manajer Moonlight Coffe cabang Pulau Jeju yang sekitar seminggu yang lali mengirimkan laporan masalah terkait suplier kopi.


“Bisa Anda lihat, Bos Moon.” Mino mengulurkan kertas itu kepada Moon Yul.


Perlahan Yul membaca laporan yang diterimanya itu. Dan seketika itu juga keningnya mengernyit.


“Mereka meminta pihak kita membayar sejumlah uang ini untuk mendapatkan kembali jumlah pasokan kopi yang sudah disepakati dalam kontrak? Siapa tadi yang menginformasikanmu tentang hal ini?” sambil mengernyit heran itu Moon Yul kembali melontarkan pertanyaan.


“Manajer kafe Jeju yang melaporkannya.”


“Manajer? Kalau begitu....”


Sebelum Moon Yul sempat menyelesaikan ucapannya, Mino memotong perkataan sang bos. “Kemungkinan begitu, Bos Moon. Kemungkinan ini adalah akal akalan manajer kafe Jeju, atau lebih parahnya lagi ini adalah kerja sama antara manajer kafe Jeju dan suplier. Karena itu saya yang akan datang sendiri ke Jeju untuk berbicara dengan manajer kafe dan juga suplier.” Moon Yul tampak terkejut mendengar penjelasan Mino.


Yul yang merasa mendapat ‘tamparan’ dari manajer kafe Jeju dan juga suplier yang telah bekerja sama dengannya cukup lama itu tampak begitu kecewa medengarnya. Ia langsung meletakkan kembali lembaran kertas tersebut ke atas meja. Lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran punggung sofa sambil memeluk tubuh putri kecilnya yang entah mengapa terlihat tenang dan diam di pelukan Yul saat ini.


“Sayang sekali. Kupikir mereka bisa dipercaya karena sudah bekerja sama dengan Moonlight Coffe dalam waktu cukup lama,” lanjut Yul bergumam gumam pelan.


“Ini masih kemungkinan. Saya akan memeriksanya ketika tiba di Jeju. Jika memang benar ini ulah manajer kafe, mau tidak mau saya harus membawanya ke Seoul untuk bertemu secara langsung dengan Anda. Dan kalau ini murni perbuatan dari suplier, tanpa ada ikut campur sedikit pun dari manajer kafe, hal yang paling baik dilakukan adalah memutuskan kontrak dengan mereka. lalu membuat perjanjian baru dengan suplier kopi premium lain yang data dan informasinya sudah saya siapkan.” Mino lanjut menjelaskan. Lalu ia menunjuk salah satu dokumen dalam map yang tergeletak di atas meja. Itu adalah dokumen tentang informasi suplier kopi premium yang potensial untuk diajak bekerja sama dengan Moonlight Coffe. Mino sudah menyiapkannya untuk berjaga jaga.


“Baiklah. Aku serahkan pekerjaan ini padamu. Aku berharap kau bisa menyelesaikannya dengan baik, seperti kau menyelesaikan masalah masalah kafe sebelumnya.” Moon Yul berucap lembut.


“Saya akan berusaha yang terbaik.”


Setelah itu suasana sedikit menghening. Apa yang ingin Mino katakan sudah selesai. Ia tinggal menunggu Moon Yul menandatangani dokumen yang memerlukan tanda tangannya tadi.


“Kalau begitu, tunggu sebentar, aku akan ambilkan stempelku di atas.” Yul berucap sambil beranjak berdiri dari duduknya. Ia mengangkat tubuh Yenni untuk ia dudukkan di atas sofa. Lalu Yul sendiri naik menuju lantai dua untuk mengambil stempel pribadinya untuk menandatangai dokumen tersebut. sedangkan putri keduanya, Yenni, masih duduk manis di atas sofa sambil memandangi Mino dengan tatapan mata yang tampak tertarik.


“Hai, Paman bukan orang jahat. Kau tidak perlu takut, Yenni.” Mino mengajak anak kecil itu berbicara.


Mino mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. Itu adalah permen. Permen yang ia dapatkan sebagai kembalian ketika kemarin ia membeli sesuatu di toserba.


“Kau mau ini? Sinilah.” Mino memperlihatkan permen itu kepada Yenni. Dan perlahan lahan anak kecil yang tampak malu malu itu mendekat pada Mino dan menerima uluran permen darinya. “Aigoo, kau manis sekali.” Mino yang tidak bisa menahan rasa gemasnya, mencubit pipi Yenni pelan setelah memberikan permen padanya. Setelah itu keduanya tampak akrab dan saling tersenyum satu sama lain.


“Aduh, putri ayah tau tau saja kalau ada orang tampan datang ke rumah. Apa sekarang perhatianmu teralih pada Paman Mino?”


Dari arah tangga, Moon Yul yang baru saja mengambil stempek itu menceletuk heran. Biasanya, putri keduanya itu sangat aktif dan tidak pernah bisa diam. Tapi ketika di hadapan Mino, putri kecilnya itu menjadi sangat tenang dan tidak berulah sama sekali. Bahkan tampak malu malu kucing seperti sifat ibunya ketika pertama kali bertemu dengan Yul. Memang benar, buah tidak jatuh dari pohonnya.


“Heih, ternyata perempuan kecil mau pun perempuan besar sama saja ketika dihadapkan dengan laki laki tampan. Yenni ya, berhentilah menatap Paman Mino dengan tatapan seperti itu. Lama lama ayah bisa cemburu lho.” Yul lanjut menceletuk sambil berjalan ke arah sofa. Mendengar celetukan sang ayah, Yenni yang licah itu langsung berlari ke arah ayahnya dan mendarat dalam pelukan sang ayah. Yul pun terkeken kekeh melihat kelakuan putri kecilnya yang salah tingkah di hadapan laki laki tampan.


Yul kembali duduk ke atas sofa sambil memangku putrinya yang terus memandangi Mino dengan tatapan berbinar binar seperti bintang kejora. Mino yang ditatapi oleh gadis kecil yang cantik dan menggemaskan itu sampai bingung harus mengarahkan pandangannya ke mana. Jujur saja. Seumur hidupnya Mino tidak pernah berurusan dengan anak kecil dan tidak begitu ahli membuat berbagai ekspresi atau respon yang disukai anak kecil. Sehingga laki laki hanya mencoba tersenyum manis sambil beberapa kali menaikkan kedua alisnya secara bersamaan untuk mengajak Yenni berkomunikasi menggunakan ekspresi wajah.


“Sudah.”


Seselesainya memberikan stempel pada dokumen yang dibutuhkan Mino itu, Yul segera menutup kembali map dokumen tersebut. lalu menyerahkannya pada Mino.


“Terima kasih.”


Apa yang Mino perlukan sudah terpenuhi. Dan tidak ada lagi hal mendesak yang harus ia bicarakan kembali dengan sang bos. Sehingga, begitu menerima dokumen yang sudah ditanda tangani itu Mino berkemas kemas. Ia berdiri dari duduk untuk menyapa Yul sebelum segera pergi.


“Kalau begitu, saya pamit dulu. Nanti saya akan segera menghubungi Anda kalau apa yang saya lakukan di Jeju sudah selesai.” Mino berkata ketika telah berdiri dari duduk.


Sambil menggendong Yenni, Yul pun berdiri dari duduk. Mengangguk anggukkan kepala menanggapi apa yang Mino ucapkan terkait pekerjaannya.


Setelah itu Mino membungkukkan tubuh, menyapa Yul untuk terakhir kalinya sebelum pergi. Tetapi belum sempat laki laki itu melangkah pergi, Yul mengatakan sesuatu dan membuat Mino kembali menolehkan tubuh.


“Surat pengunduran dirimu masih kujaga baik baik. Aku tidak membukanya dan tidak berniat membukanya. Kau bisa memintanya sewaktu waktu jika pikiranmu berubah.” Yul berucap. Bagaimana pun, Mino adalah orang yang sangat ia percaya dan sangat bisa ia andalkan untuk mengurusi kafe. Untuk saat ini Moon Yul tidak bisa mengurusi kafe dengan tangannya sendiri. Karena ia memiliki pekerjaan lain sebagai pelukis dan guru lukis anaknya sendiri. Dan Yul juga sibuk membantu mengurusi anak anaknya yang masih kecil di rumah. Sehingga ia tidak bisa begitu fokus mengurusi kafe. Hanya Mino yang ia bisa ia andalkan, dan hanya Mino yang selalu mengerjakan pekerjaan serta tanggung jawabnya dengan baik di kafe. Yul akan merasa sangat kehilangan jika Mino benar benar berhenti. Sehingga yang bisa ia lakukan adalah membujun Mino untuk tetap pada posisinya.


Mino terdiam sejenak. Ketika ia masih terdiam, Yul kembali melanjutkan berbicara.


“... Aku tidak pernah menahan pekerjaku jika ingin hengkang dari Moonlight Coffe. Tapi, kali ini aku benar benar tidak ingin kehilangan sosok bertalenta sepertimu, Mino ya. Jadi, aku ingin memohon sekali lagi. Tetaplah di kafe dan tarik surat pengunduran diri yang sudah kau serahkan padaku. Kafe membutuhkan orang sepertimu. Jadi tetaplah bekerja di kafe, aku akan mewujudkan apa pun keinginanmu.”


Apa yang Yul katakan itu terlalu tulus untuk tidak diakui kejujurannya. Lelaki itu tidak sedang membual apalagi beromong kosong. Memang benar kalau ia membutuhkan Mino untuk kafe. Memang benar ia sedang memohon supaya Mino menarik surat pengunduran dirinya dan tetap bekerja di kafe.


Setelah menimbang nimbang, Mino pun memberikan jawaban.


“Beri saya waktu sampai saya bisa menyelesaikan masalah di cabang Jeju ini. Setelah itu saya akan pertimbangkan kembali untuk tetap bekerja di kafe.” Mino menjawab lirih.


Mendengar hal itu, Yul sudah merasa sangat senang. Itu artinya masih ada kesempatan supaya Mino tetap bertahan bekerja di kafenya. Senyum Yul pun tersimpul.


Begitu keluar dari dari rumah Yul dengan menyapa sang tuan rumah bersama putri kecilnya yang menggemaskan itu, Mino kini hendak pergi. Ia masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan gerbang. Sebelum ia menyalakan mesin mobil, Mino membuka ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan teks untuk Lysa.


‘Apa sesi pelatihanmu sudah selesai? Kalau sudah, ayo kita makan siang. Sekaligus ada yang ingin kukatakan padamu sebelum pergi.’


**


“Ajeossi!”


Seruan seorang wanita yang duduk di sebuah bangku di dalam restoran sup daging sapi itu menyambut kedatangan Mino. Laki laki itu baru saja masuk ke dalam restoran tempatnya membuat janji dengan Lysa untuk makan siang. Dan seketika melihat keberadaan Lysa yang menyerukan namanya sambil melambai lambaikan tangan ke atas untuk menunjukkan keberadaan.


“Kubilang aku akan menjemputmu di kafe. Kenapa kau bersi keras ingin jalan kaki kemari?”


Kalimat itu yang pertama kali Mino lontarkan kepada Lysa yang telah menunggunya di seberang meja. Tapi gadis itu tidak merespon apa apa dan hanya menatapnya aneh.


“Apa kau sudah pesan makanan?” lanjut Mino bertanya. Dan ia mendapat jawaban berupa gelengan kepala.


Seketika itu juga Mino mengangkat tangannya ke atas. “Bibi! Sup tulang sapi dua mangkuk.” Mino melontarkan kalimat itu dengan sopan pada seorang wanita paruh baya yang merupakan pemilik dari restoran kecil ini untuk memesan makanan.


“Ya. Tunggu sebentar, Tuan.”


Setelah mendapat tanggapan itu, pandangan Mino kembali pada Lysa. Ia sedikit terhenyak ketika mendapati Lysa yang masih memandanginya dengan tatapan yang menurutnya aneh. Mino yang merasa ada yang aneh dengan tatapan Lysa pun mengerutkan kening dan bertanya.


“Ke ... kenapa? Kenapa kau menatapku begitu?” tanya Mino yang entah mengapa merasa gugup karena terus ditatap oleh Lysa di hadapan.


“Ajeossi, kau mau pergi ke mana? Apa kau akan pergi jauh ke sebuah tempat? Berapa lama kau akan pergi? Dan apakah kau akan kembali? Tunggu tunggu, maksudmu berkata ‘pergi’ tadi bukan pergi dari Moonlight Coffe sekarang juga kan? Ah,... Ajeossi, aku baru saja menyelesaikan pelatihanku di Moonlight Coffe siang ini tadi. Dan baru besok Senin aku mulai bekerja paruh waktu. Kenapa kau pergi secepat itu? Tidak bisakah kau tetap di Moonlight Coffe? Aku berjanji, saat mendapatkan gaji pertama bulan depan, aku akan membelikan hadiah untuk Ajeossi. Sebentar, sebentar saja ... bekerjalah di Moonlight Coffe untuk sebentar saja. Aku merasa perlu mendengarkan beberapa nasihat darimu selama bekerja di sana nanti. Dan aku merasa membutuhkanmu Ajeossi. Kumohon.”


Tanpa diduga, Lysa berucap panjang lebar kepadanya tentang arti kata ‘pergi’ yang dituliskan Mino dalam pesan teks singkatnya tadi. Bola mata Lysa terlihat sangat sendu dan penuh permohonan. Apa yang gadis itu katakan tidak dibuat buat dan berasal dari lubuk hatinya yang terdalam.


Semua yang Lysa katakan itu membuat Mino merasa sedikit tersentuh. Di hari yang sama, di waktu yang hampir bersamaan, dua orang memohon dengan tulus supaya Mino tidak meninggalkan Moonlight Coffe. Membuat Mino merasa semakin ragu lagi untuk meninggalkan Moonlight Coffe. Membuat Mino merasa berharga karena kata ‘membutuhkanmu’ yang terus terusan ia dengar hari ini, di waktu yang hampir bersamaan.


“Kau ... benar benar membutuhkanku?” Mino bertanya serius sambil menatap Lysa penuh arti. “Apa kau sungguh membuthkanku untuk tetap bekerja di Moonlight Coffe?” lanjutnya.


Lysa sejenak terdiam. Membalas tatapan lekat Mino. Menatapnya penuh permohonan dan keseriusan yang dalam.


“Ya. Aku membutuhkanmu, Ajeossi. Sangat membutuhkanmu.”


**