Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Rencana Pernikahan Mendadak



Rencana Pernikahan Mendadak


“Kalian menikah dalam waktu dekat, atau aku tidak pernah merestui kalian


nantinya!”


Suara Yul menggelegar di tengah lorong rumah sakit yang sangat sepi dan


juga minim pencahayaan ini. Lelaki itu sedang bergelut dengan emosi yang hampir


menguasai seluruh ruang dalam pikirannya.


Di hadapannya itu, Hun menggenggam salah satu tangan Jian dan menunduk


dalam dalam di hadapan sang kakak. Hun tak berani menatap Yul. Keberaniannya belum


terkumpul untuk menatap wajah sang kakak yang selama ini berlaku seperti ayau


maupun ibu untuknya.


Di dunia ini, bagi Hun, hanya Yul yang memegang peran begitu besar dalam


kehidupannya. Yul menjadi kakak yang baik untuknya. Menjadi ayah sekaligus ibu


yang setiap saat menjadi tempat Hun pulang ketika terjadi suatu permasalahan


hidup. Hun tak memiliki orang tua. Orang tuanya meninggal sejak ia masih muda. Dan


sejak itu, maka Yul lah yang memegang peran sebagai orang tua untuk Hun.


Yul membesarkan Hun. Mengasuhnya dengan penuh kasih dan pengertian. Menemaninya


di kala apa pun. Menjadi pendamping sekaligus teman yang paling baik utnuk


mendengarkan semua keluh kesah sang adik. Yul mengajarkan kebaikan. Yul selalu


memberikan contoh yang baik untuk adiknya dalam hal bersikap. Tak pernah ia


semena mena terhadap orang lain apalagi perempuan. Yul selalu mengingatkan


adiknya untuk berhati hati. Dan selama ini Yul sendiri pun tahu bahwa adiknya


itu bukanlah tipe lelaki yang akan melakukan kecerobohan seperti itu.


Tapi, apa yang terjadi ini?


Yul merasa sangat kecewa karena Hun. Yul yang selalu mengajarkan kepada


adiknya supaya menjadi laki laki sejati yang bertanggung jawab dan berjiwa


pemimpin itu, merasakan kekecewaan yang dalam setelah mendengar sebuah


percakapan yang tidak terduga.


Tarikan napas dalam Yul membuat perasaannya sedikit mereda. Kemarahan yang


membuar dalam kepalanya perlahan meredup. Ia menatap ke arah Cho Jina, yang


menunduk dalam dalam dengan wajah pucat dan pedih.


“Aku akan berbicara dengan Hun. Kamu bisa menghampiri istriku di ruang


tunggu dahulu,” kata Yul lirih kepada Cho Jina yang kelihatannya juga sangat


terpukul.


Perlahan Jina melepaskan genggaman tangannya dari Hun. Lantas berjalan meninggalkan


kakak beradik tersebut di lorong. Berjalan pergi dengan kepala yang menunduk


dalam dalam. Ia menghampiri kang Yebin yang sedang duduk di ruang tunggu sambil


memangku tubuh Hanyul yang sedang lelap tertidur di dadanya.


Di lorong itu suasana menjadi terasa menegangkan. Hanya ada dua saudara


laki laki yang sama sama kalut terhadap perasaan masing masing. Kepala Yul


menunduk dalam, punggungnya bersandar pada dinding lorong yang dingin dan


keras. Begitu pun Hun yang masih kalut dalam suasana hatinya yang bercampur


aduk tidak karuan.


Kecelakaan ini bukan hal yang Hun inginkan apalagi rencanakan. Ia memang


menyayangi Jina, berkencan dengannya, namun tidak untuk tahap pernikahan


sseperti ini. Mereka berdua masih ingin sma sama fokus pada karir. Hun ingin


memantapkan karirnya sebagai hakim di Mahkamah Agung. Begitu pun Cho Jina yang


juga memiliki keinginan untuk memiliki karir yang bagus karena ia berangkat


dari keluarga desa yang biasa biasa saja.


Namun untuk Yul, yang sejak lama mendambakan momongan, kejadian ini


membuatnya sangat pilu. Ia tidak bisa berbuat apa apa sebagai kakak yang gagal


dalam membesarkan adiknya. Karena adiknya telah berbuat kesalahan besar di


tengah keadaan yang sangat genting ini.


“Aku akan menikahi Jina. Bagaimana pun caranya aku akan meyakinkan Jina


untuk menikah.”


Untuk pertama kalinya, setelah keheningan ini berlangsung cukup lama, Hun


membuka percakapan. Perlahan lahan pandangannya menaik, menatap sendu sang


kakak yang terlihat kecewa karenanya.


“Jina tidak salah apa apa. Semua ini adalah kasalahanku, terjadi karena


kecerobohanku.” Hun lanjut bercerita.


Yul menarik napas panjang panjang. Menatap sendu ke arah Hun yang


terlihat kalut.


“Sebegitu besarnya kau mencintai Cho Jina. Tapi kenapa selama ini kau


selalu menyembunyikan rasa sayangmu itu di balik sikap dinginmu? Meski tidak


seharusnya dengan cara seperti ini, aku senang karena akhirnya kau mengakui


perasaanmu dan bersikap layaknya laki laki yang bertanggung jawab,” kata Yul.


Hun diam. Ia termenung. Merenungkan ucapan Yul secara mendalam.


“Maafkan aku... Hyung.”


Hun berucap lirih. Pandangannya kembali merunduk. Tak berani menatap sang


kakak yang telah ia kecewakan dengan kecerobohannya yang teramat sangat.


Yul menatap dalam dalam sang adik yang sedang menunduk. Ia tahu Hun


menyesal. Ia tahu Hun merasa sangat bersalah kepadanya dan terutama kepada


Jina. Ia tahu, Hun menyesal lebih dari apa pun karena telah menyecewakannya.


rasa pedih melihat Hun yang tampak begitu menyesali perbuatannya.


Tak kuasa melihat sang adik yang sesendu itu, Yul beranjak dari tempat. Wajahnya


tersenyum hangat sambil menghampiri Hun. Memeluk punggung dan bahu Hun yang


terasa lemas.


“Tidak apa apa. Aku juga laki laki, aku bisa mengerti posisimu,” ucap


lirih Yul sambil menepuk nepuk punggung Hun sembari tersenyum lembut padanya. “Wahhh,


bocah kecilku sudah benar benar dewasa sekarang. Sudah mau menjadi ayah. Tidak


usah khawatirkan pernikahanmu, aku yang akan mengurus semuanya. Dan rumah yang


kupersiapkan sebagai hadiah pernikahanmu itu sudah mau selesai pembangunannya. Begitu


menikah nanti kau bisa pindah ke sana ya.”


Hun perlahan lahan menaikkan pandangan. Bertatapan dengan sang kakak yang


berdiri di sebelah dengan memeluk punggungnya. Hun terdiam. Melihat senyum


hangat sang kakak, lelaki itu terdiam cukup lama. Kemudian ikut tersenyum tipis


setelah mendapat sedikit kekuatan dari sang kakak untuk tersenyum.


“Terima kasih, Hyung.”


**


“Hanyul-a, jangan berlari lari di sana. Kau bisa jatuh terluka nantinya.”


Di depan pagar rumah baru Hun yang sedang diisi oleh perabotan, Hanyul


berlari lari bersama dua ekor kelinci putih yang tampak begitu menggemaskan. Itu


membuat yebin merasa khawatir lantas Hanyul berlari tanpa melihat beberapa


benda yang masih berserakan di depan rumah baru Hun yang baru selesai


pembangunannya.


“Apa Hanyul tidak mau diam?”


Suara Yul yang baru memasuki gerbang rumah Hun itu membuat kepala Yebin


seketika tertoleh. Ia tersenyum melihat Yul yang datang untuk mengurusi tata


letak perabotan rumah yang akan dihadiahkan kepada Hun atas pernikahannya


minggu depan.


“Kurasa Hanyul jadi semakin aktif. Apa ini tanda tanda baik kalau dia


akan benar benar bisa sembuh total dari sakitnya?” Yebin membalas dengan balik


bertanya kepada Yul dengan wajahnya yang berseri seri seperti bidadari.


Yul tersenyum lebar. Lantas mengacak rambut Yebin sambil menjawab, “Pasti.


Hanyul sudah berusaha keras menjalani semua pengobatannya. Pastinya dia akan


segera sembuh.”


Setelah itu Yul memutar tubuh. Melihat ke arah Hanyul yang masih asyik


memberi makan dua ekor kelinci yang berlari lari di halaman rumah Hun.


“Hanyul-a, jangan berlari kencang kencang. Ibumu mengkhawatirkanmu kalau


nanti sampai terjatuh,” celetuk Yul sambil tersenyum lebar kepada Hanyul yang


seketika menoleh menatapnya.  Anak kecil


itu tersenyum semringah menatap sang ayah. Tersenyum dengan memperlihatkan gigi


gingsul dan mata yang menyipit.


“Iya, Ayah!” jawab Hanyul dengan yakin.


“Hahaha.” Yul tertawa renyah melihat Hanyul yang semakin tumbuh menjadi


anak yang penuh ceria.


“Aku masuk dulu. Kamu di sini saja menjaga Hanyul. Aku akan berbicara


dengan Arsitek Kim di dalam,” kata Yul kepada Yebin. Di dalam rumah baru Hun


yang masih belum dihuni tersebut, ada Arsitek Kim yang bertugas mendesain dan


merancang tatanan ruang rumah Hun, bersama beberapa pekerja lain yang bertugas


mengangkat angkat barang perabotan.


“Iya.”


Setelah itu Yul beranjak masuk. Yebin tetap berada di halaman tersebut. Mengawai


Hanyul sambil duduk di bawah payung teduh meja bundar yang ada di halaman. Mengawai


Hanyul sambil membuka tablet untuk melihat grafik penjualan Biniemoon.


Tidak lama setelah Yebin fokus melihat grafik yang terpampang di layar


tablet yang ia pegang, terdengar suara mobil datang. Itu adalah mobil Leo park.


Lelaki itu menghentikan mobil di depan gerbang rumah Hun. Lantas turun dari


sana. Mengetuk pintu pagar yang terbuat dari baja itu menggunakan cincin


titanium yang melingkar di salah satu jari tangannya.


Teng teng teng!


Suara itu terdengar ketika cincin titanium yang dipakai Leo Park


bersentuhan dengan pintu pagar. Mendengar suara itu, kepala Yebin sontak menoleh


ke arag gerbang. Ia bertatapan dengan Leo Park, yang terakhir kali ditemuinya


dua minggu yang lalu.


Yebin masih membeku di tempatnya selama beberapa saat. Tatapannya menjadi


waspada. Ia melihat Leo Park tersenyum menyeringai di balik pagar.


“Ibu!”


Hanyul memekik dan segera membuat perhatian Yebin teralih. Anak kecil


yang baru saja memberi makan kelinci itu berlari ke arah ibunya. Langsung memeluk


tubuh sang ibu.


Yebin membalas pelukan Hanyul. Memeluk anak laki lakinya dengan erat


sambil menatap waspada Leo Park di balik pagar. Lelaki itu pastinya tidak


datang tanpa tujuan. Entah apa tujuannya....