
Rencana Pernikahan Mendadak
“Kalian menikah dalam waktu dekat, atau aku tidak pernah merestui kalian
nantinya!”
Suara Yul menggelegar di tengah lorong rumah sakit yang sangat sepi dan
juga minim pencahayaan ini. Lelaki itu sedang bergelut dengan emosi yang hampir
menguasai seluruh ruang dalam pikirannya.
Di hadapannya itu, Hun menggenggam salah satu tangan Jian dan menunduk
dalam dalam di hadapan sang kakak. Hun tak berani menatap Yul. Keberaniannya belum
terkumpul untuk menatap wajah sang kakak yang selama ini berlaku seperti ayau
maupun ibu untuknya.
Di dunia ini, bagi Hun, hanya Yul yang memegang peran begitu besar dalam
kehidupannya. Yul menjadi kakak yang baik untuknya. Menjadi ayah sekaligus ibu
yang setiap saat menjadi tempat Hun pulang ketika terjadi suatu permasalahan
hidup. Hun tak memiliki orang tua. Orang tuanya meninggal sejak ia masih muda. Dan
sejak itu, maka Yul lah yang memegang peran sebagai orang tua untuk Hun.
Yul membesarkan Hun. Mengasuhnya dengan penuh kasih dan pengertian. Menemaninya
di kala apa pun. Menjadi pendamping sekaligus teman yang paling baik utnuk
mendengarkan semua keluh kesah sang adik. Yul mengajarkan kebaikan. Yul selalu
memberikan contoh yang baik untuk adiknya dalam hal bersikap. Tak pernah ia
semena mena terhadap orang lain apalagi perempuan. Yul selalu mengingatkan
adiknya untuk berhati hati. Dan selama ini Yul sendiri pun tahu bahwa adiknya
itu bukanlah tipe lelaki yang akan melakukan kecerobohan seperti itu.
Tapi, apa yang terjadi ini?
Yul merasa sangat kecewa karena Hun. Yul yang selalu mengajarkan kepada
adiknya supaya menjadi laki laki sejati yang bertanggung jawab dan berjiwa
pemimpin itu, merasakan kekecewaan yang dalam setelah mendengar sebuah
percakapan yang tidak terduga.
Tarikan napas dalam Yul membuat perasaannya sedikit mereda. Kemarahan yang
membuar dalam kepalanya perlahan meredup. Ia menatap ke arah Cho Jina, yang
menunduk dalam dalam dengan wajah pucat dan pedih.
“Aku akan berbicara dengan Hun. Kamu bisa menghampiri istriku di ruang
tunggu dahulu,” kata Yul lirih kepada Cho Jina yang kelihatannya juga sangat
terpukul.
Perlahan Jina melepaskan genggaman tangannya dari Hun. Lantas berjalan meninggalkan
kakak beradik tersebut di lorong. Berjalan pergi dengan kepala yang menunduk
dalam dalam. Ia menghampiri kang Yebin yang sedang duduk di ruang tunggu sambil
memangku tubuh Hanyul yang sedang lelap tertidur di dadanya.
Di lorong itu suasana menjadi terasa menegangkan. Hanya ada dua saudara
laki laki yang sama sama kalut terhadap perasaan masing masing. Kepala Yul
menunduk dalam, punggungnya bersandar pada dinding lorong yang dingin dan
keras. Begitu pun Hun yang masih kalut dalam suasana hatinya yang bercampur
aduk tidak karuan.
Kecelakaan ini bukan hal yang Hun inginkan apalagi rencanakan. Ia memang
menyayangi Jina, berkencan dengannya, namun tidak untuk tahap pernikahan
sseperti ini. Mereka berdua masih ingin sma sama fokus pada karir. Hun ingin
memantapkan karirnya sebagai hakim di Mahkamah Agung. Begitu pun Cho Jina yang
juga memiliki keinginan untuk memiliki karir yang bagus karena ia berangkat
dari keluarga desa yang biasa biasa saja.
Namun untuk Yul, yang sejak lama mendambakan momongan, kejadian ini
membuatnya sangat pilu. Ia tidak bisa berbuat apa apa sebagai kakak yang gagal
dalam membesarkan adiknya. Karena adiknya telah berbuat kesalahan besar di
tengah keadaan yang sangat genting ini.
“Aku akan menikahi Jina. Bagaimana pun caranya aku akan meyakinkan Jina
untuk menikah.”
Untuk pertama kalinya, setelah keheningan ini berlangsung cukup lama, Hun
membuka percakapan. Perlahan lahan pandangannya menaik, menatap sendu sang
kakak yang terlihat kecewa karenanya.
“Jina tidak salah apa apa. Semua ini adalah kasalahanku, terjadi karena
kecerobohanku.” Hun lanjut bercerita.
Yul menarik napas panjang panjang. Menatap sendu ke arah Hun yang
terlihat kalut.
“Sebegitu besarnya kau mencintai Cho Jina. Tapi kenapa selama ini kau
selalu menyembunyikan rasa sayangmu itu di balik sikap dinginmu? Meski tidak
seharusnya dengan cara seperti ini, aku senang karena akhirnya kau mengakui
perasaanmu dan bersikap layaknya laki laki yang bertanggung jawab,” kata Yul.
Hun diam. Ia termenung. Merenungkan ucapan Yul secara mendalam.
“Maafkan aku... Hyung.”
Hun berucap lirih. Pandangannya kembali merunduk. Tak berani menatap sang
kakak yang telah ia kecewakan dengan kecerobohannya yang teramat sangat.
Yul menatap dalam dalam sang adik yang sedang menunduk. Ia tahu Hun
menyesal. Ia tahu Hun merasa sangat bersalah kepadanya dan terutama kepada
Jina. Ia tahu, Hun menyesal lebih dari apa pun karena telah menyecewakannya.
rasa pedih melihat Hun yang tampak begitu menyesali perbuatannya.
Tak kuasa melihat sang adik yang sesendu itu, Yul beranjak dari tempat. Wajahnya
tersenyum hangat sambil menghampiri Hun. Memeluk punggung dan bahu Hun yang
terasa lemas.
“Tidak apa apa. Aku juga laki laki, aku bisa mengerti posisimu,” ucap
lirih Yul sambil menepuk nepuk punggung Hun sembari tersenyum lembut padanya. “Wahhh,
bocah kecilku sudah benar benar dewasa sekarang. Sudah mau menjadi ayah. Tidak
usah khawatirkan pernikahanmu, aku yang akan mengurus semuanya. Dan rumah yang
kupersiapkan sebagai hadiah pernikahanmu itu sudah mau selesai pembangunannya. Begitu
menikah nanti kau bisa pindah ke sana ya.”
Hun perlahan lahan menaikkan pandangan. Bertatapan dengan sang kakak yang
berdiri di sebelah dengan memeluk punggungnya. Hun terdiam. Melihat senyum
hangat sang kakak, lelaki itu terdiam cukup lama. Kemudian ikut tersenyum tipis
setelah mendapat sedikit kekuatan dari sang kakak untuk tersenyum.
“Terima kasih, Hyung.”
**
“Hanyul-a, jangan berlari lari di sana. Kau bisa jatuh terluka nantinya.”
Di depan pagar rumah baru Hun yang sedang diisi oleh perabotan, Hanyul
berlari lari bersama dua ekor kelinci putih yang tampak begitu menggemaskan. Itu
membuat yebin merasa khawatir lantas Hanyul berlari tanpa melihat beberapa
benda yang masih berserakan di depan rumah baru Hun yang baru selesai
pembangunannya.
“Apa Hanyul tidak mau diam?”
Suara Yul yang baru memasuki gerbang rumah Hun itu membuat kepala Yebin
seketika tertoleh. Ia tersenyum melihat Yul yang datang untuk mengurusi tata
letak perabotan rumah yang akan dihadiahkan kepada Hun atas pernikahannya
minggu depan.
“Kurasa Hanyul jadi semakin aktif. Apa ini tanda tanda baik kalau dia
akan benar benar bisa sembuh total dari sakitnya?” Yebin membalas dengan balik
bertanya kepada Yul dengan wajahnya yang berseri seri seperti bidadari.
Yul tersenyum lebar. Lantas mengacak rambut Yebin sambil menjawab, “Pasti.
Hanyul sudah berusaha keras menjalani semua pengobatannya. Pastinya dia akan
segera sembuh.”
Setelah itu Yul memutar tubuh. Melihat ke arah Hanyul yang masih asyik
memberi makan dua ekor kelinci yang berlari lari di halaman rumah Hun.
“Hanyul-a, jangan berlari kencang kencang. Ibumu mengkhawatirkanmu kalau
nanti sampai terjatuh,” celetuk Yul sambil tersenyum lebar kepada Hanyul yang
seketika menoleh menatapnya. Anak kecil
itu tersenyum semringah menatap sang ayah. Tersenyum dengan memperlihatkan gigi
gingsul dan mata yang menyipit.
“Iya, Ayah!” jawab Hanyul dengan yakin.
“Hahaha.” Yul tertawa renyah melihat Hanyul yang semakin tumbuh menjadi
anak yang penuh ceria.
“Aku masuk dulu. Kamu di sini saja menjaga Hanyul. Aku akan berbicara
dengan Arsitek Kim di dalam,” kata Yul kepada Yebin. Di dalam rumah baru Hun
yang masih belum dihuni tersebut, ada Arsitek Kim yang bertugas mendesain dan
merancang tatanan ruang rumah Hun, bersama beberapa pekerja lain yang bertugas
mengangkat angkat barang perabotan.
“Iya.”
Setelah itu Yul beranjak masuk. Yebin tetap berada di halaman tersebut. Mengawai
Hanyul sambil duduk di bawah payung teduh meja bundar yang ada di halaman. Mengawai
Hanyul sambil membuka tablet untuk melihat grafik penjualan Biniemoon.
Tidak lama setelah Yebin fokus melihat grafik yang terpampang di layar
tablet yang ia pegang, terdengar suara mobil datang. Itu adalah mobil Leo park.
Lelaki itu menghentikan mobil di depan gerbang rumah Hun. Lantas turun dari
sana. Mengetuk pintu pagar yang terbuat dari baja itu menggunakan cincin
titanium yang melingkar di salah satu jari tangannya.
Teng teng teng!
Suara itu terdengar ketika cincin titanium yang dipakai Leo Park
bersentuhan dengan pintu pagar. Mendengar suara itu, kepala Yebin sontak menoleh
ke arag gerbang. Ia bertatapan dengan Leo Park, yang terakhir kali ditemuinya
dua minggu yang lalu.
Yebin masih membeku di tempatnya selama beberapa saat. Tatapannya menjadi
waspada. Ia melihat Leo Park tersenyum menyeringai di balik pagar.
“Ibu!”
Hanyul memekik dan segera membuat perhatian Yebin teralih. Anak kecil
yang baru saja memberi makan kelinci itu berlari ke arah ibunya. Langsung memeluk
tubuh sang ibu.
Yebin membalas pelukan Hanyul. Memeluk anak laki lakinya dengan erat
sambil menatap waspada Leo Park di balik pagar. Lelaki itu pastinya tidak
datang tanpa tujuan. Entah apa tujuannya....