
Bab 31
Tidak ada cinta, tidak ada patah hati
“Apa kau baik baik saja jika seperti itu?”
Suara Moon Yul yang kembali terdengar setelah beberapa detik hening itu membuat suasana di ruang kerja Mino kembali mencair. Setelah mempertimbangkannya sejenak, Mino mengangguk anggukkan kepalanya.
“Baik, biar saya saja yang menghendel pekerjaan itu. Untuk sementara waktu, kafe biar diurus oleh Asisten Oh.” Mino menjawab tawaran Moon Yul setelah mempertimbangkannya matang matang. Sejujurnya tawaran itu tidak baru didengarnya, melainkan Mino telah mendengar tawaran itu beberapa hari yang lalu dan telah memikirkannya matang matang.
“Itu cabang kedua Moonlight Coffe yang ada di luar negeri. Kuharap ini juga bisa berjalan lancar seperti cabang yang ada di Vietnam. Aku memang sengaja memilih negara yang ada di Asia Tenggara karena konsepnya sangat cocok dengan Moonlight Coffe. Apalagi di Vietnam, salah satu orang yang paling terkenal adalah orang Korea. Semua warga Vietnam sangat menghormati Park Hang Seo, dan itu yang membuat cabang Moonlight Coffe Korea begitu terkenal dan sukses di Vietnam.” Moon Yul menjelaskan mengenai proyek pembukaan cabang Moonlight Coffe di luar negeri yang kali ini juga akan bertempat di negara Asia Tenggara.
Mendengar itu, Mino mengangguk anggukkan kepala. Cabang moonlight Coffe yang satu tahun lalu dibuka di Vietnam memang sangat sukses. Dan itu adalah cabang Moonlight Coffe Korea pertama yang dibuka di negara di luar Korea Selatan. Sungguh membanggakan jika kafe itu isa sukses dan dikenal banyak orang Vietnam dalam kurun waktu beberapa bulan saja.
Itu semua tidak terlepas dari strategi brilian si pemilik Moonlight Coffe, Moon Yul. Ia sengaja memilih negara dengan peluang market yang sangat tinggi. Dan pilihannya adalah Vietnam. Karena di Vietnam, salah seorang publik figur berkewarganegaraan Korea, Park Hang Seo sangat terkenal dan dikagumi hampir seluruh masyarakat negeri itu. Sosok Park Hang Seo yang merupakan orang paling berpengaruh di Vietnam itu yang membuat Moonlight Coffe begitu banyak digemari. Karena pada awal pembukaan kafe, Mino yang memegang proyek itu, berhasil bekerja sama dengan Park Hang Seo untuk mempromosikan kafe pada masyarakat Vietnam. Dan sambutannya sangat meriah. Semua warga Vietnam berbondong bondong mendatangi kafe tempat Park Hang Seo sering bersantai di akhir pekannya.
Setelah tawarannya diiyakan oleh Mino, Moon Yul pun beranjak dari duduk. Diikuti Mino yang segera beranjak dari duduk untuk menyapa bosnya.
“Semoga kali ini kau juga tidak mengecewakanku, Mino ya. Aku percayakan project itu padamu.” Moon Yul berucap sambil menepuk nepuk punggung Mino.
“Saya akan lakukan yang terbaik, Bos Moon.” Mino membalas sambil tersenyum.
“Setelah semua persiapannya nanti selesai, aku akan langsung memberi tahumu. Persiapannya mungkin tidak akan lama. Besok atau lusa kau mungkin sudah bisa berangkat,” imbuh Moon Yul sebelum akhirnya keluar dari ruangan Mino. Apa yang sang bos itu ingin bicarakan dengan Mino telah selesai, kini Mino berada seorang diri di dalam ruangannya.
Perlahan Mino berjalan ke arah meja kerjanya. Mengambil gelas berisi kopi manis yang mulai mendingin. Lalu membawa gelas itu sambil menyeruputnya mendekat ke arah jendela ruangan. Sambil meminum kopinya yang mulai dingin, Mino menurunkan pandangan ke arah jalan raya samping kafe. Menatap sepasang manusia yang sedang berjalan berdampingan di sana.
Selama beberapa waktu Mino mengamati sepasang manusia itu berjalan di trotoar. Sampai akhirnya sepasang manusia itu lenyap dari hadapan. Dan datang sepasang manusia lainnya yang membuat kening Mino mengerut dalam. Tidak salah lagi, yang dilihatnya saat ini adalah Lysa yang sedang berjalan dengan seorang laki laki berkaca mata. Laki laki berkaca mata dengan proporsi tubuh tinggi ramping dan style pakaian yang rapi selayaknya seorang pengajar universitas itu tidak lain adalah Brian.
Mino melirik ke arah jam tangan. Melihat waktu dan tanggal yang terlihat di jam tangannya. Dan, ia mendapati bahwa hari ini Lysa tidak ada pekerjaan di kafe karena sedang mengambil cuti.
Hari kemarin, sebelum pekerjaan Mino di kafe selesai, laki laki itu sungguh terkejut karena Lysa yang tiba tiba menghadapnya. Ia kira Lysa ingin mengatakan sesuatu padanya secara pribadi. Namun Mino lebih terkejut lagi karena kenyataanya Lysa sedang menghadap sebagai bawahan kepada atasan. Gadis itu meminta cuti selama satu minggu. Alasannya karena ia akan pergi ke Indonesia untuk menjenguk ibunya yang baru saja melahirkan di Indonesia. Dan ia meminta cuti selama satu minggu dari pekerjaan di kafe.
Awalnya Mino tidak ingin memberikan izin karena satu minggu itu adalah waktu yang sangat lama. Apalagi kafe sekarang lagi ramai karena liburan musim panas di mana orang lebih suka menghabiskan waktu di kafe seharian dengan minuman yang segar daripada menghabiskan waktu di rumah dengan tidak melakukan apa apa. Namun, mempertimbangkan lagi bahwa itu adalah kepentingan keluarga, telebih anggota keluarga yang berkepentingan itu tinggal di Indonesia, Mino merasa perlu mempertimbangkannya. Dan akhirnya Mino memberikan izin dengan catatan Lysa harus mengganti jam kerjanya di kemudian hari supaya gadis itu tetap mendapatkan gaji yang cukup di kafe.
Tetapi pemandangan yang Mino lihat saat ini membuat keningnya mengerut dalam. Bukannya Lysa akan pergi ke Indonesia? Tapi kenapa gadis itu malah berduaan dengan seorang laki laki di trotoar itu dengan es krim yang ada di genggaman masing masing?
Pemandangan yang mino lihat saat ini cukup membuatnya merasa marah. Namun jika ditelisik lebih dalam lagi, sebenarnya laki laki itu tidak marah karena Lysa mungkin telah berbohong padanya dengan berkata bahwa ia akan pergi ke Indoneisa. Melainkan, marahnya Mino disebebkan karena laki laki yang saat ini tampak sedang tersenyum gembira mendengar cerita cerita yang Lysa perdengarkan di sela perjalanan mereka memakan es krim. Mino marah, karena rasa cemburu yang perlahan lahan mengambil alih hati dan juga otaknya. Namun, kecemburuannya itu sangat tidak berdasar. Mino menyadari itu setelah beberapa saat melihat Lysa yang tetap tersenyum dengan ceria.
Ya, Lysa tetap terseyum ceria. Bahkan ketika tidak bersama Mino, Lysa tetap bisa tersenyum ceria dan menjalani kehidupannya dengan baik. Ketika bekerja di kafe Lysa tetap terlihat ceria dan semangat, sama sekali tak terlihat murung seperti yang sering terjadi pada wanita ketika sedang putus cinta atau memiliki permasalahan dalam perkencanan. Lysa tetap ceria. Lysa tetap bahagia, bahkan ketika tidak bersama Mino. Dan meski tanpa Mino sekali pun, Lysa tidak pernah sendiri karena gadis itu memiliki laki laki lain yang siap menemani Lysa kapan pun; Brian.
Masalahnya adalah, Mino selama ini merasa tidak bisa bahagia tanpa Lysa. Lelaki bodoh itu masih berada dalam kebingungan namun ia sama sekali tidak dapat merasa bahagia karena tak ada Lysa di sisinya. Padahal ia yang ingin mempertimbangkan kembali hubungannya dengan Lysa, namun ia sendiri yang paling berada dalam kesulitan karena hal itu.
Sejak sore itu Mino tidak pernah berhenti memikirkan Lysa. Bayang bayang wajah Lysa tidak pernah bisa pergi dari kepalanya. Senyum terakhir yang Lysa perlihatan hari itu seolah olah maish bergelantungan di bulu mata Mino dan membuat laki laki itu seolah selalu melihat senyuman terakhir Lysa sebelum keduanya berpisah sore itu. Bodohnya, Mino tidak bisa melepaskan bayang bayang Lysa dari kepalanya. Bodohnya Mino karena tidak bisa berpikir jernih dan mencoba menggunakan otaknya yang sangat logis dan sangat rasional itu untuk berpikir. Segala pemikiran lelaki itu hanya terpusat pada Lysa, seolah olah gadis iti tidak mau hengkang dari kepala Mino, atau Mino yang benar benar tidak ingin melepaskan Lysa dari otaknya.
Namun Mino maish sanggup bertahan dengan seperti itu. Ia merasa ingin menunggu beberapa hari lagi sampai seisi otaknya tidak berpusat lagi pada Lysa. Dengan seperti itu, ia bisa berpikir secara rasional dan juga dapat menimbang dengan lebih jeli apakah ia harus lanjut berkencan dengan Lysa atau berhenti sampai di sana saja karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk keduanya meneruskan perkencanan. Namun sayangnya, sampai detik ini Mino masih belum bisa melepaskan bayang bayang Lysa dari otaknya. Dan itu yang membuatnya merasa kesulitan. Ia tidak bisa memikirkan solusi selain ‘tetap bersama Lysa’ yang itu beresiko akan menyakiti Lysa lebih dalam ketika Mino tidak mempertimbangkan dengan baik. Lysa terlalu baik dan lugu untuk Mino sakiti meski dengan tidak sengaja. Gadis itu terlalu baik dengan kasih sayangnya yang murni, untuk Mino libatkan dalam kehidupannya yang rumit. kehidupan Mino sendiri masih sangat rumit karena masa lalunya yang masih terus mengganggu. Dan bukan hanya permasalahan tentang masa lalu, tetapi juga persoalan rumit di keluarganya; ibunya yang sakit dan lumpuh, ayahnya yang masih terjerat dengan kehidupan miskin di masa lalu, dan kedua adiknya yang dua duanya masih bersekolah; semua biaya hidup keluarhanya yang menanggung adalah Mino. Lelaki itu menjadi tulang punggung keluarganya, yang telah mengangkat keuarganya keluar dari kehidupan miskin di masa lalu.
Strata sosial sampai detik ini masih Mino rasakan. Di mana ia merasa terkucilkan atau ternomor duakan karena berasal dari keluarga miskin. Memang tak di segala kesempatan hal itu terjadi. Namun trauma Mino terbesar adalah, ketika ia telah terikat hubungan kasih dengan seorang perempuan dan bahkan memiliki niatan untuk menikah, namun pada akhirnya hubungan itu ditentang gara gara latar belakang keluarga Mino yang bukan berasal dari keluarga kaya. Meski Mino telah berhasil merubah garis kehidupannya dan menjadi seorang yang sukses di usia muda, tetap saja label bahwa ia berasal dari keluarga miskin itu tidak pernah hilang. Ia takut, dan khawatir, jika ia menjalin hubungan dengan seorang wanita dan pada akirnya ia mendapay penolakan karena latar belakang keluarhanya. Sekilas, Mino memang telah mendengar tentang keluarga Lysa. Ibu dan ayah Lysa yang bercerai, bangkrutnya bisnis sang ayah, Lysa yang menjadi anak semata wayang ayahnya, dan ayah Lysa yang seorang pebisnis. Itu sama seperti Im Jiwon yang juga berasal dari keluarga pebisnis, merupakan anak semata wayang, dan ayahnya juga mengalami keangkrutan dalam hal bisnis.
Itu yang paling Mino khawatirkan saat ini. tapi semakin memikirkannya, Mino semakin merasa gelisah dan juga khawatir. Kisah buruk di masa lalu yang pernah ia lalui membawa perasaan trauma yang cukup dalam untuk laki laki itu. Meski pun ia telah berkata ‘tidak’ pada apa yang Jiwon katakan hari itu di apartemennya, Mino tetap berada dalam kebingungan di tengah rasa takut dan kesepiannya tanpa keberadaan Lysa. Dan sekarang lelaki itu semakin dibuat marah karena melihat Lysa yang seharusnya kembali ke Indonesia, justru berduaan dengan laki laki lain sambil memakan es krim.
Tepat setelah itu ponsel Mino berdering. Melihat nama siapa yang terpampang di layar ponselnya, Mino mengembuskan napas panjang panjang. Sungguh. Ia tidak ingin menjawab telepon yang masuk dari Jiwon itu.
Akhirnya Mino tak menjawab telepon dari wanita itu. Namun ponselnya terusa saja berdering. Sehingga mau tidak mau Mino harus mengangkat telepon yang masuk karena ia merasa terganggu.
Mino pun mengangkat telepon yang masuk dari Jiwon sambil menghela napas panjang panjang. “Ada apa? Bukannya jawabanku sudah jelas? Aku tidak ingin mengulang kisah apa pun denganmu, Jiwon a. Tolong, jangan ganggu kehidupanku. Aku sama sekali tidak berubah pikiran.”
Kalimat itu yang menyambut Jiwon di seberang telepon. Mino yang merasa sangat lelah dengan wanita itu, hanya mencoba untuk tetap bersabar menghadapi Jiwon yang terus terusan menganggu kehidupannya sekarang.
Di seberang telepon Jiwon berkata dengan putus asa. Mendengar itu, Mino mulai meredam emosinya. Lalu memberi tanggapan.
“Apa yang sekarang kau inginkan?” tanya Mino dengan nada suaranya yang dingin.
[Sekali saja, ayahku ingin bertemu denganmu dan berbicara.]
**
“Kenapa kau mengatakan pada ayahku, Brian? Gara gara itu, ayahku memaksaku untuk ikut bersamamu ke Indonesia.”
Sambil memakan es krim banana yang dibelinya di penjual es krim keliling dekat kampus, Lysa menceletuk kepada Brian yang berdiri di sampingnya sambil memakan es krim yang sama.
“Perlu kau tau, aku tidak sedang menawarimu untuk ikut bersamaku ke Indonesia. Tapi aku sedang memintamu untuk menjadi temanku ke Indonesia. Rasanya akan sangat kesepian jika aku ke sana sendirian. Ayah dan ibuku juga sedang di Amerika untuk perjalanan bisnis.” Brian berucap. Ia menelan es krim yang mencair di mulutnya, lalu melirik ke arah Lysa yang berjalan di sebelahnya. “Meski kau tidak bisa menerima perasaanku, setidaknya kau bisa kan menerima permintaanku itu.”
Kalau boleh jujur, sebenarnya Lysa yang ingin sekali pergi ke Indonesia karena begitu merindukan negeri itu. Dan alasannya menolak tawaran Brian untuk pertama kalinya adalah perasaan sungkan dan tidak enak pada lelaki itu. Pasalnya Lysa baru saja menolak perasaannya, bagaimana Lysa bisa menerima tawaran pergi bersama Brian ke Indonesia dengan semua biaya yang dibiayai oleh lelaki itu? Lysa yang setidaknya masih memiliki hati itu memilih untuk menolak tawaran Brian karena tak mau merepotkannya. Sampai akhirnya Brian sendiri yang meminta Lysa untuk menjadi temannya berkunjung ke Indonesia di musim panas ini. Brian yang meminta pada Lysa. Dan Brian juga memina izin pada ayah Lysa supaya Lysa diperbolehkan ikut bersamanya ke Indonesia sebagai teman. Pun karena itu adalah permintaan, sangat sungkan untuk Lysa menolak. Sejujurnya tidak ada alasan untuk Lysa menolak permintaan itu. Karena ia sendiri juga memiliki keinginan yang sangat besar untuk bisa ke Indonesia dan meredakan rasa rindunya. Selain itu, ayah Lysa mengizinkan Lysa pergi bersama Brian karena merasa bisa mengandalkan pria itu untuk menjaga Lysa dan menemani Lysa bertemu dengan ibunya yang baru saja melahirkan di sana.
Akhirnya Lysa pun menyetujui permintaan Brian untuk menemaninya liburan di Indonesia selama enam hari. Dan hari ini, tepatnya nanti sore pukul tiga keduanya akan berangkat dari Bandara Internasional Incheon.
“Baiklah. Sejujurnya aku jugsa sangat ingin pergi ke Indonesia. Aku merindukan Indonesia. Seumur umur, belum pernah aku meninggalkan Indonesia selama ini. Dan aku sangat merindukan segala hal tentang Indonesia,” kata Lysa. Ia tidak ingin membohongi dirinya sendiri dan tidak ingin membohongi Brian masalah itu. Toh, bukan hal yang memalukan untuk mengakui rasa rindu terhadap sesuatu. Jadi Lysa lebih memilih untuk jujur.
Sambil melirik Brian yang berdiri menjulang di sebelahnya itu, Lysa bergumam dengan sangat pelan. “Terima kasih, Brian. Sudah mengajakku ke Indonesia.”
“Heii, harusnya kau yang berterima kasih. Karena kau mau menemaniku ke Indonesia meski kau harus mengambil cuti dari pekerjaanmu di kafe. Apa benar benar diperbolehkan mengambil cuti? Sepertinya meminta cuti selama satu minggu itu sangat sulit, apa kau langsung diizinkan begitu saja?” tanya Brian.
“Tidak, tentunya. Mana mungkin manajer kafe memberiku izin cuti selama satu minggu begitu saja? Tapi akhirnya aku diizinkan. Yah... walau setelah kembali nanti aku harus mengisi semua jam kerja yang kutinggalkan supaya penetapan gajiku tidak berubah.” Lysa menjelaskan.
“Syukurlah.” Brian menanggapi. Kemudian ia teringat suatu hal dan bertanya dengan pelan, “Apa kau masih bertengkar dengan manajer itu?”
Seketika itu juga napas Lysa berembus panjang. “Hh. Tidak ada yang mudah di dunia ini. Mencari uang, atau pun menjalin hubungan, semuanya tidak ada yang mudah. Satu satunya hal yang paling mudah di dunia ini adalah ... bernapas. Sekarang aku hanya bisa tetap bernapas dan menunggu semuanya baik baik saja.”
Dari jawaban yang dilontakan Lysa itu Brian menyimpulkan bahwa hubungan Lysa dengan laki laki yang merupakan manajer Moonlight Coffe itu belum baikan.
Brian pun mengangguk anggukkan kepala. Ya, bisa jadi. Lysa bahkan bisa mempertahankan rasa sukanya kepada Brian dalam kurun waktu yang sangat lama, hampir sepuluh tahun. Tentunya bukan hal yang sulit untuk gadis itu menunggi Mino sambil tetap bernapas ....
“Begaimana denganmu, Brian? Apa kau dengan wanita itu juga baik baik saja?” tanya Lysa hati hati.
Namun kening Brian mengernyit. Jujur, lelaki itu tidak mengerti siapa yang Lysa maksud dengan ‘wanita itu’.
“’wanita itu’? Siapa?” tanya Brian tak mengerti. Namun Lysa hanya menatapnya, memberikan tatapan yang seketika itu juga dapat dimengerti oleh Brian. “Aahh.. wanita itu .... Hm, entahlah. Aku tidak akan pernah menyetujui perjodohan itu. Jadi aku tidak begitu memedulikannya. Ayah dan ibuku juga sedang sibuk mengurisi bisnis di Amerika sehingga mereka tidak sempat membicarakan itu lagi padaku. Jadi ya ... entahlah. Sepertinya wanita itu juga ingin kembali dengan mantan kekasihnya. Ah... aku tidak tahu.”
Tubuh Lysa seketika itu membeku setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Brian. Kata kata bahwa wanita yang tidak lain adalah Im Jiwon itu akan kembali dengan mantannya, membuat tubuh Lysa tiba tiba mendingin. Langkah Lysa seketika terhenti. Pandangannya mendadak kosong. Dan tiba tiba, ia melihat sosok Han Mino keluar dari kafe sambil menerima telepon dari seseorang.
Pandangan Lysa semakin sayu melihat keberadaan lelaki itu. Jika apa yang dengar Lysa itu benar benar terjadi, entah apa yang kan Lysa lakukan. Dalam hati Lysa hanya dapat berteriak, menanyakan kapan ini semua akan berakhir. Penderitaannya, penantiannya, dan perasaan tidak terjawab ini, kapan akan berakhir ....? Kapan ia akan mendengar jawaban dari Mino, dan kapan laki laki itu akan menjawab semua penantiannya ini?
Tidak jauh dari Mino sendiri, setiap detik waktu yang Lysa lalui terasa begitu menyiksa karena gadis itu tidak dapat bersama Mino. Lebih dari apa pun Lysa merindukan Mino. Lebih dari apa pun Lysa menginginkan Mino untuk tetap bersamanya, bukannya kembali dengan wanita yang telah membuatnya merasakan sakit yang begitu dalam. Lysa ingin bersama Mino. Lysa bisa berjanji bahwa ia akan tetap mencintai Mino dan tidak pernah berniat meninggalkannya seperti yang Jiwon lakukan di masa lalu. Lysa bisa menjamin itu. Lysa bisa memastikan hatinya tetap untuk Mino. Tapi, Lysa belum memiliki kesempatan untuk bisa mengungkapkan semua itu kepada Mino yang masih sibuk bergelut dengan masa lalunya yang kelam.
**