Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
‘Izinkan aku melakukannya sekali lagi, dengan perasaan’



Bab 16


‘Izinkan aku melakukannya sekali lagi, dengan perasaan’


“Ya. Aku membutuhkanmu, Ajeossi. Sangat membutuhkanmu.”


“Kenapa? Kenapa kau membutuhkanku?”


Bahkan setelah Lysa menjawab, Mino kembali melontarkan pertanyaan. Membuat Lysa hampir tidak bisa berkata kata. Ia hanya bingung saja, kenapa Mino bertanya seolah olah tidak memercayai apa yang ia katakan bahwa dirinya memang membutuhkan Mino.


Tepat setelah itu, seorang ibu ibu pemilik restoran ini datang membawa nampan yang berisi dua mangkuk sup tulang sapi. Rupanya makanan yang dipesan Mino telah selesai disiapkan. Wanita paruh baya tersebut menarik dua mangkuk sup tulang sapi ke atas meja Mino dan Lysa. Juga meletakkan dua mangkuk nasi dan satu kimchi yang telah dipotong potong.


“Nimkati makan siang kalian.”


“Terima kasih.”


Lysa menjawab perkataan paruh baya tersebut sambil tersenyum ramah.


Pandangan Lysa sepeluhnya tertuju pada sup tulang sapi yang tersaji di hadapannya. Sedangkan Mino yang masih menantikan jawaban itu, memandangi Lysa dengan tatapan miusteriusnya yang belum pernah Lysa lihat sebelumnya.


“Kenapa kau tidak menjawabku?” protes Mino yang merasa telah diabaikan oleh Lysa. Perhatian Lysa yang tertuju pada makanan itu membuat perasaan Mino sedikit tidak senang.


Seketika itu juga pandangan Lysa menaik. Ia menatap Mino yang memasang wajah misterius, dengan tatapan yang menuntut. Melihat itu, Lysa hanya menghela napas dalam dan ringan ke dalam perutnya yang kosong.


“Kita makan dulu, Ajeossi.” Lysa berucap. Lalu menurunkan kembali pandangannya pada makanan. Ia mengambil satu mangkuk nasi lalu menumpahkan nasu tersebut ke dalam mangkuk supnya yang masih panas. Lantaran mengaduk ngaduk sup tulang sapinya sehingga nasi dan kuah sup telah bercampur menjadi satu dan siap ia santap di siang ini.


Melihat itu, Mino ikut mengembuskan napas panjang. Perhatian Lysa sudah terlanjur tertuju pada makanan di hadapan itu. Tidak ada yang bisa Mino lakukan selain mulai menyantap makanannya yang tersaji di hadapan ini, bersama rasa penasarannya yang masih berlanjut dan terus berputar di kepalanya.


Berbeda dari cara makan Lysa, Mino tidak mencampur nasi ke dalam sup tulangnya. Ia hanya menyendok nasi ke dalam mulut. Lalu menyeruput kuah sup tulang sapi menggunakan sendok dan lanjut memakan daging sapi yang ada di dalam supnya dengan perlahan lahan.


“Kenapa kau tidak mencampur nasinya ke dalam sup, Ajeossi? Harusnya kau mencampur nasinya ke dalam sup supaya lebih lezat.” Lysa yang melihat Mino makan sup dengan cara yang tidak sama itu pun menasihati. Namun tak digubris oleh Mino yang suasana hatinya tidak begitu baik karena Lysa yang tak menjawab pertanyaannya tadi.


“Terserahku. Tidak perlu ikut campur.” Itu jawaban sewot yang Mino berikan ketika Lysa mengatakan sesuatu. Pandangannya tidak beralih dari sup tulang sapi. Ia melanjutkan makan siangnya dengan caranya, tak mengikuti cara Lysa.


Melihat itu, Lysa mengernyitkan alisnya dengan pelan. Ia menyadari satu sisi baru dari laki laki yang ia panggil Ajeossi itu. Ternyata, Mino juga memiliki sisi kekanakan yang membuatnya terlihat seperti anak laki laki yang membutuhkan banyak perhatian. Dan itu adalah sisi baru yang ditunjukkan laki laki itu kepada Lysa.


Lysa tersenyum tipis melihat tingkah laku Mino tersebut. batinnya tergelitik. Mino yang sedang ngambek itu tampak menggemaskan. Terlihat bukan seperti Manajer Han yang sangat menawan dan berkarisma. Dan entah mengapa, hal itu membuat Lysa merasa semakin dekat dengan Mino. Karena ia yakin, laki laki yang serba sempurnya seperti Mino itu tidak mungkin menunjukkan sisi sisi tertentu pada orang yang tidak begitu penting dalam hidupnya. Namun melihat lelaki itu memperlihatkan sisi kekanakannya pada Lysa dengan cara ngambek begitu, membuat Lysa merasa selangkah lebih dekat dengan Mino.


Sudah cukup Lysa melihat sisi tersebut. ia juga merasa kasihan dan tidak enak melihat Mino yang terlihat tidak bisa menikmati makan siang dengan baik.


Lysa meletakkan sendoknya ke atas meja. Lalu mengambil gelas berisi air mineral dan meneguknya seteguk.


“Ajeossi,” panggil Lysa pelan. Yang seketika membuat Mino menaikkan pandangan. Menatap Lysa dengan raut wajah yang masih belum berubah, tampak cemberut dan tidak senang.


“Hm?”


“Apa aku sudah menceritakannya padamu? Tentang sebuah tragedi yang menimpa keluargaku.” Lysa bertanya demikian.


Sontak raut wajah Mino berubah. Ia tak terlihat seperti anak kecil yang menuntut sesuatu dari seseorang. Tetapi tatapannya berubah seperti Han Mino yang siap mendengarkan setiap cerita dari Lysa, yang kadang itu sama dengan ceritanya di masa lalu. Tentang perjalanan masa mudanya yang penuh liku dan dipenuhi oleh tangisan darah.


“Kau hanya sempat bercerita kalau ayahmu adalah seorang pebisnis yang bangkrut,” jawab Mino. Ia menarik napas panjang panjang. Lalu meletakkan sendok supnya ke atas meja, siap mendengarkan kelanjutan cerita itu lebih lanjut. “Ceritakan padaku, apa yang ingin kau ceritakan.”


Kepala Lysa mengangguk angguk.


“Di Indonesia ayahku memiliki bisnis tempat wisata dan juga bisnis marchandise. Daerah tempat tinggalku, Yogyakarta itu sangat kental dengan budaya dan di sana banyak sekali tempat wisata, juga menjadi tujuan para turis dan penduduk lain daerah untuk berwisata. Bisnis ayahku bisa dibilang cukup sukses dan keluarga kami hidup serba mewah seperti orang orang kalangan atas di sana. Sampai akhirnya ibuku berselingkuh dengan manajer tempat wisata yang dimiliki ayahku. Aku yang pertama kali melihat perselingkuhan mereka, di sebuah ruangan tertutup di kantor pengelolaan tempat wisata itu, aku melihat ibuku melakukan suatu hal yang tidak senonoh dengan laki laki itu.” Cerita Lysa terjeda. Rasa sakit yang ia rasakan itu kembali lagi, mencekam dadanya dan membuatnya kesulitan bernapas.


Karena terlalu sesak, Lysa mengambil air minum dan kemudian meneguknya kembali. Setelah itu ia melanjutkan ceritanya.


“... Sejak saat itu keluargaku hancur. Ibu menuntut mengajukan perceraian dan menuntut sejumlah uang pada ayah yang karena terlalu sibuk, tidak pernah memperhatikan ibu dan memberinya kepuasan rumah tangga. Pada saat itu ibuku sudah hamil, dan perceraian mereka pun benar benar terjadi. Ayah kehilangan semua aset bisnis wisatanya. Dan aku pun ikut bersama ayahku untuk datang ke Korea Selatan. Dengan semua uang yang masih dimiliki ayah, ayah membangun bisnis di sini. Namun, ayahku sudah lama sekali tidak hidup di Korea. Ayahku tidak begitu fleksibel membaca selera orang Korea dan tetap memberanikan diri untuk membuka bisnis di negeri ini. Dengan modal seadanya dan dengan koneksi yang sangat terbatas, ayahku membuka bisnis di bidang retail. Tapi, seperti yang diduga, bisnis itu bangkrut. Ayah bisa menjalankan bisnis, tapi untuk manajemen dan pengelolaannya, ayah tetap membutuhkan orang lain . Di kampus aku mempelajari banyak hal tentang manajemen. Tapi, pada praktiknya akan lebih sulit dan akan ada banyak tantangan. Karena itu, aku ingin belajar darimu, Ajeossi. Secara tidak langsung, kalau aku terus mengamatimu dalam melakukan beberapa pekerjaan, aku pasti akan belajar sedikit demi sedikit tentang manajemen bisnis darimu, Ajeossi.”


Cerita panjang lebar Lysa itu rupanya menjawab tanda tanya besar di benak Mino. Menjawab pertanyaan Mino tentang mengapa Lysa membutuhkannya untuk tetap berada di kafe.


Mendengar semua cerita memilukan itu, tiba tiba saja benak Mino terasa tidak enak. Ia sama sekali tidak menyangka kalau pertanyaannya tadi akan mendapat jawaban sedetail dan sepilu ini dari Lysa.


Padahal Mino bertanya demikian tadi hanya untuk memastikan kalau Lysa tidak hanya sedang membual tentang dirinya yang mebutuhkan Mino untuk tetap berada di kafe dan bekerja sebagai manajer di sana. Mino hanya memastikan kalau kata kata itu bukan bualan. Sehingga di masa depan ia tidak akan merasa kecewa ketika mengetahui bahwa ternyata itu semua hanya bualan. Dan sebenarnya Mino tidak dibutuhkan oleh Lysa.


Luka yang Mino rasakan akibat perpisahannya dengan Jiwon masih terasa begitu membekas di dalam dada. Ia merasa takut dan selalu khawatir jika di masa depan akan merasakan rasa sakit yang seperti itu lagi. Karena itulah ia bersikpa begitu waspada dan sebisa mungkin untuk tidak mudah percaya pada orang lain sehingga peluang untuk merasa kecewa dan dihianati akan semakin kecil.


Karena perasaan tidak enak dalam benaknya, Mino lansung bergumam gumam lirih menanggapi cerita panjang Lysa tentang keluarganya.


“Ma ... maaf karena sudah membuatmu menceritakan semua itu. Aku turut bersedih medengarnya. Sekali lagi aku meminta maaf.” Mino berucap pelan. Ia menatap Lysa denan wajah penuh rasa bersalah dan pilu.


Namun Lysa menanggapi itu dengan senyuman hangat di bibir. Ia tak terlihat terbebani oleh Mino yang membuatnya menceritakan hal semacam itu, hal yang membuat lukanya terkuak kembali.


“Tidak apa apa, Ajeossi. Sebenarnya aku ingin meceritakan hal ituy pada seseorang yang bisa mendengarkannya dengan baik. Karena aku juga manusia yang ingin dimengerti. Paling tidak setelah medengarkan cerita itu, Ajeossi sudah tahu kondisiku yang sebenarnya. Sehingga tidak ada lagi yang perlu aku tutup tutupi dari Ajeossi. Dan aku bisa lebih leluasa saat bersamamu, Ajeossi.” Lysa berucap demikian sambil tersenyum simpul.


Mino membalas kata kata itu dengan senyuman yang terasa hangat.


“Terima kasih, sudah memercayaiku untuk mendengarkan cerita itu,” kata Mino. Kemudian ia mengambil kembali sendok untuk melanjutkan makan siang. “Lanjutkan makan siangmu. Tidak lama lagi aku harus pergi ke bandara.”


Lysa mulai mengambil kembali sendoknya dan melanjutkan kegiatan makan siang. Namun keningnya mengerut karena terkejut mendengar kata bandara.


“Bandara?”


Sambil menganggukkan kepala, Mino berucap. “Iya. Aku akan pergi ke pulau Jeju untuk urusan pekerjaan. Dan jadwal penerbanganku sebentar lagi. Jadi aku harus segera ke bandara Gimpo untuk terbang ke pulau Jeju.”


Lysa terkejut mendengarnya. “Jadi, maksud kata ‘pergi’ yang Ajeossi katakan tadi, adalah pergi ke Pulau Jeju?” tanyanya meyakinkan.


“Heih, tidak apa apa, Ajeossi. Jangan pedulikan aku. Kurasa sudah cukup aku menumpang makan siang padamu. Sudah lebih dari tiga minggu Ajeossi selalu mentraktirmu makan siang. Jadinya aku anggap hutang Ajeossi sudah lunas juga. Tidak perlu kau cemaskan, Ajeossi. Terima kasih sudah menepati janjimu itu. Aku tidak menyangka kalau Ajeossi benar benar mentraktirku makan setiap hari selama ini.” Lysa megungkapkan kejujurannya pada Mino.


Mino hanya tersenyum. “Namanya janji harus ditepati.”


“Tapi ada laki laki yang hampir tidak pernah menepati janjinya,” Lysa menyahut.


“Entah siapa pun laki laki yang tidak pernah menepati janji itu, bisa dipastikan satu hal. Bahwa laki laki itu bukan laki laki yang baik untukmu.” Mino menyahut.


“Lalu, apa Ajeossi adalah laki laki yang baik untukku?”


Mendengar pertanyaan spontan Lysa itu, kegiatan makan Mino seketika berhenti. Ia lansung menelan kuah sup yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Pandangannya menaik. Menatap Lysa yang memasang ekspresi wajah datar, tak menunjukkan emosi apa apa.


“Jika laki laki yang baik adalah laki laki yang selalu menepati janjinya, berarti Ajeossi adalah laki laki yang baik untukku. Bukankah logikanya seperti itu?” lanjut Lysa menggumam gumam.


Benar. Itu memang benar. Tapi, Mino ragu untuk menjawabnya ‘benar’.


“Mungkin. Dan, bisa jadi,” jawab Mino pelan, dengan ragu ragu.


**


“Ajeossi, hati hati di jalan! Kalau merasa bosan, hubungi saja aku. Okay?!”


Beberapa meter di depan eskalator bandara menuju lantai dua, Lysa menceletuk kepada Mino yang hendak melakukan penerbangan. Di tengah kerumunan bandara itu, keberadaan Lysa terlihat paling bersinar di mata Mino. Membuat Mino terkekeh kekeh karena celetukannya.


Pada akhirnya Lysa mengikuti Mino menuju bandara meski Mino berkali kali menolak. Lysa bersi keras sekali ingin mengantar Mino ke bandara dan melihat laki laki itu pergi dengan selamat. Namun, Mino sempat menolak diantar oleh Lysa. Bagaimana tidak? Mino pergi ke bandara Gimpo dengan mengendarakan mobilnya. Dan jika Lysa ikut bersamanya, maka Lysa harus pulang dari bandara Gimpo dengan menggunakan transportasi umum. Mino tidak ingin merepotkan Lysa dengan mengiyakan keinginan gadis itu. Namun, Lysa tetap memaksakan diri dan menggunakan segala cara dan hasutan untuk membuat Mino mengiyakan permintaannya. Dan akhirnya, Mino pun kalah. Akhirnya Lysa ikut bersama laki laki itu ke bandara internasional Gimpo untuk mengantarnya sampai bandara.


Dari jarak lima meteran dari Lysa, Mino mengangguk anggukkan kepala. Lalu berbalik badan. Ia menyeret kopernya untuk berjalan mendekati tangga berjalan yang akan membawanya naik.


Satu langkah tepat di depan eskalator itu, langkah kaki Mino berhenti. Wajahnya menyendu. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.


Satu ... dua ... tiga ....


Mino perlahan lahan berbalik badan. Melihat ke arah Lysa yang masih tersenyum ceria dan menatapnya dari kejauhan. Tatapan ceria gadis itu membuat langkah Mino terasa berat untuk pergi. Mino melepaskan koper besar yang dibawa bersamanya. Lalu berjalan meninggalkan koper tersebut. perlahan lahan berjalan mendekat ke arah Lysa.


Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu... ia terus berjalan mendekat pada Lysa dengan tatapan hangat dan sendu.


“Ajeossi, kenapa? Kenapa kau tidak segera naik dan malah ke sini?” Lysa yang melihat sikap aneh Mino pun menceletuk kaget. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran Mino dan kenapa Mino tidak segera naik.


Tanpa berkata apa pun, Mino yang telah tiba di hadalan Lysa itu langsung memeluknya. Mino memeluk tubuh Lysa. Memeluknya dengan erat seolah olah tidak ingin meninggalkannya pergi. Pelukannya terasa begitu erat untuk Lysa, hingga membuatnya kesulitan bernapas. Namun, Lysa merasakan kehangatan tubuh Mino. Ini adalah pertama kalinya gadis itu merasakan pelukan yang begitu hangat dari seorang laki laki. Dan ini pertama kalinya ia mendapatkan pelukan yang begitu erat dari laki laki. Ini pertama kalinya untuk Lysa. Benar pertama kalinya.


“Aa ... ajeossi ...” Lysa yang hampir tidak bisa bernapas karena pelukan erat Mino itu, hanya dapat menggumam begitu pelan karena bingung.


Tetapi pelukan tidka terduga Mino itu berangsung cukup lama. Hingga akhirnya Lysa larut dalam pelukan itu dan turut membalas pelukan Mino. Gadis itu pun melingkarkan kedua tangannya pada punggung Mino. Memeluknya dengan erat meski tak seerat pelukan yang ia rasakan dari Mino.


Seisi dunia seolah sednag berhenti sejenak, ketika kedua manusia itu larut dalam perasaan menggebu gebu yang diiringi luka dari masa lalu pahit Mino. Keduanya seakan akan berada dalam dunianya sendiri hingga tak menyadari bahwa mereka berada di tengah kerumunan bandara.


Luka yang Mino rasakan karena perpisahan itu maish sangat membekas di benak. Setiap pergerakan Mino seolah olah tidak bebas karna berada dalam belenggu luka yang tidak kunjung berhenti menghentui hidup dan kesehariannya. Namun, luka luka itu perlahan hilang saat Mino menghabiskan waktunya bersama Lysa. Sedikit demi sedikit luka dalam hatinya terkikis dengan semua kehangatan dan kata kata menyentuh yang Lysa utarakan untuknya. Kata kata yang penuh rasa terima kasih, kata kata membutuhkan, kata kata yang membangkitkan gairan hidup Mino dan membuat Mino merasa yakin bahwa ia akan bisa melalui semua luka yang ditinggalkan oleh Jiwon.


Dengan bersama Lysa, Mino yang semula mati rasa dan tidak memiliki gairan sama sekali untuk hidup, kembali melebarkan sayapnya. Rasa Mino perlahan lahan kembali, seolah hatinya yang membeku bersama semua luka itu sedikit demi sedikit meluruh bersama senyum Lysa dan semua yang gadis itu bawa untuknya, juga kegangatannya. Mino merasakan kembali semangat untuk melanjutkan hidup. Semangat untuk terus menjalani kehidupan yang lebih baik. Karena Mino meras dibutuhkan. Mino merasa ada yang masih membutuhkannya untuk tetap hidup dengan caranya seperti sebelumnya. Perlahan lahan, Mino merasa kembali menjadi dirinya yang sebelumnya, meski itu semua belum menghapus semua luka menyakitkan yang dibawanya dari masa lalu.


Sesaat kemudian, pelukan Mino meregang. Perlahan lahan Mino melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Lysa. Tatapan Mino terasa hangat, dan penuh kepedihan. Lysa menatap manik manik mata yang pilu itu dengan kehangatan yang baru saja ia dapatkan melalui pelukan Mino. Lysa menatap lekat kedua mata Mino sementara Mino masih belum melepaskan bahu Lysa dari cengkeramannya.


“Izinkan aku melakukannya sekali lagi. Kali ini dengan ketulusan.”


Lysa tidak mengerti apa maksud ucapan Mino. Namun kepalanya hanya mengangguk angguk.


Setelah itu Mino memejamkan bola matanya. Lalu mencium bibir Lysa untuk kedua kalinya. Jika dulu ia lakukan tanpa ada perasaan di dalamnya, kali ini Mino melakukannya dengan tulus. Ia mencium bibir Lysa dengan lembut, dan semakin dalam. Perasaan menggebu gebu yang dulu pernah singgah dalam hati Mino itu kembali hadir bersama keberadaan gadis itu. Lysa yang juga larut dalam ciuman hangat Mino yang semakin dalam dan menghanyutkan.


Ciuman itu berlangsung selama beberapa saat. Hingga sejenak kemudian Mino melepaskan ciuman itu perlahan lahan. Menatap wajah Lysa yang merona.


Ibu jari Mino bergerak gerak di bibir Lysa, mengusap liurnya yang masih menempel di sana. Lalu menatap Lysa serius dan berucap, “Tunggu aku kembali. Katanya kau membutuhkanku, jadi tunggulah aku kembali.”


Ucapan Mino itu terdengar cukup serius. Lysa tidak mengerti kenapa sikap Mino sungguh berubah kepadanya. Ia kira, Mino tidak akan mengizinkan Lysa masuk ke dalam kehidupannya. Namun, melihatnya seperti ini membuat Lysa merasa ragu. Apa lagi arti ciuman ini? Saat itu, Mino menciumnya lalu mengatakan maaf. Dan sekarang, Mino menciumnya lagi lalu berkata padanya untuk menunggu. Lysa sungguh tidak mengerti apa yang ada di dalam otak laki laki itu, dan tak mengerti bagaimana jalan pikirannya yang rumit itu.


“Cepat, beri aku jawaban. Tidak ada waktu lagi.” Mino mendesak Lysa yang tak kunjung memberina jawaban. Waktu terus berjalan. Dan jadwal penerbangan Mino ke Jeju semakin dekat. Secepat mungkin ia harus mendengar jawaban dari Lysa.


Entahlah. Lysa tidak yakin apa yang sedang Mino pikirkan. Pertama tama, ia hanya akan mengiyakan permintaan Mino dan melihat nanti apa yang akan terjadi.


Lysa pun menganggukkan kepala. “Aku akan menunggumu, Ajeossi. Aku akan menunggumu kembali.”


Begitu Lysa menjawab, Mino tersenyum lebar kepadanya. Ia melepaskan cengkeramannya pada kedua bahu Lysa. Dan terssenyum lebar pada gadis itu. Lalu ia berbalik tubuh dan berjalan cepat menyambar koper untuk menaiki eskalator.


Dari tempatnya berdiri itu, Lysa masih bergeming. Ia memandangi Mino yang berlari semakin jauh darinya lalu tenggelam ke dalam ratusan kemurunan manusia di lantai dua.


Lysa benar benar tidak tahu apa yang sedang terjadi ini. Semuanya terasa membingungkan untuknya. Semua terlalu tiba tiba dan tidak terprediksi. Membuatnya mabuk kepayang dan logikanya berhenti sejenak.


Napas Lysa berembus panjang panjang.


“Hhh! Aku tidak tau. Benar benar tidak tahu. Ahh, rasanya mau gila memikirkan semua ini. Di luar angan anganku. Di luar logikaku. Di luar dugaan. Terlalu cepat untuk dirasakan, dan terlalu rumit. Ahh! Aku tidak tau lagi.”


**