
Bab 37
Author POV
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat seiring dengan pergerakan matahari ke ujung barat. Entah mengapa, hari di akhir pekan berjalan lebih cepat daripada hari-hari biasanya. Hun sejak pukul delapan pagi meninggalkan rumah untuk bertemu seseorang di kantor dan mengerjakan beberapa tugas yang tidak pernah habis mengisi mejanya, mengingat betapa banyaknya berkas kasus masuk ke pengadilan setiap harinya.
Pada pukul sebelas siang Hun dan juga rekannya, Hakim Cho yang memiliki nama asli Cho Jinhee, pergi meninggalkan gedung pengadilan untuk mencari makan siang. Keduanya sedang berjalan keluar dari restoran cepat saji yang berdiri tidak jauh dari gedung pengadilan seselesainya makan siang bersama.
“Apa Hakim Hun tidak punya kesibukan di akhir pekan?” Di sebelah Hun yang sedang berjalan, Jinhee bertanya. Ia berjalan selagi membenarkan ikatan rambut panjangnya.
“Karena itu aku bekerja di akhir pekan, untuk mencari kesibukan.” Hun menjawab dengan santai.
“Oh, aku kira Hakim Hun akan menghabiskan waktu di akhir pekan dengan berkencan dan mencari ketenangan diri di rumah. Kurasa seperti itulah pria masa kini menghabiskan akhir pekannya,” celtuk Jinhee.
Kepala Hun menoleh. Keningnya mengernyit bingung. Ia tak begitu tahu apa arti dari ucapan “pria masa kini” yang dilontarkan oleh Jinhee.
“Kalau saja aku punya perempuan yang bisa aku ajak berkencan di akhir pekan, pasti aku akan melakukannya. Tapi, seperti yang terlihat... aku masih menyibukkan diriku di akhir pekan dengan bekerja. Karena akan sangat membosankan jika sepanjang hari aku berdiam diri di rumah.”
“Hakim Hun bisa mengajak gadis itu untuk berkencan.”
Hun kembali menoleh. Tatapannya menanyakan siapa maksud ‘gadis itu’ yang diucapkan Jinhee.
“Gadis itu?”
“Ya. Gadis yang waktu itu bersama Hakim Hun di Moonlight Coffe. Bukannya dia kekasih Hakim Hun?” tanya Jinhee.
Sejenak Hun terdiam. sudah pasti yang dimaksud Jinhee adalah Yebin. Benar. Yebin yang siang itu sedang bersama Hun di Moonlight Coffe ketika tanpa sengaja bertemu Jinhee.
“Dia... maksudku, gadis yang kau maksud, dia adalah calon kakak iparku. Dia calon istri kakakku.”
Jinhee seolah tak bisa berkata apa-apa saat mengetahui fakta itu. Pasalnya, ia merasa sangat yakin kalau Yebin—yang bersama Hun di Moonlight Coffe dan sering makan bersama bahkan berangkat bersama Hun—adalah kekasih Hun, bukan calon istri kakaknya alias calon kakak iparnya. Sedikit membingungkan, memang.
“Ah... begitu rupanya,” desus pelan Jinhee.
Tiba-tiba ponsel Jinhee berdering. ada satu panggilan masuk yang segera dijawab olehnya.
Hun melanjutkan jalannya sementara Jinhee menerima panggilan telepon selama beberapa saat. Begitu panggilan telepon itu berakhir, Jinhee yang terlihat terdesak segera berkata, “Hakim Hun. Sepertinya aku harus pergi duluan. Ibu mengabariku kalau sudah tiba di Seoul dan sedang mencari tempat tinggal baruku. Aku harus segera menjemputnya di stasiun.”
Melihat Jinhee yang terdesak, Hun segera menganggukkan kepala.
“Baiklah. kau bisa segera pergi. Setelah ini aku juga akan pulang kok.”
“Sampai bertemu besok.” Jinhee hendak pergi berbalik arah, menuju halte bus. Tetapi ia teringat suatu hal dan menceletuk, “Hakim Hun jangan terlalu sering melembur. Jangan sering bekerja juga di akhir pekan. Negara tidak memberi gaji sebanyak itu untuk membuat Hakim Hun bekerja di akhir pekan dan melupakan kehidupanmu sebagai Moon Hun.”
Itu kalimat terakhir yang diucapkan Jinhee sebelum berlari menjauhi Hun untuk mengejar bis dari arah selatan yang hendak tiba di halte. Hun yang mendengar nasihat semacam itu untuk pertama kalinya, hanya bergeming selagi menatapi Jinhee yang sedang naik bus dari kejauhan.
Bersama bis yang melaju pergi, Hun menghela napas panjang. ia menyadari satu hal yang dilupakannya selama ini.
“Benar. Aku punya kehidupan sebagai Moon Hun. Bukan hanya kehidupan sebagai Hakim Hun.”
Selama beberapa saat Hun melupakan hal itu. Ia melupakan kehidupannya sebagai Moon Hun karena terlalu menyibukkan diri sebagai Hakim Hun. Sampai ia melupakan bahwa di dunia ini ia masih memiliki keluarga.
Hun memiilki kehidupan yang serba hebat sebagai Hakim Hun, itu yang semua orang lihat darinya. Ia bersekolah hukum di Amerika, sudah dapat dipastikan kalau keluarganya bukanah keluarga sembarangan. karena sebuah fakta umum bahwa biaya yang dikeluarkan untuk menyekolahkan anak ke luar negeri khususnya Amerika sangatlah fantastis. Tidak semua orang Korea bisa menyekolahkan anaknya sampai ke Amerika. Lalu ia kembali ke Korea dan langsung bekerja di Pengadilan Pusat Seoul, sebagai hakim.
Semua yang Hun miliki membuat orang lain terkesan. Ia menjadi Hakim Hun yang dihormati semua orang. Memiliki pekerjaan mapan dan kompeten dalam menyelesaikan ratusan kasus dalam satu bulan. Itu semua membuat Hun merasa buta. Membuatnya melupakan kehidupan pribadinya sebagai Moon Hun, adik dari Yul si pemilik Moonlight Coffe.
Sekelebat ia lupa siapa yang telah membuatnya menjadi seperti sekarang. Selain karena usaha dan kerja kerasnya, kesuksesan Hun sekarang adalah berkat kakaknya. Kakaknya tak pernah melarang Hun untuk menjadi apa pun. Kakaknya selalu berkata ‘sanggup’ dan membuat Hun menentukan standar yang tinggi untuk menempuh pendidikan hukum di Amerika. Hun tahu kesulitan macam apa yang harus dilalui Yul dalam mengelola Moonlight Coffe. Hun tahu seberapa besar peran kakaknya hingga ia dapat menjadi hakim seperti sekarang. Semua ini berkat Yul. Apa yang Hun dapat sekarang adalah berkat Yul yang tak pernah lelah memberinya dukungan.
Karena ambisi besar sang adik, Yul tak pernah dicintai. Yul sibuk memperjuangkan Moonlight Coffe yang menjadi sumber penghasilan keluarga, yang sebagian besar biaya itu untuk menyekolahkan Hun sampai Amerika. Yul selalu merasa kesepian saat Hun berada di Amerika karena ambisinya. Yul selalu sendirian, tak memiliki siapa-siapa, hanya ditemani sunyi dan hantui kerinduannya pada Hun. Tapi Yul tak pernah mengeluh. Yul selalu terlihat tegar dan baik-baik saja karena tak ingin membuat Hun gentar mencapai ambisinya sebagai hakim. Dan Yul memaklumi itu. Yul memahami kata hati Hun sebesar ia menyayangi sang adik.
Sepanjang perjalanan pulang, Hun merenungkan semua itu dalam-dalam. Ia menanyakan pada dirinya sendiri. Siapa orang paling berharga dalam hidupnya setelah orang tuanya tiada? Siapa orang yang paling sengsara karena keputusannya meninggalkan Korea untuk belajar? Dan peran siapa yang paling besar untuk Hun memiliki kehidupan seperti sekarang? Yul telah memberikan segalanya untuk Hun. Ia rela mengalah, menyerah terhadap mimpinya sebagai pelukis untuk meneruskan bisnis kafe. Yul tak pernah mengeluh meskipun ia berada dalam kesulitan besar untuk menyekolahkan Hun ke Amerika. Yul juga tidak pernah memprotes saat harus mengadakan peringatan kematian pada orang tuanya sendirian tanpa Hun yang sibuk memperjuangkan keinginannya. Sekarang, hanya karena cinta tak terbalasnya, Hun nyaris memusuhi sang kakak bahkan tak mau bicara dengannya. Hun tak yakin apakah dirinya masih pantas dianggap adik oleh Yul.
Perenungan yang beradu di kepala Hun ini terus ***-remas hati dan jantungnya. Ia membenci fakta bahwa dirinya buta karena cinta. Ia membenci fakta bahwa dirinya tak bisa menjadi adik yang baik untuk Yul yang telah memperjuangkan segala hal untuknya.
Gerbang rumah Yul terbuka ketika Hun tiba. Rumah cukup sepi, seperti biasanya. Tetapi ia yakin kalau Yul ada di dalam.
“Hyung!”
Hun langsung berteriak memanggil kakaknya begitu membuka pintu rumah. Napasnya masih terengah tatkala kedua matanya mendapati dua sosok manusia duduk di atas sofa dengan satu laptop dengan sticker Biniemoon menyala.
“Hun~a, ada apa denganmu? Kau baru berlari?”
Dari arah sofa, Yul yang cukup terkejut karena kedatangan Hun dan celetukannya, bertanya. Ia melihat sang adik tampak membengong dengan napas terengah engah seperti habis berlari.
Beberapa saat berdiri di balik pintu, pernapasan Hun pun mulai stabil. Ia beberapa kali berdeham lalu berjalan ke arah dapur untuk meneguk satu gelas air mineral.
“Tidak apa-apa. Di luar sangat panas.” Hun menggumam selagi menuangkan air mineral ke dalam gelas lantas meminumnya. Pada saat itu juga, Yebin yang merasa urusannya dengan Yul telah selesai, berdiri dari duduk.
“Aku harus mengemas pesanan. Aku pulang dulu, Oppa. Grafik penjualannya akan kutunjukkan padamu nanti kalau semuanya sudah selesai,” kata Yebin sambil menutup laptop yang dibawanya. Setelah itu ia menoleh pada Hun di dapur. “Hun Oppa, aku pulang dulu.”
Setelah berpamitan, Yebin berjalan keluar bersama segenap perasaan penasarannya tentang Hun. Ia pergi meninggalkan Yul dan Hun berdua di dalam rumah.
Kening Yul mengernyit selagi ia beranjak bangkit dari duduk. Tidak biasanya Hun mengeluh lapar. Tidak biasanya juga Hun bertanya apa di rumah ada makanan. Biasanya, Hun akan langsung keluar untuk mencari makanan ketika lapar. Bukannya mengeluh lapar kepada sang kakak.
“Kau belum makan siang?” tanya Yul sambil berjalan menuju dapur. Ia melihat lemari pendingin yang hanya berisi bahan-bahan makanan, buah-buahan, dan air mineral.
“Belum.”
Napas Yul terhela panjang. Keningnya mengerut saat mengomel, “Aduh. Memang kau digaji berapa oleh pemerintah sampai bekerja di akhir pekan? Kau bahkan sampai lupa makan siang hingga kelaparan seperti kucing terlantar. Jangan mau kalau disuruh bekerja di akhir pekan. Di hari libur harusnya kau beristirahat saja di rumah dan melakukan apa yang kau sukai.”
“Baiklah, baiklah.” Hun memotong omelan kakaknya yang seperti kereta bawah tanah. “Sekarang aku lapar. Bagaimana kalau kita pergi keluar dan membeli tonkatsu?”
“Tonkatsu? Kau ingin makan tonkatsu?”
***
Yul POV
Aku hanya terdiam membengong dalam waktu lama memandangi adikku yang sedang makan tonkatsu dengan lahap. Tidak biasanya Hun makan selahap itu. Sejak dulu aku memang tahu kalau Hun menyukai tonkatsu. Tetapi aku merasa kalau Hun sedikit aneh hari ini. Membuatku merasa curiga.
Apa jangan-jangan Hun mau pindah ke luar negeri lagi untuk urusan pekerjaannya? Atau ia memutuskan untuk kembali ke Amerika dan bekerja di tempatnya dulu? Dua hal yang aku pikirkan ini tiba-tiba membuatku merasa cemas. Aku memang akan mendukung apa pun keputusan Hun mengenai apa yang ingin dia lakukan. Tapi, ia bahkan belum genap satu tahun kembali ke Korea dan sekarang sudah akan pergi lagi? Kalau memang ia tidak akan pergi, kenapa sikapnya sangat berubah?
“Uhhuk! Uhhuk!”
“Makanlah pelan-pelan. Aku tidak akan mengganggumu.”
Segera aku mengulurkan satu gelas air minum kepada Hun yang tersedak di sela kegiatan makannya. Tidak ada yang bisa mengerti apa yang sedang terjadi pada Hun saat ini. Anak itu sangat tertutup. Juga sangat berhati-hati dalam bersikap. Aku sebagai kakaknya yang hidup bersamanya selama berpuluh-puluh tahun, tidak pernah bisa menebak apa yang Hun pikirkan karena ia cenderung menyembunyikan semuanya di balik persona.
“Ah, terima kasih,” ucapku pada bibi pengelola restoran yang baru saja mengantarkan minuman dingin ke meja tampat aku dan Hun berada. Restoran tonkatsu yang berada di distrik Gwangjin ini cukup ramai di siang hari.
“Kau tidak makan Hyung?” tanya Hun yang menjeda sejenak kegiatan makannya untuk menatapku. Ia melihatku yang hanya membengong dan memdiamkan makananku di atas meja.
Napas panjangku terhela. “Rasanya aku sudah kenyang melihatmu makan.”
Begitu mendengar jawabanku, Hun melanjutkan kembali kegiatan makannya. Aku pun meraih pisau dan garpu di sebelah piring dan mulai memakan tonkatsu yang disajikan tepat di hadapanku.
Beberapa saat berlalu. Hun yang menyelesaikan makannya, tengah meneguk minuman. Begitu pun aku yang segera mengakhiri kegiatan makan meski tonkatsu yang ada di piringku masih tersisa beberapa potong.
“Ada yang ingin kau katakan padaku?” Aku membuka pembicaraan setelah melihat Hun selesai meneguk meniman. Aku tahu, Hun bersikap seperti ini karena ingin mengakatan suatu hal padaku.
Sejenak Hun terdiam. Aku hanya menatapinya dalam keheningan.
“Aku hanya ingin makan tonkatsu. Kenapa Hyung berpikir begitu?” jawab Hun yang membuatku menghela napas ringan.
“Kalau memang benar hanya itu, kau makan tonkatsu di perjalananmu pulang. Kau pastinya tau kalau di rumah tidak pernah ada makanan, jadi selalu pergi ke luar untuk makan. Tapi kenapa kau pulang dulu lalu mengajakku makan tonkatsu? Pasti ada yang ingin kau katakan kan?” cetusku panjang lebar. Kulihat sekelebat keraguan yang terpancar di bola mata Hun. “Ada apa? Apa kau ingin kembali ke Amerika? Atau kau ingin pergi lagi meninggalkan Korea?”
Kening Hun mengerut mendengar aku berkata demikian. Kemudian napasnya terhela panjang sembari melengoskan pandangan. Raut wajah Hun yang tidak habis pikir itu membuatku menyimpulkan, sepertinya tebakanku salah.
“Memang ke mana aku akan pergi, Hyung? Aku akan tetap di Korea. Sampai akhir hayatku aku akan tetap di Korea!” Hun berucap dengan suara yang ditekan. Seolah menjadi penegasan bahwa ia tidak akan meninggalkan Korea lagi.
“Lalu ada apa? Jelaskan padaku supaya aku mengerti.” Aku merutuki Hun yang membuatku benar-benar merasa bingung.
Satu kali lagi Hun menghela napas panjang.
“Selamat untuk pernikahanmu. Dan jagalah Yebin dengan baik. Kalau Hyung membuatnya menangis satu kali saja, aku tidak akan tinggal diam.”
Terenyuh yang kurasakan saat mendengar Hun berkata demikian dengan pandangan sayunya yang menatapku. Sekarang, apa Hun merestui hubunganku dengan Yebin? Apa dia telah merelakan Yebin untuk bersamaku? Apa yang membuatnya berubah pikiran? Padahal, sebelumnya ia telah kukuh tidak akan melepaskan Yebin kepada laki-laki yang pernah membuat Yebin terluka begitu dalam sepertiku.
Tetapi aku merasa begitu damai saat mendapat restu dari Hun, satu-satunya adik sekaligus satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku sempat khawatir apakah sampai pernikahanku tiba nanti dia tidak akan mendukungku. Melihatnya kini berada di pihakku, aku merasa senang. Sembari menatap Hun, aku menahan air mata di ujung mataku yang basah.
Perlahan-lahan senyumku terukir di bibir. Aku tersenyum hangat kepada Hun. Lalu menyandainya.
“Ooh, Hun~a. Sepertinya kau benar-benar sudah dewasa. Kau sekarang akan mendukung kakakmu yang akan menikah?” candaku di sela perasaan haru yang masih memeluk benak. Tidak kusangka Hun akan mendukung pernikahanku. Bahkan mengancam jika aku membuat Yebin menangis lagi.
“Tahun ini umurmu 35 kan Hyung?”
Pertanyaan tiba-tiba Hun yang menyinggung umur itu membuat keningku seketika mengernyit.
“Ya. Kenapa?”
“Adik macam apa yang tidak senang melihat kakaknya yang sudah setua itu akhirnya menikah setelah membuatku berhasil menjadi hakim?”
“Hahaha!”
Tawaku tergelak ketika Hun mengatakan suatu hal tentang ‘kakak yang setua itu’. aku tidak yakin apa itu adalah pujian, ejekan, ataukah ucapan terima kasih. Walau sedikit aneh, aku senang mendengarnya. Di usiaku yang ke tiga puluh lima, aku memang tidak bisa dikatakan muda lagi. tetapi aku juga tidak bisa dikatakan tua. Mengingat di Korea ini usia tiga puluh lima untuk laki-laki adalah usia yang pas untuk menikah. Banyak kalangan aktor atau pemain film Korea yang menikah pada usia itu.
Hun ikut tertawa melihatku terpingkal-pingkal karena candaannya. Tepat ketika itu, ponselku di atas meja restoran berdering. aku melihat nama yang terpampang di tengah layar ponsel. Nama ‘Manajer Kwon’ yang aku baca di tengah layar dalam sekejap membuat senyumku hilang. Seketika aku menyimpulkan, sepertinya akhir pekanku tidak akan berjalan dengan baik.
***