Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Hadiah Ulang Tahun



Bab 2


Alhasil, Lysa yang kehilangan satu potong burger itu kini mendapatkan satu porsi daging sapi di salah satu restoran yang berada di sekitar Moonlight Coffe. Ia nyarus mati kelaparan di siang ini. Dan begitu mendapat makanan, makanannya diinjak oleh laki laki yang berjalan mundur. Lysa mengira hari ini benar benar hari tersialnya. Tetapi langit berkata lain dan memberikan keberkatan yang besar utnuk gadis itu. Di mana ia bisa memakan daging sapi seperti yang dia idam idamkan sebagai hadiah dari Brian yang tidak bisa diberikan hari ini.


Di depan meja restoran yang menyajikan daging sapi panggang itu, Lysa tampak begitu bersemangat.  Ia menghirup aroma daging panggang yang sungguh lezat. Menatap daging setengah matang di atas alat pemanggang restoran. Menghirupi aroma daging yang mengepul ngepul dari atas alat pemanggang dan menggoda indra penciumannya. Aroma yang sungguh Lysa sukai di antara semua makanan yang pernah ia rasakan sepanjang perjalanan hidupnya. Yang membuat perutnya langsung lapar begitu menghirup aroma lezatnya. Lapar atau tidak lapar, ketika ia menghirup aroma daging panggang, secara naluri ia memiliki keinginan untuk memakannya.


Begitu Mino membalik salah satu daging di atas pemanggang, Lysa yang tak dapat lagi menahan rasa laparnya, mengambil satu potong daging setengah matang dan langsung melahapnya.


“Eitt! Itu belum benar benar matang.” Mino yang memanggang daging itu menceletuk.


“Tidak apa apa, Ajeossi. Daging setengah matang itu sangat enak,” jawab Lysa yang sedang mengunyah potongan daging tersebut.


Mino mengernyitkan kedua alisnya melihat gadis di hadapannya ini makan dengan lahap. Padahal kesalahannya hanya satu, menginjak burger milik gadis tak bersalah itu. Dan kini ia harus mengganti burger yang dia injak tadi dengan satu porsi daging sapi panggang. Bahkan, ia juga yang memanggangkan daging ini ituk gadis muda itu.


Itu memang kesalahan Mino. Berjalan tanpa melihat. Sampai menabrak tubuh seorang gadis dan menginjak makanannya. Itu semua memang kesalahan Mino yang harus dipertanggungjawabkan selaknya laki laki. Apalagi, Mino juga pernah di posisi seperti mahasiswa muda ini. Di posisi di mana ia tak memiliki uang sama sekali ketika ulang tahun dan tak memiliki pilihan selain ‘diam saja’ di hari ulang tahunnya.


“Ngomong ngomong, ini benar haru ulang tahunmu?” tanya Mino pada Lysa yang sedang sibuk memakan daging panggang yang selesai dipanggang Mino dengan sempurna.


“Ya. Ini haru ulang tahunku yang ke 22.”


“Kau masih muda sekali rupanya,” gumam Mino. Ketika usia 22 tahun, ia masih menjadi mahasiswa yang menghabiskan sebagian waktunya di perpustakaan untuk mengerjakan tugas dan juga belajar.


“Memang usiamu berapa, Ajeossi? Kelihatannya kau tidak berada begitu jauh di atasku,” sahut Lysa sambil memakan dagingnya.


“Aku?” Mino terkejut karena tiba tiba gadis itu balas mempertanyakan usianya. Namun Mino hanya berdeham deham. Ia tidak ada keinginan untuk menjawab pertanyaan tersebut. “Kau... kau bukan asli Korea kan? Pengucapanmu masih terdengar agak canggung.” Mino mengalihkan topik pembicaraan.


“Aku keturunan Korea Indonesia. Ayahku dari Korea, ibuku dari Indonesia. Dan kami baru pindah ke Korea akhir tahun kemarin.” Lysa bercerita singkat.


“Oh, begitu rupanya. Pantas saja pelafalan bahasa Koreamu sedikit berbeda dengan kami.” Mino menambahkan.


Ia telah selesai memanggang daging sapi tersebut untuk Lysa. Dan sekarang, waktunya pergi...


“Hutangku sudah lunas kan? Aku sudah membelikan daging untukmu sebagai ganti dari burgermu yang tidak sengaja aku injak. Sekarang, semuanya sudah beres ya? Jangan mengganggu aku lagi dengan alasan burger atau apa pun.” Mino berkata demikian sambil beranjak dari duduk.


“Terima kasih, Ajeossi. Aku akan membalas kebaikanmu suatu saat.” Lysa menceletuk sembari menguntai senyuman lebar kepada Mino.


Kepala Mino mengangguk angguk. Kemudian ia berjalan keluar dari restoran daging, meninggalkan Lysa menghabiskan makanannya sampai kenyang.


Hari ini adalah hari terakhir dari cuti tiga hari yang Mino ambil untuk pemeriksaan kesehatan yang ia lakukan. Pemeriksaan kesehataan setahun sekali memang merupakan hak istimewa untuk semua manajer kafe yang diberikan oleh Moon Yul. Bisa dikatakan, sebagai bentuk perhatian bos pada bawahannya. Dan pemberian cuti tiga hari itu juga merupakan hak istimewa karena serangkaian tes kesehatan yang dilakukan itu memakan waktu cukup lama sampai tiga hari.


Di hari ketiga ini, sepulangnya dari rumah sakit, sebenarnya Mino ingin bertemu dengan bosnya untuk mengajukan surat pengunduran diri. Ia ingin berhenti bekerja sebagai manajer di Moonlight Coffe. Alasannya cukup rumit untuk dijelaskan saat ini. Yang pasti, saat ini Mino sedang sangat lelah baik secara fisik maupun mental sehingga berpikir untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya yang sudah mapan di kafe.


Namun, karena suatu kejadian yang tidak terhindarkan, hari ini lelaki itu tak dapat bertatap muka dengan Moon Yul untuk membicarakan hal tersebut. dan, tidak masalah. Besok ia akan kembali bekerja dan ia bisa menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada bos besok saja ketika ia sudah masuk bekerja.


Sore ini rencananya Mino akan langsung kembali ke apartemen tempatnya tinggal. Ia menaiki taksi menuju daerah Nohyeon dong, salah satu daerah di distrik Gangnam, tempat apartemennya berada.


Akhir akhir ini, dunia terasa begitu gelap untuk Mino rasakan. Ya, akhir akhir ini saja. Sejak satu satunya wanita yang ia cintai di dunia ini pergi meninggalkannya untuk bersama laki laki lain yang memiliki lebih banyak kekuasaan darinya.


Semua menjadi kelam untuk lelaki itu rasakan. Ia yang mulanya sungguh menyayangi pekerjaannya di Moonlight Coffe, menjadi tak menyukai pekerjaan tersebut dan berpikir untuk berhenti dari pekerjaannya.


Tiba di apartemennya yang gelap, Mino membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Tubuhnya sudah sangat lelah meski ia tak banyak beraktifitas hari ini selain ke rumah sakit dan memanggangkan gadis itu daging sapi di restoran. Rasa lelah yang ia rasakan, adalah dari beban pikirannya yang tak kunjung hilang.


“Hhh....”


Napas panjang berembus dari rongga hidung Mino. Ia terbaring di atas kasur, menatap langit langit apartemennya yang sangat gelap sunyi.


Waktu masih menunjukkan pukul tiga sore. Tetapi apartemennya masih gelap dengan semua gorden jendela yang menjadi penghalang semua cahaya yang hendak masuk melalui celah celah kaca jendela yang ada di apartemennya.


Ini adalah hari ketujuh sejak ia diputuskan oleh Jiwon. Di hari yang ke tujuh ini, semua masih terasa sama untuk Mino. Sama kelamnya. Sama suntuknya. Semua luka yang ia rasakan hari ini masih sama seperti luka yang dirasakannya di hari pertama Jiwon memutuskannya.


Itu semua sungguh di luar dugaan. Sudah genap lima tahun Mino berpacaran dengan Jiwon. Dari sejak ia belum mapan sampai sekarang Mino telah mapan dalam hal karir dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Jiwon satu satunya orang yang menemani Mino ketika ia berjuang di tengah kehidupan yang sangat sulit untuknya. Mino berasal dari keluarga miskin. Dan ia berjuang dengan sangat keras, berlpat lipat ganda dari orang pada umumnya, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan bisa memberikan kehidupan yang layak untuk semua keluarganya. Di tengah semua perjuangannya bertahan hidup itu, Jiwon satu satunya orang yang menemani Mino. Dari ketika Mino bekerja di Moonlight Coffe sebagai salah satu manajer cabang, sampai akhirnya ia diangkat sebagai manajer umum yang bertugas mengawasi kinerja semua manajer Moonlight Coffe dan semua karyawannya.


Itu memang bukan perjalanan yang mudah terlebih untuk Mino yang berasal dari keluarga biasa. Ia pelru berjuang dua kali lipat lebih keras untuk bisa mencapai posisinya saat ini, sebagai manajer umum yang menggantikan sebagian besar tugas Moon Yul sebagai pemilik dari Moonlight Coffe dan Moonlight Grup. Tapi itu kini bukan berarti apa apa lagi untuk Mino yang telah kehilangan satu sosok manusia yang membuatnya bisa mencapai semua itu.


Salah satu dorongan terbesar Mino untuk bisa menjadi seorang yang mapan adalah untuk membahagiakan wanita yang sangat dia sayangi, wanita yang telah memberinya kekuatan besar utnuk mencapai apa yang menjadi miliknya sekarang. Untuk membahagiakan wanita itu. Untuk hidup bahagia bersama wanita yang sangat ia sayangi. Namun ketika wanita itu pergi, tidak ada lagi yang ingin Mino bahagiakan. Tidak ada yang membuat Mino berpikir untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Karena dunianya runtuh bersamaan dengan keputusan Jiwon untuk meninggalkannya. Sekarang, semua tidak berarti apa apa untuk Mino. Mino seolah olah tak memilki alasan untuk tetap bekerja di Moonilght Coffe sebagai manajer umum.


Saat menelusuri semua rasa sakit yang bergelayutan dalam benaknya, kedua mata Mino perlahan lahan terpejam. Ia hampir tertidur, sebelum akhirnya terdengar suara lantang yang memanggil manggilnya dari luar.


“Ajeossi! Ajeossi!”


Suara yang terdengar sangat kecil itu perlahan lahan menyentuh gendang telinga Mino. Membuatnya mengerjap ngerjapkan mata di tengah rasa kantuk yang mulai mengisi kepala. Ia mendengar suara kecil itu. Suara dari seorang gadis muda yang tadi menangis dengan begitu keras gara gara makanannya ia injak.


Bola mata Mino sontak terbelalak. Ia langsung bangun dari tidur. Beranjak dari kasur untuk berjalan menuju jendela kamar. Dari apartemen lantai delapan tempatnya berada saat ini, ia melihat seorang gadis berambut kucir kuda berdiri di depan gedung apartemennya dan berteriak teriak memanggilnya dengan sebutan ‘ajeossi!’.


“Oh! Apa yang gadis itu lakukan?” gumam Mino penasaran melihat gadis yang tidak lain adalah Lysa itu di depan gedung apartemenya dan terus berteriak sampai mengganggu beberapa orang yang lewat.


“Ajeossi! Ajeossii!!”


“Untuk apa dia ada di sana? Dan bagaimana dia tahu tempat tinggalku?”


Sembari menggumam bingung, Mino pun langsung beranjak keluar dari kamarnya. Keluar dari apartemen. Turun menuju lobi lantai satu menggunakan lift. Lalu berjalah menghampiri Lysa di depan gedung apartemennya.


“Ajeossii! Ajeo—”


“Hei hei...!”


Celetukan Mino menghentikan teriakan Lysa. Lysa tersentak melihat Mino datang dan langsung berjalan menghampirinya.


“Ajeossi,” panggil Lysa.


“Untuk apa kau mengikutiku sampai kemari? Bukannya urusanmu denganku itu sudah selesai? Tadi aku sudah membelikanmu daging sapi, tapi kenapa kau masih mencari masalah denganku?” sahut Mino sembari mengernyitkan kening, bingung pada gadis manis yang berdiri di hadapannya.


Bibir Lysa memberengut. Ia menatap Mino dengan mendongakkan kepala.


“Aku tidak cari masalah denganmu, Ajeossi. Dan benar kau sudah menebus kesalahanmu tadi. Tapi aku tidak mengikutimu,” sergah Lysa yang telah disalahpahami oleh Mino.


“Lalu, untuk apa kau datang kemari?” tanya Mino.


Lysa mengeluarkan sesuatu dari tas punggung yang ia bawa. Mengeluarkan sebuah ponsel berwarna hitam. Kemudian mengulurkan ponsel itu kepada Mino.


“Kau meninggalkan ini, Ajeossi. Dan aku hanya ingin mengembalikan ini, bukan mencari masalah denganmu,” kata Lysa.


Mino yang tampak terkejut itu perlahan lahan menerima uluran ponsel dari Lysa. Pikirannya sedang tidak karuan sampai ponselnya ketinggalan saja Mino tidak menyadari. Dan untungnya Lysa mengembalikan ponsel itu. Kalau tidak, mungkin Mino akan kelabakan ketika menyadari ponselnya hilang.


Mino yang awalnya tampak kesal karena merasa diikuti oleh Lysa sampai ke apartemen itu, perasaannya berangsur membaik. Ia merasa cukup bersalah karena sudah membuat gadis ini kerepotan dengan datang kemari untuk mengembalikan ponselnya.


“Terima kasih. Tapi bagaimana kau tau alamat apartemenku?” ucap Mino sambil menyakui ponsel yang telah kembali ke genggamannya.


“Ah, kebetulan tadi ada yang menelepon. Jadi aku menjawab telepon itu sekaligus menanyakan alamat apartemenmu. Sayangnya, wanita di telepon itu hanya memberu tahu alamat gedung tempatmu tinggal, Ajeossi, tetapi tidak memberi tahu kau tinggal di lantai berapa. Jadi ya, aku hanya bisa berteriak teriak seperti tadi,” cerita Lysa.


“Wanita?” sahut Mino. Jika yang meneleponnya adalah wanita, pasti tidak lain itu adalah Jiwon, mantan kekasihnya. Mino segera menganggukkan kepala, mengerti. “Terima kasih sudah berinisiatif mengembalikan ponselku, tambah Mino.


Mendengar gumaman pelan Lysa, Mino menyimpulkan sedikit senyuman di bibir. Ia teringat dirinya dulu pernah berada di posisi seperti Lysa. Ia pernah memiliki cerita yang sama seperti yang Lysa alami saat ini.


“Ngomong ngomong, bagaimana kau datang kemari? Katanya kau tidak punya uang sepeser pun. Apa jangan jangan....”


“Benar. Aku jalan kaki kemari.” Lysa menyertobot Mino. Membuat lelaki itu mengerutkan kening dalam dalam.


“Apa? Ka... kau, jalan kaki? Dari restoran sampai kemari kau jalan kaki? Jarak restoran tadi kemari lebih dari dua kilometer, dan kau... jalan kaki?” Mino bertanya tanya bingung, tak percaya. Sambil menatap Lysa penuh rasa penasaran.


Kepala Lysa menganggun angguk dengan ringan.


“Ya. Aku jalan kaki.” Lysa menjawab dengan santai. “Jalan kaki sudah menjadi bagian dari hidupku, Ajeossi. Dua kilometer bukan jarak yang jauh untukku.”


Pandangan Mino langsung turun pada kedua kaki Lysa. Dengan menggunakan kedua kakinya yang kecil itu, gadis ini berjalan sejauh lebih dari dua kilometer hanya untuk mengembalikan ponselnya yang ketinggalan di restoran.


“Kau itu benar benar... sangat gigih, dan nekat.” Mino menggumam sangat pelan sampai sampai gumamannya itu tidak dapat Lysa dengar dengan baik.


“Ya? Kau bicara apa Ajeossi?” sahut Lysa.


Kepala Mino menggeleng geleng. “Tidak, tidak apa apa. Sekali lagi, terima kasih sudah mengembalikan ponselku,” ucap Mino.


Kemudian Lysa mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya pada Mino. “Ajeossi, berikan aku nomor teleponmu,” kata Lysa meminta sambil mengulurkan ponselnya di hadapan Mino.


Kening Mino mengernyit. “Nomor telepon? Untuk apa?”


“Aku merasa perlu membalas kebaikanmu karena sudah membelikanku daging di hari ulang tahunku. Jadi berikan aku nomor teleponmu Ajeossi. Aku akan membalas kebaikanmu saat keadaanku sedikit lebih baik,” kata Lysa sambil terus menyodorkan ponselnya kepada Mino.


“Ah, itu tidak perlu. Kau tidak perlu membalasnya,” jawan Mino sambil menjauhkan ponsel yang disodorkan padanya.


“Tidak bisa, Ajeossi. Berikan aku nomor ponselmu, supaya aku nanti bisa membalas kebaikanmu.” Lysa berkata dengan memaksa.


“Tidak perlu. Aku hanya mengganti burgermu yang tadi aku jatuhkan. Jadi kau tidak perlu membalasnya lagi. Aku sungguh, aku ikhlas melakukannya.” Mino meyakinkan.


Tetapi Lysa yang berdiri di hadapan Mino itu tampak begitu kecewa. Bukan berarti Lysa adalah orang tidak tahu diri yang meminta orang tidak dikenal membelikan makanan untuknya di hari ulang tahun. Ia tahu, ia perlu berterima kasih pada Mino karena sudah membelikannya daging di saat yang lelaki itu jatuhkan hanyalah burgernya yang seharga seribu won.


“Berikan saja nomormu, Ajeossi. Aku tidak bisa memakan daging pemberian orang lain  tanpa membayarnya kembali suatu saat. Aku tidak pernah diajarkan seperti itu oleh ayahku. Jadi, berikan saja nomromu Ajeossi, aku akan membalas kebaikanmu suatu saat,” kata Lysa memaksa sambil terus menyodorkan ponselnya kepada Mino.


Mino menghela napas panjang. Ia mengambil ponsel yang digenggam Lysa, lalu langsung memasukkan ponsel tersebut ke saku pakaian yang Lysa kenakan.


“Kukatakan tidak perlu, gadis muda. Kau tidak perlu membalas apa pun padaku. Kau sudah mengembalikan ponselku, itu sudah sangat cukup. Jadi tidak perlu repot repot, dan terima kasih,” kata Mino dengan tegas. Membuat Lysa, meski terlihat kecewa, tidak dapat berbuat apa apa lagi. Gadis itu hanya dapat menghela napas panjang panjang.


Ketika Lysa sudah menyerah dan tampak terdiam, Mino segera menyahut.


“Kau tidak akan pulang?” tanya Mino.


Setelah menghela napas kecewa, Lysa menjawab, “Benar. Aku harus pulang. Sebentar lagi gerbang asrama akan ditutup.”


“Dengan apa kau pulang?” Mino lanjut betanya.


Sambil menghela napas panjang Lysa menjawab, “Aku datang dengan jalan kaki. Sudah pasti aku pulang dengan jalan kaki.”


“Jangan. Aku akan mengantarmu pulang,” sahut Mino sambil menarik tangan Lysa.


Lysa sungguh terkejut ketika tiba tiba Mino menarik lengannya. Ia tersentak, namun tak dapat menolak sentuhan tangan Mino yang membawanya berjalan menuju tempat parkir apartemen.


“Ah benar!” celetuk Mino sambil melepaskan pegangannya pada tangan Lysa. Ia memijit pelipis karena baru teringat suatu hal. “Aku baru ingat, kalau mobilku sedang ditilang. Jadi aku tidak bisa mengantarmu.”


Setelah itu tubuh Mino berbalik, menatap Lysa yang entah mengapa wajahnya bersemu merah, dengan tiba tiba.


“Aku antarkan naik taksi saja ya? Aku lupa kalau mobilku tadi diderek karena parkir sembarangan,” kata Mino penuh rasa bersalah.


Lysa, yang sedang mengendalikan degup jantungnya karena mendapat sentuhan tiba tiba dari Mino, perlahan lahan bisa mengendalikan dirinya. Ia segera menanggapi perkataan Mino dengan mengangguk anggukkan kepala.


“Tidak apa apa, Ajeossi. Aku bisa jalan kaki saja,” ucap Lysa. Setelah itu ia segera berbalik. Hendak pergi meninggalkan Mino untuk berjalan pulang ke asrama kampusnya. Tetapi, belum sempat Lysa berjalan menjauh, Mino menarik pergelangan tangan Lysa dan membuatnya seketika berbalik.


“Aku akan mengantarmu menggunakan taksi, bukan menyuruhmu untuk pulang dengan jalan kaki,” tegas Mino. Dan itu membuat jantung Lysa kembali berdegup kencang karena cengkeraman tangan tidak terduga dari lelaki itu.


Wajah Lysa kembali bersemu merah. Ia tak dapat menepis cengkeraman tangan Mino yang terasa hangat di pergelangan tangannya ini. Yang gadis itu lakukan hanyalah diam dan menuruti ke mana Mino menariknya untuk berjalan.


“Taksi!”


Mino membawa Lysa berjalan ke pinggir trotoar dan melambaikan tangannya untuk memberhentikan taksi. Ada satu taksi yang berhenti seketika itu. Namun tiba tiba ada mobil lain yang datang dan membunyikan klaksonnya sebanyak dua kali.


Tin tin!


“Lysa, Kim Lysa!”


Seorang laki laki yang duduk di dalam mobil berwarna biru, yang baru saja berhenti di pinggir jalan, berteriak memanggil Lysa yang hendak masuk ke dalam taksi. Laki laki berkaca mata yang berteriak memanggil nama Lysa itu tidak lain adalah Brian. Lelaki itu menurunkan kaca jendela. Menjulurkan lehernya keluar dan melambaikan tangannya kepada Lysa yang terlihat hendak masuk ke dalam taksi bersama seorang pria.


“Hai, Lysa!” panggil Brian kembali.


Lysa yang mendengar panggilan itu, langsung menoleh ke arah mobil Brian. Mendapati laki laki itu di dalamnya.


“Oh, Sam!” celetuk Lysa membalas panggilan Brian.


Segera Lysa menoleh pada Mino. Lalu berkata, “Ajeossi, kau tidak perlu mengantarku pulang. Aku akan pulang bersama Sam.”


Setelah itu Lysa berjalan menjauh dari taksi. Tubuhnya menengok pada Mino sedangkan tangannya melambai lambai.


“Selamat tinggal, Ajeossi! Aku akan membalas kebaikanmu suatu saat nanti. Terima kasih!” Lalu gadis itu segera berlari menuju mobil yang dikendarakan Brian. Dan segera masuk ke dalamnya.


Melihat mobil mewah berwarna biru yang membawa Lysa pergi itu melaju menjauh, Mino tertawa geli. Ia pikir nasip gadis itu sama sepertinya; tidak memiliki apa apa di usia segitu. Namun kenyataannya, gadis itu memiliki kakak yang kaya raya dengan mobil mewah tersebut.


“Tcih, kukira gadis itu benar tidak memiliki apa apa. Ternyata dia berbohong.” Mino menggumam pelan menatap jalan raya di hadapannya.


**