Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
YUL, suami yang perhatian



Kepala Yebin terasa hangat ketika Yul membilas kulit kepalanya menggunakan air hangat di wastafel kamar mandi.


Sudah hampir seminggu Yebin dirawat di rumah sakit karena cedera bahu dan tulang rusuknya yang cukup serius. Ia sudah tak memakai kursi roda untuk pergi ke mana mana. Tetapi ia masih belum diperbolehkan melakukan aktivitas berat karena tulang rusuknya yang patah itu sedang dalam masa pemulihan setelah operasi. Yebin memang bisa berjalan dengan tegap dengan membawa kabel infus ke mana mana. Tetapi ia tidak diperkenankan untuk membungkukkan tubuh karena akan terasa nyeri pada tulang rusuknya yang dipasang implan. Sehingga tak bisa mencuci rambutnya sendirian kecuali tanpa bantuan Yul.


Di atas kursi roda Yebin menengadahkan kepala. Menyandarkan lehernya pada badan wastafel. Sedangkan Yul yang sedang berdiri itu sedang mencuci rambut Yebin di atas wastafel menggunakan shampoo beraroma mint.


“Oppa, kenapa kau begitu telaten merawatku?”


Yul hanya terkekeh mendengar pertanyaan Yebin yang menurutnya sedikit aneh.


“Aku bingung kenapa kau bertanya seperti itu. Apa aneh jika aku merawat istriku yang sedang sakit dengan baik?” kata Yul sambil terkekeh kekeh.


“Hanya saja, aku penasaran apa semua suami juga merawat istrinya yang sedang sakit seperti kau merawatku selama ini. Kau bahkan tidak berangkat bekerja untuk merawatku. Oppa yang tidak bisa menyerahkan pekerjaan pada orang lain itu jadi memasrahkan pekerjaanmu di kafe demi merawatku. “ Yebin berujar.


Sejauh yang ia tahu, Yul yang sangat bertanggung jawab pada pekerjaan itu tidak pernah memasrahkan tugasnya pada orang lain. Meskipun ia adalah seorang bos, Yul tidak pernah menyerahkan tugasnya pada orang lain dan akan iakerjakan sendirian. Tetapi karena Yebin sedang sakit, Yul tidak pernah datang ka kafe kecuali ada urusan yang sangat penting. Dan memberikan kepercayaan pada orang lain untuk mengerjakan tugasnya sebagai pemilik kafe. Yang Yebin perhitungkan lagi adalah, apakah sekarang Yul akan sedikit lebih bersantai dan lebih menikmati kehidupannya sebagai bos. Karena sejauh yang Yebin tahu, tidak ada bos yang bekerja sekeras Yul di saat kondisi kafenya sudah sangat stabil dan sangat baik.


Hanya Yul yang terus memaksakan diri untuk bekerja sampai sampai tak memiliki waktu untuk menikmati kehidupan pribadinya sebagai Bos kafe. Karena bagaimanapun, seorang bos bisa mendapatkan banyak penghasilan dengan hanya berduduk santai di rumah. Semua kerja keras seorang bos ada di awal. Dan ketika bisnisnya stabil, seorang bos hanya akan duduk duduk santai rumah dan sesekali datang ke kafe kalau ada urusan penting saja.


“Yebin-a, mulai sekarang aku akan sedikit lebih bersantai mengurusi bisnis. Kau tidak perlu lagi memaksakan dirimu untuk mengambil pekerjaanku di Moonlight Coffe dan akhirnya terluka seperti ini.”


Yebin tersentak mendengar Yul berkata demikian. Rupanya, lelaki itu tahu bahwa Yebin ingin mengambil alih pekerjaannya bukan karena ambisi. Tetapi karena ingin memberikan kehidupan yang lebih rileks untuk Yul dan memberinya kesempatan untuk melukis kembali.


Sejenak Yebin terdiam.


“Aku tidak terluka karenamu, Sayang. Dan aku juga menyukai binis. Paling tidak aku ingin supaya kesukaanku itu juga bisa kau rasakan. Maka dari itu aku ingin mengambil alih pekerjaanmu di kafe.”


“Baiklah. Aku tahu. Tapi kau tidak perlu melakukannya.”


“Kenapa? Saat itu Oppa kan sudah berkata akan memberiku kesempatan. Kau bahkan sudah membuat pengumuman di depan semua pemegang saham dan juga manajer kafe yang jumlahnya ratusan itu.” Sambil mengangkat kepalanya dari wastafel, Yebin merutuk rutuk. Menoleh ke belakang dan mendongak, menatap Yul.


“Itu sebelum kau terlibat kecelakaan. Sekarang aku tidak akan mengizinkanmu melakukan pekerjaan apa pun. Cukup menjadi bos untuk Biniemoon. Kecuali bekerja di Biniemoon, aku tidak akan membiarkanmu bekerja di tempat lain.” Yul menegaskan.


“Sayang.... Oppa.... Jangan begitu.”


Yul mengabaikan keluhan Yebin yang terdengar manja itu. Ia segera menarik kembali kepala Yebin untuk diposisikan di atas wastefel. Melanjutkan kegiatannya mengeramasi rambut Yebin.


“Tapi kau sudah berjanji, Sayang. Dan bagaimana kau akan mengatakan hal itu pada pemegang saham Moonlight Coffe dan Moonlight Retail? Sudah pasti kau memberikan pengumuman hari itu, bahwa akan menyerahkan pekerjaan kafe padaku. Kenapa sekarang kau mencabutnya?” Sambil dikeramasi Yul, Yebin masih terus merutuk dan melontarkan segala protesnya pada sang suami. Bukan apa apa, hanya saja Yebin sudah terlanjur berjanji pada seseorang terkait kembalinya Yul sebagai pelukis.


“Kau merengek seperti apa pun tidak akan kuturuti. Melihatmu terlibat dalam kecelakaan itu sudah membuatku sangat terpukul dan syok. Aku tidak akan mengulang kesalahan untuk yang kedua kali.” Yul berucap sembari membilas shampoo di rambut Yebin. Membilasnya dengan air hangat yang mengalir dari shower. Membersihkan rambut Yebin dari sisa sisa busa shampo beraroma mint tersebut.


Begitu selesai mengeramasi rambut kepala Yebin, Yul mengikatnya dengan handuk kering. Lantas membantu Yebin berdiri dari kursi roda. Keluar dari kamar mandi.


“Sudah kukatakan padamu, Sayang. Kecelakaan itu bukan kesalahanmu. Apa yang terjadi padaku dan pada Hun Oppa  itu bukan karenamu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kau hanya akan tambah tersiksa.”


Ketika baru duduk di atas ranjang rawat, Yebin merutuk demikian. Ia sungguh terheran pada Yul yang suka sekali menyalahkan diri sendiri atas kesialan yang terjadi pada orang lain.


Di sudut lain, Yul sedang mengambil pengering rambut. Lalu membawa pengering rambut tersebut, menghampiri Yebin yang duduk manis di atas kasur.


“Tentu, kecelakaan itu bukan kesalahanku, tapi kesalahan si pengemudi van. Tapi, kecelakaan itu tidak pernah terjadi jika aku tidak pergi ke Pulau Jeju untuk perjalanan bisnis. Kau tidak akan terluka seperti ini, dan Hun juga tidak akan terbaring tak sadarkan diri seperti sekarang.” Yul angkat suara sekali naik ke atas kasur tempat Yebin duduk.


Ia mencolokkan kabel pengering rambut pada stopkontak yang ada di dinding belakang. Lalu melepas ikatan handuk yang membalut rambut kepala Yebin. Mulai mengeringkan rambut Yebin menggunakan pengering rambut yang mengeluarkan udara hangat itu.


“Oppa, kau tahu? Kau itu sedang mencari alasan untuk bisa menyalahkan dirimu sendiri. Berhenti melakukannya. Aku sedang sakit. Jangan membuatku tambah sakit dengan mengatakan hal hal seperti itu. Rasa bersalahmu yang besar itu tidak mengobati sakitku, justru menambah rasa sakit untukku. Oppa pikir aku ini senang mendengarmu menyalahkan dirimu sendiri? Sama seperti saat Oppa melarangku merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Hun Oppa, aku juga tidak menginginkannya terjadi padamu.”


Hal yang paling menyulitkan Yebin dalam menjadi istri seorang Moon Yul adalah rasa bersalah lelaki itu yang terlalu besar. Yul mudah sekali menyalahkan diri sendiri dan membuat seolah olah dirinya yang membawa kesialan untuk siapa pun. Ini bukan pertama kalinya Yul menyalahkan diri sendiri. Dan Yebin tahu betul bahwa sikap suaminya yang seperti itu sebenarnya tidak masuk akal. Bagi Yebin, semua kesialan yang terjadi padanya bukan karena Yul. Dari peristiwa kegugurannya, sampai kecelakaan ini. Semua itu sama sekali bukan kesalahan Yul. Bagi Yebin semua itu hanya ketidak beruntungannya. Atau memang kesalahan dari orang lain yang jelas itu bukanlah Yul. Yebin tahu dengan baik selama ini Yul selalu melakukan yang terbaik untuknya, dan untuk orang orang yang dia sayangi. Yul yang perasaannya sangat peka dan sensitif itu selalu berbuat baik untuk orang lain. Dan tidak mungkin semua peristiwa buruk ini terjadi karena Yul. Jelas sekali itu tidak benar.


Wajah Yebin yang menatap ke depan itu tampak sendu. Ia sedang merasakan angin hangat dari pengering rambut yang mengenai kulit kepalanya. Terasa pula belaian lembut tangan Yul yang sedang mengeringkan rambutnya.


“Baiklah. Cepatlah sembuh.”


Yul yang mencerna semua perkataan panjang Yebin itu membalas demikian sembari melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambut sang istri. Kemudian saat rambut Yebin mulai setengah kering, Yebin menoleh ke belakang. Ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Yul yang hanya terbalut kaus oblong yang biasa Yul gunakan saat sedang bersantai di rumah.


“Aku masih belum selesai. Rambutmu belum kering semua,” ucap Yul pelan.


“Tidak apa apa. Nanti juga kering sendiri.”


“Tidak bisa. Nanti kau bisa terkena flu.” Yul menyanggah. Tetapi Yebin tetap menempelkan kepalanya pada dada bidang sang suami. Membuat Yul tidak bisa berkutik.


Merespon hal itu, Yul pun merangkulkan kedua tangannya ke depan. Mendekap tubuh Yebin yang sedang menyandari tubuhnya dengan nyaman.


“Kapan ibu akan datang?” tanya Yebin di sela dekapan Yul.


“Nanti malam. Malam ini aku akan rapat untuk membahas peresmian Moonlight Retail besok lusa. Ibu akan datang untuk menjagamu, menggantikanku sebentar.” Yul menjawab. Dagunya yang runcing bertumpu di ujung kepala Yebin.


Sejenak Yebin terdiam.


“Sayang, kau ingat anak kecil bernama Yul yang kita temui saat itu?” Yebin kembali membuka pembicaraan. Kedua tangannya mendekap tangan Yul yang merangkul perutnya.


“Ya. Aku ingat. Kenapa dengan anak itu?”


“Dia sangat menggemaskan kan? Tapi hatiku sakit setiap kali mengingatnya. Bagaimana anak sekecil itu, berjuang mati matian, antara hidup dan mati, untuk sembuh dari kanker. Anak seusianya harusnya sibuk bermain dan mulai mengenal dunia lebih luas. Tapi kenyataan lain terjadi, di mana dia harus berada di rumah sakit untuk pengobatan kanker. Dan menjalani semua pengobatan menyakitkan itu untuk tetap bertahan hidup. Apa Oppa tahu mirisnya lagi seperti apa?” cerita Yebin yang disela dengan pertanyaan. Yul yang tetap terdiam itu memberikan tanda bahwa ia ingin Yebin melanjutkan cerita. “Mirisnya, anak itu masih tersenyum. Dan senyum yang ia perlihatkan seolah olah menjadi senyuman terakhir yang bisa ia berikan untuk dunia. Sedih sekali bukan? Ah... hatiku sakit setiap kali mengingatnya.”


Mendengar cerita Yebin itu, Yebin ikut merenung. Dekapannya pada tubuh Yebin pun terasa lebih erat.


“Itu tandanya anak itu sudah menjadi anak yang kuat sejak kecil. Kita doakan saja yang terbaik untuk anak itu.” Yul berkata yakin. Lalu mencium kepala Yebin yang beraroma mint dari shampoo yang dipakainya keramas tadi.


“Oppa, aku selalu bertanya tanya. Jika kita memiliki anak nanti, anak kita akan lebih cenderung mirip siapa. Apa dia akan seperti ayahnya yang tangguh namun perasa, atau menjadi sepertiku yang tangguh tapi pemarah. Aku sangat penasaran. Atau jangan jangan anak kita nanti pemarah sekaligus perasa?”


Apa yang baru saja Yebin ucapkan itu membuat Yul terkekeh kekeh.  Yul tertawa pelan sambil menyungkurkan kepala pada ceruk leher Yebin.


“Kau itu ada ada saja. Kalau anak kita nanti perempuan, dia akan lebih cenderung sepertiku. Tapi kalau dia laki laki, akan lebih cenderung seperti ibunya.  Kebanyakan kasus seperti itu. Tapi bisa jadi juga anak kita nanti, laki laki maupun perempuan, akan lebih cenderung sepertiku. Karena gen ayah lebih dominan,” ungkap Yul.


“Kalau benar begitu, sangat tidak adil rasanya. Aku yang mengandung selama sembilan bulan. Aku yang melahirkannya dengan mempertaruhkan nyawa. Tapi, yang dilahirkan justru lebih mirip ayahnya. Bukankah itu tidak adil?” rutuk Yebin yang kembali membuat Yul terkekeh kekeh.


“Apanya yang tidak adil? Kita membuatnya bersama sama dan akan membesarkannya bersama. Seiring berjalannya waktu, pasti sikap dan karaktermu akan menurun padanya. Bisa jadi saat dewasa nanti anak kita akan benar benar mirip sepertimu; tangguh, bijaksana, pekerja keras, sedikit jutek dan tentunya ... keras kepala.”


“Hahaha!”


Tawa Yebin tergelak mendengar itu. Keras kepala...  salah satu karakteristik terkuat dalam diri Yebin yang kemungkinan besar akan menurun pada anak anaknya kelak. Tanpa kecuali!


Mendengar Yebin tertawa semringah itu, Yul hanya tersenyum dan diam. Ia mengamati ekspresi wajah Yebin yang sedang tertawa. Lalu saat tawa itu sudah berhenti, Yul menanyakan suatu hal.


“Sayang, kau ingin hamil lagi?” tanya Yul.


Kang Yebin terdiam sejenak sebelum menjawab, “Ya. Aku ingin segera memiliki bayi.”


“Kau yakin? Kau tidak perlu memaksakan diri jika memang belum siap. Aku tahu itu keputusan yang berat untukmu setelah apa yang kau alami pada kehamilan pertamamu,” tutur Yul lirih.


“Aku ... akan pertimbangkan lagi.”


Terdengar keragu raguan dari Yebin setelah mendengar ucapan Yul. Itu memang bukan keputusann yang mudah untuknya. Hamil lagi setelah mengalami keguguran di kehamilan pertama, masih perlu banyak dipertimbangkan kembali oleh Yebin.


Yul mengecup pipi Yebin sebelum akhirnya berkata, “Sudah cukup mengobrolnya. Rambutmu harus dikeringkan. Setelah itu kita jalan jalan ke luar.”


“Sungguh?”


Mendengar bahwa dirinya akan diajak keluar oleh Yul, Yebin menceletuk senang.


“Aku sungguh. Jadi jangan memprotes saat aku ingin mengeringkan rambutmu. Udara di luar sana menjadi sangat dingin saat sore hari. Kalau rambutmu tidak benar benar kering, kau bisa benar benar kedinginan bahkan bisa terkena flu.” Yul berucap.


Tanpa memprotes kembali, Yebin diam menurut ketika Yul mulai menyalakan alat pengering rambut untuk mengeringkan rambutnya. Ia duduk manis ketika Yul mengeringkan rambutnya. Seperti anak kecil yang rambutnya sedang dikeringkan oleh sang ayah sebelum berangkat pergi ke sekolah.


“Semoga Yul kecil sekarang sedang bermain di taman. Tanpa alasan yang spesifik, aku menyukai anak itu,” cerita Yebin.


“Apa jangan jangan kau menyukainya karena namanya sama sepertiku?” sahut Yul spontan.


“Hey, tidak mungkin. Sebelum tahu kalau namanya juga Yul, aku mengamati anak itu dari kejauhan dan merasa tertarik,” jelas Yebin.


“Ah, begitu.”


**


Harapan Yebin benar terkabul ketika anak kecil yang disukainya itu sedang berada di taman rumah sakit untuk bermain bersama pasien anak anak lainnya. Yebin yang baru saja tiba di taman bersama sang suami itu duduk di salah satu bangku taman yang cukup dekat dengan tempat anak anak bermain. Mendudukkan tubuh di bangku itu dengan pandangan yang masih fokus menatap anak anak, terutama Yul kecil.


“Lihatlah mereka. Mereka sangat menggemaskan,” gumam Yebin sambil mengikuti ke arah mana Yul kecil berlari lari kecil. Raut wajah Yebin tampak semringah. Ia terlihat begitu bersemanat begitu tiba di taman bermain rumah sakit ini.


Sembari merapikan jaket yang membalut tubuh Yebin, Yul berucap, “Sesenang itukah kamu berada di sini? “


“Hmm. Melihat anak anak itu tertawa bahagia dan bermain bersama membuat enegeriku kembali terisi. Seperti seolah olah aku mendapatkan terapi yang mempercepat kesembuhanku.” Yebih berucap pasti. Membuat Yul tersenyum hangat.


Jelas sekali bahwa Yebin begitu senang melihat anak anak karena dalam hatinya ia menginginkan keberadaan seorang bayi. Sehingga setiap kali melihat anak kecil, jiwa seorang ibu dalam tubuh Yebin bangkit membuatnya tertarik seperti magnet ketika melihat anak anak kecil bermain.


Selang tak lama setelah Yebin dan Yul duduk di bangku taman itu, anak kecil bernama Yul itu mendapati keberadaan mereka. Anak kecil itu langsung membungkukkan tubuh menyapa Yul dan Yebin dari kejauhan. Secara otomatis, Yebin melambai lambaikan tangannya untuk membalas sapaan singkat Yul junior.


“Bagaimana ini? Sepertinya anak kecil itu juga menyukaiku.” Yebin yang merasa begitu senang itu seketika menceletuk.


Tak berhenti sampai di situ, Yul junior yang juga tampak gembira melihat Yebin dan Yul kembali, mulai memisahkan diri dari teman temannya yang sedang bermain balon. Ia berjalan menghampiri Yebin dan Yul yang duduk manis di atas kursi taman. Di bawah teduhnya pepohonan gynko.


“Annyeonghaseyo, Bibi dan Paman Yul.”


Yul junior membungkukkan tubuh seketika tiba di hadapan mereka berdua. Menyapa dengan sopan sepasang manusia yang saling memberikan tatapan penuh kasih sayang itu.


“Bertemu lagi, Yul-a. Kau tadi bermain apa dengan teman temanmu?” sahut Yebin ramah sambil memegang lembut bahu Yul junior dan menatapnya penuh cinta.


“Bermain bola dan ... petak umpet,” jawab anak kecil itu polos.


“Wahhh! Apa kau menyukai petak umpet?” sahut Yebin.


Anak kecil itu mengangguk kecil.


“Lalu, apa kau juga suka bermain bola? Kau suka sepak bola?” lanjut Yebin bertanya.


Kepala Yul junior menggeleng kecil. “Tidak. Aku tidak suka sepak bola. Aku tidak suka berolah raga.”


“Tapi sesekali kau tetap membutuhkan olah raga ya? Supaya lebih sehat,” tutur lembut Yebin dengan nada suaranya yang dirubah untuk berbicara dengan anak kecil. “Apa yang Yul sukai selain petak umpet?”


Yul junior tampak sedang menimbang nimbang untuk menjawab pertanyaan itu.


“Aku... aku suka menggambar.”


Tersentak, Yebin langsung menolehkan kepala. Beradu pandang dengan Yul. Unik sekali. Yuk kecil ini juga suka menggambar, seperti Yul besar.


“Wahh, kau suka menggambar rupanya. Yul-a, Paman Yul yang ada di sebelah bibi ini juga seorang pelukis. Gambaran dan lukisan lukisannya sangat indah.” Yebin berucap.


Setelah diam selama beberapa saat, Yul yang mulai larut dalam perbincangan dengan anak kecil ini ikut angkat suara.


“Yul-a, kau mau tunjukkan gambarmu pada paman?” kata Yul lirih sambil menguntai senyuman hangat yang dapat memikat semua orang, termasuk anak anak.


Yul kecil itu menganggukkan kepala. Lantas berlari menjauh untuk menghampiri ibu dan ayahnya yang mengawasinya dari sudut lain. Dari interaksi Yul dengan orang tuanya itu, sepertinya Yul kecil adalah anak yang sangat berharga di keluarga mereka. Dilihat dari sang ibu dan ayah yang selalu menemani Yuk kecil bermain di rumah sakit.


Setelah meminta buku sketsanya pada sang ibu dan ayah, Yul kecil kembali menghampiri Yul bersama buku sketsa itu dan juga peralatan menggambar. Ia menyerahkan buku sketsanya pada Yul.


“Yul-a, kau mau duduk di pangkuan bibi?” tawar Yebin. Berupa mendapat respon berupa anggukan kepala, Yebin mengangkat perlahan tubuh Yul kecil untuk didudukkannya di atas pangkuan.


“Wah, kau menggambar dengan bagus. Gambarmu sangat bagus, Yul-a. Saat besar nanti kau pasti bisa menjadi pelukis sukses.” Sembari melihat gambar demi gambar dalam buku milik Yul kecil, Yul menggumam gumam.


“Tapi ibu dan ayah tidak menginginkanku untuk jadi pelukis,” ucap Yul junior.


“Begitukah? Kenapa?” tanya Yebin.


“Aku menyukai melukis. Tapi ibu ingin aku untuk jadi ilmuan, dan ayah ingin aku untuk jadi dokter. Mereka selalu bertengkar karena masalah itu. Dan aku hanya mendengarkan,” cerita singkat Yul tentang keluarganya.


Cerita itu membuat kepala Yul menoleh pada Yul kecil. Yul membelai kepala gundul anak laki laki itu yang tertutupi topi rajut.


“Saat besar nanti kau akan menemukan mana yang terbaik untukmu, Nak. Jadi pelukis, jadi ilmuan, atau jadi dokter, kau akan tahu mana yang terbaik saat waktunya tiba,” kata Yul bijak.


Tepat setelah itu, Yebin beradu pandang dengan orang tua Yul yang duduk di kejauhan. Ibu dan ayah Yul menganggukkan kepala untuk menyapa Yebin dari kejauhan. Dan Yebin pun ikut mengangguk. Terlihat senyum samar mereka yang terasa tulus.


Ponsel Yul kemudian bergetar. Segera ia menjawab panggilan yang masuk dari Leo Park itu.


“Halo, ada apa?” sahut Yul begitu telepon tersambung. “Sekarang juga? Baiklah aku akan ke sana.”


Begitu panggilan tertutup, Yul menoleh pada Yebin. Lantas berkata, “Sayang, aku harus pergi sekarang. Ada suatu hal yang harus kubicarakan dengan Leo Park. Aku harus pergi menemuinya sekarang.”


Itu tiba tiba sekali. Yebin yang merasa tak yakin itu menyahut, “Sekarang juga? Oppa akan menemui Leo Park?”


“Hm.” Yul menggumam sambil beranjak bangkit dari duduk. Ia melihat Yebin yang masih ingin bermain lebih lama bersama Yul kecil. “Kau di sini saja sampai ibu datang. Sebentar lagi ibu akan datang. Aku sudah memberi tahunya kalau kau ada di taman.”


Setelah menyampaikan hal itu, Yul membungkukkan tubuh untuk mencium kening Yebin. Lalu pandangannya turun pada Yul junior.


“Bermainlah dan bersenang senanglah dengan bibi. Paman harus pergi.”


Yul hendak melangkah pergi, sebelum Yebin menjedanya sejenak dengan berkata, “Sayang.” Yang membuatnya seketika menoleh pada Yebin yang raut wajahnya terlihat cemas. “Hati hatilah. Dan jangan kembali terlalu malam.”


Yul menganggukkan kepala sambil tersenyum. Lalu beranjak pergi meninggalkan Yebin di kursi taman.


Ada yang aneh. Yebin merasa ada yang aneh dalam benaknya. Ia tak merasa tenang membiarkan Yul pergi begitu saja. Seperti... ada sesuatu yang tidak beres.


**