
“Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku datang di bioskop. Rasanya menyenangkan. Apalagi saat ini aku datang bersama laki-laki.”
Yebin memeluk cup besar berisi popcorn dan minuman americano hangat sambil berjalan masuk ke gedung bioskop. Di sebelahnya, seorang laki-laki berkacamata berjalan pelan sambil membawa minuman latte.
“Laki-laki? Apa kau baru saja mengatakan kalau aku laki-laki?” Hun menyahut sambil menoleh antusias kepada Yebin.Yebin yang merasa ucapannya itu benar, mengerlingkan kepala dan menanggapi
“Hun Oppa kan memang laki-laki.”
“Kalau kau menganggapku laki-laki. Berarti aku juga akan menganggapmu wanita. Begitu maksudmu?” Hun menanggapi.
Tanpa diduga kedua pipi Yebin bersemu merah. Ia merasa ucapan Hun itu seperti kalimat yang digunakan untuk menggoda.
Melihat Yebin yang terdiam, Hun kembali menyahut dengan seutas senyum yang disunggingkannya di bibir.
“Aku bercanda, Kang Yebin. Sejak awal bertemu aku sudah menganggapmu wanita. Ya. Wanita di hadapan pria.”
“Apa-apaan? Hun Oppa seolah-olah ingin jatuh cinta padaku.”
“Hahaha!”
Tawa Hun seketika itu tergelak. Ia tertawa lepas mendengar Yebin mengucapkan hal yang sebenarnya tidak begitu salah.
Selama ini Hun memang menganggap Yebin wanita. Ya, wanita, makhluk hidup yang bisa disukainya. Sejak awal Hun memandang Yebin itu sebagai wanita yang bisa saja dia cintai. Wanita penuh pesona yang menurunya lebih menawan dari wanita lain. Sekali saja, Hun tidak pernah memandang Yebin itu sebagai wanita kecil sebagaimana Yul memandang Yebin. Menurut penilaian Hun, Yebin itu lebih dari sekadar cukup untuk dipandang sebagai wanita dewasa yang sikapnya tegas dan bijaksana. Hun memandang Yebin dari sudut pandang sikapnya alih-alih umurnya yang masih muda.
Keduanya masuk ke dalam gedung bioskop yang mulai menggelap itu. Menjadi dengan para penonton yang sudah bersiap menyakikan film romantis yang diproduksi oleh perusahaan media Korea tersebut.
“Aku tidak menyangka kalau Hun Oppa adalah penyuka film romantis. Kukira kau menyukai film aksi dari luar negeri, seperti Mission Impossible.” Yebin berucap pelan, setengah berbisik, kepada Hun yang duduk di sebelahnya.
Film berjudul ‘On Your Wedding Day’ yang diperankan oleh aktor Kim Young Kwang tersebut mulai berputar di layar lebar dalam bioskop. Semua penonton terdiam mengamati adegan pembuka yang disajikan dalam film.
“Sebenarnya aku tidak suka menonton film. Aku lebih suka membaca karya sastra,” jawab Hun dengan berbisik.
Seketika itu juga alis Yebin mengernyit. Ia menoleh pada Hun dan menanggapi, “Oppa tidak suka film? Lalu kenapa kau mengajakku nonton? Kukira kau menyukai film dan mengajakku menonton bersamamu.”
Hun berdeham pelan. Ia mengalihkan pandangan dari Yebin dan menggumam pelan.
“Aku hanya ingin mengajakmu nonton. Kulihat akhir-akhir ini kau sangat disibukkan dengan Biniemoon. Ini saatnya kau beristirahat sejenak dan menonton film. Tidak peduli betapa sibuknya kau mengurusi situs belanja online-mu itu, paling tidak di akhir pekan kau harus istirahat dan refreshing.”
Kalimat yang dilontarkan dengan lirih oleh Hun itu terasa hangat di hati Yebin. Sejak liburan kuliahnya, ia memang selalu disibukkan dengan Biniemoon. Hun tahu sendiri hal itu karena setiap hari ada mobil dari kurir antar kilat yang datang ke rumah Yebin. Dan setiap satu minggu sekali, ada mobil dari supplier brand fashion yang mengantarkan stok ke rumah Yebin. Ia tahu betapa sibuknya Yebin sampai Somin datang ke rumahnya hampir setiap hari selama liburan yang masih berlangsung ini untuk membantunya mengemasi barang pesanan. Karena ada puluhan, bahkan terkadang sampai ratusan pesanan yang masuk setiap harinya, yang pastinya akan sulit untuk Yebin mengurusnya sendirian.
Hati Yebin terasa hangat saat mendapat perhatian semacam ini dari Hun. Meski kadang terlihat dingin, laki-laki itu selalu memperhatikan Yebin. Memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi pada wanita itu.
Mendapati perasaannya yang menghangat karena Hun, Yebin tersenyum manis. Kepalanya menatap Hun dari samping. Kalimat perhatian yang dilontarkan Hun dengan nada suara dingin itu berhasil menggetarkan hati Yebin. Yebin mengembalikan pandangan ke depan dengan seutas senyum yang masih tersimpulkan.
“Terima kasih, Oppa. Aku akan menonton filmnya dengan baik.”
Wanita itu menggumam. Kemudian memasukkan dua butir popcorn manis ke dalam mulut.
Sembari melihat film yang berputar, Hun tersenyum hangat mendengar ucapan Yebin. Ia ikut mengambil sebutir popcorn di samping kirinya. Melahap popcorn itu dan perlahan ia dengan Yebin larut dalam cerita yang aktor pria tersebut lakonkan dalam film. Hingga Film pun selesai diputar. Hun merasakan pundaknya yang berat karena kepala Yebin yang menyandar di atasnya. Wanita itu tertidur. Ia tertidur tepat sebelum adegan ciuman antara kedua tokoh utama dalam film. Dan kini hanya ada tulisan nama-nama pemain film dan kru prosuksi serta sponsor yang terpampang di layar. Orang-orang di dalam bioskop berhamburan keluar setelah film itu selesai. Sedangkan Yebin masih larut dalam tidurnya yang lelap.
Hun terkekeh sembari menatap wajah Yebin yang tertidur pulas di pundaknya.
“Dia menonton filmnya dengan sangat baik, sampai tertidur seperti ini.”
Pelan-pelan Hun menepuk wajah Yebin, membangunkannya. Ia menepuk pipi Yebin dengan ringan sambil berusaha membangunkannya dengan sangat lembut.
“Yebin~a, Kang Yebin,” panggil pelan Hun di dekat telinga Yebin.
Perlahan-lahan Yebin membuka matanya mendengar panggilan lembut itu. Ia mendapati wajah Hun yang berdekatan dengan wajahnya.
Seketika itu Yebin mengangkat kepala dan ia berbenturan dengan kening Hun.
“Agh!” rintih Yebin merasakan sakit karena benturan itu. Sementara Hun yang juga kesakitan, mengelus keningnya dengan pelan.
“Maafkan aku, Oppa. Aku kaget saat mendapati diriku ketiduran.”
Hun terkekeh-kekeh dan mulai beranjak dari duduk. “Ayo kita pulang. Filmnya sudah selesai. Kau tidak akan memintaku menceritakan adegan yang kau tinggalkan karena ketiduran itu kan?” canda Hun.
Yebin cengengesan tidak tahu harus menjawab apa. Matanya yang mengantuk setiap kali menonton film itu sudah menjadi ciri khas Yebin sejak dulu. Ia selalu tertidur saat menonton film. Seolah, percakapan yang ada di dalam film itu adalah lagu pengantar tidur yang paling indah ditelinganya. Seumur hidupnya, Yebin tidak pernah menyaksikan adegan terakhir sebuah film. Karena ia selalu tertidur begitu film yang ditontonnya itu memasuki konflik.
Tidak lama kemudian mereka keluar meninggalkan gedung bioskop. Hun mengendarakan mobilnya di sore yang masih cerah ini. Menuju Moonlight Coffe Gangnam.
“Kita akan ke Moonlight Coffe?” celetuk Yebin ketika Hun menghentikan mobilnya di halaman Moonlight Coffe Gangnam.
“Ya. Kakakku menyuruhku mampir sebentar.”
Mereka pun turun dari mobil. Berjalan memasuki kafe.
“Selamat datang, Tuan Hun,” sapa Jisoo melihat Hun memasuki kafe.
“Kakakku ada di ruangannya?”
“Ya. Beliau sudah menunggu Anda.”
Hun pun naik ke lantai tiga di mana ruangan Yul sebagai pemilik kafe berada. Di dalam ruangan itu hanya ada Yul seorang, yang sedang sibuk memeriksa laporan keuangan Moonlight Coffe.
“Ada apa kau menyuruhku datang, Hyeong?” sahut Hun begitu masuk ke dalam ruangan Yul.
Pandangan Yul teralih dari tablet yang ada di pangkuan. Ia melihat Hun yang baru masuk. Juga melihat Yebin yang berjalan mengekor di belakang Hun.
“Kalian baru pulang dari bioskop?”
Yul menggeleng-geleng. “Tidak.” Lalu ia beranjak bangkit dari duduk. Meletakkan tebletnya ke atas meja kerja. “Aku memanggilmu kemari untuk mencicipi menu minuman baru yang akan kutambah di daftar menu kafe. Sudah lama sekali sejak aku membuka menu minuan baru. Jadi aku ingin kalian mencicipinya lebih dulu dan berkomentar.”
“Minuman baru?” gumam pelan Hun yang mendapat anggukan kepala dari kakaknya.
“Ajeossi yang meracik minuman itu?” sahut Yebin yang berjalan mendekat pada Yul. Pria itu menyandarkan tubuh ke pinggiran meja kerja.
Sekali lagi Yul menggeleng.
“Tidak. Aku meminta seorang temanku yang menjadi chef untuk meracik minuman itu. Temanku itu seorang peracik minuman yang handal. Jadi aku meminta tolong padanya untuk membuat satu minuman yang cocok dengan Moonlight Coffe.”
Tepat setelah itu Jisoo masuk ke dalam ruangan Yul. Ia membawakan dua gelas minuman bernama freetale snow yang merupakan menu minuman baru Moonlight Coffe edisi musim dingin.
Gelas kaca bening mengeluarkan asap—sebenarnya bukan asap, melainkan uap es yang berasal dari nitrogen cair—dari lubang bagian atasnya. Uap putih yang mengepul-ngepul dalam jumlah banyak itu mengeluarkan aroma seperti fanila. Di dalamnya terdapat minuman berwarna biru yang dikolaborasikan dengan krim lembut dan juga sari bunga chamomile.
Hun dan Yebin mulai mengambil gelas minuman yang mengepulkan uap tersebut. Kemudian menghirup aromanya yang unik.
“Aromanya enak kan? Ada manis dari fanila dan harum dari sari bunga,” sahut Yul.
Kepala Hun mengangguk. Ia pun mulai menyeruput minuman yang ada di genggaman. Begitu pun Yebin yang tampak terdiam merasakan sensasi minuman dingin dalam mulutnya tersebut.
Setelah beberapa saat, Yebin lebih dulu menyahut, “Enak kok. Aku menyukainya. Manis dari sirup fanilanya tidak berlebihan dan sangat pas. Aroma bunganya tidak terlalu mencekat sehingga tidak terasa seperti meminum parfum. Uap beraroma manis itu juga cukup menarik meski sebetulnya kurang cocok dengan suhu udara yang masih dingin.”
Sembari menguntai senyum Yul berucap, “Aku berencana me-lunching minuman itu pada musim semi mendatang. Saat suhu belum terlalu panas dan aroma salju masih sedikit tersisa. Bagaimana menurutmu?”
Yebin yang menganggukkan kepala itu membuat senyuman Yul melebar.
“Rasanya unik dan segar. Kalau untuk musim semi minuman ini sangat cocok. Tapi, kalau untuk musim panas aku menyarankan untuk ditambahkan soda sehingga rasanya lebih segar lagi.” Hun yang selesai mencicipi seketika itu menyahut.
“Benar kan? Aku juga berpikiran untuk menambahkan soda,” celetuk Yul yang merasa satu pemikiran dengan adiknya. “Wah, sudah kuduga. Kau memang adikku. Pemikiran kita bahkan sama.”
Hun terkekeh mendengar gumaman kakaknya. Ia meletakkan kembali minuman itu ke atas nampan yang dibawa Jisoo.
“Wah, ternyata Tuan Moon dan Tuan Hun itu sangat mirip, ya? Kipikir kalian berdua tidak begitu mirip karena memiliki profesi di bidang yang berbeda. Tapi, setelah melihat ini, kurasa kalian memang benar-benar saudara.” Jisoo yang bukan pertama kali ini bertemu Hun, menceletuk. Sebelumnya ia berpikir Hun itu tidak mirip kakaknya lantaran sikapnya yang sedikit lebih dingin dan tak seramah Yul. Juga karena profesinya yang sama sekali tidak bersinggungan dengan bisnis maupun seni.
“Tentu saja kami mirip, Jisoo~ssi.” Yul sontak menyahut sambil mengalungkan tangannya di bahu Hun.
Secara fisik kedua kakak beradik itu memang mirip. Namun secara kepribadian mereka berbeda. Yul lebih ramah dan supel pada semua orang serta memiliki sosial yang baik. Sedangkan Hun hanya ramah pada orang-orang tertentu saja. Tidak begitu baik dalam bersosial dan sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan dalam hal bisnis dan seni.
“Orang-orang bahkan mengira kami itu seperti kembar. Yah... walau aku terlihat sedikit lebih tua, tidak-tidak, maksudku... terlihat sedikit lebih dewasa darinya,” lanjut Yul yang seketika membuat semua orang dalam ruangan ini tertawa.
“Kalau begitu, aku pulang dulu, Hyeong. Kelihatannya kau masih sibuk.” Hun berucap setelah melihat Jisoo yang membawa nampan itu keluar dari ruangan.
Yul berjalan ke arah meja. Mengambil tablet dan mencabut USB yang berisi laporan keuangan Moonlight Coffe.
“Aku juga mau pulang kok,” ucap Yul sambil membalik tubuh. Ia menyakui USB tersebut dan mengambil kunci mobil. Juga memakai coat panjang yang digantungnya di tiang kayu yang berdiri di samping meja.
“Begitukah?”
Ketiga orang tersebut berjalan keluar. Turun ke lantai satu untuk bergegas pulang ke distrik Seocho; daerah tempat tinggal mereka berada.
Saat tiba di halaman kafe, Yul menceletuk, “Nona Kang, kau akan pulang bersama siapa?”
Yebin tampak berpikir sejenak sebelum memutuskan.
“Karena tadi aku datangnya bersama Hun Oppa. Aku akan pulang bersamanya.”
Kepala Yul mengangguk dengan berat hati.
“Hakim Hun...?”
Suara yang menyahut dari arah pintu masuk kafe membuat ketiga orang di halaman menoleh. Mereka menengok bersamaan kepada seorang wanita bertubuh tinggi yang berjalan menghampiri Hun.
“Oh, Hakim Cho,” sapa balik Hun melihat rekannya di pengadilan yang baru keluar dari kafe.
Hakim wanita bermarga Cho itu adalah hakim yang bekerja di kantor bersama Hun. Keduanya bekerja bersama membuat putusan. Juga berpartisipasi dalam persidangan kasus yang sama di bawah bimbingan seorang hakim senior.
“Kebetulan sekali melihat Hakim Hun di sini. Ngomong-ngomong, apa yang Anda lakukan di sini?” lanjut Hakim Cho—bernama asli Cho Jina.
“Untuk bertemu kakakku. Dia adalah pemilik Moonlight Coffe,” jelas singkat Hun.
Seketika itu juga pandangan Jina tertuju pada Yul yang berdiri di depan pintu mobilnya yang terbuka. Jina membungkuk sekenanya menyapa kakak Hun. Lalu pandangannya tertuju pada Yebin yang berdiri di sebelah Hun.
“Begitu rupanya. Saya pikir Hakim Hun juga berkencan di Moonlight Coffe.” Jina berucap sambil mengembalikan pandangan kepada Hun. “Melihat Hakim Hun yang selalu bersikap serius di kantor, saya pikir kehidupan pribadi Anda juga demikian. Tapi, melihat Hakim Hun yang ternyata memiliki kekasih, saya tidak berpikir kalau Anda itu berbeda dari kebanyakan orang.”
Kekasih? Siapa? Aku? Yebin membatin mendengar wanita bertubuh tinggi itu berujar.
“Permisi, sepertinya Anda....” Yebin hendak menjelaskan sebelum Hun menyela ucapannya.
“Saya harap Hakim Cho kedepannya tidak salah paham. Saya juga ingin memiliki kehidupan yang normal terlepas dari pekerjaan saya di kehakiman.” Hun berkata dengan seutas senyum yang tersungging di bibir. Wanita di hadapannya itu mengangguk-angguk. “Kalau begitu, sampai bertemu di kantor.”
Kepala Hun mengangguk sekenanya untuk memberi salam pada Jina. Kemudian ia menarik pelan pergelangan tangan Yebin. Membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah itu Hun sendiri masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
Melihat sikap Hun itu, Yul mengerutkan kening. Ia masuk ke dalam mobil bersama puluhan tanda tanya yang terlintas dalam benak.
Kenapa Hun tidak menyangkal ucapan wanita itu dan membiarkannya salah paham? Mungkinkah... mungkinkah.... hey, tidak mungkin.
***