Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Arti Sebuah Ciuman



Arti sebuah ciuman


Yebin POV


“Sejak kapan Hun Oppa berpacaran?” desusku lirih di sebelah Yul Oppa yang sedang berdiri di sebelahku. Kami berdua sama-sama berdiri di seberang meja dapur. Mengamati Hun Oppa dan wanita bernama Cho Jinhee yang merupakan rekan hakimnya, yang sedang bercakap-cakap di sofa ruang tamu.


Entah apa yang mereka perbincangkan. Keduanya terlihat serius dengan dua buku tebal yang terbuka di atas meja.


“Apa benar mereka berpacaran? Astaga, Hun ku ternyata benar-benar sudah besar. Dia tahu cara meluluhkan hati seorang hakim perempuan yang menjadi rekan kerjanya.” Yul Oppa ikut menggumam.


“Tapi kenapa wajah wanita itu terasa familiar?” lanjutku menggumam.


“Kurasa aku beberapa kali melihatnya di kafe.”


“Hyung!”


Ceketukan Hun Oppa membuat aku yang sedang membicarakannya, tersentak. Begitu juga yang terjadi pada Yul Oppa yang gelagapan menanggapi seruannya dari kejauhan.


“O—oh, Hun~a. Ada apa?” sahut Yul Oppa.


Di sofa itu Hun Oppa terlihat sedang berkemas-kemas. Ia menutup dua buku besar yang ada di atas meja dan menumpuknya. Lalu berdiri. Memakai coat panjang dan mengambil tas hitam yang ditelatakkan di sebelah tempat duduk.


“Hyung, aku akan pergi,” celetuk Hun Oppa.


Yul Oppa yang terkejut segera berjalan meninggalkan dapur. Ia berjalan menuju Hun Oppa yang hendak berjalan keluar bersama wanita hakim itu.


“Mau pergi ke mana?” tanya Yul Oppa.


“Ke desa. Hari Minggu aku baru kembali.”


“Hari Minggu, besok lusa? Ada urusan apa kau pergi ke sana selama dua hari? Apa kau tidak bekerja?”


“Kan akhir pekan.”


“Untuk apa kau ke sana? Bersama siapa saja? tidak-tidak, katakan padaku kapan kau akan kembali. Minggu pagi, minggu siang, atau minggu sore? Kau sudah berjanji hari Senin akan menemaniku pergi mengunjungi ibu dan ayah di pemakaman.”


“Itu kan hari Senin. Kenapa Hyung banyak sekali bertanya? Kenapa kau itu cerewet sekali. Aku kan sudah besar. Berhenti menanyaiku hal hal tidka penting. Aku akan pergi ke kampung halaman Jinhee~ssi untuk masalah pekerjaan. Jadi berhentilah bertanya.”


Aku berjalan keluar selagi mendengarkan Yul Oppa yang sedang mengomel dan Hun Oppa yang terlihat kesal karena omelan kakaknya. Ketika kedua laki-laki itu sudah berada di halaman rumah, aku berada di ambang pintu bersama wanita hakim bernama Jinhee yang akan berangkat ke desa bersama Hun Oppa.


“Saya pamit dulu. Terima kasih,” kata Jinhee penuh ramah dengan senyum hangat yang diperlihatkannya. Wanita itu memang cantik, ramah, dan terlihat menyenangkan. Tapi, entah mengapa aku tidak begitu menyukainya. Apa karena ia adalah rekan kerja Hun Oppa?


Jinhee menggelengkan kepalanya perlahan.


“Tidak. Sebenarnya di kampung halaman saya sedang ada festival. Saya pernah berjanji akan mengajak Hakim Hun untuk melihat festival tahunan di kampung saya, sebagai rasa terima kasih karena Hakim Hun sering membantu dalam pekerjaan saya. Selain itu, keluarga besar saya ingin beremu Hakim Hun secara pribadi. Mereka ingin mengucapkan rasa terima kasih yang banyak pada Hakim Hun.” Wanita itu menjelaskan panjang lebar.


Aku pun segera menarik kesimpulan.


“Sepertinya hubungan Anda dengan Hun Oppa benar-benar dekat. Sampai keluarga Anda ingin bertemu dengan Hun Oppa secara pribadi.”


Hanya senyuman hangat yang terasa misterius yang diperlihatkan Jinhee menanggapi kata-kataku.


“Jinhee~ssi. Ayo!”


Hun Oppa yang hendak masuk ke dalam mobil menceletuk. Seketika itu, Jinhee membungkukkan tubuh menyapa aku dan Yul Oppa. Lalu berjalan menuju mobil Hun Oppa dan masuk ke dalamnya.


“Hun~a, hati-hati di jalan! Selamat bersenang-senang.”


Yul Oppa menceletuk mengiringi mobil adiknya yang berjalan menjauh. Kami berdua mengamati kepergian Hun Oppa. Kemudian aku menggumam dengan gamblang.


“Mereka tidak pergi untuk bekerja. Hun Oppa sedang diajak wanita itu untuk bertemu keluarganya,” ucapku.


“Benarkah?!” Yul Oppa menceletuk kaget. Kedua alisnya menaik karena perasaan terkejutnya.


Kepalaku mengangguk-angguk. Aku berjalan masuk ke dalam rumah sambil menggumam, “Benar sekali. Mereka juga akan menyaksikan festival tahunan bersama sepanjang hari dan sepanjang malam.”


Di belakangku Yul Oppa terkekeh heran.


“Astaga, Hun ku benar-benar sudah besar. Dia tahu cara menghabiskan akhir pekan dengan indah.”


Aku tersenyum geli mendengar gumaman Yul Oppa. Tapi, ada satu perasaan yang janggal dalam benakku. Apa arti perasaan ini? Kenapa aku tidak merasa senang melihat Hun Oppa menghabiskan waktu bersama seorang wanita? Apa karena aku telah menganggap Hun Oppa seperti kakak lelakiku sendiri, sehingga aku merasa tidak rela melihatnya bersama wanita yang belum bisa kupastikan apakah dia wanita baik atau bukan? Tau ah. Yang pasti, aku juga merasa senang karena Hun Oppa akhirnya tahu bagaimana caranya bersenang-senang, tanpa terus berurusan dengan pekerjaan.


Sambil terus berjalan menaiki anak tangga, aku berbicara dengan Yul Oppa yang menyusul langkah kakiku. Ia berjalan sambil merangkul pundakku. Kami menaiki tangga bersama.


“Jadi ke mana kita akan berbulan madu setelah menikah nanti?” tanyaku.


“Inginmu pergi ke mana? Kita bisa mencari tiketnya besok.”


Aku menghela napas panjang. tiba di lantai dua, aku menghentikan langkah. Kepalaku mendongak, menatap Yul Oppa.


“Oppa sungguh bisa pergi berbulan madu?” tanyaku meyakinkan.


Kening Yul Oppa mengernyit. Ia bertanya, “Maksudnya?”


“Sepertinya keadaan kafe tidak terlalu baik untuk kau tinggal berbulan madu. Oppa sungguh bisa pergi?” tanyaku dengan nada suara yang serius. Perkataanku cukup membuat Yul Oppa melepaskan pelukannya dari kedua bahuku.


Ia menghela napas. Kemudian memutar bahuku menghadapnya. Kurasakan remasan lembut pada kedua bahuku sementara Yul Oppa menatapku dalam-dalam.


“Aku tidak apa-apa jika tidak pergi bulan madu. Oppa bisa menyelesaikan urusanmu di sini. Dan kita bisa berangkat bulan madu nanti akhir tahun atau awal tahun depan, setelah semua urusanmu selesai.” Aku mengimbuhkan, selagi membalas tatapan lembut Oppa.


Yul Oppa terdiam cukup lama memandangiku. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang ia pikirkan. Tetapi, tatapan sendunya cukup memberitahuku kalau ia menentang apa yang kukatakan tadi.


“Bagaimana dengan Pulau Jeju?” ucapnya setelah beberapa saat.


Keningku mengernyit. Maksudnya, dia akan tetap membawaku pergi berbulan madu di tengah permasalahan kafenya?


Aku masih terdiam ketika Oppa lanjut berbicara, “Untuk saat-saat ini kurasa aku hanya bisa membawamu pergi berbulan madu ke Pulau Jeju. Aku tidak bisa pergi jauh-jauh. Nanti... nanti ketika semuanya sudah kembali normal, aku akan mengajakumu berbulan madu ke tempat yang kau inginkan, di mana pun itu. Bagaimana?”


Aku tersenyum hangat mencerna semua kalimat yang Yul Oppa lontarkan. Tatapan lembutnya cukup menyejukkan perasaanku. Membuat perasaanku meluluh hingga segera mengiyakan semua tawaran yang ia berikan.


“Ahhh... oppa.”


Oppa melapaskan pelukannya. Tersenyum manis dengan tatapan nakalnya yang seolah akan menerkamku saat ini juga. Ia berbisik pelan di samping telingaku, “Aku menginginkanmu, Kang Yebin. Tidak akan kubiarkan kau lepas sedetik pun malam ini.” lalu ia segera mengangkat tubuhku dengan kedua tangannya. Berjalan masuk ke dalam kamar sementara bibirnya mulai melumat bibir dan juga leherku.


***


Author POV


Langit sudah cukup gelap ketika Hun tiba di kampung halaman Jinhee. Ia disambut oleh keluarga besar Jinhee dan juga orang-orang dari kampung halamannya yang tengah mempersiapkan segala hal untuk acara festival besok.


Semua penduduk desa sangatlah ramah kepada Hun. Mereka juga menghormati Hun yang datang jauh jauh dari Seoul untuk melihat festival lampu hias tradisional tahunan yang diselenggarakan di desa tersebut.


Ketika Hun datang, anak-anak remaja tengah melakukan latihan tari tradisional di balai desa. Sedangkan anak-anak kecil lainnya terlihat bahagia bermain layang layang dengan hewan peliharaan yang dibawa dari rumah masing-masing, sambil menunggui orang tuanya mempersiapkan berbagai macam lampu hias tradisional untuk acara besok. Persiapan acara festival ini sangatlah luas biasa. Dari cerita yang Hun dengar dari penduduk kampung, orang-orang dari kota biasanya datang kemari untuk menyaksikan festival tahunan yang diselenggarakan setiap musim panas.


Hari itu Hun diajak bertamu di rumahnya Jinhee. Ia dijamu dengan berbagai makanan olahan hasil laut dan juga perkebunan. Juga disiapi tempat untuk beristirahat dengan nyaman tanpa diganggu oleh suara-suara dari hewan ternak yang ada di belakang rumah Jinhee.


Malam ini festival lampu hias tradisional itu diselenggarakan. Dan, benar kata penduduk kampung kemarin. Bahwa ketika festival berlangsung, kampung yang biasanya sepi pada malam hari ini menjadi sangat ramai. Ratusan, atau bahkan ribuan orang dari luar kota datang ke kampung ini untuk menyaksikan festival.


Sepanjang jalan dipenuhi oleh lampu hias tradisional yang terbuat dari pelepah pohon dan juga dedaunan kering. Berbagai macam bentuk lampu hias menghiasi seluruh sudut kampung ini. Cahaya temaram kekuningan memancar dari dalam bagian lampu hias, membias keluar dengan berbagai pola yang terbentuk.


Di sudut kampung ini, tepatnya di lantai dua bangunan rumah susun yang sudah tua, Hun menyaksikan kerumunan orang yang sedang menonton tarian tradisional di tengah kampung. Ditemani Jinhee yang duduk berseberangan meja dengan Hun sambil menikmati teh herbal.


“Wah, Jinhee~ssi pasti sangat senang karena setiap tahun bisa menyaksikan festival yang begitu meriah ini. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali melihat festival. Mungkin beberapa tahun lalu, sebelum aku berangkat ke Amerika untuk belajar.” Hun menggumam-gumam dengan pandangannya yang turun. Melihat kerumunan orang di jalanan. Juga melihat anak anak remaja perempuan melakukan tarian tradisional dengan begitu indahnya, diiringi suara musk tradisional Korea seperti gayageum.


“Hakim Hun bisa datang kemari setiap tahun untuk menyaksikan festival. Penyelenggara festival mempertimbangkan banyak faktor untuk menentukan hari dilaksanakannya festival. Seperti... festivla diselenggarakan pada akhir pekan, supaya orang-orang yang bekerja di luar kota sepertiku bisa datang dan ikut memeriahkan acara,” cerita Jinhee.


Kepala Hun sontak menoleh. Bertatapan dengan Jinhee.


“Apa aku boleh datang setiap tahun kemari untuk menyaksikan festival?” tanyanya.


Tanpa merasa ragu kepala Jinhee mengangguk. Ia tersenyum dengan lembut lalu menjawab, “Tentu saja. Hakim Hun juga melihat sendiri kan? Orang kampung sini sangat senang akan kedatangan Hakim Hun, begitu juga keluargaku.


Hun ikut mengangguk. Ia meraih tes herbal yang ada di hadapan, lalu menyesapnya.


“Ngomong-ngomong, kenapa kau memanggilku ‘Hakim Hun’? kita kan tidak sedang bekerja. jadi panggil saja aku dengan namaku.”


Jinhee membengong. Lalu menggumam, “Ah, iya, Hun~ssi.”


Setelah itu Hun berdiri dari duduk. Ia ingin melihat berjalannya festival dengan leluasa dari rumah susun lantai dua tempatnya berada ini. Berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada susuran kayu lantai dua. Menyaksikan tarian tradisional oleh para gadis remaja yang ada di bawah sana.


“Hari Sabtu minggu depan, apa Jinhee~ssi punya rencana?” Hun kembali membuka pembicaraan.


Sembari mengingat ingat adegandanya minggu depan, Jinhee berdiri dari duduk. Ia ikut berdiri di sebelah kanan Hun.


“Tidak ada. kenapa?”


“Aku ingin mengajakmu pergi ke pesta pernikahan kakakku. Rasanya terlalu berat jika aku pergi ke sana sendirian. Aku tidak tahu apakah di sana nanti aku merasa senang karena kakakku menikah, atau justru merasa sedih,” kata Hun.


Apa yang diucapkannya justru memicu rasa penasaran pada Jinhee. Ia cukup merasa penasaran, apa maksudnya Hun berkata begitu di hari pernikahan kakaknya.


“Kenapa Hun~ssi merasa sedih? Bukankah harusnya seseorang merasa senang ketika salah satu saudara ada yang menikah?” tanya Jinhee.


Dengan nada suaranya yang tetap tenang Hun menjawab, “Tentu aku merasa senang. Kakakku, yang telah berusaha amat keras untuk membesarkanku dan menjadikanku seorang hakim, akhirnya menikah dengan orang yang dicintainya. Sudah pasti aku merasa senang. Tetapi aku juga merasa sedih di waktu bersamaan, karena aku belum bisa melupakan perasaanku pada calon istrinya.”


Jinhee sontak menoleh. “Maksudnya....”


Hun ikut menolehkan kepala. Bertatapan dengan Jinhee.


“Benar. Aku dan kakakku pernah terlibat cinta segitiga. Tetapi aku datang sebagai orang nomor dua untuk Yebin. Bukan orang pertama, tetapi orang nomor dua. Yebin memilih kakakku. Mereka saling mencintai, dan aku tahu seberapa besar kakakku mencintai Yebin. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan mereka bahagia bersama. Aku tidak bisa apa-apa selain memberi mereka dukungan.”


Di sela-sela cerita Hun, Jinhee mengingat ingat wajah dari Yebin yang dibicarakan Hun. Ia membatin. Pantas saja tadi Yebin terlihat tidak begitu menyukainya ketika datang bertamu ke rumah Yul untuk mencari Hun. Ternyata, terdapat kisah yang rumit di antara mereka.


“Apa yang Hun~ssi sukai dari wanita itu?” Ikut larut dalam cerita Hun, Jinhee bertanya lebih dalam tentang perasaannya.


Hun menghela napas panjang ke dalam perut.


“Entahlah, aku tidak yakin. Saat bersamanya aku merasa gembira. Dia bisa membuatku turut merasakan emosi yang dia rasakan. Membuatku ikut gembira, membuatku ikut bersedih ketika melihatnya terluka, membuatku ikut marah ketika melihatnya marah-marah sambil menendangi pot bunga.” Hun terkekeh-kekeh. Memorinya berputar ke belakang. Mengingat Kang Yebin yang emosinya meledak-ledak. “Dan yang terpenting, aku menyukai setiap kerja kerasnya dan setiap usaha yang dia lakukan untuk dirinya sendiri maupun orang lain.”


Hun yang teramat larut dalam ceritanya tentang kang Yebin itu membuat Jinhee tersenyum penuh kegetiran. Benaknya terasa sesak. Setiap sudut dalam hatinya terasa meretih sakit mendengar semua kekaguman Hun pada calon kakak iparnya.


Sepergi mengembuskan napas panjang Jinhee berkata, “Sepertinya Hun~ssi benar-benar menyukai gadis itu.”


“Aku memang benar menyukainya. Walau sekarang aku harus belajar melupakannya,” sahut Hun spontan.


Setelah beberapa saat termenung, Jinhee menolehkan kepala. Bertatapan legas dengan Hun yang tampak bingung mengertikan tatapannya.


“Aku akan membantumu, Hun~ssi,” kata Jinhee yang membuat Hun mengerutkan kening bingung.


“Membantu apa?”


“Membantumu melupakan gadis itu. Bagaimana?”


Tawaran tak terduga yang Jinhee lontarkan itu membuat tubuh Hun mematung untuk beberapa saat. Tatapan Jinhee terasa berbeda. Jinhee tidak terlihat seperti gadis kampung yang polos dan lugu. Tetapi ia terlihat seperti wanita penuh ambisi yang memiliki semangat yang berkobar-kobar.


Setelah mepertimbangkan apa yang Jinhee tawarkan matang-matang, Hun menanggapi.


“Caranya?”


“Seperti ini.”


Jinhee menarik kerah baju coat yang dikenakan Hun sambil melakukah maju, mendekatkan jaraknya dengan Hun. Kepalanya mendongak dengan kaki yang berjinjit. Ia menarik kera pakaian Hun mendekat kemudian menempelkan bibirnya pada bibir Hun dengan kedua mata yang terpejam.


Reflek, bola mata Hun terbelalak mendapati ciuman mendadak dari Jinhee. Tubuhnya seolah tidak bisa bergerak ketika bibir keduanya berpautan dengan iringan suara alat musik gayageum yang semakin syahdu. Hingga perlahan Hun mampu mengendalikan keterkejutannya. Kedua matanya ikut terpejam karena terbawa suasana. Ia kemudian membalas ciuman Jinhee dengan lembut bersama ribuan lampion kertas yang mulai diterbangkan ke langit.


***