
“Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi.” Suara Hun yang tegas ini membuat suasana ruang tamu semakin tegang. Hun menatap tajam kakaknya yang seluruh tubuhnya basah karena kehujanan. Sementara wanita yang berdiri tidak jauh darinya itu tampak cemas melihat Hun yang untuk pertama kalinya memperlihatkan kemarahan yang tidak biasa. “Katakan, Hyeong! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Yebin lagi-lagi terluka karenamu?”
Suara Hun yang menaik itu membuat pernapasan Yul semakin berat. Hun memang tipe laki-laki yang tenang dan berkepala dingin. Tapi, sekali kemarahannya meledak tidak ada yang bisa menghentikannya. Ia mirip Moon Jiwook—ayah mereka—yang cenderung memendam emosi dan meluapkannya di satu waktu.
Yul menghela napas panjang. Ia tahu Hun benar-benar marah melihat Yebin yang menangis dengan begitu menyesakkan di bawah guyuran hujan malam ini. Yul menyesal. Andai saja yang disukai Yebin adalah Hun, mungkin ia bisa merelakan wanita itu bersama adiknya. Dengan berlapang dada Yul bisa melepaskan Yebin bersama Hun yang benar-benar menjaganya dengan baik. Tak seperti dirinya yang bodoh ini. Namun, yang diinginkan Yebin adalah dirinya; Yul. Yul tidak bisa melepaskan Yebin karena yang wanita itu inginkan hanyalah dirinya.
“Ada salah paham,” jawab Yul setelah beberapa saat.
“Apa itu?”
“Aku... dengan Haeri....”
“Kalian berciuman.... di hadapan Yebin?” Hun menyela ucapan kakaknya yang tersendat.
Api amarah terasa menyundul ubun-ubun Hun. Kedua tangan pria itu mengepal erat. Ingin sekali rasanya ia memukul kakaknya yang lagi-lagi membuat Yebin terluka. Ya, lagi-lagi. Untuk yang keselian kalinya. Namun, Hun menahan diri. karena Yul adalah kakaknya.
Hun mengalihkan pandangan sembari pengandalikan pernapasannya yang semakin berat. Sungguh. Ia merasa benar-benar marah melihat wanita yang disayanginya hancur karena pria lain. Hun sungguh ingin memberikan satu pukulan mematikan pada pria yang sudah menyakiti Yebin. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Sekali lagi, karena Yul adalah kakaknya.
“Ini bukan kesalahan Yul. Ini adalah salahku, Hun~a.” Haeri yang melihat Hun benar-benar marah, menyela. Wanita itu berjalan mendekati Hun. “Aku yang memulainya. Awalnya aku hanya ingin memastikan perasaanku terhadap Yul. Sejak aku putus dengan Gojun~ssi, Yul terus bersamaku. Aku sempat ragu sejenak apakah aku dengan Yul ini sungguh berteman. Aku yang menciumnya duluan, untuk memastikan perasaanku. Dan kami memang benar-benar berteman. Aku salah mengartikan perasaanku.”
Begitu Haeri menjelaskan peristiwa yang terjadi malam ini. Ia hanya ingin memastikan perasaannya terhadap Yul. Untuk memastikan kalau mereka memang benar-benar berteman. Setelah hubungannya dengan Gojun kandas, Haeri sempat merasa bingung tentang Yul yang selalu ada untuknya. Pun Yul merasa bingung tentang perasaan—yang dinilainya tidak masuk akal—terhadap Yebin. Haeri dan Yul yang sama-sama merasa ragu pun memutuskan untuk berciuman. Ciuman yang tidak berarti apa-apa dan terasa hambar itu berlangsung singkat, sangat singkat. Mirisnya, dengan tidak sengaja Yebin melihat ciuman tak bermakna yang singkat itu.
“Itu salahku. Kejadian ini, Yebin yang kembali terluka, itu semua salahku.” Yul kembali angkat suara merasakan kekacauan ini.
Hun mengambil napas dalam-dalam. Tatapan penuh kecewanya tertuju pada Yul.
“Awalnya aku ingin merelakan Yebin untukmu, Hyeong. Karena yang Yebin cintai hanya dirimu. Yang diinginkannya hanyalah engkau. Aku ingin membiarkannya bahagia bersamamu. Tapi, pikiranku berubah sekarang. Aku sama sekali tidak bisa merelakan Yebin bersamamu. Aku tidak bisa membiarkannya terluka untuk yang kesekian kalinya karenamu.” Hun berucap tegas dengan tatapannya yang mulai menyendu. Sebelum melangkah pergi meninggalkan kakaknya, Hun mendesus pelan dengan nada suara serius. “Sebelumnya aku tidak pernah kecewa padamu. Tapi kali ini aku benar-benar kecewa padamu, Hyeong. Aku sangat kecewa.”
Hun mengucapkannya dan berjalan pergi meninggalkan sang kakak. Naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya.
Keesokan paginya Hun hendak berangkat bekerja ke kantor pengadilan. Ia berjalan menuju meja makan. Mengambil satu potong roti bakar yang telah disiapkan untuknya. Seperti biasanya, Yul yang menyiapkan sarapan untuk mereka. ia membuatkan roti gandum bakar dan juga dua gelas susu untuk dirinya dan Hun.
Kali ini Hun hanya mengambil roti bakar di atas piring tanpa berniat menghabiskannya di tempat. Setelah memungut roti itu ia berlalu pergi. Meninggalkan Yul yang sedang sarapan dan meninggalkan satu gelas susu yang disiapkan untuknya itu dingin.
“Sepertimu....”
Ucapan Yul menghentikan langkah Hun yang hendak menjauh. Tanpa berbalik laki-laki itu mendengarkan kakaknya berbicara.
“Sama sepertimu aku juga tidak akan menyerah. Bagaimanapun caranya aku akan mendapatkan maaf dari Yebin. Dan memulai semuanya dari awal.”
Selesai mendengarkan kakaknya itu berbicara, Hun melanjutkan langkah bersama ekspresi wajahnya yang tidak berubah dan tidak dapat ditebak. Laki-laki itu pandai menyembunyikan emosi. Raut wajah yang misterius itu pergi bersama Hun yang membunyikan klakson mobil di depan rumah Yebin. Sementara Yul hanya menatap sendu ke arah luar. Menyaksikan wanita yang disayanginya masuk ke dalam mobil Hun dan melaju bersama.
Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan standar itu Yebin hanya terdiam. Semenjak ia mengerjakan penelitian di perusahaan, Hun selalu memberinya tumpangan. Letak gedung perusahaan tempat Yebin melakukan penelitian itu tidak jauh dari gedung pengadilan pusat, hanya sekitar tiga ratus meter. Tidak mengherankan jika mereka sering makan siang bersama di restoran sup atau tempat makan lain.
“Kau sudah sarapan?” tanya Hun di sela keheningan yang berlangsung.
Yebin sedikit menoleh saat memberikan jawaban, “Sedikit.”
“Mau sarapan bersama? Aku tahu restoran bagus di dekat perusahaanmu.”
Ucapan Hun itu membuat Yebin tersenyum tipis di tengah kepedihannya. Yebin pun mengangguk kecil dan Hun segera menambah kecepatan mobil.
***
Mendapatkan permaafan dari Yebin jauh lebih sulit dari menghitung diameter bulan purnama di langit. Yul melakukan berbagai upaya yang pada akhirnya sama sekali tak digubris oleh Yebin.
Sejak awal Yul tahu, menaklukkan hati Yebin bukanlah yang hal mudah. Apalagi setelah peristiwa malam itu. Miyoon yang biasanya hangat kepada Yul tiba-tiba berubah menjadi dingin. Ibu yang hanya memiliki satu orang putri yang berharga di sisinya itu merasa kecewa kepada Yul. Rasa kepercayaannya kepada Yul sudah runtuh melihat bagaimana Yebin—yang tumbuh menjadi wanita kuat—menangis tersedu pada malam itu.
Yebin, satu-satunya putri Miyoon itu adalah wanita yang sangat tegar dan hampir tidak pernah menangis. Tetapi pada malam itu Yebin menangus terisak dengan mengunci dirinya di dalam kamar. Jangmi dan Miyoon yang mendengarkan isak tangisan Yebin dari luar, merasa benar-benar pilu. Mereka mengingat janji Yebin sekepergian ayahnya. Janji untuk menjadi wanita yang kuat dan tidak mudah jatuh. Miyoon mengerti dengan baik bagaimana Yebin berusaha untuk tegar selama ini. Berusaha tumbuh dengan baik tanpa ayah. Berusaha terihat baik-baik saja di hadapan sang ibu. Dan bersusaha menjadi putri yang mandiri tanpa banyak membebani ibu yang hanya menerima sedikit uang pensiun dari ayah.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, siang ini Yul datang ke perusahaan tempat Yebin melakukan penelitian. Perusahaan swasta yang memproduksi pakaian dari dua brand nasional ini adalah perusahaan yang dikelola oleh paman Yul. Awalnya, ayah Yul dan Yul sendiri ditawari posisi di perusahaan ini. Namun karena ayah dan anak itu tidak bisa meninggalkan hasrat mereka di bidang seni, tawaran yang diajukan sang kakek pun ditolak. Dan akhirnya perusahaan ini jatuh pada tangan paman Yul setelah kakeknya meninggal tujuh tahun silam.
“Gadis... itu?” tanya Yul ragu mendengar pamannya yang sepertinya tahu siapa yang ingin ditemuinya di perusahaan ini.
“Ya. Gadis dari Universitas Konkook yang sedang penelitian itu. Aku mendengar dari sekretarisku, kalau bos Moonlight Coffe datang kemari untuk bertemu mahasiswa itu. Dia yang memiliki Biniemoon itu kan?” Janghyuk lanjut berucap.
Kedua alis Yul menaik. Ia menurunkan cangkir teh dari wajahnya. Menatap pamannya yang duduk di seberang sofa ruang presiden.
“Paman juga tahu itu? Kalau Yebin yang punya Biniemoon.”
Senyum Janghyuk terukir. Ia mendengar dari sekretarisnya. Tentang situs belanja online yang iklannya sering muncul di sosial media dan internet itu.
“Tentu tahu. Direktur pemasaran produk mengajukan proposal padaku tentang kerjasama dengan situs Biniemoon. Meski situs belanja itu belum begitu besar di negara kita, kurasa penjualannya stabil. Itu yang perusahaan ini cari, yang penjualannya stabil. Tidak melonjak di satu waktu lalu berakhir seperti kebanyakan situs belanja daring. Kurasa proposal yang diajukan itu tidak buruk. Aku sedang mempertimbangkannya. Walau sebenarnya aku terkejut mengetahui kalau pemilik Biniemoon itu adalah seorang wanita yang masih sangat muda.”
“Paman, semisal kau ingin menyetujui proposal itu, kumohon jangan sekarang.” Ucapan Yul yang mengejutkan itu membuat Janghyuk mengerutkan kening.
“Kenapa memangnya? Bukannya semakin cepat semakin baik?”
“Semakin cepat memang semakin baik. Tapi, Yebin harus lulus dulu. Sekarang dia masih melakukan penelitian. Mustahil mengususi bisnis dan penelitian dalam satu waktu. Dari luar Yebin memang kelihatan kuat, tapi sebenarnya dia sangat lemah. Jadi biarkan dia sekarang fokus pada penelitian. Setelah Yebin lulus nanti, aku akan memberitahu paman,” kata Yul bijak.
Janghyuk tersenyum tipis sambil mengangguk-angguk.
“Kau benar-benar mirip dengan ayahmu,” ungkap Janghyuk yang tersenyum tipis itu. “Ayahmu tidak menunjukkan perhatian secara langsung di hadapan ibumu. Tapi dia sangat memperhatikan ibumu bahkan hal-hal yang kecil sekalipun. Dulu ayahmu berkata kalau selamanya dia tidak akan menikah kalau tidak dengan ibumu. Mereka saling mencintai dan selalu bersama bahkan di akhir hayatnya.”
Senyum tipis Yul ikut tersimpul mendengar cerita singkat paman tentang ayahnya.
“Benar. Ayah dan ibu saling mencintai sampai akhir hayatnya. Aku sangat iri pada mereka,” kata Yul.
Ia teringat sosok orang tuanya yang saling menunjukkan kasih sayang bahkan sampai tarikan napas terakhir mereka. setiap harinya, saat orang tuanya masih hidup, Yul selalu merasa kehangatan cinta mereka. Setelah semua itu hilang, hidup Yul benar-benar terasa sunyi. Dan ia tak merasa lagi kesunyikan setelah mengenal Yebin yang selalu menghibur hatinya dengan cara apa pun. Mengikutinya, mengganggunya, menyuruhnya ini itu, bahkan menempelinya ke mana-mana. Yul sungguh ingin kembali ke saat-saat itu. Saat-saat semua kekacauan ini belum terjadi. Saat-saat sebelum Yul benar-benar menyesal begitu dalam karena menolak perasaan Yebin dan membuatnya terluka begitu dalam.
Setelah menghabiskan tehnya, Yul beranjak dari duduk.
“Kau sudah mau pergi?” sahut Janghyuk melihat Yul berdiri.
“Ya. Sudah memasuki jam makan siang dan aku harus segera keluar.”
“Aku harapkan yang terbaik untukmu dan adikmu. Kudengar gadis pemilik Biniemoon itu juga dekat dengan Hun.”
Kata-kata Janghyuk itu kembali mengejutkan Yul.
“Paman juga tahu hal itu?”
Senyum aneh Janghyuk membuat Yul mengernyit waspada.
“Sekretarisku itu punya banyak telinga di perusahaan. Katanya gadis itu selalu berangkat bersama Hun. Mereka juga sering makan siang bersama. Aku bertanya-tanya apa kau dan Hun ... ah, tidak-tidak... paman yang sudah tua ini tidak perlu tahu urusan keponakannya yang masih muda. Kalian selesaikan saja sendiri.”
Begitu Janghyuk mengakhiri ucapannya lalu beranjak dari duduk. Ia berjalan menuju meja perja presiden perusahaan.
“Tidak, Paman. Tidak terjadi apa-apa antara aku dan Hun. Paman tidak perlu khawatir.” Yul mengucapkan hal itu sebelum berjalan pergi meninggalkan ruangan presdir ini. Ia berjalan menuju lift. Hendak menemui Yebin yang sepertinya akan makan siang setelah jam istirahat dimulai.
Di koridor lantai dua puluh itu Yul melihat Yebin yang sedang berjalan bersama dua orang temannya. Ketiga wanita itu juga berjalan menuju lift untuk turun ke lantai dua—kantin.
Semua teman Yebin seolah sudah familiar dengan wajah Yul yang hampir setiap hari datang ke perusahaan selama kurang lebih satu bulanan ini. Mereka tahu kalau Yul datang untuk Yebin. Dan mereka juga tahu kalau Yebin sedang dekat dengan seorang hakim muda di pengadilan pusat.
Sungguh. Hidup Yebin yang dikelilingi laki-laki menawan itu sangat beruntung, pikir teman-teman Yebin. Mereka benar-benar heran sekaligus kagum pada Yebin yang dekat dengan dua pria sekaligus. Pun dua-duanya adalah pria di atas standar. Mereka merasa iri pada Yebin. Padahal tidak tahu betapa menderitanya Yebin berada di posisi ini. Posisi di mana dirinya tidak bisa lepas dari satu pria yang terus menyakitinya dan tidak bisa berpaling untuk pria yang benar-benar memperhatikan serta menjaganya dengan baik. Yebin berada dalam posisi yang sungguh rumit. Ia tak bisa melupakan, juga tak bisa berpaling. Ia hanya mencintai satu pria namun tidak bisa membuat pria lain terus berharap.
Kedua teman wanita yang berjalan di sebelah Yebin merasa peka melihat keberadaan Yul. Tanpa disuruh, mereka berkata harus ke toilet dan meninggalkan Yebin berasa Yul di koridor.
***