Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kecemburuan sang istri



Kecemburuan sang istri


Yul Pov


Sore pada pukul empat.


Aku melangkah dengan berani memasuki rumah tempat tinggal berdua dengan istriku tercinta. Meski langkahnya memperlihatkan keberanian, sebenarnya aku setengah mati takut menghadapi Yebin yang sedang cemburu melihat Han Lia turun dari mobilku siang tadi.


Karena urusan pekerjaan, siang tadi aku tidak sempat menjelaskan situasinya kepada Yebin. aku hanya berkata kepada Yebin agar segera pulang dan nanti sore aku akan memberikan penjelasan panjang untuknya.


Sudah dapat dipastikan Yebin marah melihat hal itu. Aku tahu, kecemburuan Yebin ini adalah kesalahanku yang telah membiarkan wanita itu masuk ke dalam mobilku untuk menumpang. Dan mirisnya lagi adalah, Han Lia yang memanggilku dengan sebutan ‘oppa’ semakin membuat Yebin marah besar mendengarnya.


Ketika aku menyuruh Yebin untuk segera pulang karena ia terlihat capek, yebin hanya mengiyakan. Tidak menolah perkataanku dan tidak juga berteriak atau menunjukkan kemarahannya. Tapi, aku tahu betul kalau sebenarnya ia marah besar.


Namun Yebin bukanlah wanita yang pintar memendam emosi. Emosinya terkesan meledak ledak dan sulit dikontrol. Hal ini yang membuatku merasa waswas sekaligus ragu dan takut. Takut tidak bisa mengendalikan emosinya yang sudah pasti akan meluap.


Aku masuk ke dalam rumah yang terasa kosong. Kudapati seluruh sudut lantai satu yang kosong. Tak memperlihatkan keberadaan kang Yebin.


Beberapa kali dehaman ringan keluar dari tenggorokanku. Sambil bertanya tanya di mana Yebin berada, aku naik ke lantai dua.


Aku berjalan ke kamar, namun tak kulihat keberadaan Kang Yebin. aku kemudian menjelajahi beberapa ruangan lain. tapi tak kunjung menemukan Yebin.


Terakhir, aku menuju balkon. Dan, sesuai dugaan terakhirku. Yebin ada di sana. Berdiri menghadap keluar sambil memegangi mug berwarna oranye yang beberapa hari lalu kami beli di departmen store, yang berisi coklat hangat.


Tanpa mengejutkan, dengan sangat perlahan aku memeluk tubuh Yebin ku dari belakang. Mencium aroma rambutnya yang harum dan segar.


“Di sini rupanya istri cantikku,” gumamku pelan selagi mempererat pelukanku pada perutnya yang ramping.


“Bersikap seperti ini tidak akan membuatku berhenti memikirkan wanita katamata kucing yang tadi turun dari mobilmu dan bahkan memanggilmu dengan sebutan Oppa menggunakan suara manjanya.”


Yebin yang melontarkan kalimat panjang itu tanpa spasi, membuatku tertegun dan segera melepaskan pelukan. Aku berdiri di sebelah Yebin. mengamati raut wajah kesalnya yang tak bisa di tutup tutupi lagi.


“Oppa tahu kenapa aku minum coklat hangat?” Selagi menceletuk, Yebin memutar tubuhnya menghadapku. “Karena aku terus memikirkan wanita kaca mata kucing itu! Bagaimana wanita itu bisa turun dari mobilmu? Bagaimana kalian bisa bersama dan naik mobil bersama dari suatu tempat? Kenapa juga wanita itu memanggilmu Oppa? Apa Oppa adalah kakak lelakinya? Apa Oppa juga manajernya? Tidak tidak. Sebelumnya, bagaimana Oppa bertemu wanita itu? Kalian saling mengenal tanpa kuketahui? Apa kalian sering bertemu? Kalihatannya kalian sudah akrab sampai wanita itu memanggilmu Oppa bahkan menyuruhmu memesankan kotak makan siang untuknya? Jawab aku, Oppa! Kenapa Oppa diam saja?”


Bukannya aku yang diam. Hanya saja aku tidak menemukan celah untuk menjawab semua pertanyaan Yebin yang datang seperti


hujan peluru.


Bagaimana aku bisa menjawab semua pertanyaannya di saat ia masih terus berbicara tanpa celah dan spasi? Dan kenapa juga Yebin marah karena aku masih diam mendengarkan smeua pertanyaannya?


“Bukan begitu Yebin~a. Aku sebelumnya tidka mengenal Han Lia. Tadi pertama kali kita bertemu.”


“Baru pertama bertemu tapi Oppa sudah memberinya tumpangan bahkan membelikan ia makan siang? Baru pertama bertemu tetapi wanita itu sudah membuatmu menjadi sopirnya bahkan memanggilmu Oppa?” Yebin lanjut merutuki.


“Tidak. Tidak begitu.”


Aku berusaha meyakinkan Yebin dengan bersusah payah. Tetapi Yebin tidak mau mendengarkanku dan terus menimpali perkataanku dengan kalimat kalimat beruntunnya.


“Yebin~a, dengarkan aku.”


Yebin buru buru pergi meninggalkan balkon. Berjalan menuruni tangga. Sementara aku berusaha menjelaskan kepadanya. Berjalan di belakangnya seperti bayang bayang.


“Jadi, Han Lia itu aktris yang akan menjadi model Moonlight Coffe. Aku sedang merancang kerja sama dengannya, untuk meningkatkan penjualan Moonlight Coffe dan menempatkan Moonlight Coffe pada posisi seperti sebelumnya. Sungguh. Aku tidak ada niat lain.”


Sambil berjalan mengikti Yebin ke dapur, aku menjelaskan panjang lebar. Langkah Yebin pun berhenti tepat di depan lemari pendingin. Kelihatannya ia kepanasan. Seisi kepalanya perlu didinginkan dari emosi yang tergambar jelas pada raut wajahnya itu.


“Han Lia akan menjadi model Moonlight Coffe?” Yebin pun menanggapi penjelasanku. Sedikit.. walau hanya sedikit, aku merasa lega. Tepat sedikit sekali.


“Benar. Han Lia akan dikontrak oleh Moonlight Coffe.”


“Kenapa Oppa memilih Han Lia yang seksi itu? Apa tidak ada penyanyi lain di negeri ini? Ada banyak sekali penyanyi berbakat yang bisa Oppa jadikan model Moonlight Coffe. Ada Lee Haeri, Kang Min Kyung, Ben, Soran, Hong Jin Young... lihatlah, ada banyak sekali. Kenapa Oppa harus memlilih yang memiliki image seksi seperti Han Lia?”


Sungguh. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa. Pasalnya yang Yebin katakan itu jauh di luar dugaanku. Aku bahkan tak pernah terpikirkan sama sekali.


“Bukan aku yang memilih. Tapi terpilihnya Han Lia adalah kesepakatan bersama. Aku, Jisoo, dan semua manager Moonlight Coffe ikut terlibat dalam mendiskusikan siapa model yang cocok untuk Moonlight Coffe. Jadi bukan aku yang memilih. Mereka mengusulkan Han Lia dengan segala pertimbangannya. Aku hanya menyetujui karena kupikir pertimbangan mereka memilih Han Lia sangat matang dan akan membawa banyak keuntungan untuk kafe.”


Yebin hanya terdiam. menatapku dengan kedua matanya yang membulat. Tatapan kesal, sedih, cemburu, semua bercampur menjadi satu sampai aku binging mana yang lebih dominan.


Aku menarik napas panjang panjang. menghembuskannya perlahan.


Kuletakkan kedua tanganku pada pundak Yebin. aku menatapnya dalam dalam. sembari menyisipkan beberapa helai rambut ke belakang telinganya, aku mengatakan beberapa hal.


“Percayalah padaku, Kang Yebin. Ini hanya urusan bisnis. Aku tidak memiliki maksud apa apa dengan memilih Han Lia sebagai model promosi Moonlight Coffe. Kau tahu, di mataku kau lah satu satunya wanita di dunia ini. kamu yang paling cantik di mataku. Dan kamu yang tetap dan akan terus memenangkan hatiku. Hm? Kau percaya kan?”


Dengan sepenuh hati aku mencoba memenangkan hati Yebin. Mencoba meredakan kesemburuannya dengan menyentuh hatinya menggunakan hatiku.


“Aku percaya, kalau Oppa memang tidak berniat macam macam,” Yebin menanggap setelah sejenak terdiam mencerna semua kata kata ku.


“Benar. Aku memang tidak bermacam-macam.”


“Tapi tetap saja Oppa bersalah karena memberi tumpangan pada Han Lia. Bukannya dia punya manajer? Bukannya ia juga punya banyak mobil? dengan penghasilannya yang melimpah sebagai penyanyi, tidak mungkin kan Han Lia tidak punya mobil. Oppa tetap bersalah karena memberi tumpangan pada wanita yang tampak genit dan suka menggoda. Karena itu Oppa harus dihukum. Malam ini tidurlah di sampingku.”


Aku diam membatu. Masih tidak mengerti hukuman apa yang akan Yebin berikan padaku malam ini.


“Benar. Oppa tidur saja di sampingku, tapi jangan menyentuhku sedikit pun.”


Seketika itu tubuhku terasa seperti baru saja tersiram air es. aku memaku mendengar hukuman yang Yebin berikan. Tidur di sampingnya tanpa menyentuhnya. Apa itu masuk akal untuk seorang suami? Paling tidak aku ingin tidur berpelukan. Saling memberikan pelukan dan kehangatan sepanjang malam sampai terbangun keesokan harinya. Jika begini, apa aku akan bisa tidur? Sementara di sampingku ada Yebin yang biasanya aku peluk seperti guling.


Yebin yang melihatku membengong, segera pergi dari hadapanku. Berjalan meniki tangga. Aku yang semula membeku ini, segera menyadarkan diri dan mengejar langkah Yebin.


“yebin~a, bagaimana seorang suami bisa tidur tanpa menyentuh istrinya? Ini lebih menyiksa dari menyuruhku tidur di luar sepanjang malam. Janganlah seperti itu, hm? Aku mengaku bersalah. Jadi bagaimana kau akan memaafkanku? Aku akan melakukan apa pun agar kau memaafkanku.”


Di belakangnya aku merutuk rutuk. Mengikuti langkah Yebin yang gusar. Hati Yebin memang sulit di menangkan. Ia juga bukan tipe pemaaf yang mudah memaklumi kesalahan orang.


Tepat di ujung anak tangga, Yebin berhenti begitu mendengar permohonan maafku. Apa sekarang ia akan memaafkanku? Apa hatinya tergerak setelah mendengarku mengakui kesalahan dan memohon maaf? Apa aku tidak akan diberi hukuman itu malam ini?


Sejenak kemudian Yebin membalik badan. Menatapku dengan menaikkan kedua dagunya.


“Sekedar informasi saja. Malam ini aku akan tidur telanjang.”


“Apa?!”


***


Yebin POV


Insting seorang lelaki memang tidak bisa dibendung lagi. padahal aku berniat menghukum Yul Oppa yang sudah membuatku kesal hingga kepalaku terasa mau meledak. Tapi, yang terjadi sungguh di luar rencanaku.


Awalnya aku sengaja tidur tanpa memakai sehelai pakaian pun untuk memberikan hubukan berat pada Oppa yang membuatku mengesal dari siang sampai malam. Tetapi dia justru memberiku rangsangan yang tidak bisa kutolak. Aku memang melarangnya untuk menyentuhku. Tetapi Oppa tetap menyentuhku dan membuat hormon feromonku semakin meningkat dan aku semakin bergairah karena semua rangsangan itu. Sampai pada akhirnya aku tidak kuat lagi menahan hormon femoronku yang melaju pesat. Malam yang semula ingin kujadikan hukuman untuk Yul Oppa, menjadi malam yang menggairahkan untuk kami berdua. Sial. Rencanaku gagal.


Tetapi kekesalanku sudah sepenuhnya sirna. Kecemburuan yang kurasakan karena melihat Yul Oppa bersama Han Lia, melayang pergi seiring dengan setiap sentuhan panas yang Oppa berikan semalam. Membuatku serasa melayang ke udara.


Ini adalah akhir pekan. Hari yang kutunggu tunggu karena pada akhir pekan Oppa mengistirahatkan diri dari semua pekerjaannya sebgai pemilik kafe. Hari ini adalah hari di mana aku dan Yul Oppa akan menghabiskan waktu sepanjang hari bersama. Mengunjungi beberapa tempat, menonton film, dan pergi ke restoran malam untuk makan makanan enak. Berkencan layaknya sepasang kekasih yang masih berkencan. Begitulah kami menghabiskan setiap akhir pekan kami setelah menikah.


Pagi hari ini aku telah membersihkan tubuhku dengan mandi air dingin yang segar. Aku keluar dari kamar mandi dengan towel dress yang kukenakan, juga handuk yang terikat menutupi rambutku yang basah.


Ketika melangkah keluar dari kamar mandi, kulihat Yul Oppa yang masih terbaring di atas kasur dengan selimut yang menutupi pantatnya. Dia masih tertidur setelah semalaman bekerja keras. Haruskah aku membangunkannya? Atau membiarkannya tertidur sedikit lebih lama lagi? Tapi, pukul sepuluh nanti kami akan keluar bersama ke pameran seni. Lalu berlanjut menonton ke bioskop, melihat festival di taman sungai han, dan terakhir makan bersama di restoran mewah.


Tepat pukul sepuluh kami sudah harus keluar dari rumah. Dan sekarang sudah pukul sembilan. Oppa belum mandi dan belum sarapan. Aku harus membangunkannya sekarang.


“Oppa, bangunlah. Bukannya kita mau ke pameran seni? Cepatlah bangun. Lalu kita sarapan bersama.”


Sambil mengikat towel dress ku dengan kencang, aku berjalan mendekat ke arah ranjang. Menggoyah goyahkan tubuh Oppa yang tidur tengkurap di atas kasur, membangunkannya. Sepertinya tidurnya masih sangat lelap.


“Oppa.”


Suaraku mengeras. Setelah itu Oppa mulai terbangun. Ia memutar tubuhnya untuk tidur telantang di atas kasur. Lalu memejamkan matanya lagi untuk lanjut tidur.


“Oppa, bangunlah... aagh!”


Aku terhentak ketika tiba tiba Oppa mengulurkan tangannya untuk menarik lenganku. Dalam sekejap tubuhku bertengger di atas tubuh Oppa yang terlihat sedang memejamkan mata sambil tersenyum nakal.


“Oppa, sadarlah! Apa yang kau lakukan? lepaskan aku.”


Sekuat tenaga aku ebrusaha melepaskan diri dari pelukan Oppa yang semakin kencang. Sepertinya Oppa ini sudah gila. Apa dia menginginkannya lagi setelah semalam melakukannya beberapa kali? Dasar!


“Oppa, lepaskan! Bukannya kau ingin melihat pameran seni? Kemarin lusa kau yang bersi keras ingin melihat pameran seni. Katamu itu bisa menghilangkan stres bekerjamu.


Sekarang cepatlah bangun!”


Akhirnya Oppa terpengaruh dengan perkataanku dan otomatis melepaskan pelukannya yang sangat kencang. Aku pun segera bangkit dan turun dari ranjang. Sambil berjalan menuju meja rias untuk berdandan dan mengeringkan rambut, aku bergumam tak acuh, “Cepatlah bangun, atau aku tidak akan memberikan morning kiss untuk hari ini dan tiga hari ke depan.”


Dari pantulan cermin meja rias, kulihat Oppa yang mulai bangkit dengan begitu malas.


“Baiklah, baiklah. Kenapa kau selalu mengancamku dengan morning kiss setiap kali membangunkanku. Kalau kau menggunakan itu, aku bisa apa?” gumam Oppa malas dari arah kasur. Suaranya ketika mengeluh terdengar seperti anak sd yang mengeluhkan uang saku untuk pergi sekolah.


“Berpikirlah kalau itu lebih baik dari pada aku mengurangi jatah malam jumat mu,” timpalku tak acuh.


Tanpa banyak mengeluh lagi, perlahan Oppa turun dari kasur. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi dengan tubuh telanjangnya yang tak tertutupi satu helai kain pun.


Melihat itu, aku hanya menghela napas panjang selagi mengolesi krim pada wajahku.


“Tcih, lihatlah. Dia langsung pergi mandi begitu aku mengatakan akan mengurangi jatah malam jumatnya. Dasar suami mesum.”


Mengabaikan Oppa yang sedang membersihkan tubuhnya, aku melanjutkan kegiatanku. Selesai mengoleskan krim pada wajah, aku mulai mengeringkan rambut.


Melapas handung dari atas kepalaku. Lalu menyalakan pengering rambut dan menggunakan angin hangat dari alat pengering itu untuk mengeringkan rambutku.


Saat aku masih sibuk mengeringkan rambut, ponsel Oppa di atas meja rias berdenting. Aku pun membuka layar ponsel Oppa yang sudah pasti aku ketahui kuncinya. Melihat siapa yang mengiriminya pesan pagi ini.


Betapa terkejutnya aku ketika mendapati bahwa yang mengirim pesan itu adalah Han Lia. Apa? Han lia? Untuk apa ia mengirimi pesan suami orang di waktu pagi seperti ini? Apa wanita ini benar benar gila?


“Dasar gila! Apa dia benar benar berniat merusak rumah tangga orang lain dengan cara seperti ini?”


***