Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Serangan menohok



“Pertama kali aku merasa sangat nyaman bersama Jina adalah ketika Yebin memutuskan untuk bersamamu.” Hun meneguk alkoholnya. Lalu menoleh pada kakaknya. “Hyung... sejujurnya, kita sama sama menyadari kalau kita pernah mencintai wanita yang sama.”


Yul menganggukkan kepala. Ia tahu betul dan ia sadar mereka pernah menintai wanita yang sama; Kang Yebin.


“Tentu, aku tau.”


“Aku menyinggungnya kembali bukan karena aku masih memiliki perasaan pada Yebin atau bagaimana. Hyung, aku benar benar mendukung kalian berdua. Aku mengharapkan kebahagiaan kalian berdua. Aku sungguh sungguh.” Hun lanjut berkata. Ia hanya tak ingin ada salah paham.


“Aku tahu. Kau menyinggungnya lagi hanya karena ingin melepaskan beban pikiranmu. Kau tidak perlu khawatir, ceritakan saja,” kata Yul sambil menuangkan alkohol untuk Hun.


“Saat itu aku benar benar merasa kosong. Dan aku berpikir Jina bisa mengisi kekosongan yang kurasakan. Sesaat aku merasa bahagia bersamanya. Tapi, di sisi lain aku merasa sangat terbebani karena dari awal niatku mengencaninya itu salah. Aku berkencan dengan Jina karena satu kesalahan. Malam itu... aku tidak bisa mengendalikan diri dan akhirnya tidur bersama Jina. Lalu besoknya dia bertanya apakah yang kulakukan itu hanya kesalahan atau ada arti lain. Sejak itu kami berkencan. Aku berpikir, mungkin dengan berkencan dengannya aku bisa melupakan Yebin dan kekosongan ini lama lama bisa hilang. Berkat Jina aku bisa melupakan Yebin sepenuhnya. Aku juga merasakan kebahagiaan yang sejenak. Tapi, akhir akhir ini aku merasakan kekosongan itu lagi.”


Cerita panjang Hun itu dicerna baik baik oleh Yul menggunakan.


“Apa akhir akhir ini kalian ada masalah?” tanya Yul.


Kepala Hun menggeleng geleng. “Tidak ada. Tapi, aku merasa sikap Jina sedikit aneh sejak aku tahu tentang kakaknya.”


“Mungkin karena itu kau merasa kosong dan kesepian bahkan saat bersamanya. Karena kau menyadari perbedaan sikapnya. Apa kau sudah menanyakan apa yang terjadi pada kekasihmu?” ucap Yul. Dan ia mendapat respon berupa gelengan kepala.


“Aku pikir aku tidak berhak mengurusi masalah pribadinya. Buat apa aku bertanya?”


Yul menarik napas panjang panjang. Lantas menyerongkan tubuh untuk menghadap sang adik yang benar benar tidak mengerti tentang pacaran.


“Tentu saja kau berhak menanyakannya Hun-a. Kau kan kekasihnya. Sudah sewajarnya jika kau bertanya padanya apa yang sedang terjadi.” Yul berbicara dengan suara yang sedikit meninggi.


“Pacaran itu bukan hubungan apa apa Hyung. Tidak ada hak di mata hukum untuk aku mengurusi masalah pribadinya. Meskipun aku kekasihnya, itu tetap menjadi pelanggaran hal pribadi,” celoteh Hun yang membuat Yul tidak habis pikir.


“Jadi selama ini kau pacaran dengan cara seperti ini?” tanya Yul keheranan. “Buang jauh jauh otak teoritismu itu saat berpacaran! Kau tidak akan bisa menikah jika otamu itu terus memikirkan hukum. Hukum lagu hukum lagi... augh! Aku benar benar muak dengan hukum.”


Yul yang sungguh keheranan itu langsung meneguk alkohol karena begitu frustasi. Ia menatap putus asa Hun yang diam saja mendengar rutukannya.


Kemudian Hun ikut menghela napas. Saat itulah Yul menambahkan, “Pokoknya, tanyakan pada kekasihmu apa yang terjadi padanya. Apa yang sedang terjadi, apa dia baik baik saja, tanyakan dengan pasti.”


Hun hanya diam menyerap nasihat kakaknya. Lalu ia teringat suatu hal dan langsung bertanya, “Ah, benar. Bagaimana bisnis barumu, Hyung? Kudengar kau dan Yebin membangun bisnis bersama.”


“Besok aku baru akan menijau semuanya. Kalau prosesnya lancar, mungkin minggu depan Moonlight Retail akan menandatangani kontrak selamanya dengn Biniemoon-nya Yebin.” Yul menjelasan singkat.


“Kontrak selamanya? Kalian akan bekerja sama tanpa ada batasan waktu?”


“Hmm. Itu yang Yebin inginkan. Setelah mendengar nasihat Leo Park, sepertinya ide kontrak selamanya itu tidak buruk. Artinya aku dengan Yebin akan berbisnis bersama dalam waktu yang tidak terbatas. Mungkin bisa sampai anak cucu bahkan buyutku nanti,” kata Yul.


“Kalau begitu kenapa Moonlight Grup tidak membeli Biniemoon saja? Itu kan lebih efisien.”


“Tidak boleh. Kalau aku membeli Biniemoon, artinya kepemilikan Biniemoon akan jatuh ke taganku. Padahal yang membangun Biniemoon dengan susah payah adalah Yebin. Bagaimana aku tega melakukanny? Biniemoon biarkan tetap menjadi milik Yebin. Aku hanya menjadi pemilik separuh sahamnya.” Yul menjelaskan, Hun menganggukkan kepala.


“Hyung, beberapa hari lalu, aku bertemu Leo Park saat makan malam dengan Jina. Begitu aku sampai di depan apartemen Jina, ia mengatakan hal aneh,” kata Hun saat teringat ucapan aneh Jina, kekasihnya.


“Hal aneh apa?”


“Jina memberitahuku, supaya kau berhati hati pada Leo Park. Dia memintaku agar kau tetap waspada. Aku tidak mengerti apa maksud Jina. Saat aku mau menanyakan maksunya apa, dia sudah berlalu pergi.”


Kening Yul mengerut. “Begitukah? Baiklah. Aku akan hati hati.” Ingatan Yul terbesit satu peritiwa yang terjadi satu hari yang lalu. “Ngomong ngomong, Hun-a... apa kau tahu kalau ada orang mencurigakan yang mengikutimu di pusat perbelanjaan kemarin?”


Mengerti apa yang dimaksud Yul, Hun kembali bertanya, “Kau juga melihatnya, Hyung?”


“Apa maksudmu? Jadi kau sadar kalau diikuti orang mencurigakan tapi diam tidak berbuat apa apa?”


“Hyung, sebenarnya... itu....”


Kedua kakak beradik itu mnghabiskan waktu di dalam bar sampai pukul setengah satu malam. Saat ini Hun dalam keadaan benar benar mabuk. Yul memapah tubuh Hun yang berjalan sempoyongan keluar dari bar.


“Hyung, aku tidak mau pulang! Ayo minum lagi sampai subuh.”


Hun yang dipapah Yul dengan bersusah payah itu meracau karena mabuk. Ia memberontak dan enggan diajak berjalan menuju mobilnya. Sopir panggilan yang beberapa waktu lalu ditelepon Yul untuk mengantar Hun pulang dengan selamat, telah tiba dan sedang membukakan pintu mobil untuk Hun.


“Minum sampai subuh... pantatmu! Aku tidak mau dimarahi nyonya rumah besok. Kau tidak tau betapa tersiksanya aku saat nyonya rumah itu marah dan tidak mau aku ajak bercinta.” Yul yang kesulitan berjalan karena Hun yang terus meronta itu menggumam gumam kesal. Biasanya, Hun akan berhenti minum sebelum mabuk. Tapi malam ini ia tidak bisa dihetikan. Terus meneguk alkohol sampai jatuh terkapar dan Yul segera membawanya keluar.


“Pak sopir, tolong bantu saya.”


Sopir panggilan yang baru saja menerima kunci mobil Hun itu segera membantu Yul membaringkan Hun ke kursi penumpang. Begitu Hun yang benar benar mabuk itu terbaring di kursi penumpang, Yul mengeluarkan tubuhnya dari mobil. Lantas mengambil beberapa lembar uang dari dompet untuk diserahkan pada sopir.


“Tolong antar dia sampai apartemennya dengan selamat. Pastikan dia bisa masuk apartemnnya. Tolong. Ini untuk bayaran sekaligus tipnya.”


“Baik. Terima kasih.”


Setelah menerima lembaran uang tunai dari Yul, sopir itu pun melajukan mobil Hun menjauhi Bar. Kemudian Yul menelepon layanan sopir panggilan untuk mengantarnya pulang. Tak hanya Hun, Yul sendiri juga meminum alkohol. Karena peraturan tentang DUI sangat ketat di negeri ini, Yul tidak bisa mengemudikan mobil di bawah pengaruh alkohol dalam tubuhnya. Sehingga ia harus memanggil sopir untuk mengantarnya pulang.


“Halo, ini dengan layanan sopir? Bisa mengantar saya ke daerah Gwangjin sekarang juga? Ya, sekarang saya ada di depan Bar Vintage. Baiklah. Saya tunggu, terima kasih.”


Tepat ketika Yul mengakhiri teleponnya, satu suara menyahut dari belakang.


“Waduh, kelihatannya Hakim Hun tadi benar benar mabuk. Kalian habis minum ya?”


Yul yang tersentak dengan suara itu pun langsung menengok ke belakang. Melihat keberadaan Leo Park yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya.


“Ahh, Leo ssi. Kau juga ada di sini?” sahut Yul setelah mengendalikan rasa terkejutnya. Cukup mengejutkan melihat Leo Park secara kebetulan ada di tempat ini. Tapi, jika dipikir pikir kembali, arena ini memang tempat ramai di Gangnam. Sangat memungkinkan untuk Yul bertemu dengan seseorang kenalannya di area ini.


“Ngomong ngomong, apa Anda tidak dimarahi istri Anda jika minum minum di luar sampai selarut ini?” tanya Leo. Setelah kenal cukup baik dengan Yul, mereka memutuskan untuk menggunakan bahasa yang tidak terlalu formal ketika tidak sedang membicarakan bisnis.


“Bagaimana denganmu? Kau minum dengan siapa sampai selarut ini?” balas Yul bertanya.


“Ah.. dengan rekan kerjaku di kantor. Dan juga Jina.”


“Jina juga pergi minum denganmu sampai selarut ini?” Yul balas bertanya curiga.


“Tidak. Dia hanya ikut sebentar. Lalu pulang karena besok ada persidangan di pagi hari yang harus ia hadiri.”


Kepala Yul mengangguk angguk. Mengerti. Lalu pandangannya menyebar ke sekeliling. Malam sudah sangat larut dan gelap. Jalan Seoul menjadi sangat sepi. Tidak ada orang berlalu larang di trotoar jalan seperti sore tadi. Yang ada hanya pemandangan malam yang penuh dengan kegelapan dan juga gemerlap lampu klub malam yang berdiri di seberang jalan.


“Sepertinya kau sangat dekat dengan Jina. Kalian terlihat sering bersama.” Yul menggumam gumam.


“Jelas dong. Aku kan kakaknya. Tuan Moon Yul pasti juga tahu karena Anda juga memiliki seorang adik.”


Suasana hening sejenak setelah Leo berkata demikian. Yul mengecek jam tangannya. Berharap sopir panggilannya itu akan datang mengantarnya pulang karena malam yang sudah sangat larut.


“Istri Anda kelihatannya lebih tertarik pada bisnis dibanding Anda. Apa aku salah?” ucap Leo setelah beberapa detik hening.


Yul menengok. Bertatapan dengan Leo Park yang selalu berbicara tentang ‘istri Anda’ saat tidak ada pembahasan lain yang bisa mereka bicarakan.


“Ya. Aku belajar banyak dari istriku tentang berbisnis,” jawab Yul. Lalu ia menyerongkan tubuh untuk berhadapan dengan Leo Park. “Sepertinya Leo ssi sangat tertarik dengan istriku. Kau selalu menanyakan banyak hal tentang dia,” lanjut Yul bertanya penuh curiga. Otot otot wajahnya menegang lantaran ia serius menanyakan hal itu secara terang terangan di hadapan Leo Park.


“Ya. Saya tertarik dengan istri Anda.”


Kening Yul mengerut dalam. Raut tak senang yang Yul paparkan, ditambah ketegangan tatapannya itu cukup langka untuk dilihat pada sosok Yul yang selalu ramah tamah dan baik hati itu.


“Maksudmu... kau terang terangan berkata menyukai istriku?” Yul meyakinkan dengan nada suara yang merendah, terdengar mengintimidasi.


“Hahaha! Anda itu lucu sekali, Tuan Moon. Maksudku, aku tertarik pada istri Anda sebagai pebisnis. Sebagai orang yang sama sama bekerja di bidang bisnis, saya merasa terkesan dengan istri Anda. Itu membuat saya tertarik untuk menanamkan beberapa modal pada bisnisnya.” Sambil tertawa renyah, Leo mengutarakan itu semua. Tawa palsu yang ia keluarkan untuk bersenang senang itu terasa seperti lampu merah di telinga Yul.


Jujur. Yul tidak yakin apakah Leo Park itu orang yang bisa dipercaya atau tidak. Ia juga tak bisa memastikan apakah rasa ‘tertarik’nya pada Yebin itu benar seperti yang dijelaskannya tadi atau memiliki maksud lain.


Yang pasti, Yul terlanjur marah mendengarnya. Hatinya tidak begitu berkenan. Bahkan mendengar Leo tertawa untuk menjelaskan ‘kesalahpahaman’ itu, Yul sudah terlanjur merasa kesal.


“Oh, jadi maksudnya tertarik itu, Leo ssi tertarik ingin menanamkan saham di Biniemoon? Tapi, bagaimana ya? Yebin tidak mau jika pemilik saham Biniemoon itu adalah ‘orang lain’. Dia tidak mau menerima investasi dari orang lain, selain suaminya sendiri. Istriku... dia itu sangat perfeksionis. Dia bukan tipe orang yang mudah percaya dan tidak bisa memasrahkan sembarang pekerjaan pada orang asing. Jadi, saranku, lebih baik kau investasikan saja uangmu ke tempat lain. Itu lebih baik daripada berangan angan yang tidak pasti.”


Seperti pukulan yang sangat menohok, Yul menyerang Leo Park dengan kata katanya. Ia mematahkan mental Leo Park dengan memberikan beberapa penegasan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh apa pun milik istrinya. Dari perkataannya itu, seolah olah Yul sedang memberi peringatan bahwa Yebin itu adalah miliknya, yang tidak boleh disentuh oleh ‘orang lain’ apalagi Leo Park.


Mendengar penekanan Yul pada kata ‘orang lain’ itu, Leo Park pun sontak terdiam dengan raut mukanya yang tiba tiba memucat. Ia baru saja mendapat pukulan mental dari seseorang yang memiliki otoritas lebih tinggi darinya. Karena sekarang, Leo park adalah orang yang bekerja untuk Yul. Sedangkan Yul adalah bosnya, yang membernya gaji dalam jumlah besar untuk menyelesaikan suatu projek.


Leo Park tidak bisa menjawab apa apa. Sampai beberapa detik kemudian sopir yang dipanggil Yul itu tiba. Yul mengucapkan beberapa kata kepada Leo Park sebelum beranjak masuk ke dalam mobilnya.


“Sampai bertemu besok, Leo ssi. Aku harap kau tidak terlambat besok karena ada rapat yang sangat penting di Hotel Hegalsun bersama para calon investor Moonlight Retail.”


Kemudian Yul langsung masuk ke dalam mobilnya. Raut wajahnya masih belum berubah. Otot otot halus di wajahnya itu tampak tegang. Begitu pun tatapannya yang menajam. Ia pergi meninggalkan Leo Park yang berdiri mematung di pinggir jalan.


Sembari mengamati kepergian Yul, raut wajah Leo benar benar berubah. Ia terlihat seperti hewan buas yang menunggu saat yang tepat untuk menerkam mangsanya di hutan.


“Tunggu saja tanggal mainnya, Moon Yul. Aku akan merebut istri tercintamu dan juga Moonlight Grup. Aku akan membuatmu menebus perasaanku yang telah kau hina ini.”


Di dalam mobil menuju rumah, Yul terus terdiam. Firasatnya mengatakan hal yang tidak baik. Perasaannya kini sangat tidak nyaman. Ia benar benar merasa terganggu pada pengakuan Leo Park tentang rasa kertertarikannya pada Yebin. Entah benar benar tertarik, atau hanya tertarik pada bisnis Yebin saja, Yul benar benar merasa terganggu padanya.


Tanpa terasa lamunan panjang Yul itu harus berakhir ketika sopir menghentikan mobil masuk ke dalam pagar. Yul pun turun dari mobil dan memberi upah sekaligus tip tambahan pada sopir yang telah mengantarnya pulang sampai rumah dengan selamat. Setelah itu, ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan sedikit sempoyongan. Ia memang tak meminum alkohol sebanyak Hun. Tapi, Yul sangat mudah sekali mabuk. Kepalanya kini terasa pusing saat kakinya melangkah menaiki tangga.


Rumah sudah dalam keadaan yang gelap. Yul berjalan pelan masuk ke dalam kamar. Seketika kegelapan memenuhi pandangan. Satu per satu helai pakaian terlepas dari tubuh Yul. Hanya tersisa kaus singlet dan celana dalam yang melekat pada tubuh Yul.


Dengan sangat hati hati Yul naik ke atas ranjang. Ia tak ingin membangunkan istri tercintanya yang sedang tertidur pulas.


Tetapi pergerakan Yul itu dapat dirasakan oleh Yebin. Kedua matanya mengerjap ngerjap. Yebin perlahan memutar tubuh untuk berhadapan dengan Yul.


“Sayang, kau baru pulang?” desah Yebin lirih.


“Hmm. Aku harus memastikan dulu Hun pulang dengan selamat, baru bisa kembali,” jawab Yul lirih.


Yebin yang mencium aroma alkohol dari tubuh Yul itu mulai mengendus ngenduskan hidungnya.


“Kau minum alkohol juga?” tanya Yebin.


“Sedikit. Sedikit sekali aku minumnya.”


Mendengar itu, Yebin kembali membalik tubuhnya. Tidur dengan memunggungi Yul yang memiliki bau alkohol.


Perasaan Yul yang tidak karuan gara gara Leo Park itu kembali teraduk aduk ketika melihat Yebin. Tiba tiba rasa takut itu menghampiri Yul. Rasa takut kehilangan sesosok wanita yang paling ia cintai di dunia ini. Yul yang tiba tiba menjadi sensitif ini—mungkin karena alkohol dan mungkin juga tidak—merasa sangat takut jika suatu saat harus kehilangan Kang Yebin.


Perlahan Yul mendekatkan tubuhnya pada Yebin. Menempelkan tubuh bagian depannya itu pada punggung Kang Yebin. Memeluk tubuh sang istri dengan erat dari belakang. Lantas mencium pelipis Yebin dan mengucapkan sepatah kata padanya.


“Aku sangat mencintaimu, Sayang. Tidurlah dengan nyenyak.”


Setelah membisikkan sepatah kata itu, Yul hendak memejamkan mata dan tertidur dengan posisi seperti itu. Namun, Yebin yang mendengar ungkapan kasih sayang itu kembali membuka kedua matanya yang sayup. Ia merasa aneh dengan sikap Yul. Yebin yang merasa curiga itu kembali menolehkan badannya untuk berhadapan dengan sang suami yang sikapnya mendadak aneh setelah pergi minum bersama Hun.


“Oppa, apa yang terjadi?” tanya Yebin meyakinkan. Sambil menahan kantuk ia menanyakan hal itu.


“Tidak apa apa. Aku hanya ingin mengatakan itu padamu. Rasanya sudah sangat lama aku tidak mengucapkan kata itu lagi,” jawab Yul. Ia kembali memeluk tubuh Yebin yang berhadapan dengannya. Memeluk tubuh sang istri dengan hangat lalu mengecup keningnya. “Mulai sekarang aku tidak akan lupa mengatakannya setiap malam. Ingatlah. Setiap malam aku akan mengucapkan itu padamu. Aku sayang padamu, Istriku. Sekarang lanjutkan tidurmu dengan nyenyak.”


Tanpa banyak bertanya lagi, Yebin kembali memejamkan matanya. Tubuhnya terasa sangat hangat dalam dekapan Yul. Sedangkan hati dan batinnya terasa sangan tenteram mendengar kata itu. Yebin yang mulai memejamkan matanya kembali itu pun membalas lirih, “Aku juga sayang padamu, Suamiku. Selamat tidur.”


***