Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Pernyataan cinta yang tertunda



“Sudah kukatakan, jangan dinyalakan sekarang. Lihatlah, kompornya jadi meledak. Kita memasak menggunakan apa, Kak Jangmi?” Yebin yang baru saja menyaksikan kompor portabelnya meledak karena petasan yang hendak dinyalakan Jangmi, mengomel. Api dari kompor portabel yang meledak itu masih menyala-nyala di hadapan Yebin dan membakar hangus daging sapi mereka.


Lima irisan daging sapi yang telah diletakkan di atas pemanggang kompor itu hangus dalam sekejap. Dua butir petasan didapatkan Jangmi pun hangus setelah menciptakan suara ledakan yang keras. Kedua wanita yang sedang ada di halaman rumah itu membengong dalam waktu lama menyaksikan kompor portabel yang masih menyalakan api. Saat itu juga dua orang pria menerobos gerbang rumah Yebin yang terbuka dan langsung menghampiri wanita itu.


“Yebin~a kau baik-baik saja?”


“Kau tidak terluka, Nona Kang?”


“Tidak ada luka bakar di tubuhmu kan?”


“Apa tanganmu baik-baik saja?”


Yul dan Hun bergantian menanyai keadaan Yebin sambil memutar-mutar tubuhnya. Memastikan tidak ada luka di tubuh Yebin. Yebin yang bingung mendapati tingkah laku kedua pria depan rumahnya ini, mengernyit dalam. Bahunya diputar-putar sampai ia merasa pusing.


“Ah, hentikan?!”


Yebin memekik dan melepaskan tangan kedua pria yang sedang khawatir ini. Sungguh. Ia tidak tahu kenapa kedua pria ini sangat berlebihan. Padahal yang tidak baik-baik saja adalah daging sapi di atas kompor yang sudah hangus. Tubuh Yebin sama sekali tidak terluka. Justru tangan Jangmi yang sedikit terluka karena ledakan petasan sesaat lalu.


“Kenapa kalian berlebihan sekali? Yang terluka bukan aku, tapi Kak Jangmi.” Yebin lanjut berucap sambil menunjuk ke arah Jangmi.


Hun seketika itu memutar tubuhnya melihat Jangmi yang sedang memegangi jari telunjuknya yang terdapat luka bakar. Begitu pun Yul yang langsung menoleh pada wanita berambut pendek yang sedang berdiri di sebelah Yebin.


“Kau baik-baik saja?” tanya Yul kepada wanita yang tiga tahun lebih muda darinya itu.


Jangmi pun segera menjawab, “Baik-baik saja kok. Lagi pula lukanya tidak banyak.” Ia menatap Yul dan Hun bergantian. Memikirkan kenapa kedua laki-laki itu terlihat sangat mengkhawatirkan Yebin yang sama sekali tidak terluka.


“Tunggu sebentar, aku akan ambilkan obat luka.”


Yebin segera berlalu pergi mengambilkan kotak kesehatan untuk Jangmi. Sementara itu, kedua laki-laki yang berdiri di halaman ini terlihat canggung. Bukan canggung kepada Jangmi yang sudah sepuluh hari-an tinggal di rumah ini. Melainkan, canggung karena telah bersikap berlebihan kepada Yebin karena mengkhawatirkannya.


“Ehmn.” Hun berdeham-deham sambil menyebarkan pandangan ke sekeliling.


“Di mana Ibu Miyoon?” tanya Yul kepada Jangmi yang sedang memicingkan kedua mata.


“Bibi masih berkumpul bersama ibu-ibu lain untuk arisan.”


Kedua mata Jangmi masih memicing mendapati tingkah canggung kedua pria di hadapannya ini. Ia merasa ada yang aneh. Setelah tinggal di rumah ini selama lebih dari seminggu, Jangmi merasa kedua sikap laki-laki depan rumah ini aneh terhadap Yebin. Ya. Kedua-duanya.


“Moon Sajang dan Hun, sepertinya kalian berdua sangat memedulikan Yebin,” ucap Jangmi blak-blakan. Wanita tiga puluh tahun yang ceplas-ceplos itu menatap Hun dan Yul curiga.


“Te—tentu saja kami peduli. Sudah berapa lama sejak aku mengenal Yebin.” Yul menjawab pasti sementara Hun hanya terdiam.


Tepat setelah itu Yebin tiba sambil membawa kotak kesehatan. Ia berjalan menghampiri Jangmi yang mulai duduk di atas bangku lebar di halaman.


“Itulah kenapa orang dewasa pun tidak boleh main petasan, Kak Jangmi. Kenapa kau membawa petasan itu segala dari tempat les?” rutuk Yebin yang mendudukkan tubuh di samping Jangmi. Ia merutuki kakak sepupunya yang pulang membawa petasan itu.


“Murid lesku tadi ada yang ketahuan membawa petasan di tempat les. Itu kan berbahaya untuk anak-anak. Jadi aku menyitanya dan mengganti petasannya dengan permen.”


“Kalau mau menyita ya sita saja. Kau tidak perlu menyalakan petasannya di rumah,” lanjut Yebin mengomel.


“Baiklah-baiklah! Aku yang salah.” Jangmi yang tidak bisa menang dari Yebin pun segera mengakui kesalahannya. Ia lanjut menggerutu, “Astaga, kebiasaan menomelmu itu tidak pernah berakhir. Aku benar-benar kasian pada calon suamimu nanti. Pasti telinganya berdarah-darah karena selalu kau omeli.” Jangmi mencerocos sementara pandangannya tertuju pada kedua lelaki yang bersaudara ini.


“Sudahlah!” sela Yebin. Ia beranjak dari duduk san melihat kompor portabelnya yang rusah dan tidak dapat dipakai lagi. “Kita pakai kompor portabel yang lain saja untuk memanggang daging. Aku akan beli gas dulu.”


“Aku akan pergi denganmu,” sahut Hun yang hendak menemani Yebin membeli gas mini di toko dekat perempatan.


“Ya, baiklah.”


Yebin bergegas mengambil dompet di dalam rumah. Lalu berjalan keluar ditemani Hun untuk membeli gas.


Melihat kedua manusia itu pergi, Yul segera menceletuk, “Ah, benar! Aku ingat harus membeli sesuatu.”


Begitu menceletuk Yul segera berjalan menyusul Hun dan Yebin. Jangmi yang melihat kepergian Yul, mendengus. “Wah, Yebin sangat beruntung. Satunya bos kafe satunya hakim, apa yang anak itu lakukan sampai membuat dua laki-laki klepek-klepek?”


Yul berjalan cepat di tengah jalanan kompleks yang sepi. Ia menyela Hun dan Yebin yang berjalan terlalu berdempetan. Pria tiga puluh tiga tahun itu berjalan di antara Yebin dan Hun yang awalnya berduaan.


“Hyeong,” celetuk Hun melihat kakaknya menyusul.


“Kenapa Ajeossi ikut segala?” cetus Yebin yang melihat Yul tiba-tiba berjalan di kirinya.


“Aku ingat mau membeli sesuatu. Jangan salah paham.”


Yebin menghela napas rigan. Mereka pun melanjutkan perjalannya menuju toko perlengkapan dapur yang letaknya tidak begitu jauh. Yebin membeli gas kaleng untuk digunakannya memanggang dagung sapi bersama Jangmi di rumah. Sedangkan Yul yang sebenarnya tidak tahu harus membeli apa, mengambil satu kotak korek api dan langsung membelinya.


Di tenagh perjalanan pulang mereka, terlihat Miyoon yang sedang berjalan bersama ibu-ibu lain seselesainya arisan. Lima wanita paruh baya yang sedang berjalan bersama itu tampak sedang asyik mengobrol.


“Yebin, kau dari mana?” tanya Ibu Kim yang berjalan di sebelah Miyoon. Wanita paruh baya itu juga mendapati keberadaan tetangga lainnya; Hun dan Yul. “Oh, Moon Sajang dan Hakim Hun rupanya juga ada di sini. Kalian bertiga pergi bersama?” lanjutnya bertanya.


Yul membungkuk sekenanya menyapa ibu-ibu yang sedang bersama Miyoon itu. “Kami baru dari toko dekat perempatan sana,” kata Yul ramah. Di sampingnya, Hun hanya mengangguk pelan kepada ibu-ibu itu.


“Aduh, pasti Miyoon mendapat jackpot karena setiap hari bisa melihat dua laki-laki tampan ini yang tinggal di depan rumahnya. Andai saja rumahku yang paling dekat dengan mereka, aku pasti sudah menjadikan salah satunya menantuku.” Seorang ibu lainnnya menceletuk melihat kedua pria tampan yang selalu mengelilingi Yebin dan Miyoon itu.


“Benar. Miyoon benar-benar beruntung.”


Miyoon tersenyum semringah mendengar perkataan ibu-ibu kompleks yang baru arisan dengannya.


“Pasti mendiang suamiku yang mengutus kedua laki-laki ini untuk menjaga putriku. Mereka memperlakukan putriku dengan sangat baik. Meski putriku ini sangat keras kepala dan ceroboh, aku merasa tidak khawatir meninggalkannya berdama Moon Sajang maupun Nak Hun,” kata Miyoon semringah. Laki-laki bersaudara itu sama-sama tersenyum memperlihatkan lesung pipitnya.


“Miyoon, apa kau berniat menjadikan salah satunya menantumu? Jika iya, Moon Sajang-lah yang terbaik.” Ibu Kim kembali menceletuk dengan nada bicaranya yang penuh hasutan. Ia terlihat lebih menyukai Yul yang ramah.


“Eih, tentu saja Hakim Hun yang terbaik. Dia kan seorang hakim,” balas ibu lainnya.


“Tidak. Moon Sajang yang paling baik. Dia kan pemilik kafe yang sukses.”


Sementara ibu-ibu itu memperdabatkan mana yang paling cocok dijadikan menantu, Yul melirik Hun dengan dagunya yang menaik. Hun yang mendapati sikap arogan kakaknya, menernyitkan kening dan ikut menaikkan dagu.


Di sisi lain, Yebin mengembuskan napas panjang-panjang mendapati ibu-ibu yang memperdebatkan hal aneh ini. Ia tak bisa menghentikan ibu-ibu kompleks yang selalu benar ini. Namun tak ingin mendengar perdebatan konyol ini lebih jauh. Apalagi Miyoon juga ikut beradu argumen bersama ibu-ibu lainnya.


“Tapi kan Moon Sajang sudah punya calon istri. Aku sering melihat calon istrinya datang menaiki taksi,” kata Ibu Jang.


Yul menaikkan alis. Calon istri?


“Ah, benar. Wanita yang itu kan? Yang tubuhnya kurus dan rambutnya coklat terang itu? Kemarin aku juga melihatnya mengunjungi rumah Moon Sajang. Jadi dia calon istrinya? Pantas saja. Katanya suamiku juga pernah melihat mereka berdua di Gangnam. Calon istri Moon Sajang itu seorang pengacara kan?” Ibu Kim membalas. Ia mengingat-ingat Haeri yang kemarin pagi datang ke rumah Yul saat Yul sedang ada di Busan.


Yul seketika itu terdiam mendengar ibu-ibu ini yang salah paham tentang Haeri. Raut wajahnya seketika itu berubah sendu.


“Kalau begitu, Moon Sajang berarti sudah tidak lolos. Pilih Hakim Hun saja untuk kau jadikan menantu, Miyoon~a. Hakim Yoon juga baik kok.” Ibu Jang berargumen sambil menoleh kepada Hun yang tersenyum ramah.


“Hentikan, ibu.” Yebin yang tak betah mendengar perdebatan konyol ini, mencetus. Ia menghentikan ibunya yang larut dalam percakapan dengan ibu-ibu kompleks lainnya. “Kak Jangmi sudah menunggu di rumah. Ayo segera pulang, ibu.”


Tak menunggu lama lagi Yebin menarik tangan ibunya untuk berpisah dari gerombolan ibu-ibu yang masih tersenyum-senyum aneh kepada Hun. Miyoon pun berjalan setelah melambaikan tangan.


“Ayo, Hyeong,” ajak Hun yang melihat kakaknya sedang melamun.


“Hm.”


Yul pun berjalan pergi setelah menyapa ibu-ibu. Menyusul Yebin dan ibunya yang berjalan pulang. Raut wajah Yul yang tak seceria tadi membuat Hun khawatir.


“Sampai kapan kau akan membuat orang lain salah paham tentang hubunganmu dengan Kak Haeri, Hyeong?” Hun membuka pembicaraan di sela kegiatan berjalan mereka.


“Kau tahu, hubunganku dengan Haeri tidak seperti itu.”


“Aku tahu. Tapi, hanya aku yang tahu.”


Kepala Yul menoleh menatap Hun yang berkata demikian. Langkah kaki Hun yang berhenti membuat Yul menghentikan langkah. Kedua laki-laki itu berdiri berhadap-hadapan.


“Aku mengatakan ibu sebagai adikmu, Hyeong. Berhentilah ikut campur masalah Kak Haeri. Hidup Kak Haeri biar dirinya sendiri yang mengurusinya. Kau terlalu mengurusi Kak Haeri sampai-sampai melupakan siapa wanita yang benar-benar menginginkanmu.”


Selama beberapa saat Yul terdiam mendengar ucapan adiknya.


“Dia adalah Haeri, Hun~a. Satu-satunya teman yang ada untukku setelah orang tua kita meninggal. Bagaimana aku bisa mengabaikannya?”


Setelah orang tua mereka meninggal, Yul harus bertahan seorang diri di sini sementara Hun ada di Amerika untuk menuntaskan gelar magister di bidang hukum. Hun berada di Amerika dan tak bisa menemani Yul yang harus bertahan dengan mengorbankan mimpinya untuk menglola kafe. Saat pertama kalinya Moonlight Coffe jatuh di tangan Yul, hanya Haeri yang ada untuk Yul. Haeri yang membantu Yul mengelola kafe selama dua tahun pertama. Saat kuliah Haeri membantu ayahnya mengelola bisnis dan tahu sedikit tentang bisnis. Ia membantu Yul yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan bisnis karena mimpinya adalah menjadi seniman. Membantunya selama dua tahun. Setelah Yul sudah merasa terbiasa dengan kehidupan barunya sebagai bos—alih-alih seniman, barulah Haeri kembali ke pekerjaannya sebagai pengacara.


Tidak ada di sisi Yul pada saat ini adalah kesalahan Hun. Hun tahu dirinya itu egois karena tak ada untuk kakaknya yang berjuang untuk keluarga. Kini Hun merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa tidak memiliki hak untuk melarang kakaknya itu terlihat lebih jauh dengan Haeri.


“Aku tidak berbuat apa-apa kalau begitu. Harusnya aku tidak ada di Amerika saat itu,” kata Hun yang menyerah.


“Bukan begitu maksudku....”


“Ajeossi, Hun Oppa, cepatlah!”


Teriakan Yebin menghentikan ucapan Yul. Seketika itu Hun melanjutkan langkahnya untuk menyusul Yebin dan Miyoon yang sudah jauh. Sementara Yul yang tidak bermaksud menyinggung perasaan Hun, menghela napas panjang ke dalam perut. Ia pun melanjutkan langkah dan saat itu juga ponselnya berdering. Ada satu panggilan masuk dari Haeri.


Yul terlihat ragu melihat nama Haeri terpampang di layar ponselnya. Ia mempertimbangkan peringatan Hun sebelum benar-benar menjawab telepon Haeri.


***