
Diam-Diam menghanyutkan
Yul Pov
“Kalian sudah tidur bersama?”
“Uhhuk! Uhhuk!”
Hun terbatuk batuk mendengar pertanyaanku yagn sedikit intim. Ia tersedak makanan yang dikunyahnya. Batuknya pun mereda ketika nona hakim itu memberinya air minum.
“Hyung!” Hun seketika meninggikan suara begitu batuknya mereda. Ia memprotes pertanyaanku yang terkesan intim. “Itu masalah privasi. Tidak seharusnya kau menanyakannya selugas itu!”
Melihat Hun yang merutuk rutuk itu, aku hanya menganggukkan kepala. Aku pun dapat menyimpulkan.
“Ah, kalian belum tidur bersama rupanya.”
“Ahh, Hyung!”
Kali aku aku melihat Hun yang benar benar kesal. Raut wajahnya memperlihatkan bahwa ia sungguh tidka menyukai pertanyaan intimku. Baiklah. aku tidka akan menanyai mereka lebih lanjut.
“Baiklah, baiklah. Aku tidak akan menanyakan hal itu lagi.” Aku mengimbuhkan. Seketika itu membuat Hun mengembuskan napas lega.
“Kau tahu, Hyung? Aku tidak mengatakan tentang perkencananku padamu karena tahu kalau kau akau menginterogasiku dan menanyaiku hal semacam ini. Aku benar benar siri mendengarnya. Biarkan aku mengurus perkencananku sendiri. dan jangan membahas privasiku. Aku juga memiliki privasi sepertimu,” kata Hun panjang lebar. Ia terdengar seperti sedang menceramahiku.
“Baiklah, baiklah. Aku akan berhenti bertanya.”
Tepat setelah itu dua orang pelayan restoran datang ke meja kami. Mengantarkan pesanan makanan ku dan juga Yebin.
Seperti yang kuperintahkan tadi, Yebin memesan banyak sekali makanan. Sepertinya selera makannya sedang naik. Aku yang melihat pelayan itu meletakkan sekitar sembilan jenis makanan pilihan Yebin, terkekeh kekeh. Melihat selera makan Yebin sangat baik seperti itu aku merasa senang.
“Terima kasih,” kata Yebin begitu pelayan itu selesai menatakan semua pesanan makanannya.
Kulihat bola mata Yebin yang berbinar binar melihat semua makanan itu. Dari tatapannya sekarang, Yebin terlihat ingin melahap semua jenis makanan yang ada di atas meja. Aku yang menyadarinya, terkekeh kekeh pelan.
“Makan yang pelan ya sayangku. Habiskan semuanya dan jangan lupa mengunyahnya dengan baik,” ucapku sembari mengelus pelan rambut Yebin.
Yebin mendengarkan perkataanku dengan baik lalu menganggukkan kepala.
“Apa apaan ini? kenapa Yebin makan banyak sekali? Apa memang dari dulu porsi makannya segitu?”
Melihat semua makanan milik Yebin yang berjumlah sembilan porsi itu, Hun terngaga. Ia tidak pernah melihat Yebin makan sebanyak ini. Ia juga terkejut melihat Yebin yang seolah olah ingin melahap semuanya tanpa menisakan sedikitpun. Dari tatapan laparnya yang terlihat.
“Jelas Yebin harus makan banyak. Karena dia tidak hanya makan untuk dirinya, tetapi juga bayiku yang dikandungnya,” jelasku singkat.
Hun tampak terkejut mendengar penjelaskan singkatku. Kedua matanya terbelalak. Keningnya mengerut sembari mengalihkan pandangan pada Yebin yang sedang makan dengan lahap di sebelahku.
“Ma... maksudmu, Yebin hamil?” Hun meyakinkan pendengarannya.
Aku mengangguk yakin. Senyum yang kini kupaparkan ini terasa begitu tulus dan hangat. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasa sangat bahagia saat ini. Hun yang melihat senyumku ini mungkin juga merasakan betapa aku bahagia karena kehamilan Yebin.
Hun ikut menyimpulkan senyum. Aku yakin, ia pun ikut merasa senang mendengar kabar baik ini.
“Selamat Yebin~a. Selamat, Hyung. Aku sungguh senang mendengarnya. Pasti kalian bahagia sekali karena akan menjadi ayah dan ibu,” ungkap Hun. Aku bisa merasakan ketulusan Hun dari tatapannya yang lembut padaku.
“Terima kasih.”
Setelah itu aku mulai melakukan makan siang. Sedangkan Yebin masih terlihat menikmati menu makan siangnya yang sangat beragam. Aku membiarkannya menghabiskan semua makanan itu dan memutuskan untuk tidak mengganggunya. Membiarkan Yebin menikmati makan siangnya sementara aku masih bercakap cakap dengan Hun dan nona hakim itu selagi menikmati makan siang bersama.
Aku berkata di sela kegiatan makan siang kami.
“Baiklah. Besok aku akan ke sana bersama Jinhee. Sudah lama juga aku tidak melihat ibu Miyoon. Apa beliau sehat?” Hun balas bertanya.
“Ibu sehat kok. Hanya saja akhir akhir ini ia sering mengeluhkan lulutnya. Sepertinya persendiannya bermasalah. Aku belum sempat memeriksakan ibu ke dokter karena kesibukanku mengurusi kafe.” Aku menjawab, bersama rasa sesalku karena belum sempt membawa ibu ke rumah sakit.
Setelah ini aku akan membawa ibu memeriksakan diri ke dokter. Sekaligus memeriksakan kehamilan Yebin. Oh ya, aku belum memberi tahu Ibu tentang kabar kehamilan Yebin. Pasti ia akan senang sekali mendengarnya.
“Kalau begitu, besok aku akan bawakan vitamin untuk sendi,” gumam Hun pelan.
“Ibu Miyoon itu siapa? Bukannya ibu Hun~ssi sudah meninggal?” Jinhee angkat suara untuk bertanya kepada Hun tentang siapa wanita yang kami panggil ibu Miyoon.
Hun pun menjelaskan. “Ibu Miyoon adalah ibunya Yebin. Tapi beliau sangat baik padaku dan pada kakakku jauh sebelum kakakku menjadi menantunya. Bisa dibilang, beliau sudah menganggap aku dan kakakku seperti anaknya sendiri. Kami selalu sarapan di rumahnya, dan beliau juga sangat perhatian layaknya seorang ibu. Karena itu aku dan kakakku memanggilnya ibu.”
Nona hakim itu mengangguk angguk. Jika kuingat ingat kembali, sepertinya ia belum sempat bertemu ibu. Kalau pun sempat melihat, mungkin hanya sekilas ketika hari pernikahanku. Saat itu kan Hun mengajak Jinhee.
“Hun~a, setelah ini kau mau ke mana?” tanyaku membuka kembali pembicaraan setelah hening sejenak.
“Aku ingin pulang ke apartemen. kenapa?”
“Sejak kepindahanmu, aku belum sempat mengunjungi apartemenmu. Jadi setelah ini aku akan mampir sebentar ke apartemenmu. Untuk melihat lihat seperti apa tempat tinggal barumu,” kataku setelah menelan makanan yang selesai kukunyah.
Soktak Hun menaikkan pandangan. Kedua matanya terbelalak lebar mendengar aku yang berkata akan mampir ke apartemennya sekarang. Dan, anehnya, Jinhee yang duduk di sebelah Hun itu juga ikut menatapku dengan bola mata yang terbelalak lebar lebar.
“Tidak boleh!” Ucap Hun dengan Jinhee bersamaan. Keduanya berteriak bersama melarangku untuk berkunjung ke apartemen Hun.
Aku yang tersentak mendengar larangan Hun yang terasa mencirigakan, mengerutkan kening dalam dalam. Mereka bedua melarangku dengan ke apartemen Hun. Maka hanya ada dua alasan. Pertama, mereka habis tidur bersama di apartemen Hun dan belum sempat membereskan ‘kekacauannya’. Dan yang kedua, mereka tinggal bersama tanpa sepengetahuanku.
Keningku mengerut semakin dalam mencerna dua kemungkinan itu. Sementara aku masih melihat Hun dan Jinhee membelalakkan mata dengan raut wajah was was. Seolah mereka sedang menyembunyikan sesuatu.
“Apa apaan ini? Kenapa kalian melarangku datang?” tanyaku penuh curiga. “Kalian benar tinggal bersama sejak berkencan? Atau, kalian sudah tidur bersama?! Hanya ada dua itu kemungkinannya. Jadi mana yang benar? Hun~a, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?”
Nada suaraku meninggi. Kulihat raut wajah Hun yang mencemas mendengar pertanyaanku.
Kesabaranku sepertinya mulai menipis. Wah, Hun benar benar di luar dugaanku. Kukira dia adalah anak baik baik yang hanya tau soal belajar. Tapi, dia tau juga caranya hidup bebas seperti di Amerika. Bodohnya aku karena menganggapnya masih sepolos anak SMA.
“Kalau kalian memang sudah tidur bersama ... baiklah, itu tidak masalah untukku. Toh, kalian sudah sama sama dewasa. Tapi, jika kalian tinggal di satu atap, tidak akan kubiarkan. Jadi jawab, kenapa kau melarangku datang?” pertanyaanku kini semakin tegas. keamati wajah Hun yang tegang sedangkan wajah Jinhee yang terlihat takut.
“Cepat jawab! Kenapa kalian tidak menjawab?” sentakku.
“Kami sedang tinggal bersama!”
Suara itu datang dari Jinhee yang langsung mengaku sambil memejamkan mata karena takut. Seketika itu juga tensi darahku menaik. Sungguh. Amarahku mulai mendidih mendengar hal itu. Sekarang aku tahu. Perasaan seperti inilah yang dirasakan para orang tua jika mendengar anaknya yang sudah dewasa memilih untuk hidup bebas seperti di negeri barat. Padahal, ini adalah Korea, bukan Amerika.
Aku yang naik darah ini seketika berdiri dari duduk. Menunjuk ke arah Hun sambil berteriak.
“Moon Hun! Kau sungguh seperti ini? Apa ini yang kau pelajari selama hidup di Amerika?!”
Hun ikut berdiri dari duduk sambil mencoba menenangkanku.
“Hyung, dengar dulu. Tidak seperti yang kau duga. Aku bisa menjelaskannya. Tolong, jangan berpikir yang tidak tidak. Semua tidak seperti yang kau pikirkan.”
***