Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kehamilan Pertama



Kehamilan pertama


Yebin Pov


Banyak orang berdatangan kembali ke Moonlight Coffe. Moonlight Coffe yang semula kering keruntang seperti padang pasir di negeri Arab, menjadi ramai pengunjung dan tak pernah menyisakan banyak kursi lagi. Kepercayaan orang orang telah kembali. Meski kasus yang menimpa manajer Kwon Suk itu memang bukan kasus sepele dan terkesan sangat memalukan hingga membawa dampak begitu buruk untuk Moonlight Coffe secara keseluruhan. Yul Oppa, dengan kerja kerasnya bersama tim Moonlight Coffe lainnya, berhasil menyelamatkan Moonlight Coffe dari krisis itu. Berhasil mengembalikan kepercayaan dan image positif Moonlight Coffe.


Tentu aku tahu semua itu. Karena aku memiliki satu pasang mata untuk melihat, satu pasang kaku untuk berjalan melihat kondisi Moonlight Coffe, juga satu pasang telinga untuk mendengar. Mendengar cerita Yul Oppa, tentunya.


Yul Oppa sangat terbuka padaku. Ia sering bercerita tentang dirinya dan Moonlight Coffe yang dikelolanya. Setiap kali terjadi suatu hal di kafe, Oppa selalu menceritakannya padaku. Ia juga bercerita tentang beberapa investor yang kembali menanamkan sahamnya di Moonlight Coffe. Dari investor investor itulah defisit dana yang sedang dialami Moonlight Coffe karena kegencaran promosi yang dilakukan dapat tertutupi. Untuk melakukan promosi seluas itu memang dibutuhkan biaya yang sangat mahal. Belum lagi menyewa penyanyi yang sedang naik daun seperti Han Lia. Jika ditotal, jumlah uang yang dikeluarkan Moonlight Coffe untuk menaikkan kembali popularitas kafesangatlah fantastis. Aku sendiri bahkan tak pernah membayangkan jumlah uangnya.


Setelah krisis Moonlight Coffe tertangani, akhirnya Yul Oppa memiliki banyak kesempatan untuk beristirahat. Yul Oppa sempat tumpang hingga harus menjalani opname di rumah sakit selama lima hari. Karena faktor kelelahan dan stres. Untuk menangani krisis yang dialami Moonlight Coffe, Yul Oppa memang telah mengorbankan banyak hal. Mengorbankan waktunya. Mengorbankan tubuh dan pikirannya. Mengorbankan aset pribadinya untuk menambeli kurangnya biaya. Bahkan, mengorbankan kesehatannya.


Setelah semua itu terlewati, akhirnya Yul Oppa bisa beristirahat total. Aku menyuruhnya untuk tidak bekerja selama satu minggu dan beristirahat total di rumah jika tidak mau diopname kembali ke rumah sakit. Selaam satu minggu Oppa tidak bekerja, aku yang menggantikannya bekerja sebagai pemilik Moonlight Coffe. Aku hanya menggantikan tugasnya sementara waktu saja selama Oppa beristirahat secara total.


Kemarin adalah hari terakhirku menggantikan tugas Yul Oppa sebagai bos kafe. Dan karena ini adalah akhir pekan, aku sedang di rumah setelah beberapa waktu lalu mencuci peralatan makan setelah melakukan sarapan bersama.


Aku sedang berada di kamar mandi. Duduk di atas kloset yang tertutup sambil memandangi dua garis merah pada alat tes kehamilan yang aku pegang.


Jantungku berdetak dengan begitu kencang. Ternyata firasatku benar. Sejak kemarin perutku terus terasa mual. Aku mengiranya adalah masuk angin. Tetapi setelah aku mengecek, ternyata benar bahwa aku sedang hamil. Sudah kuduga. Malam itu ... aku sudah mendapat firasat ketika melakukan hubungan intim dengan Yul Oppa.


Dengan perasaan berdebar debar ini aku berjalan meninggalkan kamar mandi. Mencari keberadaan Yul Oppa yang ternyata sedang membaca majalah di ruang televisi.


“Oppa,” panggilku.


“Hmm.” Oppa menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari buku majalah yang sedang asik dibacanya. Aku tidka tahu apa yang ada di majalah itu sampai ia tak begitu memedulikan kedatanganku.


Mendapati Oppa yang terus sibuk membaca, aku pun berjalan masuk. Terduduk di sebelahnya. Bahkan setelah aku duduk di sebelahnya, Oppa masih memfokuskan pandangannya pada buku majalah. Ia seolah sedang tidak ingin diganggung siapa pun dari kegiatan membacanya yang mengasikkan.


“Oppa,” panggilku sekali lagi. aku mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dari majalah. Tapi yang kulakukan tetap tidak berhasil.


“Ada apa? Katakan saja. aku mendengarnya kok.”


Dengan begitu ringannya oppa berkata begitu. Membuatku sedikit merasa kesal.


Merasa kesal karena terus diabaikan oleh oppa yang terlalu fokus membaca majalah, aku hanya diam dan langsung mengulurkan hasil tes kehamilanku pada Yul Oppa.


Tanpa berkata apa apa aku hanya mengulurkannya. Memperlihatkan dia garis merah yang terlihat itu tepat di depan kedua mata Oppa yang seketika itu juga menurunkan majalah dari pandangannya.


Oppa tampak ternganga melihat dua garis merah yang aku perlihatkan. Kedua matanya terbelalak sebelum akhirnya menyadari apa arti di balik dua garis merah itu.


Untuk meyakinkan penglihatannya, Oppa merebut tes kehamilan itu dariku. Memastikan pelihatannya dengan terbelalak. Lalu menoleh padaku dengan tatapan tidak percaya. Di raut wajahnya yang menunjukkan rasa tidak percaya itu, kulihat betapa besar rasa bahagia yang Oppa tunjukkan melalui tatapannya yang seketika berbinar seperti bintang.


“Ye ... Yebin~a. Kau ... sungguh?”


Oppa terbata bata menanyakannya padaku. Kedua matanya yang berbinar binar itu menatapku dalam waktu cukup lama.


“Sudah kukatakan, aku sudah mendapat firasat jika malam itu melakukannya. Tapi Oppa terus saja memaksa dan menggodaku. Oppa bahkan tidak mau memakai kontrasepsi dan terus saja melakukannya tanpa henti.” Aku merutuk rutuk.


“Ooh, Yebin~a.”


Dalam pelukannya yang sangat erat ini, Oppa tiba tiba memanggilku sambil melenguh senang. Pelukannya meregang kemudian. Ia menatapku penuh emosi gembira dan juga haru. Membuatku menyadari. Bahwa Oppa selama ini menginginkan aku memiliki bayi. Hanya saja ia tak mengutarakan keinginannya karena tak ingin membuatku merasa terbebani.


“Kau sudah bekerja baik, Yebin~a,” ucapnya.


Aku terdiam sejenak sembari menguntai senyum simpul di bibir. Kuamati setiap sudut wajah Oppa yang memperlihatkan seluruh rasa senangnya karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.


“Oppa sesenang itu karena aku hamil?” tanyaku kemudian.


Oppa tak menjawab pertanyaanku dan hanya tersenyum semringah menggunakan bibir dan sudut matanya. Lalu kepalanya mengangguk angguk.


“Tentu saja aku senang.”


“Tapi kenapa Oppa tidak pernah mengatakannya padaku? Kalau kau sebenarnya menginginkan bayi. Jika memang begitu, kita bisa merencanakan kehamilan lebih awal.”


“Tidak. Mungkin terlalu awal untuk merencanakan kehamilan. Jadi aku hanya menunggu saja ‘hadiah’ itu datang tanpa direncanakan. Seperti sekarang,” jelas Oppa singkat.


Senyum yang tersungging di bibir Oppa dan kedua sudut matanya itu maish tak lenyap. Oppa terlihat semakin gembira ketika menundukkan kepalanya di atas perutku yang masih merata lalu menciumnya.


“Halo, bayi manisku. Selamat datang di dunia. Ayah akan bekerja keras untuk membahagiakanmu dan juga ibumu ketika kau lahir nanti.”


Seperti itu Oppa mengajak bayi kami yang ada di dalam perutku berbicara. Oppa mencium perutku beberapa kali lalu mengelus perutku dengan gerakan yang lembut, seolah tak ingin menyakiti bayi mungil yang ada di dalam kandunganku.


Sementara melihat Oppa yang tampak asik dengan bayi dalam perutku yang sama sekali masih rata, aku mengelus kepala Oppa. Membelainya lembut dan merapikan rambut Oppa yang beraroma mint.


“Kau sudah bekerja dengan baik, Yebin~a. Tidak ada yang perlu kau khawtirkan karena kau juga akan menjadi ibu yang baik untuk bayi kita nanti,” ucap Oppa ketika menegakkan kembali posisi duduknya. Ia membelai wajahku dengan hangat bersama seutas senyumnya.


Kepalaku mengangguk angguk. Oppa yang tampak begitu gembira itu pun mendekatkan wajahnya padaku. Mencium bibirku dengan mesra dan hangat selama beberapa saat. Kemudian melepaskan ciuman itu dan mengakhirinya dengan kecupan singkat di kening. Oppa mencium keningku yang itu merupakan kecupan penuh kasih sayang.


“Mau pergi ninton film? Ini adalah hari yang bagus untuk pergi ke luar dan menonton film. Bagaimana?” tawar Oppa kemudian.


Sudah lebih dari dua bulan lamanya, sejak Oppa sibuk mengurusi Moonlight Coffe, kami tak pernah pergi keluar untuk menonton film di bioskop. Terakhir kali kita mau menonton adalah akhir pekan hari itu, ketika kami mengunjungi pameran seni dan akhirnya bertengkar. Pun karena pertengkaran itu, kami tidak jadi menonton dan langsung pulang. Setelah hari itu, kami tidak sempat merencanakan untuk keluar menonton film karena kesibukan Oppa sebagai pemilik kafe. Sejak hari itu pula, kami jarang menghabiskan waktu di luar bersama karena kepadatan pekerjaan Oppa yang memaksanya untuk terus bekerja bahkan melembur sampai sampai makan di luar bersama saja tidak pernah.


Benar sekali. ini adalah hari yang baik untuk menonton film. Sekaligus merayakan kehamilan pertamaku.


Sebenarnya banyak yang aku cemaskan pada kehamilan pertamaku. Aku tidak yakin apakah aku bisa menjaga bayiku dengan baik. Tapi, dengan bantuan Yul Oppa aku yakin bisa melakukannya. Aku yakin bisa menjaga bayi dalam kandunganku sampai bayi ini lahir dan menjadi bagian dari keluarga Moon yang sah secara hukum maupun sosial. Ah.. rasanya aku tidka sabar menunggu kelahiran bayiku. Aku akan menjaganya dengan baik.


Menanggapi ajakan Yul Oppa, aku pun menganggukkan kepala.


“Baiklah. Ada film yang ingin kutonton.”


“Benarkah? Kalau begitu ayo kita segera bersiap siap.”


***