
Yul tergesa turun dari mobil. Ia baru saja mendapat telepon dari rumah sakit ketika masih melakukan pekerjaannya di kafe. Dan seketika menerima telepon itu, Yul bergegas meluncur menuju rumah sakit untuk memastikan suatu hal.
Tergesa tesa Yul naik ke dalam lift. Menuju lantai dua puluh. Begitu berhenti di lantai itu, ia berlari menuju ruang rawat Hun yang terdapat kerumunan orang berpakaian dokter ada di dalam ruangan Hun.
Di depan pintu, selain terdapat dua pengaja pribadi yang disewa Yul, juga ada Yebin dan ibunya. Keduanya terlihat panik sambil menatap ke arah ruang rawat Hun.
“Sayang, kau sudah datang,” sahut Yebin seketika melihat suaminya datang.
“Apa yang terjadi?” tanya Yul begitu tiba di hadapan Yebin.
“Hun tadi sempat bangun, lalu terkena serangan jantung. Sekarang para dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawanya,” jelas ibu yang berdiri dengan panik di sebelah Yebin.
Sekejap mata tubuh Yul terasa lemas. Ia terjatuh ke atas kursi tunggu di depan ruang rawat Hun. Pandangannya menjadi kosong. Yul terlihat seperti orang yang linglung.
Melihat itu, Yebin spontan duduk di sebelah suaminya. Mengelus ngelus punggung dan juga leher belakang Yul untuk membuatnya lebih tenang.
“Dokter pasti akan melakukan yang terbaik. Kita berdoa saja,” desus Yebin pelan. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami yang terasa lemas.
Yul termenung. Menatap kosong ke arah pintu ruang perawatan Hun. Diam dan hening cukup lama menatap kosong pintu tak berkaca itu. Sampai kemudian para tim medis beringsut keluar dengan raut wajah yang terlihat tenang.
Spontan Yul terperanjat dari duduk. Ia menghampiri petugas dokter untuk menanyakan kabar Hun.
“Bagaimana Dok keadaan adik saya?” tanya Yul spontan.
Dokter tersebut terlihat menghela napas lega. “Syukurnya pasien berhasil diselamatkan dari serangan jantung. Dan sekarang ia sudah sadar dari koma. Tapi masih perlu dipantau karena rawan terkena serangan jantung lagi.”
Dunia Yul terasa luruh medengar itu. Merasakan sebelenggu emosi yang tak dapat ia deskripsikan. Sudah hampir satu bulan lamanya Hun terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang karena kecelakaan yang pernah terjadi itu. Selama waktu yang telah berlalu, beberapa kali Yul merasa putus asa menunggu kesadaran Hun. Beberapa waktu Yul berpikir untuk mempersiapkan dirinya jika sewaktu waktu kabar buruk dari rumah sakit tentang Hun yang tidak dapat diselamatkan itu datang.
Yul merasakan kelegaan yang bukan kepayang. Seketika mendengar penjelasan dokter, Yul langsung masuk ke dalam ruangan. Melihat kondisi Hun yang masih memakai alat bantu pernapasan berupa selang oksigen.
Mata Hun terbuka sayu. Pernapasannya tampak stabil. Ia melirik ke arah Yul yang berjalan semakin mendekat bersama Yebin dan juga ibu. Hun masih tampak tak berdaya. Tetapi ia sudah sadar sepenuhnya dari koma. Pun penglihatannya masih cukup baik untuk ia bisa mengenali wajah sang kakak, wajah Yebin, dan wajah wanita paruh baya yang selama ini dipanggilnya dengan sebutan ‘ibu’.
“Hun-a,” panggil Yul pelan. Langkahnya yang melemas semakin mendekat pada Hun. Begitu ia tiba di sebelah ranjang Hun, tubuh Yul seketika membungkuk. Lelaki itu memeluk tubuh adiknya dengan begitu erat. Menenggelamkan kepalanya di atas bahu sang adik yang masih lemas tak berdaya seusai sadar dari koma.
Terdengar suara isakan tangis Yul yang sangat pelan di gendang telinga Yul. Suara tangis Yul menggema memenuhi seluruh ruang telinga Hun. Menyebabkan Hun merasakan suatu getaran pedih di dalam dadanya. Getaran pedih itu yang membuat ujung matanya meneteskan cairan bening.
“Terima kasih sudah bangun, Hun-a. Terima kasih. Terima kasih sudah bertahan, dan terima kasih sudah mendengar doaku.”
Kata yang diucapkan begitu lirih oleh Yul itu memicu deraian tangis Hun yang makin deras. Sang adik yang masih terbujur lemas itu hanya dapat merasakan pelukan hangat sang kakak persama sebelenggu rasa pedih setelah bisa kembali melihat dunia yang terasa hanya sekejap.
Dalam ketidaksadarannya, Hun selalu mendengarkan dengung suara sang kakak yang mengikutinya. Rupanya itu adalah doa yang Yul panjatkan untuk sang adik. Hun kini telah kembali, melewati masa masa kritisnya yang hampir merenggutnya pergi dari dunia. Membawanya ke suatu masa yang tak dapat dijamah oleh ruang dan waktu.
Ruangan seketika itu diselimuti rasa haru. Yebih ikut merasakan bola matanya mulai memanahas merasakan suasana haru adik dan kakak yang menyelimuti. Ia tahu betapa kerasnya Yul memikirkan Hun sampai sampai terbayang bayang sosok Hun di mana pun ia pergi. Yebin tahu dengan baik setiap kali Yul membuat janji janji yang akan diwujudkan ketika sang adik telah sadar seutuhnya. Pun, Yebin mendengarkan dengan seksama setiap nama sang adik yang Yul desahkan ketika tidur. Karena kerinduannya yang teramat besar, karena kekhawatirannya yang melebihi luasnya samudera pasifik, dan karena rasa putus asanya yang mengalir lebih deras dari aliran sungai Han. Karena semua rasa yang membelenggu itu, Yul selalu menggumamkan nama Hun di kala tidur. Menggumam gumamkan nama Hun dengan tubuhnya yang mendekap sang istri.
Yebin menghampiri sang suami yang larut dalam perasaan haru itu. Menepuk nepuk punggung sang suami hingga akhirnya Yul menemukan dirinya dalam kesadaran utuh.
Yul mulai melepaskan pelukan itu. Ia menoleh ke belakang, menatap Yebin yang sorot matanya membawa kehangatan yang mendalam untuknya.
Tubuh Yul secara otomatis tergerak untuk memeluk sang istri. Ia berpelukan dengan Yebin selama beberapa saat sementara ibu melangkah mendekat pada Hun dan menyeka air matanya yang mengaliri pelipis.
“Nak Hun sekarang sudah sadar. Pasti semuanya akan berjalan dengan baik,” ucap Ibu sambil mengelus elus rambut kepala Hun dan menyeka wajahnya yang dingin.
Setelah itu Yul melepaskan pelukannya. Kembali menatap Hun yang menampilkan sedikit senyuman di bibir pucatnya yang melekuk.
Dokter berkata bahwa Hun masih membutuhkan banyak waktu untuk benar benar pulih dan beraktifitas seperti biasa. Ia masih diharusnya untuk beristirahat secara total dan mendapat suntikan setiap beberapa jam sekali.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Hun baru saja tertidur kembali setelah mendapat dua suntikan obat dari perawat yang beberapa waktu lalu memasuki ruangan. Saat ini di dalam ruang rawat Hun ada ibu. Sedang menonton siaran drama di televisi sambil menunggui tidur Hun. Sedangkan Yul dengan Yebin sedang berbincang bincang di luar.
“Tidak. Aku tidak mengizinkanmu. Kau bisa terluka.” Yul berkata dengan tegas menjawab permintaan Yebin.
“Oppa, aku bulan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku dengan baik.” Yebin menyanggah.
“Kau lihat, Hun baru saja bangun setelah koma selama satu bulan gara gara kecelakaan. Dan kau juga baru pulih setelah kecelakaan itu. Mana mungkin aku membiarkanmu mengendarakan mobil sendirian?” kata tegas Yul. Keduanya sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang rawat Hun.
Yebin menghela napas. Semua ini gara gara panggilan yang ia dapatkan beberapa waktu lalu.
“Oppa, aku tidak akan terluka menegndarai mobil. Tidak ada yang mau melakukan hal yang sama padaku dengan apa yang terjadi pada Hun Oppa. Biarkan aku mengendarakan mobil untuk hari ini saja. Cukup hari ini saja, kumohon.” Yebin berucap setengah memaksa.
“Sebenarnya kau itu mau ke mana? Biasanya kau pergi ke mana mana menggunakan taksi, kenapa sekarang mau menyetir sendiri? Kalau begitu aku saja yang mengantarmu. Hun biar dijaga sebentar sama ibu. Ke mana kau akan pergi? Aku akan mengantarmu.”
Ya. Yebin harus pergi ke sebuah tempat setelah mendapat suatu panggilan asing beberapa jam lalu. Panggilan telepon itu memintanya untuk menuju sebuah tempat. Dan Yebin tahu siapa yang hendak ditemuinya. Tahu. Sangat tahu. Karena itu Yul tidak boleh ikut. Karena itu pula ia harus ke sana seorang diri dengan mengendarakan mobil sendirian.
Yul terdiam. Menatap lekat Yebin dengan tatapannya yang dalam dan mencekam.
“Kau mau pergi bersama teman temanmu? Di saat seperti ini?” tanya Yul tak yakin. Setahunya, Yebin bukan tipikal orang yang suka bertemu dengan teman temannya.
Mana mungkin Kang Yebin yang selalu menghindari kegiatan reuni kampus itu mau bertemu dengan teman temannya di saat Hun baru saja bangun dari koma? Dan mana mungkin, Yebin yang selalu berkata bahwa ia sudah memutuskan hubungan dengan kebanyakan teman kuliahnya kecuali Somin, ingin berkumpul dengan teman temannya dengan begitu tiba tiba seperti ini? Sebenarnya kenyataan bahwa Yebin mau pergi di saat Hun baru sadar dari koma itu sudah cukup aneh untuk Yul. Terlebih alasannya adalah untuk bertemu teman teman. Bahkan ingin mengendarakan mobil sendirian dan menolak untuk Yul antar. Sebenarnya... apa yang sedang Yebin sembunyikan itu?
Yul memikirkan semua itu dan menerka nerka apa yang sedang Yebin sembunyikan darinya. Sejak bangunnya Hun dari koma, lalu sejak ia berbicara cukup lama dengan seseorang melalui telepon, tiba tiba sikap Yebin menjadi aneh. Tatapannya bukan seperti Yebin yang biasanya, yang penuh binar cerah dan semangat. Tetapi penuh dengan kegelapan dan rasa perlawanan. Perubahan Yebin yang disadari Yul itu membuatnya bertambah curiga.
“Tetap tidak boleh!” Yul berucap dengan penuh penegasan. Bukan hanya suaranya yang tegas, tetapi sorot matanya juga demikian.
Jika sudah seperti itu, tidak akan ada sela untuk Yebin bisa melawan. Selama ini Yul menjadi seorang yang penuh pertimbangan dan memberikan Yebin segala kebebasan sebagai perempuan. Yul juga tak pernah mengekang Yebin dan selalu mendukung apa pun yang Yebin ingin lakukan. Selalu menuruti keinginan Yebin dan melakukan apa yang Yebin minta. Yul menjadi suami yang baik dan selalu mendengarkan perkataan istrinya dengan baik, dengan segala rasionalitas yang lelaki itu miliki. Yul menjadi orang yang sangat demokratis dan selalu mendengarkan setiap perkataan Yebin. Tapi, kali ini berbeda. Dengan sangat tegas Yul berkata tidak atas kemauan Yebin. Itu pertanda bahwa Yul dengan tegas dan keras melarang Yebin untuk berkendara sendirian. Terlebih dengan semua keanehan sikap yang Yebin tunjukkan. Sungguh mustahil untuk Yul mau menuruti apa yang Yebin ingin lakukan sekarang.
Suasana menjadi sangat hening seketika itu. Yebin menarik napas panjang panjang. Kepalanya menunduk dalam. Ia berpikir keras tentang apa yang harus ia lakukan.
Perlahan, Yebin mengeluarkan sesuatu dari dalam tas bahu yang ada di atas pangkuannya. Menambil sebuah kotak berwarna hitam dan menyerahkannya pada Yul.
“Aku tidak tahan lagi. Dengan mendendang kakinya atau menampar pipinya dengan keras, aku ingin dia berhenti,” desus pelan Yebin.
Yul mengambil kotak itu dari tangan Yebin. Membukanya perlahan. Di dalam kotak itu, salah satunya adalah benda seujung jari yang tidak lain adalah alat penyadap yang mereka temukan di dalam miniatur buka. Tak hanya satu. Ada tiga alat penyadap yang ada di kotak itu. Yang ketiga tiganya sudah dimatikan oleh Yebin.
“Satu di bawah bantal Hun Oppa, aku temukan tadi sebelum mendapati Hun Oppa terkena serangan jantung. Dan satunya lagi ada di bawah meja kantorku, aku temukan beberapa hari lalu saat sedang beres beres. Oppa, aku... aku benar benar merasa sesak. Setiap hari aku tidak bisa tenang dan selalu khawatir jika saja ada alat penyadap lain yang diselipkan diantara barang barang di sekelilingku.”
Yebin bercerita panjang. Lalu kembali menghela napas panjang.
“Aku tidak menyangka laki laki itu akan sejauh ini. Keterlaluan sekali,” desus Yul.
“Karena itu, Oppa. Aku harus menemuinya sekarang!” tegas Yebin. Ia seolah menemukan celah baru untuk mengelabuhi Yul supaya mengizinkannya pergi.
“Tidak boleh. Apa yang kau pikirkan dengan menemuinya sendirian? Kau tau seberapa berbahaya laki laki seperti Leo Park itu,” terang Yul.
“Aku tahu. Aku sangat tahu. Karena itu aku yang harus menemuinya. Lelaki itu tidak bisa menyakitiku. Aku melindungi diriku sendiri darinya. Karena dia tidak bisa menyakiti perempuan,” kata Yebin.
“Kau hanya tidak tahu, Kang Yebin. Leo Park adalah orang yang lebih kejam dari yang kau bayangkan. Dia bisa menyakitimu. Apa yang kau pikirkan dengan menemuinya sendirian?” Yul berucap dengan penenakan suara.
Dengan yakin Yebin menegaskan, “Tidak. Leo Park tidak bisa menyakitiku.”
“Bagaimana jika Leo Park yang merencanakan kecelakaan itu?” serobot Yul yang seketika membuat Yebin terdiam.
“Apa... apa maksudmu, Oppa? Kecelakaan itu....”
Yul menarik napas panjang panjang. Wajahnya berpaling sejenak dari Yebin. Kemudian ia kembali menatap Yebin dan menjelaskan semuanya.
“Ya. Leo Park dan anak buahnya yang merencanakan kecelakaan pada kau dan juga Hun. Dia berniat membunuh Hun dan ternyata kau juga terlibat. Karena itu aku menyewa penjaga untuk menjaga Hun sepanjang waktu. Karena aku tidak tahu apa yang akan Leo Park perbuat ketika Hun tidak berada dalam pengawasanku,” jelas Yul panjang lebar. Sementara itu tubuh Yebin membeku dan kaki seperti balok es. “Haeri sudah menyelidikinya lebih jauh. Tapi belum ada bukti konkret untuk menjebloskan Leo ke penjara. Dia itu seperti belut yang sangat licin. Juga memiliki koneksi yang banyak dan luas. Tidak mudah mengungkap kejahatannya.”
Yebin merasakan guyuran es pada tubuhnya mendengar semua penjelasan Yul. Mulutnya terkatup rapat rapat. Tak dapat mengeluarkan suara desisan apa pun. Dan hanya dipenuhi oleh perasaan cengang yang tak pernah ia bayangkan. Yang seketika membuat sekujur tubuhnya lemas seperti tak berotot.
“Apa pun alasanmu, kau tidak boleh menemuinya sendirian. Kita bisa menempuh cara yang lebih baik, Yebin-a. Melalui jalur hukum. Kau tidak perlu berbuat sejauh itu untuk menghentikannya.” Yul mengimbuhkan.
Yebin diam cukup lama. Bukan mendengar kalimat kalimat terakhir yang Yul ucapkan. Tetapi merasakan emosi marah mulai menguasai tubuhnya. Kemudian ia mengerlingkan kepala, menatap Yul tajam.
“Lagi lagi Oppa memperlakukanku seperti kambing dungu. Bagaimana mungkin hal sebesar itu kau tidak memberitahukannya padaku? Kecelakaanku melibatkan Hun Oppa, dan juga aku! Tapi Oppa menyembunyikan kebenarannya dan membuatku benar benar bodoh. Sampai hari aku menemukan alat menyadap itu, aku masih menganggap Leo Park itu orang baik yang haus akan kasih sayang. Aku menyanggapnya seperti laki laki kesepian yang mencoba mendapat perhatian dari seorang wanita yang telah memiliki suami. Sampai saat itu, aku hanya seperti kambing dungu di hadapanmu. Orang bodoh yang menganggap baik dan bahkan merasakan sedikit simpati pada orang yang nyaris membunuhku! Oppa, kadang kau lebih kejam dari lelaki mana pun, bahkan Leo Park!”
Bersama amarah yang menyundul kepalanya, Yebin melontarkan semua itu dan lantas berdiri dari duduk. Sorot matanya dipenuhi amarah, seperti memancarkan cahaya api berwarna biru. Ia menatap benci ke arah Yul yang untuk kesekian kalinya membuat Yebin menjadi manusia paling bodoh di dunia ini, yang tidak tahu apa apa dan seolah olah sedang menari nari penuh gembira di saat bom nuklir akan diledakkan.
Yebin sungguh marah. Beribu ribu kali lipat dari kemarahannya pada Leo Park tentang alat penyadap itu. Dengan semua amarah yang masih terasa panas di seluruh urat nadinya, Yebin berjalan pergi. Membuat Yul langsung terperanjat dari duduk.
“Kang Yebin! Kau mau ke mana?” sahut Yul spontan melihat Yebin berlalu pergi dengan segenap amarah yang seolah mengelilingi tubuh Yebin dengan kabut merah menyala nyala.
Yul hanya menghela napas dalam dalam melihat kepergian Yebin tanpa berbalik. Ia tahu ia tidak bisa menghentikan Yebin yang sudah terlanjur marah kepadanya. Ia tahu, Yebin benar benar marah atas ketidaktahuannya tentang detail kecelakaan. Dan Ia sadar, selama menikah dengan Yebin, yang paling tidak disukai sang istri itu adalah ketidakjujuran. Yebin sungguh tak suka ketika Yul menyembunyikan sesuatu darinya. Namun bagi Yul. Ia tidak bisa berbuat apa apa selain merahasikan itu dari Yebin untuk sementara waktu. Karena Yul tahu, Yebin akan seperti ini dan bertindak semaunya tanpa berpikir lebih panjang. Yul menyembunyikan hal itu dari Yebin karena tak ingin Yebin terluka karena kecerobohannya dalam menyikapi kenyataan yang Yul ceritakan.
Sekarang semua sudah terlanjur. Yul tidak bisa menghentikan Yebin yang telah dikuasai oleh ledakan emosi. Dan hanya satu hal yang bisa diperbuat Yul.
Yul merogoh saku celananya. Meraih ponsel untuk menghubungi seseorang.
“Halo, Sangsik-a, aku punya pekerjaan mendesak untukmu. Lakukan dengan profesional dan hati hati,” kata Yul begitu teleponnya tersambung dengan Sangsik, salah satu karyawan kafe yang sangat ia percaya dan ia andalkan. Setelah itu ia menjelaskan pekerjaan apa yang dimaksudnya. Menjelaskan secara rinci apa yang harus Sangsik lakukan untuk pekerjaan mendesak itu.
“Lakukan dengan baik. Tidak perlu mengehentikannya. Cukup ikuti saja ke mana ia pergi dengan mengendarai mobil sendirian. Juga amati apa yang dia lakukan.”
**