Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Yebin Yang Bijaksana



Yebin yang Bijaksana


Yebin Pov


Aku kembali ke sofa ketika Hun Oppa menghela napas panjang dan kembali mendudukkan tubuh. Ia terlihat frustasi. Juga terlihat kebingungan bagaimana melunakkan hati kakaknya yang terlanjur marah dibuatnya.


“Cobalah mengajak Yul Oppa bicara baik baik. Dia memang terlihat dingin dan mengabaikanmu. Tapi, sebenarnya dia tidak bisa mengabaikanmu lama lama. Jadi coba Hun Oppa mengajaknya bicara sekali lagi.” kataku yang sedang membuka kembali lembaran majalah yang tadi sempat kubaca.


Yul Oppa memang selalu seperti itu. ia terlihat dingin dan mengabaikan ketika sedang marah. tapi sebenarnya ia sangat peduli dan tidka bisa mengabaikan orang lain lama lama. Yul Oppa hanya perlu waktu dan perlu didekati dengan cara yang lebih halus. Hatinya yang marah sekalipun akan melunak ketika diajak bicara baik baik dan penuh empati.


Kudenar Hun Oppa yang mendesah panjang.


“Apa yang sebenarnya dia pikirkan itu? Aku kan hanya memberi Jinhee tumpangan tempat tinggal sementara waktu. Dan apa pasangan tinggal di satu atap itu menjadi hal yang sangat tabu di era ini? Kenapa dia itu kuno sekali? Toh, di luar sana banyak sekali pasangan padangan berkencan yang memutuskan tinggal bersama untuk mempertipis biaya hidup di kota. Apa sih yang sebenarnya kakakku itu pikirkan?”


Begtiu Hun Oppa merutuk rutuk kesal. Jujur saja. awalnya aku jug berpikir seperti itu. Bhwa tingal bersama di satu atap untuk muda mudi yang berkencan itu adalah hal yang cukup biasa di abad ini. Tapi, setelah dipikirkan kembali, tinggal bersama untuk pasangan yang belum menikah lebih banyak membawa dampak buruk. Salah satunya adalah cemooh dari orang orang dan diskriminasi.


Awalnya aku hanya berencana untuk diam. Tapi, Kang Yebin sejatinya tidka pernah bisa berdiam diri seperti pengecut.


“Benar. Kohabitasi, atau tinggal bersama tanpa ikatan perkawinan memang hal yang cukup biasa. Awalnya aku juga berpikir seperti itu,” kataku. “Tapi, aku coba memikirkannya lebih jauh. Sekarang aku sedang mengandung. Aku membayangkan, ketika aku nanti memiliki seorang putra atau putri, dan ketika dewasa anakku melakkan kohabitasi dengan kekasihnya saat itu. Aku akan sangat sakit hati. Seolah olah aku telah gagal membesarkan anakku. Seolah olah aku telah mengajari anakku dengan cara yang salah. Karena bagaimana pun, kohabitasi akan membawa dampak sosial yang buruk untuk kedua belah pihak.”


Hun Oppa terdiam mencerna semua penjelasanku. Bukannya aku sok tahu atau bagaimana. Hanya saja, dari beberapa temanku yang pernah melakukan kohabitasi dengan pasangannya, ketika sudha putus hal itu bisa menjadi aib. Dan ketika aib itu dibongkar, rusaklah image dari mereka yang melakkan kohabitas, terutama di pihak wanita. Karena wanita itu dianggap tidak bisa menjaga diri dengan baik dan beberapa anggapan lainnya.


“Tapi kami tidak kohabitasi seperti yang kamu bayangkan, Yebin~a. Aku hanya memberinya tumpangan tempat tinggal sementara apartemennya direnovasi,” sanggah Hun Oppa.


Kepalaku mengangguk angguk. “Benar sekali. Tapi, orang orang tidak peduli seberapa lama kalian tinggal bersama. Hanya fakta bahwa kalian pernah tinggal bersama yang akan orang lain tau. Dan mereka bisa menggunakan fakta itu untuk menyerang Hun Oppa ketika terjadi seuatu perdebatan.”


Aku memang tidka mengerti seperti apa dunia hukum yang digeluti oleh Hun Oppa. Aku juga tidka mengerti seperti apa kehidupan perhakiman di negeri ini (yang mungkin juga bercampur dengan politik yang terkenal kejam). Dari cerita yang kudengar, dunia hukum maupun politik sama sama kejamnya. Mereka adalah orang orang yang memiliki ambisi besar dan tak kenal ampun. Maka wajar saja jika sesama hakim atau sesama orang yang bekerja di bidang hukum pun sering berdebat dan menyerang satu sama lain menggunakan kata kata dan juga fakta.


Melihat Hun Oppa yang langsung terdiam membeku seperti itu, sepertinya dugaanku benar. Bahwa di dunia hakim pun sering terjadi perdebatan dan saling menyerang untuk mencapai suatu ambisi tertentu. Hun Oppa yang juga memiliki ambisi yang besar, tampak merenungkan perkataanku tadi secara mendalam.


Ponsel Hun Oppa berdering setelah itu. Ia segera mengangkat telepon yang masuk.


“Halo, Jinhee~ssi. Ada apa?”


Ternyata yang telepon itu adlaah kekasihnya, Jinhee. Aku yang mengetahui itu, membiarkan Hun Oppa bercakap cakap melalui telepon. Sedangkan aku melanjutkan kegiatan membacaku.


***


Yul Pov


Aku melirik Hun yang sedang duduk di sofa ruang kerjaku. Mengernyitkan kening, merasa ragu akan apa yang baru saja kudengar dari bocah bandel itu.


“Kau sungguhan? Wanita itu ... maksudku, nona hakim kekasihmu itu sudah menemukan tempat tinggal baru?” Aku meyakinkan pendengaran.


“Benar. Benar sekali. Karena kau sangat menentang dan menunjukkan kalau kau sama sekali tidak menyukainya, Jinhee memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru dengan deposit yang jauh lebih besar.” Hun menjawab dengan nada suaranya yang sedikit meninggi. Ia menunjukkan kekesalannya padaku.


Kulihat kening Hun yang mengerut. wajahnya memperlihakan tetidak setujuan terhadap kata kataku.


“Aku hanya memberinya tumpangan, Hyung. Tidak seperti yang kau bayangkan dan kami tidak melakukan apa apa. Sebenarnya apa yang kau itu pikirkan sampai menganggap seolah olah yang kulakukan itu adalah dosa besar?” timpal Hun.


Aku hanya menghela napas. Aku heran saja, kenapa dia sama sekali tidak memikirkan betapa kejamnya dunia ini. Hal seperti itu bisa menjadi aib di masa depan. Dan aib itu bisa merusak reputasinya sebagai hakim Mahkamah Agung.


“Hun~a, kau masih muda. Saat usiamu sudah berkepala tiga, kau akan tahu bagaimana cara kerja dunia dan akan menyadari betapa kerasnya dunia ini,” tuturku pelan. Mungkin Hun masih belum tahu karena ia masih tergologn muda dan belum genap satu tahun bergelut dengan dunia luar (dunia pekerjaan di Korea yang serba kapitalis) yang begitu kejam.


“Dan, apa katamu? ‘Tinggal bersama tapi tidak seperti yang kau bayangkan’?” Aku kembali menceletuk dan mengulangi perkataan Hun beberapa waktu lalu. “Yang benar saja! Kau pikir kakakmu ini bodoh? Laki laki dan perempuan tinggal bersama tapi tidak melakukan apa apa? Jangan bercanda! Aku juga laki laki, kau pikir aku akan percaya pada omong kosongmu itu?” suaraku kembali meninggi. Kulihat kedua telinga Hun yang memerah karena ketahuan berbohong.


Yang benar saja. seratus persen, tidak, dua ratus persen aku bisa memastikan bahwa laki laki dan perempuan yang tinggal bersama pasti melakukan ‘itu’. Aku jauh lebih berpengalaman dari pada Hun. Dan pastinya aku lebih tahu bahwa ‘tidak terjadi apa apa’ seperti yang dikatakannya tadi hanya omong kosong. Tidak ada laki laki yang bisa menahan hasratnya ketika dihadapkan dengan seorang wanita sepanjang malam. Yah, kecuali jika laki laki itu memiliki kelainan orientasi seksual, mungkin wajar saja.


Tidak bisa menganggah apa apa, Hun hanya terdiam. sebagai seorang kakak, aku ingin menanyakan satu hal lagi padanya.


“Biarkan aku bertanya satu hal lagi,” imbuhku melihat Hun yang terdiam di atas sofa ruang kerjaku. “Apa kau berniat untuk menikah dengan nona hakim itu?” tanyaku legas.


Hun terdiam sejenak. Pandangannya jatuh sebelum akhirnya ia menggelengkan kepala.


“Untuk saat ini, aku belum memiliki pandangan untuk menikah. Dan Jinhee juga tahu itu, kalau aku masih ingin fokus pada karirku. Jadi ya ... kami cuma sekedar berkencan untuk saat ini. Jika kami masih ingin lanjut berpacaran ya kami akan terus lanjut. Jika tidak, kami akan merelakan satu sama lain untuk pergi,” jelas Hun.


Usia Hun saat ini adalah usia di mana laki laki di negeri ini masih ingin fokus mengejar karir. Jadi, aku bisa memaklumi jika Hun memang belum memiliki gambaran tentang pernikahan. Seperti itulah anak muda zaman sekarang menghabiskan masa muda mereka. dengan berfokus sama pekerjaan. Sehingga tidak jarang dari mereka yang memilih untuk tida berkencan (seperti yang dulu kulakukan). Kalau pun berkencan, belum sampai pada tingkat untuk memikirkan pernikahan. hanya sekedar berkencan karena sama sama suka.


Kepalaku mengangguk angguk.


“Baiklah. Keputusan nona hakim itu untuk mencari tempat tinggal baru adalah yang terbaik untuk kalian berdua. kau tau? Jika kalian memutuskan untuk meneruskan tinggal bersama....”


“Aku tahu, Hyung.”


Hun memotong perkataanku. Membuat keningku mengernyit. “Aku tahu apa yang kau maksud, jadi kau tidak perlu menjelaskan lagi. Aku sudah cukup mendengar omelan dari Yebin tentang dampak buruk secara sosial, stigma dan lain sebagainya. Yebin sudah membicarakan hal itu tadi.”


Kedua alsku menaik.


“Yebin mengatakan semua itu? menasihatimu seperti itu?” tanyaku tak percaya. Aku berdiri dari dudukku. Menghampiri Hun yang duduk tenang di atas sofa menikmati teh chamomile yang dibawanya ketika masuk tadi.


“Benar. Yebin semakin pandai berbicara. Pasti Hyung kan yang menajarinya seperti itu?” rutuk Hun. Ia terlihat kesal dan juga senang dalam waktu bersamaan.


Aku terkekeh kekeh. Tidak kusangka Yebin yang menasihati semua itu kepada Hun.


“Dia tambah bijaksana. Dan juga cerdas.”


***