
Pagi hari ini Yul berhasil menghindari makanan asin Kang Yebin dengan memintanya membuatkan sarapan berupa sereal. Namun, siang harinya Yul tidak bisa berbuat apa a lantaran Yebin yang terlalu bersemangat memasakkan makan siang untuk suaminya di hari libur seperti ini.
“Sayang, bagaimana kalau kita makan siangnya di luar saja?” kata Yul. Ia sedang sibuk mengikuti setiap pergerakan Yebin yang sedang memasak di dapur.
“Kenapa kau cerewet sekali hari ini, Oppa? Keseringan makan di luar juga tidak baik. Kita perlu menghemat.” Yebin menjawab dengan tegas.
“Kenapa repot repot menghemat? Uangku itu kan banyak. Kita tidak perlu menghemat kalau soal pengeluaran makan, Yebin-a,” omel Yul. Kemudian ia melihat Yebin mengangkat wadah kaca berisi garam dan menaburkan dua sendok garam ke atas makanan yang sedang dimasak di atas teflon. “Oh... oh! Kenapa kau memasukkan garam banyak sekali?” pekik Yul melihat dua sendok garam itu menjadi satu dalam tumisan sayur.
Yebin seketika menoleh mendengar Yul berteriak. Menatap suaminya yang sedang terbelalak.
“Aku melihat ibu biasanya memasukkan dua sendok garam ke dalam tumis sayuran,” jawab Yebin polos.
“Yang dimasak ibu itu kan untuk porsi yang besar. Ibu kan memask tumis dalam jumlah banyak untuk disimpan di dalam kulkas dan dipanaskan setiap kali akan dimakan. Jika untuk makanan segini, tidak perlu sampai dua sendok garam. Ini kan hanya untuk porsi kita berdua,” omel Yul sambil menunjuk ke arah tumis sayuran di dalam teflon berukuran kecil.
Yebin terdiam sejenak.
“Ah, begitukah?” gumamnya. Lalu ia mengambil toples kaca lainnya yang berisi gula. "Tidak apa apa. Aku akan menambahkan gula untuk menyeimbangkan rasanya.”
“Oh... tidak!”
Yul kembali memekik melihat istrinya itu memasukkan dua sendok gula ke dalam tumis sayuran di atas kompor. Lelaki itu ternganga selama beberapa saat sampai akhirnya kembali mengomel ngomel.
“Kenapa kau memasukkan gula sebanyak itu? Apa kau itu mau membuat manisan sayuran? Tidak ada yang memakai gula sebanyak itu untuk memasak tumis sayur, Yebin-a.” Di saat Yul mengomel ngomel, Yebin di sebelahnya itu mengerutkan kening.
“Kenapa kau cerewet sekali, Oppa? Sudahlah, duduk saja di sana menunggu masakanku ini jadi. Jangan mengangguku di dapur. Masakanku ini akan enak nanti kalau sudah matang. Oppa jangan berteriak terus di telingaku.”
Yebin balas mengomeli suaminya yang entah kenapa jadi sangat cerewet saat melihatnya memasak. Yul yang tidak habis pikir pun berjalan menjauh dari dapur dengan lemas. Perutnya yang belum terisi makanan pun terasa mual. Bukan karena lapar, tetapi karena membayangkan rasa dari masakan Yebin nanti.
"Habislah aku," gumamnya sambil berjalan ke arah meja makan. Ia menanti di meka makan sambil menyemil makanan ringan.
Tidak lama kemudian, Yebin datang membawa tumis sayuran senyuman yang berkemaran di wajah. Senyum ceria yang ia paparkan, ditambah raut bahagianya itu membuat Yul tak tega berkomentar bahwa masakannya itu seperti obat diare yang tidak layak di makan.
Yul pun hanya tersenyum getir menatap istrinya yang meletakkan sayur tumis itu ke atas meja makan. Setelah duduk berhadapan dengan sang suami, Yebin juga mengyiapkan nasi dalam mangkuk kecil dan sumpit.
“Cobalah, Sayang. Pasti enak,” kata Yebin dengan semringah.
“Hmm.”
Setelah menarik napas panjang panjang, Yul meraih sumpit di hadapannya. Mengambil satu helai sayuran tumis yang entah bagaimana tampak begitu menakutkan untuk Yul pandang. Perlahan lahan, Yul memasukkan sayuran itu ke dalam mulutnya. Begitu indra pengecapnya itu merasakan rasa dari tumis sayur buatan istrinya....
Seperti ada peluru yang menghujani mulut Yul saat ini. Rasanya... benar benar sesuatu yang tidak dapat dideskripsikan. Bahkan Yul bertanya tanya apakah setelah ini nanti indra perasanya masih akan berfungsi dengan baik.
Jika itu hanya terasa asin, baiklah... mungkin Yul bisa memaksakan lidahnya untuk menyunyah makanan itu dan menelannya langsung ke dalam perut. Tapi, rasa dari tumis sayur Yebin kali ini tidak hanya sangat asin, juga bercampur dengan rasa manis dari gula dua sendok yang tadi ditambahkannya. Belum lagi aroma herbal dari ekstra buah plum yang menghancurkan tumisan ini dengan lebih buruk.
Oh... Yul tidak bisa berbuat apa apa lagi saat ini. Ia membuat pilihan.
Tiga detik Yul mengamati ekspresi wajah Yebin yang sedang menanti komentarnya atas makanan itu. Jujur, Yul berada dalam dilema berat saat ini. Ia tak ingin menghancurkan perasaan istri cantiknya itu dengan berkomentar yang tidak baik tentang masakan buatannya. Namun di sisi lain, Yul juga tak ingin membuat semua organ dalam perutnya itu bekerja tidak maksimal ini gara gara masakan Yebin yang rasanya tidak pernah ada duanya di dunia ini.
Setelah berpikir cukup lama, Yul pun mengambil keputusan. Ia mengambil tisu di atas meja makan untuk memuntahkan makanan yang ada di dalam mulutnya. Yebin yang melihat itu, terhenyak kaget dan langsung bertanya.
“Kenapa, Sayang? Apa masakanku tidak enak?” tanya Yebin. Raut semringah di wajahnya itu telah berganti dengan raut kesedihan bercampur bingung.
“Sayang... apa kau sudah mencicipinya tadi?” tanya Yul.
Yebin menggelengkan kepala. “Aku ingin kau yang pertama mencicipinya. Jadi aku menunggu komentarmu.”
Yul menghela napas panjang. Ia menurunkan kedua tangannya untuk ditumpukan ke atas lutut.
“Lebih baik kamu cicipi dulu, Sayang. Aku akan berkomentar nanti,” kata Yul hati hati, tidak ingin membuat perasaan Yebin semakin sedih.
“Kenapa sih Sayang? Apa seburuk itu masakanku?” gumam Yebin sambil mengambil sehelai sayuran dengan sumpitnya. Lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Respon Yebin pun sama. Ia langsung terdiam selama beberapa detik. Lalu mengambil dua helai tisu untuk memuntahkan makanan yang ada di dalam mulutnya.
“Uweekkk. Kenapa masakanku seperti ini rasanya? Aku sudah memasukkan semua bahan seperti yang ibu lakukan,” gumamnya bingung.”
Selagi Yebin menggumam gumam, Yul hanya diam mengamatinya. Mengamati perubahan ekspresi wajah Yebin yang terlihat sangat sedih. Yebin memang telah berusaha keras untuk memasakkan tumis ini untuk makan siang mereka. Ia mengingat ingat semua bahan untuk membuat tumisan seperti yang diajarkan ibunya, lalu mencatat semua itu dan menempelkannya di dinding dapur unntuk mempermudahnya saat memasak. Tapi, hasil masakan yang buruk ini jauh di luar dugaan Yebin. Benar benar membuatnya sedih.
Melihat ekspresi wajah Yebin yang semakin sedih itu, Yul menaikkan kedua tangannya ke atas meja untuk menggenggam tangan Yebin. Salah satu jari telunjuk Yebin dililit plaster karena terluka saat ia memasak tadi. Melihat itu, perasaan Yul semakin sedih. Ia tahu istrinya itu sudah bekerja keras memasakkan makanan untuk makan siangnya.
“Tidak apa apa, Sayang. Kau bisa belajar dan berlatih memasak lagi dengan ibu. Seperti katamu tadi, ibu sangat pandai memasak semua makanan. Pasti kau juga bisa sepertinya jika belajar sedikit lebih banyak lagi,” ucap Yul menenangkan.
“Apa lagi yang perlu kupelajari? Aku sudah hidup bersama ibuku lebih dari dua puluh tahun dan setiap hari melihatnya memasak di dapur. Seharusnya aku sudah lebih pintar memasak daripada orang orang yang mengikuti khursus memasak bersama chef. Bukannya begitu? Tapi kenyataannya tidka begitu. Artinya aku memang tidak memiliki bakat memasak. Ahh... sepertinya hidupku sudah dikutuk sampai memasak tumis saja rasanya tidak karuan.”
Yebin berkata dengan penuh putus asa. Yul yang mendengarnya segera menyanggah.
“Apa maksudmu, Sayang? Kenapa kau menyebutnya kutukan? Tidak seperti itu. Jika kau sedikit belajar lagi, kau akan benar benar pandai memasak,” kata Yul menengani.
“Belajar apa lagi, Sayang? Selama ini aku sudah mempelajari semuanya dari ibu. Dan kenyataannya aku tetap tidak bisa. Kamu saja sampai memuntahkannya dengan ekspresi wajahmu yang seolah mengatakan masakanku itu paling buruk di dunia,” cetus Yebin yang seketika membuat Yul gelagapan. Genggaman tangan Yul pada Yebin pun seketika terlepas.
“Ap—apa maksudmu? Ka... kapan aku berekspresi seperti itu? Kau hanya salah paham. Aku tidak seperti itu. Aku tidak pernah berpikir seperti itu, Sayang.”
Dengan tergagap gagap Yul menyanggah perkataan Yebin. Ia merasa sangat bersalah jika Yebin sampai mengartikan seperti itu ekspresi wajahnya tadi.
“Kalau kamu memang tidak beranggapan begitu tentang masakanku, coba habiskan.”
“Eh?”
Yul tersentak dengan perkataan Yebin yang tiba tiba itu. Kedua matanya terbelalak. Yul meragukan pendengarannya. Apa? Satu helai sayuran saja Yul tidak sanggup menelannya. Apalagi menghabiskan satu piring itu?
“Tidak tidak... maksudku, lain kali kau pasti akan memasak dengan lebih baik lagi.” Yul menarik napas panjang panjang untuk menjelaskannya pada Yebin. “Dengarkan aku baik baik, Sayang. Jadi, yang perlu kamu pelajari lagi itu hanyalah porsinya. Kamu memang sudah menghafal bahan bahan memasak dan semua bumbu bumbunya. Jadi kau hanya perlu belajar mengatur porsi yang pas setiap bumbunya pada masakanmu. Kau hanya perlu belajar itu. Juga sedikit mengurangi garam dan tidak menambahkan gula dalam masakan. Itu saja. Sudah.”
“Kalau begitu, tunggu sebentar lagi ya Sayang! Aku akan memasakkan satu porsi lagi untukmu. kali ini aku akan mengurangi garam dan juga tidak memasukkan gula.”
Secepat petir Yebin beranjak dari duduk dan berlari menuju dapur untuk memasakkan makan siang lagi untuk suaminya. Ia sedang penuh semangat untuk bisa dihentikan oleh Yul.
Saking tidak bisa berkata kata, Yul duduk membengong di kursi meja makan. Ia sedang membayangkan masakan seperti apa yang akan dimasak Yebin.
“Oh... harusnya aku tidak mengatakannya.”
**
“Hyung, ada apa denganmu? Kau sakit pencernaan?”
Melihat tingkah aneh kakaknya, Hun segera melontarkan pertayaan. Sejak memasuki bar sepuluh menitan lalu, Yul terlihat aneh. Seperti sedang menahan rasa tidak enak pada pencernaan.
Sore tadi Hun menelepon kakaknya untuk mengajaknya minum bersama di bar. Itu memang agenda rutin mereka setiap dua minggu sekali. Minum bersama. Melepaskan penat dan saling berbagi cerita sebagai adik kakak.
Bisa dibilang, panggilan Hun tadi telah menyelamatkan Yul dari tawaran Yebin untuk makan malam bersama. Yebin menawarkan dirnya untuk memasak makan malam mereka setelah siang tadi merasa ‘sukses’ membuatkan masakan untuk Yul, Meski, pada kenyataannya siang tadi itu Yul hanya berpura pura menikmati makanan Yebin yang sangat asin dan rasanya seperti jamu herbal karena kebanyakan rempah rempah. Yul memaksakan dirnya untuk menelan makanan itu karena paling tidak masan kedua Yebin lebih baik dari masakan pertamanya yang tidak bisa dimakan oleh manusia.
Karena panggilan Hun yang mengajaknya untuk pergi keluar, Yul akhirnya memiliki alasan untuk menolak tawaran Yebin tanpa membuat perasaannya terluka. Ia berkata pada Yebin bahwa Hun sedang bersedih sehingga ia harus segera datang untuk menghiburnya.
“Hm. Pencernaanku sakit. Siang tadi aku tidak bisa makan dengan baik. Semua makanan yang masuk ke mulutku langsung kutelan begitu saja tanpa banyak mengunyah. Sekarang perutku sangat sakit. Aduh....”
Sambil meringis menahan rasa sakit, Yul menceritakan semuanya. Ia memegangi perutnya sambil duduk di atas kursi bar sebelah Hun, berhadapan meja bartender.
"Auhh.... Malang sekali nasipmu. Apa Yebin memasak makanan asin lagi untukmu?" sahut Hun prihatin.
"Tidak hanya asin. Rasanya seperti kamu memakan obat obatan herbal. Sepertinya dia menggunakan terlalu banyak rempah rempah dan sari plum untuk memasak. Rasanya benar benar seperti aku memakan sayuran yang sangt asin yang dicampuri obat herbal China.”
“Uweeekkk!”
Hun yang mendengaran deskripsi makanan itu, langsung merasa mual. Padahal ia hanya mendengarkan. Tak memakannya langsung. Pantas saja, kakaknya itu sampai sakit perut seperti ini, batin Hun.
"Kalau memang tidak bisa memasak, seharusnya kau katakan saja pada Yebin bahwa masakannya itu tidak enak. Dari pada kau sakit perut seperti itu,” rutuk Hun pada kakaknya.
Yul menghela napas. “Bagaimana aku mengatakannya? Melihat ekspresi wajahku yang mengerut saat mencicipi masakannya saja sudah membuat Yebin sangat sedih dan murung. Mana mungkin aku tega mengomentari masakannya itu tidak enak?” balas Yul. Ia masih mengingat dengan baik ekspresi wajah sedih Yebin saat tahu masakannya itu rasanya sangat buruk.
“Ahh... kau itu. Perasaanmu itu terlalu lembek, Hyung. Kau kurang tegas dalam memperlakukan dirimu sendiri dan orang lain.” Hun balas mengkritik sikap kakaknya yang selama ini ia anggap terlalu berperasaan.
“Asal kau tau, aku sudah sangat tegas pada Yebin. Tegas dalam menanggapi kemauannya yang selalu di luar dugaan. Kau hanya tidak tau betapa keras kepalanya Kang Yebin itu. Dia sangat gigih dan keras kepala. Aku sampai tidak tahu apa yagn sebenarnya ia pikirkan itu.” Yul menggumam gumam panjang.
“Tentu aku tahu, betapa keras kepalanya Kang Yebin. Tapi, Hyung... andaikan saja Yebin tidak keras kepala, dia pasti sudah bersamaku.”
Ungkapan Hun yang tidak terduga—dan mungkin ada benarnya—itu seketika membuat Yul terdiam. Ia diam mengamati Hun meneguk alkohol yang beberapa waktu lalu dituangkan ke dalam gelasnya oleh bartander. Wajah Hun terlihat murung. Ia tak seperti Hun yang pandai menyembunyikan emosi dan perasaan.
Mendapati kakaknya itu yang tiba tiba diam, Hun kembali menoleh. Ia merasa ada yang salah dengan ucapannya tadi dan segera menambahi.
“Tidak.... Maksudku, tiba tiba saja aku teringat saat pertama kembali dari Amerika. Kurasa pikiranku sekarang sedang kosong. Maaf, aku tak berniat menyingung hal itu lagi.”
Fakta yang mungkin hampir dilupakan oleh semua orang adalah, bahwa kedua kakak beradik itu pernah terlibat cinta segitiga dengan Kang Yebin. Mulai dari kepulangan Hun dari Amerika. Saat saat di mana terjadi penolakan cinta Yebin terhadal Yul yang nyaris menyebabkan terjadinya perang saudara antara Hun dengan Yul. Yang kemudian semua kisah itu berakhir dengan pernikahan Yebin dengan Yul.
Kisah cinta seperti di negeri dongeng itu kembali terbesit di benak Yul. Membuat Yul dapat menarik satu kesimpulan bahwa adiknya tersayang itu sekarang tidak sedang dalam kondisi yang baik baik saja.
“Kau... apa yang sedang terjadi?” tanya Yul pada adiknya. Ia mengingat satu kebiasaan sang adik itu. “Kau kan selalu mengingat ingat masa lalu saat terjadi masalah di hidupmu. Jadi, apa yang sedang terjadi padamu?”
Selama beberapa saat Hun terdiam. Sebelum akhirnya ia mulai bercerita.
“Hyung... sepertinya aku akan putus dengan Jina.”
Meski merasa terkejut, Yul hanya diam. Ia ingin menengarkan cerita Hun sampai akhir meski sebenarnya banyak sekali yang ingin ia pertanyakan atas keingin Hun putus itu. Padahal, yang Yul ketahui selama ini adalah hubungan mereka baik baik saja.
“... Aku merasa kesepian bahkan saat bersamanya. Hyung, kau pernah merasakannya? Apa kau pernah merasakan hal semacam itu saat bersama Yebin?”
Pertanyaan tidak terduga Hun sempat membuat Yul membingung. Tapi ia menjawab dengan tenang.
“Tidak. Tidak pernah sekali pun aku merasa kesepian saat bersama Yebin. Setiap hari bersamanya aku merasa menjadi seseorang yang baru,” jawab Yul yakin.
“Mungkin itu yang dinamakan cinta sejati. Menjadi seseorang yang ‘baru’ di setiap saat bersama. Tapi, aku tidak merasakannya sama sekali. Justru aku merasa sangat kesepian dan semakin kesepian lagi saat memikirkannya.”
Yul menghela napas. Ia meminta gelas berisi alkohol pada bartender. Mendengar cerita Hun itu, Yul jadi ingin ikut meminum alkohol. Padahal pencernaannya sedang sakit.
Perlahan Yul menyesap alkohol itu ke dalam mulutnya. Lalu menoleh pada Hun.
“Apa kalian ada masalah?” tanya Yul.
Kepala Hun spotan menggeleng geleng.
“Tidak. Kami baik baik saja. Tidak ada masalah apa pun.”
Hun kembali meneguk alkoholnya. Lalu lanjut bercerita. “Aku penasaran kenapa aku merasakan hal itu saat hubunganku dengan Jina baik baik saja. Setelah mengingat ingat kembali, aku menemukan jawaban. Aku yang bersalah. Aku yang menjadi pengecut. Karena aku telah menjadikan wanita sebaik Jina sebagai pelampiasaan cinta tak terbalasku pada Yebin di masa itu.”
Yul menurunkan kedua tangannya seketika mendengar cerita itu. Ia menatap pilu sang adik yang sedang berada dalam masa masa sulit.
“Hyung... boleh aku mengatakan yang sejujurnya padamu?” ucap Hun kemudia.
Entah apa ang ingin diungkapkan oleh Hun, Yul merasa harus mendengarnya. Tentang cerita cinta segitiga mereka di masa lalu. Atau tentang cerita cerita memilukan lainnya yang belum sempat Hun ceritakan pada siapa siapa. Yul harus mendengarnya.
“Baiklah. Katakan saja, Hun-a.”
**