
Author POV
Ini menggelikan sekali, batin Leo yang sedang berjalan keluar dari ruang kerja Yul di Moonlight Coffe. Sebuah kebetulan yang menggelikan. Wanita itu... wanita yang menarik perhatian Leo ketika pertama kali bertemu di Kuba itu, ternyata adalah istri dari pemilik Moonlight Coffe. Fakta bahwa wanita itu sudah menjadi milik seseorang telah membuat hati Leo memiliki luka sayatan. Tetapi kebetulan lain bahwa suami dari wanita itu sebenarnya adalah pemilik Moonlight Coffe, kafe terbesar dan paling terkenal di Seoul dan sekitar itu menambahkan luka sayatan di hati Leo yang telah dihianati mantan kekasihnya.
“Sampai bertemu lagi besok. Kalau ada apa yang perlu di bahas, Anda bisa langsung menghubungi saya atau datang ke kantor saya di Taebaek,” ucap Leo yang bernama asli Lee Jong Ho itu sambil mengulurkan tangan pada Yul.
“Sampai bertemu besok. Saya percayakan proyek itu pada Anda, Leo Park ssi. Tolong kerja samanya,” ucap Yul sambil menyambut uluran tangan Leo. Kedua laki laki itu saling berjabat tangan selama beberapa saat tepat di depan pintu masuk Moonlight Coffe.
Setelah itu, Yul beranjak pergi duluan sambil menerima telepon dari seseorang.
“Sayang? Kau belum tidur? Sudah kubilang, jangan menungguku pulang dan tidurlah dulu.” Sambil berjalan menjauh dari pintu masuk Moonlight Coffe yang masih buka pada malam hari, Yul bercakap cakap pelan dengan istrinya. “Baiklah. Sekarang aku menuju pulang.”
Saat Yul berjalan menjauh sambil meneruskan percakapannya dengan sang istri, Leo masih belum bisa melepaskan pandangan darinya. Tatapan yang mencurigakan itu tidak bisa diuraikan dengan kata kata. Sampai akhirnya Yul melaju pergi menggunakan mobilnya.
Ketika itulah, Leo yang semula hanya terdiam mengamati kepergian Yul, mulai merogoh saku bajunya untuk mengambil ponsel. Ia melakukan panggilan telepon dengan seseorang.
“Halo, aku sudah menemukannya. Pengganti Laura, aku sudah menemukannya. Tapi wanita itu tidak sendirian. Dia sudah bersuami, dan suaminya sedang mengerjakan proyek bersamaku,” ucap Leo sambil berjalan menjauhi pintu masuk. Ia masuk ke dalam mobil sambil meneruskan panggilan teleponnya dengan seseorang.
[Oppa, kau sudah gila? Untuk apa mencari wanita yang sudah bersuami? Di negeri ini masih banyak sekali wanita cantik yang sigle. Mau kucari kan satu untukmu?] sahut wanita di seberang telepon dengan nada suara meninggi karena terkejut.
“Aku tidak membutuhkan wanita wanita bang*sat yang hanya membutuhkan uangku itu. Aku... membutuhkan wanita bermata seperti rembulan itu. Kau tidak usah repot repot mencarikan untukku. Bagaimana pun caranya aku akan mendapatkan wanita itu. Meski tidak mudah, aku akan mendapatkannya dengan caraku.”
[Oppa, sadarlah! Jangan merusak wanita yang sudah bersuami. Jangan merusak rumah tangga orang lain. ibu dan ayah sudah cukup menderita karena tingkah mu selama ini. jadi jangan semakin membuat keluarga kita hancur karena keinginanmu memiliki wanita itu.]
Terdengar suara dari sang wanita di seberang telepon yang tidak lain adalah adik kandung dari Leo Park. Ia memarahi kakak laki lakinya yang memiliki niat busuk menghancurkan rumah tangga orang lain.
“Kau tidak usah ikut campur, adikku sayang. Karena itulah aku memberi tahu mu sekarang. Jangan adukan apa pun pada ayah dan ibu jika kau tidak ingin mereka terkena serangan jantung lagi. Aku sudah mengumpulkan banyak uang selama ini. Aku sudah bisa menggunakan semua uangku itu untuk hidup di luar negeri bersama wanita yang telah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama itu.”
[Oppa, jangan melakukannya. Jangan melakukannya, Opp—]
Tanpa menunggu sang adik menyelesaikan kalimat, Leo sentak mematikan panggilan teleponnya dengan sang adik. Ia melemparkan headset bluetooth yang sesaat lalu ia gunakan untuk berbicara dengan adiknya. Lantas tersenyum menyeringai.
“Kang Yebin... aku akan mempertaruhkan segalanya untuk mendapatkan mu. Tunggu saja aku.”
***
YUL POV
Rumor yang kudengar di antara para pebisnis sepertiku kurasa memang benar. Bahwa konsultan ahli bernama Leo Park itu berlaku seenaknya sendiri dan sering mengejutkan kliennya. Seperti yang terjadi hari ini. Di mana ia tiba tiba datang ke rumahku tanpa menghubungiku terlebih dahulu. Terlebih dari itu semua, ini adalah hari minggu. Hari di mana harusnya aku menikmati waktu luang bersama istriku yang cantik di rumah. Namun kedatangannya yang tiba tiba itu membuatku sedikit merasa tidak nyaman. Tetapi bagaimana pun juga aku harus menerimanya sebagai tamu. Ia adalah orang yang ku butuhkan untuk kelanjutan proyek Moonlight Retail yang masih di tahap perencanaan.
Bisa jadi, yang ingin dibicarakannya itu adalah hal yang benar benar mendesak. Tidak ada salahnya aku menerimanya sebagai tamu. Selain itu, aku juga harus menjaga sopan santunku kepada orang yang akan banyak membantuku di Moonlight Retail. Menjaga sopan santunku sebagai pemilik Moonlight Coffe—kafe yang dengan susah payah kupertahankan dan kuselamatkan dari semua rumor buruk yang pernah terjadi gara gara kasus yang melibatkan managernya.
“Silakan masuk, Leo ssi.”
Aku mempersilakan lelaki itu masuk ke dalam rumahku. Yebin yang berdiri di sebelahku ini langsung menepuk bahuku dan berbisik.
“Oppa, kenapa orang itu datang di hari minggu seperti ini? Apalagi datang ke rumah kita,” bisiknya lirih di dekat telingaku.
Aku sontak menggeleng geleng menjawab pertanyaan Yebin. “Aku juga tidak tahu. Dia datang tanpa memberi tahuku sama sekali.”
“Hhssh, orang itu benar benar. Apa perlu kutendang kakinya supaya bisa bersikap sedikit lebih sopan?” gumam lirih Yebin yang sepertinya sudah merencanakan tindakan kriminal untuk lelaki itu.
“Sudahlah, cepat buatkan teh. Bagaimana pun, dia tamu kita.”
Begitu mendengar pintaku, Yebin berjalan menuju dapur untuk membuatkan teh. Sedangkan aku mengikuti Leo Park berjalan menuju sofa ruang tamu. Duduk berhadapan dengan laki laki itu seperti seorang pemilik rumah yang baik, yang menjamu tamunya dengan baik. Leo Park yang berhadap hadapan denganku itu tampak sedang sibuk mengamati seisi rumahku. Menelusuri setiap sudut dalam ruangan dan mengamatinya baik baik.
“Wah, Anda itu seorang seniman?” tanya tiba tiba setelah selesai melihat lihat seisi rumahku.
“Sentuhan arsitektur rumah Anda ini sangat unik. Hanya orang yang tahu banyak tentang seni yang memiliki karakteristik unik seperti di dalam rumah Anda ini,” jelasnya singkat.
“Tapi yang mendesain rumah ini adalah arsitek. Saya membelinya tanpa ikut mendesain arsitektur ruangan,” sanggahku.
Lalu ia kembali menatapku. “Arsitek hanya mendesain bentuk rumah dan bagian interiornya saja. selebihnya itu, pemilik rumah itu sendiri yang mendekorasinya. Yang saya maksud itu, karakteristik rumah Anda ini sangat unik dan kaya akan nilai seni. Mulai dari perpaduan warna car dinding dan semua perabot sampai hal hal yang detail seperti lampu dan furnitur. Hanya seniman seniman hebat yang akan memakai perpaduan warna yang cukup ekstrem seperti warna warna dalam rumah Anda ini,” jelas Leo park sambil menatap pada beberapa bagian ruangan. Menatap perabotan rumah, warna dinding, karpet, dan semua lukisan yang terpajang di dinding.
Merasa bisa menerima semua argumannya, kepalaku ini hanya termanggut manggut. Saat itu aku menyadari kalau Yebin yang selesai membuatkan teh untukku dan untuk Leo Park, telah duduk di sofa sebelahku.
“Datang ke rumah orang di hari Minggu untuk membicarakan bisnis, Anda ini orangnya sopan sekali ya?” yebin yang sedair tadi terlihat tak senang akan kedatangan Leo Park, melontarkan sindiran pada Leo Park yang sedang menyesap teh hangatnya.
Aku yang merasa Yebin sedikit berlebihan menanggapi kedatangan Leo Park, langsung menyenggol lengannya. Lalu memberinya tatapan untuk berhenti melontarkan sindiran pada lelaki itu.
Tetapi Park Leo yang mendapat sindiran itu dari Yebin, tampak tenang sambil menyesap teh hijaunya. Kemudian tersenyum hangat sembari melemparkan tatapan yang tidak biasa kepada Yebin.
“Setidaknya saya tahu cara mengetuk pintu. Lagi pula, tidak hanya waktu kebersamaan kalian di hari minggu yang terganggu karena kedatangan saya. Tetapi waktu di akhir pekan saya juga tersita banyak karena mengurusi proyek bersama Tuan Moon Yul. Sebenarnya saya tidak berencana mengatakan ini, tetapi saya rasa Anda harus tahu. Bahwa sebelum kemari saya ditawari pekerjaan lain oleh pesaing besar Moonlight Coffe. Tuan Moon Yul pastinya tahu siapa pesaing terbesar Moonlight Coffe. Mereka menawari saya pekerjaan dengan gaji dua kali lipat karena mereka tahu kalau Anda sedang memiliki rencana mengembangkan bisnis Anda di bidang lain. Tapi, saya menolak tawaran gaji dua kali lipat itu dan memilih datang kemari di sela waktu akhir pekan saya yang sangat berharga ini.”
Hawa di ruang tamuku ini menjadi sangat dingin sedingin embusan angin bulan Desember. Sepertinya ia cukup tersinggung gara gara sindiran Yebin sebelumnya. Aku yang merasa tidak nyaman sebagai tuan rumah, merangkul bahu Yebin lalu mencairkan suasana.
“Sepertinya istri saya yang cantik ini sedikit sensitif sejak pagi. Tolong maklumi sikapnya. Itu bukan berarti Anda tidak bisa datang ke rumah kami karena permasalahan bisnis,” ucapku. Yang seketika mendapat protes dari Yebin. mulutnya mengomel ngomel tanpa suara sambil menatapku. Aku hanya memberi isyarat padanya untuk berhenti membuat tamu kami ini semakin tidak nyaman.
“Benar, istri Anda memang cantik.”
Leo Park menggumam sangat pelan saat aku masih sibuk berdebat menggunakan tatapan san isyarat mulut dengan Yebin. sehingga ia tak begitu kudengarkan. Hingga beberapa detik setelah itu Yebin menuruti permintaanku untuk diam tanpa ikut menceletuk.
“Apa yang ingin Anda bicarakan, Leo ssi? Langsung pada intinya saja,” kataku pada Leo Park yang tampak sedang menyesap kembali teh hijaunya.
“Saya hanya ingin tahu apakah Anda sudah memilih produk apa yang ingin Anda perjual belikan di Moonlight Retail yang ingin Anda kembangkan itu. Jika belum, saya memiliki beberapa saran yang mungkin bisa menjadi pertimbangan.” Leo Park menjelaskan maksud kedatangannya.
Yebin yang duduk di sebelahku, memperhatikan lebih dari apa pun pembahasan antara aku dengan Leo Park. Sepertinya ia tak hanya sekadar mendengarkan. Tetapi juga menyusun strategi untuk bisa membujukku menyerahkan tugas sebagai pemilik kafe padanya. Itu yang diinginkan Yebin saat ini. Ia ingin mengambil alih Moonlight Coffe, mengambil alih semua pekerjaan dan tanggung jawabku di sana, dan memintaku untuk kembali melukis. Namun itu bukan keputusan yang mudah. Bagaimana pun, aku adalah kepala keluarga. Sudah seharusnya aku yang menanggung beban sebesar itu untuk menafkahi keluargaku dan tetap memimpin Moonlighr Coffe.
“Sebenarnya saya sudah mempertimbangkan beberapa pilihan. Yang sekiranya cocok dengan konsep Moonlight Coffe, saya mempertimbangkan untuk membuka bisnis retail di bidang kosmetik atau produk produk makanan ringan yang banyak disukai anak muda. Karena pelanggan Moonlight Coffe sendiri itu kalangan anak muda sampai dewasa. Jadi pertimbangan saya ada pada target pasar dan peluang marketnya.”
Leo Park mengangguk anggukkan kepala mendengar usulanku. Lalu ia memperbaiki posisi tubuh untuk lebih condong ke depan. Terlihat lebih serius dari yang sebelumnya.
“Jadi yang Anda jadikan pertimbangan itu target pasar dan peluang marketnya. Kalau begitu, kenapa tidak mencoba membuka bisnis retail di bidang fashion saja? Kalau dilihat dari peluang pasar maupun target pembeli, sepertinya fashion lebih menjanjikan. Atau mungkin bisa digabungkan antara kosmetik dengan fashion, karena kedua hal itu tidak terpisahkan dari kehidupan anak muda. Anak muda jaman sekarang sangat memperhatikan makanan dan suka berdiet. Jadi dibanding makanan ringan, kosmetik atau pun fashion memiliki peluang pasar yang lebih besar,” jelas Leo Park panjang lebar.
Tetapi kepalaku menggeleng geleng.
“Kalau fashion... sepertinya tidak bisa. Istri saya memiliki bisnis di bidang fashion yang cukup berkembang dan banyak dikenal oleh masyarakat khususnya Seoul. Tidak mungkin kan saya membuka bisnis di bidang fashion dan menjadi pesaing bisnis istri saya sendiri,” sanggahku.
Leo Park yang mungkin pertama kali mendengar hal itu tampak terkejut. “Jadi istri Anda ini, maksudnya Nyonya Moon ini bisnisnya di bisang fashion?” tanyanya.
“Saya pemilik Biniemoon dan yang mendirikannya,” sahut Yebin. Ia mulai masuk dalam pembicaraanku dengan Leo Park. “Mungkin Anda sudah pernah mendengar tentang portal belanja online Biniemoon.”
Lelaki itu tampak semakin terkejut mendengar celetukan Yebin. tatapannya pada Yebin seketika itu berubah. Membuatku sedikit tidak nyaman dengan caranya menatap istriku.
“Ooh, Nyonya Moon itu yang memiliki Biniemoon? Saya ini pelanggan setia Biniemoon lho! Pakaian yang saya pakai ini, jam tangan, dan tas saya ini, saya membelinya di Biniemoon sekembalinya dari Kuba. Jadi Anda pemilik Biniemoon? Menarik sekali, kebetulan apa lagi ini? Anda hebat sekali, Nyonya Moon. Saya pikir pemilik Biniemoon itu orang asing, ternyata Anda.”
Mendengarnya memuji muji istriku, juga membuatku tidak nyaman. Apalagi saat melihat lelaki itu memperlihatkan senyum aneh seperti pejantan yang ingin menarik perhatian lawan jenisnya. Membuatku benar benar tidak nyaman. Tidak berhenti sampai di sini saja, tetapi lelaki itu kembali memuji istriku dengan niat terselubung yang sudah jelas tertulis di jidatnya.
“Tidak hanya cantik, ternyata istri Anda itu juga orang yang hebat. Anda pasti bahagia sekali menikahi perempuan hebat dan memesona seperti Nyonya Moon Yebin ini,” desusnya sambil memperlihatkan senyum penuh feromon dengan seringaian di sudut matanya yang tajam. Menatap Yebin dengan tatapan yang sungguh membuatku tidak nyaman.
***