
Yul buru-buru turun dari mobil setibanya di halte dan mendapati Yebin yang sedang digandeng Minho. Pria tiga puluhan yang baru memarkirkan mobilnya di pinggir jalan itu berjalan cepat menghampiri Yebin. Melepas tangan kedua manusia yang sedang bergandengan tersebut. Menarik lengan Yebin yang seketika membuatnya berbalik.
“Ajeossi!” Yebin memekik kagat melihat Yul menarik tangannya. Laki-laki di sebelahnya, Minho, membelalakkan mata melihat keberadaan Yul. “Apa yang kau lakukan di sini, Ajeossi?” lanjut Yebin bertanya.
Napas Yul yang mencepat mengisyaratkan kekhawatiran. Raut wajah pria berlesung pipt itu mengeras. Ia menarik Yebin mendekat. Menatap tajam Minho yang memanik melihat Yul.
“Apa kau belum kapok setelah kuberi pelajaran karena membahayakan nyawa Heejin? Dan sekarang kau mengencani Yebin untuk kau manfaatkan?”
Raut wajah Yul terlihat kaku saat mengatakan kalimat tajam itu kepada Minho. Wajah Minho yang perlahan mulai memucat, menatap ke arah Yebin. Laki-laki itu menggosok-gosok lehernya karena panik.
“Ye... Yebin~a.”
“Apa maksudmu, Ajeossi?” Yebin yang melihat wajah panik Minho seketika itu mencetus. Ia melepaskan cengkeraman tangan Yul dan kembali memprotes. “Sepertinya kau salah orang, Ajeossi. Kak Minho tidak seperti itu. Dia tidak pernah membahayakan nyawa seseorang dan kami berkencan karena saling mencintai. Apa yang sebenarnya Ajeossi itu lakukan?”
Secara naluriah Yebin melindungi Minho, kekasihnya. Ia beranjak menjauh dari Yul. Berdiri di depan Minho seolah menghalangi Yul yang seperti ingin memukulnya.
“Dia bukan laki-laki baik, Yebin~a. Dia mengencanimu untuk mengambil semua yang kau miliki. Begitu pun yang terjadi pada Heejin,” jelas Yul.
Yul masih mengingat dengan baik kejadian enam bulan lalu. Di mana wanita bernama Heejin, yang telah dianggap Yul sebagai adiknya sendiri, ditidurkan dengan obat bius oleh Minho. Lalu dirampas semua barang berharga milik Heejin. Termasuk kalung berlian peninggalan ayahnya. Malam itu Haeri mencari Yul dan menangis. Kalung berlian yang dimiliki Heejin itu adalah satu-satunya barang berharga yang ditinggalkan ayah. Haeri yang panik pun menjumpai Yul. Meminta laki-laki itu mengambil kembali kalung berlian dari tangan Minho. Juga memberi pelajaran pada Minho yang telah membahayakan nyawa Heejin dengan obat bius.
Dari peristiwa itu Yul mengingat dengan baik wajah Minho yang dihajarnya. Yul memukuli Minho lalu memberinya sejumlah uang sebagai kompensasi. Dari peristiwa itu juga, Minho yang tahu kalau Yul adalah pemilik Moonlight Coffe, tidak pernah datang ke kafe itu lagi. Bahkan ketika Yebin bersikeras ingin mengajaknya ke Moonlight Coffe, Minho selalu menolak dengan berbagai alasan.
Tidak memedulikan siapa wanita bernama Heejin yang dibahas Yul, Yebin menanggapi. “Ajeossi harusnya tahu kalau aku Kang Yebin, bukan wanita yang kau bicarakan itu. Dan Kak Minho tidak seperti yang kau bicarakan. Berhentilah beromong kosong dan jangan menganggu kencanku.”
“Kang Yebin!” Yul pun membentak. Ia kembali menarik tangan Yebin untuk menjauh dari laki-laki yang tersenyum sinis kepada Yul itu.
Di belakang tubuh mungil Yebin, Minho menyeringai. Membuat kepala Yul terasa semakin panas. Ia menatap geram ke arah Minho sebelum akhirnya Yebin ikut berteriak.
“Sudahlah, Ajeossi.” Yebin sontak ikut terpancing kemarahannya melihat sikap Yul yang seperti ini. “Ajeossi tidak perlu ikut campur urusan pribadiku. Urusi saja hidupmu sendiri dan Moonlight Coffe. Jangan menuduh orang sembarangan. Dan jangan menghalangi kencanku.”
Yebin menyentakkan tangannya. Merasa benar-benar marah kepada Yul yang bersikap seenaknya sendiri.
“Kang Yebin, dengarkan aku kali ini. Jangan bertemu laki-laki itu. Dia bukan laki-laki baik seperti yang kau kenal,” desah putus asa Yul.
Sebenarnya pria itu tidak ingin bertindak sejauh ini untuk Yebin. Tetapi dadanya terasa sesak setiap kali memikirkan Yebin yang berada dalam bahaya karena Minho. Yul menyadari dirinya yang menjadi satu-satunya lelaki dewasa di sekitar Yebin. Yebin yang hanya hidup berdua dengan ibunya, membutuhkan satu pria yang bisa dijadikan sandaran. Dan Yul, yang telah mengenal baik Yebin dan juga ibunya, merasa harus menjaga kedua wanita itu. Seperti Miyoon yang selama ini memperlakukannya Yul seperti anggota keluarga. Yul pun ingin memperlakukan Miyoon dan Yebin seperti keluarganya sendiri. Karena pria itu tahu sopan santun dan tahu bagaimana harus bersikap dengan bijak.
Napas panjang terhela ke dalam perut Yebin. Menatap kesal ke arah Yul yang sudah bersikap berlebihan.
“Ajeossi perlu tahu. Aku bukan anak kecil. Berhenti memperlakukanku seperti wanita yang dungu. Memang benar kau memperlakukan aku dan ibuku seperti keluarga. Tapi kau juga harus tahu batasan.” Yebin mengakhiri kalimat tegasnya. Ia berbalik dan meraih tangan Minho untuk diajaknya pergi. “Ayo kita pergi, Kak.”
Tanpa menunggu lama Yebin mengajak lelaki itu segera pergi. Minho yang merasa puas karena perlindungan Yebin, menoleh ke belakang. Menatap Yul dengan seutas senyum seringaian di bibir.
Yul segera mengalihkan pandangannya dari Minho. Ia merasa benar-benar geram pada lelaki itu. Namun tak bisa berbuat apa-apa karena Yebin yang melindunginya. Yul telah memprediksi hal ini akan terjadi. Bahwa Yebin yang berkepala batu tidak akan mau mendengar perkataannya. Bodohnya, perasaan Yul tetap merasa khawatir walau tahu wanita yang dicemaskannya tidak peduli.
“Hah... entahlah! Aku sudah melakukan sebisanya.” Yul mendesah panjang sambil berlalu meninggalkan tempat. Masuk ke dalam mobil. Melesatkan mobilnya menjauhi halte. Menuju sebuah tempat yang mungkin bisa meredakan kecemasannya.
***
Yul berjalan pelan di atas lantai marmer yang memantulkan cahaya keemasan dari lampu ruangan. Melangkah dengan sangat perlahan menyusuri dinding tempat lukisan-lukisan yang dibuatnya dipajang.
Ini adalah galeri seni milik Yul. Sejauh ini tidak banyak orang yang tahu tentang galeri seni ini. Mungkin hanya orang-orang terdekat Yul yang mengetahui laki-laki itu memiliki galeri seni yang berisi lukisan-lukisan beragam jenis. Di bagian utama ruangan besar ini, ada satu lukisan besar yang dipenuhi perlindungan kaca. Itu adalah lukisan ‘Dunia Gelap Berbintang’ karya dari pelukis legendaris Korea Selatan, Moon Jiwook. Yul sengaja menempatkan lukisan yang dibuat ayah untuknya itu di bagian tengah galeri seninya.
Moon Jiwook, ayah Yul, merupakan seorang pelukis legendaris Korea yang karyanya digandrungi banyak orang. Selain karena karya-karya lukisannya itu unik dan sangat khas, Jiwook terkenal sebagai pelukis yang dermawan. Ia melelang beberapa karya-karya lukisan yang dibuatnya selama lima tahun terakhir. Lalu mendirikan yayasan untuk anak yatim piatu dan panti jompo menggunakan uang hasil lelangan itu. Jiwook dikenal semua orang sebagai seniman yang dermawan dan memiliki karya spektakuler yang diminati banyak masyarakat sampai ke mancanegara.
Dalam sebuah kecelakaan tragis lima tahun lalu Jiwook mengembuskan napas terakhirnya. Ia meninggal bersama sang istri yang merupakan seorang pemilik kafe besar di Seoul, Moonlight Coffe. Kabar kepergian sepasang suami istri itu cukup menggemparkan di seluruh penjuru negeri. Semua lapisan masyarakat turut merasa kehilangan atas meninggalnya sosok seniman lukis yang terkenal itu.
Semua orang ikut berduka terhadap kepergian Jiwook. Orang-orang terdekat Jiwook, termasuk Yul dan adiknya, mendirikan galeri seni ayah beberapa bulan setelah pemakaman. Galeri seni itu dibuat untuk mengenang karya-karya dari Pelukis Moon Jiwook. Berisi lukisan-lukisan klasik dan kontemporer yang dipoles dengan indah oleh Pelukis Moon. Galeri yang dikelola oleh keluarga dari ayah Yul itu sampai kini masih dibuka pada hari Jumat-Sabtu. Selalu ramai pengunjung dan sering dijadikan tempat syuting acara drama maupun film.
Lukisan berjudul ‘Dunia Gelap Berbintang’ itu merupakan lukisan terakhir Jiwook yang dipersembahkan untuk Yul sebelum kematiannya. Diantara kedua putranya, Yul dan Hun, yang mengaliri darah seniman Jiwook adalah Yul. Sejak kecil laki-laki itu suka melukis dan belajar melukis bersama sang ayah. Sedangkan Hun, yang sekarang ada di Amerika untuk menjalankan pelatihan hakim selama setahun setelah lulus sekolah hukum di sana, sama sekali tidak berminat di bidang seni maupun bisnis. Mimpinya sejak kecil adalah menjadi hakim. Dan mimpi itu sekarang telah digapai Hun yang sekarang menjalankan pelatihan hakim di peradilan Amerika Serikat.
Melukis adalah separuh dari jiwa Yul. Ia suka melukis dan kepalanya selalu terisi gagasan-gagasan yang hanya dapat diluapkannya dalam bentuk lukisan. Yul sejak kecil bermimpi menjadi seorang pelukis seperti ayahnya. Tetapi, mimpi itu terpaksa Yul kubur dalam-dalam karena ibu Yul yang seorang pebisnis memasrahkan Moonlight Coffe kepada Yul. Itu adalah pesan terakhir ibu Yul sebelum kepergiannya. Dan sebagai kakak, Yul harus mengalah untuk meneruskan bisnis kafe ibunya. Yul tidak mungkin memasrahkan Moonlight Coffe kepada Hun yang belajar begitu keras untuk menjadi hakim.
Pada akhirnya Yul hanya bisa mengurungkan mimpinya menjadi pelukis terkenal seperti sang ayah. Ia kini menjadi seorang pebisnis yang memiliki hobi melukis. Sekalipun Yul memiliki karya dan memiliki galeri seni, itu hanya berakhir menjadi karya pribadinya. Pun galeri seni yang ia bangun hanya sebatas ruangan pribadi yang hanya dapat dimasuki Yul dan orang-orang terdekatnya. Gagasan Yul yang luapkannya dalam bentuk lukisan itu hanya dapat dinikmati oleh orang-orang tertentu saja. Tanpa ada orang lain yang melihat.
Yul berhenti di depan sebuah lukisan bernuansa ungu. Dalam keheningan ia mengamati dua bocah lelaki yang berada di tengah ladang bunga lavender. Dua bocah lelaki dalam lukisan yang tidak lain adalah Yul dan adik laki-lakinya—Hun—itu sedang mengamati terbitnya fajar di tengah hamparan bunga lavender. Yul mengungkapkan rasa rindunya kepada Hun melalui lukisan yang dipolesnya. Seolah sedang berangan-angan tentang dirinya bersama Hun beberapa puluh tahun ke belakang. Ketika keduanya masih kecil dan sering menghabiskan waktu bersama layaknya saudara kembar.
Lukisan itu dibuat Yul pada pertengahan musim semi dua tahun lalu. Saat ia benar-benar merindukan Hun yang sedang bersekolah hukum di Amerika. Malam ketika Yul membuat lukisan itu adalah malam pada hari peringatan meninggalnya orang tuanya. Yul merasa sangat kesepian setelah melakukan upacara peringatan meninggalnya ayah dan ibu. Ia melukis untuk mengusir rasa sunyi itu. Melukis dua bocah lelaki yang tidak lain ia dan adiknya untuk menutupi kepedihan hati yang meretih pada hari itu.
“Kau di sini rupanya. Pantas saja rumahmu kosong.”
Suara seorang wanita dari arah belakang seketika membuat Yul berbalik. Ia tersenyum tipis menyambut kedatangan Haeri.
“Kau tadi ke rumahku?” tanya Yul.
“Tentu. Aku ke rumahmu. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Dan aku sudah menduga kalau kau pasti sedang ada di galeri seni.” Haeri menanggapi.
Sembari kembali membalik tubuh untuk melihat beberapa lukisan lain dalam galeri seninya, Yul berbicara. “Aku datang kemari karena merasa bosan. Ajeossi yang jomblo sepertiku ke mana lagi akan menghabiskan malam akhir pekan?” Ucapan Yul yang terdengar seperti helaan napas panjang.
“Apa maksudnya Ajeossi? Kau masih pantas dipanggil Oppa (panggilan kakak oleh perempuan yang lebih muda. Bisa juga dijadikan panggilan sayang),” canda Haeri yang seketika membuat Yul terkekeh-kekeh.
Selagi masih terkekeh Yul menanggapi, “Aku akan senang jika ada yang memanggilku Oppa.”
Merasa ada sesuatu yang hendak Haeri katakan sampai mencarinya kemari, langkah Yul pun berhenti. Ia menolehkan tubuh kepada Haeri di sebelah yang terlihat sedang mengamati lukisan-lukisan di dinding.
“Ada apa? Kau ingin mengatakan sesuatu kan?” tanya Yul yang seolah sedang membaca raut wajah Haeri yang sedang tersenyum ceria.
Kepala Haeri menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran di mana kau menghabiskan malam akhir pekanmu sendirian. Sekaligus mau memastikan suatu hal yang sulit kupercaya.”
Kening Yul mengernyit. “Sesuatu yang sulit dipercaya? Apa maksudmu?”
Sembari menguntai senyum aneh Haeri mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Memainkan jemarinya yang lentik di atas layar ponsel. Kemudian memperlihatkan sebuah foto kepada Yul.
“Apa ini benar dirimu? Yang menjadi model di situs belanja Biniemoon?”
Yul menghela napas pajang melalui mulut. Wajahnya seketika itu tersipu melihat fotonya terpajang di situs belanja online Biniemoon.
“Jauhkan itu dariku. Aku benar-benar malu melihatnya!”
Yul mengayunkan tangannya. Meminta Haeri menjauhkan ponselnya dari hadapan Yul. Pria itu benar-benar malu melihat fotonya terpajang internet.
“Jadi ini benar dirimu?”
Haeri yang terkejut pun terkekeh melihat tingkah laku Yul. Padahal Yul terlihat tampan dan karismatik dalam foto itu. Entah apa yang membuatnya malu pada fotonya sendiri.
Sebenarnya Haeri telah melihat foto itu di portal Biniemoon sejak beberapa hari lalu. Tetapi ia merasa belum yakin dan hanya berpikiran kalau model pria di situs belanja itu bukanlah Yul, melainkan orang lain yang terlihat mirip seperti Yul. Pasalnya Yul bukanlah pria yang akan bersedia fotonya dipajang di internet dan dilihat banyak orang. Yul adalah lelaki yang gampang merasa risi dan malu untuk eksis di hadapan orang banyak. Apalagi di internet yang bisa dilihat ratusan orang dalam sehari.
“Wah, apa yang terjadi padamu, Yul~a? Aku sama sekali tidak menyangka kau akan menjadi model. Kau bahkan tidak mau saat hendak difoto untuk promosi kafemu. Bagaimana ceritanya kau bisa menjadi model di portal belanja Biniemoon?” Haeri yang benar-benar tak menyangka, lanjut menanyai Yul. Ia sungguh terkejut saat meyakini seratus persen laki-laki model itu adalah Yul.
“Ceritanya sangat panjang. Aku tidak bisa menceritakannya,” desus Yul. Wajahnya tetap tersipu melihat fotonya yang masih terpampang di ponsel Haeri.
“Benarkah?” sahut Haeri. Ia menutup ponselnya. Memasukkanya kembali ke dalam tas. “Kau terlihat tampan di foto itu. Sepertinya kau berbakat menjadi model sekelas Kim Woobin dan Ahn Jaehyun.”
“Jangan bercanda!” tukas Yul. Ia memicingkan mata menatap Haeri yang sedang mengejeknya. “Kim Woobin apanya? Aku hanya melakukannya karena dipaksa.”
Merasa puas mencandai Yul, Haeri berjalan menelusuri lukisan-lukisan di dinding. Wanita yang menyukai seni itu menyebarkan pandangan ke sekeliling.
“Sekarang kau jarang melukis. Aku hanya melihat tiga lukisan baru selama beberapa pekan terakhir,” kata Haeri.
“Aku sedang sibuk mengurusi pembangunan cabang kafe Mapo. Jadi baru tiga lukisan itu yang kuselesaikan. Saat memiliki waktu sedikit luang aku hanya menggambar sketsa.” Yul menanggapi sembari mengikuti langkah pelan Haeri.
“Siapa wanita ini? Aku merasa pernah melihatnya.” Haeri bertanya saat melihat lukisan wajah Yebin yang seminggu lalu dilukis Yul.
Wanita itu berhenti tepat di depan lukisan wajah Yebin untuk mengingat-ingat wajah cantik di lukisan itu. Haeri merasa pernah melihatnya. Entah di suatu tempat dan entah itu kapan.
Setelah mengembuskan napas panjang Yul menjawab. Tatapan sendunya menatap wajah cerah Yebin.
“Dia adalah wanita yang sangat keras kepala. Yang membuatku selalu khawatir.”
“Wanita yang keras kepala? Siapa?”
Yul menoleh menatap Haeri yang penasaran. “Ada, wanita seperti itu. Dia yang memaksaku menjadi model.”
Haeri terkekeh. “Jadi, wanita keras kepala itu yang menjadikanmu model? Wah, dia pasti wanita yang hebat. Bisa menjinakkan lelaki sepertimu.”
“Memang apa yang salah denganku?” Yul menyahut. Ia tidak mengerti apa maksud ucapan Haeri dengan berkata ‘lelaki sepertimu’.
“Ya. Lelaki yang tangguh sepertimu. Yang seolah bisa melindungi seisi dunia melalui genggaman.”
Alis Yul mengernyit mendengar ucapan Haeri yang tidak begitu jelas.
Drrtttt.
Ponsel Yul di dalam saku bergetar. Segera pria itu merogoh ponsel. Menjawab telepon dari seorang teman yang masuk.
“Seyun~a, ada apa?” sahut Yul begitu teleponnya tersambung dengan seorang teman prianya yang bernama Seyun.
Beberapa waktu Yul terdiam mendengar temannya itu berbicara. Raut wajah Yul dalam sekejap berubah selesai ia mencerna ucapan Seyun di seberang telepon.
Dengan raut wajah yang mengeras dan berubah tajam, Yul menanggapi, “Yebin? Kau melihatnya di mana?”
***