
Bab 17
Sikap tidak masuk akal pertanda rasa sayang
“Totalnya 5600 won.”
Di balik meja kasir Lysa sedang sibuk melayai para pelanggan kafe yang sedang melakukan pembayaran. Ia berhadapan dengan pelanggan kafe. Menerima uluran uang won dan mengembalikan dengan beberapa uang receh lalu memberikan struk pada pelanggan tersebut.
“Ya, terima kasih.”
Ini adalah hari ketiga Lysa bekerja di Moonlight Coffe. Gadis itu melakukan pekerjaan di sela sela jadwal kuliahnya. Juga mengambil waktu full di akhir pekan untuk mendapatkan penghasilan lebih dari kafe. Karena ia dibayar berdasarkan jumlah jam ia bekerja di Moonlight Coffe yang semua nanti akan diakumulasikan setiap minggu dan mendapatkan bayaran pada setiap akhir bulan.
Untung saja ia mengikuti sesi pelatihan di Moonlight Coffe dengan giat dan sungguh sungguh. Sehingga semua pelajaran yang diajarkannya selama pelatihan selalu teringat di benak Lysa dan membuatnya dapat melakukan pekerjaan dengan baik. Sampai hari ketiga ini, ia belum melakukan satu kesalahan pun. Ia bekerja dengan sangat baik. Namun ada beberapa teman bekerjanya yang juga merupakan pekerja baru, beberapa kali melakukan kesalahan hingga harus dimarahi oleh asisten manajer yang menghendel semua pekerjaan Mino di kafe dan bertugas untuk mengawai semua pegawai kafe di distrik ini.
Pekerjaan Lysa dirasa cukp menyenangkan. Memang melelahkan sih, tetapi ia tetap merasa senang melakukan pekerjaan ini. Meracik kopi dan membungkusnya. Mencatat pesananan minuman dan menggunakan alat pembayaran untuk bertugas di kasir. Kalau sedang berganti pekerjaan, ia yang mengantarkan pesanan minuman pada pelanggan kafe dan mengelap meja meja di dalam kafe menggunakan kain lap dan alat penyemperot.
Cukup melelahkan memang. Apalagi ia melakukan pekerjaan ini di sela sela kuliahnya yang padar. Ia harus pintar membagi waktu antara kuliah, bekerja paruh waktu, mengerjakan tugas kuliah, dan tentunya beristirahat. Sehingga pada malam hari, ketika ia medapatkan shift malam sampai pukul sepuluh, begitu sampai asrama ia akan langsung tepar sampai pagi. Tubuhnya sangat kelelahan. Namun ia tetap semangat menjalani hari berikutnya dengan rutinitas yang kurang lebih sama.
Menyenangkannya adalah karena Lysa bisa bertemu dengan banyak orang di kafe. Lysa adalah orang dengan kepribadian yang memiliki kecenderungan ekstrovert. Sehingga ia suka berbaur dengan banyak orang, melakukan interaksi dan bersosial. Sedangkan pekerjaannya di sini membuatnya sering bertemu dengan orang orang baru dan berhadapan dengan banyak orang dari kalangan mahasiswa sampai kalangan pekerja (mengingat kafe ini berdiri di tengah pusat industri dan sekolah). Jadi sanga wajar kalau pengunjungnya terdiri dari mahasiswa kampus Lysa dan juga orang orang pekerja dari kantor yang berdiri di sekeliling kafe.
Saat Lysa masih sibuk melakukan pekerjaannya di kasir, seorang datang. Laki laki berkaca mata yang hendak melakukan pembayaran minuman itu berdiri tepat berhadap hadapan dengan Lysa yang terlihat sibuk.
“Jadi selama ini kau sudah bekerja rupanya. Pantas saja aku jarang sekali melihatmu di kampus.”
Benar sekali. Suara berat yang datang dari seorang laki laki berkaca mata itu tidak lain adalah Brian. Sudah lebih dari satu minggu Lysa tidak melihat laki laki itu, sengaja menghindarinya dan tidak mau peduli. Namun, sekarang keduanya dihadapkan sebagai pelayan kafe dan pembeli. Sudah sepatutnya Lysa memperlakukan Brian dengan sopan.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Lysa sopan dengan melakukan penekanan pada kata ketika ia mengucapakan ‘Tuan’.
Kening Brian mengernyit tak senang. Sungguh aneh medengar Lysa yang biasa memanggilnya Sam itu kini menyebutnya sebagai Tuan.
“Kau masih marah padaku karena peristiwa itu, Lysa?” tanya Brian tidak tahu diri. Padahal lelaki itu tahu kalau Lysa sekarang sedang bekerja. Kenapa ia membahas hal hal pribadi di saat antrean di belakangnya saja masih panjang.
Lysa hanya menghela napas panjang. Lalu berkata dengan legas, namun jangan melupakan senyuman di bibirnya yang terlihat sekali dibuat dbuat dan penuh kepalsuan.
“Tuan, kalau Anda tidak mau membeli, silakan pergi saja. Antrean di belakang Anda masih panjang. Jadi sampai kapan Anda akan membuat orang orang tidak bersalah di belakang itu menunggu dengan tidak berguna?” celetuk Lysa tajam kepada Brian di hadapan. Seketika itu juga Brian menoleh ke belakang. Mendapati antrian panjang di belakang punggungnya.
“Ehm.” Tidak bisa berkata apa apa, Brian pun terdiam.
“Americano dingin satu,” kata Brian melakukan pesanan minuman kepada Lysa.
“Ya. Harganya 2500 won.” Lysa lanjut berucap. Otomatis Mino pun membuka ponselnya dan menunjukkan kode barcode Kakao Pay untuk melakukan pembayaran pada mesin pembayaran digital dari Kakao Grub.
Seketika penyekenan barcode itu berhasil, mesin itu mengeluarkan struk secara otomatis. Pembayaran pun selesai dilakukan. Lysa kembali berucap, “Pembayaran sudah selesai. Silakan Anda ke sebelah sana untuk mengambil pesanan minuman Anda.”
Mata Lysa mengarahkan Brian untuk segera pergi ke sebelah sana. Seperti mengusir laki laki itu secara perlahan. Dan seketika Brian pun memahami isyarat Lysa. Brian berjalan beberapa meter ke kanan, menunggu pesanan kopinya selesai di kemas. Setelah itu antrean di belakang Brian pun otomatis maju, dan Lysa melayani pelanggan selanjutnya dengan penuh semangat dan ramah, tak seperti ketika ia melayani Brian beberapa waktu sebelumnya.
Sembari menunggu minumannya di kemas, Brian mengamati Lysa dari jarak beberapa meter. Memperhatikan apa yang wanita itu lakukan. Ia melihat ada banyak perubahan dalam diri gadis itu selama seminggu terakhir menghilang dari hadapan Brian.
Di padangan Brian, Lysa sebelumnya adalah sosok gadis kecil yang manja. Yang sangat senang ketika diajak makan daging sapi dan makanan makanan lezat. Tidak pernah sekali pun Lysa terlihat sedewasa ini di hadapan Brian. Karena sosok Lysa yang sekarang Brian amati adalah sosok wanita yang sedang giat bekerja dan memiliki tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya bola mata Lysa hanya berbinar binar di depan makanan yang Brian belikan, kini gadis itu tampak berbinar binar ketika berhadapan dengan orang orang dari seberang meja kasir tempatnya berdiri.
Dalam keheningan batinnya yang sednag berlangsung ini, Brian memikirkan satu hal. Sepertinya, Lysa benar benar sudah berubah. Lysa sedang melakukan transformasi yang membuat Brian merasa pangling dan merasa penasaran untuk berhadapan dengan sisi sisi terbaru dalam diri Lysa yang membuatnya menjadi semakin cantik. Di hadapannya kini, Lysa bukan lagi sosok gadis muda yang selalu mencari Brian dan mengikuti ke mana pun Brian pergi untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tetapi, Lysa kini menjadi wanita yang suka rela ‘mengusir’ Brian yang mengganggu pekerjaannya di siang hari yang sangat panas ini.
“Tuan, pesanan minuman Anda sudah selesai.”
Lamunan Brian seketika itu juga senyap karena seorang petugas kafe yang mengulurkan minuman dingin Brian yang sudah siap. Brian pun menerima minuman Americano dingin itu.
“Terima kasih.” Brian berkata. Kemudian ia teringat suatu hal dan bertanya pada petugas kafe yang baru saja memberikan minuman padanya. “Permisi, kalau boleh tahu, pergantian shift pegawainya kapan lagi ya?” tanya Brian penasaran.
Pegawai kafe yang memakai seragam khusus dan topi berwarna merah berlogo Moonlight Coffe itu menengok jam dindin di tembok belakangnya. Lalu menjawab, “Tidak lama lagi shift siangnya akan berganti. Hm, sekitar lima belas menit lagi.”
Kepala Brian mengangguk angguk. “Baiklah. Terima kasih informasinya.”
Setelah itu Brian segera pergi meninggalkan kafe. Selagi berjalan menuju pintu keluar, pandangannya terus tertuju pada Lysa yang sibuk bersama mesin kasir dan alat pembayarannya.
Baiklah. Lima belas menit bukan waktu yang cukup panjang untuk Brian menunggu. Sehingga lelaki itu memutuskan untuk menunggu Lysa di dalam kafe. Ada yang harus ia bicarakan pada Lysa. Brian yang inin menunggu Lysa itu pun mengurungkan niatnya untuk keluar dari kafe dan segera mencari bangku kosong untuk ia duduki sambil menikmati minuman dinginnya di siang yang sangat panas ini. Sepertinya angin musim panas sudah mulai tiba. Suhu udara saat siang menjadi sangat panas dan suhu udara pada saat malam menurun dengan sangat drastis.
Selama beberapa saat Brian duduk di salah satu bangku kafe dekat dengan jendela kaca tersebut. menikmati minuman dinginnya yang segar sambil mengamati Lysa dari kejauhan di balik meja kasir. Terus menatapi Lysa yang sungguh disibukkan dengan beberapa pelanggan yang mayoritas adalah kalangan mahasiswa satu kampus dengannya.
Ini adalah pertama kali dalam hidup Brian di mana ia melihat Lysa bukan sebagai sosok gadis kecil yang biasa ia mainkan rambutnya. Ini adalah pertama kali dalam hidup Brian di mana ia melihat sosok yang begitu bebeda dari Lysa yang sebelumnya. Sosok yang tampak lebih serius dan giat. Sosok yang menunjukkan ‘taring’nya pada dunia luar yang kejam. Dan sosok yang membuat Lysa tampak bukan seperti gadis yang gampang tumbang ketika menghadapi suatu badai kehidupan. Ini adalah sosok Lysa yang baru.
Apa yang terjadi pada Lysa, dan bagaimana semua ini bisa terjadi, Brian sangat penasaran. Ia tidak tahu mengapa gadis yang selalu mengaku menyukainya itu malah berubah menjadi sosok gadis lain yang lebih menawan dan memesona. Yang mana pesona itu tidak pernah Lysa tunjukkan ketika ia mengakui perasaannya pada Brian baik secara terus terang maupun melalui simbol simbol.
Awalnya Brian mengira lima belas menit memang akan cukup. Namun, sudah dua puluh menit berlalu. Dan ia tak kunjung melihat Lysa menyelesaikan pekerjaannya dan hendak keluar dari kafe. Di balik meja kasir itu Lysa memang tak lagi terlihat. Tetapi Brian juga belum melihat gadis itu keluar dari kafe. Jadi, di mana keberadaan Lysa saat ini?
“Sam, kau tidak akan menunggu sampai pekerjaanku selesai kan?”
Melihat Brian tampak terkejut itu, Lysa menatapnya keheranan. Oh my god! Bahkan Brian pun jadi berperilaku aneh di depannya. Sungguh. Ada apa dengan dua laki laki itu di dalam hidup Lysa. Kenapa Lysa begitu bodoh sampai sampai tidak memahami jalan pikiran laki laki? Coba saja ia mengerti bagaimana jalan pikiran kedua lelaki itu (Brian dan juga Mino), maka Lysa tidak akan merasa sebingung ini berhadapan dengan sikap aneh keduanya.
“Sam, sikapmu jadi sangat aneh. Apa kau tau itu?” Lysa lanjut menceletuk.
Perlahan lahan, tubuh Brian menyerong pada Lysa. Laki laki itu mencoba tenang dan memasang ekspresi wajah tanpa dosa ketika mendengar Lysa bertanya demikian. Sejujurnya, Brian pun tidak mengerti apa yang membuatnya bersikap aneh seperti ini.
Karena begitu bingung, Lysa pun mengambil duduk tepat di hadapan Brian. Lysa merasa sangat risi dan terganggu dengan keberadaan Brian di tempar ini yang terus mengawasinya bekerja. Sehingga, begitu pertukaran jam tiba, Lysa langsung menuju ke belakang untuk makan siang. Dan ketika akan melanjutkan pekerjaan lagu, ia masih melihat Brian ada di sana. Sungguh. Laki laki itu bersikap sangat aneh. Baru pertama kali ini Lysa melihat Brian yang selalu serius dan dingin itu terlihat sedikit aneh dan kikuk, sangat berbeda dari citra yang dibangunnya sebagai pengajar di kampus.
“Pekerjaanmu belum selesai? Bukannya shif siang sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu?” tanya Brian begitu Lysa duduk di hadapan.
“Shif siang memang sudah selesai. Tapi aku bekerja beberapa shif hari ini sampai nanti sore.”
“Ah... sial. Aku ditipu rupanya.” Brian menggumam bodoh begitu mendengar kalau shif yang diisi Lysa tidak hanya shif siang, tetapi sampai nanti sore. Seketika itu juga Brian menggaruk garuk rambutnya yang tidak gatal.
Lysa mengernyitkan kening melihat sikap Brian yang aneh hari ini. Ia sungguh bingung kenapa laki laki itu menunjukkan sikap yang berbeda dari biasanya. Karena biasanya, seperti apa pun situasinya, perhatian Brian pada Lysa itu hanya setengah setengah.
“Sam, aku bertanya sekali lagi. Ada apa denganmu? Kenapa sikapmu aneh sekali?” Lysa yang sungguh heran mengapa sikap Brian berubah itu, bertanya sekali lagi karena merasa begitu penasaran.
Tetapi kepala Brian menggeleng geleng. Ia langsung berdiri dari duduk, seolah akan pergi setelah itu.
“Tidak apa apa. Aku hanya ingin mengajakku makan siang seperti biasanya. Sekaligus ada yang ingin kukatakan padamu. Tapi kalau kau sibuk, ya sudah lah. Mungkin lain kali.” Brian berkata demikian. Lalu beranjak pergi meninggalkan bangkunya. Baru selangkah ia berlalu, Brian teringat suatu hal dan kembali menoleh kepada Lysa. “Dan juga, aku minta maaf soal kejadian di restoran hari itu. Aku sungguh sunguh meminta maaf padamu. Ayah dan ibuku memang mengundang wanita itu untuk makan bersamaku, dengan tujuan berjodohan. Tapi aku akan menolak. Sampai akhir aku akan menolak menikah dengan wanita itu. Karena aku tidak mencintainya. Sama sekali tidak mencintainya.”
Selesai mengatakan itu semua, Brian berlalu pergi meninggalkan Lysa. Di atas tempat duduknya itu, Lysa menggumam gumam sendirian.
“Sudah kuduga. Dia memang Sam yang suka seenaknya sendiri. Tidak ada yang berubah darinya,” gumam Lysa. Kepalanya menoleh keluar jendela, menatap Brian yang sudah keluar dari kafe meninggalkan Lysa seorang diri tanpa mengucapkan salam dan pamit.
Sekarang waktunya bekerja. Lysa tidak ingin apa yang diucapkan Brian itu mengganggu pikirannya sehingga membuatnya kurang konsentrasi untuk bekerja. Sehingga semua kata yang diucapkan Brian tadi Lysa lupakan untuk sejenak, karena ia harus bekerja. Nanti ia pikirkan itu kembali dan menanyakan maksud lelaki itu menceeritakannya pada Lysa yang sebenarnya sudah hampir lupa pada apa yang terjadi di restoran hari itu.
Saat Lysa masih berjalan untuk kembali bekerja setelah istirahat makan siang sejenak, ponsel di dalam apron kafe yang melingkari pinggangnya berdenting. Otomatis Lysa mengambil ponselnya. Ia mendapati pesan dari Mino melalui aplikasi Kakao Talk. Pesan itu yang pertama berupa foto pemanadangan pantai di Jeju yang sangat indah. Dan pesan kedua adalah tulisan berupa ....
‘Ini hadiah untuk pegawai teladan kafe yang tidak membuat kesalahan sedikit pun sampai hari ketiganya bekerja. Kau sudah bekerja keras, Kim Lysa. Semangat bekerja terus! Aku akan kembali besok siang kalau tidak ada kendala.’
Otomatis senyum simpul Lysa terbentuk. Ia tersenyum behagia membaca pesan teks yang isinya sangat menyentuh hati itu. Sungguh. Tidak ada hadiah yang lebih indah selain kata kata pujian dan penyemangat untuk Lysa yang telah bekerja keras dengan penuh tekad dan semangat. Kata kata itu seolah menjadi energi baru untuk tubuh Lysa yang sebenarnya sangat lelah.
**
Matahari bersinar sangat terik di pulau Jeju. Namun teriknya sinar mentari itu tersamarkan oleh angin dari arah laut yang menyejukkan. Ombak biru lautan tersebut mendayu dayu, seolah olah sednag memanggil Mino yang sedang berdiri menghadapan jendela hotel. Memanggil lelaki itu utnuk datang ke lautan yang bebas dan menyejukkan.
Ini adalah hari ketiga Mino berada di pulau Jeju untuk menyelesaikan suatu permasalahan di kafe cabang pulau Jeju. Di hari ketiga ini, masalah sudah hampir beres dan Mino telah mengambil keputusan untuk memutuskan kontrak dengan suplier kopi di Jeju karena mereka yang melanggar kontrak terlebih dahulu. Daripada membayar sejumlah uang dalam jumlah besar di luar perjanjian kontak mereka, Mino merasa memutuskan kontrak adalah cara yang lebih baik dan tidak bertele tele, serta tetap sah di mana hukum. Karena, bagaimana pun yang terjadi, melakukan transaksi di luar kontak kerja sama mereka sebagai patner bisnis adalah hal yang ilegal dan suatu saat bisa membawa masalah. Dan yang menjasi masalah adalah, manajer cabang kafe Jaju yang bersi keras tidak mau mengakui perbuatannya di saat semua bukti sudah jelas. Yang perlu Mino lakukan di pulau ini adalah men kroscek semua administrasi kafe cabang pulau Jeju untuk memastikan tidak ada kendala lainnya. Jika ada maka akan Mino selesaikan mumpung ia masih berada di pulau Jeju, belum kembali ke Seoul.
Delapan puluh lima persen urusan Mino di pulau ini sudah selesai. Dan besok adalah jadwalnya kembali ke Seoul bersama manajer kafe untuk melakukan klarifikasi di depan bos pemilik kafe. Biar Moon Yul sendiri yang memutuskan, karena tugas Mino hanya sampai di sini.
Mino yang baru saja melakukan makan siang di restoran hotel tempatnya menginap itu menatap ke arah jendelanya. Melihat hamparan lautan yang luas membentang di hadapan. Dan seketika melihat laut itu, Mino teringat seseorang. Seseorang itu adalah seseorang yang terakhir kali Mino lihat sebelum keberangkatannya ke pulau Jeju. Seseorang yang membuat Mino kuat untuk memijakkan langkahnya kembali ke pulau Jeju setelah perpisahannya dengan wanita di masa lalu. Karena pulau Jeju ini memberikan kesan yang cukup mendalam untuk Mino bersama Jiwon di masa lalu.
Karena kesibukannya mengurusi permasalahan kafe di Jeju, Mino sampai sampai lupa tak memberi kabar Lysa sedikit pun. Mino terlalu disibukkan dengan pekerjaannya di sini, sehinga tak sempat menghubungi Lysa dan menanyakan bagaimana pekerjaan pertamanya di kafe. Namun, Mino telah mendengar laporan dari asisten manajer bahwa Lysa adalah pegawai baru teladan yang sampai saat ini tidak melakukan kesalahan. Mino sudah menduganya. Melihat seberapa kuat tekad dan keinginan Lysa untuk bekerja di kafe, Mino sudah menduga kalau gadis itu sudah bekerja keras.
Mino yang tiba tiba teringat Lysa itu mengeluarkan ponsel dari salam saku. Memotret pemandangan di hadapannya dan mengirimkannya pada Lysa. Lalu menuliskan beberapa kata kemudian. Dan tidak lama setelah pesan itu terkirim, datanglah balasan pesan teks dari Lysa.
‘Terima kasih, Ajeossi. Aku akan bekerja keras di kafe. Dan menunggumu datang.”
Senyum Mino otomatis tersimpul membaca balasan pesan teks dari Lysa itu. Ah, laki laki itu sudah tidak sabar untuk segera kembali ke Seoul dan bertemu Lysa.
Tepat satu menit setelah Mino mendapat balasan pesan teks dari Lysa, ponsel lelaki itu berdering. Ia medapatkan satu panggilan masuk dari wanita yang tidka lain adalah Jiwon, mantan kekasihnya.
Napas Mino terhela panjang. Padahal ia sudah menegaskan pada wanita itu untuk tidak lagi menghubunginya. Tapi, apa apaan ini semua? Awalnya Mino tidak berencana menjawab panggilan telepon Jiwon. Namun karena teleponnya terus berdering, lelaki itu merasa tidak memiliki pilihan lain.
“Halo,” jawab Mino begitu telepon mereka tersambung.
[Mino ya, aku mendengar kalau kau sedang ada di pulau Jeju. Kebetulan aku juga berada di Jeju sekarang. Bisakah kita bertemu?]
Suara Jiwon yang lembut, yang mengisi sebagian besar dari memori Mino itu kembali terdengar. Benar. Pulau Jeju adalah kenangan yang terindah untuk mereka berdua. Namun apa gunanya kenangan itu jika semua berakhir sia sia? Mino tidak peduli lagi.
“Sepertinya tidak bisa. Aku di sini untuk bekerja. Dan jadwalku sangat padat.” Mino menjawab dengan dingin. Namun satu bagian dalam hatinya ada yang pedih karena menolak bertemu dengan Jiwon.
[Ah, begitukah? Kau ada pekerjaan di Moonlight Coffe Jeju kan? Kalau begitu, aku yang akan menemuimu di sana. Kau tidak perlu ke mana mana dan biar aku saja yang ke sana. Kalau begitu sampai jumpa nanti sore.]
Tut tut tut.
Panggilan telepon mereka terputus, ketika Mino hendak saja mengatakan ‘tidak usah. Aku benar benar ingin bebas darimu’. Namun, itu semua sudah terlanjur. Mino hanya mengembuskan napas panjang karena tak tahu harus berbuat apa lagi selain membiarkan wanita itu menunggunya di kafe.
Sungguh. Sangat sulit rasanya untuk bebas dari belenggu masa lalu. Semua itu terasa masih begitu jelas dan mencekam. Mino merasa kesulitan untuk bebas dari masa lalunya, bahkan ketika ia telah memiliki seseorang untuk ia pikirkan di masa depan. Ini semua ... sungguh sungguh sulit.
**