Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Dilema yang berat



“Apa apaan ini, Hyung?!” protes Hun. Ia beteriak sambil menutup kembali kotak hadiah itu dengan wajah yang memerah karena malu.


“Itu barang yang sangat berguna, Hun-a. Kau pasti sangat membutuhkannya untuk melepaskan hasrat bercintamu di usia muda. Terima saja hadiah dariku, suatu saat kau pasti membutuhkannya.” Yul menjelaskan panjang lebar.


Tetapi penjelasan yang sebenarnya rasional namun sedikit tidak masuk akal itu membuat Hun bergidik. Ia segera melemparkan kotak hadiah dari Yul ke samping hadiah dari Yebin tanpa ingin melihat isinya lagi. Di sisi lain, Yebin yang merasa suaminya itu sangat aneh namun rasional, menahan tawa di hadapan Hun. Sedangkan Yul yang merasa ekspresi adiknya yang malu malu itu sangat lucu, tertawa lepas sampai terbahak bahak.


“Itu tadi hadiah keduaku untukmu, Hun-a. Hadiah yang pertama sedang dikirim menuju tempat tinggalmu,” imbuh Yul selesai tertawa lepas.


Wajah Hun yang semula menyala merah pun mulai meredam. Ia bertanya pada kakaknya, “Hadiah apa sampai kau mengirimnya langsung ke rumah.”


“Satu set alat gym. Karena pekerjaanmu kau pasti tidak sempat pergi ke gym untuk olah raga kan? Karena itu, kakakmu yang sangat perhatian ini membelikanmu alat gym supaya kau bisa berolah raga di rumah. Ah! Kau juga bisa mengajak kekasihmu untuk berolah raga bersama dengan alat gym yang kuberikan. Kalau tidak begitu, olah raga bersama di atas kasur menggunakan ... itu,” lanjut Yul sambil menunjuk kotak hadiah yang tadi diberikannya pada Hun.


“Kau itu benar benar, Hyung!”


Hun yang tampak sebal dengan candaan kakaknya itu segera mengangkat telepon yang datang dari kekasihnya. “Jina-ya, kau sudah ada di depan?” sahut Hun begitu panggilan telepon dengan kekasihnya tersambung. “Baiklah. Langsung kemari saja. Aku ada di restoran lantai sembilan.”


Beberapa saat kemudian, terlihat sosok Cho Jina yang datang seorang diri di tempat Hun dan kedua kakaknya berkumpul. Tangan Hun melambai lambai sebagai tanda keberadaan.


“Lho, bukannya kau datang dengan kakakmu?” tanya Hun begitu Jina sampai di meja makan mereka dan terduduk di kursi sebelah Hun.


“Jina ssi datang bersama kakakmu? Kenapa tidak sekalian kau suruh ikut makan malam bersama kami saja?" sahut Yul.


Cho Jina menyipitkan kedua matanya. Mempertimbangkan perkataan Yul. Lalu bertatapan dengan Hun yang duduk di sebelahnya.


“Ajak saja kakakmu bergabung bersama di sini. Kapan lagi aku bisa bertemu kakakmu? Katanya kakakmu itu orang yang sangat sibuk dan sulit dicari,” ucap Hun.


Setelah mendengarkan Hun berkata demikian, Jina mulai menimbang nimbang. “Begitukah?”


Semua orang yang duduk melingkari meja bundar restoran ini menganggukkan kepala menanggapi ucapan Jina. Jina pun segera meraih telepon genggam yang ada di dalam tas. Lantas melakukan panggilan telepon dengan kakaknya.


“Oppa, kau masih ada di sekitar sini? Jika masih, bisa kau bergabung bersama kami? Hun ssi ingin mengajakmu makan malam bersama. Bagaimana?” kata Jina dengan kakaknya yang ada di seberang telepon. “Ah, begitukah? Baiklah kalau begitu. Hati hati di jalan, Oppa.”


Begitu panggilan berakhir, Hun kembali menyahut. “Kakakmu tidak bisa bergabung?”


Sontak Jina memasang raut wajah menyesal. “Dia sudah pergi. Katanya ada janji bertemu yang tidak bisa ditunda.”


Kepala Hun mengangguk angguk. “Tidak apa apa. Lain kali aku akan bertemu dengan kakakmu.”


“Aku baru tahu, kalau Jina ssi punya kakak laki laki.” Yul yang sedari tadi mendengarkan percakpaan Jina dengan kakak laki lakinya, menyahut.


“Aku juga baru tahu akhir akhir ini. Kakaknya itu sangat sulit ditemui dan tidak pernah pulang ke rumah mereka.” Hun menyahut.


Sembari menguntai senyuman hangat di bibir, Jina menjelaskan. “Aku memang memiliki seorang kakak laki laki. Tapi sejak SMA dia sudah kabur dari rumah. Pergi meninggalkan desa dan berkumpul dengan orang orang elit di kota. Karena kakakku itu sangat cerdas dan disukai banyak orang, entah bagaimana caranya dia bisa bertahan hidup di kota sendirian. Dia tidak pernah lagi pulang dan membuat geram ibu dan ayah yang ada di rumah. Aku dan kakakku tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu, sampai akhirnya aku bekerja di Seoul sebagai hakim dan kakakku datang mencariku. Mau tidak mau aku harus menerimanya sebagai kakak meski jika mengingat sebesar apa luka yang dirasakan ornag tuaku karena ulahnya itu memberikan alasan yang cukup untuk aku membencinya. Bagaimana pun dia kakakku. Dia juga banyak membantuku saat aku berada dalam kesulitan. Dan mengejutkannya lagi, setiap bulan kakakku mengirimkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit kepada paman untuk diberikan pada ayah dan ibu dan desa. Ayah dan ibuku tidak tahu jika uang itu pemberian kakak, mereka tahunya uang itu adalah keuntungan dagang dari toko mereka yang dikelola paman.”


Semua orang terdiam mendengarkan Jina bercerita. Suasana ulang tahun Hun yang semula ceria ini mendadak menjadi kelam setelah Jina menceritakan beberapa hal tentang kakaknya.


Menyadari hal itu, Jina segera meminta maaf. “Ahh... maafkan aku. Sepertinya aku telalu membuat suasana ini menjadi kelam,” ucapnya tak enak sambil menyebarkan pandangan pada Hun, Yul, dan juga Yebin.


“Tidak tidak, tidak apa apa kok.” Yul menyahut untuk menghilangkan rasa bersalah Jina.


“Sekarang, mari kita makan sebelum makanannya dingin.” Hun pun mengimbuhkan. Ia mulai membuka semua tudung saji makanan dan mempersilakan pada orang orang yang duduk bersamanya untuk memulai makan malam bersama ini.


Sajian pertama yang dihidangkan itu adalah steak. Yul yang pertama mengirisi daging steak itu, menyerahkan piringnya pada Yebin. Seperti seorang suami yang baik, ia mengiriskan daging steak untuk istrinya. Hun yang juga ingin menjadi pria baik di hadapan kekasihnya, memotong motong daging steak di atas piringnya lalu menyerahkannya pada Jina.


“Tapi, Hyung... kau memberiku alat untuk gym, apa kau sendiri pernah berolah raga?” tanya Hun di sela makannya.


“Oppa paling malas sama yang namanya olah raga,” sahut Yebin. Sejak ia menjadi istrinya Yul, tak pernah sekalipun Yebin melihat suaminya itu berolah raga. Tetapi anehnya, meski tak berolahraga tubuh Yul itu tak menimbun banyak lemak. Posturnya tetap ideal meski tak pernah berolah raga.


“Aih, benar benar! Ada apa denganmu itu, Hyung?” Hun yang kembali mendengar otak mesum kakaknya itu sontak menceletuk heran.


“Itu karena kau belum menikah, Hun-a. Cobalah menikah, cepat atau lambat kau akan jadi sepertiku,” timpal Yul yang seketika membuat raut wajah sebal Hun itu semakin bersungut sungut. Perdebatan tak jelas antar saudara laki laki itu membuat Yebin dan Jina yang merasa heran, geleng geleng kepala.


“Kakak ipar, kudengar Biniemoon baru saja mendapatkan penghargaan online shop terfavorit ya? Selamat, kakak ipar. Dengan tulus aku mengucapkan selamat.” Jina yang sedang menusukkan garpu pada daging steak itu mengucapkan selamat kepada Yebin dengan setulus hati.


“Ahh, itu hanya penghargaan kecil dari majalah Shinsung. Terima kasih ucapan selamatnya,” sahut Yebin dengan senyum semringah yang menghiasi wajahnya.


“Heii.. itu penghargaan yang sangat populer. Kakak ipar tidak bisa menyebutnya penghargaan kecil. Semua orang di Seoul tahu kalau majalah Shinsung itu punya standar yang tinggi dalam memberikan gelar maupun penghargaan,” sangah Jina.


Ketika pembahasan tentang Biniemoon ini dimulai, ada sedikit perubahan pada raut wajah Yul. Kebingungan yang selama ini ia rasakan. Juga kegelisahan batinnya itu, selalu muncul setiap kali seseorang membahas Biniemoon. Namun ia segera menggeleng gelengkan kepalanya untuk menghilangkan suara suara Leo Park tentang usulannya itu yang selalu bergema di telinga Yul.


Sampai makan malam ini pun berakhir. Keempat orang yang melakukan malam malam bersama di salah satu restoran terkenal Seoul itu keluar bersama sama. Dua laki laki yang membawa mobil masing masing itu menuju tempat parkir sedangkan Yebin dan Jina menuju depan pintu.


“Apa Hun Oppa akan mengantarmu pulang?” tanya Yebin pada Jina yang berdiri di sebelahnya.


Jina menggelengkan kepalanya sebagai bentuk respon. “Tidak. Sebenarnya aku masih memiliki urusan dengan kakakku. Jadi malam ini aku akan pulang bersama kakakku.”


“Apa kakakmu akan menjemputmu di sini?” lanjtu Yebin bertanya.


“Ya. Sebentar lagi ia akan datang.”


Tepat setelah itu, mobil yang dikendarai Hun keluar dari tempat parkir. Diikuti mobil Yul di belakangnya.


Hun keluar dari mobil setelah tiba di dekat pintu masuk. Ia turun menghampiri Jina sambil membawa tas karton berisi buku buku tebal tentang hukum.


“Ini buku yang ingin kamu pinjam. Aku sudah menandai beberapa bagian penting di dalamnya,” ucap Hun sambil memberikan tas karton itu pada JIna.


“Terima kasih, Hun ssi. Aku akan mempelajarinya dengan baik.”


“Apa apaan ini? Kalian tidak pulang bersama? Hun-a, bukannya selama ini aku mengajarimu untuk menjadi laki laki sejati? Seharusnya kau mengantarkan Jina pulang dan memastikan dia sampai rumah dengan selamat. Kau tidak akan mengantar kekasihmu?” Yul yang baru turun dari mobil itu menceletuk melihat Hun dan Jina yang sedang berpisah di depan pintu masuk restoran.


Mendengar kakaknya yang lagi lagi mengomelinya itu, Hun hanya menghela napas panjang. Ia tidak habis pikir pada kakaknya yang suka mengomelinya itu.


“Diamlah kau, Hyung, jika tidka tahu apa apa.” Hun menimpali.


“Bocah ini!” cetus Yul mengesal mendengar adiknya itu menimpali.


“Aku masih ada urusan dengan kakakku. Jadi kakakku yang akan mengantarku pulang setelah menyelesaikan urusan itu,” sahut Jina yang ingin kekasih dengan kakak iparnya itu lagi lagi bertengkar.


“Ah, begitukah?” gumam Yul. Lalu ia menggandeng kedua bahu Yebin dan mengajaknya berjalan menuju mobil mereka untuk segera pulang.


“Ayo, kita pulang, Sayang.”


Tepat setelah Yul mengucapkan hal itu, sebuah mobil dari arah timur mendekat ke area halaman restoran. Mobil berwarna hitam itu menyorotkan lampu sennya dengan begitu terang hingga membuat empat orang yang berdiri di depan gedung itu menyipitkan mata karena silau.


“Oh, kakakku sudah datang. Kalau begitu aku pergi dulu. Selamat tinggal Hun ssi, selamat tinggal kakak ipar,” kata Jina begitu melihat mobil itu berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian, seorang laki laki yang mengendarakan mobil itu pun beranjak turun. Ia membuka pintu mobil hitam dan menunjukkan wajahnya pada semua orang.


“Oh... dia kan....” Yul menggumam gumam tak percaya melihat siapa yang baru saja turun daro mobil hitam itu.


“Leo Park?” lanjut Yebin meneruskan gumaman Yul. Sama seperti suaminya, Yebin juga merasa terkejut dan tidak yakin apa lelaki yang baru turun dari mobil itu benar benar Leo Park, konsultan bisnis yang sedang mengerjakan projek dengan Moonlignt Coffe. Yang tepat seminggu lalu mengunjungi rumah mereka di hari minggu pagi.


***