Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Don't Leave Me!



Bab 5


Don't Leave Me!


“Baiklah. Aku akan meneirma surat


pengunduranmu ini. Tapi....”


Ucapan Moon Yul terjeda ketika ia


meletakkan kembali surat pengunduran yang diajukan Mino ke atas meja. Kedua


mata lelaki itu menatap fokus ke arah Mino yang raut wajahnya terlihat sendu.


“Tapi apa Bos Moon?” tanya Mino.


“Setelah aku menemukan penggantimu sebagai


manajer utama Moonlight Coffe. Jadi sampai aku berhasil menemukan penggantimu,


tetaplah bekerja di sini, Mino ya. Ini permintaanku, bukan sebagai bos, tetapi


sebagai orang yang sudah lama mengenalmu. Bekerjalah di sini paling tidak


sampai aku bisa menemukan orang yang tepat untuk menggantikan posisimu sebagai


manajer. Kau bisa kan?”


Ucapan panjang lebar Moon Yul itu mendapat


anggukan spontan dari Mino. Itu bukan masalah besar. Mino yang merasa tidak


keberatan itu mengangguk angguk pelan.


“Terima kasih.”


Setelah itu Mino berdiri dari duduk. Apa


yang ingin dikatakannya kepada sang bos sudah selesai. Waktunya ia pergi


meninggalkan ruangan sang bos.


Tepat ketika Mino meraih cengmeraman pintu


untuk membuka pintu dan keluar, suara Moon Yul membuat kepalanya menoleh. Mino


menatap Yul yang duduk di atas sofa sambil menyilangkan kedua kaki.


“Mino ya,” panggil Yul. Tatapannya yang


hangat itu menatap Mino dari kejauhan bersama dengan sedikit untaian senyum di


bibir. “Kau ingat kan apa yang selalu kukatakan? Bahwa kaulah yang mengubah


hidupmu sendiri, bukan orang lain. Apa yang kau capai saat ini adalah berkat


kerja kerasmu, bukan karena orang lain. Aku masih berharap kau akan berubah


pikiran dan tetap akan bekerja di kafe sebagai manajer umum.” Yul berkata


dengan penuh rasa tulus.


Seperti itulah lelaki itu memimpin


Moonlight Coffe dan Moonlight Grup selama ini. Sikapnya yang sangat tenang dan


tulus itu pula yang membuat Mino bertahan bekerja di tempat ini meski ia


mengalami banyak tekanan dari luar. Bukannya munafik. Tetapi Mino selama ini


bertahan di Moonlight Coffe bukan karena mendapat gaji yang besar dari bosnya,


tetapi karena sikap Yul yang sangat hangat dan tak segan untuk menahan Mino


meski sebenarnya di luar sana ada banyak sekali orang yang kompeten dan bisa


menggantikan tugas Mino.


Di belakang pintu itu Mino hanya


menyimpulkan sedikit senyuman. Pasti, ia akan bertahan di Moonlight Coffe. Jika


ada seseorang yang bisa mengubah keputusan hatinya dan membuatnya merasa yakin


kembali, Mino akan tetap bertahan sebagai manajer Moonlight Coffe. Jika ada....


Benar, jika ada. Namun ia sendiri tak yakin akankah ada orang yang bisa


mengubah keputusan hatinya di saat satu satunya orang yang ia percayai selama


ini saja menghianatinya.


“Ya. Terima kasih, Bos Moon.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Mino


keluar dari ruangan Yul. Meningalkan ruangan tersebut dan menuruni anak tangga menuju


lantai satu.


Mino keluar dari kafe dengan terus


memikirkan perkataan Yul tadi. Sebenarnya sungguh sayang jika Mino meninggalkan


pekerjaannya saat ini juga. Ia memang telah memiliki sedikit saham di Moonlight


Coffe dan akan terus berkembang nantinya. Tapi, bukan masalah keuangan yang ia


cemaskan. Mino hanya ingin membuka lembaranbaru dalam hidupnya. Ia ingin


membuka lembaran baru, memulai kehidupan yang baru, dan memulai lagi semuanya


dari titik nol. Apa yang terjadi di masa lalu, ia tak ingin mengingat ingatnya


lagi. Karena itulah ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari Moonlight Coffe


meski juga sayang untuk melepaskan pekerjaannya di sana yang sudah berjalan


selama sepuluh tahun itu.


Sekeluarnya dari kafe, ia berjalan


menyeberangi jalan, untuk menuju halte bus. Laki laki itu hendak naik bus untuk


membawanya sampai ke kantor polisi dan menebus mobilnya yang kemarin terkena


tilang karena parkir sembarangan. Namun, naas, sesuatu terjadi sebelum Mino


sempat tiba di halte bus yang ia tuju. Di mana ia terserempet oleh pengendara


sepeda motor pengantar pizza yang menerobos lampu merah.


Kejadian itu yang membawa Mino berada di


tempat ini, bersama seorang gadis yang entah muncul dari mana.


“Tidak perlu repot repot memanggil ambulan,


kenapa kau menelepon 119 segala?” Mino yang sedang diangkut mobil ambulan


bersama seorang tenaga medis dari rumah sakit terdekat itu memprotes kepada


Lysa yang tadi melepon 119 untuk pertolongan pertamanya. Selain sedikit nyeri di


bagian lengan kanan, Mino tak merasakan sakit apa pun. Dan ia rasa terlalu


berebihan jika memanggilkan ambulan untuk hal semacam itu.


“Apa maksudmu, Ajeossi? Aku tadi melihatmu


pingsan sebentar setelah tertabrak tadi. Dan lihat lenganmu, aughh...


bengkaknya sangat besar. Pasti sakit sekali karena terbentur aspal!” rutuk Lysa


yang ikut masuk ke dalam ambulan bersama Mino sebagai anggota keluarganya. Saat


bertanya siapa ia dan apa hubungannya dengan korban, Lysa hanya berkata bahwa


ia adik korban sehingga petugas ambulan itu langsung memperbolehkannya masuk


untuk menemani korban menuju rumah sakit.


“Mohon jangan bergerak, kemungkinan lengan


Anda patah. Jadi jangan bergerak, Pasien, nanti bengkaknya semakin besar.”


Untungnya seorang petugas medis yang berada


di dalam ambulan itu segera menyela sehingga Mino tak lagi memprotes kepada


Lysa. Keadaan lengan kanannya sangat bengkak. Sepertinya benturan yang terjadi


karena serempetan tadi sangat keras sehingga terjadi pembengkakan yang sangat


besar dan memar memar pada lengan kanannya.


“Dengarkan, Ajeossi?! Jangan memprotes. Kali


ini, aku akan menyelamatkanmu. Aku akan membalas kebaikanmu. Okay?” celetuk


Lysa kepada Mino yang mendesah pasrah merasakan nyeri pada lengan kanannya.


“Tau ah. Terserah kau saja. Yang penting


kau jangan tinggalkan aku.”


“Bukannya Anda adiknya pasien?” Seorang


petugas medis yang duduk di sebelah Lysa itu segera melontarkan pertanyaan.


Kedua alis lisa mengernyit. Aduh,


sepertinya dia sudah keceplosan dengan menyebut Mino sebagai Ajeossi.


“Em... ya, saya adiknya. Hanya saja, kami


sudah berpisah lama dan belum terlalu akrab. Jadi masih canggung untuk


memanggilnya Oppa (kakak). Ya kan Oppa?” Lysa beralasan, lalu mencubit perut


Mino yang seketika membuat lelaki itu terkejut.


“Agh... iy.. iya.”


Akhirnya keduanya pun sampai di rumah


sakit. Mino segera diturunkan dari ambulan dan masuk menuju IGD Rumah Sakit


Seoul. Lysa berlari mengikutinya.


“Adik silakan ke bagian administrasi untuk


mengisi data diri pasien dan mengurus biaya pengobatan,” kata seorang perawat


yang hendak memeriksa Mino.


“Baiklah.”


“Hei,” Mino yang terbaring di atas kasur


itu menarik pergelangan tangan Lysa yang ingin pergi menuju bagian


administrasi. Sontak cengkeraman tangannya itu membuat kepala Lysa menoleh.


“Kenapa, Ajeossi?”


“Kau membutuhkan ini untuk ke bagian


administrasi,” ucap Mino sambil mengulurkan ponsel dan juga nomor telepon. “0101,


itu paswordnya.”


Tanpa berkata apa apa, Lysa menerima ponsel


dan dompet Mino.


Lysa baru saja hendak beranjak pergi


sebelum Mino kembali mencengkeram tangannya dan mendesus pelan, “Tu.. tunggu.”


“Kenapa, Ajeossi?” tanya Lysa panik. Ia menatap


wajah Mino yang penuh belas kasihan.


“Jangan mencoba kabur. Dan jangan pergi ke


mana mana, jangan tinggalkan aku,” desus Mino pelan dengan raut khawatir yang


ditunjukkan.


Itu membuat Lysa merasa semakin iba dan


bertanya tanya dalam benak, ‘apa ada sesuatu yang salah di kepala Ajeossi ini karena


benturan?’


“Baiklah. Aku tidak akan ke mana mana.”


Lysa pun meyakinkan sambil melepaskan cengkeraman Mino pada pergelangan


tangannya. Setelah itu ranjang yang menjadi tempat terbaring Mino didorong


menuju salah satu bilik IGD untuk dilakukannya pemeriksaan dan juga persiapan


untuk foto X-Ray.


Tergesa gesa Lysa berjalan menuju bagian


administrasi. Salah satu perawat yang berjaga di sana langsung memberikan


kertas semacam surat formulir dan juga pulpen kepada Lysa untuk mengisi data


diri pasien.


“Oh ya, Anda ingin pasien diperiksa secara


menyeluruh atau hanya sebatas foto X-ray saja?” tanya perawat itu sambil


menahan kertas formulir yang hedak diserahkannya pada Lysa.


“Apa bedanya?” tanya Lysa bingung. Ini pertama


kalinya ia datang ke rumah sakit di Korea Selatan sebagai wali. Ia tak begitu


tahu apa maksud dari pemeriksaan menyeluruh.


“Kalau pemeriksaan X-ray, maka pasian hanya


akan difoto X-ray untuk melihat kondisi patah tulang atau keretakannya. Kalau


pemeriksaan menyeuruh, berarti pasien akan diperiksa secara menyeluruh,


melewati prosedut CT Scan dan lain ain untuk melihat apakah ada kerusakan yang


lain karena kecelakaan yang dialami.” Perawat tersebut menjelaskan.


Lysa memang tak mengerti apa saja yang


menjadi ‘pemeriksaan lain lain’ itu. Tapi, didengar dari penjelasan perawat


ini, sudah jelas mana yang lebih baik dilakukan.


“Kalau begitu pemeriksaan menyeluruh saja. Sepertinya


pasien tadi pingsan sebentar ketika jatuh terserempet sepeda motor. Jadi harus


diperiksa apakah kepalanya baik baik saja, atau ada bagian tubuh lain yang


terluka,” kata Lysa.


“Bailkah. Silakan Anda isi formulirnya.”


formulir berisi data diri pasien untuk diisi.


“Ne.”


Lysa pun mulai mengisi formulir tersebut.


ia membuka kartu identitas (KTP) yang ada di dompet Mino untuk menuliskan nama,


tanggal lahir, dan lain lain.


“Ah, Ajossi itu namanya Han Mino. Apa dia


lahir di luar negeri? Namanya sedikit unik untuk orang asli Korea. Tanggal


lahir.... ha?” Lysa ternganga ketika melihat tahun lahir Mino. “Astaga, Ajeossi


itu ternyata benar sudah Ajeossi! Aku baru tahu kalau dia ternyata seusia


dengan Sam. Kukira Ajeossi satu atau dua tahun lebih muda dari Sam. Ternyata mereka


seumuran...”


Selagi menggumam gumam, Lysa melanjutkan


kegiatan mengisi formulir tersebut. sesekali ia membuka dompet dan ponsel Mino


untuk menuliskan beberapa hal tentang laki laki itu. Hingga tiba di bagian


pertanyaan  yang sedikit...


Sambil mengernyit bingung, Lysa membaca


pertanyaan yang ada di dalam formulir.


“Kapan pasien terakhir kali melakukan


hubungan seksual? Berapa kali pasien mengalami ejakulasi selama satu minggu? Dan


kapan pasien.... Apa apaan pertanyaan ini? Bagaimana aku tahu?” Lysa yang tidak


tahu harus menjawab pertanyaan itu seperti apa, mengernyitkan kening bingung. Ia


pun memutuskan untuk bertanya pada perawat.


“Permisi, saya mau tanya. Apa pertanyaan


ini harus saya jawab? Saya kan tidak tahu harus menjawabnya dengan apa? Bisakah


nanti pasien mengisi saja sendiri?” tanya Lysa yang segera dijawab oleh perawat


tersebut.


“Ya. Anda harus tetap mengisinya.”


“Hhh, bagaimana aku mengisinya?” lanjut


Lysa menggumam sambil menjatuhkan pandangan pada lembaran formulir itu. Ia kebingungan


menjawab bagian itu dengan jawaban yang seperti apa. “Apa aku tanya saja pada


Ajeossi? Aishh... bagaimana aku menanyakan hal semacam ini? Apa aku karang saja


jawabannya? Tau ah! Yang penting Ajeossi mendapat pemeriksaan medis dengan


baik!”


**


Karena pilihan Lysa adalah pemeriksaan


secara menyeluruh, Mino pun diperiksa dalam waktu cukup lama dengan beberapa


prosedur tambahan. Tulang siku tangan kanannya mengalami keretakan. Namun Mino


tidak ingin menjalani sederet prosedur operasi untuk keretakan tulang tersebut.


ia hanya memilih jalan pintas yaitu dengan gips. Menurutnya itu cara yang


paling mudah dan tidak begitu ribet, meski kesembuhannya akan memakan waktu


sedikit lebih lama daripada ketika ia menjalani prosedur operasi.


Selain penanganan pada patah tulan, Mino


juga menjalani beberapa pemeriksaan tambahan untuk melihat apakah ada cedera di


bagian tubuhnya yang lain seperti kepala, kaki, atai bagian perut. Dan ia


mengalami memar di bagian perut dan juga dada karena tadi ia jatuh di atas batu


yang ada di pinggiran jalan. Namun itu hanyalah luka memar yang tidak begitu


serius. Dan selain itu, untungnya tidak ada bagian tubuhnya yang lain yang


mengalami cedera akibat kejadian beberapa waktu lalu.


Di atas salah satu ranjang di IGD, Mino


terbaring setelah mendapatkan beberapa perawatan. Tangan kirinya masih diinfus


dan ia baru diperbolehkan pulang setelah cairan infus yang mengaluru tubuhnya


itu habis.


“Ajeossi, kau sudah selesai diperiksa? Ini aku


membawakan obat untukmu.” Lysa yang baru tiba setelah menebus resep obat itu


menghampiri Mino yang sedang tidur selonjoran di atas kasur dengan keadaan


lengan kanannya yang digendong dengan kain berwarna biru. Ia mengodorkan obat


yang dibawanya kepada Mino.


Mino pun terbangun dari tidur. Duduk di


atas ranjang IGD itu untuk menerima uluran obat dari Lysa.


“Terima kasih. Tapi kenapa kau membuatku


diperiksa secara menyeluruh? Sebenarnya aku cukup mendapatkan perawatan


tulangku yang retak saja,” kata Mino sambil memeriksa beberapa obat yang


diresepkan untuknya.


“Hei, mana aku tau kalau ternyata ada sesuatu


yang terjadi di kepala Ajeossi setelah diserempet motor itu?” sahut Lysa


spontan.


“Kau pikir kepalaku juga cedera?” celetuk


Mino.


“Mungkin saja. Hanya saja sikap Ajeossi


sedikit aneh, kupikir ada sesuatu terjadi di kepalamu. Jadi ya aku meminya


pemeriksaan penuh kepada perawat.” Lysa menjawab dengan menggumam gumam.


Ia masih memikirkan kenapa tadi Mino


bersikap begitu aneh, seolah olah tidak ingin ia tinggalkan. Padahal, di


ambulan tadi lelaki itu memprotes pada Lysa yang membuatnya naik ambulan dan


bersikap seolah olah tidak memerlukan bantuan Lysa. Namun begitu tiba di rumah


sakit, lelaki itu malah menahan Lysa supaya tidak pergi dan meminta belas


kasihan darinya. Aneh sekali, batin Lysa.


“Kau pikir kepalaku tidak waras hanya


karena kecelakaan kecil seperti itu?” cetus Mino keheranan.


“Ehmn, ehmn..”


Lysa hanya berdeham deham pelan. Berniat memotong


pertanyaan Mino dan tak memberinya jawaban.


“Pokoknya, sekarang kau sudah baik baik


saja kan Ajeossi? Karena Ajeossi sudah baik baik saja, dan sudah mendapatkan


resep, aku pergi dulu—”


“Tetaplah di sini.”


Mino yang tak ingin ditinggalkan itu


langsung mencengkeram pergelangan tangan Lysa. Mencegah gadis itu pergi


meninggalkannya di sini sendirian.


“... Paling tidak temani aku sampai keluar


dari rumah sakit. Setelah itu kau boleh pergi. Aku hanya tidak tahu apa yang


harus kulakukan di sini sendirian. Jadi tetaplah di sini sampai cairan infus


ini habis dan aku diperbolehkan pulang.” Mino lanjut berucap.


“Bu... bukan itu masalahnya...”


Lysa menggumam pelan. Sebenarnya, yang


membuatnya harus cepat cepat pergi dari rumah sakit bukan karena ia ingin


meninggalkan Mino begitu saja. Tetapi karena Lysa memiliki jadwal kuliah sore


ini.


Namun Lysa merasa tidak tega meninggalkan


Mino seorang diri di tempat ini. Bagaimana pun, lelaki itu sedang sakit. Dan ia


bahkan tak memiliki seoragn pun untuk dihubungi. Lysa yang merasa tidak tega


meninggalkan Mino sendirian pun memutuskan untuk tetap berada di tempat ini.


Kelas kuliahnya... tidak apa apa sekali ini ia tinggalkan. Toh, kelas yang


ingin ia ikuti itu adalah kelas bahasa Indonesia-Korea yang diajar oleh Brian


untuk memperdalam kemampuan bahasa Korea Lysa di negara ini.


Setelah memutuskan untuk tetap berada di


sini dan menemani Mino, Lysa pun beranjak duduk.


“Baiklah. Karena Ajeossi pernah membelikan


daging di hari ulang tahunku, aku akan menemani Ajeossi di sini,” kata Lysa


selagi mendudukkan tubuh di atas kursi sebelah ranjang tempat Mino berada.


Mendengar itu, raut wajah Mino terlihat


sedikit lebih tenang. Ia menghela napas pajang dan mengembuskannya perlahan.


“Ngomong ngomong, dari sekian banyak


panggilan, kenapa kau memanggilku Ajeossi?” tanya Mino kemudian. Sejujurnya ia


tak merasa setua itu untuk dipanggil Ajeossi oleh gadis 22 tahun yang baru dikenalnya.


“Tidak apa apa. Aku bingung saja memanggil


laki laki yang lebih tua dariku dengan sebutan apa. Selama menetap di Korea,


aku belum pernah bertemu dengan laki laki tidak dikenal yang beberapa tahun


lebih tua dariku. Laki laki yang kukenal hanya teman laki laki di kampus dan


senior yang kupanggil ‘seonbae’. Jadi aku tidak terbiasa menggunakan panggilan ‘oppa’


atau semacamnya.” Lysa menjelaskan panjang lebar.


“Ohh, begitu rupanya. Berapa tahun sejak


kau menetap di Korea?” tanya Mino.


“Sejak akhir tahun kemarin. Sekitar...


empat bulan.”


“Pantas saja.” Mino menggumam gumam sambil


menganggukkan kepala. “Tidak apa apa kau memanggilku Ajeossi. Meski aku tidak


setua itu untuk kau panggil Ajeossi, tidak apa apa karena kau sudah menolongku.”


Lysa ikut menganggukkan kepalanya. Kemudian


ia teringat suatu hal.


“Ah benar! Ajeossi, tadi ada yang


meneleponmu saat kau masih menjalani perawatan.” Lysa berucap.


“Oh ya? Siapa?”


“Seorang perempuan. Namanya.... Ah, aku


lupa. Siapa ya? Ji... jin... ji, siapa ya?” Lysa terbata bata sambil


menggumamkan nama wanita yang beberapa waktu lalu berbicara lewat telepon Mino


dengannya.


Mendengar gumaman itu, Mino menyahut, “Jiwon?”


“Benar! Iya, Jiwon. Dia mengaku teman


Ajeossi, jadi kukasih tau saja kalau Ajeossi sedang di rumah sakit. Katanya,


sebentar lagi dia akan datang untuk melihat keadaan Ajeossi,” celetuk Lysa.


Raut wajah Mino seketika berubah mendengar


nama itu. Nama, Jiwon. Selalu bergelantungan di dalam benaknya dan sangat sulit


ia singkirkan keberadaannya. Membuat Mino benar benar terganggu. Dan parahnya,


wanita bernama Jiwon yang tidak lain adalah mantan kekasihnya itu juga tak mau


melepaskan Mino dan sering meneleponnya tanpa alasan. Meski wanita itu yang


mengambil keputusan untuk meninggalkan Mino.


Ketika raut wajah Mino berubah tak senang


bercampur sendu, terdengar suara langkah kaki mendekat. Tidak salah lagi.


Tuk


tuk tuk.


Suara langkah wanita itu terdengar semakin


dekat. Wanita itu benar benar datang....


**