Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Tipu muslihat iblis



Leo berjalan mendekat ke arah Yebin yang menatapnya dari atas kursi roda. Kemudian lelaki itu mengeluarkan suatu benda dari dalam saku jasnya dan langsung menyodorkan benda itu kepada Yebin.


“Ini untukmu.”


Setangkai miniatur bunga mawar di dalam tabung kaca bundar diulurkan Leo kepada Yebin.


“Apa ini?” tanya Yebin setelah menerima benda itu.


“Kau tidak lihat? Itu kan miniatur bunga mawar.”


“Maksudku, kenapa kau memberikan ini padaku?” tegas Yebin.


“Hanya kau di dalam ruangan ini yang sadar. Tidak mungkin kan kalau aku memberikan benda itu pada Hakim Hun yang sedang koma? Itu adalah miniatur yang dijual anak anak jalanan di perempatan lampu merah. Aku kasihan saja melihat anak anak itu yang harus bekerja keras di tengah panas terik seperti ini. Jadi aku membeli beberapa dan membagi bagikannya pada orang yang aku temui,” jelas panjang Leo Park.


Cukup masuk akal. Yebin merasa tidak memiliki alasan untuk menolak benda unik yang katanya diberikannya pada setiap orang yang ia temui itu. Baiklah. Yebin akan menyimpan benda ini.


“Lalu kenapa kau datang kemari?” lanjut Yebin bertanya.


“Aku ingin bertemu suamimu untuk membicarakan bisnis. Kulihat ruang rawat inapmu kosong. Akhirnya aku datang kemari untuk menengok Hakim Hun. Bagaimanapun, Hakim Hun akan menjadi adik iparku bukan? Sudah sepantasnya aku menginjunginya ketika sakit.”


Penjelasan Leo yang masuk akal itu cukup mudah diterima oleh Yebin. Tanpa kecurigaan Yebin pun memercayai perkataan Leo. Leo memang memiliki urusan bisnis dengan Yul. Tidak heran jika lelaki itu datang untuk mencari Yul, untuk membahas uurusan bisnis. Dan untuk kunjungannya ke kamar Hun ini, sepertinya itu hal yang wajar mengingat bagaimana hubungan Hun dengan Jina, adik Leo.


“Apa tubuhmu sudah membaik?” lanjut Leo bertanya sambil menyandarkan tubuhnya pada ranjang pasien.


Sembari menjawab pertanyaan Leo, Yebin mengembalikan pandangan pada Hun. Menatap sendu Hun yang masih terbaring tak berdaya di atas ranjang.


“Aku sudah mulai membaik. Tinggal menunggu luka operasiku kering dan hasil X-Ray besok lusa,” jawab Yebin. Tangannya kini mengelus ngelus tangan Hun yang hangat.


“Bagimu, Hakim Hun itu seperti apa?” tanya Leo sambil mengamati Yebin yang tampak tulus memandangi Hun sembari mengelus tangannya.


“Hun Oppa seperti kakak laki laki untukku. Laki laki nomor dua yang aku sayangi setelah suamiku.” Yebin menjawab singkat.


“Kasihan sekali Hakim Hun, dijadikan laki laki nomor dua. Dan sekarang harus berada dalam kondisi seperti ini karena perempuan yang menjadikannya nomor dua. Tck tck....”


Kalimat sindiran yang utarakan Leo itu membuat pergerakan tangan Yebin yang mengelus tangan Hun itu berhenti. Tubuhnya membeku sejenak. Lantas menoleh menatap Leo tajam.


“Apa maksudmu?” tukas Yebin tajam.


Dengan raut wajah tidak bersalah Leo berucap penuh tipu muslihat.


“Tidak ada yang lebih menyakitkan dari terluka akibat jatuh cinta. Hakim Hun pasti sudah merasakan luka itu, darimu. Dan lebih kejamnya lagi, dia diminta menjaga wanita yang pernah membuatnya terluka sedalam itu akibat jatuh cinta. Bahkan mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya di jalanan karena wanita itu. Parahnya lagi, kisah cintanya yang baru dengan adikku tersayang juga harus kandas akibat wanita yang harus dia jaga. Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada kisah Hakim Hun ini. Kasihan sekali dia.”


Seperti mendapat serangan mental bertubi tubi dari perkataan Leo itu, Yebin kontan diam tak berkutik. Pandangannya kosong. Ia melamun dengan bola matanya yang meremang merah. Berkaca kaca menahan tangisan. Hatinya seperti terkoyak koyak mendapati fakta bahwa ia telah membuat hancur hidup Hun, laki laki baik yang seharusnya mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari pada Kang Yebin.


“Semua itu... karenaku?”


Sambil mendesuskan kalimat itu, air mata Yebin berlinangan. Ia menangis penuh sesal setelah menyadari bahwa semua yang terjadi pada Hun ini adalah karenanya.


Namun ingatan itu kembali terbesit di kepala Yebin. Ucapan Yul beberapa waktu lalu. Yul berpesan supaya Yebin tak berpikir macam macam dan fokus saja pada penyembuhannya. Karena yang terjadi pada Hun murni bukan kesalahannya. Tetapi kesalahan pengendara dua mobil van itu.


Ucapan Yul telah menyelamatkan Yebin dari tipu daya yang Leo berikan. Yebin yang akal sehatnya masih berfungs itu segera menyeka air mata yang berlinangan di matanya.


“Tidak. Ini bukan kesalahanku. Aku sudah menganggap Hun Oppa keluargaku. Dan begitu selama ini aku memperlakukannya. Hun Oppa juga pernah mengatakan bahwa ia telah menganggapku keluarganya dan melupakan apa yang pernah terjadi di masa lalu.” Yebin berkata dengan tegas.


Rupanya hal itu tidak membawa perasaan baik untuk Leo. Dalam benaknya, ia merasa sangat kecewa.


“Dan untukmu, Leo ssi,” lanjut Yebin berkata. Ia menatap tajam Leo yang hampir membuatnya runtuh. “Aku tidak mengerti apa maksudmu mengatakan bahwa aku yang menyebabkan kondidi Hun Oppa seperti ini. Aku sama sekali tidak mengerti. Jangan berharap dengan caramu itu aku bisa luluh dan menghianati cinta suamiku.”


Raut wajah Leo menajam mendengar hal itu. Selama beberapa detik ia mempertahankan raut wajah itu. Sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang lalu tersenyum tipis.


“Benar. Aku memang pernah berkata bahwa aku menyukaimu. Tapi, aku sudah menyerah terhadap perasaanku. Kau sudah menjadi milik Tuan Moon Yul. Tidak mungkin kan kalau aku bisa mengalahkan laki laki yang memiliki kekuasaan besar seperti suamimu? Apalagi setelah nanti Moonlight Retail berkembang, bisa jadi suamimu akan dinobatkan sebagai pengusaha mandiri dengan aset terbesar di negara kita. Aku yang hanya orang biasa ini mana mungkin mengalahkan suamimu? Jadi aku sudah menyerah. Aku menyerah untuk mendapatkanmu.”


Penjelasan itu cukup mengejutkan untuk Yebin dengar. Yang berarti, Leo sudah tak memiliki perasaan apa pun pada Yebin. Berarti tidak ada yang perlu Yebin cemaskan lagi tentang lelaki itu.


Tetapi ekspresi wajah Yebin masih menunjukkan keraguan. Membuat Leo kembali mengimbuhkan.


“... Sama seperti suamimu yang sangat menyayangi adiknya, aku juga menyayangi adikku, Jina. Kami kembar dan terpisah sejak lama sebelum akhirnya bertemu saat sudah sama sama dewasa. Ada banyak sekali hal yang belum aku lakukan untuk Jina. Aku menginginkan Jina bahagia bersama laki laki yang dicintainya. Jika benar Jina dan Hakim Hun menikah, maka aku akan menjadi bagian dari keluarga kalian, menjadi kakak ipar Hakim Hun. Kita akan menjadi besan. Dan untukku, tidak ada yang lebih mengharukan dari melihat adikku tersayang bahagia bersama laki laki yang sungguh dia cintai. Tidak ada alasan juga untuk aku mengganggu rumah tanggamu dengan Tuan Moon Tul.”


Seketika terlihat raut kelegaan mendengar penjelasan panjang Leo Park. Leo Park tidak lagi menyukainya. Tidak ada lagi yang perlu Yebin cemaskan jika saja nantinya terjadi kesalah pahaman antara ia dan Yul.


“Kau... bisa memegang kata katamu kan?” tegas Yebin.


“Tentu saja,” jawan Leo yakin.


Sejenak suasana ruangan menghening.


“Sekarang aku tak lagi memiliki perasaan apa pun padamu. Aku boleh kan menganggapmu teman? Teman berbisnis, teman berbicara. Dalam berbisnis, aku selalu menjalin relasi dengan para pebisnis lain, tidak terkecuali dirimu.” Kata Yul setelah hening beberapa saat. “Tidak apa apa kan kalau aku menganggapmu teman?” lanjut Leo bertanya.


Yebin menimbang nimbang. Cukup lazim menjalin pertemanan sesama pebisnis untuk menjalin relasi dan memiliki hubungan dengan para pebisnis lain. Relasi itu cukup penting dalam urusan bisnis. Tidak memungkiri jika selama ini Yebin juga punya banyak hubungan pertemanan selama membesarkan nama Biniemoon.


“Baiklah. Asalkan kau tidak mengungkit masalah perasaanmu dan tidak berbuat macam macam lagi padaku, kita bisa berteman, sebagai sesama pebisnis.” Yebin berucap.


Seketika itu juga Leo mengulas senyum semringah.


“Kalau begitu, kau mau jalan jalan ke luar? Bukannya kau juga butuh udara segar?” kata Leo kemudian.


“Tidak bisa. Aku berkata akan menunggu suamiku di sini.”


“Sayang sekali. Cuaca di luar sangat cerah. Ada anak anak bermain di taman rumah sakit. Anak anak kecil itu sangat menggemaskan untuk dilihat. Kau yakin tidak mau jalan jalan denganku?” bujuk Leo. Ia pernah mendengar cerita tentang keguguran Yebin. Yang artinya, Yebin pun memiliki jiwa seorang ibu dan pastinya menyukai anak anak.


“Di sini ada anak anak kecil bermain?” Yebin meyakinkan.


Pupil mata Yebin membesar, pertanda ia tertarik dengan ajakan Leo. Anak kecil, adalah hal yang paling bisa menggetarkan hati seorang wanita yang pernah mengalami keguguran pada kehamilan pertama. Seperti Kang Yebin....


**


“Apa maksudmu? Rekaman blackboks mobil Hun tidak ditemukan?” Dengan perasaan terkejut, Yul mengulangi apa yang baru saja Pengacara Bae informasikan.


Keduanya kini tengah berada di kafetaria rumah sakit yang terletak di lantai satu. Berbincang bincang bersama sambil menghabiskan satu gelas latte hangat yang baru saja datang.


“Bukan hanya rekaman blackboks yang hilang. Saat kecelakaan terjadi, kamera pengawas CCTV di jalan itu juga mati sesaat. Rekamannya hilang dan tidak bisa dipulihkan.” Imbuh Pengacara Bae yang baru saja mendapatkan informasi demikian.


“Apa itu masuk akal? Jelas sekali jika itu adalah ulah seseorang yang sengaja menghapus rekaman CCTV saat kejadian bahkan mencuri rekaman blackboks di mobil Hun.” Yul yang sungguh merasa heran itu menceletuk tidak percaya.


Suasana hening sejenak. Tidak ada salah satu dari mereka yang membuka pembicaraan sebelum akhirnya Pengacara Bae angkat suara.


“Tuan Yul, aku bisa mengatakan hal ini karena aku sudah lama bekerja sebagai pengacara. Dan aku berpikiran bahwa kasus kecelakaan Hakim Hun itu bukan sekadar kasus kecelakaan biasa. Seperti... ada sebuah organisasi besar yang ada di belakangnya. Yang melindungi pelaku seperti pakaian berlapis lapis,” tutur Pengacara Bae.


Kening Yul mengerut dalam. Masih berusaha mencerna satu kata dari Pengacara Bae yang ia rasa memiliki banyak kejanggalan.


“Apa maksudmu berkata ‘pelaku’?” desus lirih Yul.


Seketika itu terlihat bola mata Pengacara Bae yang bergetar pelan. “Aku sudah bisa memastikan, itu kecelakaan yang disengaja. Ada satu orang dibaliknya yang berusaha mencelakai Hakim Hun melalui kecelakaan yang disamarkan itu.”


Yul menghela napas panjang. Padahal, ia baru saja mendengarkan kesaksian dari Yebin tentang kronologis kecelakaan. Dan ia tidak pernah menduga jika kecelakaan itu adalah perbuatan yang disengaja oleh seseorang. Membuatnya tak habis pikir dan tentu saja... geram.


“Satu hal lagi,” Pengacara Bae yang terlihat tidak memiliki banyak waktu itu meraih tasnya di atas meja. Mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Lalu menyerahkan sebuah flashdisk berwarna hijau kepada Yul. “Ini satu satunya bukti yang berhasil kudapatkan. Aku serahkan padamu. Dan mulai sekarang, aku berhenti menjadi pengacaramu. Aku memiliki urusan lain dan akan pindah ke Ceko.”


Sangat mengejutkan, tentunya. Yul sama sekali tidak menduga wanita itu akan secepat itu berhenti menjadi pembela hukumnya. Padahal Yul banyak berharap untuk wanita itu bisa menyelesaikan kasus kecelakaan Hun yang kelihatan sangat absurd itu. Tapi nyatanya Pengacara Bae tidak bisa membelanya sampai akhir dan memilih untuk berhenti sekarang, saat masalah semakin runyam dan ada banyak ketidak jelasan dalam kasus kecelakaan yang Hun alami.


“Kau akan pindah pekerjaan ke Ceko?” tanya Yul.


“Ya. Ada yang menawariku pekerjaan yang lebih menjanjikan di sana. Jadi aku tidak bisa menjadi pembela hukummu lagi. Kusarankan, agar kau mencari pengacara yang tulen dan pekerjaannya rapi. Yang bisa dengan sabar membuka satu per satu lapisan kasus itu sampai pelakunya ditangkap. Aku minta maaf karena tak bisa membelamu sampai akhir. Dan semoga kau berhasil.”


Tak meninggu lama lagi, Pengacara Bae beranjak dari duduk tanpa menghabiskan satu gelas latte yang ia pesan. Berjalan pergi meninggalkan Yul di meja kafetaria rumah sakit.


Wajah Yul tampak datar. Eksrpesi wajahnya tak menunjukkan keramahan seperti Yul pada biasanya. Terasa lebih kaku dan menegangkan. Ia memegangi flashdisk pemberian Pegacara Bae itu bersama dengan raut wajahnya yang tak berubah selama beberapa saat.


Selang tak lama kemudian, ponsel Yul berdering. Terlihat satu nama familiar yang langsung menyembul di tengah layar. Nama dari nomor yang sedang meneleponnya itu adalah Jin Haeri.


“Halo, Haeri-ya.” Yul membuka percakapan begitu menjawab panggilan telepon yang masuk. “Kau ada di rumah sakit? Oh, sudah di ruang rawat istriku? Dia sedang ada di ruang rawat Hun. Tunggulah sebentar. Aku akan naik.”


Setelah mendapat telepon bahwa Jin Haeri datang ke rumah sakit untuk menghunjungi Yebin dan juga Hun, Yul beranjak dari tempat. Meninggalkan cangkir lattenya yang masih terisi setengah. Berjalan masuk ke dalam lift sembari menyakui flashdisk yang ia belum tau isinya itu.


Setibanya di lantai tempat Yebin dan Hun dirawat, lift yang ditumpangi Yul berhenti. Ia keluar. Berjalan menyusuri koridor. Melihat Jin Haeri yang sedang menunggu di depan ruang rawat Yebin. Wanita itu seketika tersenyum hangat dan melambaikan tangannya begitu melihat Yul berjalan mendekat.


“Yul-a!” serunya selagi melayangkan senyum manis.


“Lama tidak bertemu, Haeri-ya. Kapan kau kembali dari Amerika? Kudengar kau sekarang tinggal di California.” Yul balas menyeru begitu tiba di hadapan Haeri.


“Kemarin lusa aku kembali ke Korea. Pekerjaanku di Amerika sudah selesai. Sekarang aku kembali ke Korea dan akan mulai berkarir.” Haeri menjawab. “Ngomong ngomong, di mana istrimu? Aku tidak melihatnya di dalam.”


“Dia sedang ada di ruang rawat Hun.” Yul menjawab. Ia lanjut berjalan menuju ruang rawat Hun. Menunjukkan kepada Haeri di mana ruang rawat Hun berada.


Di sela perjalanan mereka, Haeri tiba tiba membuka pembicaraan. “Aku banyak merenung selama pergi ke Amerika, Yul-a. Dan apa kau tahu apa yang paling aku sesali dalam semua renunganku itu?”


Kepala Yul tertoleh. Menatap Haeri yang sejak dulu tidak berubah. Tetap seperti wanita menawan tak tak pernah menua.


“Apa?” sahut Yul.


“Aku menyesal karena telah dibutakan oleh cinta mantan kekasihku dulu. Padahal ada pria sebaik dirimu yang selalu ada untukku, tapi aku tak pernah melihatmu dan hanya memikirkan lelaki yang sekarang hanya menjadi bagian dari masa laluku. Aku menyesal karena telah melewatkan kesempatan saat engkau masih ada untukku. Sekarang kau sudah memiliki belahan jiwa, dan aku sendirian. Aku memutuskan untuk mencari lelaki yang baik sepertimu, tapi tidak ada. Laki laki baik di dunia ini sangat terbatas, dan aku sudah melewatkannya. Sekarang tidak ada laki laki baik yang tersisa untukku. Dan aku hanya memutuskan, untuk tetap berkarir saja. Aku memutuskan untuk lebih fokus membangun karirku, sehingga aku bisa menjadi wanita mandiri yang tidak menikah pun tetap akan baik baik saja.”


Haeri mengatakan semua itu. Lalu tersenyum hangat menatap Yul. Seolah olah ia telah merasa puas dengan keputusannya untuk tidak menikah itu.


“Kau akan menemukan laki laki baik, Haeri-ya. Aku mengenalmu lama. Dan aku tahu kau adalah wanita baik baik. Hanya saja kau kurang beruntung masalah percintaan. Kau akan menemukan belahan jiwamu suatu saat nanti,” kata Yul.


Haeri membalas itu dengan senyuman manis. “Benar atau tidak prediksimu itu. Aku merasa senang mendengarnya.”


Tepat ketika itu mereka telah sampai di depan ruang rawat Hun. Yul memutar knop pintu sambil menceletuk kepada Yebin yang ada di dalam.


“Sayang, ada seseorang yang mau menjenguk....”


Yul menghentikan kalimatnya, ketika pintu ruangan telah terbuka dan ia tidak mendapati keberadaan Kang Yebin.


Pandangan Yul menyebar ke sekeliling ruangan. Mencari keberadaan Yebin yang jelas jelas kurang dari lima belas menit lalu ada di dalam ruangan ini dan berkata ingin menunggui Hun.


“Yebin-a! Kang Yebin, kau di mana?”


Bahkan tidak ada satu pun suara yang menanggapi panggilan panik Yul itu. Padahal kondisi Yebin masih kurang membaik. Cedera pada bahunya tidak memungkinkan Yebin untuk bisa menggerakkan kursi rodanya sendiri. Apalagi berjalan. Tulang rusuk Yebin juga belum pulih sepenuhnya setelah operasi sehingga ia tidak bisa berdiri dengan tegap. Di tengah kondisi yang seperti itu, ke mana Yebin pergi? Tidak mungkin ia bisa pergi sendirian tanpa ada seseorang yang mendorong kursi rodanya.


Yul merasa semakin cemas saat memikirkan semua itu. Ia menutup pintu ruang rawat Yebin. Berlari menyusuri koridor lantai itu. Mencari keberadaan Yebin.


“Apa yang terjadi, Yul-a? Istrimu hilang?” Sembari berlari pelan mengikuti Yul, Haeri menceletuk. Ia melihat raut wajah Yul yang tampak panik.


“Kondisi Yebin tidak memungkinkan untuk ia bisa pergi sendirian. Ke mana perginya? Belum ada lima belas menit aku meninggalkannya sebentar? Tapi ke mana perginya?” Yul menggumam cemas sambil menoleh ke sekeliling. Mengamati setiap pasien berkursi roda yang terlihat di lantai itu.


Di sela perasaan cemas yang Yul rasakan, satu pemikiran mengerikan terbesit dalam benaknya. Jangan jangan... Yebin telah diculik....


**


Hai... para pembaca. Visual Cast dari para tokoh sudah bisa kalian lihat di bagian prolog😘❤️