
Di atas ranjang pasien Yebin terbaring tak sadarkan diri. Ia baru mendapatkan pertolongan pertama pada patah tulang pada rusuknya. Juga baru selesai menjalani pemeriksaan CT Scan dan juga MRI untuk melihat kondisi otaknya apakah mengalami cedera atau tidak.
Tiga jam lalu ia dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami kecelakaan tunggal menggunakan mobil Hun. Untungnya kondisi Yebin tak seburuk Hun. Ia hanya mengalami sedikit cedera pada bahu dan juga gagar otak ringan karena benturan di kepalanya. Serta patah tulang rusuk yang dalam beberapa jam ke depan akan segera dioperasi oleh tim dokter yang sekarang sedang menangani Hun terlebih dahulu.
Kondisi Hun jauh lebih parah dari Yebin. Hun mengalami gagar otak dan juga perdarahan. Otot lehernya mengalami cedera. Sedangkan dua di antara tulang rusuknya mengalami patah. Hun kehilangan banyak darah dikarenakan benturan pada kepalanya yang cukup parah. Kondisinya yang seperti itu membuatnya harus segera dioperasi setelah mendapat persetujuan dari satu satunya keluarganya, Yul yang dihubungi oleh tim dokter. Terlambat sedikit dalam memberikan pertolongan saja akan berakibat fatal untuk Hun. Sehingga dokter yang bertugas segera menjadwalkan operasi untuk menghentikan perdarahan pada otak Hun. Sedangkan Yebin yang kondisinya tidak cukup parah, baru mendapatkan pertolongan pertama. Ia telah dijadwalkan operasi untuk tulang rusuknya yang patah dalam beberapa jam ke depan.
Yebin yang terbaring di atas kasur perlahan mengerjapkan mata. Setelah tiga jam tak sadarkan diri, ia mulai sadar dan membuka mata secara perlahan lahan.
Seketika matanya terbuka, serangan nyeri yang teramat menyakitkan menyerang kepala Yebin. Ia tak sanggup membuka matanya karena rasa nyeri yang teramat menyakitkan itu. Sehingga Yebin kembali menutup matanya. Keningnya mengerut dalam menahan serangan rasa nyeri yang menghujam kepalanya.
Aroma obat obatan menyentuh indra penciuman Yebin. Ia merasakan dirinya tengah berada di salah satu ruang rawat inap rumah sakit. Cairan infus yang terasa dingin mengaliri pembuluh darahnya dari punggung tangan. Selimut hangat rumah sakit yang memiliki aroma yang sangat khas. Yebin cukup mengerti bahwa ia sedang dilarikan ke rumah sakit dari hal hal yang bisa indranya rasakan. Tak lain dari itu semua, rasa sakit yang terus menghujami tubuh Yebin itu menandakan bahwa dirinya tak hanya bermimpi. Kecelakaan beberapa waktu lalu. Van hitam dan sebuah tubrukan. Semua itu benar terjadi. Bukan hanya sekadar mimpi. Yebin menyadari semua itu dan hanya terbaring lemas di atas ranjang pasien yang hangat ini.
Rasa nyeri tak hanya menghujami kepala Yebin. Tetapi juga dadanya. Ia merasakan nyeri dada yang terasa menyakitkan. Mungkin dari rulang rusuknya yang patah. Serta rasa perih dari goresan pecahan kaca mobil yang mengenai beberapa bagian wajah, lengan, dan bahu itu makin terasa. Meski telah sadar, Yebin merasa tak sanggup membuka matanya barang sejenak. Semua rasa sakit yang membelit seluruh tubuhnya itu membuatnya tak kuasa untuk sekadar membuka mata. Ia memejamkan matanya selama beberapa saat. Hingga menemukan setitik energi untuk melawan rasa sakit itu dan membuka mata. Melihat seorang laki laki yang duduk mengamatinya dari samping ranjang.
“Kang Yebin, kau sudah sadar?”
Pandangan Yebin memburam. Ia tak dapat melihat siapa lelaki yang sedang mengajaknya bicara itu. Yang berhasil dikenali Yebin adalah suaranya. Suara lelaki itu adalah suara... Leo Park.
“Kang Yebin, kau melihatku? Kau sudah sadar?” celetuknya. Terdengar nada suara Leo Park yang mencemas. Ia berdiri dari duduk untuk melihat secara leluasa Kang Yebin yang masih terbaring lemas di atas ranjang ini.
Setelah beberapa kali mengerjapkan mata, Yebin akhirnya dapat memastikan bahwa laki laki ini adalah Leo Park. Pandangannya yang mengabur itu mulai kembali. Ia kini dapat melihat dengan jelas kondisi langit langit ruangan dan juga seorang lelaki yang berdiri menatapnya dari samping ranjang.
Yang Yebin sadari saat ini hanya satu hal. Di ruangan ini, ia hanya bersama Leo. Tidak ada Hun. Tidak ada siapa siapa selain Leo Park.
“Di mana... Hun Oppa?”
Yebin menyadari bahwasannya ia mengalami kecelakaan bersama Hun. Hun yang menyetir mobil. Tetapi Hun tidak ada di ruangan ini. Jangan jangan....
“Di mana Hun Oppa? Di mana dia? Agh!”
Saat tubuh Yebin mengeliat untuk mencari keberadaan Hun, rasa sakit yang teramat mencekat kembali menghantam kepala dan juga dadanya. Ia mengkhawatirkan Hun. Ia takut terjadi apa apa pada Hun, yang mengalami kecelakaan bersamanya.
“Hakim Hun sedang dioperasi. Setelah itu giliranmu. Kau mengalami patah tulang pada rusukmu." Leo memberikan jawaban singkat. yang seketika membuat Yebin menenang.
Ia sudah memastikan bahwa Hun masih bertahan hidup setelah kecelakaan itu dan sekarang sedang dioperasi. Hal itu telah membuat Yebin merasa lega. Yebin pun kembali terbaring dengan tenang. Tatapan kosongnya tertuju pada langit langit ruangan. Ia merasa amat kewelahan menahan rasa sakit yang menghujam seluruh tubuhnya dengan begitu menyakitkan.
Ahh, rasa sakit ini benar benar tak tertahankan. Yebin yang merasakan semua rasa nyeri yang bercampur perih pada seluruh tubuhnya, tiba tiba meneteskan air mata. Ia menangis. Cairan sebening kristal mencucur keluar dari kedua sudut matanya. Ia tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya kaku dan tak bisa digerakkan. Kepalanya terasa sangat sakit seperti mau pecah. Begitu pun dadanya yang sangat sesak. Ia kesulitan untuk bernapas. Setiap kali ia menghela napas, rasa nyeri dari rongga dalam dadanya kembali mencekat.
Yang Yebin pikirkan saat ini hanya satu hal. Di sela sela tangisnya yang bercucuran menahan semua rasa sakit itu, ia hanya memikirkan satu hal. Mulutnya menggumam gumam pelan. Suaranya yang teramat lirih itu hanya menyebutkan satu nama.
“Yul Oppa ... suamiku.... Aku merindukan suamiku. Ini sangat menyakitkan. Aku membutuhkan suamiku. Aku membutuhkan Yul Oppa.”
Tangisan Yebin semakin deras serasa mulutnya terus menggumam memanggil sesosok laki laki yang memenuhi kepalanya. Di tengah semua rasa sakit ini, hanya Yul yang terlintas dalam memorinya. Kepalanya yang luar biasa sakit akibat benturan itu masih memiliki celah untuk mengingat ingat sesosok lelaki yang saat ini benar benar ia rindukan. Ia sangat menantikan keberadaan suaminya. Yebin benar benar tak berdaya kini. Fisik dan hatinya semuanya terluka. Hanya Yul yang bisa memberinya kekuatan lebih untuk melawan semua rasa sakit itu. Hanya Yul, bukan yang lain.
Saat Yebin terisak dalam tangis kerinduannya, Leo yang perasaannya ikut meretih itu menggenggam tangan Yebin. Menggenggam tangan sang wanita lalu memberinya kecupan hangat pada punggung tangan Yebin yang digenggamnya.
“Jangan khawatir. Aku ada... untuk menggantikan posisi suamimu,” gumam pelan Leo Park sambil menciumi tangan Yebin.
Bukan malah mengobati rasa sakit yang dirasakan Yebin, apa yang lelaki itu lakukan justru menambah rasa sakitnya. Yabin yang bahkan kesulitan menggerakkan jemari tangannya itu tak dapat berbuat apa apa. Ia hanya terus menangis sambil berharap Yul akan segera datang dan memeluknya, memberinya kekuatan.
‘Cklekk!’
Suara pintu yang terbuka menyentakkan Leo. Seketika ia melepaskan tangan Yebin dari genggamannya. Menoleh ke arah pintu ruangan. Mendapati seorang wanita paruh baya yang berjalan dengan tergesa gesa dengan raut kehancuran. Tidak salah lagi, wanita paruh baya itu adalah Miyoon, ibu Yebin. Ia berjalan mendekat ke arah ranjang dengan perasaan tersayat sayat yang ia rasakan melihat kondisi putri semata wayangnya yang mengenaskan.
“Yebin-a! Oh, Yebin.... Apa yang terjadi padamu, Nak? Apa apaan dengan semua lukamu ini? Ya Tuhan....”
Kaki ibu seolah tak bertulang melihat kondisi Yebin yang mengenaskan. Semua goresan luka pada wajah dan lengan Yebin yang meretihkan darah. Kepala putrinya yang terbalut perban berwarna putih dengan noda darah yang terlihat pekat.
Sang ibu seketika melemas melihat keadaan putrinya yang seperti itu. Ia mendekat ke arah ranjang. Ingin sekali ia memeluk putrinya yang baru selamat dari petaka ini. Namun, ia tak boleh menyentuh Yebin sembarangan dikarenakan semua luka Yebin dan juga tulang rusuk patahnya yang masih akan mendapat pertolongan.
“Ibu... ibu....”
Yebin kembali menangis terisak melihat kedatangan ibunya. Yang Yebin butuhkan saat ini adalah dukungan. Ia masih belum percaya pada apa yang terjadi padanya ini. Yebin masih begitu syok dan kaget atas semua peristiwa yang menimpanya ini. Sehingga yang ia butuhkan adalah dukungan. Ia membutuhkan dukungan dari orang orang tersayang. Termasuk ibunya.
“Tidak apa apa, Putriku. Sebentar lagi kau akan dioperasi. Kau tidak akan merasakan rasa sakit lagi. Tidak apa apa, bertahanlah. Ibu akan di sini menemanimu.”
Miyoon meyakinkan Yebin sambil menggenggam hangat tangan dingin sang putri. memberinya daya dan kekuatan untuk bisa melalui semua ini. Ia tahu rasa sakit yang dirasakan Yebin saat ini teramat mencekam. Tak terbayangkan rasa sakitnya. Namun ia yakin putrinya itu akan bisa melalui semua rasa sakit ini. Ia hanya perlu menunggu sampai mendapatkan operasi dan segenap perawatan lainnya supaya rasa sakit yang menjalar ini tak begitu menghujam layaknya hujan peluru yang menembus setiap sel dalam tubuhnya.
Lalu ibu lanjut berkata lirih, memberi tahu putrinya tentang suatu hal.
“Suamimu sedang dalam perjalanan menuju kemari. Dia tadi meneleponku. Begitu mendengar kabar kecelakaanmu bersama Hun, Menantu Yul bergegas membeli tiket penerbangan dari Jeju. Sekarang dia masih dalam perjalanan. Jadi tunggulah sebentar lagi. Suamimu akan segera datang.”
Mendengar suaminya akan segera datang, perasaan Yebin sedikit melega. Ia mengangguk pelan seselesainya mencerna semua penjelasan ibunya. Menantikan kedatangan Yul.
**
Dunia Yul seakan akan runtuhu ketika mendengar kabar kecelakaan Hun dan juga Yebin. Ia masih berada dalam persidangan dengan manajer Moonlight Coffe Jeju, ketika panggilan itu masuk. Ketika itu Yul baru selesai berbicara. Dan tiba tiba saja mendapat telepon asing dari rumah sakit yang ada di Gangnam. Memberi tahukan perihat kecelakaan yang terjadi pada istri dan adiknya.
Mendengar itu, tentu saja Yul merasakan syok berat dan kaget setengah mati. Ia mendengar ucapan seorang perawat rumah sakit itu, bahwa kondisi Hun cukup parah dan membutuhkan persetujuan keluarga untuk prosedur dilakukannya operasi. Sedangkan kondisi Yebin tak lebih buruk dari Yul namun juga dimintai persetujuan untuk prosedur operasi patah tulang rusuk.
Karena kabar itu juga, Yul langsung memesan tiket menuju Seoul. Ia memasrahkan semua pekerjaan pada Pak Kim yang tinggal di Jeju. Lalu berangkat menuju Seoul dengan rasa khawatir sekaligus rasa bersalah yang nyaris meledak dalam kepalanya.
Baru kali ini ia merasakan penerbangan pesawat dari Jeju bisa sangat lama. Jangankan tidur selama penerbangannya, yang bisa Yul lakukan hanyalah berdoa. Hatinya yang telah hancur berkeping keping itu tak henti hentinya melantunkan doa untuk keselamatan istri tercinta dan adik tersayangnya. Bahkan Yul tak sempat memikirkan keselamatannya sendiri. Yang ada di kepalanya hanya Kang Yebin. Sepanjang perjalanannya, ia hanya dihantui rasa bersalah.
Beberapa belas menit yang lalu pesawat yang ditumpangi Yul telah lepas landas di bandara Internasional Incheon. Yul yang datang hanya dengan membawa badan itu segera memesan taksi untuk mengantarkannya menuju Rumah Sakit Gangnam. Kepulangan Yul ke Seoul itu memang sangat mendadak. Ia bahkan tidak sempat mengambil barang barangnya di hotel. Dan langsung bergegas menuju bandara begitu saja setelah mendapat kabar. Yul pulang hanya dengan membawa tubuh, dompet, ponsel. Tak membawa perlengkapan apa apa. Ia meninggalkan semua barangnya pada Pak Kim yang akan menghendel semua pekerjaannya di Jeju.
Di dalam taksi, Yul menghubungi seseorang melalui ponselnya. Ia sedang tersambung panggilan telepon dengan seseorang yang sangat dibutuhkannya untuk situasi seperti ini.
“Halo, ya, ini aku Moon Yul. Pak Kim pasti sudah menghubungimu, kan? Aku membutuhkan pertolonganmu, sekali lagi.” Yul membuka percakapan. “Sebentar lagi beritanya pasti akan keluar. Pantau segala macam berita tentang kecelakaan tunggal Hun dengan istriku, di media sosial maupun televisi, dan kontrol semua berita itu seperti yang dulu pernah kau lakukan. Jangan sampai ada satu berita saja yang terkesan memojokkan Hun dan seolah olah melimpahkan semua kesalahan padanya. Dan ikuti perkembangan kasusnya. Aku yakin ada manipulasi kasus kecelakaan Hun. Hun... bukan orang yang akan ugal ugalan membawa mobil, apalagi jika bersama istriku. Tidak mungkin itu hanya kecelakaan tunggal. Pasti ada hal lain yang disengaja. Jadi tolong aku sekali lagi. Jumlahnya kau sendiri yang menentukan, aku akan membayarmu berapa pun.”
Setelah mengatakan semua itu, dan mendapat persetujuan dari orang yang diteleponnya, Yul pun mengakhiri panggilan. Tepat ketika ia selesai menelepon, layar televisi kota yang berada di depan bangunan pusat perbelanjaan Seoul, menampilkan berita terkini. Itu adalah berita kecelakaan Hun. Yul yang masih ada di dalam mobil itu, menurunkan kaca jendela dan mengamati berita eksklusif yang sedang disiarkan di salah satu stasiun televisi besar Korea.
Berita itu seperti ini....
‘Kecelakaan tunggal terjadi di titik 0,7 kilometer jembatan penghubung distrik Gangnam dan distrik Gwangjin. Diduga kecelakaan tunggal itu terjadi karena kelalaian sang pengemudi. Kedua korban yang ada di dalam mobil tersebut kini tengah dilarikan ke rumah sakit dikarenakan cedera berat dan luka parah akibat benturan mobil. Polisi kini tengah menyelidiki lebih lanjut terkait penyebab kecelakaan tunggal tersebut lantaran pengemudi dari mobil Benz hitam tersebut diduga berprofesi sebagai hakim muda di Mahkamah Agung.”
Mendengar berita yang tengah disiarkan itu, Yul mengembuskan napas panjang.
“Mereka cepat sekali... para wartawan.”
Tanpa dirasa Yul kini telah sampai di rumah sakit Gangnam tempat Hun dan Yebin dilarikan. Hun lantas turun dari taksi setelah membayar tarifnya dengan lembaran uang tunai. Lalu berjalan cepat memasuki gedung rumah sakit besar yang berdiri di daerah elit seperti Gangnam.
Sesuai arahan seorang perawat, Hun naik ke lantai sembilan, ruang operasi berada. Ia pun bergegas naik untuk menemui Yebin yang hendak dioperasi dan juga Hun yang masih berada dalam koma setelah operasinya berhasil.
Yul berjalan dengan setengah berlari di lorong lantai sembilan. Mencari keberadaan ruang operasi. Di tengah ia berjalan cepat, sebuah ranjang pasien dengan tiga orang dokter yang mendorongnya melaju menyalip Yul. Tidak salah lagi. Itu adalah Yebin. Yebin hendak dibawa masuk ke dalam ruang operasi untuk operasi patah tulang pada rusuknya.
“Yebin-a!”
Terkejut, Yul langsung menceletuk tatkala melihat siapa perempuan penuh luka yang terbaring tak berdaya di atas ranjang pasien itu. Sejurus ia mempercepat langkah. Melihat Yebin yang setengah sadar menatapnya pilu. Yul yang melihat istrinya lemah tak berdaya dengan perban di kepala dan beberapa luka gores pada wajah dan lengan itu merasakan lemas seketika. Ia berusaha mengimbangi laju ranjang Yebin. Menggenggam tangan sang istri selagi menatap Yebin pilu.
Namun Yebin tak bereaksi apa apa saat secara sadar melihat keberadaan suaminya. Hanya air mata yang mencucur keluar dari sudut mata Yebin ketika melihat suaminya. Wanita itu kembali menangis. Orang yang sangat ia rindukan, orang yang keberadaannya sangat diharapkan, kini telah ada di hadapan Yebin. Membuat perasaan Yebin bercampur aduk hingga air matanya kembali menetes.
“Sayang... tidak apa apa. Kau baik baik saja. Aku akan menunggumu di luar. Aku sayang kamu.”
Setelah mengatakan semua itu pada sang istri yang sedang berjuang melawan rasa sakit, Yul terpaksa harus berhenti. Genggaman tangannya pada Yebin pun terlepas. Ia dihadang di depan pintu masuk ruang operasi. Tidak diperbolehkan masuk bersama Yebin dan tim dokter yang akan melakukan pembedahan.
Yul hanya dapat menatap pilu pintu ruang operasi tempat Yebin tenggelam bersama ketiga dokter itu. Menatapnya nanar. Pandangan Yul menurun. Tangannya yang baru saja menggenggam tangan Yebin itu dikotori oleh darah. Bahkan cincin pernikahannya dengan Yebin yang melekat di jari manis itu juga ternodai oleh darah dari tangan Yebin. Yul hanya menatap noda noda darah itu dengan perasaan yang meretih sakit. Ia tidak bisa membayangkan betapa besar rasa sakit yang dirasakan Yebin. Dan bukan hanya itu. Yebin mau tidak mau harus bertahan bersama rasa sakitnya yang luar biasa itu untuk menunggu gilirannya dioperasi.
“Menantuku!”
Suara celetukan ibu membuat Yul langsung berbalik. Ia melihat ibu yang berjalan dari kejauhan dengan wajah yang teramat pilu dan juga tangisan menyesakkan. Lalu saat sang ibu tiba di hadapan, Yul pun segera memeluknya. Seketika itu juga ibu kehilangan kekuatan pada kedua kakinya. Ia nyaris terkulai ke lantai jika saja Yul tak menyangga tubuh sang ibu yang sungguh lemas ini.
“Ibu, Yebin akan baik baik saja. Yebin adalah wanita yang tegar dan kuat. Dia akan baik baik saja. Dia akan keluar dari ruang operasi dengan selamat.” Yul berusaha meyakinkan sang ibu yang merasa sangat terpukul. Menenangkan ibu yang kini tangisnya terpecahkan setelah melihat sang putri masuk ke ruang operasi.
**