Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Jurus bertahan Kang Yebin



Sejujurnya Yul merasa aneh ketika mendapat telepon mendadak dari Leo Park yang berisi ajakan bertemu di sebuah tempat. Apalagi permintaan bertemu itu dadakan dengan tempat yang berbeda dari biasanya.


Pasalnya, urusan bisnis antara Yul dengan Leo Park sudah akan berakhir. Besok lusa adalah peresmian Moonlight Retail. Yang artinya besok lusa itu pula merupakan pekerjaan terakhir Leo Park di Moonlight Retail. Urusan Yul dengan Leo harusnya telah berakhir sejak beberapa hari lalu. Sejak semua perencanaan bisnis telah matang dan sampai di tahap pucak. Sekarang tinggal menunggu peresmian besok lusa. Pun urusan rapat yang nanti malam akan Yul hadiri itu adalah penandatanganan kontrak kerja sama antara Biniemoon dan pihak pihak luar yang diajak kerjasama. Yul hadir sebagai perwakilan dari Biniemoon, menggantikan Yebin yang masih harus tinggal beberapa hari lagi di rumah sakit karena kondisi tulang rusuk dan cedera bahunya.


Pada intinya, tidak ada hal lagi yang harus Yul perbincangkan dengan Leo Park terkait bisnis mereka. Semuanya telah clear, urusan bisnis mereka telah beres dan tidak ada alasan untuk keduanya bertemu secara pribadi seperti itu. Namun, Yul tetap datang sesuai panggilan. Bukan karena hal lain. Tetapi karena alasan Leo ingin bertemu itu adalah hal yang tidak bisa Yul hindari dengan cara apa pun


Seketika turun dari mobil, Yul berjalan menuju sebuah tempat yang sangan tidak asing. Itu adalah klub malam. Klub malam yang belum buka di sore hari. Di bagian sebelah pintu masuk ke klub malam, ada satu lagi pintu yang terbuka. Di depan pintu tersebut terdapat dua orang penjaga (bodyguard) yang mempersilakan Yul untuk masuk.


Tempat seperti apa ini. Dan mengapa Leo mengajaknya bertemu di tempat yang tidak lain adalah klub malam yang masih sangat sepi. Dengan memikirkan dua hal itu Yul masuk ke dalam. Melewati dua laki laki bertubuh kekar yang berdiri di depan pintu, seperti penjaga gerbang di jaman dinasti Jeoson.


Seketika Yul masuk ke dalam, ada seorang penjaga lagi yang mengarahkan Yul untuk naik ke lantai dua. Penjaga yang mengarahkannya itu berpakaian hitam hitam dengan atribut serba hitam dan leher bertato.


Di lantai dua Yul diarahkan untuk masuk ke sebuah tempat. Di dalam tempat yang terlihat begitu mewah dengan barang barang gemerlap seperti berlian, terdapat Leo Park yang duduk manis menunggunya. Aura lelaki itu sungguh berbeda. Ia tak tampak seperti seorang konsultan bisnis atau pun karyawan sebuah perusahaan besar. Tetapi lebih mirip seperti bos yang memiliki kekuasan penuh dan suka mengendalikan orang lain. Yang pasti, Leo park yang saat ini duduk di hadapan Yul itu bukan seperti Leo Park yang ia pekerjakan sebagai konsultan bisnis Moonlight Retail.


“Tuan Moon Yul, sudah datang kau rupanya.” Lelaki itu menyambut kedatangan Yul dengan seutas senyum seringaian yang tersimpul di pipinya. “Silakan duduk.”


Yul diarahkan untuk duduk di atas kursi sofa super mewah, berhadapan dengan Leo Park yang sedang duduk menyilangkan kaki dengan begitu santainya. Tak lupa, di belakang Leo Park itu ada dua orang laki laki berbaju serba hitam yang tidak jauh berbeda dari dua penjaga pintu di bawah. Juga satu orang lagi lelaki yang terlihat cukup muda, berdiri tepat di belakang Leo Park duduk.


“Leo ssi, sepertinya kau perlu menjelaskan padaku. Ini semua apa, dan siapa kau sebenarnya.” Yul berkata dengan tegas seketika mendudukkan tubuh ke atas sofa.


Senyum lebar seketika itu tersinggung di wajah Leo Park. Ia terkekeh kekeh dan membuat Yul semakin bingung.


“Kau itu tidak sabaran sekali, Tuan Moon Yul. Baru saja aku mau memperkenalkan diri dengan baik di hadapanmu,” desus Leo Park sambil menurunkan salah satu kakinya. Ia duduk tegap menatap Yul menggunakan tatapan tajamnya. “Sekarang aku akan memperkenalkan diri secara resmi. Perkenalkan, aku Leo Park, bos sekaligus pemilik Everyday Night Club dan Everiday Bar. Senang bertemu denganmu, Tuan Moon Yul.”


Tentu saja, Yul merasa tersentak mendengar hal itu. Ia pikir Leo Park itu adalah seorang konsultan bisnis yang cukup kompeten dan telaten di bidangnya. Karena itulah ia terkenal di kalangan para pebisnis. Namun ternyata lelaki itu adalah bos dari Everyday Night Club, sebuah klub malam terbesar yang ada di Korea Selatan. Yang mana Everyday Night Club itu sering terlibat dalam skandal para atris, skandal kriminal, dan banyak skandal lain. Dan anehnya lagi, dengan semua skandal itu Everiday Night Club tidak pernah terkena masalah hukum dan selalu lolos sebelum semua kasus yang dilaporkan sampai ke pengadilan.


Jika benar Leo Park adalah pemiliknya, maka alasan lelaki itu berkamulfase menjadi konsultan bisnis adalah....


“Cukup mengejutkan. Aku tidak pernah menyangka jika orang yang pernah kupekerjakan sebagai konsultan bisns itu ternyata adalah pemilik sebuah klub malam terbesar di Korea. Menarik sekali, juga mengejutkan.” Yul angkat suara di tengah rasa terkejutnya.


“Tidak banyak yang tahu tentang identitasku sebagai bos klub malam. Aku lebih banyak dikenal sebagai konsultan. Begitulah caraku bertahan hidup selama ini. Tapi khusus untuk bos Moonlight Coffe, aku memperlihatkan identitasku yang sebenarnya,” ucap Leo seolah olah dia sedang memberikan hak istimewa untuk Yul.


Dengan perasaan tak percaya Yul menggumam, “Sebuah... kerhormatan untuk tahu hal itu.”


“Langsung saja, Tuan Moon Yul. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” kata Leo tak ingin berbasa basi.


“Ya, katakan saja.”


“Aku ingin membeli lima puluh persen saham Moonlight Retail.”


Tercengang, Yul hanya diam semantara mendengar apa yang Leo inginkan. Bukan hanya tak bisa berkata kata. Tetapi Yul juga merasa begitu heran mendengar permintaan yang tidak masuk akal itu.


Yul hanya terkekeh kekeh. “Separuh dari keseluruhan saham Moonlight Retail. Jadi selama ini kau bekerja dengan cara seperti itu? Membantu seseorang membangun bisnis dengan profesimu sebagai konsultan. Lalu merampas bisnis tersebut dengan meminta separuh dari keseluruhan saham?”


“Sudah kukatakan, itu caraku bertahan hidup. Dan aku tidak meminta. Tetapi aku membeli.” Leo menimpali.


Entah menapa Yul merasa menyesal karena bersedia datang ke tempat ini untuk hal yang sangat sia sia seperti ini. Lebih baik waktunya yang sangat berharga itu ia gunakan untuk bersama istrinya yang sedang sakit. Daripada waktunya terbuang sia sia untuk hal yang tidak masuk akal.


Merasa tidak ada lagi yang ingin dikatakan, Yul beranjak dari duduk.


“Sepertinya salah aku datang kemari. Aku tidak akan membiarkan orang lain memegang saham lima puluh persen di Moonlight Retail. Jadi aku pergi saja,” kata Yul. Ia mulai beranjak meninggalkan sofa sebelum akhirnya Leo menghentikannya dengan sebuah celetukan.


“Kalau begitu berikan saja istrimu padaku!”


Langkah Yul seketika terhenti. Raut wajahnya berubah serius. Pun garis rahangnya tampak tegang karena ia sedang menahan perasaan geram mendengar kata kata Leo Park yang tidak sepantasnya.


Perlahan, Yul membalikkan tubuh. Menatap tajam ke arah Leo Park yang berkata sembarangan.


“Apa maksudmu?” cetus Yul.


“Kalau tidak berencana menjual separuh saham Moonlight Retail padaku, berikan saja aku istrimu. Dia wanita tercantik yang pernah kutemui. Juga wanita paling memesona yang selalu membuatku ingin memilikinya setiap kali melihat. Silakan pilih. Kalau kau begitu menyayangi bisnismu, berikan istrimu padaku. Tapi jika kau begitu menyayangi istrimu, biarkan aku membeli separuh saham itu.”


Yul semakin geram mendengar hal itu. Yang membuatnya merasa begitu marah tidak lain adalah karena Leo Park memperlakukan Yebin seperti barang yang bisa dimiliki jika ingin dan bisa diambil jika mau. Yul sangat marah mendengarnya. Benar benar marah. Tangannya mengepal erat tetapi ia sedang menahan diri untuk tidak berbuat hal bodoh.


Tarikan napas panjang Yul menjadi pertanda bahwa lelaki itu mencoba untuk lebih bersabar. Benar. Kali ini Yul akan bersabar.


Setelah berhasil mengendalikan amarahnya, Yul berucap tegas, “Aku anggap tidak pernah mendengar itu semua. Tentang pembelian saham dan tentang istriku.” Lalu ia segera berbalik, hendak pergi meninggalkan Leo yang semakin gila.


Saat Yul masih memegang knop pintu untuk beranjak keluar, terdengar lagi satu celetukan dari Leo Park yang membuat Yul seketika terbelalak.


“Kau yakin ingin pergi sekarang? Padahal istrimu sedang menuju kemari.”


Yul sontak terbelalak. Oh, tidak. Yebin... Kang Yebin....


**


Sekepergian Yul, Yebin masih lanjut bermain bersama Yul kecil. Menemani anak laki laki itu menggambar sesuatu di atas buku gambarnya.


“Yul-a, apa kau punya saudara? Berapa bersaudara di keluargamu?” tanya Yebin sambil mengamati anak itu menggoreskan ujung pensil untuk menggambar sebuah sketsa.


“Aku tidak punya saudara. Adikku perempuan meninggal di usia satu tahun,” jawab Yul.


Meski dari karakter dan sikap Yul ini seperti anak yang lebih dewasa dari usianya, tetapi ia tetaplah anak lima tahun yang penuh kelucuan dan kepolosan. Bahkan cara berbicaranya yang terdengar sangat polos itu menunjukkan bahwa Yul juga anak kecil seperti pada umumnya. Hanya saja sikapnya jauh lebih dewasa daripada anak usia lima tahun.


“Namanya Sebyul, giginya baru tumbuh satu seperti kelinci. Dia sangat menggemaskan seperti boneka. Aku selalu memeluknya saat mau tidur.”


Yul bercerita singkat tentang adik kecilnya kepada Yebin. Yebin mendengarkan hal itu dengan seksama dan penuh perhatian.


Sesaat kemudian Yul telah selesai menggambar di atas buku sketsanya. Ia merobek satu lembar buku sketsanya itu lalu memberikannya kepada Yebin.


“Bibi, ini untukku. Kenang kenangan dariku,” kata Yul sambil memberikan satu lembar buku sketsa yang telah ia gambari sesuai.


“Wah, terima kasih banyak, Yul-a. Bibi sangat berterima kasih.” Yebin mendesus senang sambil menerima kenang kenangan pembeiran Yul itu.


Di dalam satu lembar buku sketsa yang Yebin peroleh itu, terdapat gambar wajah Yebin yang Yul lukis menggunakan pensil lukisnya.  Wajah Yebin ketika sedang tersenyum. Rambut panjang yang terurai dan sudut mata yang menyipit ketika tersenyum. Wajah Yebin yang digambar dengan sangat cantik dan lucu itu membuat Yebin tak bisa berhenti tersenyum dan merasa haru.


Tepat ketika Yebin masih sibuk melihat gambar wajahnya yang dilukis Yul kecil, dua orang laki laki bertubuh tinggi besar dan berpakaian hitam hitam berjalan menghampiri Yebin. Kedua lelaki itu tiba dari belakang Yebin dan menepuk bahunya.


Tepukan ringan pada bahu Yebin itu sontak membuatnya menoleh ke belakang. Ia melihat dua sosok laki laki dengan leher bertato berdiri di belakangnya. Pun wajah dari kedua laki laki itu terlihat sangat asing dan menyeramkan untuk Yebin.


“Anda Nyonya Kang Yebin?” tanya salah seorang laki laki itu ketika Yebin menoleh ke belakang dan melongo.


“Ya ... yaa. Kalian siapa?” Yebin menjawab ragu dengan terbata bata.


“Nyonya Kang Yebin, silakan ikut kami. Bos kami ingin bertemu dengan Anda.” Salah seorang laki laki berpakaian hitam itu berucap dengan nada suara yang tegas. Bahkan terdengar sedikit memaksa. Membuat Yebin mulai dihantui rasa takut.


“Tidak. Saya tidak bisa ke mana mana,” kata Yebin dengan tegas. Ia segera melipat satu lembar kertas sketsanya tadi lalu memasukkannya ke dalam baju. Sementara Yul juniot yang sampai beberapa detik lalu masih duduk bersama Yebin, sekarang telah pergi. Anak itu berlari ke tempat lain untuk bermain bersama kawan kawannya.


“Tapi Anda harus ikut. Bos kami mencari Anda.”


Dua laki laki yang semua ada di belakang kursi Yebin itu mulai berpindah ke depan. Ia berdiri di sebelah kanan dan kiri Yebin. Mulai menarik kedua lengan Yebin untuk membawa wanita itu pergi menemui bos dari kedua lelaki itu.


“Tidak! Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan!” Yebin yang mulai dicengkeram oleh kedua laki laki itu melakukan pemberontakan. Ia berteriak teriak sambil mencoba melepaskan cengkeraman erat kedua lelaki itu.


Namun, apalah daya. Yebin adalah seorang perempuan yang sedang sakit dan sedang membutuhkan perawatan di rumah sakit karena cedera. Sekali pun ia mencoba melawan, kekuatan kedua laki laki bertubuh tinggi kekar ini berlipat lipat lebih besar dari kekuatan Yebin. Tidak ada yang bisa yebin lakukan selain terus berteriak teriak untuk mengundang perhatian dari orang lain.


“Lepaskan! Apa yang kalian lakukan?!”


Saat yebin masih sibuk berteriak, tiba tiba seorang anak kecil berdiri di hadapannya. Menghadang kedua laki laki bertubuh besar yang ingin membawanya pergi menemui bos, entah siapa bos yang dimaksud dan apa urusannya dengan Yebin.


Akibat anak kecil yang tidak lain adalah Yul, yang menghadang di depan Yebin, kedua laki laki yang menyeramkan itu berhenti sejenak.


“Hei, anak kecil. Minggir kau!” usir salah seorang laki laki berbaju hitam.


“Jangan bawa pergi bibiku! Kalian orang jahat yang mau membawa pergi bibi. Jangan bawa pergi bibi. Atau Pak Polisi akan datang menangkap kalian,” kata Yul penuh keberanian. Kedua tangannya bahkan menengger di pinggang. Menunjukkan keberaniannya melawan dua lelaki yang mencoba membawa Yebin pergi itu.


Kang Yebin, yang kepalanya dipenuhi oleh ide ide gila itu tak akan pasrah begitu saja ketika ada orang lain mau menculiknya. Apalagi ketika seorang anak kecil telah memberinya kesempatan untuk melawan. Yebin mulai berpikir. Memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk memberontak. Tapi, kalau dipikir pikir, kelemahan semua laki laki itu sama.


Yebin langsung memutar tubuhnya ke kanan. Lalu melakukan tendangan keras di antara kedua kaki dari salah satu laki laki bertubuh besar yang hendak berbuat jahat padanya. Menendang bagian itu dengan sekeras mungkin sebanyak dua kali. Begitu lelaki itu lumpuh dan langsung bertekuk lutut menahan rasa nyeri yang luar biasa pada bagian terpentingnya, Yebin memutar tubuh ke arah kirri dan melakukan hal serupa pada satu laki laki lain yang berdiri di sebelah kirinya. Melakukan tendangan pada bagian itu sebanyak dua kali dengan sangat keras.


Keduanya lumpuh. Dalam sekejap, Yebin menang melawan dua laki laki yang sedang meringis kesakitan itu. Mereka berdua mertekuk lutut di atas tanah sambil memegangi itunya yang mungkin akan bengkak. Rasain saja! Siapa suruh ia berani pada Yebin yang selalu punya ide gila untuk bertahan hidup?


Lalu pandangan Yebin menyebar ke sekeliling. Untungnya, ia menemukan seperangkat CCTV terpasang di salah satu sudut taman. Dari rekaman itu pasti akan menunjukkan bahwa ia melakukan hal tadi sebagai bentuk perlawanan. Bagaimanapun, ia tak menyerang lebih dulu. Ia hanya melakukan pertahanan diri supaya dua laki laki tak dikenal yang terus menyebut kata ‘bos’ itu tau rasa. Paling tidak Yebin merasa memiliki alasan ketika nanti apa yang dilakukannya tadi dikatakan sebagai ‘penyerangan’. Karena ini bukan penyerangan, tetapi pertahanan diri karena mereka ingin membawanya ke sebuah tempat secara paksa.


Yebin yang sekarang merasa jauh lebih tenang itu kembali menatap ke arah dua laki laki yang masih meringis kesakitan. Ia melihat ke arah leher kedua laki laki itu. Terdapat tato berbentuk bunga mawar yang dimodifikasi menjadi seperti sisik ular.


Yebin tak mau ambil pusing dengan tato itu. Pandangannya langsung kembali pada Yul kecil yang tampak sedang melongo melihat kejadian apa yang baru ditontonnya.


Dengan santai Yebin menghampiri Yul kecil, lalu berkata dengan manis, “Itu adalah akibat jika seseorang berbuat jahat. Jadi, kau harus menjadi orang yang baik ya Nak. Jangan seperti dua paman tadi yang mau menculik bibi. Dan terima kasih, Yul-a.”


Begitu mengucapkan terima kasih pada Yul kecil, Yebin beranjak pergi. Ia pergi meninggalkan taman. Berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Ia menghampiri seorang perawat yang sedang melintas.


“Permisi,” panggil Yebin terhadap seorang perawat itu.


“Ya?”


“Di taman ada dua laki laki aneh yang sedang kesakitan. Tolong obati mereka. Tapi jangan baik baik obatinya. Mereka adalah homoseksual yang mencoba melakukan hal hal menjijikkan di taman dan akhirnya kesakitan bersama.” Yebin menjelaskan dengan nada suara yang berlebihan. Raut wajah jijiknya membuat perawat yang ia minta berhenti itu ikut memasang raut wajah jijik. Setelah berhasil memprofokasi perawat itu, Yebin melanjutkan jalannya sambil menggumam gumam. “Aduh, kenapa masih ada orang aneh di dunia ini? Masa melakukan anu di taman yang sedang banyak anak kecil. Aduh....”


Setelah selesai menggumam gumam, Yebin menolehkan kepalanya ke belakang. Melihat ke arah perawat perempuan tadi yang sedang menceritakan hal serupa pada rekan laki lakinya. Keduanya memasang wajah jijik bersama sebelum akhirnya menyuruh tenaga medis lain untuk membantu mendatangi dia laki laki yang baru ditendang anunya oleh Yebin.


Meskipun ia kesal pada laki laki tadi, Yebin masih memiliki jiwa kemanusiaan. Paling tidak, laki laki tadi harus mendapat pengobatan supaya masih bisa memiliki keturunan di masa depan. Yebin yang tak mau hidupnya dikutuk karena hal tadi, lanjut berjalan menuju lift sambil berharap supaya kedua laki laki yang ditendangnya itu baik baik saja.


Saat ini Yebin sedang menunggu lift yang akan membawanya menuju lantai dua puluh. Ia menunggu lift itu dengan sabar, ketika tiba tiba suaminya datang sambil berteriak.


“Sayang!”


Yebin spontan menoleh pada Yul. Melihat suaminya yang berlari kencang menuju ke arahnya. Lalu langsung dipeluk erat erat oleh Yul yang napasnya menggebu gebu karena khawatir.


“Sa ... sayang, kenapa? Apa yang terjadi? Bukannya kau sedang ada pertemuan?” tanya Yebin kelabakan mendapati dirinya dipeluk oleh Yul dengan begitu eratnya. Ia sampai kesulitan bernapas karena Yul. Pun napas Yul yang menderu cepat terdengar di telinga Yebin. Bahkan detak jantung Yul yang teramat kencang karena khawatir, dapat Yebin rasakan dalam pelukan yang sangat erat itu.


“Sayang, aku sangat khawatir. Kau tidak apa apa kan? Aku takut kau kenapa napa.” Yul menggumam pelan di sela pelukannya yang masih erat itu.


**