
Kegeraman Yul
“Kau tidak akan membukakan pintu gerbang ini untukku?”
Dari balik pintu pagar yang masih tertutup, Leo Park menceletuk melihat
Yebin yang masih memandanginya dalam keheningan. Yebin menatapnya waspada,
sambil merengkuh tubuh mungil Hanyul.
Padahal pintu pagar itu tidak dikunci. Hanya tertutup dengan pengaitnya
yang masih berpautan. Di buka dari luar pun bisa, kenapa lelaki itu manja
sekali dan ingin dibukakan pintu oleh Yebin? Yebin membatinkan hal itu dan
terus menatap waspada ke arah Leo Park yang datang dengan sangat mencurigakan.
Merasa Yebin tidak akan mau membukakan pintu untuknya, Leo Park yang berdiri
di balik pagar itu kembali menyahut. “Aku cuman mau mengantarkan barang untuk
adikku, apa itu salah? Rumah ini kan nantinya ditinggali Hakim Hun dengan Jina.
Dan aku ingin berkontribusi menghias rumah adikku sebagai seorang kakak.”
Baiklah. Alasannya memang masuk akal. Satu minggu lagi Hun akan menikah
dengan Jina. Sebagai seorang kakak, pastinya Leo Park juga ingin memberikan
sesuatu untuk adiknya. Sama seperti Yul yang telah mempersiapkan segala seluk beluk
pernikahan yang serba sangat mendadak ini, Leo Park pastinya juga ingin ikut
berkontribusi untuk pernikahan sang adik yang memang dilaksanakan dengan begitu
mendadak ini.
Yebin pun tergerak hatinya. Mengingat lelaki ini juga seorang kakak
seperti suaminya, Yebin pun beranjak dari tempat. Berjalan menuju pintu gerbang
untuk membukakan pengait pada gerbang tersebut sehingga Leo Park bisa masuk
dengan mudah.
Begitu Yebin membukakan pintu gerbang, Leo Park tersenyum dengan sangat
lebar. Ia menatap sesosok anak kecil yang terus mengikuti Yebin. Anak kecil itu
tampak malu malu setengah takut ketika bertatapan dengan Leo Park. Sehingga ia
langsung menyembunyikan tubuh mungilnya di balik tubuh Yebin.
“Hei, anak kecil, kau masih ingat aku kan?” sapa Leo Park kepada Hanyul. Lelaki
memasang raut wajah yang sangat ramah dan menyenangkan; raut yang sangat
disukai anak anak.
Kening Yebin mengerut dalam. Ia memegangi tangan Yul yang memeluk kedua
kakinya. Anak kecil itu bersembunyi di balik kedua kakinya, seolah olah
menghindari tatapan Yul.
“Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?” tanya Yebin curiga. Sejauh ini,
Hanyul tidak pernah lepas dari pengawasan Yebin. Dan Hanyul tidak pernah bertemu
degan Leo Park. Kecuali, jika pertemuan mereka sebelum Hanyul diadopsi oleh
Yebin dan Yul.
“Tentu aku pernah bertemu dengan Hanyul. Dia kan yang selalu berada di
Rumah Sakit Hansung. Kami sempat beberapa kali bertemu di saat aku beberapa kali
datang ke Rumah Sakit Hansung ketika itu.” Leo menjelaskan.
Belum sempat Yebin menanyakan lebih lanjut tentang hal itu, Leo Park
segera mengalihkan pandangan ketika terdengar suara mobil datang. Dua mobil
pickup datang dan bertenti di depan gerbang rumah Hun. Rupanya Leo Park tidak
datang dengan tangan kosong. Berarti, ia benar benar menyiapkan sesuatu untuk
adiknya. Syukurlah. Entah mengapa Yebin tidak merasa cemas lagi jika saja Leo
Park datang hanya untuk ‘modus’ dengan membawa identitasnya sebagai seorang
kakak. Namun ia datang benar benar untuk memberikan beberapa perabot rumah
kepada sang adik.
“Bisa langsung dibawa masuk saja, Pak. Iya, semuanya.” Begitu Leo Park
memberokan komando pada beberapa petugas pengantar barang untuk menurunkan semua
barang barang yang diangkut mobil pickup dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Setelah itu, para petugas angkut barang mulai mengangkut satu per satu
barang dari mobil pickup masuk ke dalam rumah. Melihat hal itu, Yebin segera
melontarkan pertanyaan.
“Barang barang apa itu yang kau bawa?” tanya Yebin dengan pandangan yang
mengikuti para petugas angkut yang membawa beberapa barang masuk ke dalam
rumah. Semua barang itu terlihat sangat asing untuk Yebin. Tidak familiar untuk
dilihat masyarakat awam.
“Ah, itu.... Di waktu kecilnya, Jina menyukai sesuatu yang berbau indian.
Jadi aku membelikannya beberapa perabot rumah langsung dari India untuk
dekorasi.”
“India? Semua itu kau beli dari India?” tanya Yebin dengan terperangah. Ia
kaget sekaligus heran melihat barang barang unik yang tampak asing itu ternyata
diimpor langsung dari India.
“Hm. Kebetulan aku punya bisnis di India. Jadi bukan hal yang sulit untuk
mendatangkan barang barang seperti itu,” lanjut Leo Park menjelaskan.
Yebin tercenung. Barang barang sebanyak itu semua diimpor langsung dari
India. Dan bukan untuk keperluan jual beli, tetapi untuk pribadi. Mengimpor
barang dari luar negeri dalam jumlah besar seperti itu bukan hal yang mudah
dilakukan, memerlukan proses yang panjang soal perizinan bea cukai dan lain
sebagainya.
“Bukannya itu ilegal?”
Mendengar pertanyaan Yebin itu, Leo Park sontak menolehkan kepala. Menatap
Yebin yang ekspresi wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang tinggi bercampur
dengan rasa curiga.
Lelaki itu lantas tersenyum. Pun dalam senyuman ringan yang ia layangkan,
terdapat sejuta makna yang tersembunyi. Tidak dapat Yebin mengerti apa arti
dari senyuman misterius lelaki itu. Kalau dipikir pikir, semua hal tentang leo
Park memang misterius dan menjadi tanda tanya besar untuk Yebin dan semua
orang.
“Nyonya Moon, tidak ada hal yang ilegal di dunia ini. Yang ada hanyalah
uang yang bisa melegalkan semua hal,” ucap Leo park dengan begitu yakin. Membuat
tubuh Yebin perlahan lahan dialiri oleh rrasa takut terhadap Leo Park.
Lelaki itu berbahaya. Sangat berbahaya. Lebih baik Yebin berhenti sampai
di sini sebelum lelaki itu makin membuatnya bergidik takut dengan ucapan ucapan
yang keluar dari pemikiran yang tidak terdua oleh siapa pun.
“Ehmnn.”
Alhasil, Yebin berdeham ringan untuk mengusir rasa takut yang mulai
menjalar perlahan dalam darahnya. Ia mengalihkan pandangan kepada Hanyul yang
lanjut bermain main dengan kelinci yang tadi Yebin bawa dari rumah untuk datang
kemari. Hanyul sangat menyukai hewan hewan jinak seperti kucing, anjing, atau
kelinci. Hanyul lebih banyak menggunakan waktunya untuk bermain dengan hewan
hewan tersebut daripada bermain dengan berbagai macam permainan yang Yul
belikan di mall.
Tak menunggu lama, Yebin kembali duduk di atas kursi. Melanjutkan kegiatannya
mempelajari grafik penjualan yang menunjukkan kenaikan penjualan dan profit
Biniemoon. Juga menunjukkan grafik penjualan dari produk produk yang dipasok
oleh Moonlight Retail dan dijual secara retail oleh beberapa distributor besar
termasuk Biniemoon.
Padahal tujuan Yebin kembali duduk di kursi itu tak hanya untuk
melanjutkan pekerjaannya, tetapi juga menghindari percakapan dengan Leo Park. Ia
tahu lelaki itu adalah lelaki yang berbahaya. Dan cara yang terbaik untuk tidak
menyentuh hal berbahaya itu adalah dengan menghindar. Tetapi, ketika Yebin
duduk di kursi itu, Leo Park juga ikut duduk di hadapan Yebin. Yebin yang
merasa aneh itu tetap menujukan pandnagan pada layar tablet. Tetapi, Leo Park
yang duduk di hadapannya dengan berseberangan meja bundar, tampak terus
menatapnya dalam keheningan. Membuat Yebin benar benar merasa tidak nyaman.
Baiklah. Tahan sebentar. Laki laki itu mungkin akan bosan jika tidak
digubris oleh Yebin.
Yebin meyakinkan dirinya untuk tetap mengabaikan laki laki yang masih
memandanginya itu. Mencoba bertahan degan cara tetap fokus pada layar tablet. Tapi,
anehnya konsentrasi Yebin telah terpecah belah. Huruf, angka, dan bahkan grafik
yang tersaji di layar tablet yang ia genggam, seolah berputar dan menari nari
di hadapannya. Ia sedang tak fokus. Matanya memandang layar tablet tetapi
pikirannya hanya berfokus pada rasa curiga dan rasa tidak nyamannya terhadap
Leo Park.
‘Apa apaan laki laki itu? Kenapa dia menatapku seperti itu? Sial. Canggung
sekali. Aku tidak bisa konsentrasi. Aku bisa merasakan tatapannya yang
merisikan itu.’
Dalam hati Yebin merutuk rutuk. Ia memang menatap layar tablet. Tetapi dengan
jangkauan matanya yang luas, ia bisa melihat Leo Park sedang menatapinya dengan
pandangan yang tidak biasa.
Tahan.... tahan. Sebentar saja tahan....
Sial!
“Kenapa kau terus terusan menatapku?” Merasa tidak kuasa menahan diri,
Yebin menceletuk dengan nada suara yang seketika meninggi. Ia menatap Leo Park
di hadapan dengan tatapan penuh protes.
Tersentak, Leo Park sontak memundurkan kepalanya. Ia pun terkejut pada
Yebin yang tiba tiba menceletuk keras kepadanya.
“Katanya kau kemari untuk mengantarkan barang barang perabot untuk
adikmu. Ya sudah, lakukan saja. Masuk dana ke dalam rumah untuk ikut menata
perabotan itu. Kenapa kau melah duduk di sini dan menatapku seperti itu?”
lanjut Yebin merutuk rutuk. Ia benar benar tak suka mendapat tatapan seperti
itu dari Leo Park.
Leo yang masih tersentak itu diam dalam waktu lama. Mencerna semua ucapan
Yebin dan juga semua emosi wanita itu yang meluap kepadanya. Setelah beberapa
saat diam dan mencerna semuanya, Leo Park menanggapi.
“Jangan marah marah begitu. Kau sangat seksi saat marah marah dan itu
membuatku tambah terpesona,” ucap Leo Park dengan wajahnya yang tidak berdosa. Pun
raut wajahnya datar seolah oleh ucapan yang bisa membuat Yebin benar benar malu
itu adalah hal yang sangat biasa.
Jangan lupakan bahwa Yebin juga seorang wanita, yang suka dipuji. Hatinya
sangat berbunga bunga saat mendapat pujian seperti itu dari orang lain. Selama
beberapa saat, Yebin terbius oleh pujian Leo Park. Wajahnya merona merah. Tatapannya
Selama beberapa detik Yebin terbius. Lalu ia segera menyadarkan dirinya
dari semua bius yang diluncurkan oleh Leo park. Yebin menggeleng gelengkan
kepala. Seolah olah ia memberikan tamparan untuk wajahnya sendiri. Yebin yang
segera tersadar itu kembali menatap sinis ke arah Leo Park.
“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku ini sedang sibuk dan tidak
mau diganggu oleh siapa pun. Dengan kau duduk di situ, kau sangat mengganguku.”
Yebin lanjut merutuki Leo Park.
Seolah dirinya tidak bersalah apa apa, Leo Park menaikkan salah satu
alisnya. Menatap ragu ke arah Yebin. Kemudian menggumam dengan nada percaya
diri.
“Sepertinya bukan aku yang membuatmu tidak berkonsentrasi. Tapi dirimu
sendiri yang tidak bisa berpikir apa apa ketika ada aku. Kenapa? Apa kini kau
jatuh cinta padaku?” ucap Leo Park penuh yakin.
Yebin mengembuskan napas panjang. Ia heran sekali, dari mana lelaki ini
mendapatkan rasa percaya diri yang tidak tertolong seperti ini. Lebih tinggi
dari langit ke tujuh dan lebih jauh dari susunan planet terjauh dari matahari,
itulah rasa percaya diri Leo Park. Membuat Yebin terheran heran. Ia ternganga
karena benar benar merasa heran pada apa yang baru saja didengarnya.
“Baiklah. Untukmu, aku akan pergi.”
Leo Park beranjak bangkit dari duduk. Berjalan meninggalkan Yebin yang
masih ternganga karena heran di kursi halaman. Lalu masuk ke dalam rumah untuk
membantu menurunkan perabot rumah yang ia bawakan dari India.
“Orang itu benar benar...!” desah pelan Yebin yang benar benar merasa
tercengang karena Leo Park.
Di dalam rumah itu, Yul sedang berbincang binang dengan Arsitek Kim untuk
menataan ruangannya. Keduanya sedang berada di lantai satu, tepatnya berdiri di
sebelah dinding ruang tamu.
“Apa tidak terlalu frontal jika lukisan itu ditaruh sebelah sini? Pikir
saya, lukisan itu akan diletakkan di sisi sebelah sana,” ucap Yul sambil
menunjuk sisi selatan yang cukup jauh dari pintu masuk rumah.
“Justru itu, lukisan ini akan lebih baik di taruh di dinding ini. Lihatlah
nilai artistik seni yang Anda buat. Lukisan ini memancarkan banyak sekali
energi. Jika dipasang di tempat yang lebih terbuka dan frontal, akan memberikan
enesgi untuk siapa pun yang masuk ke dalam rumah ini. Kesannya akan benar benar
sangat berbeda dari ditaruh di tempat yang sulit dijangkau pandangan.” Arsitek
Kim menjelaskan.
Yul menganggukkan kepala. Merasa setuju dengan yang diucapkan Arsitek
Kim.
Itu adalah lukisan yang Yul buat beberapa tahun yang lalu. Ukuran lukisan
ini sangat besar, panjangnya dua meter dan lebarnya satu meter setengah. Ia
melukis ini ketika pertama kali Hun berangkat ke Amerika. Sebagai bentuk rasa
kasihnya kepada Hun yang berada di negara perantauan. Maknanya sangat mendalam
untuk Yul sendiri. Ia melukisnya dengan semua emosi dan kasih sayang yang terlimpahkan
dalam setiap goresan catnya.
Setelah berdiskusi dengan Arsitek Kim yang mendesain seluruh bagian rumah
ini dan juga dekorasinya, beberapa petugas yang datang bersama Arsitek Kim,
mulai memasang lukisan tersebut di dinding ruang tamu yang jaraknya hanya tidak
sampai tiga meter dari pintu masuk.
Asritek Kim pun beranjak pergi untuk mengurus dekorasi di lantai dua
bersama beberapa anak buahnya. Sementara itu, Yul masih tak beranjak. Ia mengamati
proses pemasangan lukisan tersebut. Memandangi lukisan yang dibuatnya itu
dengan sangat cermat. Yul telah menjadi pelukis untuk dirinya sendiri dan untuk
orang orang di sekitarnya. Ia memang tak bisa dikenal banyak orang sebagai
pelukis seperti ayahnya dulu, tetapi untuk orang orang disekitarnya, Yul adalah
pelukis yang luar biasa. Ia adalah pelukis yang memberikan energi positif untuk
orang lain melalui lukisan lukisannya. Dan semua lukisan itu akan abadi bersama
ingatan orang orang yang melihatnya.
“Harusnya kau tak jadi pebisnis. Aku sungguh penasaran kenapa kau
berhenti melukis jika lukisanmu sebagus ini.”
Yul, yang semua masih fokus menatap lukisannya yang kini terpajang rapi
di dinding rumah Hun, seketika menoleh mendengar suara menyahut. Kepalanya menoleh.
Ia mendapati sesosok laki laki yang kini berdiri tepat di sebelahnya. tidak
lain dan tidak bukan, lelaki itu adalah Leo Park.
“Melukis itu adalah hobiku. Dan bisnis adalah pekerjaanku. Ada yang
salah?” Yul menanggapi pertanyaan Leo Park.
Leo Park mengerucutkan bibir. Menatap fokus ke arah lukisan yang
terpajang di hadapan. Kepalanya mengangguk angguk, pertanda paham akan apa yang
dikatakan Yul.
“Tidak. Tidak ada yang salah. Aku bertanya karena hanya penasaran saja.”
Leo Park menanggapi.
“Untuk apa kau datang kemari?” lanjut Yul bertanya legas.
Leo Park mengembuskan napas gusar. Ia tersenyum getir menanggapi Yul.
“Kalian itu sama saja ya. Apakah salah aku ikut menghias rumah yang
nantinya akan ditinggali adik perempuanku?” cetus Leo Park.
Kening Yul mengernyit. Ia masih menimbang nimbang siapa yang dimaksud ‘kalian’
oleh Leo Park.
“... Aku cuman mau mengantarkan beberapa perabotan untuk rumah yang akan
ditinggali adikku.”
Leo Park menjelaskan dengan singkat maksud kedatangannya kemari. Membuat Yul
menganggukkan kepala, mengerti. Setelah itu Leo Park masih diam dan memandangi
lukisan besar yang ada di hadapannya. Lelaki itu tampak tenang. Membuat Yul
benar benar dibingungkan siapa Leo Park yang sebenarnya. Apakah Leo Park itu
adalah sosok laki laki yang datang ke rumah baru Hun untuk mengantarkan
perabotan sebagai bentuk kasih sayangnya pada sang adik yang akan segera
menikah. Ataukah Leo Park itu adalah sosok manusia kejam yang mencoba melakukan
percobaan pembunuhan pada Hun melalui kecelakaan mobil beberapa bulan lalu.
Yul sungguh bingung. Lelaki yang berdiri di sampingnya ini seolah olah
memiliki dia kepribadian. Yang bisa menjadi sangat baik dan perhatian, juga di
beberapa waktu lainnya bisa menjadi sesosok monster yang bisa memakan siapa
saja yang mengancamnya. Yul sangat bingung. Kecurigaannya terhadap Leo Park itu
apakah benar, ataukah hanya asumsi dari rasa tidak sukanya pada Leo Park yang
menunjukkan ketertarikan kepada Kang Yebin. Yul pun tak tahu. Ia hanya bisa
menunggu kepolisian menuntaskan penyelidikan itu.
Napas Yul berembus panjang panjang karena tak menemukan jawaban dari
semua tanda tanyanya yang menyembul di dalam kepala. Ia kembali memandang
lukisannya untuk menghapuskan semua kegelisahan yang menyambut hatinya karena
keberadaan lelaki yang sekarang berdiri di sebelahnya.
“Kelihatannya bisnis Moonlight Retail berjalan semakin sukses,” ucap Leo
Park membuka perbincangan.
“Berkatmu. Kau melakukan pekerjaan dengan sangat baik untuk Moonloght
Retail, makanya bisnisku bisa seperti ini,” jawab Yul.
“Tapi kau tidak bisa menjual separuh saham itu padaku.”
Leo Park melontarkan kalimat itu dengan penuh sindiran. Di antara semua
perusahaan yang berhasil ia rancang dan susun dengan baik sebagai konsultan
bisnis, hanya Moonlight Retail yang tidak berhasil Leo dapatkan separuh
sahamnya. Hanya Yul yang tidak gentar akan semua ancaman yang diberikannya.
“Jadi kau masih mengincar bisnisku?” tanya Yul lugas.
“Tidak. Aku sudah tidak ingin membeli saham Moonlight Retail,” kata Leo
dengan percaya diri.
“Syukurlah.”
“Berterima kasihlah pada istrimu,” lanjut Leo Park berucap.
Itu seketika membuat kepala Yul menoleh. Keningnya mengerut dalam. Kenapa
Leo Park tiba tiba membawa nama Yebin?
“Maksudmu?” tanya Yul ragu.
Leo Park ikut menoleh. Bertatapan legas dengan Yul yang raut wajahnya
tidak suka.
“Berkat istrimu, aku tidak lagi mengincar saham Moonlight Retail. Dan
sebagai gantinya, aku mengijncar hal lain, bukan saham Moonlight Retail,” kata
Leo Park.
Kening Yul mengerut semakin dalam. Ia mencurigai maksud mengincar ‘hal
lain’ yang dilontarkan oleh Leo Park. Jangan jangan....
Saat Yul masih bergelut bersama segala kecurigaannya tentang Leo Park,
bunyi jam yang menandakan pukul sebelas tepat, melunturkan suasana. Leo menatap
jam tangannya. Dan harus segera pergi.
“Jangan mengincar keluargaku.” Yul mencengkeram tangan Leo,
memperingatkan hal itu kepada Leo Park yang mengincar sesuatu milik Yul, entah
itu keluarganya, atau Kang Yebin.
Tatapan tajam Yul seolah olah menusuk nusuk bola mata Leo. Tapi Leo tak
getir melihatnya. Ia balas menatap Yul tajam. Menghentakkan tangannya sehingga
cengkeraman Yul yang keras itu bisa terlepas seketika. Kemudian Leo Park
berucap, membalas kata kata penuh peringatan yang dilontarkan Yul.
“Aku tidak akan merebut keluargamu. Mereka sendiri yang akan datang
padaku nanti.”
Leo mengakhiri kalimatnya dengan senyuman sinis yang dilayangkannya
kepada Yul. Lalu ia langsung berbalik. Berjalan lurus ke depan, meninggalkan
Yul yang masih tercengang mendengar kata kata penuh ancaman itu.
Tidak. Yul tidak akan membiarkan siapa pun bisa menyentuh keluarganya. Kang
Yebin atau pun Hanyul, Hun atau pun ibu, juga bisnisnya dan Biniemoon. Yul
tidak akan mengizinkan semua yang berada dalam jangkauannya, disentuh oleh
orang lain, apalagi laki laki berbahaya seperti Leo Park. Tidak akan. Bagaimana
pun, Yul akan mempertahankan keutuhan keluarganya. Leo Park atau siapa pun,
tidak akan bisa merebut apa yang menjadi milik Yul.