Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Kegeraman Yul



Kegeraman Yul


“Kau tidak akan membukakan pintu gerbang ini untukku?”


Dari balik pintu pagar yang masih tertutup, Leo Park menceletuk melihat


Yebin yang masih memandanginya dalam keheningan. Yebin menatapnya waspada,


sambil merengkuh tubuh mungil Hanyul.


Padahal pintu pagar itu tidak dikunci. Hanya tertutup dengan pengaitnya


yang masih berpautan. Di buka dari luar pun bisa, kenapa lelaki itu manja


sekali dan ingin dibukakan pintu oleh Yebin? Yebin membatinkan hal itu dan


terus menatap waspada ke arah Leo Park yang datang dengan sangat mencurigakan.


Merasa Yebin tidak akan mau membukakan pintu untuknya, Leo Park yang berdiri


di balik pagar itu kembali menyahut. “Aku cuman mau mengantarkan barang untuk


adikku, apa itu salah? Rumah ini kan nantinya ditinggali Hakim Hun dengan Jina.


Dan aku ingin berkontribusi menghias rumah adikku sebagai seorang kakak.”


Baiklah. Alasannya memang masuk akal. Satu minggu lagi Hun akan menikah


dengan Jina. Sebagai seorang kakak, pastinya Leo Park juga ingin memberikan


sesuatu untuk adiknya. Sama seperti Yul yang telah mempersiapkan segala seluk beluk


pernikahan yang serba sangat mendadak ini, Leo Park pastinya juga ingin ikut


berkontribusi untuk pernikahan sang adik yang memang dilaksanakan dengan begitu


mendadak ini.


Yebin pun tergerak hatinya. Mengingat lelaki ini juga seorang kakak


seperti suaminya, Yebin pun beranjak dari tempat. Berjalan menuju pintu gerbang


untuk membukakan pengait pada gerbang tersebut sehingga Leo Park bisa masuk


dengan mudah.


Begitu Yebin membukakan pintu gerbang, Leo Park tersenyum dengan sangat


lebar. Ia menatap sesosok anak kecil yang terus mengikuti Yebin. Anak kecil itu


tampak malu malu setengah takut ketika bertatapan dengan Leo Park. Sehingga ia


langsung menyembunyikan tubuh mungilnya di balik tubuh Yebin.


“Hei, anak kecil, kau masih ingat aku kan?” sapa Leo Park kepada Hanyul. Lelaki


memasang raut wajah yang sangat ramah dan menyenangkan; raut yang sangat


disukai anak anak.


Kening Yebin mengerut dalam. Ia memegangi tangan Yul yang memeluk kedua


kakinya. Anak kecil itu bersembunyi di balik kedua kakinya, seolah olah


menghindari tatapan Yul.


“Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?” tanya Yebin curiga. Sejauh ini,


Hanyul tidak pernah lepas dari pengawasan Yebin. Dan Hanyul tidak pernah bertemu


degan Leo Park. Kecuali, jika pertemuan mereka sebelum Hanyul diadopsi oleh


Yebin dan Yul.


“Tentu aku pernah bertemu dengan Hanyul. Dia kan yang selalu berada di


Rumah Sakit Hansung. Kami sempat beberapa kali bertemu di saat aku beberapa kali


datang ke Rumah Sakit Hansung ketika itu.” Leo menjelaskan.


Belum sempat Yebin menanyakan lebih lanjut tentang hal itu, Leo Park


segera mengalihkan pandangan ketika terdengar suara mobil datang. Dua mobil


pickup datang dan bertenti di depan gerbang rumah Hun. Rupanya Leo Park tidak


datang dengan tangan kosong. Berarti, ia benar benar menyiapkan sesuatu untuk


adiknya. Syukurlah. Entah mengapa Yebin tidak merasa cemas lagi jika saja Leo


Park datang hanya untuk ‘modus’ dengan membawa identitasnya sebagai seorang


kakak. Namun ia datang benar benar untuk memberikan beberapa perabot rumah


kepada sang adik.


“Bisa langsung dibawa masuk saja, Pak. Iya, semuanya.” Begitu Leo Park


memberokan komando pada beberapa petugas pengantar barang untuk menurunkan semua


barang barang yang diangkut mobil pickup dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Setelah itu, para petugas angkut barang mulai mengangkut satu per satu


barang dari mobil pickup masuk ke dalam rumah. Melihat hal itu, Yebin segera


melontarkan pertanyaan.


“Barang barang apa itu yang kau bawa?” tanya Yebin dengan pandangan yang


mengikuti para petugas angkut yang membawa beberapa barang masuk ke dalam


rumah. Semua barang itu terlihat sangat asing untuk Yebin. Tidak familiar untuk


dilihat masyarakat awam.


“Ah, itu.... Di waktu kecilnya, Jina menyukai sesuatu yang berbau indian.


Jadi aku membelikannya beberapa perabot rumah langsung dari India untuk


dekorasi.”


“India? Semua itu kau beli dari India?” tanya Yebin dengan terperangah. Ia


kaget sekaligus heran melihat barang barang unik yang tampak asing itu ternyata


diimpor langsung dari India.


“Hm. Kebetulan aku punya bisnis di India. Jadi bukan hal yang sulit untuk


mendatangkan barang barang seperti itu,” lanjut Leo Park menjelaskan.


Yebin tercenung. Barang barang sebanyak itu semua diimpor langsung dari


India. Dan bukan untuk keperluan jual beli, tetapi untuk pribadi. Mengimpor


barang dari luar negeri dalam jumlah besar seperti itu bukan hal yang mudah


dilakukan, memerlukan proses yang panjang soal perizinan bea cukai dan lain


sebagainya.


“Bukannya itu ilegal?”


Mendengar pertanyaan Yebin itu, Leo Park sontak menolehkan kepala. Menatap


Yebin yang ekspresi wajahnya menunjukkan rasa penasaran yang tinggi bercampur


dengan rasa curiga.


Lelaki itu lantas tersenyum. Pun dalam senyuman ringan yang ia layangkan,


terdapat sejuta makna yang tersembunyi. Tidak dapat Yebin mengerti apa arti


dari senyuman misterius lelaki itu. Kalau dipikir pikir, semua hal tentang leo


Park memang misterius dan menjadi tanda tanya besar untuk Yebin dan semua


orang.


“Nyonya Moon, tidak ada hal yang ilegal di dunia ini. Yang ada hanyalah


uang yang bisa melegalkan semua hal,” ucap Leo park dengan begitu yakin. Membuat


tubuh Yebin perlahan lahan dialiri oleh rrasa takut terhadap Leo Park.


Lelaki itu berbahaya. Sangat berbahaya. Lebih baik Yebin berhenti sampai


di sini sebelum lelaki itu makin membuatnya bergidik takut dengan ucapan ucapan


yang keluar dari pemikiran yang tidak terdua oleh siapa pun.


“Ehmnn.”


Alhasil, Yebin berdeham ringan untuk mengusir rasa takut yang mulai


menjalar perlahan dalam darahnya. Ia mengalihkan pandangan kepada Hanyul yang


lanjut bermain main dengan kelinci yang tadi Yebin bawa dari rumah untuk datang


kemari. Hanyul sangat menyukai hewan hewan jinak seperti kucing, anjing, atau


kelinci. Hanyul lebih banyak menggunakan waktunya untuk bermain dengan hewan


hewan tersebut daripada bermain dengan berbagai macam permainan yang Yul


belikan di mall.


Tak menunggu lama, Yebin kembali duduk di atas kursi. Melanjutkan kegiatannya


mempelajari grafik penjualan yang menunjukkan kenaikan penjualan dan profit


Biniemoon. Juga menunjukkan grafik penjualan dari produk produk yang dipasok


oleh Moonlight Retail dan dijual secara retail oleh beberapa distributor besar


termasuk Biniemoon.


Padahal tujuan Yebin kembali duduk di kursi itu tak hanya untuk


melanjutkan pekerjaannya, tetapi juga menghindari percakapan dengan Leo Park. Ia


tahu lelaki itu adalah lelaki yang berbahaya. Dan cara yang terbaik untuk tidak


menyentuh hal berbahaya itu adalah dengan menghindar. Tetapi, ketika Yebin


duduk di kursi itu, Leo Park juga ikut duduk di hadapan Yebin. Yebin yang


merasa aneh itu tetap menujukan pandnagan pada layar tablet. Tetapi, Leo Park


yang duduk di hadapannya dengan berseberangan meja bundar, tampak terus


menatapnya dalam keheningan. Membuat Yebin benar benar merasa tidak nyaman.


Baiklah. Tahan sebentar. Laki laki itu mungkin akan bosan jika tidak


digubris oleh Yebin.


Yebin meyakinkan dirinya untuk tetap mengabaikan laki laki yang masih


memandanginya itu. Mencoba bertahan degan cara tetap fokus pada layar tablet. Tapi,


anehnya konsentrasi Yebin telah terpecah belah. Huruf, angka, dan bahkan grafik


yang tersaji di layar tablet yang ia genggam, seolah berputar dan menari nari


di hadapannya. Ia sedang tak fokus. Matanya memandang layar tablet tetapi


pikirannya hanya berfokus pada rasa curiga dan rasa tidak nyamannya terhadap


Leo Park.


‘Apa apaan laki laki itu? Kenapa dia menatapku seperti itu? Sial. Canggung


sekali. Aku tidak bisa konsentrasi. Aku bisa merasakan tatapannya yang


merisikan itu.’


Dalam hati Yebin merutuk rutuk. Ia memang menatap layar tablet. Tetapi dengan


jangkauan matanya yang luas, ia bisa melihat Leo Park sedang menatapinya dengan


pandangan yang tidak biasa.


Tahan.... tahan. Sebentar saja tahan....


Sial!


“Kenapa kau terus terusan menatapku?” Merasa tidak kuasa menahan diri,


Yebin menceletuk dengan nada suara yang seketika meninggi. Ia menatap Leo Park


di hadapan dengan tatapan penuh protes.


Tersentak, Leo Park sontak memundurkan kepalanya. Ia pun terkejut pada


Yebin yang tiba tiba menceletuk keras kepadanya.


“Katanya kau kemari untuk mengantarkan barang barang perabot untuk


adikmu. Ya sudah, lakukan saja. Masuk dana ke dalam rumah untuk ikut menata


perabotan itu. Kenapa kau melah duduk di sini dan menatapku seperti itu?”


lanjut Yebin merutuk rutuk. Ia benar benar tak suka mendapat tatapan seperti


itu dari Leo Park.


Leo yang masih tersentak itu diam dalam waktu lama. Mencerna semua ucapan


Yebin dan juga semua emosi wanita itu yang meluap kepadanya. Setelah beberapa


saat diam dan mencerna semuanya, Leo Park menanggapi.


“Jangan marah marah begitu. Kau sangat seksi saat marah marah dan itu


membuatku tambah terpesona,” ucap Leo Park dengan wajahnya yang tidak berdosa. Pun


raut wajahnya datar seolah oleh ucapan yang bisa membuat Yebin benar benar malu


itu adalah hal yang sangat biasa.


Jangan lupakan bahwa Yebin juga seorang wanita, yang suka dipuji. Hatinya


sangat berbunga bunga saat mendapat pujian seperti itu dari orang lain. Selama


beberapa saat, Yebin terbius oleh pujian Leo Park. Wajahnya merona merah. Tatapannya


Selama beberapa detik Yebin terbius. Lalu ia segera menyadarkan dirinya


dari semua bius yang diluncurkan oleh Leo park. Yebin menggeleng gelengkan


kepala. Seolah olah ia memberikan tamparan untuk wajahnya sendiri. Yebin yang


segera tersadar itu kembali menatap sinis ke arah Leo Park.


“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku ini sedang sibuk dan tidak


mau diganggu oleh siapa pun. Dengan kau duduk di situ, kau sangat mengganguku.”


Yebin lanjut merutuki Leo Park.


Seolah dirinya tidak bersalah apa apa, Leo Park menaikkan salah satu


alisnya. Menatap ragu ke arah Yebin. Kemudian menggumam dengan nada percaya


diri.


“Sepertinya bukan aku yang membuatmu tidak berkonsentrasi. Tapi dirimu


sendiri yang tidak bisa berpikir apa apa ketika ada aku. Kenapa? Apa kini kau


jatuh cinta padaku?” ucap Leo Park penuh yakin.


Yebin mengembuskan napas panjang. Ia heran sekali, dari mana lelaki ini


mendapatkan rasa percaya diri yang tidak tertolong seperti ini. Lebih tinggi


dari langit ke tujuh dan lebih jauh dari susunan planet terjauh dari matahari,


itulah rasa percaya diri Leo Park. Membuat Yebin terheran heran. Ia ternganga


karena benar benar merasa heran pada apa yang baru saja didengarnya.


“Baiklah. Untukmu, aku akan pergi.”


Leo Park beranjak bangkit dari duduk. Berjalan meninggalkan Yebin yang


masih ternganga karena heran di kursi halaman. Lalu masuk ke dalam rumah untuk


membantu menurunkan perabot rumah yang ia bawakan dari India.


“Orang itu benar benar...!” desah pelan Yebin yang benar benar merasa


tercengang karena Leo Park.


Di dalam rumah itu, Yul sedang berbincang binang dengan Arsitek Kim untuk


menataan ruangannya. Keduanya sedang berada di lantai satu, tepatnya berdiri di


sebelah dinding ruang tamu.


“Apa tidak terlalu frontal jika lukisan itu ditaruh sebelah sini? Pikir


saya, lukisan itu akan diletakkan di sisi sebelah sana,” ucap Yul sambil


menunjuk sisi selatan yang cukup jauh dari pintu masuk rumah.


“Justru itu, lukisan ini akan lebih baik di taruh di dinding ini. Lihatlah


nilai artistik seni yang Anda buat. Lukisan ini memancarkan banyak sekali


energi. Jika dipasang di tempat yang lebih terbuka dan frontal, akan memberikan


enesgi untuk siapa pun yang masuk ke dalam rumah ini. Kesannya akan benar benar


sangat berbeda dari ditaruh di tempat yang sulit dijangkau pandangan.” Arsitek


Kim menjelaskan.


Yul menganggukkan kepala. Merasa setuju dengan yang diucapkan Arsitek


Kim.


Itu adalah lukisan yang Yul buat beberapa tahun yang lalu. Ukuran lukisan


ini sangat besar, panjangnya dua meter dan lebarnya satu meter setengah. Ia


melukis ini ketika pertama kali Hun berangkat ke Amerika. Sebagai bentuk rasa


kasihnya kepada Hun yang berada di negara perantauan. Maknanya sangat mendalam


untuk Yul sendiri. Ia melukisnya dengan semua emosi dan kasih sayang yang terlimpahkan


dalam setiap goresan catnya.


Setelah berdiskusi dengan Arsitek Kim yang mendesain seluruh bagian rumah


ini dan juga dekorasinya, beberapa petugas yang datang bersama Arsitek Kim,


mulai memasang lukisan tersebut di dinding ruang tamu yang jaraknya hanya tidak


sampai tiga meter dari pintu masuk.


Asritek Kim pun beranjak pergi untuk mengurus dekorasi di lantai dua


bersama beberapa anak buahnya. Sementara itu, Yul masih tak beranjak. Ia mengamati


proses pemasangan lukisan tersebut. Memandangi lukisan yang dibuatnya itu


dengan sangat cermat. Yul telah menjadi pelukis untuk dirinya sendiri dan untuk


orang orang di sekitarnya. Ia memang tak bisa dikenal banyak orang sebagai


pelukis seperti ayahnya dulu, tetapi untuk orang orang disekitarnya, Yul adalah


pelukis yang luar biasa. Ia adalah pelukis yang memberikan energi positif untuk


orang lain melalui lukisan lukisannya. Dan semua lukisan itu akan abadi bersama


ingatan orang orang yang melihatnya.


“Harusnya kau tak jadi pebisnis. Aku sungguh penasaran kenapa kau


berhenti melukis jika lukisanmu sebagus ini.”


Yul, yang semua masih fokus menatap lukisannya yang kini terpajang rapi


di dinding rumah Hun, seketika menoleh mendengar suara menyahut. Kepalanya menoleh.


Ia mendapati sesosok laki laki yang kini berdiri tepat di sebelahnya. tidak


lain dan tidak bukan, lelaki itu adalah Leo Park.


“Melukis itu adalah hobiku. Dan bisnis adalah pekerjaanku. Ada yang


salah?” Yul menanggapi pertanyaan Leo Park.


Leo Park mengerucutkan bibir. Menatap fokus ke arah lukisan yang


terpajang di hadapan. Kepalanya mengangguk angguk, pertanda paham akan apa yang


dikatakan Yul.


“Tidak. Tidak ada yang salah. Aku bertanya karena hanya penasaran saja.”


Leo Park menanggapi.


“Untuk apa kau datang kemari?” lanjut Yul bertanya legas.


Leo Park mengembuskan napas gusar. Ia tersenyum getir menanggapi Yul.


“Kalian itu sama saja ya. Apakah salah aku ikut menghias rumah yang


nantinya akan ditinggali adik perempuanku?” cetus Leo Park.


Kening Yul mengernyit. Ia masih menimbang nimbang siapa yang dimaksud ‘kalian’


oleh Leo Park.


“... Aku cuman mau mengantarkan beberapa perabotan untuk rumah yang akan


ditinggali adikku.”


Leo Park menjelaskan dengan singkat maksud kedatangannya kemari. Membuat Yul


menganggukkan kepala, mengerti. Setelah itu Leo Park masih diam dan memandangi


lukisan besar yang ada di hadapannya. Lelaki itu tampak tenang. Membuat Yul


benar benar dibingungkan siapa Leo Park yang sebenarnya. Apakah Leo Park itu


adalah sosok laki laki yang datang ke rumah baru Hun untuk mengantarkan


perabotan sebagai bentuk kasih sayangnya pada sang adik yang akan segera


menikah. Ataukah Leo Park itu adalah sosok manusia kejam yang mencoba melakukan


percobaan pembunuhan pada Hun melalui kecelakaan mobil beberapa bulan lalu.


Yul sungguh bingung. Lelaki yang berdiri di sampingnya ini seolah olah


memiliki dia kepribadian. Yang bisa menjadi sangat baik dan perhatian, juga di


beberapa waktu lainnya bisa menjadi sesosok monster yang bisa memakan siapa


saja yang mengancamnya. Yul sangat bingung. Kecurigaannya terhadap Leo Park itu


apakah benar, ataukah hanya asumsi dari rasa tidak sukanya pada Leo Park yang


menunjukkan ketertarikan kepada Kang Yebin. Yul pun tak tahu. Ia hanya bisa


menunggu kepolisian menuntaskan penyelidikan itu.


Napas Yul berembus panjang panjang karena tak menemukan jawaban dari


semua tanda tanyanya yang menyembul di dalam kepala. Ia kembali memandang


lukisannya untuk menghapuskan semua kegelisahan yang menyambut hatinya karena


keberadaan lelaki yang sekarang berdiri di sebelahnya.


“Kelihatannya bisnis Moonlight Retail berjalan semakin sukses,” ucap Leo


Park membuka perbincangan.


“Berkatmu. Kau melakukan pekerjaan dengan sangat baik untuk Moonloght


Retail, makanya bisnisku bisa seperti ini,” jawab Yul.


“Tapi kau tidak bisa menjual separuh saham itu padaku.”


Leo Park melontarkan kalimat itu dengan penuh sindiran. Di antara semua


perusahaan yang berhasil ia rancang dan susun dengan baik sebagai konsultan


bisnis, hanya Moonlight Retail yang tidak berhasil Leo dapatkan separuh


sahamnya. Hanya Yul yang tidak gentar akan semua ancaman yang diberikannya.


“Jadi kau masih mengincar bisnisku?” tanya Yul lugas.


“Tidak. Aku sudah tidak ingin membeli saham Moonlight Retail,” kata Leo


dengan percaya diri.


“Syukurlah.”


“Berterima kasihlah pada istrimu,” lanjut Leo Park berucap.


Itu seketika membuat kepala Yul menoleh. Keningnya mengerut dalam. Kenapa


Leo Park tiba tiba membawa nama Yebin?


“Maksudmu?” tanya Yul ragu.


Leo Park ikut menoleh. Bertatapan legas dengan Yul yang raut wajahnya


tidak suka.


“Berkat istrimu, aku tidak lagi mengincar saham Moonlight Retail. Dan


sebagai gantinya, aku mengijncar hal lain, bukan saham Moonlight Retail,” kata


Leo Park.


Kening Yul mengerut semakin dalam. Ia mencurigai maksud mengincar ‘hal


lain’ yang dilontarkan oleh Leo Park. Jangan jangan....


Saat Yul masih bergelut bersama segala kecurigaannya tentang Leo Park,


bunyi jam yang menandakan pukul sebelas tepat, melunturkan suasana. Leo menatap


jam tangannya. Dan harus segera pergi.


“Jangan mengincar keluargaku.” Yul mencengkeram tangan Leo,


memperingatkan hal itu kepada Leo Park yang mengincar sesuatu milik Yul, entah


itu keluarganya, atau Kang Yebin.


Tatapan tajam Yul seolah olah menusuk nusuk bola mata Leo. Tapi Leo tak


getir melihatnya. Ia balas menatap Yul tajam. Menghentakkan tangannya sehingga


cengkeraman Yul yang keras itu bisa terlepas seketika. Kemudian Leo Park


berucap, membalas kata kata penuh peringatan yang dilontarkan Yul.


“Aku tidak akan merebut keluargamu. Mereka sendiri yang akan datang


padaku nanti.”


Leo mengakhiri kalimatnya dengan senyuman sinis yang dilayangkannya


kepada Yul. Lalu ia langsung berbalik. Berjalan lurus ke depan, meninggalkan


Yul yang masih tercengang mendengar kata kata penuh ancaman itu.


Tidak. Yul tidak akan membiarkan siapa pun bisa menyentuh keluarganya. Kang


Yebin atau pun Hanyul, Hun atau pun ibu, juga bisnisnya dan Biniemoon. Yul


tidak akan mengizinkan semua yang berada dalam jangkauannya, disentuh oleh


orang lain, apalagi laki laki berbahaya seperti Leo Park. Tidak akan. Bagaimana


pun, Yul akan mempertahankan keutuhan keluarganya. Leo Park atau siapa pun,


tidak akan bisa merebut apa yang menjadi milik Yul.