Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Keputusan Ambang



Kang Yebin terduduk dengan canggung di salah satu bangku kafe dekat taman Sungai Han. Bukan Moonlight Coffe Gangnam, melainkan sebuah kafe kecil yang letaknya di pinggiran.


“Melihatmu langsung berlari menemuiku di tempat ini, sepertinya suamimu belum memberitahumu apa apa.”


Leo Park yang duduk berhadapan dengan Yebin membuka pembicaraan setelah beberapa saat hening. Ia menyesap cappucino lattenya sambil menatap Yebin di seberang meja yang terlihat tak nyaman duduk di sana.


“Kenapa kau terlihat tidak nyaman sekali? Aku tidak akan melakukan hal hal aneh, jadi santai saja,” imbuh Leo Park.


Seketika itu Yebin menghela napas panjang panjang. Tidak dapat dimungkiri, duduk berhadap hadapan dengan Leo Park seperti ini memang membuatnya tidak nyaman. Caranya menatap yang menurut Yebin itu terasa aneh, juga cara berbicara yang tidak sopan terhadapnya. Di tambah kesan pertama mereka yang tidak baik. Karena semua hal itu, Yebin merasa canggung sekaligus tidak nyaman bertemu dengannya. Meski Leo Park adalah orang yang pernah menyelamatkannya di Kuba, tetap saja. Cara menatap lelaki itu yang membuat Yebin semakin tidak suka.


“Baiklah. Karena kau sudah tahu, aku akan jujur saja. Sebenarnya sangat tidak nyaman bagiku untuk bertemu denganmu secara pribadi seperti ini. Tapi karena aku harus tahu apa yang sedang terjadi pada suamiku, mau tidak mau aku harus bertemu denganmu. Jadi katakan saja apa yang ingin katakan saat saat memintaku datang menemuimu di tempat ini.” Yebin berkata dengan tegas.


Leo Park mendengarkan dengan baik sambil mengangguk anggukkan kepala.


“Kau sungguh belum mendengar apa apa dari suamimu?” tanya Leo Park ragu.


Sekali lagi Yebin menghela napas panjang. “Untuk apa aku berlari kemari di tengah kesibukanku bekerja dan duduk dengan tidak nyaman di tempat ini jika sudah mendengarkan semuanya?”


Leo Park tampak sedang menggaruk garuk keningnya yang tidak gatal. Ia berucap sambil menyeringai, “Maksudku, kurasa suamimu itu sangat bangga memiliki istri yang hebat sepertimu. Tapi ternyata dia tidak cukup percaya padamu untuk menceritakan semuanya.”


Gelas jus mangga yang ada di hadapan Yebin itu diremasnya dengan geram. Tangannya sampai bergetar karena marah mendengar kata kata Leo Park yang menusuk nusuk. Memang lelaki itu tahu apa tentang suami Yebin? Memang tahu apa lelaki itu tentang kehidupan rumah tangga mereka?


Namun Yebin berusaha meredam amarahnya. Mengatur pernapasan untuk mendinginkan kepalanya yang seolah olah akan meledak.


“Ceritakan saja semuanya, jangan mengurusi urusan rumah tangga orang lain,” desus Yebin lirih, setengah mengancam.


“Baiklah. Akan kuceritakan.”


Setelah melihat kemarahan Yebin mereda, Leo Park pun menjelaskan segala situasinya kepada Yebin. Tentang kebingungan yang Yul alami.


“Sesuai target pasar Moonlight Coffe, Moonlight Retail juga memiliki target pasar yaitu anak muda mulai usia dua pulihan sampai dewasa. Karena itu peluang terbesarnya jelas di fashion. Aku menyarankan pada Tuan Moon untuk membuka bisnis retail di bidang fashion. Sebenarnya bisnis kosmetik seperti yang ia katakan juga menjanjikan, tetapi tetap untungnya tidak seberapa jika tidak ditunjang oleh bisnis fahion. Jadi aku mengusulkan padanya, untuk bekerja sama dengan Biniemoon. Tapi, dia tidak mau menggandeng Biniemoon karena itu sama saja memanfaatkan Biniemoon untuk menunjuang popularitas bisnis fahion Moonlight Retail yang baru lahir. Tuan Moon tidak mau karena merasa hanya akan memanfaatkan semua kerja kerasmu terhadap Biniemoon.” Leo Park menjeskan semua itu dengan gamblang di hadapan Yebin. Lalu menarik napas panjang dan menggumam gumam, “Hh, aku tidak mengerti saja. Bagaimana bisa seorang pebisnis besar seperti Tuan Moon itu memiliki hati yang sangat lemah. Bagaimana dia bertahan selama ini jika memiliki hati yang sangat lemah seperti itu. Tuan Moon itu terlihat seperti orang yang ambisius, tetapi ternyata ambisinya tidak sebesar itu.”


Yebin menyipitkan kedua matanya mendengar gumaman pelan yang sengaja diperdengarkan padanya itu. Lalu ia memikirkan kembali semua penjelasan panjang Leo Park tentang rencana bisnis Moonlight Retail.


“Sebagus itukah peluangnya jika Moonlight Retail bekerja sama dengan Biniemoon dan menjadi indukan baru bisnis suamiku?” Yebin meyakinkan. Dan Leo Park menanggapi itu dengan anggukan yakin.


“Sangat bagus sekali peluangnya. Baik untuk Biniemoon maupun untuk Moonlight Retail. Selama ini Biniemoon hanya memperdagangkan produk produk fashion dalam negeri, alias produk lokal. Mungkin ini saatnya untuk menjual produk produk impor dari brand luar negeri. Bisa dikatakan, ini saatnya Biniemoon untuk beranjak pada level yang lebih tinggi. Tetapi karena Biniemoon hanyalah marketplace swasta yang kebanyakan penggunanya adalah golongan menengah ke bawah maupun menengah ‘sedikit’ ke atas, pasti akan sulit untuk memiliki izin impor dari pemerintah. Apalagi Biniemoon juga belum menarik banyak investor dan cenderung mandiri dari semua sisi. Oleh karena itu Biniemoon membutuhkan kekuasaan Tuan Yul, pemilik Moonlight Coffe yang sudah lama berususan dengan investor dalam negeri maupun luar negeri.”


Selagi Leo Park itu menjelaskan panjang lebar, Yebin mendengarnya dengan seksama. Seperti seorang mahasiswa yang sedang memperhatikan dosennya menjelaskan tentang materi yang sangat menantang.


“... Kuntungan dari kerja sama, yang suamimu sebut ‘memanfaatkan’ itu nanti akan sebanding. Moonlight Retail akan membuka peluang bagi investor dan menjadi ladang investasi untuk investor besar lokal maupun asing. Dengan itu, Moonlight Retail bisa dengan mudah bekerja sama dengan brand fashion dunia dan juga para desainer terkenal dunia. Lalu memasarkan semua brand itu melalui Biniemoon. Tidak hanya itu, Moonlight Retail juga bisa mendanai semua biaya operasional untuk meningkatkan sistem dan fitur fitur Biniemoon. Seperti, membuat aplikasi khusus untuk belanja di Biniemoon, juga bekerja sama dengan pihak ekspredisi luar negeri supaya Biniemoon tidak hanya bisa dijangkau oleh orang Korea saja, tetapi juga orang orang dari luar Korea bisa berbelanja dengan mudah menggunakan aplikasi Biniemoon.”


Membuat aplikasi khusus Biniemoon memang pernah terbesit di benak Yebin. Namun saat ini semua biaya yang dikeluarkan Binimoon adalah biaya sendiri, alias uang hasil laba penjualan. Biniemoon tidak memiliki banyak anggaran untuk membuat aplikasi khusu dan mengatur semua sistemnya sedemikian rupa. Karena untuk melakukan itu pastinya membutuhan dana yang sangat besar. Sedangkan laba penjualan Biniemoon hanya cukup untuk memperbanyak jumlah stok dan menambah produk baru di setiap minggunya. Juga untuk menggaji empat orang karyawan dan membayar sewa tempat untuk kantor operasional Biniemoon.


Yebin mengembuskan napas panjang panjang. Kemudian meneguk jus mangga yang tersaji di hadapannya. Ia merenung dalam. Memikirkan semua itu dalam waktu cukup lama.


“Sebenarnya beberapa hari lalu aku mendapatkan tawaran kerja sama dari Hansung Retail. Mereka menawarkan kerja sama dengan keuntungan yang cukup menggiurkan untuk Biniemoon. Sekarang, Biniemoon sedang mengalami defisit anggaran karena baru pindah kantor ke tempat yang lebih layak,” cerita Yebin panjang.


“Kenapa kau tidak minta suamimu saja untuk mendanai semua biaya operasional Biniemoon? Kurasa satu bulan penghasilan suamimu sebagai pemilik kafe sudah sangat cukup untuk bisa mendanai semua biaya operasional Biniemoon,” sahut Leo Park dengan nada bicaranya yang terdengar sarkatis.


“Benar. Aku bisa saja melakukannya. Tapi aku tidak mau menjadi beban untuk suamiku,” kata Yebin.


“Ah... tidak mau menjadi beban.” Leo Park menggumam gumam. “Aku pikir kalian itu pasangan yang sangat serasi. Ternyata, tidak juga. Kalian hanya menganggap satu sama lain sebagai beban dan sama sama tak ingin membebani. Kalau sama sama tak ingin saling merepotkan dan berbagi beban, lantas kenapa kalian menikah? Toh, kalian hanya mengurusi masalah kalian sendiri sendiri tanpa mau berkompromi. Aku hanya tidak mengerti saja kenapa kau menyia nyiakan masa mudamu dengan menikah tetapi kau tetap menanggung semuanya sendirian.”


“Tutup mulutmu!”


Kesabaran Yebin telah berada di ujung tanduk. Ia tak sanggup lagi menahan amarahnya mendengar orang lain mencampuri urusan rumah tangganya dengan Yul. Lelaki yang duduk di hadapannya itu sungguh tidak tahu diri. Ia berbicara seenaknya seolah menjadi manusia paing benar di dunia ini. Yebin yang tak bisa berlama lama duduk di tempat itu pun segera beranjak dari tempatnya.


“Aku peringatkan kau, jangan mengurusi rumah tangga orang lain. Apa pun yang terjadi padaku dan suamiku, itu bukan urusanmu. Berhenti ikut campur dan berhenti mengkritik kehidupan rumah tangga kami. Ini peringatan terakhirku. Sekali lagi kau melewati batas, aku pastikan kita tidak akan pernah bertemu lagi entah untuk urusan apa pun.”


Bagai siaraman es di pagi hari, tubuh Leo park membeku mendengarkan peringatan ketus Yebin. Itu adalah ancaman yang cukup menusuk untuk seorang Leo Park yang menaruh perasaan kepada Kang Yebin. Lalu saat tubuh Yebin berbalik untuk meninggalkannya, Leo Park dengan raut wajah datarnya itu menyahut.


“Kau berniat mengambil alih Moonlight Coffe dari suamimu?” tanyanya.


Seketika kaki Yebin berhenti melangkah. Ia cukup tercengang dengan ucapan ‘mengambil alih’ itu.


Kepala Yebin sedikit menengok ke belakang saat memberikan jawaban, “Memangnya kau pikir aku ini istri seperti apa? Sudahlah. Jangan ikut campur.”


Saat Yebin hendak melanjutkan langkah, Leo Park kembali melontarkan perkataan sambil beranjak berdiri.


Setelah semua kata itu terlontar dari mulut Leo Park, Yebin pun benar benar meneruskan jalannya. Ia berjalan keluar. Memanggil taksi untuk membawanya kembali ke kantor Biniemoon. Lalu melanjutkan pekerjaannya di sana yang sempat tertunda karena Leo Park.


Sebisa mungkin Yebin bekerja dengan profesional tanpa melibatkan perasaannya. Meski benaknya terasa suntuk gara gara perkataan Leo Park yang memprovokasinya, Yebin berusaa untuk tetap bekerja degan maksimal sampai jam kerja pun berakhir. Tepat pada pukul empat sore, seperti biasanya, Yebin dijemput oleh Yul untuk pulang bersama.


Raut wajah murung Yebin itu tentunya diperhatikan dengan baik oleh Yul. Yul yang merasa aneh melihat Yebin yang pagi tadi berangkat bekerja dengan semangat dan sekarang menjadi murung itu pun segera melontarkan pertanyaan begitu Yebin masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengaman.


"Ada apa dengan ekspresimu itu? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu atau Biniemoon?” tanya Yul kemudian melajukan mobil menjauhi kantor Biniemoon.


“Tidak. Tidak apa apa. Aku hanya kelelahan saja,” jawab Yebin dengan nada suaranya yang melemah. Ia menolehkan kepalanya ke luar jendela. Menghindari tatapan Yul.


“Ah, begitukah? Kalau begitu istirahatlah. Aku akan membangunkanmu begitu sampai rumah.”


Perjalanan kali ini sangat sunyi. Tidak ada satu pun pembahasan yang terlontar dari Yebin yang sibuk memejamkan mata. Matanya memang terpejam. Tapi ia tak tidur. Hanya berangan angan tentang semua perkataan Leo Park pagi tadi.


Hingga mereka pun sampai di rumah. Yebin langsung turun begitu Yul menghentikan kendaraannya di bagasi.


Yul hanya diam dan membingung mendapati sikap Yebin yang benar benar aneh. Sikapnya menjadi dingin. Raut wajahnya juga memurung. Bahkan, tak melontarkan sepatah kata pun untuk Yul. Yul yang tida bisa lama lama didiamkan oleh Yebin itu pun kembali menanyakan apa yang terjadi pada istrinya.


“Sayang, apa yang terjadi padamu? Kau sungguh baik baik saja?” tanya Yul selagi mengikuti Yebin memasuki kamar tidur mereka.


Kang Yebin yang sedang duduk di depan meja rias untuk membersihkan wajah itu tampak terdim selama beberap saat. Ia menimbang nimbang. Yebin bukan orang yang cukup baik dalam menyembunyikan emosi. Dan ia juga tak bisa memendam kekesalan apalagi kemarahan dalam waktu lama.


Yebin pun menghentikan kegiatannya membersihkan wajah. Meletakkan kapas di tangannya itu ke atas meja. Lalu menolehkan tubuh, menghadap Yul yang sedang duduk di pinggiran kasur menatapnya.


“Oppa, kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?” tanya Yebin dengan nada suara yang terdengar seperti mengintimidasi.


Yul terdiam. Wajahnya yang menatap Yebin itu kian menyendu. Ia tak memberikan jawaban secara cepat dan memilih untuk diam dalam waktu cukup lama.


Setelah terdiam cukup lama, Yul pun memberikan jawaban, “Aku tidak berusaha menyembunyikan sesuatu darimu. Aku hanya menunggu....”


“Oppa tidak memercayaiku?” serobot Yebin.


Raut wajah Yul sontak berubah. Ia menatap Yebin tak percaya.


“Bukan seperti itu Yebin-a. Bukan karena aku tidak memercayaimu. Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk menceritakan semuanya padamu.”


“Waktu yang tepat? Kapan itu? Aku mendengar semuanya pagi tadi. Tentang rencana bisnis Moonlight Retail dengan Biniemoon. Aku sudah mendengar semuanya. Dan katanya kau menolak melakukan itu, karena tak ingin membebaniku.”


Yul yang terkejut itu sontak berdiri dari duduk. Ia menghampiri Yebin yang sedang duduk di kursi meja rias. Menghampiri sang istri untuk terduduk bersamanya di kursi yang sempit itu.


“Kau sudah mendengar semuanya? Leo Park yang memberi tahumu?”


“Aku yang memaksanya berbicara, karena aku merasa Oppa menyembunyikan sesuatu padaku.”


“Yebin-a, bukan seperti itu. Aku tidak berniat menyembunyikan hal itu darimu. Bukan seperti itu. Aku berharap kau tidak salah paham.” Yul berkata. Ia menggenggam kedua tangan Yebin untuk meyakinkannya.


“Aku dengar dari Leo Park sendiri, kalau Oppa jelas jelas tidak mau bekerja sama dengan Biniemoon karena menganggap itu hanya akan menguntungkanmu. Kau tidak ingin membebankanku dengan kerja sama itu sehingga mengulur ngulur waktu untuk memutuskan bisnis barumu. Oppa, aku bertanya satu hal.” Yebin terdiam sesaat. Menatap kalur ke arah Yul. “Apa Oppa benar benar mendukungku berbisnis? Atau selama ini kau menganggap aku berbisnis hanya untuk bersenang senang tanpa memiliki ambisi? Kau hanya mengiraku bersenang senang dengan bisnis kan? Karena itu kau tidak mengizinkanku mengambil beban itu dan dan tidak membiarkanku tumbuh sebagai pebisnis. Karena kau mengganggapku tidak mampu.”


Bola mata Yebin memancarkan amarah sekaligus kepedihan ketika mengatakan itu semua. Seketika itu juga, genggaman tangan Yul yang semula hangat itu menjadi semakin dingin. Tanpa sadar Yul melepaskan tangan Yebin.


“Bukan seperti itu, Yebin-a. Sungguh bukan seperti itu.”


“Kau sangat egois, Oppa.” Yebin menceletuk. “Kau hanya mementingkan egomu sebagai suami dan melupakan keberadaanku sebagai istri. Kau ingin menanggung semuanya sendirian bukan karena kau benar benar peduli padaku, tapi kau mementingkan harga dirimu sebagai suami yang menganggap harus bisa semuanya. Kau sama sekali tidak menghargai keberadaanku dan juga peranku sebagai perempuan.”


Sebagai istri, Yebin merasa keberadaannya itu tidak dianggap oleh Yul. Karena Yul memilih untuk menanggung semuanya sendirian tanpa harus berbagi beban dengan Yebin. Padahal Yebin ingin sekali diakui sebagai istri. Yebin ingin dianggap mampu untuk menjadi tempat berbagi beban suaminya. Yebin berada di rumah ini bukan untuk dianggap sebagai anak kecil yang tidak tahu apa apa, tetapi sebagai istri yang ikut serta mempertahankan keutuhan keluarga dan memperjuangkan semua hak itu bersama.


Tetapi Yul yang selalu ingin menanggung semua beban sendirian itu telah membuat dada Yebin menyesak. Andaikan tadi Leo park tidak meneleponnya terlebih dulu, Yebin tisak akan tahu apa yang terjadi pada Yul dan mungkin akan menekan kontrak kerja sama dengan Hansung Retail yang pada akhirnya akan bersaing dengan Moonlight Retail. Yebin merasa keputusannya untuk menunda memberikan balasan proposal Hansung Retail itu adalah hal yang bijaksana. Jika tidak, maka di masa depan Yebin akan bersaing dengan suaminya sendiri dalam bisnis di bidang retail.


Yebin yang kembali merasa geram itu melanjutkan kegiatannya membersihkan wajah dengan kapas dan juga cairan pembersih. Sementara itu, ia tak memedulikan Yul yang duduk di sebelahnya sambil terdiam seribu bahasa.


Setelah itu Yebin beranjak dari duduk. Berjalan ke samping lemari pakaian. Melepaskan semua pakaian dan juga dalaman. Lalu berjalan telanjang menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Seselesainya mandi itu, saat Yebin masih memakai towel dress dan juga handuk putih di kepalanya, Yul yang belum beranjak dari tempatnya menceletuk.


“Memang benar aku menolak usulan Leo Park untuk bekerja sama dengan Biniemoon. Tapi, bukan karena aku tidak memercayaimu. Juga bukan karena alasan alasan yang tadi kau sebutkan.”


**