Love You Later NEW SERIES!

Love You Later NEW SERIES!
Harapan palsu untuk meminimalisir luka batin



Bab 34


Harapan palsu untuk meminimalisir luka batin


“Halo, Ajeossi,” sahut Lysa begitu panggilan itu tersambung.


[Lysa? Kenapa suaramu berbeda? Apa yang sedang terjadi padamu?]


Lysa cukup terkejut ketika Mino yang sedang berbicara dengannya di seberang telepon itu merasakan perubahan suaranya. Lysa tidka menyadari, dan tidak menduga, kalau suasana hatinya yang tidak begitu baik ini akan terluapkan dengan jelas melalui nada suaranya, yang bahkan dapat disadari oleh Mino di seberang telepon.


Mengerti hal itu, Lysa mengembuskan napas panjang panjang dengan sangat pelan, berusaha supaya Mino di seberang telepon tidak mendengar embusan napas beratnya. Namun sepertinya usaha itu gagal.


[Ada apa, Kim Lysa? Apa yang terjadi padamu sampai kau terdengar begitu murung seperti ini? apa liburanmu di Indonesia tidak berjalan dengan baik baik saja?]


Padahal Lysa baru mengucapkan ‘halo Ajeossi’ dan laki laki itu langsung tahu apa yang terjadi pada Lysa, seolah olah ia mengamati semua yang terjadi pada Lysa. Lysa yang cukup terkejut karena Mino yang menanyakan apa yang sedang terjadi padanya itu, kebingungan untuk menjawab. Alasannya, satu, karena itu soal Brian, dan tidak mungkin Lysa menceritakan tentang Brian kepada Mino karena itu bisa membuat Mino terluka. Apalagi jika mengingat akhir akhir ini Lysa lebih sering menghabiskan waktu bersama Brian dari pada Mino, dan bahkan pergi ke Indonesia bersama Brian. Lysa yang bahkan belum sempat bertemu dengan Mino dan sangat merindukannya itu, tidak ingin Mino salah paham. Karena keadaan saat ini sudah cukup sulit untk mereka berdua mengingat keduanya tidak bisa bersama karena urusan masing masing. Dan alasan yang kedua, Lysa tidak ingin Mino tahu kalau sebenarnya hubungannya dengan Brian itu maish sangat canggung karena Brian yang seolah olah masih terus mengharapkan kesempatan dari Lysa. Di hadapan semua orang, bahkan di hadapan ayahnya, Lysa selalu mengatakan bahwa hubungannya dengan Brian itu tidak lebih dari adik dan kakak, dan itulah yang sebenarnya terjadi selama hampir tiga belas tahun mereka kenal. Namun, akhir akhir ini keduanya berada dalam hubungan yang canggung setelah brian mengutarakan perasaannya untuk pertama kalinya kepada Lysa. Meski pun Lysa telah memberikan jawaban penolakan dan memperjelas hubungan mereka sebagai adik kakak, dan sama sekaki tidak lebih, tetapi nampaknya Brian masih mengharapkan sesuatu yang lebih dan terus menunggu kesempatan yang baik untuk merebut hati Lysa dari Mino.


Dan lebih parahnya lagi, meski pun hubungan mereka seperti itu Lysa tidak dapat menghindari Brian. Hubungan mereka sudah terlanjut dekat meski hanya sebagai adik dan kakak. Lysa telah mengenal Brian lebih dari apa pun dan begitu juga sebaliknya. Namun, jujur saja. Lysa merasa takut pada Brian yang seolah olah ingin memisahkannya dari Mino. Di beberpa kesempatan Lysa merasa takut namun ia tak bisa menghindar dari Brian karena keeratan hubungan mereka yang telah terjalin sejak lama.


Setelah beberapa detik terdiam, Lysa teringat sesuatu. Bahwa sejak siang bangun dari tidur tadi suasana hatinya memang tidak begitu baik lantaran ia akan bertemu dengan sang ibu. Lysa sejak tadi memang suasana hatinya sedang murung karena hendak bertemu ibunya. Dan suasana hatinya baru membaik ketika Brian mengajaknya makan bersama di restoran favorit Lysa ketika tinggal di Yogyakarta bersama ayah dan ibu. Namun begitu makan malam berakhir, kemurungan hati itu kembali Lysa rasakan gara gara sikap Brian yang cukup agresif terhadapnya. Terlebih, Brian juga sempat mencium bibirnya dengan tiba tiba dan tak dapat Lysa hindari.


“Aku harus  bertrmu ibuku, tapi aku tidak bisa bertatapan dengan wajahnya. Saat membayangkan kalau aku akan menemuinya, bahkan saat aku masih berdiri di depan pintu ruang rawatnya, tubuhku seketika itu juga lemas tak bertulang. Aku menjadi lunglai. Aku teringat lagi sebuah peristiwa yang benar benar menghancurkan hatiku. Dan akhirnya aku tidak sanggup bertemu dengan ibu dan bayinya. Seperti seorang pengecut yang bodoh aku hanya bisa berdiri di depan pintu.”


Saat menceritakan hal itu, kedua mata Lysa berkaca kaca. Ia seperti mau menangis tapi tertahan di balik pelupuk matanya. Lagi pula, suasana seperti ini sangat tidak cocok untuk menangis. Karena Lysa tengah berada di tengah keramaian orang yang sedang menyaksikan penampilan panggung sebuah band indi yang ada di dalam gedung restoran itu.


[Ahh, begitu rupanya.] Terdengar gumaman pelan di seberang telepon. Pertanda bahwa Mino mendengar dan mencerna semua cerita yang diutarakan oleh Lysa. [Huhh, harusnya aku ada di sampingmu saat ini. Maaf karena tidak bisa menemani kesedihanmu.]


Tidak seharusnya laki laki itu meminta maaf. Karena itu bukanlah kesalahannya. Bukan salah Mino yang tidak bisa menemani Lysa di saat Lysa merasa begitu berat dan tertekan seperti beberapa waktu lalu. Juga bukan salah Lysa yang merasakan siksaan itu lagi ketika hendak bertemu dengan ibunya. Bukan salah Tuhan pula yang memisahkan keduanya di waktu yang sangat tidak tepat. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Hanya saja keadaan yang mencoba membuat keduanya untuk bisa saling menguatkan meski terpisah jarak yang amat berjauhan.


Tetapi mendengar Mino mengatakan hal itu, benak Lysa terasa sangat tenteram. Jika Mino ada di samping Lysa, mungkin Lysa akan merasa jauh lebih baik dan akan mendapat sebuah kekuatan yang begitu besar darinya. Namun jika Mino tidak ada di samping Lysa, juga bukan kesalahan Mino. Lysa hanya merasa sangat senang karena Mino berkata demikian, yang artinya Mino pun berpikir untuk berada di sisi Lysa dan menemaninya di waktu waktu yang begitu berat dan membuat Lysa merasa sangat lemah.


Meski Mino tak melihatnya, saat ini Lysa sedang tersenyum hangat mencerna kata katanya.


“Terima kasih sudah mengatakannya, Ajeossi.”


[Sekarang kau ada di mana? sepertinya aku mendengar suara suara musik dan orang yang bergerombol.]


“Ah, aku sedang ada di lobi restoran. Aku baru saja makan malam. Dan waktu turun ada sebuah band indi yang memainkan musik klasik di lobi restoran untuk perayaan restoran itu.”


[Apa kau sendirian?]


“Ya. Kenapa?”


[Tidak apa apa.]


“Bagaimana suasana di Filipina? Apa Ajeossi sudah beradaptasi dengan suasana di sana?” tanya Lysa membuka percakapan baru dengan Mino.


[Suasananya sangat asing untuk aku. Udaranya juga cukup panas. Tapi sejauh ini aku merasa sudah beradaptasi dengan baik. Hanya saja, makanan di sini tidak cocok dengan lidahku. Aku merasa tidak selera makan dan hanya memakan makanan makanan instan yang aku bawa dari Korea.] Mino bercerita.


“Tapi Ajeossi harus tetap makan.” Lysa menyahut.


[Iya iya. Di sekitar tempat tinggalku ada restoran makanan Korea. Tapi beberapa hari terakhir ini sedang tutup untuk perbaikan restoran. Sepertinya tidak lama lagi restoran itu akan buka. Aku bisa makan di sana.]


“Syukurlah.”


Setelah itu terjadi keneningan di ponsel Lysa. Di seberang telepon, Mino sedang terdiam untuk memikirkan sesuatu.


[Lysa ya] panggil laki laki itu.


“Hm?”


[Apa kau masih menungguku di sana?]


Pertanyaan mino yang begitu tiba tiba itu membuat kedua alis Lysa mengernyit. Sudah pasti, Lysa masih menunggunya. Kenapa Mino masih bertanya sesuatu yang sudah jelas jawabannya?


“Tentu saja. Kenapa?” Lysa yang tampak bingung pun langsung bertanya balik.


[Tidak apa apa. Hanya saja ... aku khawatir, karena di Indonesia kau sedang bersama laki laki lain. Entah mengapa aku begitu khawatir. Aku begitu bodoh ya, karena mencemaskan sesuatu yang tidak terjadi. Bukan berarti aku tidak percaya padamu, Lysa. Sama sekaki tidak seperti itu. Hanya saja ... ini kekhawatiran yang wajar bukan?]


Lysa terdiam. Jantungnya berdegup kencang seperti ia habis berlari maraton berkilo kilo meter jauhnya. Namun, Lysa berusaha untuk tenang. Apa yang Mino khawatirkan itu memang wajar. Kalau Lysa ada di posisinya, pasti Lysa juga akan mengkhawatirkan hal yang sama. Dalam hati Lysa membatin.


Sambil tersenyum Lysa pun memberikan jawaban kepastian.


“Selama dua puluh dua tahun aku hidup, tidak pernah sekali pun aku tidak bersama laki laki. Baik Brian mau pun ayah, mereka berdua selalu menemaniku. Jadi Ajeossi tidak perlu khawatir. Aku masih menunggu Ajeossi. Dan sudah kupastikan kalau hatiku memang hanya untuk Ajeossi.” Lysa meyakinkan Mino dengan jawaban demikian.


Seketika itu juga terdengar embusan napas lega yang kedengarannya sangat panjang dari Mino. Laki laki itu tampaknya begitu lega mendengar Lysa masih menunggunya dengan sabar.


[Syukurlah.]


“Kapan Ajeossi akan datang ke mari?” Lysa lanjut bertanya.


[Aku sedang menjadwal ulang pekerjaanku di sini supaya bisa segera bertemu denganmu di Indonesia. Pling cepat besok lusa aku bisa datang. Kau masih bisa menungguku sampai saat itu kan?]


Lysa tersenyum saat menjawab, “Tentu saja. Aku akan tetap menunggu Ajeossi kapan pun kau datang.”


[Terima kasih. Akan ku usahakan secepatnya.]


**


Suasana yang terjadi antara Lysa dan juga Brian masih agak canggung sampai hari ini. Namun Lysa tidak ingin kecanggungan hubungannya dengan Brian itu berangsur angsur lebih lama. Hingga akhirnya Lysa memutuskan untuk terlebih dahulu mengajak Brian berbicara, entah untuk sekadar menyapa atau mengajaknya makan.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Sebentar lagi adalah waktunya makan siang. Lysa pikir ini adalah momen yang tepat untuk mengakhiri kecanggugannya dengan Brian.


Lysa sangat terkejut ketika ia membuka pintu hotel dan melihat Brian berdiri di depan pintu kamar hotelnya dengan gestur tangan yang hendak mengetuk pintu.


“Oh!” Lysa yang sungguh terkejut itu langsung menceletuk kaget. Begitu pun Brian yang seketika itu juga membeku melihat Lysa membukakan pintu sebelum ia sempat mengetuk pintunya.


Raut wajah Brian terlihat panik dan sangat terkejut. Dengan kaku dan canggung ia menurunkan tangannya yang hendak mengetuk pintu itu. Lalu bertatapan dengan Lysa menggunakan tatapan mata dan raut wajahnya yang tampak misterius.


“Brian ... ada apa kau di sini?” tanya Lysa sambil menutup pintu hotelnya dan berdiri di hadapan Brian yang masih terlihat gugup.


“Eh? Ah ... ti—tidak apa apa. Aku .. hm ... hanya ingin mengajakmu makan siang. Sebentar lagi kan masuk jam makan siang.” Brian berkata dengan gugup dan terbata bata. Pandangannya kepada Lysa terlihat nanar karena laki laki itu tidak dapat memfokuskan pandngan pada Lysa, karena rasa bersalahnya setelah kejadian semalam.


Dengan tenang Lysa menanggapi ajakan Brian itu.


“Oh ya?”


“Aku sungguhan.”


“Kalau begitu ayo kita keluar untuk makan siang.” Brian berucap dengan senyum tipis yang tersimpul di wajahnya.


“Ayo.”


Keduanya pun berjalan bersama menuju lift. Lalu masuk ke dalam lift setelah menunggu selama beberapa detik saja. Di dalam lift menuju lantai satu itu, Brian dan Lysa hanya berdua. Dan tiba tiba Brian membuka pembicaraan untuk memecahkan keheningan yang berlangsung.


“Ke ... kemarin malam .... A—aku...”


“Aku tahu, Brian.”


Ting!


Pintu lift terbuka tepat setelah Lysa menyela ucapan Brian. Brian pun sontak terdiam, lalu mengikuti langkah Lysa keluar dari lift yang telah membawa keduanya di lobi hotel lantai satu. Mereka berjaan bersebelahan dalam suasana yang cukup hening. Sebelum akhirnya Lysa menghentikan langkah tepat di teras hotel sebelah kiri, di sebelah tiang joglo berukuran besar.


“Aku tahu itu pasti sulit untukmu, Brian. Saat ini kita berada dalam situasi yang sangat canggung dan tidak dapat dihindari. Dan ini bukan salah siapa pun. Aku tidak menyalahkanmu atas kejadian kemarin malam. Juga tidak akan menudingmu karena apa yang kau katakan pada malam itu. Aku hanya akan menganggap itu sebagai suatu hal yang telah berlalu. Aku sudah menganggapmu sebagai keluarga. Sepanjang aku mengenalmu dan kita terikat dalam hubungan adik kakak yang membingungkan dan tidak berujung ini, aku menganggapmu keluarga. Kamu yang telah menemani masa kecil dan masa remajaku di sini, dan bahkan menemaiku di saat saat yang paling sulit dalam hidupku, membantuku bertahan hidup saat pertama kali menetap di Korea. Apa lagi namanya jika hubungan seperti itu lagi bukan keluarga?” ucap Lysa panjang lebar selagi menatap hangat Brian yang berdiri di hadapannya.


Brian terdiam. Laki laki itu mencerna setiap kata yang Lysa ucapkan dengan lembut tepat di hadapannya. Dan itu membuat Brian berpikir dalam dalam. Ya, mereka memang sudah seperti keluarga. Dan sepanjang dua belas tahun Brian mengenal Lysa, Brian beranggapan bahwa Lysa itu adalah adik perempuannya yang harus ia jaga. Selain itu Brian juga menganggap bahwa Lysa adalah satu satunya teman yang ia miliki dan selali membuat hari harinya terasa meriah indah. Itu juga yang selalu Brian ucapkan pada Lysa, bahwa hubungan mereka tidak lebih dari sebatas adik dan kakak. Yang itu membuat Lysa ahirnya harus menyerah menyukai Brian yang tidak pernah membuka hatinya untuk Lysa. Namun ketika Lysa benar benar pergi dari Brian, Brian baru menyadari kalau selama ini keberadaan Lysa sangatlah penting untuknya. Setelah Lysa pergi, laki laki itu baru menyadari betapa berharganya Lysa untuknya. Dan seperti orang yang sangat bodoh, Brian pun baru menyadari kalau dirinya mencintai Lysa setelah gadis itu putus asa mendapatkan cintanya dan akhirnya beralih mencintai laki laki lain.


“Aku akan menganggap tidak pernah mendengarnya. Ucapanmu kemarin malam dan ... ciuman darimu.” Lysa kembali berucap. Nada suaranya melirih ketika ia mengucapkan kalimat terakhirnya. Kepala nya pun ikut menunduk dan tak dapat menatap Brian. “Aku tidak ingin kehilangan seorang yang sangat penting dan berarti dalam hidupku, Brian. Kau adalah orang yang penting untukku. Dan aku tidak ingin hubungan kita semakin canggung lagi. Jadi ... jadi aku ingin ....”


Seolah olah tahu apa kelanjutan kalimat yang hendak diutarakan oleh Lysa, Brian segera menyela dengan pelan.


“Baiklah. Aku tahu maksudmu, Lysa. Dan aku akan menuruti apa yang kau inginkan,” ucap Brian.


Yang diinginkan Lysa adalah, gadis itu ingin hubungannya dengan Brian seperti dulu lalu, tanpa kecanggungan. Lysa ingin Brian memperlakukannya dengan cara yang sama seperti saat itu. Dengan begitu Lysa tidak merasa terbebani dan tidak merasa takut kehilangan salah satu orang yang keberadaannya cukup berarti dalam hidup Lysa. Lysa ingin ia dan Brian kembali seperti dulu lagi. Sering bercanda, tertawa bersama, saling memahami satu sama lain tanpa ada rasa beban, saling mengutarakan keinginan dan tak jarang menolak, sering menjahili dan kadang bikin kesal. Lysa sungguh ingin hubungannya dengan Brian kembali seperti sedia kala, saat keadaan tak serumit ini.


Meski pun begitu, ada satu hal yang diinginkan oleh Brian.


“Aku tahu maksudmu dan aku akan menuruti apa yang kau inginkan. Tapi, berikan aku kesempatan. Jika nanti hubunganmu dengan laki laki itu tidak baik baik saja atau ada sesuatu yang terjadi di antara kalian, berikan aku kesempatan untuk kembali memiliki hatimu, Lysa.” Brian lanjut berucap.


Tentu saja, Lysa tidak menginginkan hal itu terjadi. Lysa ingin hubungannya dengan Mino baik baik saja dan selalu baik baik saja. Lysa ingin bahagia bersama Mino dan ingin terus bersamanya. Namun, di sisi lain, hanya harapan ‘palsu’ itu yang dapat Lysa berukan untuk Brian yang memintanya dengan putus asa.


Setelah berpikir lama, akhirnya Lysa pun memberikan jawaban. Meski batinnya memberontak dan berkata bahwa ia tidak ingin hal itu sampai terjadi, Lysa tetap memberikan jawaban dengan tenang.


“Baiklah. Jika itu benar terjadi, aku akan memberimu kesempatan, Brian. Hanya jika keadaan menjadi benar benar tidak terkendali.”


**


Di Filipina


Mino yang baru saja selesai mandi sore ini, tampak sedang berdiri di dekat dinding kaca hotelnya. Menatapi suasana luar yang mulai redup karena matahari yang beberapa waktu lalu menenggelamkan wujudnya di ujung barat. Laki laki itu berdiri sambil memegang sebuah mug keramik berwarna putih yang mengeluarkan uap putih dari bagian atasnya. Salah satu tangannya menopang di atas perut sementara tangan lainnya memegangi gelas keramik itu. Uap putih yang mengepul ngepul dari dalamnya tampak seperti menghangatkan suasana. Minuman kopi hangat itu sejenak menghilangkah rasa lelah Mino setelah bekerja seharian untuk perancangan Moonlighr Coffe yang akan dibuka di kota __ Filipina.


‘Jinagan goseul jinagandaero geuron uimiga itjyo’


[Semua hal yang telah berlalu biarlah berlali, itu semua memiliki arti]


‘Deonaniege noraehaseyo’


[Bernyanyilah pada mereka yang telah pergi]


‘Hue eopsi saranghae nora mareyo’


[Katakan padanya kamu mencintainya tanpa penyesalan]


‘Jinagan goseul jinagandaero geuron uimiga itjyo’


[Semua hal yang telah berlalu biarlah berlali, itu semua memiliki arti]


‘Uriga hamke norae habsida’


[Mari kita bernyanyi bersama]


‘Seroun kkumeul kugeta mareyo’


[Katakan pada mereka bahwa kamu memiliki mimpi yang baru]


Suara merdu dari penyenyi legendaris Korea Selatan bernama Jeon In Kwon yang sedang menyanyilan lagi ‘Dont Worry, My Daer’ mengalin pelan mengalun pelan di ponsel Mino yang diletakkannya di meja samping tempatnya berdiri. Alunan musik yang amat merdu dengan melodi yang begitu menawan itu mengisi seluruh ruang dalam hati Mino dengan kehangatan. Laki laki itu tersenyum menikmati belaian lembut pada kedua telinga dan juga hatinya oleh lagu yang sedang mengalun itu. Seolah olah tubuhnya sedang mendapat pelukan yang paling hangat dari seorang wanita yang sangat ia sayangi, yang sayangnya belum bisa ia temui untuk saat ini.


Lagu yang mengalun selama kurang lebih lima menit itu menemani Mino sejenak dan memberinya kehangatan. Hingga akhirnya lagu itu berakhir dan Mino telah menghabiskan kopi hangatnya yang melarutkan sedikit lelah yang ia rasakan hari ini.


Setelah lagu kesukaannya itu selesai berputar, Mino meletakkan gelas kopi kosongnya ke atas meja. Kemudian mengambil ponselnya untuk mematikan alunan musik yang masih terus memutar lagu lain.


Tepat ketika Mino mengambil ponselnya, terdengar suara bel hotel tempatnya menginap.


Sebenarnya Mino merasa aneh karena suara bel itu. Biasanya, orang yang membutuhkannya secara mendadak atau terdesak akan meneleponnya terlebuh dahulu sebelum datang ke hotelnya.


Tidak menunggu lama Mino pun berjalan menuju pintu hotelnya. Membukakan pintu untuk seorang yang memencet belnya.


Dan begitu pintu hotel terbuka, terlihat seorang wanita berpakaian rapi dan menggunakan high heels. Wanita itu tidak lain adalah asistennya, yang mendaminginya di sini sebagai penerjemah dan sekaligus yang mengatur jadwalnya dan segala macam kesibukannya di Filipina.


“Oh, Asisten Min. Ada apa?” Mino yang terkejut akan kedatangan wanita itu segera menceletuk.


“Ini saya mau mengantarkan pembaruan jadwal bekerja Anda di sini. Sepertinya Anda sangat terdesak jadi saya langsung mengantarnya untuk Anda begitu koordinator di Filipina menyetujuinya.” Wanita yang dipanggil Asisten Min oleh Mino itu menjelaskan sambil mengulurkan sebuah map berwarna hitam kepada Mino.


“Ah, iya iya. Terima kasih. Kau sudah bekerja keras.”


Setelah menerima apa yang dibawa oleh Asisten Min, Mino pun kembali menutup pintu kamar hotelnya. Dengan wajah berbinar binar ia membawa map hitam itu ke atas kasurnya. Lalu memeriksa pembaruan jadwal yang diajukannya kemarin.


Mino melihat setiap huruf alfabet berbahasa inggris yang ada dalam map itu. Dan seketika itu juga senyum semringahnya tersimpul. Laki laki laki itu tampak begitu puas melihat pembaruan jadwal yang ia dapat.


Melihat jadwal barunya, Mino buru buru meraih ponsel yang ada di atas meja nakas. Kemudian segera memesan tiket pesawat menuju Indonesia melalui sebuah aplikasi travel yang biasa ia gunakan. Melaui aplikasi itu, Mino memesan tiket pesawat untuk keberangkatan besok, menuju Yogyatarta, Indonesia.


**