
Bab 44
Jawaban yang tidak terduga Lysa yang mendatangkan bahaya
Membantu Brian memang bukan ide yang buruk. Mengingat apa yang telah Brian lakukan untuk Lysa selama ini. di saat Lysa berada di titik paling bawah kehidupannya, ada Brian yang hadir dan menemaninya dalam kesedihan. Ketika keadaan Lysa tidak baik baik saja karena konflik di keluarganya dan bahkan konflik batin Lysa sendiri, ada Brian yang selalu menemaninya dan membantunya mencari solusi. Meski di satu sisi Lysa merasakan saat saat sulit karena cintanya kepada Brian yang tidak terbalas, Lysa tetap merasa senang dan merasa sangat terbantu karena adanya Brian.
Saat ini Brian benar benar membutuhkan bantuan Lysa. Namun entah mengapa Lysa merasa ragu meski tadi ia sempat berkata yakin dan ingin membantu laki laki itu.
Masalahnya adalah Lysa tidak yakin apakah dia benar benar bisa membantu Ryan Brian menyelesaikan masalah itu dengan cara yang laki laki itu sebutkan beberapa waktu lalu. Bukannya Lysa meragukan Bryan , hanya saja Lysa terlalu mengkhawatirkan bagaimana respon Mino ketika tahu hal itu. Mino dan Jiwon adalah mantan kekasih yang yang dulu pernah bersama dalam waktu lama. Dan mereka bahkan memiliki rencana untuk menikah di tahun ini. Untuk saat ini Brian memang tidak tahu bahwa wanita bernama ji won yang merupakan calon pilihan ibunya itu merupakan mantan kekasih dari Mino yang merupakan saingan terberatnya untuk mendapatkan Lysa. Dan ketika laki laki itu tahu mungkin keadaan akan banyak berubah dan Brian akan melihat itu itu sebagai suatu celah untuk dapat kembali mendapatkan hati Lysa.
Sepanjang malam Lysa memikirkan semua itu. Dan ia merasa sangat bingung akan apa apa yang harus ia lakukan untuk menanggapi permintaan tolong Bryan terhadapnya.
Sungguh sama sekali Lysa tidak menyangka jika maksud dari permintaan tolong Brian itu adalah menunjukkan perasaan laki laki itu terhadap Lysa yang untuk saat ini hanya diketahui oleh Lysa sendiri, kemungkinan Mino, dan tentunya Brian. Untuk ji won, wanita itu hanya tahu bahwa Lysa memang memiliki kedekatan yang sangat erat dengan Brian, mengingat keduanya telah mengenal sejak kecil dan hidup di tempat yang berdekatan selama masih di Indonesia. Dan Ryan sendiri mengakui bahwa ia dan Lysa memang sangat dekat melebihi saudara.
Selesainya percakapannya dengan Bryan di restoran hotel lantai 2, Lysa bergegas kembali ke kamarnya. Iya ingin tidur karena merasa tubuhnya itu sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Namun naas nya ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan apa yang Brian ucapkan sebelumnya.
Di atas ranjang tidur itu Lysa telah memberikan tubuhnya. Tubuhnya terlentang menghadap ke atas, menatapi langit langit kamarnya Yang sudah gelap dan hanya tersinari oleh eh emang remang cahaya lampu tidur yang ada di sebelah ranjang tempat Lysa membaringkan badannya. Di tempat itu Lysa masih belum tidur. Niat hati ia ingin sekali membantu Brian, namun sepertinya Lysa perlu mempertimbangkan kembali keputusannya.
“Huh, ini sangat membingungkan. Setidaknya aku ingin melakukan sesuatu untuk Brian tapi Pi permintaan tolong itu sangat sulit untukku.”
Dengan kedua bola mata yang masih terbuka lebar, Lysa berkedip kedip di bawah redupnya cahaya lampu ruangan. Gadis itu menggumam gumam pelan kepada dirinya sendiri di tengah keheningan malam dan kesenian kamar tidur hotelnya yang hanya terisi dirinya seorang. Lysa terus berpikir sambil mengingat ingat dan memutar kembali semua memori yang sudah ia lalui bersama Bryan semasa kecil nya semasa remajanya dan juga semasa Lysa melewati masa masa yang sulit akibat dari perceraian kedua orang tuanya. Tetapi disisi lain bisa juga memutar memori serta semua kenangannya bersama Mino. Bagaimana pun Mino dengan sangat jelas menunjukkan rasa tidak suka nya pada Brian yang selalu mencoba merebut hati Lysa dan membawa gadis itu pergi darinya. minus selalu terlihat kesal dan sebal setiap kali melihat Lysa bersama Bryan. Dan mengingat itu semua membuat Lysa merasa tidak bisa menerima permintaan tolong Bryan atas rencananya menyingkirkan ji won dan membuat wanita itu menyerah.
Di saat memikirkan semua itu kedua bola mata Lysa perlahan lahan terpejamkan. Wanita itu t terlelap ke dalam tidur malam yang sangat menyakitkan akibat rasa bingung dan bimbang yang gadis itu rasakan tepat sebelum beranjak tidur. Dan seperti yang ia rencanakan, dalam tidur itu Lysa bermimpi bertemu dengan Mino yang sudah sangat ia rindukan.
Begitu terbangun dari tidur keesokan harinya Lysa merasa tubuhnya sangat segar. Rasa lelah secara fisik dan mental yang kemarin ia rasakan lenyap begitu saja seperti angin.
Untung saja semalam Lysa tidak segera mengiyakan permintaan tolong Brian. Semalam itu sebenarnya mereka belum selesai bercakap cakap di restoran hotel lantai dua. Namun karena Lysa merasa tubuhnya sudah sangat lelah dan ia juga sudah sangat mengantuk, akhirnya ia meminta kepada Brian untuk menunggu jawaban darinya. Lysa ingin mempertimbangkan itu matang matang dan pamit untuk segera kembali ke kamarnya dan beristirahat dengan tenang karena tubuhnya terasa begitu lelah sampai langkah kaki saja terasa sangat berat.
Lysa benar benar mempertimbangkan matang matang permintaan brian itu. Dan sekarang Lysa masih memikirkannya ....
Lysa bangun tidur tepat pada pukul sembilan malam. Dan ia terbangun pada pukul sembilan pagi keesokan harinya. Artinya, gadis itu tertidur selama dua belas jam. Sungguh, itu menyenangkan sekali dan sangat rileks untuk Lysa. Bagaimana pun ia merasa tubuhnya sangat lelah. Dan ia dapat tidur selama dua belas jam tanpa terbangun sedikit pun sepanjang tidurnya, itu merupakan obat penyembuh paling mujarab untuk Lysa.
Ketika bangun, Lysa segera bergegas mandi. Lalu memeriksa ponsel dan ia mendapati satu pesan masuk dari Mino. Sepertinya Mino sudah sampai di Filipina sejak semalam, ketika Lysa masih tidur. Laki laki mengirimi pesan bahwa dirinya sudah sampai di Filipina dengan selamat. Indonesia dengan Filipina memang tidak sejauh Korea Selatan dan Indonesia yang membutuhkan waktu penerbangan selama kurang lebih sepuluh jam sampai Jogja.
Saat dirinya mendapat pesan teks dari Mino, satu hal yang terbesit dalam benak Lysa. Yaitu, Lysa menyadari bahwa ia dan Mino sudah sama sama berjanji untuk tetap bersama dan tidak saling menyakiti satu sama lain. Itu adalah perjanjian yang Mino buat bersama Lisa. mereka membuat janji itu supaya merasa tidak saling terancam terhadap satu sama lain. Bagaimanapun keduanya sudah tahu apa kelemahan satu sama lain dan apa ketakutan satu sama lain. sehingga janji itu terbuat supaya hubungan keduanya tetap baik-baik saja dan tidak ada yang terluka.
Benar sekali. Lisa telah berjanji kepada Mino untuk saling menjaga dan tidak menyakiti satu sama lain. Dan ingat Lysa tentang janji itu cukup membuat Lisa merasa yakin akan keputusan apa yang ingin ia ambil untuk menjawab permintaan tolong Brian.
Pada sore harinya, ma Lisa menemui Brian untuk berbicara satu sama lain tentang hal yang mereka bicarakan semalam di restoran lantai dua.
Pada siang menunjukkan pukul satu ini, Lysa berjalan keluar dari hotel tempatnya menginap untuk membeli satu gelas kopi yang dapat membuka matanya lebar lebar supaya tidak terus merasa ngantuk. Gadis itu pergi ke kafe yang letaknya bersebelahan dengan hotel tempatnya menginap. Dan membeli satu gelas espresso hangat untuk ia nikmati seorang diri.
Ketika Lysa masih berada di kafe itu unutk menikmati kopi hangatnya, satu panggilan masuk dari Brian. Brian tiba tiba menelepon lysa dan bertanya gadis itu sedang ada di mana.
Karena Lysa juga memiliki hal yang harus ia katakan kepada Brian terkait pembahasan mereka semalam, akhirnya Lysa menyuruh Brian untuk datang di kafe tempat Lysa berada saat ini. dan keduanya pun bertemu lagi.
“Brian!”
Lysa menceletuk memanggil Brian sambil mengangkat tangannya utnuk memberi isyarat keberadaan pada laki laki yang sedang mencarinya itu. Dan begitu namanya dipanggil oleh Lysa, Brian langsyng tahu di mana Lysa duduk. Brian pun ikut duduk bersama Lysa, berhadap hadapan, setelah memesan minuman.
“Bagaimana tidurmu semalam? Apa nyenyak? Kau kelihatan sangat lelah kemarin malam. Dan aku memaksamu untuk bertemu denganku di saat kau ingin sekali untuk tidur. Maafkan aku ya, aku kadang kurang peka terhadap keadaan orang lain.” Brian yang baru duduk di depan Lysa itu mengatakan hal itu dengan pembawaannya yang serius. Namun Lysa tahu, kalau sebenarnya Brian hanya setengah serius dan setengah bercanda.
“AH, maaf maaf. Sepertinya aku harus belajar lebih peka.”
“Tidak. Kau tetap seperti itu saja, Brian. Karena tidak peka itu adalah Brian, itu sudah menjadi ciri khasmu. Jadi jangan berusaha untuk peka pada orang lain, itu sepertinya tidak begitu cocok dengan karaktermu yang misterius.” Lysa menambahi dengan wajah meyakinkan. Brian yang mendengar itu pun hanya tersenyum simpul mendengar Lysa mengatainya sambil memuji.
Keadaan menjadi hening setelah bercandaan mereka sudah habis. Dan kemudian minuman yang dipesan Brian sudah datang diantarkan oleh seorang pelayan kafe.
“jadi, bagaimana? Kau memanggilku datang kemari untuk memberikan jawaban bukan?” Brian yang merasa Lysa akan segera memberikan jawban atas permintaan tolongnya semalam itu, mulai membuka pembicaraan.
Sejenak Lysa terdiam. Lalu gadis itu tersenyum manis kepada Brian.
“Brian, kau tau kan kalau aku sangat peduli padamu?” di tengah keheningan yang berlangsung tiba tiba Lysa berkata demikian. “Bagiku kau adalah laki laki yang paling mengenalku, bahkan melebihi ayahku sendiri. Aku menganggapmu sebagai pahlawanku, sebagai teman bermain, teman bercerita, teman yang selalu membelikanku daging sapi, dan teman yang membuatku tidak pernah merasa sendiri. Aku menganggapmu seperti kakak laki lakiku, Brian. Dan bukankah ini yang seharusnya terjadi di antara kita?” Lysa lanjut berkata.
Benar. Harusnya memang seperti itu. Keduanya harusnya selaras menganggap satu sama lain adalah saudara. Di mana Brian menganggap Lysa sebagai adik permpuannya dan Lysa menganggap Brian sebagai kakak laki lakinya. Dari awal, harusnya seperti itu hubungan mereka. tapi, yang terjadi sangat menggelikan juga tidak masuk akal. di saat Brian menganggap Lysa adalah adik perempuannya, Lysa menganggap Brian sebagai laki laki dan menaruh perasaan terhadapnya. Bukan sekadar perasaan, namun juga harapan yang tinggi. Dan sekarang, di saat Lysa berhasil dan bisa menerima kenyataan setelah melalui proses yang cukup panjang. Lysa benar benar bisa menganggap brian sebagai kakak laki lakinya, namun laki laki itu yang berbalik mengharapkan Lysa sebagai wanitanya.
Keduanya tidak pernah berada di garis dan jalur yang sama. Mereka seperti hidup di dunia yang berbeda, di jalan yang berbeda, dan berada di jalur yang berbeda. Namun, Lysa masih merasa sangat senang karena ia memiliki laki laki tangguh seperti Brian di sampingnya. Laki laki yang ia angap sebagai kakak laki laki dan seterusnya pun akan seperti itu.
“Tapi selama ini kita berada di jalur yang berbeda, Brian. Dan berapa kali pun aku mencoba berpikir, aku rasa aku tidak bisa terlibat dalam urusanmu dengan Jiwon. Maaf, bukannya aku tidak mau membantu. Hanya saja jika dengan cara itu aku tidak bisa membantu.” Lysa terdiam. Saking merasa bersalah kepada Brian dan merasa sangat berat hati padanya, Lysa menurunkan pandangan. Tidak dapat bertatap tatapan langsung dengan Brian yang ada di di hadapannya dengan ekspresi wajah yang datar seperti patung tak ber emosi.
“Jadi kau tidak bisa membantuku?” kata Brian.
“Jika dengan cara itu.”
“Bagaimana kalau cara lain?” usul Brian.
“Seperti ...?”
“Seperti ini...”
Seketika itu juga Brian berdiri dari duduk. Ia lantas berjalan ke arah Lysa, mendongakkan kepala Lysa dan mencium bibirnya. Lysa yang sangat terkejut, membelalakkan mata lebar lebar. Namun tubuhnya itu tidak dapat berkutik. Ketika Brian mencium bibirnya, Lysa sama sekali tidak dapat bergerak karena merasa sangat syok dan tidak dapat berkata kata.
Tiba tiba saja suasana kafe menjadi heboh karena tingkah laku Brian. Ingat! Ini bukan Seoul dan bukan Korea Selatan. Adegan tidak senonoh yang terjadi di dalam kafe dekat hotel ini menarik perhatian banyak orang yang ada di dalam kafe. Beberapa orang memotret adegan di mana Brian mencium bibir Lysa di depan umum itu. Dan semua terjadi di luar kendali.
Ketika otaknya mulai sadar, Lysa segera menepis tangan Brian dan melepaskan ciumannya. Gadis itu langsung beranjak dari duduk dan menjauh dari Brian yang menciumnya secara tiba tiba. Dan ini untuk kedua kalinya.
Wajah Lysa menjadi sangat panik meilhat kondisi di sekelilingnya yang sudah sangat kacau itu. Berbeda dari di Korea, di Indonesia masih sangat bebas untuk memotret orang sembarangan dan merekam secara diam diam. Lysa mengamati sekelilingnya, yang sebagian orang mengarahkan kamera ponsel ke arahnya. Lalu menatap ke arah Brian dan bertanya dengan amarahnya yang mulai memuncak.
“Apa yang kau lakukan, Brian?!” sinis Lysa dari tempatnya berdiri saat ini.
“Maaf, Lysa. Tidak ada yang bisa kulakukan, karena aku tidak bisa menyerah begitu saja. Aku sangat menginginkanmu dan tidak ingin melihatmu bersama laki laki itu.” Brian berkata dengan gaya bicaranya yang dingin dan terkesan egois.
Dengan bahu yang naik turun karena pernapasannya yang tidak stabil, Lysa menatap Brian tak percaya. Ia pikir ia masih bisa memperbaiki hubungannya dengan Brian seperti sedia kala. Namun sepertinya itu hanya ilusi Lysa yang ia buat karena merasa begitu putus asa.
“Brian, kau.... kau sangat egois!”
Kata itu Lysa lontarkan sebelum akhirnya ia memilih untuk segera pergi meninggalkan Brian yang lagi lagi tidak waras. Lysa memutuskan pergi meninggalkan Brian di kafe dan juga kericuhan yang terjadi di sana. Dan ketika gadis itu hendak keluar lewat pintu kafe, ia berpapasan dengan Im Jiwon yang menyaksikan semua itu dengan raut wajah aneh.
Sial! Selama ini Lysa terlalu bersikap lunak kepada Brian. Hancur sudah harapan Lysa untuk bisa memperbaiki hubungannya dengan Brian. Karena kenyataannya brian masih saja membuat posisi Lysa menjadi semakin sulit dan sulit lagi!
**