
“Aaaghh! Hanyul-a, tolong Bibi! Zombie besar ini mau menggigit Bibi.”
Ruang televisi ini mendadak menjadi penuh dengan mainan dan menjadi sangat ramai semenjak kedatangan Hanyul di rumah ini. Di ruangan yang berukuran cukup luas itu, Yebin berteriak meminta tolong karena dikejar oleh Yul yang sedang menghayati perannya sebagai zombie.
Yul berjalan dengan tertatih tatih dengan ekpresi wajah paling menyeramkan seperti zombie zombie yang ada dalam film Train to Busan yang diperankan oleh seorang akor terkenal, Gong Yoo. Lelaki itu berjalan dengan menyerat kakinya dan merentangkan tangannya ke depan untuk menarik baju Yebin yang hendak dijadikan mangsa.
“Hanyul-a, tolong Bibi!” pekik Yebin sekali lagi meminta tolong pada Hanyul yang sedang bersemangat memegangi mainan pistol senapan panjang yang kemarin sore dibelinya di pusat perbelanjaan.
“Mati kau zombie jahat! Bang bang bang!” Anak kecil lima tahunan itu berteriak penuh semangat sambil mengarahkan mainan pistol panjangnya pada Yul. Bergerak seolah olah sedang menembak Yul si zombie yang ingin memangsa Yebin. “Bang bang bang!”
“Aaaggghh!”
Begitu Yul berteriak dengan tubuhnya yang terpenjat penjat seolah olah tertembak postol sungguhan yang diluncurkan Hanyul. Lelaki yang sedang menjiwai menjadi zombie hidup itu perlahan lahan tumbang dan terkapar di atas lantai dengan ekspresi wajah zombienya yang belum berubah.
“Aggghhhhhhhhaha.” Suara itu dikeluarkan oleh Yul yang sedang terkapar karena peluru senapan yang Hanyul luncurkan. Kemudian ia merangkak di atas lantai sambil bergumam, “Hanyul... Moon Hanyul... akan kumakan kau. Waaaaaa!”
Terdengar pekikan takut dari Hanyul yang langsung melompat pada Yebin. Anak lelaki lima tahun itu rupanya juga takut pada zombie hidup yang tak mati mati meski sudah dihujaninya dengan peluru.
“Wggaaa!”
“Akh! Bibi! Zombienya mau menggigitku,” teriak Hanyul sambil bersembunyi di belakang tubuh Yebin.
“Hanyul.... Kang Yebin.... Akan kumakan kalian! Aaagghh!”
Dengan berani Hanyul kembali menembakkan peluru pada tubuh Yul hingga membuatnya menggelepar di atas lantai seperti ikan belut.
“Bang bang! Bang bang bang! Matilah kau zombie. Aku pahlawan yang menyelamatkan dunia dari zombie jahat!” Hanyul berteriak penuh tekad dengan nada polosnya seperti anak anak pada umumnya. Melihat Yul yang menggelepar di atas lantai karena terkena pelurunya, Hanyul semakin berani. Lalu ia berlari ke arah Yul dan melompat di atas tubuh Yul, menungganginya seperti menunggangi kuda.
“Byung byung! Byung byung bang!”
“Aaaagghhhh!”
Hanyul yang tidak menyerah itu akhirnya bisa membuat zombie di hadapanya ini lumpuh dan mati. Yul memejamkan matanya seolah olah sudah mati setelah mendapat beberapa tembakan tambahan dari Hanyul yang menunggang di atas perutnya.
Melihat zombie itu sudah mati, Hanyul langsung berseru.
“Bibi, zombienya sudah mati! Aku sudah membunuh zombie jahat ini!” seru Hanyul gembira sambil mengangkat kedua tangannya kepada Yebin.
“Yeeeyy! Zombienya sudah lumpuh. Hanyul menjadi pahlawan,” balas Yebin menyeru sambil menghampiri Yul yang pura pura mati dan Hanyul yang tersenyu semringah bersama perasaan bangga yang ia perlihatkan melalui tatapan.
“Aku pahlawan yang menyelamatkan dunia! Hore!” Begitu anak kecil berusia lima tahun itu menyeru senang sambil mengeliat di atas perut Yul.
Merasa tubuhnya lelah setelah bermain zombi zombian bersama Hanyul, Yebin ikut merebahkan tubuhnya ke atas lantai yang terlapisi karpet bulu. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa cepak sedangkan Hanyul masih berada di atas perut Yul.
Sesaat kemudian, permainan perang melawan zombie itu sudah berakhir. Yul membuka kedua matanya dan menoleh pada Yebin yang terbaring di sebelah. Lelaki itu kemudian terkekeh kekeh tak percaya sambil menatap Yebin penuh gembira.
“Aku tidak menyangka akan menjadi zombie di usiaku yang sekarang,” gumam pelan Yul bercanda dengan terheran heran. Namun benaknya merasa senang dan tenteram karena ia bisa bermain dengan Hanyul.
“Dengan menjadi seorang ayah kau akan bisa menjadi apa pun di dunia ini,” sahut Yebin sambil ikut terkekeh.
“Benar sekali.”
Setelah itu perhatian Yul teralih pada Hanyul di atas perutnya. Ia memandangi bocah kecil berkepala gundul yang wajahnya terlihat agak pucat tersebut. Tanpa disadari, Yul tersenyum menatap bocah lelaki itu tampak begitu gembira bermain bersamanya setelah tadi pagi menjalani pengobatan kanker yang sangat menyakitkan untuk bocah berusia lima tahun sepertinya.
“Hanyul tidak capek?” tanya Yul sambil menatap Hanyul hangat.
“Aku merasa tidak cepak saat bermain. Tapi sekarang tubuhku terasa lelah,” jawab pelan anak kecil itu.
“Kalau capek tidurlah sini di atas tubuh paman,” kata Yul sambil menarik pelan tubuh kecil Hanyul untuk ditengkurapkan di atas dadanya. Yul kecil pun seketika itu tidur tengkurap di atas dada sang paman dengan memeluknya seperti bayi kanguru. “Benar. Tidurlah kalau mengantuk.”
Yebin ikut merapatkan tubuhnya kepada Yul. Terbaring tepat di sisi kanan Yul dengan berbantalkan lengannya. Lalu menepuk nepuk pelan punggung Hanyul di atas dada sang suami.
“Tubuh paman hangat seperti tubuh bibi,” ucap Hanyul lirih.
“Benarkah?” sahut Yul.
“Harum tubuh paman dan bibi juga sama. Suara detak jantung paman juga terdengar sama seperti suara detak jantung bibi saat dia memelukku sebelum tidur malam,” lanjut Hanyul berucap pelan.
Yul tersenyum hangat. Lalu membelai kepala gundul Hanyul dengan pelan lantas menciumnya hangat.
“Detak jantung Hanyul juga sama seperti paman dan bibi. Paman bisa tahu karena paman merasakan jantungmu berdetak detak di atas dada paman,” kata Yul setelah mencium kepala sang anak.
Hanyul terdiam sejenak. Kedua matanya tetap terpejam namun ia masih sepenuhnya sadar.
“Paman, Bibi,” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Ada apa Hanyul-a?”
Yul dan Yebin menyahut secara bergantian.
“Bolahkah aku memanggil paman dan bibi sebagai ayah dan ibu?” tanya lirih Hanyul dengan mata yang masih terpejam.
Tersentak, Yebin dan Yul terdiam sesaat. Panggilan papa dan mama adalah panggilan yang sangat diidam idamkan oleh sepasang suami istri tersebut. Dan sekarang ada seorang anak yang ingin memanggilnya demikian. Tentu bukan hal yang memberatkan untuk Yebin dan Yul yang sudah lama mengidamkan seorang anak. Dengan bersenang hati mereka mengiyakan.
“Tentu saja boleh. Sejak kau datang di rumah ini, Paman sudah menganggapmu seperti anaknya paman. Begitu pun bibi yang selama ini sudah memperlakukanmu selayaknya anak. Kamu adalah anak kami, Hanyul-a. Kita sudah menjadi keluarga sejak saat itu. Tentu saja kau bisa memanggil paman dan bibi dengan sebutan ayah atau pun ibu.” Yul berucap panjang lebar. Diikuti Yebin yang ikut menambahkan berbicara sembari mengelus punggung Hanyul di atas dada bidang sang suami.
“Benar kata paman. Kau sudah menjadi anggota keluarga ini, Hanyul-a. Margamu sebentar lagi akan berganti menjadi Moon yang artinya kau akan menjadi anak paman dan bibi. Kita menjadi keluarga. Paman adalah ayahmu dan bibi ini adalah ibumu. Kita adalah keluarga baru yang akan memiliki banyak cerita baru bersama Hanyul,” ucap Yebin.
Medengar Yebin mengatakan hal itu, bola mata Hanyul seketika terbuka. Ia melirik ke arah Yebin yang membaringkan tubuh di sebelah Yul. Lalu bocah lelaki itu tersenyum simpul. Ia melompat turun dari atas tubuh Yul. Membaringkan tubuhnya di sela sela tubuh Yul dan Yebin yang berdekatan.
“Hanyul mau tidur?” tanya Yebin yang melihat Hanyul kembali memejamkan mata setelah menelusupkan dirinya di antara Yul dan Yebin.
“Ya.”
“Mau tidur di sini? Bagaimana kalau kita ke kamar saja? Di sini lantainya dingin, Hanyul nanti bisa sakit,” tutur Yebin.
Menanggapi itu, Hanyul menggeleng gelengkan kepalanya. Ia tidak mau pergi dari suasana yang membuatnya merasa sangat nyaman dan juga hangat ini.
“Tidak apa apa. Paman... maksudku, nanti Ayah yang akan pindahkan Hanyul ke kamar kalau sudah tidur,” sela Yul.
“Benar. Sekarang tidurlah,” gumam Yebin sambil memiringkan tubuh ke arah Hanyul untuk memeluknya. Dalam sekejap kemudian Hanyul teridur lelap. Ia benar benar tertidur setelah merasa kekelahan bermain zombie bersama Yul dan Yebin.
“Sepertinya Hanyul sudah nyaman berada di rumah ini. Syukurlah,” kata Yul di sela keheningan yang berlangsung.
“Aku juga merasa senang karena dia tak lagi memanggilku dengan sebutan bibi,” imbuh Yebin.
“Apa kau jadi menghadiri acara reuni alumni itu?” tanya Yul teringat pada lelaki yang ditemuinya di mall.
“Entahlah. Oppa memperbolehkanku pergi?”
“Kalau begitu aku akan ikut. Sekaligus untuk melihat isi dari klub malam itu. Pasti ada suatu petunjuk di dalamnya yang bisa kugunakan untuk menjerat Leo Park.” Yebin berkata dengan sungguh sungguh.
Sebetulnya ia sama sekali tak berminat dengan acara alumni kampus atau apa pun itu. Tetapi karena tempat penyelenggaraannya adalah di klub malam milik Leo Park, Yebin pun merasa harus mengikuti acara itu untuk melihat keadaan di dalamnya. Leo park itu seperti belut yang sangat licin dan susah didapat. Paling tidak Yebin pasti akan menembukan sebuah petunjuk jika melihat isi dari klub malam yang paling terkenal di Seoul itu.
Mendengar alasan yang sebenarnya Yebin ingin mengikuti acara pertemuan alumni itu, Yul menarik napas ringan.
“Kau yakin?” desah Yul. Kepalanya menoleh pada Yebin yang mengangguk penuh keyakinan.
“Tentu.”
“Hati hatilah. Kalau ada apa apa ajaklah seniormu bernama Min itu untuk menemani. Aku akan mencoba berbicara dengannya.”
**
Seperti yang direncanakannya, hari ini Yebin akan mengikuti perkumpulan alumni kampus di Everyday Night Club. Ia datang seorang diri dengan membawa mobil pribadi tanpa mengajak siapa pun.
Kang Yebin turun dari mobil yang dikendarakannya. Masuk ke dalam bangunan klub malam yang sangat megah itu. Di dalamnya, suasana sangat ramai. Orang yang mengisi klub malam pada malam ini hanyalah orang orang yang menghadiri perkumpulan alumni Universitas Hanyang.
Yebin teringat waktu dulu pertama kali datang ke klub malam. Di mana pada waktu itu ia bertemu dengan lelaki yang salah hingga akhirnya meminum minuman yang sudah bercampur dengan bius di dalam klub malam. Namun ia terselamatkan oleh Yul yang tiba tiba datang dan menolongnya dari lelaku bernama Minho yang berkencan dengan Yebin pada waktu itu.
Memasuki klub malam untuk pertama kalinya setelah yang terjadi malam itu membuat Yebin teringat itu semua. Ini adalah pertama kalinya Yebin masuk ke klub malam setelah menikah. Dan perasaannya sedikit berbeda. Ia merasa sangat risi dengan suara suara musik yang menggelegar. Juga merasa pusing karena lampu disko warna warni yang berputar putar di atas kepalanya. Tetapi Yebin nenahan diri. Andai bukan karena tempat ini adalah milik Leo Park, mungkin Yebin tidak akan pernah menghadiri pertemuan alumni. Dan tempat ini memang sangat mewah juga berkelas. Mulai dari desain interior sampai minuman minuman yang ada di meja bartender juga minuman supermahal yang sangat sulit di cari di klub malam lainnya.
Yebin berjelan semampai melewati segerombolan manusia dari pintu masuk. Matanya mengamati sekeliling. Semua perhatian terpusat padanya. Para lelaki, juga perempuan yang ada di dalam bangunan megah itu melihat Nyonya Moon Yebin yang sedang berjalan. Segerombolan manusia yang memenuhi tempat tersebut pun terbelah menjadi dua seperti laut merah ketika Yebin berjalan melewati mereka. Sebagian orang mengenali siapa Yebin, namun sebagiannya lagi hanya terpesona pada keanggunan wanita itu.
Tidak heran. Ini adalah pertama kalinya Yebin mengikuti perkumpulan alumni yang sebenarnya di adakan setiap dua musim sekali. Dan sebelumnya Yebin sama sekali tidak menunjukkan dirinya di hadapan para teman alumni. Ia selalu menghindari perkumpulan semacam ini karena tak ingin dijadikan topik pembicaraan. Kang Yebin, Biniemoon, bos Moonlight Coffe, menikah muda, keguguran, itu semua adalah beberapa topik yang selalu diperbicarakan orang orang ketika mengingat nama Kang Yebin.
“Yebin-a! Kau juga datang? Kenapa kau tidak memberi tahuku?”
Di ujung lautan manusia yang terbelah di dalam bangunan klub malam ini, suara Somin memekik terdengar di telinga Yebin. Satu satunya teman baik Yebin yang sampai sore tadi masih melakukan pekerjaan bersama di kantor Biniemoon itu tampak sangat terkejut melihat kedatangan Yebin. Pasalnya Yebin tidak pernah mau mengikuti acara semacam ini. Jadi Somin tidak memberi tahunya kalau malam ini ada acara perkumpulan alumni. Ia merasa sangat terkejut melihat Yebin tiba tiba datang tanpa memberi tahunya sejak awal.
Yebin tiba di hadapan Somin, lalu menjawab, “Kebetulan saja.”
Setelah itu pandangan Yebin menyebar ke sekeliling. Menatap ke arah semua teman alumni jurusan bisnis Universitas Hanyang yang berada di satu tempat dengannya.
“Halo, semuanya.” Yebin menyapa semua teman temannya yang sebagian memberikan tatapan sinis.
“Yuhuu! Akhirnya, Kang Yebin datang di pertemuan alumni. Bagaimana kabarmu, Nyonya Bos?” celetuk seorang teman lelaki yang sedang membawa gelas minuman whiskey.
“Hei, tidak perlu panggil aku begitu. Panggil saja Kang Yebin seperti yang kau lakukan dulu,” ucap Yebin sembari memasang ekspresi bangga di wajahnya.
Tepat setelah itu seorang wanita datang. Dia adalah Mina, wanita yang sejak di tahun pertama kuliah selalu menjadi rival Yebin. Bisa dikatakan pula Mina itu adalah satu satunya teman yang paling tidak suka pada Yebin. Sejak awal Yebin mulai mendirikan Biniemoon, Mina sudah merasa iri dan sering menjatuhkan Yebin dengan kekuatan mulutnya yang pedas. Bahkan ketika Yebin sudah lulus, orang yang pertama kali menyebarkan gosip tentang Yebin adalah perempuan itu. Tentu saja Yebin tahu karena dulu Yebin pernah bergabung di grup Chatting alumni dan melihat Mina lah yang sering membuka pembahasan tentangnya. Wanita itu selalu penasaran tentang Yebin dan berusaha mencari celah untuk menindas Yebin. Hingga akhirnya Yebin memutuskan keluar dari grup chatting dan memutuskan kontak dari semua temannya ketika mengalami keguguran pada kehamilan pertamanya.
“Mengejutkan sekali melihatmu datang kemari, Kang Yebin,” sinis wanita berambut keriting itu.
“Jangan kepedean, aku datang bukan untuk mengejutkanmu.” Yebin menimpali. Sepertinya ia tidak perlu menutup nutupi kejengkelannya dari wanita ini.
Suasana mulai kembali ramai setelah sejenak menghening karena kedatangan Yebin. Beberapa orang melanjutkan kegiatan berdansa mereka dan kembali meramaikan acara.
“Aku terkejut saja. Tempat ini kan bukan tempatnya para ajumma (bibi) yang sudah menikah, tetapi tempatnya kaum kaum muda yang masih menikmati masa mudanya dengan bersenang senang,” tandas Mina sambil menarik satu gelas wine di meja hadapan. Ia menatap Yebin dengan tatapan menindas.
Yebin menghela napas. Ia ikut mengambil minuman anggur di atas meja itu. Menyesapnya perlahan lahan lalu membalas ucapan ketus Mina.
“Setidaknya wajahku masih jauh terlihat muda dan kinclong dibanding kerutan di pinggir matamu itu,” cetus Yebin yang seketika membuat Mina tersedak minuman dan terbatuk batuk.
“Uhhuk uhukk! Dasar penyihir gila.” Wanita itu membelalakkan matanya karena geram kepada Yebin. “Apa apaan kau—”
“Dua juta won.” Yebin memotong rutukan Mina. Menatap wanita itu tajam lalu lanjut berkata, “Setidaknya kau harus mengeluarkan dua juta won setiap beberapa hari sekali untuk menghilangkan kerutanmu itu.”
“Apa katamu?” desus Mina. Lalu ia tersenyum sinis kepada Yebin dan berkata dengan kasar, “Daripada menghabiskan dua juta wonmu untuk menghilangkan kerutan, tidakkah seharusnya kau gunakan uangmu untuk merawat rahimmu? Kudengar kau tidak bisa hamil lagi, jadi gunakan saja uangmu itu untuk mencoba bayi tabung atau untuk memungut anak terlantar.”
Bola mata Yebin bergetar. Titik terlemahnya diserang dengan tidak manusiawi oleh wanita tidak tahu diri yang sedang tersenyum di hadapannya itu.
Kemarahan Yebin nyaris meledak. Semua orang terdiam mendengarkan perdebatan tidak masuk akal antara Kang Yebin dan Han Mina yang menjadi rival sejak kuliah.
Yebin berusaha keras mempertahankan harga dirinya sebagai perempuan di hadapan wanita tengik tidak tau diri ini. Ia mencoba meredam emosinya di dalam kepala. Yebin menatap tajam ke arah Mina yang merasa menang berdebat dengan Yebin. Di saat seperti ini, Yebin akan balas menyerangnya dengan cara yang lebih elegan.
“Tidak usah mengurusi hidupku, Han Mina. Urusi saja hutangmu pada Somin yang sejak satu tahun lalu belum kau bayar,” balas Yebin ketika semua orang sedang terdiam.
Kemudian Yebin menyebarkan pandangannya ke sekeliling. Dan berteriak, “Teman teman, berpestalah sepuas kalian! Aku yang akan membayar semua tagihannya!”
“Wuuuu!”
“Yuhuuuu!”
“Kang Yebin, bravooo huuuu!”
“Nyonya Moon! Nyonya Moon! Nyonya Moon!”
Semua orang berteriak menyerukan panggilan itu sambil mengangkat tangan ke atas. Merasa senang bukan kepayang karena tagihan pesta malam ini akan ditanggung oleh istri dari salah satu pengusaha tajir melintir di Korea Selatan.
Menyambut sorakan semua teman temannya, Yebin hanya tersenyum bangga. Ia menatap sinis Han Mina yang bahunya naik turun menahan amarah yang hampir meledak.
Setelah itu semua orang lanjut berpesta di dalam klub malam. Hingga Kang Min sebagai ketua dari perhimpunan alumni Universitas Hanyang jurusan bisnis itu datang. Suasana semakin meriah ketika Min datang dan mambawakan acara perkumpulan ini dengan baik. Di kesempatan inilah, Yebin mulai melakukan apa yang sudah ia rencanakan tadi.
Yebin menyenggol lengan Somin. Membuat Somin langsung menoleh.
“Aku tinggal sebentar. Kalau ada yang mencariku, katakan aku sedang di lantai dua,” bisik Yebin pada Somin.
Begitu Somin menjawab bisikan Yebin dengan anggukan kepala, Yebin pun pergi meninggalkan gerombolan temannya. Berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Di lantai itu ia berpapasan dengan beberapa pegawai klub malam yang memakai seragam dengan logo tertentu yang kelihatan tidak asing di mata Yebin.
Yebin terus berjalan di lantai dua itu. Melihat ada beberapa ruangan di lantai dua. Sepertinya itu adalah ruangan VIP yang biasanya digunakan oleh pengunjung dari kalangan atas pertemuan rahasia. Yebin menebak nebak demikian karena melihat ada satu penjaga pintu di setiap ruangan bertliskan VIP.
Tiba tiba Yebin berhenti di suatu sudut. Dari penjaga pintu masuk klub malam, semua pegawai dan bahkan penjaga pintu, mereka semua memiliki satu kesamaan. Yaitu tato. Mereka semua bertato di bagian leher. Selain itu mereka juga memakai sebuah cincin yang terlihat sangat mencurigakan.
‘Mata cincin itu berbentuk bulat, jangan jangan....’
Selagi menerka nerka dalam benak, Yebin terus berjalan ke sebuah lorong. Di lorong itu ada sebuah ruangan kecil mencurigakan. Lorong ini menuju gudang penyimpanan minuman. Tetapi bentuk lorongnya sangat panjang dan ada ruangan kecil di lorong itu juga sangat mencurigakan.
Meski terdapat tulisan ‘hanya untuk staff’ di bagian pintu ruangan itu, Yebin yang merasa sangat penasaran itu berencana masuk ke dalam. Tangannya menyentuh knop pintu. Hendak membukanya sebelum sebuah tangan kekar menahan tangan Yebin yang hampir memutar knop pintu untuk membuka.
Yebin yang tersentak dengan sentuhan tangan kekar itu, terperanjat dan sontak menoleh ke belakang.
“Jadi kau datang lagi, Tuan Putri?”
Bola mata Yebin terbelalak ketika mendapati orang yang menahan tangannya itu adalah Leo Park. Bagaimana lelaki itu tahu kalau Yebin ada di sini? Yebin yang merasa sangat terkejut itu tiba tiba dialiri tasa takut. Jantungnya mulai berdegup kencang ketika ia melihat Leo Park tersenyum menyeringai.
**